Episode 282 - Pantang Mundur



Petir bergemuruh dan kadang kala menimbulkan kilatan-kilatan yang menyajikan kelebat penerangan di langit malam. Air lautan bergejolak, bahkan tertarik masuk ke dalam pusaran. Wujudnya angin di malam hari adalah kasat mata, mirip dengan segitiga sama kaki yang mengalun-alun, dengan tinggi mencapai seratus meter. Wujud ini mirip dengan bilamana Aji Pamungkas merapal jurus Panah Asmara, Bentuk Ketiga: Cinta Bertepuk Sebelah Tangan. Meski, ukurannya berbeda sangat jauh. 

Pada permukaan tanah pulau yang sudah gundul, menyeruak guratan yang dalam di kala angin puting beliung melintasi. Sekujur tubuh Bintang Tenggara terasa dingin. Angin yang biasanya berhembus, kini mulai menarik tubuh. Berbekal jurus kesaktian unsur petir, anak remaja tersebut mulai berlari. Akan tetapi, ia bukanlah melarikan diri dari badai angin puting beliung yang sudah hadir di depan mata, melainkan berlari mengitari sesuai dengan arah pintalan angin. Tindakan ini diambil demi terus menjaga jarak dari pusat tarikan angin puting beliung. 

Beberapa jam berlalu, di mana angin puting beliung kini berada tepat di tengah pulau, dan terus berpintal deras ibarat seekor macan lapar yang tak hendak beranjak pergi sampai sasarannya habis dilahap. Tindakan yang dikerahkan si anak remaja nyatanya kurang memadai. Di saat berlari mengitar, Bintang Tenggara merasakan betapa tubuhnya lambat laun semakin ditarik mendekat. 

Upaya yang ia lakukan dengan berlari mengelilingi puting beliung, hanya sekedar mengulur waktu saja. Pada akhirnya nanti, tubuhnya pasti akan tertarik ke dalam pusaran. 

Jelang subuh, Bintang Tenggara hanya terpaut belasan langkah dari pusat pusaran puting beliung. Sempat terbersit di dalam benaknya untuk merapal formasi Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara, akan tetapi mengurungkan niat karena besarnya tenaga dalam yang akan tersedot habis. 

Tarikan angin puting beliung tetiba terasa keras menyentak-nyentak. Kehilangan pijakan kaki, tubuh Bintang Tenggara terangkat. Anak remaja itu pun segera menebar Segel Penempatan sebagai tahanan, lalu menendang fromasi segel tersebut sebagai upaya dalam melompat menjauh. Lagi-lagi tindakan yang ia lakukan sesungguhnya hanya mengulur ulur waktu saja. 

Sentak tarikan terus berlangsung dalam rentang waktu yang semakin pendek. Berkali-kali sudah Bintang Tenggara menebar Segel Penempatan. Akan tetapi, kini sudah tiada lagi memungkinkan karena jarak dirinya dengan pusat putaran puting beliung, hanya terpaut beberapa langkah sahaja. 

“Swush!” 

Sentakan datang demikian mendadak dan keras. Serta-merta tubuh Bintang Tenggara kembali terangkat. Bukan hanya terangkat, karena kini melayang cepat ke dalam pusaran angin puting beliung. 

Di saat hal ini terjadi, pada detik-detik akhir sebelum masuk ke dalam pusaran, anak remaja itu merasakan datangnya semacam panggilan dari dalam diri. Tanpa berpikir lagi, mengandalkan naluri sahaja, ia pun merapal...

“Segel Syailendra: Komodo!” 

Seekor komodo mini yang tersusun dari berbagai simbol mengemuka. Ia menyibak aura warna hijau layaknya tumbuhan siluman Akar Bahar Laksamana. Seperti biasanya, komodo tersebut menganga, kemudian menggigit kaki si anak remaja dan membawa tubuh si anak remaja jatuh ke permukaan tanah. 

Terombang-ambing di antara tarikan angin puting beliung dan gigitan komodo, tubuh Bintang Tenggara mirip dengan layang-layang yang sebentar lagi limbung. Pada saat itulah, kedua matanya menyaksikan sesuatu yang sangat mencengangkan, di mana keempat belah kaki pendek dan gempal komodo itu mencengkeram ke tanah. Bukan hanya itu, namun terlihat jelas bahwa tanah kemudian merambat dan membungkus ke kaki-kaki si komodo!

Unsur kesaktian tanah! batin Bintang Tenggara setengah tak percaya. Bagaimana mungkin Segel Syailendra yang ia wujudkan dapat memiliki unsur kesaktian tersendiri!? 

Andai saja Bintang Tenggara meneruskan pendidikan di Perguruan Svarnadwipa, maka ia akan mempelajari bahwa Segel Syailendra mengambil wujud berdasarkan kehendak yang dibayangkan oleh sang empunya. Serta, akan pula ia mengetahui bahwa bayangan tersebut tak terbatas pada bentuk fisik sahaja, melainkan juga kelebihan yang dimiliki. Sebagaimana diketahui, bahwa bayangan komodo ini mengacu kepada Komodo Nagaradja, sehingga oleh karenanya memiliki unsur kesaktian tanah pula!

Tak mengambil pusing akan rangkaian pertanyaan yang mencuat di dalam benak, Bintang Tenggara segera menjangkau kepala komodo, lalu sekuat tenaga menarik dirinya mendekat. Kini, anak remaja tersebut merayap di tubuh komodo itu. Ia memeluk tubuhnya komodo yang menambatkan diri ke tanah, sehingga tarikan angin puting beliung tak lagi terlalu berpengaruh. 

Akan tetapi, sepertinya angin puting beliung itu memiliki kehendak sendiri. Menyadari bahwa sasaran kemurkaan menambatkan diri ke tanah, angin puting beliung itu malah mendekat, layaknya mengejar. 

Di kala angin puting beliung mendekat, satu hal aneh lain terjadi. Di luar perkiraan Bintang Tenggara, tanah di sekitar si komodo mulai merangkai perlahan, dan semakin meninggi. Tak lama, tubuh si anak remaja dan binatang melata itu telah terbungkus oleh semacam kubah pelindung yang terbuat dari tanah nan mengeras selayaknya batu granit! 

Apa pun itu yang terjadi, Bintang Tenggara kini menghela napas lega. Meski udara terasa pengap di dalam ruang nan sempit, kekuatan puting beliung tak mampu merobohkan kubah tanah. Yang terdengar hanya bunyi gesekan-gesekan nyaring, namun tiada mampu berbuat banyak. 

Sang mentari telah mengangkasa di kala kubah tanah nan sekeras batu melunak, di mana seorang anak remaja yang sempat beristirahat sejenak, mencuat dari dalamnya. Dari permukaan pulau yang telah disapu rata oleh badai, air laut terlihat demikian tenang, dan langit terlihat cerah. Sebuah pemandangan nan lazim dialami setelah badai angin berlalu. 

“Swush!” 

Tetiba terdengar suara berdesing di kala angin diiris angin. Beberapa bilah angin mengincar deras, mengingatkan pada bilah angin yang biasa dilesatkan oleh Golok Mustika Pencuri Gesit milik Dewi Anjani. 

Baru hendak Bintang Tenggara melompat menghindar, tetiba sebuah pilar batu mencuat tinggi, membentengi tubuhnya dari bilah-bilah angin yang mengincar. Permukaan bilah batu teriris, namun tetap berdiri kokoh. Sontak Bintang Tenggara menoleh ke bawah, dan mendapati si komodo masih bersiaga, walaupun terlihat malas adanya. Menanti beberapa saat, akhirnya Bintang Tenggara mengucapkan terima kasih, lalu membatalkan formasi Segel Syailendra karena tenaga dalam terus tersedot bilamana sang komodo masih mengemuka. 

Walaupun demikian, sisa tenaga dalam sesungguhnya masih banyak, sekira 80% di dalam mustika di balik ulu hati. Sepanjang Akar Bahar Laksamana tak berulah dengan menyedot tenaga dalam, maka anak remaja tersebut merasa yakin bahwa dirinya dapat menyelesaikan rangkaian Murka Alam ini tanpa kendala berarti. Mudah saja bagi dirinya bertahan.

Belum sempat terlalu lama bersikap jumawa, tetiba tanah tempat berpijak bergetar keras. Mungkinkah gempa bumi!? Apakah Murka Alam selanjutnya berasal dari unsur tanah!? Akan tetapi, tak lama kemudia gempa mereda, yang kemudian menjurus kepada keanehan lain pula yang terjadi. Air laut terlihat menyurut cepat, ibarat sebuah lubang maha besar telah tercipta di suatu tempat di lautan dan air laut tertumpah ke dalamnya. Bahkan, sejauh mata memandang, Bintang Tenggara tak lagi menyaksikan keberadaan laut!

Tak hendak mengendorkan kesiagaan, Bintang Tenggara bersikap waspada. Tetiba menyaksikan kehadiran semacam tembok di kejauhan. Tembok tersebut terus bergerak mendekat, di saat yang bersamaan terlihat semakin meninggi dan terus meninggi.

Bintang Tenggara kini sepenuhnya menyadari bahwa kejadian air surut secara mendadak merupakan sebuah petanda buruk. Bukanlah tembok biasa yang bergerak ke arahnya, melainkan gelombang pasang tsunami! 

Murka Alam kedua, unsur air! 

Gelombang pasang terus merangsek, terlihat lambat, namun sesungguhnya bergulung mendekat dalam kecepatan tinggi. Menghadapi gelombang pasang sebesar ini, Bintang Tenggara ragu apakah dapat memanfaatkan si komodo... Bagaimana bila seluruh permukaan pulau terendam dalam jangka waktu lama...? Angin kesulitan menyapu tanah, namun air beda lagi ceritanya! 

Sepuluh meter, pikir Bintang Tenggara memperkirakan ketinggian gelombang pasang. Tidak.... Dua puluh meter, batinnya mengoreksi. Hanya di kala telah dekat, barulah dirinya menyadari betapa tingginya gelombang pasang tersebut! Di tengah pulau, Bintang Tenggara berdiri ibarat seekor semut yang menanti disapu oleh derasnya tumpahan seember air sumur! 

Sontak anak remaja tersebut melempar Segel Penempatan. Lima jumlahnya ibarat piring setengah kasat mata yang berjejer tinggi ke atas. Setiap satu berjarak sekira lima meter. Ia pun melenting-lenting tinggi, lagi-lagi berharap bahwa dapat bertahan, atau lebih tepatnya, menghindar dari Murka Alam kedua ini. 

Setelah sampai pada pijakan Segel Penempatan teratas, barulah Bintang Tenggara sadari bahwasanya gelombang pasang tersebut sesungguhnya jauh lebih tinggi dari perkiraan. Tak kurang dari empat puluh meter, atau dua kali lipat dari perkiraan awal. Dengan ketinggian seperti itu, bilamana terus melompat ke atas, maka dirinya akan sampai pada ketinggian yang sangat membahayakan. Walhasil, di hadapan tembok air nan menjulang tinggi di hadapan mata, Bintang Tenggara pun berteriak ibarat menantang...

“Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak!”

Super Murid Komodo Nagaradja menghadang gelombang pasang dengan menghantamkan gelompang kejut yang meledakkan tembok air demi menciptakan semacam celah pada permukaannya. Kemudian, menebar segel penempatan secara mendatar, Bintang Tenggara melompat maju dan melepaskan diri dari tembok gelombang pasang. Meskipun demikian, anak remaja itu tiada dapat bernapas lega karena gelombang pasang tersebut berbalik arah, meski lebih rendah dari sebelumnya, sehingga ia hanya perlu melompat ringan dalam menghindar. 

Kemudian, gelombang pasang kedua menyusul datang… ketiga… keempat… Seolah tiada habisnya, Bintang Tenggara terus-menerus melepaskan Tinju Super Sakti. Untunglah sedari awal ia hanya melepaskan lima tunju beruntun dalam satu paket jurus nan digdaya, sehingga tenaga dalam hanya terpakai sekira tiga puluh persen. 

Setelah kali kelima, gelombang pasang tsunami berhenti, dan pulau di bawah sana kembali terlihat. Usai menunggu beberapa saat, Bintang Tenggara pun memutuskan turun dari ketinggian. Permukaan pulau kini dipenuhi dengan lumpur tebal sampai ke batas lutut, sehingga ia terlihat kesulitan bergerak bebas. Kendatipun demikian, yang membuat anak remaja itu menjadi cemas, bukanlah karena lumpur nan tebal. Ia cemas akan jalinan air yang berwujud seperti tentakel gurita raksasa dan mengelilingi pulau! 

“Crash!” 

Satu tentakel air, dari delapan yang mengemuka, melecut dan menyambuk tubuh anak remaja itu. Dengan segenap daya upaya, Bintang Tenggara melompat mundur setelah mengimbuhkan tenaga dalam di kedua kaki. Jurus unsur kesaktian petir untuk sementara ini tiada dapat digunakan, karena secara alami luluh diserap lumpur nan tebal. 

“Crash!” 

Air berdecur berhampuran ketika dihadang oleh lengan yang dibungkus Sisik Raja Naga. Bintang Tenggara memutuskan untuk tak bergeming, karena memang kesulitan bergerak. Oleh karena itu, ia menghadapi setiap cambuk tentakel air dengan memanfaatkan kedua lengan. 

Hari jelang siang. Sebatang kara, si anak remaja terus menantang tentakel air yang datang menyambuk. Tak terbilang sudah berapa banyak ia membangkang. Depan, belakang, samping, secara bergiliran dan secara bersamaan, semuanya dihadang tak gentar. 

Bintang Tenggara menunjukkan semangat pantang mundur. Sekujur tubuhnya basah, yang disebabkan oleh decuran air laut nan bercampur peluh. Kendatipun demikian, tak terlihat setetes pun berkas keraguan dari sosot matanya. 



Catatan:

Dengan teramat menyesal, tugas keluar kota kembali mendera. Legenda Lamafa akan kembali hadir pada hari Senin, 19 November 2018.