Episode 48 - Pertarungan Dimulai



“Lin Fan! Kau pasti akan mendapat balasan yang setimpal dari semua ini!” teriak Ning Xuelo dengan keras.

“Hahahaha,” Lin Fan melempar kepalanya ke atas dan tertawa terbahak-bahak, bagi lin Fan, apa yang Ning Xuelo katakan sangat menggelikan, “balasan yang setimpal? Lalu bagaimana dengan kalian semua yang selama ini menghina dan merendahkan aku? menurutmu apa yang akan kalian dapatkan?”

Ning Xuelo mengingat kembali bagaimana kondisi Lin Fan setelah hari itu dan tidak bisa tidak terdiam membisu. Apa yang Lin Fan rasakan selama ini terlalu memilukan untuk dia katakan.

“Kenapa kau diam saja? Cepat jawab aku! Kenapa hanya aku yang mendapat balasan dan kalian tidak? Kenapa aku direndahkan hanya karena satu kekalahan? Kenapa? Kenapa aku? kenapa harus aku?” Lin Fan berteriak keras di depan wajah Ning Xuelo yang memucat.

Semua emosi yang telah terpendam meledak. Semua apa yang dikeluhkannya selama ini, semua hal tidak adil yang dia rasakan, kini telah dia keluarkan. 

Setelah mendengar semua itu, Ning Xuelo semakin terdiam membisu. Tak ada yang dapat dia katakan. Lin Fan benar, semua ini sangat tidak adil baginya, kenapa hanya karena satu kekalahan itu harus membuat Lin Fan merasakan semua penderitaan dan ketidakadilan.

Lin Fan terengah-engah setelah meneriakan semua itu, dia terdiam sebentar untuk mengatur napas lalu mengepalkan tangannya dan memukul tepat ke wajah Ning Xuelo hingga dia jatuh pingsan. Setelah itu Lin Fan berjalan dengan diam ke dalam sekte. 

Semua murid lainnya menatap Lin Fan dengan takut, tidak berani membuat sedikit pun suara yang mungkin akan membuat Lin Fan menjadi kesal. Kali ini mereka telah melihat sendiri bagaimana kekuatan Lin Fan yang sesungguhnya. Lin Fan telah berubah, dia tidak lagi sampah seperti yang dulu.

Langkah kaki Lin Fan lambat namun mantap. Tidak ada lagi beban yang mengganjal di hatinya, semuanya telah dia keluarkan. Kini, yang tersisa hanyalah mengambil kembali apa yang dia inginkan, yaitu bela diri dan sekte yang sangat dia cintai. Meskipun harus melawan adik dan ayahnya sendiri.

Perlahan tapi pasti, akhirnya Lin Fan masuk ke dalam gedung utama sekte. Menghilang dari tatapan semua murid yang telah menunggunya di depan gerbang sekte. Saat Lin Fan masuk, ketika itulah semua murid tadi bisa bernapas dengan bebas. 

“Sialan! siapa yang menyebarkan rumor bahwa Lin Fan adalah sampah? Cepat maju, aku berjanji tidak akan memukulmu sampai mati!” teriak seorang murid dengan marah.

“Benar, dia bahkan bisa mengalahkan Zhang Xuan, Yun Che, dan Ning Xuelo, jika bukan hebat, lalu kata apa lagi yang bisa menggambarkan dia.” 

“Dasar bodoh, dia bukan hebat, tapi menakjubkan!”

Semua pandangan mereka tentang Lin Fan telah berubah.

“Lalu, apa yang akan terjadi dengan Pemimpin Sekte? Apakah dia mampu mengalahkan Lin Fan?” tanya seorang murid dengan tiba-tiba memecah semua kekaguman untuk Lin Fan. Karena pada akhirnya Lin Fan bukan lagi murid di sekte, dan apabila dia mampu mengalahkan Pemimpin Sekte, maka itu akan mencoreng nama sekte.

“Tidak tahu.” Jawab seorang murid dengan ragu. Setelah melihat kekuatan Lin Fan yang sesungguhnya, dia tidak bisa tidak berpikir bahwa Lin Fan mungkin saja dapat mengalahkan Lin Er, Pemimpin Sekte kali ini.

“Mari kita lihat dan berdoa semoga Pemimpin Sekte mampu mengalahkan dia.” Ucap seseorang lalu mulai berlari menuju gedung utama dan diikuti oleh murid yang lainnya.

Sementara itu, setelah memasuki gedung utama, Lin Fan disambut dengan aroma yang membuat dia merasa nostalgia. Aroma yang tak akan pernah dia temukan di tempat lainnya. Mata Lin Fan menjelajah ke sekitar dan menemukan bahwa tak banyak hal yang berubah, semua masih sama seperti dulu.

Entah mereka mempertahankan tradisi, atau malah memasukan semua pemasukan ke kantung masing-masing, sehingga tidak ada peralatan baru dan renovasi bangunan. Pikir Lin Fan dalam diam.

Lin Fan terus berjalan dan akhirnya sampai ke sebuah ruangan luas. Di dalam ruangan itu berbaris rapi banyak murid dengan tatapan yang tajam. Mereka tampak kuat, tapi bagi Lin Fan, mereka bukanlah apa-apa. 

Terkadang, apa yang kau lihat dapat dengan mudah menipumu. Jadi, jangan mudah mengambil sebuah kesimpulan sebelum kau benar-benar memahaminnya.

“Sepertinya kau sudah siap untuk pertarungan hari ini, Lin Er,” ucap Lin Fan dengan santai, lalu tiba-tiba ekspresi wajah Lin Fan berubah seperti mengingat sesuatu lalu berkata, “ah, maaf, yang benar itu pemimpin sekte, kan?”

“Sialan! apa-apaan maksudmu itu sampah!”

“Beraninya kau berkata tidak sopan kepada Pemimpin Sekte!”

“Jaga mulut busukmu sampah!”

Lin Er yang berdiri di tengah arena pertarungan membuka matanya dan memandang Lin Fan di depan pintu masuk arena pertarungan. 

“Diam!” teriak Lin Er dengan suara yang berat. 

“Hohohoho, aku ketakutan, aku ketakutan,” ucap Lin Fan dengan datar.

“Sialan! jangan kurang ajar kau sampah!” teriak salah seorang murid lalu berlari menuju arah Lin Fan. Beberapa detik kemudian dia tepat berada di depan Lin Fan dan melayangkan sebuah pukulan menuju wajah Lin Fan. Namun, sebuah pukulan cepat dari Lin Fan melesat menuju wajah murid itu, dan membuat dia terlempar ke belakang beberapa meter hingga tak sadarkan diri.

“Kakak! Akulah lawanmu, bukan dia!” teriak Lin Er dengan ekpresi marah.

“Hah? Apa aku tak salah dengar? Kau memanggilku kakak?” Lin Fan berkata dengan wajah terkejut yang dibuat-buat.

Lin Er tidak mengatakan apapun dan hanya bisa memelototi Lin Fan sembari meremas tangannya.

“Hahaha, kenapa Pemimpin Sekte? Apa kau sakit perut Pemimpin Sekte? Cepat ambil tandu, sepertinya ada yang salah dengan Pemimpin Sekte kalian!” ucap Lin Fan dengan wajah mengejek.

“Lin Fan!” 

Sebuah teriakan keras menggema di seluruh ruangan. Suara yang keras dan tegas, yang mampu membuat siapa saja terdiam ketika mendengarnya. Sama seperti saat ini.

Lin Fan menatap tajam pada Lin Dong dengan penuh benci. Daripada para penghina dan Lin Er, kebencian Lin Fan lebih pekat kepada ayahnya sendiri, Lin Dong, orang yang bertanggung jawab untuk semua penderitaan yang telah dia alami.

Lin Dong berjalan menuju Lin Dong dengan tatapan membunuh, aura mengerikan terasa sangat jelas darinya, membuat siapa saja yang melihatnya langsung menundukan kepalanya. Namun, itu tidak berefek pada Lin Fan. Dia masih dengan tegas menatap mata Lin Dong tanpa berkedip.

Semuanya terdiam, hanya ada suara napas yang berat dan langkah kaki Lin Dong. Akhirnya dia sampai di depan Lin Fan, menatap wajah Lin Fan dengan wajah tegas. Sedangkan itu, Lin Fan tetap menatap mata Lin Dong.

Setelah beberapa detik saling tatap, Lin Dong pergi dan menuju arena pertarungan, tempat di mana Lin Er berada.

“Selesaikan semuanya di arena.” Ucap Lin Dong tanpa menoleh ke belakang.

Lin Fan tidak menjawab apapun dan mulai berjalan mengikuti Lin Dong. 

Kini, di arena pertarungan, Lin Er berdiri di salah satu sisi lapangan, Lin Dong di tengah arena, sedangkan itu Lin Fan di sisi yang bersebrangan dari Lin Er. Ruangan ini masih sama seperti dulu, ketiga orang ini sama seperti pertarungan dulu. Bagi murid lama, ini adalah pemandangan yang tak asing lagi.

Berdiri di dalam arena, Lin Fan dan Lin Er memiliki perasaan yang berbeda. Untuk Lin Fan, pertarungan ini adalah saat yang tepat baginya untuk membuktikan bahwa dia lebih kuat dan membalas kekalahannya yang dulu. Sedangkan itu, untuk Lin Er , pertarungan ini sangat membingungkan baginya, di satu sisi dia ingin menang untuk menjaga nama baik sekte, karena dia adalah pemimpin sekte, di sisi lain dia tidak ingin menang karena Lin Fan adalah kakaknya, dan dia tidak mau Lin Fan mendapat hinaan yang lebih dari sebelumnya lagi.

Namun, tidak butuh waktu lama bagi Lin Er untuk memutuskan, bahwa dia akan bertarung dengan serius dan memenangkan pertarungan. Karena dia adalah pemimpin sekte, karena dia menghargai Lin Fan, karena dia mencintai Lin Fan yang mencintai sekte ini.

Lin Dong memandangi Lin Er dan Lin Fan secara bergantian. 

“Peraturannya tidak perlu aku sebutkan lagi, jadi, apakah kalian berdua sudah siap?” tanya Lin Dong.

“Siap.” Jawab Lin Er dengan tenang.

“Hei, hei, hei, aku ini orang luar? Jadi mana mungkin aku tahu peraturan di sekte ini? Apakah kau bodoh?” ucap Lin Fan dengan wajah polos.

“Lin Fa-“

“Tenang, Ayah!” teriakan Lin Dong terpotong oleh teriakan Lin Er, “biarkan aku yang menjelaskan peraturan dasarnya.”

“Hahaha, seperti yang diharapkan dari Pemimpin Sekte, kau sangat bijaksana.” Ucap Lin Fan dengan senyum kecil menghiasi wajahnya.

Semua murid melihat Lin Fan dengan emosi yang membara, mereka tidak terima Lin Fan bersikap kurang ajar kepada Lin Er dan Lin Dong. Namun, mereka tidak bisa melakukan apapun, karena sebelum pertandingan ini dimulai, mereka sudah diberi instruksi untuk tetap tenang apapun yang terjadi.

Lin Er menggertakan giginya lalu berkata, “Ada tiga larangan, yaitu dilarang menyerang bagian vital, dilarang menggunakan senjata, dan yang terakhir adalah dilarang menyerang lawan yang sedang terjatuh.”

“Hmmm, hmmm,” Lin Fan menganggukan kepalanya dengan antusias, “lalu apa lagi?”

“Ada tiga kondisi kemenangan, yaitu lawan mengaku kalah, musuh tak mampu lagi bertarung, dan yang terakhir musuh melanggar pertaruran yang sebelumnya.” Jawab Lin Er.

“Hohoho, baiklah, baiklah, terima kasih atas penjelasannya, Pemimpin Sekte.” Ucap Lin Fan.

Lin Dong sekali lagi memandangi Lin Fan dan Lin Er secara bergantian lalu berteriak, “Pertandingan dimulai.” Suaranya mengisi seluruh arena dan membakar antusiasme seluruh penonton.

Lin Er dengan cepat menendang lantai dan bergegas menuju Lin Fan. Sedangkan itu, Lin Fan dengan tenang menunggu serangan dari Lin Er.

Dengan sangat anggun Lin Er menendangkan kakinya ke pinggang Lin Fan, akan tetapi dengan sangat mudah dapat Lin Fan hindari dengan melompat mundur ke belakang. 

Sebuah adegan yang sama terjadi seperti pertarungan pertama mereka berdua. Namun, kali ini Lin Fan tidak langsung menyerang, akan tetapi dia dengan tenang memandang Lin Er, tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan mulai menyerang.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak menyerang? Apa kau meremehkan aku?” teriak Lin Er.

“Tentu saja tidak, mana mungkin aku berani meremehkan Pemimpin Sekte.” Ucap Lin Fan dengan santai.

“Kalau begitu bertarunglah dengan serius, aku ini kuat, jadi jangan pernah memandang remeh aku.” Lin Er berteriak sembari bergegas menuju Lin Fan.