Episode 58 - Pernikahan Sepasang Pendekar


Catatan: Khusus untuk episode ini mengandung unsur 18+. Penulis mohon maaf apabila ada yang kurang nyaman untuk para pembaca :D



Nyai Lakbok menghela nafas panjang, wajahnya nampak muram sekali. “Satu kesalahanmu sebagai seorang istri, kamu biarkan suamimu bertindak seenaknya sendiri, kamu biarkan dia terus merasa ketakutan akan kehilangan segalanya sehingga ia menjadi semakin tamak, buas dan bertindak seperti orang gila, kamu terus tanamkan dendam dan kebencian dalam dirinya hingga ia menjadi gila! Bahkan kamu biarkan ia menggali lobang kuburannya sendiri ketika ia bernafsu untuk menantang Kakakmu sendiri yang secara sah adalah calon pewaris tahta peninggalan ayahmu! Ia kualat, karena hendak membunuh Kakak iparnya sendiri yang lebih berhak menjadi Raja Mega Mendung! Akhirnya kebahagiaan yang sudah ada di didepan rumahmu sirna!”

Mega Sari menelan ludahnya, ia memejamkan matanya, ia teringat pada caranya untuk menguasai Dharmadipa, ia sangat ingin suaminya tunduk bertekuk lutut dihadapannya sehingga sering memprovokasinya, menakut-nakuti kalau suaminya akan kehilangan dirinya.

Ia juga membiarkan suaminya bertindak melewati batas, bertindak semaunya membunuh dan menyiksa orang-orang yang tidak bersalah hingga api dendam mulai berkobar kepada dirinya dan suaminya, ia memanfaatkan sifat pemarah dan pendendam Dharmadipa untuk menghilangkan siapa saja yang tidak ia sukai, hingga akhirnya Dharmadipa menjadi gila dan diluar kendalinya ketika ia takut akan kehilangan gelar putra mahkota selaku calon penerus tahta Mega Mendung dan berniat untuk membunuh kakak iparnya sendiri, Jaya Laksana. “Saya mengaku salah guru...” desahnya.

“Kamu terlalu serakah Mega Sari, Kamu tidak sanggup memanggul takdir... Kamu ingin menghidupkan kembali suamimu, kau pikir bisa?!” semprot Nyai Lakbok.

“Guru mohon maklumi keadaan saya, saya begitu menderita setelah kehilangan segalanya, hidup saya terlunta-lunta dan senantiasa terancam bahaya, selama perjalanan kemari kami selalu dirundung oleh maut, bahkan semalam guru menyaksikannya sendiri, saya tidak tahu akan bagaimana nasib saya kalau tidak ditolong oleh Guru, saya pasti akan selalu menderita selama sisa hidup saya padahal saat ini saya tengah mengandung anak kedua dari Kakang Dharmadipa... 

Saya mohon karena satu-satunya cara untuk mengakhiri penderitaan saya adalah dengan menghancurkan negeri Mega Mendung! Saya harus melakukan pembalasan pada orang-orang Mega Mendung yang telah merebut kekuasaan Ayahnda Prabu dari trah Prabu Kertapati. Saya yakin Guru bisa menghidupkan kembali Kakang Dharmadipa dengan melakukan perjanjian Wasiat Iblis...”

“Guoblog! Sudah berapa kali aku katakan kalau melakukan perjanjian Wasiat Iblis sangat sulit dan mahal harganya! Bukan Cuma kamu yang jadi taruhannya, tapi diriku juga sebagai perantara perjanjian Wasiat Iblis!” tegur Nyai Lakbok dengan marah.

Si Nenek lalu menghela nafas lagi, “Mega Sari ingatlah, aku dan kamu sama saja, manusia biasa! Kita tidak seperti Sang Hyang yang menguasai seluruh alam ini!” 

Nyai Lakbok berhenti sebentar, ia mengelus perut muridnya, nada bicaranya melemah. “Dan ingatlah bayi dalam kandunganmu muridku, bagaimana kalau ia yang tak berdosa dan tak tahu apa-apa harus ikut menanggung perbuatanmu?”

Mega Sari menghela nafas panjang, ia menatap Berhala Iblis dihadapannya. “Saya sudah mantap guru, saya yakin dengan segala ilmu kesaktian Guru, Guru akan sanggup menjadi perantara perjanjian Wasiat Iblis untuk menghidupkan kembali Kakang Dharmadipa... Apapun bisa guru lakukan!”

Nyai Lakbok mendelik marah, “Kecuali bisa menghidupkan orang mati! Perjanjian Wasiat Iblis hanya berlaku bagi mahluk yang masih hidup! Hidup matinya seseorang adalah hak sang Maha Pencipta! Bukannya manusia seperti aku!”

Mega Sari menundukan wajahnya, nampak jelas kekecewaan dan kesedihan yang teramat sangat di wajahnya, Nyai Lakbok menggaruk-garuk kepalanya menghadapi muridnya yang keras hati dan keras kepala ini. “Mega Sari... Dulu aku gembira sekali ketika kamu meneluh Prabu Karmasura, dengan halus sekali... Kamu satu-satunya muridku yang paling berbakat untuk mewarisi semua ilmuku, nah kamu bisa pergunakan ilmu teluh Ngareh Jiwa untuk mempertahankan dirimu maupun menyerang musuhmu, ilmu itu sudah cukup, kau tidak usah melakukan Perjanjian Wasiat Iblis untuk menghidupkan suamimu segala macam!”

Mega Sari menatap berhala Betari Iblis dengan sayu lalu menatap mayat suaminya, “Dulu guru pernah bercerita kalau ada satu orang yang melakukan perjanjian Wasiat Iblis untuk menghidupkan kembali orang mati…”

Mata Nyai Lakbok terbelalak mendengarnya, “Itu perjanjian yang paling jahat! Itu bagian dari perjanjian yang sangat diajuhi oleh dukun-dukun teluh, bahkan dukun-dukun teluh yang hidup di masa lalupun sangat jarang yang berani memakainya! Karena perjanjian itu sangat bertentangan dengan takdir Sang Maha Pencipta dari semua kepercayaan yang ada di muka bumi ini!”

Mega Sari memelas dengan wajah yang amat sendu, “Saya mohon Guru mau menunjukan perjanjiannya pada saya, kalau tidak lebih baik saya mati, saya akan bunuh diri saat ini juga untuk menyusul Kakang Dharmadipa dan kedua orang tua saya!”

Nyai Lakbok terdiam, ia berpikir keras, nampaknya ia tidak sanggup untuk menghadapi sifat keras hati dan keras kepala muridnya, “Dengan perjanjian Wasiat Iblis kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan, tapi perjanjian itu akan sangat membahayakan dirimu sendiri! Karena yang membantumu bukan aku atau manusia lainnya, tapi Jin yang sangat jahat yang tidak akan bisa dikendalikan oleh siapapun! Hidupnya sudah ribuan tahun, dia tidak akan bisa mati sampai akhir zaman nanti, ia akan meminta banyak sekali nyawa untuk tumbalnya, dan mungkin pada akhirnya ia akan meminta nyawamu sendiri! Kamu sanggup?”

Tanpa berpikir panjang Mega Sari menngangguk mantap, “Ya saya sanggup!”

 Nyai Lakbok masih menyangsikan kesanggupan Mega Sari karena ia menjawab tanpa berpikir, “Jawab yang jujur! Kamu sanggup? Kamu ingin menghidupkan Dharmadipa hanya untuk membalas dendam kan?”

Lagi-lagi tanpa berpikir panjang dengan hanya didorong oleh nafsu kebencian dan dendam Mega Sari mengangguk mantap. “Ya saya sanggup!”

Nyai Lakbok mengeleng-gelengkan kepalanya, desahan nafasnya terdengar berat sekali. “Perjanjian ini sangat jahat Mega Sari! Sebab ia sengaja diciptakan oleh Raja Iblis untuk menggoyahkan iman manusia pada penciptanya, ia berharap manusia akan berani melawan takdir dari sang pencipta! Untuk itu kau harus mengadakan perjanjian Wasiat Iblis dengan Jin tersebut yang akan meminta banyak sekali tumbal, yang mungkin kelak tumbalnya adalah dirimu sendiri!”

Mega Sari mengangguk lagi dengan mantap. “Saya akan terima semua akibat dari perjanjian Wasiat Iblis ini!”

Nyai Lakbok lalu memegang pundak Mega Sari dan menatapnya dengan tajam, “Ingatlah, sekali kau lakukan perjanjian Wasiat Iblis ini kau tidak akan bisa mundur lagi, kalau nanti terjadi segala sesuatu kau tidak akan bisa berbuat apa-apa!” Sekali lagi, Mega Sari mengangguk mantap.

“Baiklah...” ucap Nyai Lakbok dengan lemas yang akhirnya mengabulkan permohonan Mega Sari.

“Ketahuilah, perjanjian kali ini berbeda seperti perjanjian yang pernah dilakukan ayahmu dulu dengan Kakang Topeng Setan, perjanjian Wasiat Iblis kali ini tidak memerlukan perantara yang artinya aku tidak akan menjadi perantara antara kamu dan Jin ini, kamu sendirilah yang melakukan perjanjian ini dengan Jin itu!”

Mega Sari mengangguk “Saya paham Guru!”

“Jin itu akan merasuki mayat suamimu sehingga seolah-olah suamimu hidup kembali, ia akan mengendalikan tubuh suamimu semau dia! Jin itu bernama Bagaspati, ia adalah Jin yang dulu menguasai seluruh wilayah Gunung Gede sebelum diusir oleh mendiang Prabu Niskala Wastukencana untuk kemudian mendirikan negeri Mega Mendung yang dipimpin oleh salah satu putranya Pangeran Wangsareja, jadi jin ini mempunyai dendam pada Negeri Mega Mendung!”

Nyai Lakbok lalu menatap mayat Dharmadipa, ia memejamkan matanya sejenak. “Kita akan lakukan perjanjian Wasiat Iblis ini pada malam purnama keempat bulan depan tepat saat hari kelahiran suamimu, Jin ini hanya bisa masuk pada tubuh Dharmadipa pada saat hari kelahirannya!”

“Baik Guru” sahut Mega Sari.

“Kamu harus bisa menjalani segala tata cara untuk bisa melakukan upacara sendiri pembangkitan suamimu... Mulai besok kau harus berpuasa dan melakukan tapa brata sampai hari saat pembangkitan suamimu, dan karena ini upacara besar, maka kita memerlukan banyak sesajen, suruh pada abdimu untuk membawakan jantung juga darah bayi laki-laki yang berusia tujuh hari, jabang bayi dari wanita sedang hamil tujuh bulan, serta darah dan hati dari seorang gadis yang masih perawan, kembang tujuh rupa, air dari mata air yang suci belum terkena kotoran, juga perlengkapan sajen lainnya...”


Nyai Lakbok lalu mengambil sesuatu dari bagian bawah Berhala Iblis. “Lalu kamu taburkan serbuk sihir yang terbuat dari tulang manusia ini, dan baca mantera yang bukunya akan aku berikan malam nanti, Setelah jasad suamimu hidup kembali kamu ikatkan selendang Pati Sukma ini ke pinggangnya, juga ikatkan benang tirta sukma ini pada jempol kaki kanan suamimu, supaya kehidupan yang telah masuk tidak akan keluar lagi! Lakukan semua itu di Puncak Gunung Gede!”

***

Tidak seperti biasanya, hari itu suasana di padepokan Sirna Raga yang terletak di Bukit Tagok Ppu nampak sangat meriah, dua janur kuning melengkung di gerbang padepokan, semua santri dan santriwati di sana mengenakan pakaian yang bagus atau yang terbaik yang mereka miliki, irama dari music gamelan yang membawakan musik khas Parahyangan nampak menggema ke seantero Bukit Tagok Apu.

Hal ini dikarenakan hari itu telah berlangsung pernikahan antara Jaya Laksana dan Galuh Parwati yang dilaksanakan secara sederhana di sana dari pagi hari saat Akad atau Ijab Kabul sampai resepsi pernikahan yang berlangsung dari siang sampai malam, Jaya dan Galuh menolak tawaran untuk melangsungkan resepsi di keraton Mega Mendung maupun di Surasowan Banten karena merasa lebih cocok dilaksanakan di Padepokan tempat Jaya disebsarkan dengan kesan yang sangat sederhana.

Banyak tokoh-tokoh silat dari golongan putih yang hadir, banyak juga ulama-ulama dari Pasundan dan Jawa yang merupakan sahabat-sahabat Kyai Pamenang hadir, hadir pula para pembesar Mega Mendung dan Banten termasuk Sultan Banten dan Prabu Mega Mendung, sayang Kyai Supit Pramana tidak hadir karena pada saat Jaya ke Tangkuban Perahu untuk menyampaikan undangannya, beliau tidak ada di rumahnya.

Setelah acara selesai dan para tamu banyak pulang, tinggalah beberapa tokoh dari Mega Mendung dan Banten serta Kyai Pamenang dan Dewa Pengemis yang mengobrol dan memberi berbagai petuah pada Jaya, terakhir Sultan Banten pun memberikan nama gelar kehormatan pada Jaya “Tubagus” dan memberikan jabatan “Tumenggung” di kesultanan Banten, Jaya pun menjura hormat mengucapkan terimakasih atas pemberian Sultan Banten tersebut.

“Lalu rencananya kapan kau akan pergi ke Surosowan Jaya?” Tanya Sultan Banten.

“Saya akan pergi tujuh hari lagi Gusti.” jawab Jaya.

“Bagus, dan seperti biasa Tumenggung Braja Paksi akan menunggumu, ia dan 12 prajurit pilihan akan ikut kembali ke Surosowan bersamamu tiga hari lagi.” Jaya yang merasa sudah tidak punya “kemerdekaan” ini pun menjura hormat.

“Dan satu lagi...” Sultan Banten tidak langsung meneruskan ucapannya, ia melirik sebentar pada Prabu Arya Bogaseta, “Soal Mega Sari adikmu itu... Aku tidak keberatan kalau ia tinggal di Banten, kami akan memberinya suaka sehingga keamannya terjamin, ia aman hidup di Banten kalau merasa tidak aman berada di wilayah Mega Mendung karena ia tidak memiliki kesalahan apa-apa pada Banten”

Prabu Arya Bogaseta merasa tidak nyaman dengan ucapan Sultan Banten tersebut, sementara Jaya memberinya hormat lagi, “Terimakasih atas anugerah Gusti Sultan, kalau saya bertemu dengannya, saya akan menyampaikan hal ini padanya dan mengajaknya untuk tinggal di Banten.”

Sementara itu di kamar pengantin, Galuh Parwati menunggu suaminya dengan jantung berdebar sambil berbaring dan terus menatap pintu kamar. Gadis ini keluarkan keringat dingin ketika terus dilanda ketegangan menunggu suaminya masuk kedalam kamarnya, belum pernah ia setegang ini dalam hidupnya untuk menghadapi kehidupan berdua bersama suaminya mulai saat ini.

Ia juga sangat tegang menanti apa yang akan dilakukan oleh suaminya saat ia masuk kedalam kamar, tapi disisi lain ia pun merasa sangat senang dan bahagia, ia merasa lega karena akhirnya apa yang ia nanti-nantikan, apa yang ia cita-citakan telah ia raih.

Karena suaminya tak kunjung datang ia semakin gelisah, ia lalu berjalan mondar-mandir mengelilingi kamarnya, berkali-kali ia bercermin menatap wajah dan seluruh lekuk tubuhnya, ia juga berkali-kali menciumi tubuhnya sendiri. “Sempurna, kali ini badanku wangi dan tidak bau lagi berkat mandi dengan air ramuan Nyai Mantili, aku juga sangat bersih sekarang, Jaya pasti akan sangat suka padaku!” gumamnya sambil tertawa sendiri.

Ya kali ini penampilan Galuh jauh berbeda dengan saat ia biasa mengembara dulu, kalau dulu ia berpakaian bak seorang pengemis dan selalu kotor juga bau tubuhnya amat menyengat karena ajian yang ia miliki, sekarang ia tampil bersih dan wangi, seolah menambah kecantikan wanita berkulit hitam manis ini.

Saat itu ia mendengar seseorang memegang gagang pintu dari luar hendak membuka pintu, ia buru-buru melompat keatas tempat tidurnya dan berbaring dengan posisi dan memasang senyum yang “menantang”, tapi ia harus kecewa bahkan merasa heran ketika melihat Jaya masuk dengan ekspresi wajah yang sangat sedih, Jaya mengunci pintu kamarnya lalu duduk di kursi dekat kasurnya sambil menghela nafas berat sekali.

“Lho kamu kenapa Kakang?” Tanya Galuh keheranan tapi juga merasa kecewa bercampur rasa takut karena melihat ekspresi wajah Jaya yang sangat sedih itu, ia takut kalau Jaya tidak menginginkan pernikahan ini dan menyesal telah menikah dengan dirinya. Jaya memaksakan diri tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “Aku tidak apa-apa Galuh...”

Mata Galuh menyipit menatap wajah suaminya dengan penuh selidik, “Kakang ingatlah, sekarang kita sudah resmi menikah, sekarang aku adalah istrimu, sebagai istrimu aku berhak tahu apa yang sedang kau pikirkan!”

Jaya tercengang sebentar menatap wajah istrinya itu, apa yang dikatakan oleh istrinya memang benar adanya. Galuh pun terus menatap wajah suaminya itu, tiba-tiba Jaya menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Galuh, pria yang sangat ternama akan kesaktiannya di rimba persilatan ini tiba-tiba menangis di pangkuan istrinya, Galuh pun terkejut “Kamu kenapa Kakang? Atau jangan-jangan terjadi sesuatu pada Mega Sari?”

“Aku merasa sangat tidak berdaya Galuh, aku merasa telah menjadi seorang tawanan! Bahkan untuk sekedar berbicara apa yang ada didalam hati dan pikiranku saja tidak bisa! Dan... Dan aku benar-benar merasa terpuruk, jatuh terperosok pada jurang yang teramat dalam ketika aku harus memanggil orang yang telah merebut hakku dan merampas kemerdekaanku dengan sebutan... Gusti Sultan...” rintih Jaya dengan pilu, ia benar-benar merasa menjadi orang yang kalah, kalah segalanya!

Galuh amat prihatin mendengar keluh kesah Jaya, air matanya ikut menetes ketika ia bisa ikut merasakan bagaimana ambruknya mental Jaya saat ini, ketika ia harus mengabdi kepada musuh ayahnya, ketika ia dirampas haknya oleh musuh ayahnya, ketika kini ia menjadi seorang “Tawanan” yang tidak bebas berbiacara atau melakukan apapun seperti dulu lagi, tapi Galuh buru-buru menyusut air matanya, sebab ia tahu kalau ia ikut menangis bersedih seperti suaminya, bagaimana ia bisa menyemangati dan mendukung suaminya?

Galuh lalu mengelus-elus pundak Jaya, “Kakang, sejujurnya aku tidak tahu harus berkata apa padamu, tapi... Aku hanya ingin kamu ingat bahwa aku adalah istrimu, aku akan selalu berada disampingmu, menjagamu, mendampingimu, dan mendukungmu! Aku akan selalu mengikutimu setiap langkahmu ke manapun kamu pergi, kita akan arungi samudera kehidupan ini bersama, maka aku akan memastikan kamu tidak jatuh tenggelam dari atas bahtera kehidupan kita... Percayalah, dukamu, dukaku, dukaku, dukamu juga, senangmu, senangku, senangku senangmu juga, semuanya kita lalu bersama!”

Jaya mengangkat kepalanya, ia menatap mata Galuh, Galuh tersenyum tulus pada suaminya itu. “Galuh... Terima kasih” desah Jaya.

“Percayalah padaku... Bukankah kita sekarang sudah menjadi satu dalam ikatan perkawinan yang sah? Bukankah kita sepasang suami istri? Selain itu aku juga punya satu janji pada mendiang Ayahmu…”

Saat itu tiba-tiba hidung Jaya mencium wangi kembang setaman bersama semilir angin sejuk yang bertiup lembut entah dari mana, semilir angin sejuk nan wangi yang amat menyejukan dan menentramkan jiawanya. Ia membiarkan tubuhnya melayang-layang terbawa suasana.

Wangi apa gerangan yang terbawa angin sejuk yang seolah ghaib karena tiba-tiba melenakan diri sang pendekar tersebut? Siapa gerangan pemilik wangi kembang setaman yang menyeruak bersama angin sejuk tersebut? Jaya Laksana mengusap wajahnya. Ia seolah baru sadar baha dalam kehidupannya kini ada perempuan cantik yang gagah perkasa serta sakti mandraguna namun telah menyerahkan hidupnya untuk mendampingi Cucu dari Sri Jaya Dewata itu seumur hidupnya.

Jaya Laksana mengerjapkan matanya dan menajamkan indra penciumannya. Aroma wangi kembang setaman tersebut tak lain dan tak bukan adalah berasal dari sekujur tubuh istrinya! Ia tercengang, wangi kembang setaman yang menggodanya habis-habisan tersebut amat berbeda dengan aroma tubuh Galuh Parwati sebelum mereka menikah, aroma yang sangat ia kenali dan menjadi salah satu ciri identitas dari Galuh semasa mereka mengembara bersama dahulu! Dengan tatapan mata terkagum-kagum, ia memperhatikan sekujur tubuh istrinya yang sedang berbaring dengan posisi yang menantang tersebut, senyum manis di wajahnya nampak sangat menggoda sekali.

Bukan hanya Jaya, Galuh Parwati pun tercekat ketika melihat cara suami barunya tersebut menatap dirinya, tapi dasar memang wanita pemberani yang ceplas-ceplos, ia malah semakin menggoda Jaya dengan gerak tubuhnya dan berucap, “Ada apa? Kenapa Kakang menatapku begitu rupa?”

Jaya tersenyum, ia balik menggoda istri yang baru tadi siang ia nikahi tersebut. “Mendekatlah istriku, bawa serta harum tubuhmu itu!”

Galuh tersenyum senang mendengar pujian sekaligus godaan dari suaminya tersebut, dengan nada manja ia menjawab sembari tersenyum manis menggoda. “Kakang yakin kalau sekarang ini aku istrimu?”

Perlahan tapi pasti degup jantung pria ini semakin kencang. Jaya terdiam, ia merasa ada satu kekuatan dahsyat yang merasuki dirinya setelah mendengar kata-kata istrinya dan melihat senyum istrinya itu, lama ia pandangi wajah istrinya yang tersenyum padanya, “Ah cantik sekali wanita yang kini menjadi istriku ini! Senyumnya manis sekali!” bathin Jaya.

Jaya mengangguk seraya melempar senyuman manisnya, “Tentu saja aku yakin! Dan satu-satunya sumber wangi kembang setaman ini berasal dari istriku…” Tiba-tiba Jaya bangun dan mendorong tubuh Galuh hingga wanita itu jatuh terjengkang diatas tempat tidurnya.

“Hei kenapa kamu?!” protes Galuh yang tiba-tiba tubuhnya didorong oleh Jaya, tapi ia jadi terdiam ketika Jaya menatapnya dari jarak yang sangat dekat.

“Galuh terima kasih... Aku tidak tahu bagaimana aku sekarang kalau tidak ada kamu...” ucap Jaya pelan.

“Iya terimakasih sih terima kasih, tapi jangan mendorongku tiba-tiba dengan kasar seperti itu!” maki Galuh sambil memonyongkan bibirnya, tapi lagi-lagi ia terdiam ketika Jaya menatapnya dengan tatappan yang selama ini belum pernah ia lihat dari Jaya, tatapan yang penuh dengan gairah kelelakian!

Galuh menelan ludahnya, jantungnya berdebar kencang mendapati tatapan Jaya yang demikian rupa, untuk beberapa saat mereka saling beradu pandang sampai Jaya berbisik, “Galuh... Kamu cantik sekali...” bisiknya.

Galuh yang biasanya suka banyak omong dan selalu asal biacara serta apa adanya itu, kini hanya bisa terdiam mendapati bisikan dan tatapan Jaya yang demikian itu, tapi ia tiba-tiba teringat pada pesan gurunya tentang cinta, si Dewa Pengemis pernah berkata. “Cinta adalah sejuta bahagia dalam sejuta kesucian.”

Jaya lalu mendekatkan wajahnya pada Galuh, jantung Galuh hampir copot ketika Jaya berbisik di telinganya. “Istriku aku cinta kamu...”

Dengan lembut Jaya mengecup kecil telinga dan tengkuk Galuh yang membuat wanita hitam manis ini bergidik, Jaya mengangkat wajahnya dan menatap Galuh lagi, dengan perlahan ia mencium bibir Galuh, untuk beberapa saat mereka saling menggerakan bibir masing-masing saling berpagutan satu sama lain. Galuh telah pasrah, memasrahkan dirinya pada lelaki yang kini telah menjadi suaminya itu.

“Bagi seorang gadis cinta yang ada dalam hatinya terhadap seorang pemuda tidak ubahnya seperti gunung es yang kelihatan hanya secuil di permukaan samudera. Bagian cinta yang sangat besar disimpan dan disembunyikan di bawah permukaan laut. Di dalam laut hati sanubarinya. Dipeliharanya baik-baik... Kini aku akan menunjukannya hanya padamu suamiku…” desahnya dalam hati.

“Istriku, maafkan aku… Seandainya aku adalah seorang raja tentu perayaan pernikahan kita akan jauh lebih meriah dan megah, tidak sederhana seperti ini…” bisik Jaya sambil menciumi tengkuk Galuh.

“Kakang ingin menjadi seorang raja? Bagiku Kakang sudah menjadi seorang raja yang bertahta didalam hatiku yang terdalam… Aku tidak menuntut segala macam kemewahan untuk menjadi seorang Dewi di Keraton Istana… Aku hanya ingin kamu berjanji bahwa aku akan selalu menjadi satu-satunya wanita yang menjadi pendamping hidupmu, ingat aku tidak akan sudi untuk dimadu!” jawab Galuh dengan berbisik setengah mendesah seraya menciumi leher suaminya.

Jaya lalu membuka pakaiannya hingga ia bertelanjang dada, dengan lembut tangannya mulai bekerja untuk melepaskan pakaian istrinya, Galuh hanya pasrah ketika pakaiannya melorot terlepas dari tubuhnya hingga tubuhnya tinggal tertutup kemben dan kain samping untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Jaya menelan ludahnya ketika melihat sekujur tubuh Galuh yang hitam manis telah basah oleh keringatnya sehingga nampak mengkilap, hal tersebut sangat memancing gairah kelelakian Jaya Laksana! Dengan penuh gairah Jaya mengecupnya lagi sambil tangannya melepaskan tusuk konde yang menggulung rambut panjang Galuh lalu melucuti kemben dan kain samping yang mejadi kain penutup terakhir dari wanita tersebut.

Wanita yang kini telah sah menjadi istri dari Jaya Laksana itu pun dengan sangat bergairah dan mendesah-desah membuka celana suaminya, si suami yang telah “terbakar” itu pun dengan terburu-buru membantu tangan istrinya untuk meloloskan celana panjangnya! Mereka pun langsung bergumul sampai Kasur mereka berderak-derak nyaris roboh untuk menuntaskan nikmat setelah tadi siang disatukan dalam satu ikatan sah perkawinan. Malam terang bulan purnama itu pun menjadi malam yang sangat panjang bagi sepasang pengantin tersebut.

Jaya Laksana pun memang harus bersyukur karena ia harus batal menjadi raja Mega Mendung, sebab jikalau ia berhasil menjadi raja Mega Mendung, belum tentu ia bisa menikah dengan gadis yang ia cintai tersebut karena para sesepuh dan pejabat tinggi Mega Mendung pasti akan memaksanya untuk menikahi putri dari negeri lain agar Mega Mendung mendapat dukungan dari negeri lain untuk mempertahankan dirinya dari gangguan ataupun ekspansi Kesultanan Banten yang kian meluas pengaruhnya di tanah Pasundan ini.