Episode 278 - Pengejaran (1)



Di pagi hari ini, cahaya mentari tiada mampu menembus gumpalan awan yang berarak lambat. Langit berwarna kelabu, agaknya tak lama lagi hujan akan turun mengguyur. Walau musim penghujan tahun ini datangnya sedikit terlambat dibandingan dengan tahun lalu, namun ia pasti singgah. 

Di sebuah halaman luas, sebentuk batu prasasti berdiri tegar dan tak pernah takut menghadapi musim kemarau maupun musim penghujan. Seorang kakek tua sedang merapal formasi segel, sementara dua orang ahli dan satu binatang siluman menanti sabar. 

“Tabib Bintang, apakah dikau tak hendak tinggal lebih lama lagi...?” Kapten Sisinga berupaya menahan kepergian Bintang Tenggara.

Bintang Tenggara melirik ke balik tubuh besar dan kekar Kapten Sisinga. Di sela-sela taman nan rimbun di belakang sana, adalah alasan mengapa Kapten Sisinga masih bersandiwara dengan menyapa dirinya sebagai tabib. Tak sulit untuk menyadari keberadaan seorang ahli sedang mengintai dalam diam. Karena meski tak bersuara dan bersembunyi, masih jelas kelihatan gelagatnya yang sangatlah mencurigakan. 

“Kami harus segera bertolak!” sahut Si Kancil cepat. Tentu ia menyadari bahwa si Putra Mahkota adalah sosok yang sedang mengintip. Oleh sebab itu, sebelum terjadi hal-hal yang mengerikan, sebaiknya lekas angkat kaki dari Istana Utama Kerajaan Garang!

Menanggapi Kapten Sisinga, Bintang Tenggara menggelengkan kepala. Ia sudah membalas kebaikan hati Kapten Sisinga yang tak membocorkan jati dirinya kepada kapten-kapten lain sehari yang lalu. Dengan caranya sendiri, anak remaja tersebut berhasil membujuk Ginseng Perkasa untuk memberitahu teknik meramu Ramuan Haluan Daya. Tiada yang mengetahui pasti apa yang terjadi terhadap si dayang-dayang. Apakah gadis tersebut dengan sukarela menyerahkan ketiak, ataukah Bintang Tenggara memaksakan kehendak. Yang jelas, ramuan tersebut terbukti manjur.

“Terima kasih atas kebaikan hati Kapten Sisinga.”

“Aku yang sepantaskan mengucapkan terima kasih,” tanggap Kapten Sisinga. “Adalah engkau yang bermurah hati dengan meramu obat demi kesembuhan Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II.”

“Terima kasih pula karena mengizinkan diriku membawa binatang siluman ini bersama,” lanjut Bintang Tenggara.

“Sejak awal, adalah engkau yang menangkap Si Kancil ini. Jadi, adalah wajar pula bilamana aku memperbolehkan engkau membawanya pergi. Tiada perlu bersusah-payah menyusun rencana…” Di balik kata-katanya, tersirat bahwasanya Kapten Sisinga menyadari akan niat Bintang Tenggara menculik Si Kancil. Meski demikian, lelaki dewasa itu tiada mempertanyakan alasan mengapa anak remaja itu sangat menginginkan binatang siluman tersebut. 

“Diriku turut berduka atas kepergian guru Kapten Sisinga. Walau hanya bertegur sapa sejenak, kuyakin bahwa beliau merupakan sosok nan terhormat.” 

Kapten Sisinga tersenyum canggung. Ia membayangkan bagaimana keadaaannya jika Jenderal Keempat berhasil menjemput paksa sang Yuvaraja dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Karena bilamana berhasil, maka anak remaja itu saat ini pastilah sedang disekap, dan suasana di Kerajaan Garang tentunya ramai karena segenap serdadu sedang melakukan persiapan menghadapi perang besar. 

“Segala sesuatu tentu ada hikmahnya…,” gumam Kapten Sisinga. Ia tak hendak terlalu larut dalam kesedihan. Walau, bagi Kapten Sisinga, sesungguhnya Jenderal Keempat sudah ibarat sosok ayah yang sangat ia hormati. Kematian di kalangan serdadu, bahkan dengan gelar jenderal sekalipun adalah keniscayaan. Meski patut disesali, bahwa ajal menjemput tidak di medan perang.

Yang sangat disayangkan lagi, adalah kenyataan bahwa seorang jenderal sekaligus ahli nan perkasa, bisa menjadi korban pembunuh bayangan. Yang menjadi pertanyaan di dalam benak, adalah pembunuh bayangan seperti apa yang mampu menyelinap tanpa disadari ke dalam istana seorang jenderal. Kemudian, pembunuh bayangan tersebut pun tak meninggalkan jejak sama sekali. Setelah ini, Kapten Sisinga akan melakukan penyelidikan sendiri. 

Dua orang ahli lain melangkah masuk ke halaman di mana prasasti gerbang dimensi Kerajaan Garang berada. Mereka adalah pemuda kurus kerempeng dan si kusir. Keduanya menampilkan raut ketidakpercayaan bahwa Bintang Tenggara mendapat izin menggunakan gerbang dimensi kerajaan. Awalnya, rencana mereka meninggalkan Pulau Satu Garang adalah menyelinap menggunakan gerbang dimensi yang terbuka bagi khlayak di tempat lain. 

“Kemanakah tujuan Tuan sekalian…?” Penjaga gerbang dimensi sedikit lagi merampungkan rapalannya. 

“Apakah kiranya kami dapat menuju ke wilayah tenggara…?” Bintang Tenggara berujar cepat. Ia mengabaikan keheranan pemuda kurus kerempeng dan si kusir. Mereka tentu berharap untuk kembali ke tujuan awal, yaitu ke Kota Seribu Sungai di Pulau Belantara Pusat. Meskipun demikian, kedua ahli tersebut tak mempertanyakan, apalagi mengajukan keberatan.

“Sejumlah gerbang dimensi ruang di wilayah tenggara rusak sejak lama…,” ungkap petugas gerbang dimensi itu. “Tempat gerbang dimensi terdekat ke wilayah tenggara adalah di Kota Taman Selatan di Pulau Dewa.”

Tak ada satu pun ahli di tempat ini yang menyadari penyebab rusaknya gerbang dimensi di seluruh wilayah tenggara Negeri Dua Samudera secara serempak pada suatu waktu sekira setahun yang lalu. Tidak juga Bintang Tenggara. Kemungkinan besar, satu-satunya tokoh yang mengetahui kejadian tersebut adalah Kum Kecho seorang. Adalah Bintang Tenggara, pada saat itu, yang menerobos paksa formasi segel yang menyembunyikan Pulau Bunga. Tindakan tersebut berdampak luas, sehingga menjadi penyebab rusaknya berbagai gerbang dimensi di wilayah tenggara, termasuk membuat Panglima Segantang tersimpang arah serta membebaskan Kum Kecho dari Segel Sutra Lestari.

Bintang Tenggara mengangguk, dan sambil menenteng tali kekang yang membelenggu Si Kancil, ia melompat ke dalam lorong dimensi ruang yang telah membuka penuh. 

Tak lama, ketiga manusia dan seekor binatang siluman tiba di pinggiran Kota Taman Selatan. Bintang Tenggara memimpin rombongan kecil ini. Mereka melangkah cepat ke arah Monumen Genta sebagai pintu masuk menuju Perguruan Gunung Agung. Setibanya di perguruan nanti, anak remaja itu akan segera meminjam binatang siluman Elang Laut Dada Merah. Baru setelah itu ia akan terbang langsung ke Pulau Bunga, tempat di mana tubuh Super Guru Komodo Nagaradja berdiam. Pemuda kurus kerempeng dan si kusir akan dititipkan sejenak di Perguruan Gunung Agung. 

“Kancil, bagaimanakah cara kerja unsur kesaktian putih…?” Bintang Tenggara membuka pembicaraan sambil menghitung setiap langkah yang diambil. 

Si Kancil menatap anak remaja itu. Meski raut wajahnya masih terlihat muak, hati kecil binatang siluman tersebut mengakui bahwa berkat anak remaja itulah ia dapat meninggalkan Kerajaan Garang dalam keadaan sehat sentausa, tanpa terkurang satu apa pun. Akan tetapi, perlu diingat pula bahwasanya tanpa ulah anak remaja itu, tak akan ada penderitaan dan pengalaman traumatis di Istana Utama Kerajaan Garang. Oleh karena itu, Si Kancil hanya diam menatap. 

“Diriku memerlukan bantuan…” Bintang Tenggara menghentikan langkah. 

Si Kancil hanya mendengus, lalu membuang muka. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut binatang siluman yang biasanya mendongeng dengan penuh semangat. Begitu pula dengan si kurus kerempeng dan si kusir, keduanya mengikuti saja rencana sang Yuvaraja.

“Apakah demikian perlakuanmu bilamana hendak meminta bantuan...?” Tetiba Si Kancil berujar, kemudian memperlambat langkah. 

“Oh… Maafkan diriku…” Bintang Tenggara terlihat kikuk. “Diriku terlupa melepaskan tali kekang…”

Si Kancil menanti sabar ketika tali kekang nan ketat yang melingkar di lehernya dibuka. Usai dilepaskan, ia pun memutar leher dan meregangkan tubuh. Betapa lega dan nikmatnya sensasi kebebasan. 

“Nanti, sudikah kiranya Kancil…”

“Tirai Putih!” 

Di saat terjadi perubahan warna di sekujur tubuh, di saat itu pula binatang siluman tersebut melecut lari meninggalkan Bintang Tenggara. Lengah, Bintang Tenggara baru menyadari bahwa mereka sedang berada di depan Balai Dimensi Ruang, yang merupakan salah satu pintu keluar dan masuk dari dan menuju Pulau Dewa. 

Sadarnya Bintang Tenggara datang terlambat. Di saat mengetahui keberadaan gerbang dimensi ruang di dekatnya, binatang siluman tersebut menghentikan langkah dan mengajukan pertanyaan, lalu menanti tali kekang dibuka. Tindakan tersebut merupakan kesempatan untuk melepaskan diri. 

Langkah petir berderak ketika pengejaran sontak dimulai. Bintang Tenggara sangat berpengalaman ketika melarikan diri dikejar-kejar segenap ahli. Akan tetapi, mengejar adalah perkara lain. Dibutuhkan pemahaman yang benar dalam mengejar buruan, sehingga anak remaja tersebut terlihat kikuk.

Tak terlalu jauh di hadapan, Si Kancil memacu langkah lalu serta merta menerobos pintu masuk ke dalam wilayah Balai Dimensi Ruang. Dari salah satu sisi halaman nan luas, ia menyaksikan sejumlah gerbang dimensi sedang dipergunakan oleh beberapa pihak. 

Tanpa pikir panjang, Si Kancil melompat masuk ke dalam lorong dimensi ruang terdekat. Kebetulan sekali, pengguna sebelumnya telah masuk semua. Saat ini, petugas perapalnya sedang merapal formasi segel untuk menutup.

Bintang Tenggara mengekor di belakang. Ia tak hendak kehilangan binatang siluman itu. Tanpa pikir panjang pula, ia ikut melompat masuk ke dalam lorong dimensi yang sedikit lagi menutup.