Episode 76 - Party Decided



Krieeett... Brugh!

Alzen dan Neil keluar dari ruang kepala sekolah dan sejenak bersandar di balik pintu besar disana.

“Hah... susah ya, kita langsung mentah-mentah ditolak.” Alzen menundukkan kepala dan bersandar di pintu berdampingan dengan Neil di sebelah kirinya.

“Ayo! Ayo! Jangan menyerah!” Neil, menepuk-nepuk tangannya, untuk menyemangati dirinya sekaligus Alzen. “Ini baru pertama kali kan, sekali gagal, kita lakukan dua kali. Besok kita kesini lagi.”

“Kakak yakin?” balas Alzen menunduk dan bersandar. “Apa pak Vlau akan menerima kehadiran kita lagi besok?”

“Harus yakin!” tegas Neil sambil memegang dadanya dengan teguh. “Aku percaya pak Vlau orang yang sangat bijak, dia pasti mau menerima kita lagi, lagi dan lagi.”

“Dan jika tidak?” balas Alzen yang sudah tidak bersemangat.

“Harus dicoba sampai bisa.”

“Kalau besok ditolak lagi?” balas Alzen.

“Kita lakukan lagi, untuk ketiga kalinya.”

“Jika...” Alzen mau menyahut, tapi...

“Jika ditolak lagi,” potong Neil. “Kita lakukan empat kali. Empat kali belum bisa kita lakukan lima kali dan akan terus kita lakukan!” ucap Neil dengan nada yakin.

Alzen yang melihat kesungguhan Neil sampai sebegitunyapun ikut bangkit semangatnya, ia mengangguk kemudian tersenyum kembali. “Ya! Besok kita coba lagi.”

“Ya!” Neil membalasnya dengan nada mantap. “Sampai bisa!”

“Sampai bisa!” sahut Alzen kembali dengan semangat yang sama.

“Sampai bisa!”

“Sampai bisa!”

***

Hari berikutnya di kelas Fragor.

“Oke kita sudah belajar cukup banyak dari beberapa minggu terakhir.” kata Kazzel sambil membetulkan kacamatanya. “di minggu terakhir ini, kita sebaiknya menguji kembali apa yang telah kita pelajari. Ingat! Dungeon adalah tempat yang berbahaya, dan ketika lulus nanti kalian akan banyak berada di tempat seperti itu. Maka bersiaplah dari sekarang juga.”

“Pertama-tama kita ulangi materi reflek pertahanan.” instruksi Kazzel. “Semuanya fokus melihat tanganku, jika tanganku mengepal, kalian lepas pertahanan kalian dan tetap waspada, jika tanganku terbuka secapat mungkin kalian cast sihir pertahanan elemen petir. Ayo semuanya berdiri!”

“Wohoo! Asik-asik!” Fhonia berdiri dengan semangat sekali.

Iris disebelahnya terlihat gugup dan mencoba fokus.

Luiz berdiri dengan agak malas dan setengah terpaksa, geraknya seolah-olah ia sudah mengusai hal ini dan tak perlu usaha ekstra untuk mengulanginya lagi.

Dan Alzen memandang tangan Kazzel dengan tatapan fokus dan serius.

“Oke kita mulai!” sahut Kazzel dengan membuka tangannya dan seketika dari arah berbeda-beda sebuah bola-bola kecil element petir muncul seketika secara acak dan menghantam siapapun ada di dekat mereka.

Murid-murid yang siap akan dengan segera meng-cast sihir pertahanan berupa dinding api dan menyerap bola petir itu ke dalamnya.

Dan...

CRZZZSSTTT! CRZZZSSTTT! CRZZZSSTTT! 

Kelas Fragor seketika menjadi sangat ribut. 

“Woohh!? Mengagetkan saja, untung tepat waktu.” Iris mengelus dadanya dan jantungnya berdebar-debar.

“Hihi... ini baru seru!” Fhonia tersenyum sambil lompat-lompat.

“Aku harus konsentrasi.” Alzen fokus.

“Hah... yang begini sih masih gampang.” kata Luiz yang menggampangkan.

“Oke kita ulangi lagi, pengulangan adalah kuncinya. Kita ulang terus sampai kalian terbiasa. Oke siap?!”

“Siap!!” sahut seluruh murid Fragor serentak.

Dan tes ini dilakukan berulang-ulang sepanjang hari hingga para pelajar terbiasa dengan reflek pertahanan sewaktu-waktu ada musuh menyerang, kapanpun dari arah manapun.

Setiap kelas mengajarkan materi pertahanan yang serupa dengan pendekatan berbeda-beda.

***

Malam harinya kebanyakan pelajar mengaku lelah, tak terkecuali Alzen. Namun ia sudah punya janji dengan Neil dan sekali lagi mencoba bicara dengan Vlaudenxius. Kali ini dengan Xiver. Mereka bertiga bicara dan mencoba membuat Vlaudenxius mengerti.

“Yah gagal lagi.” kata Alzen yang lesu setelah menerima penonalakan yang sama.

“Baru dua kali,” tegas Neil. “Besok kita coba lagi.”

“Hah...” Xiver menghela nafas. “Neil memang tidak pernah menyerah.”

***

Keesokan harinya, dengan situasi yang agak berbeda. Seluruh kelas kini berkumpul di lapangan yang ramainya hingga 1800an murid.

“Hari ini kita uji kerjasama tim.” Kazzel menjelaskan pada barisan kelompok Fragor. “Kita sudah bahas ini sebelumnya, bahwa dungeon sebaiknya tidak dimasuki seorang diri, kalian perlu tim atau yang biasa disebut party jika kalian telah bekerja di luar sana nanti. Setiap party pada umumnya beranggotakan 5 orang dengan pembagian role yang ideal berupa DPS yang adalah penyerang, Tank yang adalah penahan dan Healer yang adalah penyembuh atau pendukung. Komposisi jumlah orangnya bisa diatur menyesuaikan kondisi.”

“Namun karena kelas di masing-masing elemen punya fokus yang sangat spesifik, maka dari itu kita tidak bisa mengharapkan seorang Healer dan tanker dari penyihir berelemen petir.” Kazzel menjelaskan. “Pada dasarnya kelas kita adalah DPS yang berfokus pada serangan critical, serangan mematikan yang mampu menembus pertahanan lawan. Sedang kelas lainnya punya fokus dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda.”

“Maka dari itu hari kalian dikumpulkan untuk membentuk party dan anggota yang kalian pilih akan menjadi party kalian di ujian nanti.” Kazzel menjelaskan. “Dan sekarang juga pilihlah teman satu tim kalian dengan bijak, sekarang!”

Kazzel menembakkan sihir elemen petir ke atas sebagai tanda dimulai. Dan pemilihan anggota dilakukan secara sosial dan tidak bersifat tim acak melalui undi. Dan karenanya orang-orang paling populer diturnamen akan mendapatkan anggota lebih dulu karena mereka dicari, bukan mencari.

Kelas Ignis diisi role mayoritas DPS, sedikit support dan tank yang buruk dan tak memiliki seorang healer.

Kelas Liquidum diisi role mayoritas Healer dan support, tapi tidak memiliki tank dan DPS yang sangat buruk untuk melawan monster secara umum.

Kelas Ventus diisi role mayoritas DPS dan Healer, support yang cukup banyak, namun tidak memiliki tank sama sekali.

Kelas Terra diisi role mayoritas Tanker dan DPS, sedikit support dan tak memiliki Healer sama sekali.

Kelas Fragor diisi role mayoritas DPS dan DPS dan DPS, sedikit support, tidak memiliki Healer dan tank yang mumpuni.

Sementara Kelas Stellar yang jauh lebih beragam, memiliki Role yang lebih sulit diukur dengan begitu banyak variasi elemen yang ada di dalamnya.

Kelas Stellar Lumen diisi role mayoritas DPS khususnya untuk melawan elemen kegelapan dan juga memiliki keunggulan pada role Support sekaligus Healer. Tank juga memungkinkan, tapi pada angkatan kali ini tak ada yang punya kemampuan seperti itu.

Kelas Stellar Umbra diisi role mayoritas DPS yang sangat mematikan, namun kurang efektik jika melawan elemen cahaya, memiliki tipe support yang bukan menguatkan kawan melainkan melemahkan lawan dan Healer dengan cara yang sangat menyakitkan. Hanya Nicholas seorang pada angkatan tahun ini yang punya kemampuan ini. Dan tidak ada tank.di kelas ini.

***

“Alzen ayo kita separty,” Chandra menghampiri Alzen. “Biar aku yang menjadi Healer.”

Alzen mengangguk dan percaya pada Chandra. “Tentu saja.”

“Aku denganmu, superstar nomor dua.” Fhonia langsung merangkul tangan Alzen kemudian memeluk lengan kanannya. “Mau ya...” pintanya dengan mata berbinar-binar.

“Baiklah.” Alzen menyanggupi.

“Yipee!”

“Alzen! Aku separty denganmu!” sahut Gunin dengan serius. “Terima aku menjadi anggotamu.” pintanya dengan hormat membungkuk.  

“Ahh tak usah sampai begitu.” Alzen canggung.

“Uhm, kita belum ada tank,” Fhonia seketika terpikir ide bagus dan langsung menarik Luiz yang tak jauh darinya untuk bergabung. “Kamu tankernya ya.”

“Haa?” Luiz heran. “Aku seorang DPS bodoh!”

“Oke sudah diputuskan.” Fhonia tersenyum polos.

“Alzen, dia tanknya. Dia kuat loh. Hihi!” Fhonia berbicara dengan gembira.

“Hah! Terserah kau saja,”

“Hahaha,” Alzen tertawa canggung. “Semuanya seenaknya saja.” katanya dalam hati.  

Party Alzen, beranggotakan Alzen sebagai DPS, Chandra sebagai Healer yang masih diragukan, Gunin sebagai DPS, Fhonia sebagai DPS dan Luiz sebagai tanker yang lagi-lagi diragukan.

***

“Sintra, ayo separty denganku.” Leena segera merangkul Sintra untuk bergabung. 

“Leena,” Sintra tak habis pikir akan diundang mantan rivalnya sebelum ia yang mengajukan dirinya sendiri. “Ya tentu saja!” katanya dengan teguh.

Dan kemudian orang-orang dari kelas lain datang untuk menghampiri serta bergabung dalam partynya.

Party Leena, beranggotakan Leena sebagai DPS, Sintra sebagai DPS, Cefhi sebagai Healer, Tank dari kelas Terra dan support dari kelas Ventus.

***

“Ki-kita trio-an lagi nih?” Sinus tak habis pikir.

“Ya mau bagaimana, kita tak kenal siapa-siapa lagi.” balas Velizar dengan datar.

“Huh?! Memangnya ada yang menerima kalian?” sambung Nicholas.

“Yo Nicholas!” Luxis menghampirinya. “Aku bergabung denganmu ya.”

“Terserah kau saja.” Nicholas tak mempedulikannya.

Party Nicholas beranggotakan Nicholas sebagai DPS, Velizar sebagai DPS, Sinus sebagai DPS, Luxis sebagai DPS sekaligus tanker melalui elemen es dan satu orang lagi dari kelas Stellar Umbra sebagai DPS sekaligus support. Tim ini melanggar komposisi party yang dianjurkan.

***

“Ahh aku separty sama siapa ya, Alzen sepertinya sudah penuh tuh.”

“Hei kenapa harus sama Alzen,” senggol Ranni. “Kamu bentuk saja party sendiri, aku mau gabung kok.”

“Ehh benarkah? Aku yang mimpin gitu?”

“Lio... aku gabung partymu ya...” Fia menyambutnya dengan senyum.

“A...aku juga,” kata Cefhi dengan gugup. “Aku tak kenal siapa-siapa lagi selain kamu Fia.”

“Dua healer?” Lio keberatan.

Ranni menginjak kaki. “Sudah terima saja.”

“Aa... aku gabung dengan kalian ya...”

“...” Ranni cuek tak menanggapi.

“Argh! Bagaimana? Aku dan Ranni itu DPS. Kita butuh tankernya Terra.”

“Biar aku saja, aku yang tank kalian.” Nirn mengajukan diri dengan tubuh gemuknya. 

“Hmm... apa karena badan gemukmu, kamu otomatis jadi tanker?” Lio menyipitkan mata dan mencurigai Nirn. “Kamu juga seorang DPS kan?”

“Tidak apa, aku bisa menjadi tanker.” Nirn memantapkan diri.

“Hihi, selamat datang di tim...Nirn.” Fia menyambut.

“Terima kasih telah menerimaku.” balas Nirn.

“...” namun sedari tadi, Ranni masih diam saja.

Party Lio, beranggotakan Lio sebagai DPS, Ranni sebagai DPS sekaligus Tank Fia sebagai Healer, Cefhi sebagai Support dan Nirn sebagai DPS sekaligus Tank.

***

“Kya! Kya! Kya! Sever!”

“Kami separty denganmu ya!”

“Kami separty denganmu pliss...”

Pinta wanita-wanita muda yang memohon untuk bergabung.

“Tenang, tenang Ladies. Satu dari masing-masing kelas bergabunglah denganku.” Balas Sever dengan elok dan anggun.

“Ohh dia ganteng banget.”

“Hatiku meleleh rasanya.”

Party Sever, beranggotakan dirinya sebagai DPS dan 4 orang anggota yang adalah wanita-wanita muda dari kelas Ignis sebagai DPS, kelas Liquidum sebagai Healer, kelas Terra sebagai tanker, kelas Fragor sebagai DPS yang adalah Iris.   

***

“Hmm? Kenapa tidak ada yang mau gabung denganku?” kata Joran yang dijauhi karena badannya yang sangat besar itu. Mungkin takut terinjak.

“Aku bergabung denganmu Joran.” kata Bartell.

“Kau saja? Terus siapa lagi?”

Party Joran, beranggotakan Joran sebagai tanker, Bartell sebagai tanker dan 3 DPS dari kelas Ignis, Ventus dan Fragor yang didapat dari undian bagi mereka yang partynya belum lengkap 5 orang.

Dan setelah mereka mendapatkan anggota partynya masing-masing, mereka diberi waktu untuk berkenalan dan menjalin keakraban untuk persiapan menjelajahi dungeon nanti hingga kelas hari ini usai.

***

Malam harinya Alzen dan Neil yang saat ini ditemani Silvia, sekali lagi masuk ke ruang kepala sekolah untuk membujuk Vlaudenxius sekali lagi.

Setelah mereka selesai bicara, lagi-lagi mereka keluar dengan kepala tertunduk dan perasaan kecewa.

“Lagi-lagi gagal.” kata Alzen kecewa.

“Baru tiga kali, besok kita datang lagi.” balas Neil. “Ayo kita pulang, besok kita kesini lagi.”

“Hah... baiklah...” kata Alzen menghela nafas.

Puk!

Silvia menepuk pundak Alzen dari belakang, “Jangan patah semangat dong,” katanya dari belakang Alzen. 

“Huh?” Alzen menoleh dan melihat Silvia.

“Neil ini memang orangnya begitu. Semakin lama kau mengenalnya, semakin dirimu dibuat kagum tapi sekaligus juga kesal dengan keegoisannya.” Silvia menjelaskan. “Ayo semangat! Besok kita kembali lagi dengan cara yang lain lagi.”

Alzen mengangguk dan tersenyum kembali. “Baik!”

***

Hari berikutnya di kelas Fragor.

“Baiklah! Aku sudah pernah menjelaskan ini sebelumnya,” kata Kazzel menjelaskan. “Tapi mungkin saja kalian banyak yang lupa, tapi ini juga sama pentingnya. Ini tentang pola, tentang gerak-gerakan pasti yang dimiliki setiap monster di dungeon.”

“Kita hari ini mendatangkan tamu,” kemudian Kazzel menoleh ke samping. “Silahkan masuk.”

Seorang wanita berambut ungu panjang, berpakaian penyihir berwarna hitam, dengan topi hitam dan corak-corak emas, ia masuk dan memperkenalkan diri di depan kelas, sambil membawa tongkat sihirnya yang tingginya hingga dua per tiga tinggi badannya.

“Salam kenal semuanya, aku Helena, sama seperti kalian dulu, aku juga pernah belajar di Vheins, belum seperti pak Kazzel, aku baru lulus tingkat 2 dan sekarang sedang bekerja dalam sebuah Guild besar di Fel, negara padang pasir itu.” 

“Dia seorang pengguna Aura tipe Summon, di kelas ini yang kutahu memiliki kemampuan itu adalah kamu,” tunjuk Kazzel. “Fhonia. Kamu memliki aura tipe itu.”

Fhonia senyum-senyum dan menjawab, “Yap!”

“Yang dikatakan pak Kazzel benar adanya, namun aku memiliki kemampuan summon yang sedikit berbeda dari orang kebanyakan.” kata Helena menjelaskan. “Rata-rata pengguna tipe summon hanya mampu mengeluarkan satu perwujudan yang menunjukan persona dirinya. Tapi dengan banyak belajar dan mendalami ilmunya. Kemampuan ini bisa dikembangkan lebih lagi. Aku salah satu yang mampu meng-summon berbagai jenis monster yang umum dtemui, monster-monster ini liar, tapi mereka semua hanya manifestasi dari Auraku, mereka akan lenyap atau kubangkitkan lagi sesuai kehendakku sebagai penggunanya. Jadi jangan segan-segan memusnahkannya, sekalipun mereka berbentuk seperti hewan.”

“Oke kita mulai saja ya, tidak perlu bersama party kalian, ini skill individu yang harus di miliki setiap orang yang akan menjelajahi dungeon. Jadi satu persatu dari kalian akan bergantian...”

“Aa, aa, tidak menarik jika seperti pak Kazzel, kita lakukan serentak saja.”

Tok!

Helena mengetuk tongkatnya ke lantai keras-keras, seketika lingkaran sihir muncul dan polanya berpusat pada tempat ia berpijak. 

“Summon : Blood Bat !!”

Krikl! Krikl! Krikl

Aura milik Helena dengan cepat keluar dari tubuhnya, melayang ke atas dan dalam gerakkannya ke atas Aura putih berbentuk bola cahaya itu bertransformasi dan terbang ke atas hingga menjadi kelewar besar yang terbang kesana, kemari mengelilingi kelas.

“Kyaa!” 

“Hwaa! Pergi! Pergi!”

“Waduh kelasnya seketika jadi kacau banget.” pikir Alzen dalam kekacauan.

“Wuahahaha ini seru! Seru!” kata Fhonia kegirangan. Yang tak lama kemudian salah satu kelewar itu hinggap di topi Fhonia dan mencoba mengggitnya, “Kyaa!!? Hush! Sana pergi! Pergi!”

Iris berkonsentrasi dan menyerang kelelawar manapun yang mendekatinya.

Luiz dengan pedangnya menebas kelelawar yang mendekatinya dengan mudah.

“Duh! Seharusnya tidak seperti ini.” kata Kazzel dalam hati. 

“Perhatikan! Perhatikan polanya!” sahut Kazzel. “Mereka bergerak dengan pola, pola yang pasti, perhatikan, hafalkan dan analisa timing serangannya, dan kalian tidak akan kena serang.”

Kelas Fragor bukan satu-satunya kelas yang mengalami ini, semua kelas akan mengalami hal yang sama dengan berbagai summoner dan monster yang berbeda. Namun karena kemampuan seperti ini jarang, maka Helena akan secara bergantian datang ke kelas mensummon monster yang berbeda-beda di setiap kelas nantinya.

***