Episode 280 - Murka Alam



Sebuah lorong dimensi ruang berpendar kelabu dan membuka perlahan. Setelah rampung, seorang perempuan dewasa melayang keluar. Di telapak tangan kanannya sebentuk cangkang siput sebesar tengkorak kepala manusia terlihat bergetar. Segera setelah itu, di belakang perempuan dewasa itu, kemudian menyusul keluar seorang gadis belia. Sibuk sekali gadis belia tersebut memperbaiki balutan kemben berwarna ungu yang sempat tersingkap karena tubuh diombang-ambingkan selama perjalanan menggunakan lorong dimensi antar dunia. 

Penampakan mereka demikian bersih, rambut yang masih basah dikeringkan secara alami oleh lambaian angin. Jelas terlihat bahwa kedua perempuan tersebut baru saja selesai mandi. Mereka pun menjejakkan kaki di atas sebuah bukit. 

Sejauh mata memandang, terlihat ratusan kawah-kawah nan besar di permukaan tanah. Apa pun yang tadinya berdiam di bawah sana, sepertinya belum lama meninggalkan tempat mereka. Hal ini terlihat jelas karena butir-butir tanah yang berhamburan di sekitar setiap satu kawah, masih terlihat lembab adanya. 

“Terlambat...,” gumam Mayang Tenggara lirih. Ia memperhatikan cangkang siput yang baru saja dipergunakan untuk membuka dimensi ruang antar dunia. Getaran semakin terasa keras...

“Krak...” 

Cangkang siput yang merupakan barang teramat langka tersebut tetiba meretak, menciptakan rekahan setipis sehelai rambut. Mayang Tenggara terlihat kecewa, bukan karena sosok yang hendak disambangi telah pergi meninggalkan tempat tersebut, melainkan karena ia menyadari bahwasanya cangkang siput miliknya itu hanya dapat dipergunakan beberapa kali lagi sahaja. Paling banyak tiga kali, sebelum cangkang siput itu pecah berhamburan dan tiada lagi dapat dipergunakan. 

Meskipun demikian, Mayang Tenggara dapat menghela napas lega. Salah satu dari empat butir Liontin Mutiara Lembayung Jiwa, yang terbesar ukurannya, telah kembali memancarkan sinar kebiruan nan penuh nuansa kehidupan. Dengan kata lain, ancaman jiwa terhadap ahli yang terhubung dengan liontin tersebut telah berlalu. 

Perempuan dewasa itu lalu menebar mata hati demi mencermati. Dalam perkiraannya, sempat terjadi pertempuran di tempat tersebut. 

Si gadis belia di belakangnya hanya diam terpaku. Ia tak tahu sedang berada di mana dan atas alasan apa. Bagi Embun Kahyangan, Mayang Tenggara adalah satu-satunya ahli yang dapat menelusuri jejak Balaputera Ragrawira, yang ditenggarai mengetahui tempat tersimpannya Kitab Kahyangan milik ibunda Tirta Kahyangan. Oleh karena itu, ia mengikuti sahaja tanpa banyak bertanya. Banyak bertanya, malah nanti akan membuat perempuan calon ibu mertua itu berang, batinnya pasrah.

“Wira... Pakcik Jebat... Lamalera...,” gumam Mayang Tenggara pelan. Berdasarkan aura tipis yang tersisa, ia dapat mengendus sesiapa saja yang tadinya berada di tempat itu. “...dan seorang ahli yang tak kukenal...” 

“Brrrtttt...”

Tetiba gempa bumi terasa deras pada permukaan bukit di mana kedua perempuan berdiri. Mayang Tenggara melayang pelan, dan Embun Kahyangan melompat menuruni bukit tersebut. Tak berapa lama kemudian, menyeruak keluar seekor naga. Tubuhnya raksasa setinggi bukit, taring dan cakarnya tajam berbahaya. Aura tenaga Kasta Emas demikian menekan ke segala penjuru.

Sepertinya naga yang satu ini terlambat bangun, dan telah ditinggal pergi oleh kawanannya. Sebagaimana diketahui, naga yang baru terbangun belum sepenuhnya sadar sehingga naluri mengambil alih atas kendali tubuh. Naluri buas naga akan menyerang sesiapa saja yang berada di dekatnya!

Mayang Tanggara menyipitkan mata. Aura Ahli Kasta Bumi, yang tadinya disamarkan oleh Untaian Tenaga Suci, menyeruk perkasa. Tanpa basa-basi, perempuan dewasa itu langsung menggasak! 

Meski sama-sama berada pada Kasta Bumi, terdapat perbedaan mendasar di antara Mayang Tenggara dengan Balaputera Ragrawira. Mayang Tenggara lahir dan tumbuh di tengah pergolakan Perang Jagat, bahkan berada di pusat pusaran pertempuran. Hari demi hari yang ia jalani sejak kecil, belia dan dewasa, seringkali melibatkan pertarungan hidup dan mati. Sebaliknya, walau lahir di era yang sama, Balaputera Ragrawira mengemban tugas yang berbeda, ia berpetualang dari satu tempat ke tempat lain secara rutin dan melakukan apa yang patut ia lakukan. Oleh karena itu, Balaputera Ragrawira senantiasa menghindar dari pertarungan atau pun bila terpaksa bertarung, ia memilih untuk bertahan. Sebaliknya, Mayang Tenggara tak pernah ragu untuk membabat siapa dan apa pun yang lancang bertingkah di hadapannya. 

Sungguh pelik karakter sepasang suami istri ini. Bagaimana mereka bisa membangun rumah tangga, dapat disimpulkan karena Balaputera Ragrawira adalah peribadi yang penyabar. Sangat teramat sabar. 

Satu pertanyaan yang mengusik, adalah karakter manakah yang cenderung menurun kepada kedua anak pasangan tersebut...? Apakah air cucuran jatuhnya akan ke pelimbahan jua...?


Embun Kahyangan hanya mampu melongo. Selang tak berapa lama, tubuh raksasa si naga yang dilindungi oleh sisik-sisik sekeras baja, sudah terpenggal-penggal menjadi beberapa bagian. Gadis belia tersebut pun menyaksikan bagaimana kemudian Mayang Tenggara mendarat, memengal tubuh si naga menjadi potongan-potongan seukuran dua kali tubuh manusia dewasa. Tindakan tersebut berlangsung sesantai dan setenang seorang ibu rumah tangga di dapur, yang memotong daging ayam untuk hidangan makan siang keluarga. 

Tak hanya sampai di situ, Mayang Tenggara lalu menyimpan potongan-potongan daging terbaik ke dalam sebentuk cincin Batu Biduri Dimensi. Betapa Embun Kahyangan terperanjat, ketika sebentuk cincin batu Biduri Dimensi dilempar kepadanya. 

Daging naga, untuk apakah...? Kendatipun demikian, tak ada suara yang keluar dari mulut Embun Kahyangan. Jangan dipertanyakan tingkah-polah perempuan dewasa itu kalau tak hendak menjadi sasaran amuk. Walhasil, si gadis belia menerima cincin, dan menyematkan ke salah satu jemari. 

Usai melaksanakan pekerjaan rumah tangga, Mayang Tenggara kembali mencermati sebutir Liontin Mutiara Lembayung Jiwa. Kali ini, yang ukurannya terkecil, menyala merah! 

“Nyalakan api!” perintah Mayang Tenggara. “Perutku lapar...”

Bilamana sebelumnya amaran dari liontin membuat Mayang Tenggara bergegas menuju ke tempat di mana suaminya berada, kali ini ia terlihat jauh lebih tenang. Malahan, ia hendak menyantap daging naga bakar sebagai menu makan siang. Apakah ancaman jiwa kepada putra bungsunya tak berarti apa-apa...? Sebagai seorang ibu, tidakkah sepantasnya ia bergegas pergi untuk memberi pertolongan...? Pemikiran seperti apakah yang ada di dalam benak perempuan dewasa itu...?

Ahli karang pun tiada berani mengira-ngira. Seandainya tersalah kata, lalu diketahui oleh tokoh perempuan itu, maka tak terbayangkan siksa seperti apa yang akan mendera. Silakan para ahli baca sekalian berkesimpulan sendiri. 

===


“Katakan padaku, wahai Maha Maha Tabib Surgawi, mengapakah mengemuka di hadapan kita, sebuah lorong dimensi Murka Alam!?” Komodo Nagaradja menggeretakkan gigi. 

“Sepertinya Nak Bintang hendak naik kasta, wahai Siluman Super Sakti...” 

“Anak orok pun tahu itu... Tapi, Murka Alam seharusnya hanya muncul bilamana ahli Kasta Perak hendak menerobos ke Kasta Emas!” 

Bintang Tenggara tentu dapat mendengarkan perbincangan antara Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa, karena mata hati mereka bertiga ahli adalah saling terkait. Kendatipun demikian, ia masih tak percaya bahwa lorong dimensi yang menyibak aura penuh amarah itu diperuntukkan bagi dirinya. Sebagaimana kata-kata sang Super Guru, Murka Alam hanya muncul bagi ahli Kasta Perak yang akan menerobos ke Kasta Emas.

“Mungkinkah Murka Alam ini diperuntukkan bagi Si Kancil...?” sela Bintang Tenggara. Sebagaimana diketahui pasti, bahwa Si Kancil itu berada pada Kasta Perak Tingkat 9. Oleh karena itu, adalah wajar bilamana binatang siluman itu yang hendak berubah menjadi Siluman Sempurna dengan naik ke Kasta Emas...

“Si Kancil itu sudah pergi jauh, jangan lagi dipikirkan...,” ungkap Komodo Nagaradja. 

“Diriku sudah dapat menarik kesimpulan,” Ginseng Perkasa mengusap-usap janggut putih nan lebat. “Jalan Keahlian Laksamana sangat berlawanan dengan kodrat alam. Oleh karena itu, alam memutuskan untuk membinasakan sesiapa pun ahli yang menjalaninya secepat mungkin. Oleh karena itu pula, Murka Alam hadir ketika hendak menerobos ke Kasta Perak...”

“Akh... kau menebak-nebak saja!” sergah Komodo Nagaradja. 

Sesungguhnya perkiraan Ginseng Perkasa adalah setengah benar. Jalan Keahlian Laksamana memanglah sangat berlawanan dengan kehendak alam. Akan tetapi, yang menjadi sasaran Murka Alam sesungguhnya bukanlah yang menjalani keahlian tersebut, melainkan pemicu jalan keahlian itu sendiri. Jadi, sasaran Murka Alam adalah tumbuhan siluman Akar Bahar Laksamana yang hendak membawa induk semangnya naik kasta, sehingga Bintang Tenggara terperangkap di tengah pergelutan ini. 

Di saat perbincangan menduga-duga sedang berlangsung, aura berwarna kehijauan membungkus tubuh si anak remaja. Di lain sisi, lorong dimensi Murka Alam semakin membuka. 

“Sebaiknya engkau segera menyerap tenaga alam...” Komodo Nagaradja memperingatkan. 

“Ingatlah, bahwa empat unsur alam akan mengungkapkan murka mereka di dalam sana,” tambah Ginseng Perkasa. 

Menyadari tiada manfaatnya menebak-nebak, putra bungsu dari Balaputera Ragrawira dan Mayang Tenggara memahami bahwa melakukan persiapan adalah langkah terbaik. Bintang Tenggara pun segera membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin. 

“Ada ahli yang menantang Murka Alam secara gamblang, ada pula yang bertahan mengikuti kehendak amarah sang alam dengan hati lapang...” Komodo Nagaradja membekali. “Tentukan sendiri arah mana yang hendak kau tempuh...”

Tubuh Bintang Tenggara mulai ditarik ke dalam lorong dimensi ruang nan penuh amarah...

 “Lebih baik ikuti saja alurnya...,” nasehat Ginseng Perkasa. “Bertahan lebih baik daripada menyerang.” Tak sulit ditebak bahwa langkah tersebutlah yang tokoh ini tempuh saat menjalani Murka Alam. 

“Jangan jadi pengecut! Hadapi secara jantan! Pukul mundur!” sergah Komodo Nagaradja. Padahal, baru tadi ia memberi pilihan kepada sang Super Murid agar memutuskan sendiri.

Tubuh Bintang Tenggara telah ditarik masuk ke dalam lorong dimensi. Terombang-ambing tak tentu arah, ia memantapkan hati. Tak lama kemudian, anak remaja tersebut terlontar keluar. Sebuah pulau yang dikelilingi pantai berpasir putih menanti, yang ukuran besarnya sekira dua lapangan bola. Dikelilingi hamparan lautan sejauh mata memandang, pulau tersebut menjadi satu-satunya tempat mendarat. Pepohonan tumbuh subur dan air laut beriak tenang. Sungguh pemandangan yang asri lagi menenangkan. 

Segera setelah mendarat, Bintang Tenggara mengerahkan mata hati untuk merapal jurus unsur kesaktian, serta jurus persilatan. Kedua tindakan tersebut dapat dilakukan sebagaimana sedia kala. Jurus Delapan Penjuru Mata Angin dapat dibuka, namun tiada tenaga alam yang terserap masuk. Dengan kata lain, Murka Alam tiada mengizinkan seorang ahli menambah isi mustika di ulu hati dengan cara alami. 

Penasaran, Bintang Tenggara merapal formasi segel... Sebentuk formasi segel mirip piring pun merangkai cepat. Di tempat ini, rupaya kutukan dari Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa, tiada diakui. Bintang Tenggara menghela napas lega. Di saat terjepit, sepanjang persediaan tenaga dalam masih memadai, ia dapat merapal formasi segel pertahanan tertangguh di seantero Negeri Dua Samudera. 

“Super Guru… Kakek Gin…,” panggil Bintang Tenggara menggunakan jalinan mata hati. Tak ada jawaban. Ini bukan kali pertama anak remaja itu terputus hubungan dengan mereka. Dapat pula disimpulkan, bahwa Dewi Anjani pun tak dapat dipanggil untuk meminta bantuan menghadapi Murka Alam. 

Tetiba ombak di lautan beriak tak menentu. Suara bergemuruh pun terdengar jelas. Di saat yang bersamaan, suhu udara terasa turun seketika. 

“Swush!” 

Hembusan angin mendorong tubuh Bintang Tenggara. Sontak ia mengaktifkan Sisik Raja Naga, yang mana melindungi kedua belah lengan sampai ke sikut dan kedua kaki sampai ke lutut. Akan tetapi, bagian tubuh yang tak terlindungi dan pakaian yang ia kenakan, serta merta tergores oleh sayatan angin. Menahan perih, anak remaja tersebut segera belindung di balik sebuah pohon besar. 

Angin semakin bergelora. Beberapa jam berlalu, dan Bintang Tenggara tak lagi merasa aman berlindung di balik pohon. Di kala pemikiran tersebut muncul, sifat hembusan angin berubah. Hembusannya angin kali seolah menumbuk-numbuk batang pepohonan. Sontak Bintang Tenggara melompat mundur tatkala pohon besar yang menjadi tempat berlindung, roboh diterjang angin! 

Melangkah cepat tak beraturan menggunakan kesaktian unsur petir, Bintang Tenggara bergerak tak beraturan ke arah tengah pulau. Akan tetapi, niatnya berlindung menjadi ibarat senjata memakan tuan. Hembusan angin mengangkat dan membawa batang pohon besar-besar. Kini selain tubuhnya menjadi berat akibat dorongan angin, Bintang Tenggara juga harus berkelit dari pepohonan besar kecil yang menghujam ke arahnya. 

Enam jam waktu berlalu, dan Bintang Tenggara terus menghindar. Pepohonan yang tadinya tubuh memenuhi wilayah pulau, kini hanya tinggal seperempat saja. Bila hanya angin, maka masih dapat dimaklumi. Namun angin juga membawa bulir-bulir pasir yang menghambat pandangan mata. 

Pohon terakhir yang mendiami pulau tercabut dan dibawa pergi. Bintang Tenggara berdiri di tengah pulau sebatang kara. Ia merapal kembangan silat dan kini sangat kesulitan menjejakkan kaki. Badai angin terang-terang hendak menyapu pergi, menerbangkan dirinya entah sampai ke mana. Anak remaja itu menyadari bahwa bilamana meninggalkan pulau ini, maka nasibnya nanti bak telur di ujung tanduk! 

Oleh karena itu, si anak remaja terpaksa terus mengerahkan unsur kesaktian petir demi tetap bergerak mengikuti irama badai angin. 

Hari jelang petang, dan tiupan angin belum kunjung mereda. Sejak beberapa saat lalu, samar di kejauhan, kedua mata Bintang Tenggara mendapati kemunculan awan putih yang bergerombol dan berlapis-lapis di langit tinggi. Tidak lama setelahnya, terlihat gumpalan awan gelap, besar, dan tinggi yang sekilas mirip seperti kembang kol. Turut terdengar suara petir dan guruh kencang yang saling bersahutan. Perlahan, mulai tercipta jalinan angin yang berpilin dan terus membesar… 

“Puting beliung…,” gumam anak remaja itu cemas menyadari petanda-petanda yang bermunculan. Meskipun demikian ia menyadari bahwa masih ada cukup waktu untuk melakukan persiapan karena pergerakan putting beliung terbilang lambat.

Bintang Tenggara mengingat nasehat Komodo Nagaradja. Sejauh ini, pendekatan yang ia ambil adalah bertahan, atau dalam istilah Ginseng Perkasa mengikuti ‘alur’ Murka Alam. Dengan kata lain, tindakan yang dijalani adalah bertahan sampai alam selesai melampiaskan amarah dan mereda dengan sendirinya. Akan tetapi, dalam hal ini, kemungkinan besar hanya akan selesai setelah mencapai titik puncak, yang diwakili dengan angin puting beliung di hadapan. 

Di tengah hembusan angin badai Bintang Tenggara berpikir keras. Bilamana tertarik paksa ke dalam pusaran puting beliung, maka pastilah kematian yang menanti. Namun, bagaimanakah caranya bertahan atau menghindar dari angin puting beliung…? Sudah jelas bahwa pulau ini akan menjadi lintasannya!

Malam tiba, dan puting beliung sudah tiba di depan mata. Dalam penantian, Bintang Tenggara menemukan beberapa teori yang kiranya dapat menyelamatkan dirinya dari tarikan angin puting beliung. Pertama adalah dengan menggali tanah dalam-dalam, namun cara ini terbilang rumit karena ia tak memiliki alat menggali atau unsur kesaktian tanah. Kedua, adalah mengerahkan Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara. Akan tetapi, Murka Alam yang saat ini berlangsung adalah yang pertama dari empat. Anak remaja itu sadar betul bahwa dirinya perlu menghemat tenaga dalam sebaik mungkin. 



Catatan:

Satu kata teruntuk kiriman meme di bawah ini… “Lancang!”