Episode 77 - Neil Winter


Malam harinya, seperti yang sudah-sudah, Alzen dan Neil sekali lagi masuk ke ruang kepala sekolah untuk tujuan yang masih sama. Namun kali ini berbeda, Neil datang lebih awal, Ia masuk seorang diri meski ada Xiver dan Silvia yang menunggu disana.

Alzen yang datang di waktu seperti biasa, terbilang telat karena mereka masuk lebih awal hari ini.

“Ohh... kau tetap datang juga.” Sambut Xiver melihat Alzen datang.

“Padahal kelas tingkat 1 ribut banget tadi, ada apa sih?” balas Silvia.

“Persiapan ujian nanti, menjelajah dungeon.”

“Augh...” seketika Silvia mual dan mau muntah, wajahnya membiru.

“Kak kau kenapa?” tanya Alzen.

“Hah, ujian itu masih terus dilakukan ya...” Xiver menyayangkan.

“Tidak-tidak, hanya seketika teringat kejadian buruk saja. Sahabatku terbunuh disana. Dan dari dulu ujian itu memang selalu memakan korban.”

“Haa!?” Alzen tak habis pikir.

“Tapi terus dilakukan, karena memang kenyataan di lapangannya begitu,” sambung Xiver sambil menunduk meratapi kejadian buruk yang dulu pernah menimpanya. “Dungeon tak pernah menjadi tempat yang bisa dijamin aman sepenuhnya. Lebih dalam, lebih mudah merengut nyawa, bukan dari monsternya saja, tapi dari lingkungan yang penuh jebakan. Kalau Vheins tidak mengajarkan fakta di lapangannya, maka orang-orang yang lulus dari sini secara tidak langsung di bohongi dan terkejut sendiri ketika melihat dunia yang sebenarnya. Yang lebih keras, yang ternyata berbeda dari ketika mereka masih sekolah.” 

“Dan kenyataan pahitnya,” sambung Silvia. “Akan selalu ada murid-murid yang jadi korban karena kesalahan dan ketidaktahuan mereka sendiri. Kita ini manusia, jika kita mati, kita tidak respawn atau hidup kembali seperti monster-monster disana.”

“Kami bukan bermaksud menakut-nakutimu, tapi kami mengalaminya sendiri. Di dalam sana, di hadapan kematian, sifat sejati seseorang akan terlihat dengan sendirinya, mereka yang kamu pikir temanmu, pergi begitu saja membiarkan dirimu dalam bahaya. Hal itu lumrah sekali.”

“Begitu ya, pak Kazzel sudah menjelaskan itu semua beberapa minggu lalu, dan kalian mengatakan hal yang serupa. Berarti benar adanya ya.”

“Hoo pantas saja kamu tak sekaget itu.” komentar Xiver.

“Mereka sekarang tidak menutup-nutupinya ya.” sambung Silvia, lalu ia tersenyum. “Hmph! Vheins selalu bertumbuh dan belajar dari kesalahannya ya, Angkatanku kami dulu di tahun 1899, tidak ada persiapan tentang kenyataan yang paling pahit, mereka menutup-nutupinya, mungkin untuk tidak membuat kami takut. Tapi ketika itu terjadi. Aku benar-benar tidak bisa apa-apa.”

“Namun setelah kami lulus, bergabung dengan guild, dan menjelajahi dungeon bukan sebagai ujian sekolah,ternyata Vheins mengajarkan kita fakta di lapangan, sebenar-benarnya Dungeon adalah tempat seperti itu. Orang yang tidak siap atau tidak beruntung saja, bisa hilang nyawanya disana.”

Krieet... Brugh!

Pintu terbuka, lalu tertutup dan Neil baru keluar dari ruang kepala sekolah.

“Bagaimana? Berhasil?” tanya Xiver.

“Belum! Tapi hampir, sedikit lagi.” kata Neil yang semangat kembali. “Kita besok datang lagi!”

“Hei! jenius brengsek!” kata Silvia. “Awal minggu depan, si Alzen ini ujian, mungkin kamu sebaiknya tidak usah ikut kami dulu Al.”

“Ohh begitukah, sayang sekali.” balas Neil. “Tapi tidak apa-apa serahkan saja pada kami.”

“Tak apa, sehari lagi saja,” balas Alzen dengan tersenyum.

“Nah mantap zen! Mantap!” Neil memuji-muji Alzen. “Oke teman-teman, ayo pulang, besok kita datang lagi.”

***

Hari berikutnya di kelas Fragor,

“Oke ini yang terakhir, di akhir pekan nanti, 2 hari tersisa untuk kalian instirahat atau berkenalan lebih dekat dengan anggota party kalian. Ini materi pengulangan yang terakhir.” Kazzel menjelaskan. “Di dalam dungeon tak pernah dimasuki seorang diri saja, pasti ada penjelajah lain juga. Di ujian nanti orang lain yang dimaksud adalah teman-teman seangkatan kalian sendiri.“

“Aku tak menganjurkan kalian saling melukai satu sama lain, namun di luar sana nanti, orang-orang di sekelilng kalian adalah orang-orang yang tak kenal kalian dan kalian juga tak mengenal mereka. Kecurangan, pengkhianatan, keserahakan, penjarahan sangat umum terjadi di dalam dungeon, karena hukum tak berlaku disana, jika tidak ada saksi mata, maka kejahatan apapun menjadi tak tersentuh hukum. Yang artinya musuh kalian bukan hanya monster, melainkan orang-orang di sekeliling kalian, bahkan termasuk party kalian.”

“...!!?” seketika kelas menjadi kaget.

“Aku tidak bilang kalian harus curiga dengan party yang kalian bentuk. Makanya party tidak dipilih lewat undi, tapi dari memlih sendiri, karena kenyataan di luar sana nanti juga seperti itu, kemampuan kalian bersosial dan menemukan orang-orang yang tepat dan bisa dipercaya sama pentingnya dengan kemampuan sihir kalian sendiri.” Kazzel menjelaskan. “Tapi karena masalah harta yang adalah hasil jararahan atau looting di dungeon tidak dibagi dengan rata atau karena keserakahan satu orang. Party yang solid sekalipun bisa saling bunuh di dalam sana. Aku tidak sedang menakut-nakuti kalian, tapi ini kenyataan yang terjadi.”  

“Jadi pesanku pada kalian adalah, percaya pada party kalian, tapi jangan percaya sepenuhnya hingga membuat kalian buta. Kita manusia, kapanpun bisa saja hatinya berubah dan sahabat yang kalian percaya sepenuhnya bisa saja menusuk kalian dari belakang karena berbagai macam hal.” kata Kazzel menjelaskan. “Kami tidak bisa mensimulasikan hal ini di kelas, kalian harus merasakannya langsung di dungeon yang sebenarnya dan inilah tujuan ujian ini.”

“Dan hari ini praktek yang kalian lakukan adalah pulang lebih awal dan berkumpul dengan party kalian di tempat yang kalian mau, kenali mereka, kenali wataknya, nilai mereka, percaya pada mereka tapi juga tetap berikan sedikit kecurigaan pada mereka. Berlatihlah bertahan diri dari serangan orang lain. Karena musuh kalian sekali lagi bukan hanya monster, tapi juga manusia.”

***

Malam harinya, hari terakhir Alzen dengan Neil untuk membujuk Vlaudenxius sekali lagi. Di pintu masuk ruang kerja Vlaudenxius.

“Wuih dia beneran datang lagi loh!?” kata Xiver yang melihat Alzen lari dari kejauhan.

“Keras kepalanya mirip si Neil.” komentar Silvia geleng-geleng kepala.

“Halo kakak-kakak, maaf aku terlambat. Hah... hah... Soalnya,”

“Sudah tak usah minta maaf. Hari ini Neil tidak datang juga kok.”

“Haa!? Tidak datang?” Alzen heran. “Terus gimana? Kalau begitu kita saja yang...”

“Sudah, sudah...” Xiver beranjak naik. “Kita lanjut ngobrol di cafe saja.” 

“Karena kemungkinan besar kamu akan datang.” sambung Silvia. “Jadinya kami tetap menunggumu disini.”

“Dan ternyata benar kau datang.” Xiver menepuk pundak Alzen. “Bagus sekali Alzen, itu baru namanya integritas. Aku suka dengan sikapmu.” 

“Kalau sudah bilang iya, ya harus iya.” Silvia tersenyum.

“...” Alzen tak tahu harus balas apa, ia merasa senang dipuji seperti itu.

“Oke, kita ke cafe mana? Kamu ada rekomendasi?”

“Ahh... biasa sih aku ke restoran di Twillight District.”

“Yah jangan disana. Itu mah tempat pas-pasan,” balas Xiver meremehkan. “Kuajak yang lebih mahalan dikit saja ya, gak papa... nanti Silvia yang bayarin.”

“Kok aku?” Silvia spontan keberatan. “Bagi rata dong.”

“Woah galak banget.” ledek Xiver. 

Kesal dengan sikapnya itu, Silvia langsung menginjak kaki Xiver.

“Aduh sakit!” teriak Xiver.

“Sudah yuk,” Silvia tersenyum lalu menarik tangan Alzen. “Alzen, kamu gak usah ikut bayar ya. Aku tahu kamu punya uang banyak dari hadiah turnamen, tapi kita-kita lulusan Vheins setelah lulus seringnya mendapat Guild yang membayar kami dengan gaji cukup besar. Sebandinglah dengan biaya sekolah disini.”

***

Di salah satu Cafe di Diamond District, Area komersial termewah di Vheins yang lokasinya dekat dengan Crystal District.

“Woah beneran nih kita makan disini?” Xiver terkagum-kagum dengan restoran mewah yang Silvia pilih.

“Ssst... kalau beli kebanyakan, makananmu bayar sendiri ya...” Silvia mengingatkan. 

“Ahh... kalian yakin disini? Apa tidak terlalu mahal?”

“Tenang saja Alzen, sekali-kali saja kok.” Silvia mengibas-ngibas tangannya dan ekspresinya terlihat mencari-cari alasan untuk tetap memilih tempat ini.

“Silahkan ini menunya.” Pelayan memberikan buku menu 

Dan sekali dibuka...

Mereka semua langsung terdiam dan menyesal berada disini.

“Apaan nih!? Roti secuil gini 2000 Rez!?”

*ingat 1 Rez = 100 Rupiah

“Hei... jangan malu-maluin bodoh...” muka Silvia memerah dan menginjak kaki Xiver lagi. “Teriak-teriak begitu nanti orang-orang pada lihatin.”

“Benar-benar harga yang tak masuk akal. Segelas minuman 500 Rez...”

“Kita ambil yang paketan saja ya... yang ini bagaimana.” tunjuk Silvia pada menu paket makanan lengkap untuk 5 orang dengan harga 38000 Rez.

“Yakin kamu?” Xiver lesu. “Itu hampir setengah gaji kita sebulan.”

“Ya... ya kan bagi dua... sudah ya pesan ini saja. Sekali-sekali ini.” Silvia dengan canggung membujuk Xiver.

“Harganya mahal-mahal banget, aku pesan air putih saja deh.” Balas Alzen dengan merinding.

“Sudah-sudah Alzen, kami sudah pesan paket untuk kita bertiga. Hah, haha...” Silvia tertawa canggung.

“Ya Tuhan, kenapa kamu memilih tempat ini sih.” Xiver menjeduk-jedukkan kepalanya ke meja.

“Sudah dipilih pesanannya?” tanya pelayan yang muncul tiba-tiba.

“HWAA !!?”

“HWAA !!?”

Xiver dan Silvia kaget bersamaan.

“Ihh iya, kita pesan paket ini.” tunjuk Silvia pada menu. “Lalu tambahannya ini, ini, ini.”

“Baik, mohon ditunggu ya...” pelayan itu pergi dari meja mereka.

“Kalau kemahalan, nanti aku ikut bantu bayar saja, kebetulan aku masih ada...”

“Ahh tidak usah, tidak usah.” balas Silvia dengan mengarahkan tangannya ke depan lalu menggoyang-goyangkannya untuk menolak tawaran Alzen. “Biar kami saja yang bayar.”

“Selagi menunggu kita bahas apa ya.” Xiver melihat-lihat sekitarnya. “Sudah mahal begini restorannya tapi tetap ramai. Heran...”

“Kak Neil kenapa tidak datang?” tanya Alzen segera.

“Entahlah, kita hubungi saja dia.” Silvia mengeluarkan cincin CC dari sakunya dan mengenakannya di jarinya, kemudian pikirannya terfokus pada Neil lalu auranya dialiri ke cincin itu hingga cincin itu mengeluarkan cahaya.

“Halo,”

“Hari ini kamu kenapa tidak datang? Alzen sudah disini loh.” tanya Silvia lewat cincin itu.

“Ohh maaf, maaf, aku sedang merangkai strategi baru.” kata Neil lewat suara di cincin itu. “Memang kita harus keras kepala, tapi kalau cara-caranya tidak kunjung berkembang, percuma saja kita datang terus tapi tetap mengulangi kesalahan yang sama.”

“Jadi saat ini kau di rumah?” tanya Silvia lagi.

“Iya, aku sedang sibuk memikirkan caranya. Kalau sudah final, aku akan bahas ini ke kalian.”

“Baiklah...” Silvia memutus aliran auranya pada cincin itu.

“Woah...” tanya Alzen. “Enak ya punya cincin itu.”

“Memang,” Xiver membalas. “Makanya si Neil habis-habisan membujuk pak Vlau demi ini.”

Silvia mencabut cincin itu dari jarinya. “Tapi tidak nyaman, cincinya berat di kristal. Kalau tidak fokus, orang yang kita ajak bicara jadi berbeda dari yang kita inginkan. Jadi hanya kupakai ketika perlu digunakan saja. Kalau rencana Neil berhasil dan hak riset benda ini dimiliki Marchestast, akan jadi seperti apa benda ini nantinya ya...”

“Pasti jadi sesuatu yang hebat, mungkin akan merubah dunia.”

“Hah? Merubah dunia, karena alat seperti ini.” Silvia meragukannya. “Aku tidak bisa membayangkannya.”

“Entahlah, aku juga sama. Tapi Neil sejak dulu selalu bisa melihat apa yang orang-orang tidak bisa lihat.” balas Xiver tersenyum. “Visinya tentang masa depan, melebihi orang-orang disekitarnya.”

“Kak Xiver, kak Silvia, kalian kok ngomongin Neil seperti sudah sangat kenal saja.”

“Ohh tentu saja, kita memang baru kenal sejak masuk universitas disini sih. Tapi intensitas kami bersama pada saat itu termasuk sangat tinggi.” jawab Silvia.

“Kalau angkatanmu penerima beasiswanya adalah kamu, Nicholas dan Leena kan?” tanya Xiver.

“Haa? Kalian tahu?” Alzen heran.

“Tentu saja, dan diangkatan kami, tahun 1899 adalah kami bertiga.” Silvia menjelaskan. “Neil peringkat satunya, aku kedua dan si ular ini ketiga.”

“Dan yang paling menyesakkan hati adalah, Neil yang kalau kata Silvia dipanggil genius brengsek, bukan tanpa alasan. Dia dari dulu memang santai sekali soal belajar, kalau ia mau ya dijalankan tapi jika tidak yasudah. Tak ada yang mampu memaksanya.”

“Si Neil ini juga seirng kali bolos. Tapi herannya nilainya lancar terus, berapapun nilai yang ia kehendaki baik atau buruk seringnya tercapai seperti apa yang mau. Kesal banget kan punya teman sekelas seperti itu.”

“Pfft, kadang aku kasih dia PR kemudian aku bayar. Dan dia tidak keberatan sama sekali. Tapi karena kami sebagian besar berasal dari keluarga berada, seharusnya dia tak butuh-butuh amat uang itu.” sambung Xiver.

“Loh, memang Vheins masih kasih PR ya?” tanya Alzen.

“2 tahun lalu masih,” jawab Silvia. “Baru angkatan tahun 1900 PR dihilangkan. Nyebelin ya, kita sudah lulus baru deh...”

“Haha aku ingat.” Xiver tertawa membayangkannya. “Neil itu juga orang yang terbebas dari persepsi orang lain. Meski sikapnya yang seenak sendiri begitu hingga dibenci beberapa guru. Dia tetap menjadi Neil, apapun yang ia minati ia akan menjadi yang terbaik, sedang yang tidak ia minati hampir bisa dibilang ia sengaja tidak menarget nilai tinggi-tinggi. Tapi kapanpun ia mau, ia bisa kapan saja menjadi nomor 1.”

Lalu sambung Silvia, “Penghinaan terbesar yang pernah dilakukannya adalah pada saat tes IQ, orang sejenius diri mendapat IQ 89. Huh!? Angka yang disengaja sekali. Aku lihat dia saat tes, ia menjawab asal-asalan, seolah-olah memilih lewat cap cip cup tanpa membaca soal. Saat mengerjakan tes itu, ia seolah mentertawai soal-soalnya.”

“Saat nilainya dibagikan, aku dapat 118,” sambung Xiver. “Dia ini 127. Kalau Neil sungguh-sungguh, sangat mungkin ia bisa dapat hingga 150 lebih. Tapi 89? Hah!? Siapa yang percaya angka itu. Para penguji mungkin akan memandangnya kurang pintar, tapi kami yang melihat dia setiap hari tak pernah mengganggap angka-angka yang diberikan mereka itu valid. Karena setelahnya, Neil selalu menjadi nomor 1 kembali saat ia mau.”

“Nomor 1 saat ia mau...” Alzen sulit mempercayainya.

“Yang paling menyebalkan dia pernah bilang begini.” balas Silvia. “Aku tak mau tahu IQku berapa, sama sekali aku tak ingin tahu. Angka-angka itu hanyalah angka, sedang kecerdasan manusia sejatinya akan terus bertambah tanpa ada batasnya. Jadi aku sengaja membiarkan diriku untuk tidak diukur dari angka tapi dari keyakinanku pada diriku sendiri. Rese banget gak jawaban begitu.”

“Neil sepenuhnya hanya tertarik pada hal-hal yang ia suka, yaitu inovasi teknologi baik dengan sihir maupun tidak, selama efeknya mampu membantu kehidupan orang banyak. Tanpa peduli pada apa kata orang, ia akan terus yakin sampai dirinya dibuktikan benar oleh waktu.”

“Tapi kalau berhubungan dengan hal yang ia tidak minati, wah dia orang yang berbeda.” balas Silvia. “Atau sengaja menjadi bodoh, karena kapanpun dia mau, dia bisa menjadi yang terbaik dalam waktu singkat.” 

“Bahkan Vheins dengan sistem pendidik yang baik pun, belum sanggup secara penuh untuk menangani orang seperti Neil.” kata Xiver. “Dia terbebas dari persepsi orang lain, Dia tak mempedulikan lingkungan sekitar dia yang dianggapnya negatif, dia hanya mementingkan apa yang ia suka, karena kebahagian baginya, adalah tentang melakukan apa yang kita lakukan tanpa memikirkan apa kata orang. Dia sering sekali bilang begitu."

“Wah sempurna sekali ya kak Neil itu?”

Selagi mereka bicara makananpun datang. 

“Maaf menunggu, ini dia pesanannya.” Pelayan itu membawakan sepanci besar makanan-makanan mewah untuk disantap beramai-ramai.

“Woah sudah datang! Mantap nih.” Xiver mengeluarkan air liurnya.

“Dari baunya saja sudah enak banget.” Sambung Silvia.

“Selamat makan kak Xiver, kak Silvia.” kata Alzen dengan tersenyum.

Kemudian mereka bertiga makan.

“Sempurna? Wah dia jauh dari kata sempurna.” Balas Silvia selagi makan-makanan di mulutnya. “Dalam bertarung ia lemah, ia lebih condong jadi seorang peneliti inovasi, dan Neil tahu kelemahan dan kelebihannya itu... Makanya sejak kecil yang dia inginkan adalah menemukan inovasi yang mampu mengubah dunia. Dia selalu cerita ini terang-terangan pada orang ramai seperti saat seminar. Tentu ada yang percaya padanya karena tahu ia genius, tapi ada juga yang tidak. Beberapa juga tak lepas dari komentar Hei lihat! Dia bertingkah lagi!"

“Hei Silvia, ngobrolnya tunda dulu.” tegur Xiver sambil dengan lahap makan apapun yang dilhatnya. “Makanan mahal begini harus dinikmati sepenuhnya, jangan malah ngobrol.”

“Benar sekali! Mari makan sepuasnya!” Silvia yang judes, kini menjadi sosok yang sangat rakus akan makanan. Mulutnya menggembung karena kepenuhan makanan.

Dalam waktu kurang dari 10 menit, mereka menghabiskan makanan porsi 5 orang dengan cepat.

“Wuaduh enak banget.” Xiver puas.

“Tapi jangan sering-sering, habis ini mesti bayar loh kita...” 

“Aku kenyang, terima kasih ya kak Xiver, kak Silvia.”

“Hah... sama-sama Alzen,” balas Silvia. “Duh kenapa kita malah berakhir di tempat mahal begini.”

“Kamu kan yang memilih tempat ini.” balas Xiver. “Aduh!” kakinya diinjak lagi.

***

Dengan ini, malam berakhir. Alzen beristirahat hingga akhir minggu ini dan pada awal minggu berikutnya ia sudah berdiri di depan sebuah dungeon tempat mereka akan menjalani test bersama ribuan pelajar lainnya.

Dungeonnya berupa sebuah reruntuhan kuil yang terlihat sudah lama sekali ditinggalkan, disana terdapat pintu masuk berupa lantai berlubang untuk memasuki lantai satu dungeon itu. Disanalah 1800an murid berkumpul untuk memasuki dungeon ini bersamaan. 

Berbekal pengetahuan penting dari beberapa minggu sebelumnya, mereka tetap harus khawatir dan waspada karena resiko kematian dalam sebuah dungeon tidak pernah mencapai 0%, selalu ada kemungkinan, besar atau kecil pada setiap orang yang menjejalahi dungeon, kehilangan nyawanya.

***