Episode 284 - Jurus Andalan



Di luar perkiraan, akibat berkali-kali menggunakan teleportasi jarak dekat, tenaga dalam Bintang Tenggara kini tinggal sedikit di bawah ambang batas dua puluh persen. Anak remaja itu sampai tiga kali memastikan ketersediaan di dalam mustika. Sama, tiada perubahan. 

Tak hendak menyerah, ia pun berupaya membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin, hanya untuk mendapat kepastiaan bahwa tenaga alam tiada dapat disuling menjadi tenaga dalam. 

Di manakah temnpat ini sesungguhnya...? Sampai sedemikiankah Murka Alam sehingga tak mengizinkan seorang ahli menyerap tenaga dari alam....? Baru kali ini Bintang Tenggara menyadari betapa pentingnya bagi seorang ahli menyimpan ramuan penambah tenaga dalam. Namun, tentu saja bukan Ramuan Sesat Jiwa sebagaimana yang dimiliki oleh Saudagar Senjata Malin Kumbang, melainkan ramuan lain yang diolah dari tetumbuhan siluman.

Hari jelang malam, dan Bintang Tenggara sudah dapat menebak unsur apa dari Murka Alam yang selanjutnya akan berupaya membinasakan dirinya. Sambil menunggu, ia memeriksa keadaan Akar Bahar Laksamana yang melilit mustika retak di ulu hati. Masih berdenyut dan gemuk adanya. Sebagaimana diketahui, adalah tumbuhan siluman ini yang menyeret dirinya ke pangkuan Murka Alam di pulau kecil tiada berpenghuni ini. 

Karena unsur tanah yang sebelumnya membentuk kubah raksasa dan berupaya menelan dirinya telah roboh, Bintang Tenggara kini berdiri di atas kepingan-kepingan tanah keras. Ibarat berada di tengah puing-puing bangunan yang hancur berantakan usai dilanda gempa bumi, ia mencari posisi terbaik guna menghadapi Murka Alam berikutnya. Dan posisi terbaik adalah di pesisir pulau, dekat dengan air laut. 

Tetiba, di tengah pulau, muncul percikan kecil. Mirip dengan ketika sebuah pemantik yang sedang hendak menyalakan api. Warna percikan tersebut adalah jingga, sehingga Bintang Tenggara sontak bersiaga. Berdasarkan uraian Canting Emas suatu waktu di masa lalu, urutan tingkat panas membakar di dalam skema kesaktian unsur api adalah: kuning, jingga, merah, biru, putih dan hitam. 

Api berwarna kuning biasanya dikerahkan oleh ahli Kasta Perunggu. Bagi ahli Kasta Perak, mereka sudah dapat mengerahkan api berwarna jingga, yang kemudian semakin memerah warnanya seiring dengan kenaikan tingkatan di dalam Kasta Perak. Sejauh ini, Bintang Tenggara sudah terbiasa berlatih tarung dengan api berwarna kuning, yang biasa dikerahkan oleh Canting Emas. Oleh karena itu, api berwarna jingga ini membuat dirinya sedikit gugup. 

Dari hanya percikan kecil, api kemudian mengambil wujud serta mulai merambat dan menyebar perlahan di atas pulau. Tingginya api sekira satu meter dari permukaan tanah. Namun demikian, api tiada membakar tanah, melainkan merupakan api murni yang menyala hanya dengan melahap udara.  

Sesuai perkiraan, pikir Bintang Tenggara yang telah berada di pesisir pulau. Meskipun demikian, ia tiada mengetahui cara memadamkan api ini. Tidaklah mungkin menimba air laut untuk menyiram, sungguh perbuatan sia-sia bagi ahli yang tiada memiliki unsur kesaktian air. Tidak juga menahan dengan unsur kesaktian tanah, karena rupanya api ini bisa menjalar bebas selama tersedia udara. Oleh karena itu, Bintang Tenggara yang awalnya hendak menggunakan Segel Syailendra: Komodo, mengurungkan niat untuk sementara ini. 

Si jago jingga kini berkobar perkasa dan merambah semakin luas, merompak habis gelapnya tabir malam. Suasana di tengah pulau demikian terang, dan panasnya sudah terasa merambat di udara. Bintang Tenggara hampir kehabisan akal, namun tetap ia kerahkan Segel Syailendra: Komodo. 

Sebuah tembok tebal unsur kesaktian tanah segera dibangun oleh si komodo yang suka menguap dan kelihatan malas itu. Akan tetapi, tak perlu waktu lama bagi api memanjat tembok tebal tanah dan posisi Bintang Tenggara semakin terjepit. Sebentar lagi, kobaran api akan menjangkau dirinya.  

Di dalam keadaan yang semakin terjepit, atau lebih tepatnya terpinggir, Bintang Tenggara melompat ke laut. Akan tetapi, anehnya, api mulai menjalar sedikit di atas permukaan air, di mana air yang dilewati terlihat menggelegak mendidih. Bintang Tenggara bergerak menjauh dari pulau, namun tak yakin sampai sejauh mana ia dapat menghindar. Dalam kesempatan ini, tepercik sebuah gagasan tak lazim di dalam benaknya. Tak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru. Oleh karena itu, segera ia membatalkan Segel Syailendra: Komodo, kemudian merapal… 

“Segel Syailendra: Paus!” 

“Byuuurr!” 

Rangkaian formasi segel nan rumit bernuansa kehijauan, yang berwujud paus mini seukuran anak sapi, jatuh ke laut di pesisir pantai. Air nan asin menyibak ke segala penjuru. Akan tetapi, begitu ia tenggelam di dalam air laut, mulutnya paus terlihat mengerucut ibarat hendak bersiul. Tentu saja bukannya hendak meniup, melainkan paus mini itu malah menyedot air laut! 

Bintang Tenggara terkesima ketika menyaksikan ukuran tubuh formasi segel itu membesar perlahan, dan terus membesar seolah tiada akan berhenti. Menyaksikan pemandangan ini, betapa girangnya hati si anak remaja. Tak ayal lagi, paus itu sedang menyedot air laut! 

Kobaran api terus merangsek bersamaan dengan air yang mendidih. Di saat yang bersamaan, ukuran tubuh formasi segel yang berwujud paus, yang awalnya hanya sebesar anak sapi, kita telah membesar berkali lipat. Ukurannya sudah setara dengan seekor gajah dewasa. Langkah selanjutnya dari paus ini, tentu tak terlalu sulit untuk ditebak… ia menyemburkan air dengan begitu derasnya! 

Uap air mengepul tinggi di kala api berwarna jingga tersiram padam. Tak hanya beberapa langkah di depan, tetapi sampai sekira tiga puluh langkah ke arah pusat pulau. Sungguh kekuatan semprotan si paus ibarat meriam air yang perkasa. Di saat yang sama, tubuh si paus pun terlihat mengempis. 

Lumayan…, batin Bintang Tenggara. 

Akan tetapi, padamnya kobaran api hanya berlangsung sesaat. Api kembali menjalar menuju si anak remaja. Si paus pun sigap menyedot, kemudian menyemburkan air, yang mana kekuatan dorongannya itu tak bisa dipandang sebelah mata. Tindakan ini berlangsung sampai dua atau tiga kali. Pengamatan Bintang Tenggara menyimpulkan bahwasanya antara kecepatan rambatan api dengan kecepatan paus menyedot dan menyemburkan air, terdapat selisih waktu yang cukup kentara. Dalam hal ini, si paus kalah cepat! 

Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak!

Bintang Tenggara terpaksa melepas jurus andalan. Ledakan gelombang kejut mendorong mundur api, lalu di kala api kembali menjalar, si paus menyemburkan lagi air. Tindakan bergiliran ini berjalan cukup mangkus, sampai Bintang Tenggara menyadari bahwa tenaga dalam yang tersisa sudah tak sampai sepuluh persen. 

Bila ada pertanyaan dari ahli baca sekalian, tentang mengapa Bintang Tenggara tiada mengerahkan formasi segel pertahanan yang terkenal paling digdaya di seantero Negeri Dua Samudera, maka jawabannya sangatlah sederhana. Dalam menghadapi Murka Alam ketiga, ia sudah tak memiliki jumlah tenaga dalam yang memadai untuk merapal formasi Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara. Formasi segel tersebut memerlukan setidaknya empat puluh persen tenaga dalam, yang wajib dibayarkan dimuka. Selain itu, waktu bertahan di kala ia mengaktifkan Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara hanyalah sekira lima menit, enam menit paling lama. Tiada dapat diperkirakan berapa lama api akan terus berkobar!

Kini Bintang Tenggara benar-benar terjepit. Selain keterbatasan tenaga dalam, dirinya dan si paus sejak awal hanya mengulur waktu, dan memusatkan perhatian hanya pada api yang datang dari arah depan. Keduanya tiada menyadari bahwa api telah menjalar di kedua sisi. Dengan kata lain, mereka terkepung, kini satu-satunya upaya yang dapat dilakukan adalah bergerak semakin menjauh ke arah laut. 

Demi menghemat tenaga dalam, putra bungsu Balaputera Ragrawira dan Mayang Tenggara itu membatalkan Segel Syailendra: Paus. Sebagai ganti, ia menebar Segel Penempatan, lalu melenting-lenting lurus dan cepat ke arah laut. Menghadapi Murka Alam hendaknya bertahan atau menyerang, akan tetapi, anak remaja yang satu ini memutuskan untuk mengerahkan jurus andalan, yaitu… melarikan diri!

Seolah memiliki pemikiran tersendiri, api yang tadinya menyebar, kini merangsek lurus mengejar. Api yang memadat meninggalkan pulau, dan bergerak di atas permukaan air, di mana kecepatannya pun bertambah. Tingginya api menjulang, sekira lima meter tiada kurang. Ibarat gulungan ombak nan berwarna jingga, api itu bergulung cepat mengincar sasaran! 

Suasana malam yang sunyi bukan hanya berubah terang, namun kini terdengar bergemuruh karena kobaran api yang bermain dengan angin. 

“Swush!” 

Sebuah bola api sebesar tubuh manusia melesat dan mengincar. Sigap, Super Murid Komodo Nagaradja melompat ke samping lalu meneruskan pelarian. Beberapa bola api kembali melesat, akan tetapi dapat dihindari dengan mudahnya. Bintang Tenggara berada pada jarak aman. 

Tetiba, anak remaja itu menyaksikan keanehan yang muncul jauh di hadapan sana. Seperti terdapat cahaya yang perlahan membesar, dan mendekat. Matanya menyipit demi memastikan dengan seksama, dahinya kemudian berkedut. Sontak ia mengubah arah tebaran Segel Penempatan bersamaan dengan arah lompatan, karena jauh di hadapan telah dapat dipastikan terdapat api lain yang semakin mendekat!

“Bola-bola api tadi…,” Bintang Tenggara menggerutu. Lontaran bola api rupanya bukan hanya mengincar, melainkan juga sebagai upaya membelah diri. Kini, terdapat dua gelombang api yang mengejar! 

Beberapa bola api kembali melesat dari kedua gelombang api yang berada di kedua sisi. Kembali Bintang Tenggara menghindar, hanya untuk mendapati bahwasanya telah tercipta dua lagi gelombang api mengejar dari arah depan. 

Permainan kucing-kucingan terjadi di tengah lautan. Tentunya tak akan berlangsung lama lagi, batin Bintang Tenggara. Api kini datang dari empat penjuru, meskipun demikian si anak remaja masih memiliki cukup ruang untuk bergerak bebas. Ia berbelok, kemudian berkelit. Akan tetapi, lompatan-lompatan nan lincah kemudian ditanggapi dengan lontaran empat bola api secara serempak!

Beberapa jam berlalu, dan kini Bintang Tenggara kehabisan ruang gerak. Memang tak sulit untuk memperkirakan bahwa pada akhirnya, keadaan di mana si anak remaja terkepung oleh kobaran api, datang jua. Kendatipun demikian, selama pelarian sesungguhnya Bintang Tenggara bergerak memutar. Oleh karena itu, kini ia kembali berdiri di pesisir pulau nan kecil. Sungguh sebuah ironi, awalnya api menyebar dari tengah pulau, akan tetapi kini malah api mengelilingi pulau yang sama. 

Apa pun itu, gelombang gulungan api segera merangsek melahap pulau! 

“Segel Syailendra: Paus!” 

“Segel Syailendra: Komodo!” 

Dalam waktu yang sangat sempit, si paus segera menyedot air dengan sangat cepat dan si komodo sontak membangun kubah tanah guna membungkus tubuh empunya. Kedua tindakan tersebut tiada mempengaruhi api yang segera melahap habis pulau, dengan Bintang Tenggara yang meringkuk di dalam kubah tanah. Entah berapa lama ia akan sanggup bertahan di dalam sana…

“Srash!” 

Tetiba sebuah gumpalan… bukan… tetapi sebuah bola besar yang terbuat dari tanah, menyeruak keluar dari dalam kobaran api jingga yang sedang melahap pulau. Ibarat peluru meriam, bola tanah tersebut melesat meninggalkan wilayah pulau nan terbakar, karena ia memperoleh kekuatan dorongan dari derasnya semburan air…