Episode 47 - Kenapa Harus Aku?



Tiga hari terlewati dengan cepat, akhirnya hari yang Lin Fan tunggu datang juga. Saat ini dia berdiri di depan pintu gerbang sekte, memandang para murid yang berbaris dengan rapi di depan, mereka menatap Lin Fan dengan penuh kebencian.

Rumor tentang bagaimana Lin Fan menghajar murid lainnya dan seorang guru bela diri sudah menyebar ke semua orang di sekte. Namun, tidak sampai disitu saja, banyak orang yang menambah dan mengganti bagian dari cerita bagaimana Lin Fan dapat menang, seperti menggunakan cara curang dan sebagainya. Jadi, tidak bisa dihindari mereka semua makin membenci Lin Fan.

Manusia memang begitu, sekali dia membenci sesuatu, tak akan ada hal baik yang bisa dia lihat dari sesuatu tersebut.

Kabar tentang Lin Fan yang menantang ketua sekte kali ini, yaitu adiknya sendiri, Lin Er, juga telah menyebar ke semua orang. Mereka merasa marah karena tingkah sombong Lin Fan. 

“Apa yang kau lakukan di sini dasar sampah?” 

Seorang pemuda dengan tubuh tegap dan wajah tampan maju dari barisan para murid. Dia adalah Zhang Xuan, salah satu dari tiga murid terbaik di sekte.

“Berani-beraninya sampah sepertimu datang kemari.” 

Seorang gadis dengan tubuh yang seksi berjalan di belakang Zhang Xuan. Dia adalah Ning Xuelo, salah satu dari tiga murid terbaik di sekte, sama seperti Zhang Xuan.

“Aku sarankan kau untuk segera enyah dari sini, atau kau akan menyesal nantinya.” 

Pemuda itu berjalan paling belakang dengan suasana yang mendominasi. Tubuhnya sangat kekar hingga membuat seragam berwarna hitam putih yang dia kenakan memeluk erat tubuhnya. Pandangan matanya tajam dan langkah kakinya sangat percaya diri. Dia adalah Yun Che, dia bukan hanya salah satu dari tiga terkuat di sekte, akan tetapi dia adalah si nomor dua di sekte.

Pandangan Lin Fan menyusuri mereka bertiga, itu adalah pandangan penuh percaya diri dan tersembunyi kesombongan di dalamnya. Lin Fan yakin, dia yang sekarang lebih kuat dari semua orang di sekte. Jadi, dia tidak memiliki sedikit pun keraguan akan kemenangannya apabila bertarung dengan mereka bertiga.

“Sekarang kalian menjadi semakin sombong, ya.” Ucap Lin Fan dengan santai.

Lin Fan sangat mengenal mereka, karena dulu sekali, mereka bertiga adalah teman akrab. Namun, setelah kekalahan Lin Fan dari Lin Er, dan keluarnya Lin Fan dari sekte, mereka semua perlahan pergi dan seperti tak lagi mengenal Lin Fan. Bukan, mereka hanya tak ingin dianggap sama seperti Lin Fan yang sering orang sebut sampah.

Pada akhirnya, semua orang akan pergi ketika kau tak lagi berarti. Dan saat itulah Lin Fan akhirnya mengerti tentang arti teman yang sesungguhnya. Orang-orang seperti Agam dan yang lainnya adalah apa yang bisa dia sebut teman. Tidak peduli bagaimana kondisi Lin Fan, mereka akan tetap mau menjadi teman Lin Fan dan tertawa bersamanya.

Kenal dan berteman dengan mereka adalah apa yang membuat Lin Fan merasa nyaman menjalani hari-harinya yang hambar. 

Meski terkadang menyebalkan, tapi mereka tak pernah meninggalkan.

“Bukannya wajar saja bersikap sombong dengan sampah sepertimu.” Ning Xuelo berkata dengan senyum sinis.

“Haha, kau berkata seperti kau lebih baik dari aku saja.” Balas Lin Fan dengan sinis juga.

“Tentu saja, aku ini lebih baik darimu, dasar sampah.” Teriak Ning Xuelo dengan emosi yang menggebu-gebu.

“Tenang.” Ucap Yun Che dengan tegas sembari memegang pundak Ning Xuelo.

“Akan aku kembalikan kata-katamu, kau berkata seperti kau lebih baik dari aku saja, dasar sampah.” Ucap Zhang Xuan dengan angkuh.

“Mau mencoba melawan aku? kebetulan aku butuh seseorang untuk pemanasan.” Ucap Lin Fan sambil memandang Zhang Xuan.

“Baiklah, baiklah, akan aku buat kau menutup mulut besarmu itu.” Zhang Xuan berkata sambil berjalan menuju Lin Fan.

“Hentikan.” Ucap Yun Che dengan keras.

“Haha, jangan khawatir, dia pasti bisa mengalahkan sampah itu.” Ning Xuelo berkata sambil tertawa kecil.

“Tidak perlu khawatir, kau lihat saja, aku pasti bisa mengalahkannya.” Zhang Xuan berkata tanpa menoleh ke belakang.

Dengan hentakan kaki yang keras, Zhang Xuan melesat menuju Lin Fan. Dia seperti seekor predator yang siap menerkam mangsanya. Namun, gerakan tiba-tiba itu tidak mampu menggoyahkan fokus Lin Fan. Dengan sangat cepat Lin Fan bereaksi dan memasang posisi bertarung.

Sebuah tinju menuju wajah Lin Fan, akan tetapi Lin Fan dengan cepat mengelak dan melepaskan tinju ke perut Zhang Xuan. 

Zhang Xuan tidak mampu melihat serangan itu dan terkena pukulan telak pada perutnya. Zhang Xuan terlempar ke belakang dan memuntahkan darah segar dari mulutnya. Dia menyeka darah yang tersisa di sekitar mulutnya dan mengertakan gigi.

“Sialan!” Zhang Xuan berteriak sambil berlari menuju Lin Fan.

“Haha,” Lin Fan tertawa kecil melihat ekspresi wajah Zhang Xuan.

Zhang Xuan mencambukan tangan kanannya menuju leher Lin Fan, memotong angin yang di lewatinya. Namun, Lin Fan dengan dengan cepat menghindari serangan itu. Tapi Zhang Xuan dengan cepat melesat menuju sisi Lin Fan dan sekali lagi mencambukan tangannya menuju leher Lin Fan.

Lin Fan menunduk untuk menghindar, dan setelah serangan itu dia hindari, Lin Fan bangkit sambil mengarahkan tinju menuju dagu Zhang Xuan. 

Zhang Xuan tidak mampu menghindar dan terlempar ke belakang sekali lagi sambil memuntahkan darah segar. Pandangan mata Zhang Xuan terlihat kabur untuk beberapa saat lalu kemudian menjadi hitam. Zhang Xuan tak sadarkan diri dan tak bergerak lagi.

“Apa? Hanya dua serangan saja?” Ning Xuelo terkejut dengan hasil pertarungan ini. Karena kemampuan Ning Xuelo dan Zhang Xuan tak berbeda jauh, jadi bisa dipastikan Ning Xuelo akan kalah jika mencoba bertarung dengan Lin Fan.

“Dia terlalu gegabah.” Ucap Yun Che sambil memandang Lin Fan dengan tajam. 

Yun Che masih tidak mau mengakui bahwa Lin Fan telah menjadi sekuat ini, baginya Lin Fan masih sampah seperti yang sering orang katakan, dan kemenangan barusan hanya karena Zhang Xuan terlalu ceroboh.

“Hahaha,” Lin Fan melempar kepalanya ke atas dan tertawa terbahak-bahak, “bagaimana jika kau maju dan coba untuk melawan aku, si nomor dua.” Ucap Lin Fan dengan tatapan menghina.

“Sialan kau.” Ucap Yun Che sembari menggertakan gigi dan maju menghampiri Lin Fan.

Si nomor dua adalah kalimat tabu bagi Yun Che. Di antara semua murid di sekte, dia sudah pasti menjadi yang terkuat. Namun, dia sama sekali belum pernah melawan Lin Er, karena dia takut, jika dia kalah maka nasibnya mungkin saja akan sama seperti Lin Fan.

Di masa lalu, Lin Fan dan Yun Che adalah sahabat dekat, dan mereka sering berlatih tanding bersama, dengan catatan kemenangan dan kekalahan yang sama. Jadi, bisa dibilang kekuatan dari Lin Fan dan Yun Che tidak jauh berbeda.

Dalam sekejap mata Yun Che sudah berada di depan Lin Fan. Dia mengepalkan tangannya dan melayangkan sebuah pukulan keras, di sisi lain, Lin Fan juga melakukan hal yang sama. Dalam sepersekian detik kedua tinju saling beradu dan membuat suara benturan yang keras.

Tidak ada di antara mereka yang mundur, mereka berdua saling tatap dengan tajam, akan tetapi dengan ekspresi yang berbeda. Lin Fan tetap santai meski telah berbenturan keras dengan pukulan Yun Che, sedangkan itu Yun Che menggertakan giginya untuk menahan teriakan sakitnya. 

Yun Che merasa seperti sedang meninju sebuah tembok yang kokoh. Sangat keras, tak tergoyahkan. Namun, ini masih tidak merubah pemikirannya bahwa Lin Fan lebih lemah darinya. Bukan, dia hanya tidak mau menerima kenyataan bahwa kini Lin Fan sudah tak sama lagi.

Yun Che mundur satu langkah lalu mengumpulkan semua kekuatan di tinju kanannya. Kemudian melesatkan tinju itu sembari mencondongkan berat badannya ke depan untuk menambah kekuatan dari serangan tersebut.

Sedangkan itu, Lin Fan juga mundur satu langkuh lalu melompat ke depan sembari mencambukkan kaki kirinya dan berputar di udara. Jangkauan serangan dari kaki Lin Fan lebih jauh sehingga mampu mendarat lebih dulu ketimbang tinju dari Yun Che.

Yun Che terlempar ke samping sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya. 

“Yun Che!” Ning Xuelo berteriak keras lalu mulai berlari menuju arah Lin Fan, tidak lama kemudian dia akhirnya berada di depan Lin Fan dan memulai serangannya. Sebuah tinju cepat menuju leher Lin Fan, sebuah gerakan tajam dan berbahaya di dunia bela diri.

Namun, Lin Fan seperti meramalkan bahwa Ning Xuelo akan melakukan gerakan tersebut, dia dengan cepat menangkap tangan Ning Xuelo lalu menendang lututnya. Ning Xuelo jatuh berlutut sambil berteriak kesakitan. 

Meskipun perempuan, akan tetapi Lin Fan tidak menyisakan rasa kasihan pada Ning Xuelo. Baginya, siapapun yang mencoba untuk melukainya, mereka adalah musuhnya.

Sebuah tinju keras meluncur dengan cepat menuju wajah Ning Xuelo. Sebuah tabu untuk melukai wajah seorang perempuan, tidak berarti apa-apa bagi Lin Fan.

Namun, tepat sebelum serangan itu mendarat, datang sesosok menghalangi serangan itu dengan tubuhnya, dia adalah Yun Che. Dia menerima serangan itu dengan dadanya dan membuat Yun Che terhempas ke belakang sekali lagi. 

Dada Yun Che terasa sesak akibat serangan brutal itu, Yun Che tidak menyangkan bahwa tinju itu akan Lin Fan gunakan untuk menyerang wajah Ning Xuelo. 

Akhirnya Yun Che memahami satu hal, Lin Fan telah berubah, dia tidak seperti yang dulu lagi, dia sekarang adalah monster yang kejam.

“Lin Fan! Kau pasti akan mendapat balasan yang setimpal dari semua ini!” teriak Ning Xuelo dengan keras.

“Hahahaha,” Lin Fan melempar kepalanya ke atas dan tertawa terbahak-bahak, bagi lin Fan, apa yang Ning Xuelo katakan sangat menggelikan, “Balasan yang setimpal? Lalu bagaimana dengan kalian semua yang selama ini menghina dan merendahkan aku? menurutmu apa yang akan kalian dapatkan?”

Ning Xuelo mengingat kembali bagaimana kondisi Lin Fan setelah hari itu dan tidak bisa tidak terdiam membisu. Apa yang Lin Fan rasakan selama ini terlalu memilukan untuk dia katakan.

“Kenapa kau diam saja? Cepat jawab aku! Kenapa hanya aku yang mendapat balasan dan kalian tidak? Kenapa aku direndahkan hanya karena satu kekalahan? Kenapa? Kenapa aku? kenapa harus aku?” Lin Fan berteriak keras di depan wajah Ning Xuelo yang memucat.