Episode 281 - Keputusan Kerajaan Garang?



“Salam hormat, wahai Bupati Selatan Pulau Lima Dendam,” sapa seorang lelaki dewasa. Ia mengenakan pakaian khas serdadu, berambut pendek dan berdagu persegi. 

Perasaan tak menentu, tokoh yang satu ini menempuh segala daya upaya untuk menelusuri pembunuh seorang tokoh besar yang telah ia anggap sebagai seorang ayah. Akan tetapi, tak satu petunjuk pun yang mengemuka dan mengungkapkan misteri akan sang pembunuh. Petunjuk yang ia miliki saat ini, hanyalah waktu kematian dan unsur kesaktian racun yang dikerahkan untuk mencabut nyawa Jenderal Keempat dari Kerajaan Garang. 

Akan tetapi, menyadari akan sifat racun, maka waktu kematian tiada dapat dijadikan petunjuk yang sahih. Di antaranya sifat racun, ada yang dapat membunuh seketika, namun ada pula jenis racun yang membunuh secara perlahan dalam jangka waktu tertentu. Dalam kaitan itu, tabib istana pun tiada dapat mengetahui pasti sifat racun yang mana satu yang menyebabkan kematian Jenderal Keempat. Bahkan, tiada juga diketahui jenis unsur kesaktian racun tersebut menyerang melalui apa -- udara, air, makanan, darah, senjata... Sungguh teramat sulit sipercaya. 

Oleh karena itu, Kapten Sisinga memutuskan untuk menelusuri pesan terakhir yang disampaikan oleh mendiang Jenderal Keempat kepada dirinya seorang. Pesan ini bahkan masih ia rahasiakan dari Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II. Untuk sementara waktu, telah ia putuskan untuk menelusuri seorang diri maksud dan tujuan pesan tersebut. 

“Dikau adalah Kapten Sisinga, bukan...?” Lintang Tenggara menjawab santai.

Kapten Sisinga mengangguk cepat. “Benar, wahai Yang Terhormat Bupati Selatan Pulau Lima Dendam.”

“Tiada perlu bersikap resmi. Dikau adalah putra pertama dari Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II serta murid dari mendiang Jenderal Keempat. Kedua status ini sungguh menyilaukan...” Lintang Tenggara duduk di balik meja, sambil memegang selembar kertas laporan. “Silakan....”

Kapten Sisinga terlihat enggan menempati tempat duduk yang tersedia. 

Lintang Tenggara mencermati, lalu menghela napas panjang. “Diriku mengetahui alasan dikau datang berkunjung. Akan tetapi, sebelum itu, ceriterakanlah sedikit tentang Ogan Lemanta, sosok yang digadang-gadang sebagai calon pengganti Jenderal Keempat.”

“Tuan Ogan Lemanta merupakan mantan senopati di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, di mana sebuah fitnah keji menjerumuskan dirinya. Beliau adalah seorang lelaki setengah baya, yang berada pada Kasta Emas Tingkat 4 atau kemungkinan Tingkat 5. Meskipun pembawaan berwibawa, wajahnya menyiratkan kebengisan.”

“Oh...? Bengis...?” 

Lintang Tenggara meletakkan lembar laporan di atas meja. Ia mengetahui betul bahwa ciri-ciri yang disampaikan Kapten Sisinga bertolak belakang dengan ciri-ciri Senopati Ogan Lemanta, yang melarikan diri dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang akibat tertangkap basah oleh regu yang mana si bodoh ceroboh menjadi anggotanya. Kemudian, Senopati Ogan Lemanta yang ia ketahui dari laporan Kadatuan Kedua di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, merupakan seorang lelaki dewasa yang berada pada Kasta Perak. Sedangkan ciri-ciri yang disampaikan Kapten Sisinga, kecuali terkait kasta keahlian, lebih mirip dengan seorang Datu Tua dari Kadatuan Kesatu. 

“Apakah menurut Yang Terhormat Bupati Selatan, terdapat kaitan antara kematian mendiang Jenderal Keempat dengan Tuan Ogan Lemanta...?” Kapten Sisinga tak hendak berbasa-basi. 

Lintang Tenggara hanya diam, seolah sedang berpikir keras. Padahal, kemungkinan besar yang berkutat di dalam benaknya, adalah bagaimana cara memanfaatkan lawan biacaranya itu. Putra pertama dari penguasa Kerajaan Garang, tentu memiliki kelebihan tersendiri. Sayangnya, Kapten Sisinga tak terlalu bermanfaat bilamana dijadikan sebagai kelinci percobaan. 

“Apakah Ogan Lemanta itu merupakan mata-mata yang dikirimkan oleh Kemaharajaan Cahaya Gemilang...? Apakah Kemaharajaan Cahaya Gemilang hendak menyabot Kerajaan Garang...? Apakah Ogan Lemanta merupakan penyebab kematian mendiang Jenderal Keempat yang getol hendak menyerang Kemaharajaan Cahaya Gemilang...?” Lintang Tenggara berujar cepat, lalu berhenti sejenak. Ia kemudia melanjutkan, “Apakah pertanyaan-pertanyaan ini yang sedang berkutat di dalam benak Kapten Sisinga...?” 

Kapten Sisinga mengangguk cepat. Sepertinya ia telah merangkai kesimpulan sendiri. 

“Jika demkian, diriku tiada mengetahui jawaban yang dikau cari.” Lintang Tenggara berujar santai. “Yang kuketahui, bahwa ciri-ciri yang dikau ungkapkan terkait calon pengganti mendiang Jenderal Keempat itu sangatlah berbeda dengan sosok Ogan Lemanta yang asli.”

“Mendiang Jenderal Keempat berpesan bahwa bilamana terjadi sesuatu terhadap beliau, maka diriku dianjurkan untuk mendatangi Yang Terhormat Bupati Selatan Pulau Lima Dendam.”

Lintang Tenggara mengingat. Ia memang mengikat kesepakatan dengan mendiang Jenderal Keempat dari Kerajaan Garang. Isi kesepakatan tersebut, adalah mendiang Jenderal Keempat mengupayakan agar Kerajaan Garang mengalihkan rencana perang dari Pulau Dua Pongah kepada Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Sebagai imbalan, Lintang Tenggara akan memberitahu kelemahan serta membuka keran informasi terkait Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Sebagai salah satu langkah awal, Lintang Tenggara pun mengungkapkan tentang si bodoh ceroboh yang menjabat sebagai Yuvaraja, namun sedang menempuh perjalanan seorang diri. 

Akan tetapi, dengan kematian Jenderal Keempat, maka rencana yang telah disusun Lintang Tenggara pupus sudah. 

“Dikau, Kapten Sisinga...,” tetiba wajah Lintang Tenggara berubah serius. “Dikau hendaknya melanjutkan amanat mendiang Jenderal Keempat demia memastikan bahwa Kerajaan Garang tiada menyerang Pulau Dua Pongah.” 

Kapten Sisinga hanya terdiam. Bagaimana mungkin, dirinya yang hanya berpangkat sebagai seorang kapten, dapat mempengaruhi pengambilan keputusan di dalam Kerajaan Garang...? 

“Janganlah bimbang dan janganlah ragu...,” lanjut Lintang Tenggara. “Diriku telah memiliki sebuah rencana agar dikau dapat mengemban amanat mendiang Jenderal Keempat.”


===


“Jumlah serdadu dan prajurit di antara Kerajaan Garang dengan Kemaharajaan Cahaya Gemilang hampir berimbang. Akan tetapi, kekuatan tempur di antara kedua negeri terpaut jauh...”

“Terpaut jauh...?”

Suara-suara datang dari balik sebuah meja bundar dan besar terbentang. Pada permukaannya meja, digelar sebuah peta. Bukan hanya peta, namun topografi sebuah pulau, lengkap dengan bentangan alam: gunung, hutan, sungai; serta wilayah pemukiman: dusun, desa, kota kecil dan kota. Terlihat pula, barak tentara, benteng pertahanan, serta istana penguasa. Meja bundar dan besar itu terletak di pusat ruangan yang lebih besar lagi. Sebuah lukisan besar situasi peperangan tergantung perkasa di satu sisi dinding. Pada sisi-sisi lain dinding persegi enam itu, terlihat pula berbagai macam senjata dan perisai yang dipajang dengan tujuan menonjolkan fungsi ruangan.

Ruangan tempat meja bundar dan besar tersebut bercokol, tak lain merupakan Kamar Kendali Perang. Fungsinya adalah sebagai pusat kendali siasat. Para jenderal perang, wajib berkumpul dan berdiskusi di dalam ruangan ini.

“Berapa banyak jumlah ahli Kasta Emas di Kerajaan Garang...? Dengan jumlah Ahli Kasta Emas yang mendiami Perguruan Svarnadwipa saja sudah tertinggal. Ditambah dengan ahli-ahli Kasta Emas dari Sembilan Kadatuan, maka selisih jumlah ibarat bumi dan langit.”

“Tuan Ogan Lemanta, dikau terlalu meremehkan Kerajaan Garang...”

“Diriku tiada bermaksud sedemikian. Akan tetapi, apa yang diriku sampaikan adalah fakta. Selain ahli Kasta Emas yang tak terbilang, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa dan seorang perempuan tua dari Kadatuan Kesatu, berada pada Kasta Bumi.”

“Kasta Bumi!?”

“Rencana mendiang Jenderal Keempat terlalu muluk... Tanpa dukungan empat pulau lain di dalam Partai Iblis, maka kita bagaikan pungguk merindukan bulan,” sela seorang lelaki setengah baya. 

“Perdana Menteri, jaga kau punya mulut!” 

“Kehadiranmu di tempat ini tiada dibutuhkan. Segera engkau angkat kaki dari ruangan ini! 

“Jenderal Kedua dan Jenderal Ketiga, sungguh senang hati ini menyaksikan keakraban kalian.” Si Perdana Menteri menyunggingkan senyum. “Kehadiran diriku hari ini adalah untuk menjalankan titah Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II, yaitu mengantarkan Jenderal Keempat yang baru, Jenderal Ogan Lemanta!”

“Jadi, apakah masukan saran masukan dari Jenderal Keempat Ogan Lemanta,” Jenderal Kesatu menyela, mengabaikan si Perdana Menteri.

“Rencana mendiang Jenderal Keempat sebelumnya, adalah memancing Kemaharajaan Cahaya Gemilang melancarkan serangan terhadap Kerajaan Garang terlebih dahulu. Bila hal tersebut berlangsung, maka serta merta pulau-pulau lain akan bahu-membahu bersama kita.” 

Para jenderal yang hadir, tentu mengetahui akan rencana tersebut. 

“Khabarnya, telah diketahui keberadaan sang Yuvaraja yang sedang bepergian seorang diri, di mana Mendiang Jenderal Keempat berniat menculik tokoh tersebut sebagai pemicu serangan dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

“Langsung saja ke pokok permasalahan...” Kali ini Jenderal Ketiga yang angkat suara. 

“Dapat kupastikan bahwa mendiang Jenderal Keempat memperoleh informasi keliru. Tiada mungkin seorang Yuvaraja bepergian seorang diri. Bila pun benar, setidaknya tokoh sepenting itu akan dikawal oleh tiga ahli Kasta Emas. Satu dari kadatuan dari mana ia berasal, satu lagi utusan istana diraja, dan terakhir dari Perguruan Svarnadwipa,” Ogan Lemanta palsu menahan kata-katanya, memberi kesempatan bagi khalayak mencerna. 

Si Perdana Menteri, yang belum meninggalkan Kamar Kendali Perang, melipat lengan di depan dada. Ia mengangkat dagu. 

“Jadi, masukan yang dapat kusampaikan adalah kembali ke rencana awal, yaitu menaklukkan dan menyatukan kelima pulau di Partai Iblis di bawah panji-panji Kerajaan Garang.”

Sebelum para jenderal lain menanggapi, Ogan Lemanta palsu alias Balaputra Tarukma melanjutkan, “Dengan demikian, kita tak akan pernah menghadapi risiko penolakan dari pulau-pulau lain di saat perang. Baru di saat itulah, kita dapat mengimbangi bahkan mengungguli kekuatan tempur Kemaharajaan Cahaya Gemilang!”