Episode 49 - Pemenangnya adalah...



“Jangan ikuti aku.”

“Tapi, aku bosan sendirian di rumah.”

“Di luar berbahaya, siapa yang akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa.”

“Lalu, kenapa Kakak boleh pergi, sedangkan aku tidak?”

“Kakak bisa menjaga diri, jadi jika terjadi sesuatu Kakak bisa mengatasinya.”

“Aku juga bisa, aku pasti bisa menjaga diri sendiri, jadi aku ikut.”

“Tidak, kamu itu lemah.”

**

Lin Er mengepalkan tangannya, memusatkan seluruh kekuatan pada pukulan itu dan melesatkannya menuju dada Lin Fan. Pukulan itu sangat cepat hingga menyebabkan orang awam tak akan mampu untuk melihatnya dengan jelas. Namun, sayang sekali, pukulan itu tidak berarti banyak untuk Lin Fan.

Lin Fan masih berdiri dengan posisi tegap dan memusatkan perhatiannya menuju Lin Er. Melihat serangan dari Lin Er, Lin Fan tidak punya sedikitpun niat untuk menghindar, dia dengan cepat menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk memblokir pukulan itu.

Bam!

Tidak butuh waktu yang lama untuk serangan itu mengenai Lin Fan, suara renyah terdengar akibat bentrokan antara tinju Lin Er dan tangan Lin Fan. Tidak ada satupun dari mereka yang mundur. Bahkan, serangan itu seperti tak memiliki sedikitpun efek pada Lin Fan, tidak ada yang tahu, karena ekspresi Lin Fan masih sama seperti sebelum pukulan cepat itu mengenainya.

“Hehe...” Lin Fan tertawa kecil dan menaikan ujung bibirnya.

Lin Er yang melihat itu segera menggigit bibirnya dan kembali mengepalkan tangan lainnya lalu melesatkannya menuju dada Lin Fan. Sementara itu, Lin Fan masih memposisikan kedua tangannya di depan dada untuk menahan serangan dari Lin Er, tanpa sedikitpun niat untuk menyerang Lin Er.

Bam!

Pukulan itu berhasil diblokir oleh Lin Fan, dan menghasilkan suara renyah yang tak kalah dari yang sebelumnya.

**

“Eh? Kenapa kau ada disini?”

“Mulai hari ini aku akan ikut berlatih bersama Kakak.”

“Kenapa? Bukannya kau tidak menyukai bela diri?”

“Hmm ... itu bukan urusanmu, lebih baik kau berlatih lebih giat lagi, atau aku akan segera menyusulmu.”

“Haha, tidak mungkin aku kalah darimu.”

**

Bam! Bam! Bam!

Secara bergantian, kedua kepalan tangan Lin Er menghantam Lin Fan, akan tetapi Lin Fan masih berdiri dengan tegap tanpa berpindah sedikitpun. Kedua tangannya masih dia posisikan di depan dadanya dan di wajahnya masih terlukis sedikit senyum.

Menyadari bahwa serangan itu tidak memiliki dampak berarti pada Lin Fan, Lin Er mundur selangkah ke belakang untuk mengambil sedikit jarak lalu mencambukan kakinya menuju pinggang Lin Fan. Namun, dengan sangat cepat Lin Fan menggunakan tangannya untuk menangkis serangan tersebut.

Bam!

Suara bentrokan terdengar keras, akan tetapi Lin Fan masih berdiri dengan kokoh di posisinya, tanpa bergerak sedikitpun, masih tidak ada niatan untuk menyerang balik Lin Er.

Lin Er menarik kakinya dan menatap tajam Lin Fan.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak menyerang? Apa kau meremehkan aku?” pekik Lin Er dengan emosi yang membara.

Tanpa memedulikan pertanyaan Lin Er, Lin Fan mulai berkata, “Kau belum menggunakan seluruh kemampuanmu. Apa yang membuatmu ragu untuk menyerang aku?”

“Siapa bilang aku ragu? Aku bersungguh-sungguh.” Jawab Lin Er.

“Tidak, meskipun kau bisa membohongi orang lain, kau tidak akan bisa membohongiku, Lin Er yang aku kenal lebih hebat dari ini, kau harus segera membuang sifat ragumu untuk menyakiti orang lain, karena apa yang kau pertaruhkan saat ini adalah Sektemu.” Ucap Lin Fan.

“...” Lin Er terdiam membisu.

“Apakah kau pikir kau bisa menipu aku? Aku tahu semua usahamu untuk bisa sampai diposisi ini, aku tahu semua waktu yang kau korbankan hanya untuk berlatih agar menjadi lebih kuat dari orang lain, aku tahu semuanya, jadi berhentilah ragu, dan keluarkan semua kemampuanmu.” Lin Fan berkata dengan tegas.

**

“Lihat Kak, aku sudah bisa menguasai gerakan yang sebelumnya Ayah ajarkan.”

“Haha, tapi tetap saja kau lebih lemah dari aku.”

“Hehe, lihat saja, suatu hari nanti aku pasti akan lebih kuat daripada Kakak.”

“Baiklah, terus berusaha, jangan hanya diucapkan, tapi buktikan padaku.”

“Hmm, tentu saja, aku pasti akan melampauimu dan menjadi lebih kuat dari siapapun.”

**

“Kau tahu apa yang akan aku lakukan ketika aku berhasil memenangkan pertarungan ini? Hahahaha,” Lin Fan melemparkan kepalanya ke belakang dan tertawa terbahak-bahak, lalu dia menyipitkan matanya sembari menarik senyum tipis, “aku akan membubarkan Sekte ini.”

Lin Er terdiam setelah mendengar apa yang Lin Fan katakan. Kata-kata Lin Fan seakan bom yang menghancurkan apa yang telah Lin Er percaya. Yaitu Lin Fan yang mencintai Sekte ini walaupun tidak pernah sekalipun dia katakan.

Lin Er tidak menginginkan akhir yang seperti itu, dia ingin Sekte ini terus bertahan, karena sudah terlalu banyak kenangan manis yang dia dapatkan bersama Lin Fan setelah masuk ke Sekte ini.

Lin Er secara tiba-tiba bergerak, gerakan Lin Er secepat macan tutul dan setajam elang. Hanya dalam sekejap mata Lin Er sudah tepat berada di depan Lin Fan.

Semua murid yang menyaksikan terpukau dengan kecepatan yang telah diperlihatkan oleh Lin Er, darah mereka mendidih dengan kekaguman, dan mata mereka memancarkan kepercayaan bahwa Lin Er pasti bisa menang melawan Lin Fan.

Sedangkan itu, Lin Dong yang bertugas sebagai wasit berdiri di tepi arena sembari menyaksikan dengan saksama pertarungan ini. Dia sudah lama menyadari bakat Lin Er, tapi dia tidak pernah menyangka bahwa Lin Er bahkan lebih hebat dari yang dia bayangkan. Di sisi lain, Lin Dong merasa aneh dengan perubahan mendadak yang telah Lin Fan alami. Namun, dia tetap diam dan terus memperhatikan.

Tanpa membuang waktu, Lin Er dengan cepat meluncurkan pukulan dengan tangan kanannya menuju dada Lin Fan. Melihat serangan itu, Lin Fan menyadari bahwa dia tidak akan sempat memblokirnya, sehingga dia segera melangkah ke kiri untuk menghindari serangan itu.

Akhirnya, Lin Fan berpindah dari posisinya.

Tinju Lin Er mengoyak udara kosong dan mencipatkan suara tajam yang keras. Lalu tanpa diduga Lin Er langsung memutar pinggangnya untuk menghadap ke Lin Fan dan segera meluncurkan serangan kedua.

Tinju itu begitu cepat, hingga Lin Fan yang meskipun memiliki reflek tubuh yang hebat tidak mampu untuk melakukan apapun.

Bam!

Dada Lin Fan menerima serangan tajam dari tinju Lin Er dan membuat dia mundur selangkah.

“Hahaha, bagus sekali, ini yang aku tunggu-tunggu.” Ucap Lin Fan dengan senyum yang mengembang. Kemudian Lin Fan mencondongkan tubuhnya ke depan dan melesat menuju Lin Er.

**

“Haha, sekarang aku sudah sama kuatnya dengan Kakak.”

“Bagaimana mungkin? Sudah jelas aku masih lebih kuat darimu.”

“Kemarin, Ayah berkata sendiri, bahwa sekarang aku sudah sama kuatnya dengan Kakak.”

“Jangan percaya, Ayah berbohong supaya kamu berlatih lebih giat lagi.”

“Tidak mungkin Ayah berbohong.”

“Haha, terserah saja kalau kamu tidak percaya, yang pasti, aku jauh lebih kuat darimu.”

**

Sebuah tinju keras melesat menuju arah Lin Er dengan cepat. Melihat serangan itu, Lin Fan dengan cekatan melangkah ke samping untuk menghindar. Namun, tanpa Lin Er sangka, sebuah tinju tiba-tiba telah mendarat pada bahu kirinya, membuat di terlempar ke belakang dua langkah.

Sakit yang amat sangat merayap tubuh Lin Er, akan tetapi pikirannya tetap jernih dan tenang, karena dia tahu, tak akan ada waktu untuk mengeluhkan rasa sakit, karena pertarungan ini belum berakhir.

Seperti seekor harimau yang turun dari gunung, Lin Fan menerkam menuju Lin Er. Kali ini, sebuah sapuan tangan dari arah samping menuju wajah Lin Er. Namun, Lin Er cepat menunduk untuk menghindar, lalu dengan cepat dia menyapukan kakinya pada kaki Lin Fan, mencoba untuk merusak keseimbangan tubuh Lin Fan.

Namun, meskipun serangan Lin Er tepat mendarat pada kaki Lin Fan, akan tetapi Lin Fan tetap berdiri dengan kokoh. Dalam waktu yang sama seperti percikan api meninggalkan bara, sebuah tendangan keras melesat menuju arah Lin Er.

Lin Er tahu dia tidak akan mampu untuk menghindar, jadi dia memutuskan untuk memposisikan kedua tangannya sebagai perisai untuk meredam tendangan tersebut.

Sayang sekali, Lin Er salah perhitungan. Sebab Lin Fan tidak sama dengan kebanyakan orang pada umumnya, dia telah mendapatkan kekuatan yang sangat berlimpah, yang mampu membuat dia bahkan mengalahkan murid terbaik di Sekte dengan beberapa kali serangan.

Bam! 

Tubuh Lin Er terlempar ke belakang seperti layangan yang terputus dari talinya.

Semua murid lainnya tersentak kaget melihat perkembangan situasi yang tak terduga ini. Dalam benak mereka, selain Lin Dong, Lin Er adalah yang terkuat di Sekte ini. Namun, kenyataan yang mereka lihat menyadarkan bahwa Lin Fan, orang yang selama ini mereka anggap sebagai sampah, lebih kuat ketimbang Lin Er, Pemimpin Sekte mereka saat ini.

Lin Fan memandangi Lin Er yang masih terbaring di lantai dengan diam. Sementara itu, Lin Dong segera berlari mendekat, mencoba untuk melihat bagaimana keadaan Lin Er.

Namun, langkah kaki Lin Dong cepat terhenti, karena tangan Lin Er yang mulai bergerak, mencoba untuk menopang tubuhnya untuk bangkit. Dia masih mampu untuk sadarkan diri sebab di detik terakhir dari serangan Lin Fan, Lin Er sempat menggunakan tangannya sebagai perisai, sehingga serangan tersebut tidak langsung mengenainya.

“Pemimpin Sekte!”

Semua murid secara serentak berteriak untuk memberikan dorongan semangat pada Lin Er.

Pelan tapi pasti, kedua tangan Lin Er mulai mengangkat tubuh langsingnya. Rambut panjang Lin Er yang sebelumnya terikat, kini tergerai dan menutupi wajahnya.

“Lin Er.” Gumam Lin Dong dengan pelan.

Sedangkan itu, Lin Er masih berusaha dengan keras mencoba untuk bangkit kembali. Tubuhnya masih terasa sangat sakit, akan tetapi dia dengan keras menggigit bibirnya dan menahan rasa sakit tersebut.

Lin Er berhasil bangkit kembali, meski tubuhnya goyah dan seakaan dapat rubuh kapan saja. Dia tetap memaksakan diri untuk bangkit. Tidak ada yang bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Lin Er saat ini, karena rambut hitam panjangnya yang tergerai.

Dengan tubuh yang goyah tersebut, Lin Er mulai berjalan dengan pelan. Semua murid dan Lin Dong melihatnya denga membisu. 

Akhirnya Lin Er tepat berada di depan Lin Fan, kemudian dia mulai mengepalkan genggaman tangannya, mencoba untuk menyerang Lin Fan.

Namun, tiba-tiba Lin Fan berjalan menuju Lin Er. Mendekatkan wakahnya pada sisi kepala Lin Er dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa di dengar. Lalu dengan pelan akhirnya tubuh Lin Er terjatuh dalam pelukan Lin Fan.

Pertarungan kedua selesai, dengan pemenangnya adalah Lin Fan.