Episode 59 - Kehidupan Kedua



Tiga hari kemudian, Jaya dan Galuh berpamitan pada Kyai Pamenang dan Nyai Mantili untuk berangkat ke Surasowan Banten, sebelum pergi Kyai Pamenang memberikan wejangannya pada Jaya terlebih dahulu, “Muridku, ada tiga hal yang perlu aku sampaikan padamu sebelum berangkat, yang pertama, aku ingin mengingatkanmu tentang tujuan hidup.

Jaya aku tidak pernah menganjurkan padamu untuk memiliki satu tujuan hidup sebab sejatinya tujuan hidup manusia adalah untuk mati menghadap pada sang penciptanya, kita hanya perlu mengisi hidup kita dengan bekal untuk menjalani kehidupan selanjutnya sebagaimana yang disampaikan dalam kitab Al Quran dan Hadist Rasulullah, kalau kita mempunyai satu tujuan selain mati maka hidup kita akan penuh kesia-siaan, contoh kalau tujuan hidupmu untuk membalas dendam maka setelah kau berhasil membalas dendam kau akan merasa hidupmu tidak berarti lagi, jika kau bertujuan untuk menjadi saudagar kaya, setelah kau berhasil kau hanya akan menjadi orang yang serakah yang ingin lagi dan lagi mengumpulkan harta tanpa ingat hal yang lain.

Yang kedua, soal harga diri, ingatlah bahwa Tipu daya iblis itu memang licik muridku, dia paling gampang masuk lewat harga diri, orang selalu merasa tidak bersalah kalau melakukan apa saja demi harga diri hingga ia tidak sadar sudah terperangkap dalam sikap sombong, angkuh, dan takabur! Padahal antara Harga diri, kesombongan, takabur dan keangkuhan, sulit dibedakan… Maka dari itu pandai-pandailah merendahkan dirimu, bukan untuk menjual harga dirimu, tapi ingatlah bahwa kita semua tidak ada apa-apanya dimata Gusti Allah, dimataNYA kita semua sama, tidak pandang kaya atau miskin, tidak pandang rakyat atau priyayi... Berhati-hatilah jika kau akan bertindak atas nama harga diri, jangan sampai terperosok kedalam jurang dosa atas nama harga diri.

Yang terakhir... aku paham apa yang sedang kau alami saat ini muridku, tetapi sebagai keturunan dari Sri Baduga Maharaja, sebagai keturunan dari orang Sunda yang terkenal handap asor, aku hanya bisa berpesan padamu untuk selalu bersabar, untuk selalu bertawakal kepada Gusti Allah, jangan pernah kau dengarkan suara bisik setan yang menyertai nafsumu sendiri, ingatlah bahwa hanya Gusti Allah lah sang maha penguasa yang menguasai segalanya di seantero alam raya ini, IAlah yang menulis suratan takdir setiap mahluk yang ada di semesta ini... 

Jaya terimalah suratan takdir dari Gusti Allah dengan ikhlas, sebab tiada gunanya menjadi orang yang sombong serta serakah, jadilah orang yang senantiasa merendahkan hatinya, karena diatas gunung masih ada mega, diatas mega masih langit, dan diatas langit masih ada langit, tujuh tingkatan langit, diatas semua itu ada Gusti Allah sang Maha Pencipta yang menciptakan segalanya, semua yang ada di alam semesta ini!”

Jaya terdiam mendengar nasihat dari gurunya yang bijak itu, sebab semua nasihat itu telak tertuju padanya, “Maafkan saya guru... Saya... Akan berusaha menjadi orang yang selalu bisa bersikap ikhlas...”

Kyai Pamenang tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Jaya, “Hanya Orang yang menyadari kesalahannya maka dia akan benar...” 

Kyai Pamenang lalu menatap wajah muridnya yang terkasih itu “Jaya, orang yang benar-benar sakti mandraguna, orang yang benar benar berilmu, sejatinya adalah orang-orang yang ilmunya tidak diketahui oleh orang lain, tidak suka pamer, tidak suka brangasan, sungai yang dalam airnya selalu tenang tanpa riak, padi yang berisi akan selalu menunduk menatap bumi bukan menatap langit, orang yang lahir bathin ilmunya tinggi dan berwawasan luas adalah orang yang penyabar, orang itu namanya Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, Rasul kita semua, contohlah dan tirulah semua sifat beliau!”

“Terima kasih guru, semua nasehatmu akan saya resapi kedalam sanubari saya baik-baik” ucap Jaya, ia lalu sungkem pada Kyai Pamenang dan Nyai Mantili, diikuti oleh Galuh yang melakukan hal yang sama, kemudian mereka pun berangkat ke Surasowan Banten menaiki kuda yang diberikan oleh Sultan Banten diiringi oleh Tumenggung Braja Paksi dan 12 prajurit pilihan Banten, sayang mereka berdua tidak sempat berpamitan pada si Dewa Pengemis karena orang tua itu tiba-tiba menghilang, pergi tanpa berpamitan setelah berpesan beberapa hal pada Galuh.

***

Pada malam keempat purnama di puncak gunung Gede, saat itu matahari baru saja terbenam, berbarengan dengan terbenamnya matahari, udara mendadak menjadi sangat panas dan gerah padahal udara di puncak gunung Gede itu biasanya amat dingin luar biasa, keanehan tersebut diikuti oleh aroma berbau bangkai yang langsung santar tercium.

Bulan purnama malam itu pun bercahaya agak kemerah-merahan, tidak bercahaya putih benderang, sehingga bulan purnama bercahaya pucat yang tertutup oleh sekumpulan awan kelabu tipis itu nampak sangat menakutkan bagi orang-orang yang melihatnya, terdengar suara koakan burung-burung gagak dan srigala-srigala di hutan yang sahut menyahut riuh menambah seramnya suasana malam itu.

Di tempat yang lapang, Ki Silah menelentangkan mayat Dharmadipa yang telanjang bulat, Emak Inah nampak sibuk menyusun sesajen yang sudah disediakan diatas nyiru besar, sementara Mega Sari duduk bersemedi dengan mata terpejam dihadapan mayat Dharmadipa. 

Sebenarnya Ki Silah dan Emak Inah sama-sama keberatan untuk menyiapkan sesajen itu terutama jantung dan bayi yang berusia tujuh hari, jabang bayi yang masih didalam kandungan berusia tujuh bulan, serta hati juga darah dari gadis perawan yang masih suci, mereka sebenarnya tidak menyetujui keinginan Mega Sari untuk menghidupkan kembali suaminya, namun mereka berdua tidak berani menolak keinginan majikannya itu.

Emak Inah menatap majikannya yang sedang mempersiapkan upacara Wasiat Iblis untuk membangkitkan suaminya sambil menangis. “Harus kita sadarkan Gusti Putri Kakang Silah, kalau terus menerus begini Gusti putri bisa celaka oleh polahnya sendiri! Dan juga kasihan jenasah Gusti Pangeran Dharmadipa, tugas ia sebagai manusia di alam ini sudah selesai, kita seharusnya secepatnya mengembalikan dia menjadi tanah!” ucapnya pada suaminya itu.

Ki Silah menggelengkan kepalanya sambil mendesah, “Sulit Nyai, Gusti kita tetap menganggap bahwa suaminya itu masih hidup, dan kamu pasti lebih tahu dari aku bagaimana keras kepalanya dan keras hatinya ia, kalau kita larang perbuatannya ia pasti akan mengamuk dan akan mengusir kita, sementara kalau kita pergi meninggalkan ia, aku sungguh tidak tega, ia pasti akan semakin hancur setelah kehilangan segalanya, bahkan untuk dapat bersama dengan kakak kandungnya sendiripun ia tidak bisa! Sudahlah Nyai, untuk sementara ini kita biarkan saja dia...”

Obrolan mereka terputus ketika Mega Sari memanggil mereka berdua, Mega Sari menyuruh Emak Inah untuk menyalakan kemenyan putih dan membakar api pendupaan, aroma kemenyan segera santar tercium menyebar keseluruh area puncak Gunung Gede, sementara Ki Silah mencuci wajah dan menyirami sekujur tubuh mayat Dharmadipa dengan air dari mata air yang masih suci belum terkena kotoran apapun.

Mega Sari membaca kitab lontar berbahasa sansekerta dengan lantang mirip orang yang menjerit-jerit, setelah selesai, ia bersidekap, mulutnya berucap dengan suara lantang. “Para mahluk marakahyangan, yang bahureksa di gunung-gunung, yang menguasai sungai-sungai, yang bercokol di hutan-hutan geledegan, saksikanlah upacara ini! Aku Mega Sari putri dari Prabu Kertapati dan Dewi Nawangkasih akan menggadaikan jiwaku untuk menyatu dengan engkau wahai Raja Diraja Iblis! Terimalah aku sebagai hamba sahayamu yang abadi, dalam alam kegelapan...”

Tiba-tiba petir meledak diatas langit yang tiada mendung sedikitpun dengan begitu dahsyatnya! Kilatnya menerangi seantero Gunung Gede, ledakannya menggetarkan seluruh Gunung Gede! Saat itu terdengar suara-suara tawa ghaib yang tidak nampak oleh mata, suara tawanya riuh ramai sekali terdengar di puncak gunung tersebut, diiringi dengan suara sayup-sayup gamelan membawakan lagu yang menyeramkan yang membuat bulu kuduk berdiri. 

Emak Inah dengan menahan rasa takutnya mengambil darah bayi laki-laki yang berusia tujuh hari lalu menyiramkannya keatas ubun-ubun Mega Sari, wanita inipun kembali membaca mantera dari kitab lontar berbahasa sansekerta itu dengan nada seperti orang yang sedang menjerit-jerit.

Setelah darah bayi laki-laki berumur tujuh hari itu habis, Mega Sari berhenti membaca mantera dari kitab lontar kuno itu, ia lalu berucap dengan suara perlahan, “Alam hitam, alam kelam, aku tumbalkan sukmaku, daging, tulang, dan darahku untuk menyatu dalam surat perjanjian Wasiat Iblisku dengan Sang Raja Iblis, ini aku Mega Sari, Mega Sari namaku, Mega Sari panggilanku, Mega Sari nasabku, Mega Sari pribadiku, larut dalam teluh, larut dalam mantera perjanjian Wasiat Iblis!”

Jelegerrr!!! Petir kembali meledak tepat setelah Mega Sari menutup prosesi sumpah perjanjian Wasiat Iblis yang terlontar dari mulutnya, saat itu juga ia dapat melihat ratusan mahluk Ghaib penghuni puncak Gunung Gede yang mengelilingi mereka. Mega Sari menatap berkeliling melihat ratusan mahluk Ghaib itu dengan dingin tanpa sedikitpun rasa takut karena niatnya sudah mantap untuk mengadakan perjanjian Wasiat Iblis ini. 

“Jadi merekalah saksi-saksi dari perjanjian Wasiat Iblis yang baru saja aku ikrarkan, sekarang aku sudah masuk ke golongan mereka, golongan yang menyebrang dari ajaran Tuhan, golongan yang menolak takdir Tuhan!” bathin gadis yang hatinya tenggelam dalam lautan dendam ini.

Saat itu tiba-tiba terdengarlah suara Nyai Lakbok terngiang di telinga Mega Sari, “Mega Sari muridku, meskipun kau telah berhasil mengajukan Perjanjian Wasiat Iblis pada Raja Iblis, saranku sebaiknya kau pikirkan kembali, kau masih bisa membatalkan perjanjian ini sebelum Raja Iblis menyetujuinya dan mengutus Jin Bagaspati untuk masuk kedalam tubuh mayat suamimu, karena akibatnya sungguh luar biasa dahsyat! Mungkin saat ini mereka tidak akan meminta tumbal apa-apa darimu selain kau biarkan Jin Bagaspati membunuh banyak manusia, tapi nanti bukan tidak mungkin mereka akan mencelakai dirimu sendiri serta bayi yang sedang kamu kandung, juga semua orang-orang yang kamu kasihi!”

Mega Sari memejamkan matanya sebentar, ia lalu menggelengkan kepalanya dengan mantap, “Sudah kepalang basah Guru, akan saya tanggung segala akibat yang akan menimpa saya!” tegas Mega Sari.

Mega Sari lalu memberi isyarat pada Ki Silah untuk menggelar semua sesajen di sebelah mayat Dharmadipa, sedangkan yang lainnya seperti jabang bayi berusia tujuh bulan yang dikorek dari wanita hamil, serta darah dan hati dari gadis perawan yang masih suci, juga jantung dari bayi laki-laki berusia tujuh hari disimpan dalam nampan yang terbuat dari tembaga, disimpan di tengah-tengah sesajen lainnya, Emak Inah pun menaburkan kembang tujuh rupa juga setangi ke dalam pendupaan.

Kembali Mega Sari membaca bait ketiga dari mantera berbahasa sansekerta dari kitab lontar kuno dengan suara seperti orang yang menjerit-jerit, Ki Silah mulai mengucurkan darah gadis perawan yang masih suci ke dada dan kepala mayat Dharmadipa, setelah selesai membaca bagian terakhir dari mantera kuno itu, Mega Sari mengangkat kedua tangannya tinggi sambil menatap ke bulan purnama yang bersinar kemerahan tersebut.

“Alam hitam, alam kelam, alam halus alam ghaib, aku tumbalkan sukmaku, daging, tulang, dan darahku untuk menyatu dalam surat perjanjian Wasiat Iblisku dengan Sang Raja Iblis, ini aku Mega Sari, putri dari Prabu Kertapati dan Dewi Nawangkasih akan menggadaikan jiwaku untuk menyatu dengan engkau wahai Raja Diraja Iblis! Terimalah aku sebagai hamba sahayamu yang abadi, dalam alam kegelapan... Aku Mega Sari larut dalam teluh, larut dalam kegelapan, larut dalam jabang mantera!

Sukma yang gentayangan di padang kehampaan, sukma gentayangan yang meradang dendam, larut dalam mantera perjanjian Wasiat Iblis! Ini aku sediakan tubuh untuk hidup dialam manusia, sukma Dharmadipa datanglah dan kembali ke tubuhmu!” Mega Sari menutup ucapannya dengan menusukan sebatang jarum ke jempol tangan kanannya, kemudian ia mengoleskan darah dari luka di jempolnya tersebut ke kening mayat Dharmadipa.

Jelegerrr!!! Kembali petir yang lebih dahsyat dari yang sebelumnya meledak diatas puncak Gunung Gede itu menyambar satu pohon beringin besar hingga pohon itu terbelah dua dan terbakar hebat! Dari dalam pohon itu keluarlah sesosok tubuh tinggi besar berwarna merah laksana api, rambutnya gondrong riap-riapan, tanduknya tumbuh ditengah keningnya dan kedua lainnya mencuat dari kiri-kanan atas kepalanya, giginya beratring runcing mencuat keluar, matanya merah menyala oleh api, sekujur tubuhnya menyala merah oleh api. Dia berjalan menghampiri Mega Sari dan mayat Dharmadipa.

Emak Inah dan Ki Silah saling berpelukan saking ketakutannya melihat mahluk ghaib mengerikan yang berjalan menhampiri Gustinya, Mahluk itu lalu menggerakan tangannya, nampan berisi jantung bayi laki-laki berusia tujuh hari, jabang bayi dari dalam perut wanita hamil berusia tujuh bulan, dan hati gadis perawan yang masih suci melayang menghampirinya, dengan lahap mahluk itu pun memakan semua yang berada diatas nampan tersebut!

Mahluk ini lalu mengerang dahsyat menggetarkan seantero puncak Gunung Gede, Mega Sari lalu menunjuk mayat suaminya. “Eyang dari alam arwah, melalui perjanjian Wasiat Iblis dengan Raja Bangsamu, aku sediakan wadag untuk tempatmu melebur ke dunia manusia melalui tubuh suamiku Pangeran Dharmadipa, mulai saat engkau masuk kedalam tubuh ini, namamu pun berganti menjadi Dharmadipa, keghaibanmu pun menjadi sukma Dharmadipa!” ucap Mega Sari.

Selanjutnya terjadilah pemandangan yang sukar dipercaya, Jin yang bernama Bagaspati itu masuk kedalam tubuh Dharmadipa, Mega Sari buru-buru mengikatkan selendang Pati Sukma ke pinggangnya, juga mengikatkan benang tirta sukma ini pada jempol kaki kanan tubuh Dharmadipa, mayat itu pun membuka matanya, tangan dan kakinya mulai bergerak-gerak, sekujur kulit tubuhnya berubah menjadi putih pucat pasi sekali hingga mirip seputih kapas, hanya seluruh matanya saja yang berwarna merah darah! 

Dharmadipa pun bangun ia langsung berdiri dan menjerit-jerit tak karuan, Mega Sari segera menepuk bahu Dharmadipa, Dharmadipa pun berhenti berteriak. “Selamat datang kembali Kakang Pangeran, saya panggil Kakang kembali ke alam ini untuk melampiaskan dendam kita, untuk mencapai cita-cita Kakang yang begitu mulia, menjadi Raja Diraja Tanah Pasundan!”

Tapi Dharmadipa malah berontak dan menjerit-jerit tak karuan, Emak Inah dan Ki Silah langsung melompat menjauh karena kaget dan takut, Mega Sari pun terpaksa melompat menjauh ketika Dharmadipa bangun lalu mengamuk sejadi-jadinya, dari sekujur tubuhnya keluar api berwarna merah darah yang mempunyai daya rusak yang amat dahsyat, bahkan lebih dahsyat dari cambuk Kirana Geni senjata si Topeng Setan, mayat hidup Dharmadipa lalu mengamuk menghancurkan apa saja yang ada dihadapannya dengan api yang keluar dari sekujur tubuhnya tersebut, dalam sekejap puncak Gunung Gede memerah terbakar api dari Dharmadipa!

“Gusti putri bagaimana ini?!” jerit emak Inah ketakutan.

“Emak dan Abah cepat ambilkan sapu lidi itu!” perintah Mega Sari, Ki Silah pun menyerahkan seikat sapu lidi pada Mega Sari, Mega Sari lalu mengikatkan benang sakti yang bernama benang Sangga Pati pada sapu lidi tersebut, ia lalu melompat menghampiri Dharmadipa yang sedang mengamuk dengan hebatnya, “Kakang hentikan! Ayo kita pulang!” perintah Mega Sari, tapi Dharmadipa tidak mempedulian perintah istrinya, ia tetap saja mengamuk.

“Kakang hentikan! Jangan sampai saya memukulmu dengan sapu lidi Sangga Pati ini!” ancam Mega Sari sambil mengangkat sapu lidi yang telah diikat oleh Benang Sakti Sangga Pati tersebut, Dharmadipa terkejut ketika melihat sapu lidi itu, matanya melotot dan tubuhnya menggigil ketakutan, ia pun berhenti mengamuk. 

“Ayo kita pulang Kakang, rumah baru kita ada di goa lereng gunung ini, ayo!” ajak Mega Sari dengan halus, tapi mendapati sikap halus Mega Sari Dharmadipa malah kembali mengamuk.

“Baik! Terpaksa aku pukul kamu dengan ini Kakang!” Mega Sari pun memukuli kepala Dharmadipa dengan sapu lidi Sangga Pati, Dharmadipa menjerit-jerit kesakitan dibuatnya dan akhirnya ia jatuh pingsan!

Setelah Dharmadipa jatuh pingsan, Mega Sari memerintahkan Ki Silah untuk menggotong tubuhnya ke kereta kudanya, dengan amat ketakutan Ki Silah pun terpaksa melakukan perintah majikannya itu. Mega Sari pun menarik nafas lega, ia teringat pada pesan gurunya Nyai Lakbok sebelum meninggalkan gunung Patuha. "Karena Jin yang mengisi tubuh suamimu berasal dari alam yang berbeda, maka kamu membutuhkan waktu untuk menjinakannya agar ia bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di alam manusia dan bisa kamu perintah, jangan sekali-sekali menyuruh dia untuk membunuh sebelum dia benar-benar bisa kamu kuasai!”