Episode 26 - Hung


Manusia memakai beragam topeng, kesemuanya bersalinan terus-menerus dalam setiap kesempatan. Terkadang, kita lupa wujud rupa kita yang asli karena seringnya kepura-puraan melingkupi diri. Maka dari itu, aku lebih senang menjadi seperti ini, menggunakan topeng dalam artian yang sebenarnya ketimbang topeng palsu yang kita hadapi pada wajah orang-orang setiap hari.

—Dituturkan oleh seorang penari topeng


Begitu masuk kemah para legiun yang hampir mengelilingi bukit Sin Gong, yang terutama mengambil tempat yang landai agar pasak tenda dapat menancap dengan baik, Hikram tak langsung menuju kemah pemimpin legiun, berbanding terbalik dengan permintaan awalnya.

Sebenarnya Hikram merasa seakan sedang sakit disekujur badan, membuka Gelarnya pada dunia memang tak pernah jadi pengalaman yang tidak melelahkan.Belum lagi, luka-luka yang dideritanya, meskipun ringan, terasa sangat memberatkan bagi raganya yang tak lagi muda. maka dari itu, ia langsung meminta ditunjukkan tempat dia dapat istirahat dengan tenang tanpa ada pengganggu. Kedua legiun buru-buru menunjuk lingkup pepohonan yang tak jauh dari tempat mereka berada sekarang, tak berani untuk menanyakan kapankah kiranya Hikram berkenan untuk menemui pemimpin Legiun Asing. Sepertinya mereka sudah paham bahwa ketenangan yang dibutuhkan Hikram bukanlah berada di tengah-tengah perkemahan legiun yang sarat keramaian mengingat hari masih siang, sehingga menunjukkan tempat yang agak jauh.

Sementara itu, Sidya mengedarkan pandang dengan sangat tertarik. Memang dia pernah melihat sendiri barak para prajurit di jantung utama Nagart yang bernama Nagaratama, tempat ayahnya bertahta serta tempat Istana Giok berdiri. Tapi, dia belum pernah menyaksikan secara langsung perkemahan para prajurit yang ternyata sangat berbeda dengan anggapannya dahulu. Legiun Asing mendirikan semacam dinding tipis nan sederhana yang terbuat dari kayu lengkap dengan gerbangnya, yang diperkuat dengan palang yang bisa diangkat serta ujung-ujung bambu yang diberdirikan mengitari tembok, yang berguna untuk merintangi siapa saja yang mencoba untuk masuk secara paksa. Para legiun terutama yang mengenakan jubah kuning berjaga di sela-sela tembok yang sengaja dilubangi, mata siaga mengawasi. Jika musuh berencana untuk turun dari bukit saat ini juga, seluruh perkemahan akan langsung tahu mengingat di dekat setiap penjaga terdapat kentongan berukuran cukup besar. Di kejauhan, tepatnya di sekitar bukit, bisa terlihat persiapan yang telah diadakan oleh Si Bandit Emas. Ia juga telah mendirikan tembok yang jauh lebih tinggi dan berbahankan tanah, bukannya kayu biasa. Sidya bertanya-tanya bagaimana para bandit bisa mendirikan pertahanan secepat itu, tapi itu bisa tunggu nanti.

“Aku mau tinggal sebentar, Guru.” Sidya berucap sembari mengusap-usap kepalanya yang plontos, ia masih belum terbiasa harus dipisahkan dengan rambutnya.

Hikram berhenti sejenak, melihat mata Sidya yang mengamati setiap hal-hal baru disekitarnya dengan kepolosan khas anak-anak. 

“Segeralah menyusulku kalau sudah bosan melihat-lihat,” Hikram menguap untuk berpura-pura tidak peduli, kemudian segera pergi menyeruak para penduduk sipil yang dipekerjakan oleh Legiun Asing untuk memperbaiki beberapa bagian dinding. Mereka mendelik begitu sadar sedang disela ditengah-tengah pekerjaan oleh seorang pengemis kumal.

Hikram sedang ceroboh, Tubuhnya terlalu letih untuk mencemaskan kalau-kalau ada yang mengenali Sidya untuk saat ini. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah istirahat panjang tanpa diganggu, tentu saja setelah menenggak araknya sampai habis terlebih dahulu. Lagipula, dia berpikir bahwa si putri kecil sedang butuh hiburan untuk melupakan rasa takutnya akibat pemandangan-pemandangan mengerikan yang diakibatkan oleh pertempuran sehingga tetap memberi ijin.

Sidya melangkah ke berbagai bagian perkemahan, sementara sosok Hikram ditelan oleh pemandangan tenda. Beberapa orang mulai melempar pandang padanya, mungkin bertanya-tanya di dalam hati mengapa ada seorang anak laki-laki botak yang keluyuran di tengah kemah para prajurit kasar, tapi tak ada yang menghentikannya. Sidya berkeliling untuk menonton perbaikan dinding, segera merasa bosan, kemudian menuju ke pusat perkemahan. Cukup mudah, ia hanya perlu mencari-cari berbagai tenda yang makin besar saja, pertanda bahwa penghuni sementara yang tinggal di sana adalah orang-orang penting. Ada satu yang kelihatan sangat mewah, bendera kebanggaan Nagart yang bergambar naga berkibar malas di salah satu tiang, dipermainkan oleh angin. Sidya menyelinap di antara kerumunan orang dewasa campuran antara prajurit dan penduduk sipil yang lalu-lalang, berusaha mendekati mulut tenda.

Di depan tenda tersebut, kelihatan dua orang sedang berjaga, dan mereka bukanlah Legiun Asing. Legiun sering memakai pakaian kebangsaan orang-orangnya sendiri, sementara dua orang ini sepertinya orang pusat Nagart asli. Sidya mengenali pakaian mereka semudah mengenali kedua tangannya sendiri.

Itu adalah pakaian Korps Garda Istana. Korps yang menaungi Daeng dan Seto yang kini entah di mana keberadaannya. Bahkan, Sidya mengenali semacam bulatan hijau di tengah pakaian itu. Itu menandakan bahwa mereka berasal dari Istana Giok, yang berarti mereka didatangkan langsung dari Nagaratama. Kiranya siapakah yang berada di dalam tenda tersebut? Mestinya orang yang cukup penting hingga harus dikawal penjaga kelas atas dari Istana Giok. Bisa jadi ayahnya sendiri walau kemungkinannya kecil, atau mungkin bangsawan yang diperintahkan sang kaisar sendiri untuk memeriksa kesiapan legiun.

Sidya sangat penasaran. Karena tak bisa langsung masuk dari sisi depan yang dijaga, dia memutar. Sekali dua kali Sidya mendapat bentakan dari beberapa orang yang membawa peti-peti berat yang menyuruhnya minggir, tapi selain itu dia tak mendapat hambatan apapun. Sidya menunggu sampai orang-orang tak menaruh perhatian lagi padanya, kemudian sembunyi-sembunyi menyelinap ke salah satu sisi tenda, dia menyingkap kain penutup tenda yang longgar pasaknya dengan cukup mudah kemudian masuk. Lamat-lamat ia bisa mendengar suara perbincangan yang terjadi di dalam, karena kebisingan dunia luar kini ditutupi oleh kain tenda.

“ Aku tak pernah memahami sepenuhnya bagaimana otak kalian-kalian para pelaksana peperangan bekerja.”

Deg! Detak jantung Sidya serasa berhenti sesaat. Dia mengenali suara feminin itu. Sangat kenal malah.

Bukannya itu suara Si Pendongeng Istana? Sidya segera menyelinap ke belakang sebuah meja yang sisi depannya tertutup dengan lembaran-lembaran kertas laporan, lalu memberanikan diri untuk mengintip di sela-selanya.

Memang benar, Sidya tak bisa salah lagi. Kepala botak, badan lebar lagi tambun, serta pakaian sutranya yang selalu berwarna cerah itu tak bisa lebih kentara lagi. Bedanya, dia kini tak membawa payung kertasnya yang bermotif bunga-bungaan, tapi Sidya maklum karena mereka tengah berada di tengah-tengah sebuah tenda. Sekarang ia berhadap-hadapan dengan seorang legiun asing berkulit sangat gelap, raut wajahnya yang tegas serta bibir tebalnya berbeda sekali dengan Si Pendongeng Istana yang terkesan kemayu.

“Jangan ikut campur urusan kami, Kasim(1). Kalau engkau tak mengetahui taktik dalam menjalankan peperangan, maka keberadaanmu tak diperlukan oleh legiun. Aku sudah tahu keahlianmu berada di bidang apa.” Mata si legiun memicing. “Aku tak akan mentolerir permainan politik di tengah-tengah pekerjaanku, kau dengar?”

Si Pendongeng Istana yang Sidya kenali namanya sebagai Hung menghela napas dengan sangat lembut, lebih seperti wanita daripada laki-laki. “Selalu menganggap bahwa setiap kasim yang datang memiliki maksud buruk. Kalian para prajurit memang pada dasarnya sama. Aku hanya memeriksa kerjamu, tak lebih dari itu. bersyukurlah aku yang datang, bukan para tukang jagal Sang Kaisar, jayalah selalu namanya.”

Si Legiun Asing berguncang badannya, dan Sidya baru sadar dia sedang tertawa dengan suaranya yang dalam. “Pembohong. Pasti ada hal tertentu yang kau inginkan. Kalau hanya memeriksa, lalu surat yang datang sebagai peringatan akan seorang anggota legiun yang adu jotos dengan seorang mantan jawara itu apa, Kasim? Lelucon murahan dari Kaisarkah? Kemudian tak tunggu lama, seorang kasim langsung dari Istana Giok memaksa untuk masuk tendaku tepat di tengah-tengah pengepungan yang sedang berjalan. Tak perlu seseorang yang sangat cerdas untuk mengetahui maksudmu datang ke sini. Kau ingin menghukum kami lebih jauh lagi, bukan? Seolah pemotongan gaji dari Kaisar tak cukup sebagai hukuman.”

Hung mengacungkan jari dan mengayunkannya ke kiri dan kanan. “a, a, a, a. Tidak. Jangan gunakan alasan tentang surat itu untuk mengusirku.”

“Tapi itu benar, bukan? Kau mengganggu rapat yang sedang kulaksanakan. Aku sebagai kapten Legiun Asing beranggapan bahwa hukuman yang telah kami terima cukup, maka pergilah, jangan ganggu kami lagi.”

Senyum Hung kini hilang sepenuhnya. “Surat tersebut hanya peringatan, tak lebih.Kaisar kala itu sedang bermurah hati, kalau engkau menganggap bahwa kebaikan Kaisar menunjukkan kelemahannya, maka kau salah besar. Aku dikirim ke sini bukan hanya untuk memeriksa kalian kacung murahan. Tugasku jauh lebih penting dari pemeriksaan ini dan kujamin, tak ada hubungannya denganmu. Selamat siang, terima kasih atas sambutan yang luar biasa hangat.”

Setelah meninggalkan komentarnya yang menyengat, Hung berbalik mau keluar dari tenda, tapi tawa si legiun asing masih bergema, kini lebih kencang dari sebelumnya. Ia bahkan meludah tepat ke punggung Hung sembari melontarkan semacam makian dalam bahasanya sendiri yang tak diketahui oleh Sidya. “Harga diri kami masih berdiri, lelaki tak berkemaluan. Melayani Nagart bukan berarti negeriku telah sepenuhnya jatuh dalam kuasamu.”

Hung berhenti tepat saat si legiun berhenti bicara. Dia berbalik, menebarkan senyum yang sangat menawan, kemudian menggosok-gosokkan kedua tangannya.

“Ck, ck, ck. Hinaanmu sudah biasa kuterima. Yang benar-benar membuat hatiku sakit adalah saat mendengar bahwa kesetiaanmu pada Nagart hanyalah omong kosong. Sepertinya kau perlu diingatkan siapa majikanmu. Sekali lagi.”

Hung menaruh kedua tangannya di punggung, dan setengah sadar si legiun telah memegang senjatanya yang tersarung.

“Apa yang akan kau lakukan, Kasim?”

“Kasim, kasim, kasim. Tak bisakah engkau memanggilku dengan namaku yang sempurna? Namaku sederhana, sepatah kata, pemberian langsung dari mendiang Kaisar Syaidrin.”

Ia mendekat, dan pegangan si legiun semakin erat pada senjatanya. Meskipun badannya tegap dan Hung tak lebih dari seorang yang kelebihan berat badan, si legiun nampak ketakutan, dan sepertinya mulai menyadari bahwa kelakuannya sudah keterlaluan.

“Namaku Hung, pelayan Istana Giok yang paling setia. Saat ini, perlu kuingatkan bahwa kepatuhanmu hanyalah pada tahta Nagart semata, tak ada yang lain. Seperti sabda Kaisar Pertama ….”

“Tidak, jangan, kumohon!”

“… dalam kitab hukum, tepatnya pada halaman dua ratus empat puluh, baris ketiga, kalimat pertama.”

Hung menarik napas, dan Sidya yakin seyakin-yakinnya bahwa yang keluar dari kerongkongan Hung selanjutnya bukanlah suaranya.

“Nagart ditopang oleh tonggak-tonggak, jumlahnya hampir tak hingga. Tonggak adalah rakyat: semua suku, semua asal, semua bahasa, takkan kubedakan. Tanpa tonggak, Nagart roboh. Tanpa tonggak, Nagart hancur. Namun, jika tonggak menunjukkan retak berupa ketidak-patuhan pada Hukumku ….”

SI prajurit jatuh menyembah, badannya gemetar hebat.

“…. Maka kuperintahkan patahkanlah tonggak itu, untuk diganti dengan yang baharu.”

Krak! Cras! Krak!

Dan dengan kalimat Hung yang terakhir, mendadak kulit gelap si legiun membuka di bahu, tulangnya bergemeretak mencuat dari tempatnya, sementara darah deras mengalir. Ia mengeluarkan jeritan yang menyayat sukma, dan kedua garda istana langsung masuk untuk memeriksa keadaan.

“Ada apakah?!”

“oh, tak ada apa-apa,” Hung menjawab enteng sembari mengeluarkan kipas berbahankan gading dari balik pakaiannya untuk mengipasi diri seolah dia baru saja melakukan jalan-jalan sore dan bukannya melukai seseorang dengan rasa sakit yang nyata adanya hanya dengan kata-kata, “hanya ada kepatuhan yang bangkit lagi pada tahta. Bawa Ketua Legiun Asing ini ke tenda medis, rekan-rekan garda yang terhormat. Beliau sepertinya butuh perawatan.”

Setelah si lelaki berkulit gelap—yang ternyata merupakan kapten Legiun Asing—dibawa pergi, pandangan Hung menyapu ruangan untuk sementara. Beruntung, Sidya telah menyembunyikan diri dari tadi, tepatnya saat kulit si lelaki membuka untuk menunjukkan mencuatnya tulang dari tempatnya.

Sidya gemetar seorang diri, mengira akan ditemukan, namun kelegaan membanjirinya saat mendengar langkah kaki yang lembut akhirnya keluar juga dari bagian dalam tenda.

Sidya mengatur napasnya, badannya gemetar. Air matanya membayang lagi, tapi dia mengusapnya dengan lengan pakaian. Tapi, bagaimanapun ia mau menahan, tangis memaksa mengunjunginya lagi untuk kali ini.

Waktu Sidya berada di istana, Hung merupakan orang yang paling baik. Sopan, lembut, selalu bersedia mendengar curahan hatinya tentang kecacatan yang ditunjukkan oleh ayahnya. Seolah … seolah dia sudah menjadi pengganti ibu walau sekarang Sidya sangat jijik disuruh untuk mengakui hal itu. Ternyata semua itu hanyalah bayangan semu, semua itu hanyalah samaran. Hung ternyata amat kejam hingga mau merobek bahu seseorang dengan Ilmu Titah hanya karena menunjukkan sedikit saja pemberontakan pada keinginan ayahnya.

Sidya lalu mengingat kelakuan Hikram. Dia juga kejam. Hikram menyiksa seorang penyamun dengan rasa mabuk yang berat hanya untuk mendapatkan informasi semata.

Semua orang sama saja, semua orang sama kejamnya, Sidya tak mau menjadi seperti mereka. Namun, patut diketahui bahwa di tengah-tengah dunia yang carut-marut, Sang Putri merasa ditinggalkan seorang diri.

Maka menangislah Sidya tanpa dapat ditahan-tahan lagi.

--



(1). Kasim adalah laki-laki yang telah dikebiri kemaluannya dengan berbagai alasan. Di Nagart, para Kaisar beranggapan bahwa seorang lelaki yang rela menyerahkan kejantanannya tentulah dapat menjadi pelayan yang luar biasa setia karena rela berkorban sebegitu besar, sehingga banyak diposisikan sebagai pejabat tinggi.

Di dunia kita sendiri, kasim juga dihargai karena kesetiaan mereka, serta suara yang mirip kanak-kanak hingga mampu mencapai nada-nada tinggi. Beberapa kekaisaran serta kerajaan kuno secara aktif mempekerjakan kasim dengan berbagai peranan, terutama sekitar Tiongkok, Persia, Mesir, serta Kekaisaran Bizantium.