Episode 24 - Intermeso - Penyandang Nama Nagart


Di bawah persaksian langit

Di bawah mata rembulan

Angin yang menyayat

Ilalang yang menari

Serta api yang tak pernah padam

Langkah pertama Khan diambilnya

—Syair Stepa


Upacara berlangsung secara khidmat, orang-orang stepa melakukan ritual ini dengan penuh penghayatan setidaknya menurut Sidra yang sama sekali tidak memahami apa gunanya pembakaran tanaman wangi serta doa-doa kepada arwah nenek-moyang ini. Di Nagart, orang-orang melakukan hal yang berbeda, permohonan pada Kahyangan digumamkan sendiri-sendiri, tidak bersamaan seperti ini. Kebersamaan sepertinya merupakan fokus dari upacara ini, berbeda dengan Nagart yang menganggap hubunganmu dengan Kahyangan adalah urusan pribadimu sendiri.

Ada alasan tersendiri mengapa Nagart mengadopsi dewa-dewa dari orang-orang yang dijajahnya. Menjamin kebebasan beragama sangat penting jika negerimu tidak didominasi oleh satu anutan saja. Dengan mengambil aspek kedewaan dari orang-orang yang dijajah, bukan mustahil suatu saat mereka akan mengadopsi agama utama Nagart di kemudian hari.

Seorang Pemegang Gelar yang sangat tua, wajahnya keriput dan lipatan pipinya seperti kertas yang dimakan usia dan ditumpuk sembarangan memimpin semua. Dia dipanggil dengan nama Kon-Yang E’tug, sesuai dengan aturan nama orang stepa dan tak pernah mereka memanggilnya dengan Gelarnya sebagai Penjaga Api Abadi. Salah satu anak buah Sidra membisiki apa arti namanya.

Sidra mengakui, bahwa ‘Dia yang bermimpi dan kembali’ merupakan nama yang tak umum. Dia tahu nama lingkar dalam istana Giok juga diluar kebiasaan, tapi itu semata juga ada gunanya. Contohnya namanya, yaitu Radasidra Diyu Arpashu Gargung Nagarta Nagart menyimpan berbagai makna praktis. Diyu adalah nama yang ia dapat saat menginjak masa enam musim semi, pemberian langsung melalui mimpi oleh Kaisar Pertama sendiri. Arpashu artinya dia memilih jalan luar, berbanding terbalik dengan kakaknya yang bernama Arpansha yang berarti belajar tentang kehidupan dari dalam istana. Gargung adalah nama daerah kekuasaannya, yang kini telah ia tinggalkan walau belum ditanggalkan dari namanya dan Nagarta bermaksud sebagai haknya sebagai pewaris. Nagart, nama akhir yang disandang oleh semua leluhur-leluhurnya sebagai penghargaan bahwa dia adalah keturunan dari pendiri negerinya.

“Majulah, Radasidra. Saatnya telah tiba,” Si nenek keriput berucap, dan paduan suara yang menyanyikan lagu dengan suara leher mirip orang yang sedang dicekik sehingga menimbulkan kesan angker lama-kelamaan menjadi pelan, lalu terdiam sepenuhnya. Sidra mendongak dari tempat duduknya, kemudian melangkah mendekat si nenek tua. Dia tahu para orang stepa bergidik melihat setiap langkahnya, yang paling berani terang-terangan memandangnya dengan ragu, namun dia tetap berfokus pada si nenek dan tidak pada yang lain. Sidra tahu sumber dari ketakutan mereka.

Tak pernah ada orang luar-stepa yang menjadi Khan sebelumnya, mereka cemas apakah Sidra benar-benar mampu memangku Gelar itu sebaik penghuni asli. Dalam hati Sidra telah bertekad untuk menunjukkan kemampuan dirinya.

“Berjalan melewati api, dan Gelar sebagai seorang Khan akan resmi engkau sandang,” sang nenek terbata berkata dalam bahasa Nagart, dituntun oleh seorang muda yang langsung berbisik ditelinganya.

Sidra mengeluarkan tawanya yang khas. Pelan, merdu sekaligus menakutkan, sangat berbanding terbalik dengan keadaan yang seharusnya serba suci. Itu mendatangkan dengung ketakutan dari semua yang hadir, merebak seperti sekoloni tawon yang siap menyengat Sidra karena keangkuhannya.

“Apa ini sebuah lelucon, Penjaga Api? Apa kau ingin aku membakar diri sendiri seperti seorang yang telah putus asa menjalani hidup? Kalau kau ingin menjebakku, masih banyak cara lain yang tidak langsung terang-terangan seperti ini. Pisau di kegelapan malam atau racun di hidangan, contohnya.”

“Begitulah jalan seorang Khan,” si nenek berucap dalam bahasanya sendiri, dan serentak semua menirukan ucapannya, membuat Sidra melempar pandang pada semua. Seseorang berbaik hati menerjemahkan padanya.

“Api,” si nenek menunjuk pada bara abadi yang masih menyala-nyala tepat di tengah, “akan membersihkan kotoran, mencerahkan pikiran, membuang kebusukan. Kau harus bersih, sebagai seorang Khan. Kau harus menggunakan akal sehat. Kau harus sematang buah-buahan ranum dari negerimu untuk memimpin kami. Matang, bukan muda apalagi busuk.”

“Begitukah?” Sidra bertanya, dan tak dijawab. Matanya yang merah menyorot api, lalu ia melangkah sembari berkata, “aku tak percaya.”

“Tuan.” seseorang memanggilnya, Sidra berpaling dan mengenali salah satu prajurit yang lari dari Nagart. Cukup tua, rambutnya yang memutih ditutup pelindung kepala model Nagart yang masih melekat dikepalanya walau kesetiaannya telah berpindah.

“Ya?”

“Apa yang beliau katakan mengandung kebenaran.”

Sidra menaruh kedua tangannya di punggung sembari berbalik pada si nenek yang masih memandanginya dengan tatapan kosong. “Kalau begitu jelaskan padaku, Prajurit.”

“Saya adalah salah satu kontingen yang dikirim dari Nagart untuk menjadi saksi dari kebangkitan Khan terdahulu. Beliau juga melakukan hal yang sama dan sekarang bisa menceritakan semua andaikata ….”

“Andaikata aku tak membunuhnya,” sambung Sidra. Setelah berpikir-pikir sejenak, akhirnya dia mengangguk. “Jika memang begitu, aku akan menjalani semua prosesi sampai selesai. Neraka telah kujelajahi, Errornull di tangan kanan dan kiriku telah menjadi bukti. Telah kutantang Sang Maut dan aku menang. Huh! Aku bahkan pernah menjabat tangan Hakim Neraka! Dapat kupanggil Neraka ke dunia dan mereka tak pernah membakarku. Buat apa aku takut?”

“Peringatan, Radasidra.” Si nenek berkata lembut, tepat ketika lima langkah lagi Sidra mencapai api tersebut dan sudah dapat merasakan panasnya yang begitu intens. Tanpa menoleh Sidra mendengarkan.

“Dalam api, kau akan menjalani beberapa masa lalumu kembali, terutama yang paling meninggalkan bekas. Perjalanan-perjalanan yang paling getir yang kau tempuh akan terulang. Pertarungan pedih, cinta tak berbalas, kekecewaan, dendam yang terpantik … setelah keluar dari api, kau tak akan sama lagi.”

Sidra diam. Maukah ia menjalani lagi kepahitan selama beberapa puluh tahun sekali lagi hanya untuk mendapat Gelar ini? Hidupnya sulit serta penuh perjuangan, semua buktinya terpatri dalam sepuluh Gelarnya yang tidak ia dapatkan hanya dengan ongkang-ongkang kaki. Mendadak, semua kelihatan tak sepadan dengan usahanya. Jika ia harus kembali menjadi anak yang dianggap sebagai kegagalan oleh Syaidrin Nagart sendiri, dan harus menjalani derita dalam meraih Gelar-Gelarnya ….

Tidak. Sidra mengusir keraguan dari dirinya. Gelar ini penting, ini membuatnya sah menjadi seorang penguasa. Setelah itu, ia akan meluaskan kekuasaan hingga protektorat, lalu mengadu strategi serta kekuatan dengan Nagart, demi merebut luasnya kampung halamannya dari genggaman kakaknya yang bodoh. Ini merupakan satu langkah kecil menuju Gelar sebagai Penguasa Dunia hingga dia bisa naik ke angkasa dan menantang Kahyangan. Kalau dia goyah lalu menyerah sekarang, namanya akan hilang seperti debu yang dihembus angin. Tanpa makna, tanpa arti, tak berbekas sama sekali.

Sidra memantapkan diri, lalu masuk ke dalam api tanpa menoleh lagi.

Pertama-tama, Sidra merasakan api melepuhkan kulit-kulitnya, ia membalsem diri dengan hawa murni hingga terselubung sepenuhnya, tapi matanya begitu berat. Hawa murni yang ia selubungkan kepada diri pun meluntur seperti kayu bakar yang dimakan api. Padahal dia sudah tak butuh tidur lagi, tapi mimpi datang padanya, sudah lama sekali dia tak merasakan mimpi hingga ia bertanya-tanya. Betulkah ini mimpi? Ataukah ini … kenyataan? Sidra tak bisa berpikir jauh sebelum kantuk menumpulkan semua indra-indranya.

--

“Berdiri, Radasidra.”

Suara itu sangat dikenalny, walau waktu bergulir telah sekian laksa lamanya. Sidra sedang berlutut sekarang, tak diingatnya kapan dia melakukan hal itu. Ia mendongak, dan dipertemukan dengan ayahnya, Syaidrin Nagart sendiri, yang duduk dengan penuh kepongahan di Singgasana Giok. Sidra mengedar pandang, dipertemukan dengan tatapan setajam belati ibunya yang berdiri di samping ayah. Agak ke samping ia melihat kakaknya, Syaimdra, yang jauh lebih muda, dahinya yang berkilat akibat minyak rambut yang meluntur tertekuk akibat rasa penasaran.

“Berdirilah. Apa kau tidak mendengarku?” kata Syaidrin, dan Sidra menelan ludah secara kecut. Hujam rasa takut menghantuinya sekarang, karena itu adalah Ilmu Titah. Cepat-cepat Sidra berdiri.

Dia merasa lebih pendek daripada biasanya sekarang. Dengan heran Sidra mengamati tangannya, yang masih mulus dan belum dipenuhi bekas luka dari perkelahian. Sidra menggosok pipinya, merasai keempukan, ia cukup gemuk dan pipinya tidak cekung seperti biasa.

Ini adalah badannya waktu masih muda, masih berumur belasan dan begitu penasaran akan dunia.

“Apa engkau yakin akan mengambil jalan Arpashu?”

Arpashu. Salah satu dari jalan kehidupan yang bisa dipilih oleh anak-anak kandung kaisar, Sidra langsung teringat momen apakah ini.

Ini adalah saat dia mengutarakan niatnya kepada ayahanda untuk keluar istana, mengalami kehidupan sebagai jelata dan bukan sebagai bangsawan. Kakaknya selalu tertawa saat Sidra bercerita bahwa dia ingin melihat kehidupan yang sesungguhnya di luar sana. Banyak yang ingin ia lihat, mulai dari selokan terburuk di Nagart hingga gunung indah Gargung tempat ia akan memerintah kelak.

Kakaknya Syaimdra memang begitu. Ia memandang rakyat jelata sebagai ternak remeh yang tak layak mendapat perhatiaannya untuk kedua kali. Ia memang cerdas, tapi menurut Sidra sangat berbeda pandangan dengannya dalam hal ini. Tak masalah, Sidra tak memerlukan persetujuannya sekarang. Dia tak butuh persetujuan siapapun, karena ini hanyalah usahanya untuk pamit, bukan meminta ijin.

“Ya, ayah. Aku ingin pergi,” Sidra berkata parau, matanya memandang ayahandanya yang seharusnya sudah lama meninggal. Garis-garis keras di wajahnya itu masih sama, semua masih menakutkannya seperti waktu pertama.

“Kehidupan di luar lingkar istana sangat kejam. Aku tak mengijinkan.”

“Saya tidak sedang meminta ijin.” Sidra berkata, dan suara itu terdengar seperti gong yang dipukul keras-keras. Semua bangsawan penghuni lingkar dalam yang menjadi pengiring ayahnya terdiam, beberapa bahkan terlalu takut untuk menarik napas. Sidra lancang, sangat lancang.

Semua tahu bahwa Syaidrin membenci nama Arpashu, karena saudaranya sendiri yang merongrong kekuasaannya mengambil nama itu sebelum mengangkat pedang menentangnya. Syaidrin berhasil keluar sebagai pemenang dengan darah saudaranya sendiri di kedua belah tangan, tapi sampai sekarang ia membenci nama itu sampai ke tulang sumsum. Syaidrin juga sangat paranoid hingga ia berambisi mengendalikan segalanya, termasuk apapun yang dilakukan oleh anak-anaknya walau mereka telah tumbuh dewasa. Dihujaninya anak-anaknya dengan kemewahan, Syaimdra terlarut, sementara Sidra tetap menjaga diri agar tetap sadar dan tidak terlena oleh gemerlap yang ditawarkan ayahnya.

Sidra tahu bahwa keinginannya untuk mengambil nama Arpashu setingkat dengan ketidakmauan untuk mengakui kekuasaan Singgasana Giok, menurut ayahnya sendiri.

Syaidrin tertegun sejenak sebelum berkata, “Kau tidak bisa memutuskan—”

“Aku bisa,” ucap Sidra membantah perkataannya. Kalau saja seorang rakyat jelata yang menyela perkataan ayahnya, bukan mustahil kalau lidahnya akan dipotong kemudian. Tapi tidak bagi Sidra, ia putra ayahnya, ia penyandang nama Sang Nagart sendiri dan ia lebih dari sekedar berhak bersuara di lingkar dalam istana ini.

“Maka,” ayah Sidra berdiri dari tempat duduknya yang kokoh sembari mengguntur pada semua yang hadir, “aku menyatakan bahwa nama tengah Arpashu dimatikan mulai hari ini. Semua, baik putra mahkota atau bukan harus menjadi Arpansha.”

Arpansha. Dia yang belajar kehidupan dari dalam lingkar istana. Nama yang menggoda, namun Sidra sudah muak dengan istana yang banal dan penuh omong kosong keglamoran, intrik licik serta semua pesakitan yang mengaku diri sebagai bangsawan. Semua itu palsu, sementara ia ingin melihat kenyataan.

“Kau tak bisa melakukan itu,” Sidra bergegas menjawab, sementara semuanya menghela napas tajam karena tak pernah ada yang bisa menolak Ilmu Titah Syaidrin sebelumnya, baik sukarela maupun terpaksa. Bisa dilihat bahwa kekuatan titah Syaidrin amat luar biasa, Syaimdra sebagai pewaris tahta sendiri bahkan terpaksa menekuk sebelah lutut walau ilmu titah tidak ditujukan padanya, sementara semua jidat yang hadir telah bertemu karpet termasuk ibundanya akibat didera keperkasaan kata-kata Syaidrin.

Wajah Syaidrin lebih dari sekedar pucat pasi. Sidra tak bisa membedakan warna wajahnya dengan susu yang telah basi. 

“Apa kau membantahku, Anakku? Anakku sendiri?”

Sidra jadi makin berani sekarang. “Ya, Ayahanda. Aku membantah. Ayah tak akan bisa menentang keinginanku karena hukumnya telah ditentukan oleh Kaisar Pertama. Beliau menyatakan bahwa para penyandang namanya bebas untuk memilih akan jadi seperti apakah dia kelak. Keinginan untuk menghapuskan nama Arpashu sama saja berniat menghapuskan Nagart sendiri dari muka bumi, adalah sebuah ketidakpatuhan pada beliau jika ayah melakukan hal itu. Kusarankan jangan teruskan kehendak Ayahanda. Lagipula, aku memandang ini sebagai kesempatan untukku berpamitan pada semua. Tak lebih dari itu.” Ia berpaling pada ibunya yang masih menyembah. “aku pamit, Ibunda.” Kemudian pada kakaknya yang susah-payah ingin berdiri namun tak bisa, “dan padamu, Kakak. Terima kasih atas segalanya.” Kakaknya Syaimdra diam, kerutan di dahinya makin dalam dan ia hanya bisa memandang Sidra dengan kengerian. Atau … rasa bencikah itu?

Sidra tak berlama-lama untuk mencerna ekspresi kakaknya. Ia mengangguk hormat pada semua yang hadir. “Sekali lagi, terima kasih. Aku pergi sekarang.”

Sidra memutar kaki, masih heran mengapa dia seberani ini. Dia mengangkat dagu, menjaga kebanggaan akan diri sendiri tidak luntur oleh rasa sedih akibat keberpisahan dengan semua.

“Aku melarangmu untuk kembali ke sini!” Syaidrin lepas kendali, ia berteriak pada punggung Sidra sembari mencengkeram tempat jantungnya berada, dan Sidra seolah mendengar pintu-pintu menutup baginya, semua gerbang mencegahnya untuk menarik kembali perkataannya. “Aku melarangmu kembali ke seluruh istana! Gerbang-gerbang Poerselain, Mutu Manikam, Permata serta istana lain tertutup selamanya bagimu! Aku tidak mengijinkanmu memasuki kesemuanya, tidak selama aku masih hidup! Tidak sebelum kau mampu menggoyangkan dinding-dinding Istana Giok dengan pengetahuan yang kau dapatkan dari luar sana!” dan satu kalimat lagi yang masih diingat oleh Sidra yang sekarang, kata-kata yang memilukan.

“Kau bukan anakku lagi, Radasidra!”

Hati Sidra serasa mau dicabut dari tempatnya, tapi dia masih berdiri tegak, dagu mendongak, kaki melangkah. Kekosongan menyelimuti hatinya, tapi untuk sekali ini, dia tidak ragu sama sekali.

--