Episode 61 - Tumenggung Tubagus Jaya Laksana (2)


Di rumah kediaman Juragan Kertajaya, Angsoka tidak memejamkan matanya, ia nampak gelisah hanya membalik-balikan badannya saja, hingga pada saat tengah malam, “Oh Tumenggung Jaya Laksana...” desahnya sambil memegangi dadanya yang ditotok Jaya tadi sore, gadis itu terus teringat pada Jaya dan terus memikirkan tuan penolongnya itu.

Dadanya terasa hangat dan perlahan menjadi sakit, bukan sakit akibat luka dalam yang ia dapat sore tadi, tapi karena ada suatu perasaan aneh yang menusuk-nusuk saat bayangan Jaya terus menempel di pelupuk matanya, ia membayangkan dirinya bersama Jaya duduk bersanding di pelaminan dengan mengenakan pakaian pengantin yang mewah, lalu Jaya menyuapinya makan, oh alangkah sungguh bahagianya kalau itu terjadi pikirnya.

“Kira-kira apa yang dipikirkan Kakang Tumenggung sewaktu membaca suratku? Adakah ia akan menyadari kalau akulah yang mengiriminya surat?” ia lalu menutupi wajahnya yang memerah dengan bantalnya, “Oh Gusti bagaimana kalau ia tahu kalau aku yang mengiriminya surat dan... Dan... Ia akan datang untuk melamarku?” bathinnya.

Ia lalu memegang lagi dadanya yang tadi ditotok oleh Jaya. “Besok aku harus bertemu dengannya lagi, ya aku harus menemuinya lagi untuk menyampaikan perasaanku padanya!” tekadnya.

“Tumenggung Tubagus Jaya Laksana... Kau harus menjadi milikku!” tekadnya sambil mengepalkan tangannya.

***

Keesokan harinya menjelang sore, Angsoka yang sudah berdandan cantik sekali dan mengenakan pakaian terbagus menurutnya, memacu kudanya menuju ke muara tempat kemarin ia bertemu dengan Jaya. “Apakah hari ini Kakang Tumenggung akan lewat kesini lagi? Atau sebaiknya aku langsung saja ke rumahnya?” pikir Angsoka.

“Ah tidak, kalau aku langsung ke rumahnya aku bisa dianggap gadis yang tidak sopan dan tidak tahu adat, apalagi ia seorang Tumenggung dan rumahnya berada di kompleks para pejabat keraton!”

Ia lalu menjalankan kudanya perlahan ke arah pelabuhan, “Aku harus bagaimana? Aku ingin sekali bertemu dengan Kakang Tumenggung...” Tanya gadis itu pada dirinya sendiri.

“Oh Gusti, aku baru satu kali bertemu dengannya, tapi dia sudah membuat aku tergila-gila begini!” ratapnya. 

Ia lalu memegang lagi dadanya yang kemarin ditotok Jaya “Seorang gadis yang masih suci memang seharusnya tidak disentuh oleh seorang laki-laki... Tapi terus terang saja, sentuhan itu menimbulkan perasaan aneh dalam jiwaku, aku bahagia disentuh oleh laki-laki itu!” desahnya sambil tersenyum sendiri mengingat wajah Jaya saat sedang menotoknya kemarin.

Tiba-tiba mata kucingnya yang jeli lagi tajam itu melihat orang yang ditunggu-tunggunya itu sedang berkuda ke arahnya dari kejauhan, “Eh itu kan Kakang Tumenggung! Dia menuju kemari!” jerit hatinya yang kegirangan melihat Jaya Laksana bersama Indra Paksi sedang berkuda ke arah tempatnya berada.

Gadis ini langsung mendapatkan akal untuk menarik perhatian Jaya, ia memacu kudanya dengan kecepatan tinggi kembali ke muara, sekonyong-konyong ia memukul pantat kudanya hingga kuda itu menjadi binal dan gadis itu jatuh terjungkal dengan sengaja. Angsoka meringis menahan sakit di kaki kirinya yang terkilir, ketika ia mendengar suara derap kaki kuda semakin mendekat ia pura-pura pingsan.

“Aku masih agak khawatir ada bajak laut yang berhasil menerobos kesini lagi lagi Indra.” ucap Jaya pada Indra Paksi.

“Sayapun demikian Raden, meskipun pasukan penjaga sudah memblokir jalan ke muara ini dari pantai, tapi tidak ada salahnya kalau kita berpatroli melihat-lihat.” sahut Indra Paksi.

Beberapa tombak kemudian Jaya melihat ada seekor kuda yang tidak ada penunggangnya, ia menghentikan kudanya, “Lho kuda siapa itu?” Tanya Jaya, ia lalu turun dari kudanya dan menghampiri kuda itu.

Indra Paksi pun turun lalu mengikutinya. Jaya lalu melihat-lihat berkeliling, sampai ia melihat seorang gadis berpakaian biru sedang tergeletak pingsan balik semak belukar. “Angsoka? Lho kenapa lagi anak itu?” Tanya Jaya lalu menghampiri Angsoka.

“Sepertinya ia jatuh dari kuda, kita harus menolongnya.” ucap Jaya pada Indra Paksi.

Angsoka lalu menggeliat sambil memegangi kepalanya, “Aduh dimana aku?” tanyanya dengan mata yang masih setengah tertutup.

“Teteh ada di jalanan, dekat muara pelabuhan Banten, jangan banyak bergerak dulu! Lebih baik segera ambil nafas dalam-dalam agar tidak pusing.” jawab Jaya. 

Angsoka masih terus mengaduh-aduh ia lalu membuka matanya dan menatap orang dihadapannya, “Kanjeng Tumenggung? Terimakasih, lagi-lagi Kanjeng menolongku…” ucap gadis bermata kucing ini.

“Lho Teteh sudah tahu siapa aku? Padahal kemarin aku tidak sempat memperkenalkan diriku.” Tanya Jaya.

“Tentu saja tahu, siapa yang tidak kenal Tumenggung Jaya Laksana alias Pendekar Dari Lembah Akhirat yang namanya begitu menggetarkan dunia persilatan?” sahut Angsoka sambil malu-malu.

“Ah Teteh terlalu melebih-lebihkan.” ungkap Jaya.

“Tolong jangan panggil saya Teteh Kanjeng Tumenggung, panggil saja saya Angsoka!” pinta Angsoka sambil tersipu-sipu.

“Oya kamu kenapa sampai pingsan disini Angsoka? Apakah ada Bajak Laut lagi?” Tanya Jaya.

Angsoka menggelengkan kepalanya, “Tidak, saya sedang berlatih menunggang kuda disini, eh saya kurang erat memegang kekang saat kudaku berlari kencang, tahu-tahu saya jatuh terjungkal dan pandangan mata saya jadi gelap.” jelas Angsoka.

Angsoka lalu bangun untuk berdiri, “Aduh! Aduh!” ringisnya, jatuh sambil memegangi kaki kirinya, Jaya menangkap tubuhnya, ia terus meringis kesakitan memegangi kaki kirinya “Kakiku! Aduh!”

Jaya melihat Kaki kiri Angsoka, “Mungkin terkilir, coba saya lihat” tawar Jaya.

“Jangan Kanjeng!” tolak Angsoka dengan malu-malu.

Jaya menatap mata Angsoka dengan seulas senyum terlukis di wajahnya yang tampan tersebut, “Angsoka saya mau mengurut kakimu, supaya bisa jalan dan tidak bengkak!”

Angsoka tersenyum sambil tersipu dan menundukan wajahnya, “Saya malu Kanjeng…”

Sang Tumenggung yang kulitnya putih langsat ini menyunggingkan senyumnya yang membuat Angsoka semakin salah tingkah. “Aku tidak bermaksud jahat, kemarin juga aku tidak mengapa-apakan kamu bukan?”

Angsoka semakin tersipu malu-malu membayangkan dirinya akan kembali disentuh oleh pria yang ia taksir dihadapannya itu, “Saya malu Kanjeng, lagipula kaki saya jelek juga bau…” 

Jaya tertawa kecil sambil menatap kaki Angsoka. “Lho aku kan hendak menolongmu, bukan untuk memainkan kakimu, lagipula kakimu bagus kok!”

Jaya maklum kalau Angsoka malu pada Indra Paksi, tapi ia juga paham kalau Indra tidak bisa meninggalkannya begitu saja sebab ia adalah “Mata dan Telinga” bagi Sultan Banten untuk setiap gerak-gerik Jaya, maka ia pun berkata pada Indra, “Indra, saya akan menolong gadis ini sebentar, kamu tunggulah di batas Kota, saya akan segera kembali!”

Indra Paksi berpikir sejenak, sebenarnya ia tidak boleh meninggalkan Jaya tapi ia juga maklum dengan keadaan si gadis, maka ia pun menuruti perintah Jaya.

“Dengar, kakimu tidak akan baik kalau tidak diurut, dan seperti kemarin, aku tidak bisa menolongmu tanpa menyentuhmu, lagipula ini adalah tempat yang sepi, kalau aku ke kota dulu untuk memanggil pertolongan cukup memakan waktu, bagaimana?”

Angsoka tertawa dalam hatinya karena memang inilah yang ia inginkan, ia lalu mengangguk malu-malu tapi sambil tersenyum centil, “Baiklah, tapi tolong pelan-pelan saja Kanjeng!” kemudian Angsoka menyingkapkan kain sampingnya agak tinggi yang membuat kaki dan paha bagian bawahnya yang putih mulus terlihat, Jaya menelan ludahnya melihat kaki dan paha putih mulus yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu.

Jaya berusaha bersabar menghadapi godaan ini karena niatnya adalah untuk menolong semata, meskipun bagaimanapun sebagai seorang laki-laki pastilah jantungnya berdebar juga melihat kaki dan paha putih mulus yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu, apalagi ketika aroma tubuh Angsoka yang harum terhirup oleh hidungnya.

Dengan menguatkan hatinya, ia pun mulai mengurut kaki Angsoka sambil mengalirkan tenaga dalamnya agar kaki yang diurut cepat sembuh, Angsoka menjerit-jerit kesakitan tapi juga menikmati urutan Jaya di kakinya, meskipun menjerit-jerit aduh sakit, tapi matanya tak bisa lepas dari wajah Jaya yang sedang mengurutnya, hatinya senang sekali berbunga-bunga.

Setelah beberapa saat, rasa sakitnya perlahan hilang berganti rasa nyaman ketika ia merasa ada aliran tenaga dalam dari Jaya ke kakinya yang terkilir, kembali gadis itu membayangkan ia dan Jaya bersanding diatas pelaminan, rasanya pasti nikmat sekali ketika Jaya memeluknya dan mengecup bibirnya! 

“Bagaimana rasanya?” Tanya Jaya setelah selesai mengurut dan mengalirkan tenaga dalamnya.

Angsoka menggerak-gerakan kaki kirinya, kakinya sudah tidak sakit lagi, ia hanya merasa sedkit agak kaku saja di bekas tempat ototnya terkilir. “Terimakasih Kanjeng, kaki saya langsung baik, serasa tidak pernah terkilir! Dua kali saya ditolong Kanjeng, terima kasih, Kanjeng begitu baik mau menolong saya.”

Jaya tersenyum lebar yang membuat jantung Angsoka berdegup semakin tak menentu. “Siapapun akan berlaku baik untuk gadis secantik kamu... Oya jangan lupa untuk merendam kakimu dengan air dingin untuk menghilangkan bengkaknya, jangan gunakan air panas atau parem karena malah akan memperbesar bengkakmu!” ucap Jaya.

Si gadis semakin tersipu-sipu disebut cantik oleh Jaya, “Kata siapa? Saya jelek!”

Jaya menggelengkan kepalanya, “Tidak usah selalu merendah.”

“Emh... Emh... Sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya katakan pada Kanjeng” ucap Angsoka dengan canggung dan wajah merona merah.

“Apa itu? Katakan saja, silahkan!” Tanya Jaya.

“Sejujurnya saat kemarin saya tidak menyangka kalau Kanjeng ternyata seorang Tumenggung…” ucap Angsoka dengan centil.

Jaya tertawa, “Hahaha... apakah aku tidak pantas menjadi seorang Tumenggung?”

Angsoka menggelengkan kepalanya, “Pantas! Sangat pantas! Bahkan kalau melihat sinaran dari wajah Kanjeng, Kanjeng malah seperti seorang Sultan atau Raja!”

Jaya menggeleng-gelengkan kepalanya, “Angsoka... Angsoka... Kau jangan merayu aku, aku mudah jatuh cinta!”

Angsoka tertawa manis sekali mendengar ucapan dari Jaya. “Kanjeng takut jatuh cinta?”

Jaya menghela nafas panjang, ia tidak menjawab pertanyaan Angsoka yang sudah bisa ia tebak kemana arahnya tersebut. “Maaf, kita harus segera pulang karena sudah hampir maghrib... Apa ada lagi yang mau kamu bicarakan?” Tanya Jaya.

Angsoka tertawa tersipu malu-malu, “Emh...Tidak apa-apa... saya hanya mengucapkan terima kasih karena sudah dua kali Kanjeng menolong saya...”

Jaya mengangguk sambil tersenyum, sebenarnya ia merasa tidak nyaman berlama-lama dengan Angsoka karena takut terjadi fitnah, ia juga sudah dapat menduga apa maksud Angsoka yang sebenarnya padanya, apalagi Angsoka begitu getol “menyerang” dengan senyum manja dan centilnya, maka ia berkata “Aku dengan senang hati melakukannya, dan aku tidak minta imbalan apapun... Sudah?” 

Jaya lalu berbalik dan hendak naik keatas kudanya, Angsoka menggigit bibirnya, ia masih ingin berbincang dengan Jaya dan mengutarakan isi hatinya, tapi ia merasa sangat canggung, maka ia mengumpulkan keberaniannya, ia pun memanggil Jaya lagi, “Kangjeng!” panggilnya.

Jaya menoleh lagi pada Angsoka “Ada apa lagi Angsoka?” Tanya Jaya.

Angsoka melangkah melenggak lenggok sambil tersenyum menggoda,

“Apakah Kanjeng sudah mempunyai kekasih?”

Jaya tertawa “Kekasih? Tentu saja tidak!”

Angsoka tersenyum manis sekali mendengarnya, hatinya gembira sekali saat mendengar jawaban Sang Tumenggung sesuai dengan harapannya, “Sungguh Kanjeng tidak punya kekasih?”

Jaya mengangguk “Sungguh!”

Angsoka tersenyum semakin lebar, tapi senyumnya langsung berubah ketika Jaya meneruskan ucapannya, “Karena dirumahku ada seorang yang menungguku dengan setia, menyambutku dengan hangat dan mesra ketika aku pulang, ia orang yang selalu meladeni aku... Maaf aku permisi dulu, kamu juga sebaiknya lekas pulang, hati-hati jangan cepat-cepat memacu kudamu!” pungkas Jaya yang akhirnya berterus terang sambil naik keatas kudanya lalu memacunya meninggalkan Angsoka seorang diri.

Langit serasa runtuh bagi Angsoka, hatinya yang cerah terang berbunga-bunga langsung berubah menjadi hujan badai disertai petir, sakit sekali rasanya ketika tadinya angannya diangkat ke awang-awang tiba-tiba jatuh bumi! Angsoka menggigit bibirnya menahan perih yang teramat sangat, dua butiran bening jatuh dari matanya yang memandang kepergian Jaya, “Jadi dia sudah punya istri? Oh Gusti kenapa jadi begini?” rintihnya perih, ia lalu naik keatas kudanya dan memacunya pulang ke arah kota Surasowan.

Beberapa tombak dari sana, Galuh Parwati yang tak lain adalah istri Sang Tumenggung mengintip semua peristiwa itu dari atas sebuah pohon dengan dada sesak dan kepala panas tanpa diketahui oleh Jaya dan Angsoka, “Kakang... Jadi benar dugaanku, kamu bermain dengan wanita lain! Huh dasar lelaki, selalu ingin lebih!” geramnya.

Ia lalu melompat turun dan menghampiri kereta kudanya, “Mang Barna, Mamang tahu siapa gadis itu?” Tanya Galuh pada kusir keretanya yang tadi ikut mengintip.

“Tahu Gusti, ia adalah Angsoka putri juragan Kertajaya.”

Galuh mengangguk-ngangguk “Mamang tahu dimana rumahnya?”

Mang Barna mengangguk, “Rumahnya di pusat kota Surasowan, dekat pasar alun-alun.”

Galuh menatap ke arah kepergian Angsoka, “Baik, antarkan saya ke rumah gadis itu!” Galuh pun masuk kedalam keretanya, Mang Barna segera memacu kereta tersebut ke arah kota Surasowan.

***

Di rumah Juragan Kertajaya, Angsoka menangis sejadi-jadinya yang membuat kedua orang tuanya bingung. “Lho kamu kenapa Teh?” Tanya Ibu Kertajaya.

“Saya... Saya...” Angsoka tidak dapat meneruskan ucapannya karena terisak hebat.

“Bilang yang benar, apa yang terjadi pada Teteh?” Tanya Pak Kertajaya.

“Ternyata... Ternyata dia sudah punya istri!” ratap Angsoka.

“Sudah punya istri? Apa maksudmu? Siapa yang sudah punya istri?” Tanya Bu Kertajaya, Angsoka pun menceritakan semuanya.

Bukan main marahnya Pak Kertajaya, matanya memelototi putri sulungnya, “Ini benar-benar keterlaluan! Dia mendatangi dan mencegat seorang laki-laki dijalanan! Gila! Kenapa kamu tidak bilang kalau pria yang kamu taksir itu Tumenggung Jaya Laksana?! Tolol! Semua orang juga tahu kalau dia sudah memiliki seorang istri! Istrinya itu seorang pendekar murid si Dewa Pengemis!”

Terkejutlah Angsoka mendengar ucapan ayahnya, “Jadi ayah tahu kalau dia sudah punya istri?”

Ayahnya melotot “Ya tahu! Semua orang juga tahu!”

“Kenapa Ayah tidak memberi tahu aku kalau dia sudah punya istri?!” bentak Angsoka histeris.

Pak Kertajaya mendengus-denguskan nafasnya saking marahnya pada putri sulungnya itu. “Kamu itu bukan gadis yang tidak laku! Aku masih sanggup mencarikan kamu suami yang terhormat juga kaya! Bukannya dengan seorang pria yang sudah beristri! Seperti perempuan jalang saja!” maki Pak Kertajaya pada anaknya yang membuat tangis Angsoka semakin hebat.

“Tapi saya mencintai Kanjeng Tumenggung Jaya Laksana! Saya tidak tahu kalau dia sudah punya istri!”

“Sudahlah Pak, jangan terlalu keras pada putri kita, ia sedang menangis, jangan tambah bebannya dengan memarahinya!” lerai Ibu Kertajaya sementara kedua adik laki-laki Angsoka hanya terdiam takut melihat kemarahan ayahnya, 

“Karena dia yang sengaja menyiramkan air comberan ke rumah ini! Ke wajahku! Kamu tahu Tumenggung Jaya Laksana adalah abdi kesayangan Sultan?! Sekarang mau ditaruh dimana mukaku kalau semua orang di Banten tahu putri sulung Kertajaya menggoda seorang pejabat yang sudah beristri?!” bentaknya dengan suara yang tidak kira-kira kerasnya.

Ia langsung mencekal kerah baju Angsoka yang sedang menangis, istrinya segera menahannya. “Katakan! Kenapa kamu sampai mencegat Tumenggung Jaya Laksana hah?!”

Angsoka menelan ludahnya melihat kemarahan ayahnya yang luar biasa itu. “Karena... Karena saya mencintainya ayah..”

Mata juragan Kertajaya melotot seolah mau meloncat, “Mencintainya?! Sekarang kau sudah tahu dia sudah mempunyai istri, apakah kau masih mencintainya?!”

Angsoka ketakutan setengah mati, tapi karena perasaannya pada Jaya terlalu besar ia pun memberanikan diri menjawab, “Saya tidak keberatan dijadikan istri kedua atau jadi selirpun saya bersedia!”

Murkalah Juragan Kertajaya, “Apa?! Apa kau sadar dengan omonganmu?! Apa kau sudah gila?!”

Istrinya segera melepaskan cengkraman tangan suaminya di kerah baju Angsoka, “Sudahlah Kakang sudah! Eling! Bagaimanapun dia adalah putri kita, darah daging kita! Sebesar apapun kesalahannya itu adalah tanggung jawab kita!” pinta istrinya sambil menangis.

Akhirnya Juragan Kertajaya melepaskan anaknya, ia lalu menghembuskan nafas berat sambil menatap keatas langit-langit rumahnya, “Saya malu sekali Nyai, malu... Keluarga kita akan menjadi bahan gunjingan di Banten ini karena berani menggoda seorang Tumenggung yang sudah beristri!” desahnya lemas.

Sang Juragan lalu menjatuhkan tubuhnya diatas kursinya, “Sekarang kita harus bagaimana Nyai? Saya tidak tahu harus bagaimana...”

NYai Kertajaya terdiam sebentar, ia lalu menatap wajah putrinya yang sedang menangis sesegukan, “Mestinya Teteh tahu kalau hal seperti itu tidak pantas kamu lakukan, kamu seorang gadis, anak seorang saudagar ternama di Banten ini, kita semua jadi malu...” nasihatnya dengan lembut sambil mengelus-elus rambut putri sulungnya itu.

“Saya tidak tahu kalau dia sudah punya istri! Maafkan perbuatan saya Ibu, maafkan saya ayah!” ratap Angsoka.

Juragan Kertajaya pun mengusap kepala putrinya, “Ya sudah, seekor harimau sekalipun tidak akan memangsa anaknya sendiri... Sekarang ayah akan mencarikan jodoh untukmu secepatnya agar kita bisa menghindar dari aib ini”

Tapi Angsoka malah menggelengkan kepalanya, “Saya tidak mau! Saya hanya ingin menikah dengan Tumenggung Jaya Laksana! Saya lebih pantas menjadi istrinya dibandingkan dengan perempuan pengemis yang sekarang menjadi istrinya itu!” rengek Angsoka. 

“Kalau kamu jadi istri kedua atau selir seorang Raja itu masih bisa dipahami! Kamu pantas mendapatkan seorang suami yang lebih daripada seorang Tumenggung yang sudah beristri! Ingat kamu itu dari keluarga yang terhormat! Kamu itu anakku!” bentak Juragan Kertajaya.

“Saya tidak peduli! Saya hanya mau menikah dengan Tumenggung Jaya Laksana!” rengek Angsoka yang keukeuh pada pendiriannya.

Kembali mata Juragan Kertajaya memelototi anaknya, tapi sebelum ia membuka mulutnya, masuklah seorang pengawal menghadap mereka, “Ada apa?” Tanya Juragan Kertajaya.

“Maaf Juragan, diluar ada seorang wanita bernama Nyai Galuh Parwati yang mengaku sebagai istri Kanjeng Tumenggung Tubagus Jaya Laksana, ingin bertemu dengan Juragan!” bukan main terkejutnya Juragan Kertajaya dan semua yang ada di sana.