Episode 57 - Dendam Tak Bertepi


Senja hari itu di puncak gunung Patuha, satu kereta kuda berwarna hitam yang ditarik oleh dua ekor kuda berwarna hitam yang sedari tadi dipacu dengan amat kencang berhenti di sana. Seorang nenek tua yang memegang tongkat di tangan kanannya, berbadan tinggi bungkuk, matanya merah, dan mulutnya merah karena senantiasa selalu mengunyah sirih menatap kereta hitam itu, dari dalam kereta hitam, keluarlah seorang wanita yang sangat cantik berpakaian seperti seorang pria desa biasa berlari menghampirinya sambil menangis, “Eyang guru...” ratapnya.

Si Nenek balas memeluknya, “Mega Sari muridku, aku tahu hari ini kau akan datang kemari, tapi cepatlah bawa jenasah suamimu dan dua abdimu kedalam gua!”

Mega Sari yang cerdas langsung tanggap dengan maksud gurunya, “Apakah akan ada tamu yang tak diundang guru?”

Si Nenek yang tak lain adalah Nyai Lakbok mengangguk, “Iya, nanti malam akan ada begundal-begundal yang akan datang kemari, mereka mengejarmu sekaligus mengincarku, jadi persiapkanlah dirimu!” maka Mega Sari pun cepat-cepat memerintahkan Ki Silah untuk membawa jenasah Dharmadipa masuk kedalam gua, ia dan Emak Inah langsung menyusul masuk, sementara si nenek tetap berdiri di tempatnya memandang lekat-lekat ke arah lereng gunung.

Malam harinya ketika hari telah sampai pada peraduannya, bulan sabit nampak enggan menyinari malam itu, bintang-bintang seolah bersembunyi dalam hamparan beludru hitam langit malam, kabut tipis dan angin malam yang mencucuk tulang sumsum mulai turun menyelimuti bumi melengkapi suasana gelap gulita, hujan rintik-rintik diselingi kilatan-kilatan petir seakan menambah seramnya suasana malam di puncak gunung Patuha tersebut.

Tiba-tiba munculah sepuluh orang berbadan tegap berpakaian serba hitam menyeruak dari balik semak-semak, mereka lalu melangkah dengan perlahan dan sangat berhati-hati ke areal kawah putih di puncak gunung Patuha. Langkah dan gerak-gerik mereka sangat ringan, nyaris tidak menimbulkan suara. Salah seorang dari mereka memberi isyarat ketika matanya membentur mulut lobang goa di puncak Patuha tersebut, kesembilan kawannya lalu membentuk sebuah setengah lingkaran barisan mengepung mulut goa tersebut.

Seseorang yang nampaknya menjadi pemimpin mereka maju tiga langkah kedepan, ia lalu bersidekap dan memejamkan matanya, dari sekujur tubuhnya keluarlah kabut tipis berwarna putih bertiup menyebar masuk kedalam goa, beberapa saat kemudian ia pun membuka matanya kembali.

“Aku sudah memberi ajian sirep pada mereka semua didalam hingga mereka pasti akan tertidur sangat pulas, kau Radun dan Karnipa, masuklah, bunuh Putri Mega Sari dan si nenek sihir itu dengan Keris pusaka kalian!” kedua orang yang disebut namanya segera menjura hormat pada si pimpinan, mereka lalu masuk kedalam goa dengan gerakan yang cepat dan sangat ringan tanpa menimbulkan suara.

Didalam goa yang menyerupai altar penyembahan kepada Berhala Iblis, mereka mendapati Mega Sari, Nyai Lakbok, Ki Silah, dan Emak Inah sedang tertidur pulas, sedang mayat Dharmadipa tergeletak tepat di bawah patung Berhla Iblis. Kedua penyusup ini lalu menghampiri Mega Sari, mereka menelan ludahnya ketika melihat kain sampingnya tersingkap hingga hampir memperlihatkan bagian yang paling pribadi dari putri mendiang Prabu Kertapati itu!

Mereka terus mendekati Mega Sari selangkah demi selangkah dengan menahan debaran jantungnya, gelora nafsu kelelakian mereka membakar jiwanya ketika melihat kaki dan paha Mega Sari yang seolah bercahaya itu ditambah dengan kembennya yang agak melorot, apalagi ketika bagian intim Mega Sari hampir saja tersingkap, rasanya hampir copot jantung mereka!

Mereka terus melotot menikmati jengkal demi jengkal setiap lekuk tubuh Mega Sari, lupalah mereka pada tugas dan tujuan utama mereka untuk membunuh Mega Sari dan Nyai Lakbok! Mereka kemudian memutuskan untuk menunda tugasnya dan memilih untuk menikmati tubuh Mega Sari, saat mereka hendak menotok tubuh Mega Sari, tiba-tiba Mega Sari membuka matanya dan memelototi mereka, bukan main terkejutnya mereka berdua, kedua kaki Mega Sari yang indah itu langsung menendang kedua penyusup itu hingga mereka jatuh tersungkur!

‘”Dasar pengkhianat kurang ajar! Ilmu sirep kalian tidak berarti buatku!” bentak Mega Sari.

Nyai Lakbok, emak Inah, dan Ki Silah pun terbangun, kedua penyusup itu menatap tajam pada Mega Sari dan Nyai Lakbok, “Kau perempuan sihir berhati busuk! Dosamu sudah ketahuan luber pada seluruh rakyat Mega Mendung!” bentak Ki Radun.

“Dan kau nenek sihir iblis! Kaulah yang menyebarkan ajaran sesat di Mega Mendung! Kau juga harus mampus!” timpal Ki Karnipa.

Mendengar itu Nyai Lakbok tertawa cekikian menyeramkan sekali, tiba-tiba Fruhhhh!!! Ia menyemburkan sirih yang dikunyahmya dari dalam mulutnya, Ki Radun berhasil menghindar, tapi malang bagi Ki Karnipa, semburan sirih itu ternyata bukan semburan biasa, semburan itu tepat mengenai mata Ki Karnipa, pria paruh baya ini berteriak-teriak kesakitan ketika wajahnya yang kena sembur meleleh, ia pun jatuh berkelojotan dan akhirnya mati!

Bukan main terkejutnya Ki Radun, ia segera mencabut kerisnya dan menyerang Nyai Lakbok, tapi Mega Sari langsung menyambar menyerangnya terlebih dahulu, Ki Radun terkejut dan putar balik serangannya, Kerisnya mengarah ke jantung Mega Sari.

Wanita ini melompat ke atas menghindari serangan maut itu, ketika kakinya menjejak ke bumi ia segera lepaskan pukulan, “Bintang Penabur Nyawa” yang ia dapatkan dari Nyai Mantili, selarik sinar berwarna perak menggidikan yang sangat panas menderu menerjang Ki Radun, karena datangnya pukulan itu begitu mendadak Ki Radun tak sempat untuk menghindar, maka… Blarrr! Aaaaa!!! Jerit Ki Radun, tubuhnya terhempas menabrak tembok gua lalu mati dengan tubuh hangus!

Nyai Lakbok lalu menghampiri mayat kedua penyusup itu, sungguh ajaib, tubuh si nenek bungkuk yang sudah tua renta ini sanggup untuk menggendong dua mayat pria paruh baya itu, ia lalu melangkah cepat keluar dari goa diikuti oleh Mega Sari dan Ki Silah juga emak Inah.

Kedelapan orang yang mengepung mulut goa itu terkejut bukan main ketika dua mayat melayang dari dalam goa, mereka pun melompat mundur dari mulut goa, mereka bertambah terkejut ketika mengenali kedua mayat itu. “Radun dan Karnipa!” desis si Pemimpin.

Saat itu keluarlah Nyai Lakbok, Nilamsuri, Ki Silah, dan Emak Inah dari dalam goa. Mega Sari menatap mereka semua dengan tatapan penuh dendam dan kebencian, kiranya Mega Sari mengenali mereka semua, mereka adalah prajurit-prajurit Mega Mendung yang setia pada Pamannya, Pangeran Bogaseta yang kini telah menjadi Raja di Mega Mendung. “Anjing-anjing Bogaseta si penghianat busuk!” makinya.

Kedelapan orang itu tertawa berbarengan melihat Mega Sari, “Hahaha... Aku Tumenggung Tapak Ireng, utusan dari Gusti Prabu Arya Bogaseta, datang untuk membunuhmu dan Gurumu, perempuan-perempuan iblis sihir penganut ajaran sesat! Dosa-dosamu yang menyengsarakan seluruh rakyat Mega Mendung sudah tak terampuni!”

Mega Sari mendelikan matanya, ia sangat terkejut karena mendnegar bahwa pamannyalah yang menjadi Raja bukan Kakaknya Jaya Laksana. “Prabu Arya Bogaseta?! Bagaimana bisa kalian menjadikan penghianat seperti dia yang menjilat Sultan Banten menjadi Raja kalian?! Bagaimana dengan Kakang Jaya Laksana?!”

Tapak Ireng ganda tertawa sambil berkacak pinggang dengan gaya yang memuakan. “Hahaha... Bagaimana bisa kami mempercayakan nasib kami pada orang bodoh yang tidak tahu apa-apa soal pemerintahan? Ia juga terlalu pengecut untuk menjadi pemimpin negeri ini! Lagipula bagaimanapun ia adalah putra sulung dari Prabu Kertapati, mana bisa kami tunduk padanya? Kami akan segera menyingkirkannya ke neraka segera setelah kami membereskan hidupmu!”

Kini giliran Mega Sari yang kaget bukan main. “Apa?! Jadi kalian pun hendak menyingkirkan Kakang Jaya?! Sungguh anjing-anjing yang tidak tahu budi! Bukankah kalian menganggap bahwa Kakang Jaya adalah penyelamat kalian?!”

Tumenggung Tapak Ireng menyungingkan senyum culasnya sambil menatap Mega Sari, “Tapi bagi kami, seluruh keturunan Kertapati harus lenyap dari atas bumi ini! Saat ini Gusti Prabu memang belum menemukan alasan yang tepat untuk membunuhnya, maka ia memerintahkan kami untuk membunuhmu terlebih dahulu, setelah tahu adik kandungnya mati, ia pasti akan membalas dendam, maka kami akan punya alasan untuk membunuhnya!”

“Setan alas! Dasar ular beludak! Licik!” Maki Mega Sari marah sekali.

Hampir ia melompat untuk menerjang Tapak Ireng, tapi Nyai Lakbok segera menahannya. “Tunggu! Mereka berhasil melewati tabir pembatas dan naik ke puncak gungung ini, berarti mereka cukup lumayan, biar aku yang menghadapi mereka muridku!” Mega Sari pun mundur mempersilahkan gurunya meski dengan hati yang masih dibakar oleh amarah.

“Ho? Jadi kau pingin mampus duluan Nenek Sihir? Bagus, yang tua memang harus lebih dulu mampus!” ejek Tapak Ireng.

Nyai Lakbok tertawa cekikikan, suara tawanya melengking menusuk-nusuk gendang telinga delapan pasukan Mega Mendung itu, tanah disekitar puncak Gunung Patuha pun terasa bergetar oleh tawa si nenek. “Kita lihat saja siapa yang mampus duluan!” tukas Nyai Lakbok.

Menerjanglah kedelapan orang itu dengan berbagai senjatanya, tongkat di tangan si nenek pun terangkat menghantam kian kemari, setiap gerakan yang ditimbulkan oleh tongkat itu menimbulkan angin dingin teramat deras yang membuat seluruh tulang para penyerangnya nyeri, apalagi kalau sampai kena babuk tongkat itu, pastilah tulang mereka akan patah, pertanda tenaga dalam si nenek sangat luar biasa! Dalam dua jurus kemudian mulai terdengar suara jeritan, seorang prajurit Mega Mendung jatuh dengan kepala pecah, ia berkelojotan beberapa saat kemudian mati!

Terkejutlah mereka melihat kehebatan si nenek yang mereka kira hanya pandai bermain teluh dan sihir, belum habis keterkejutan mereka, tubuh si nenek sudah berkelebat lagi, bagaikan hantu tubuh si nenek berkelebat kian kemari dengan sangat cepat! Seorang prajurit berhasil memanfaatkan kelengahan Nyai Lakbok yang sibuk meladeni keenam serangan gencar pada dirinya, ia melompat menerjang dengan pedang diluruskan mengarah jantung Nyai Lakbok! 

Sesaat sebelum pedang menyambar dada si Nenek, lima jari tangan kiri si nenek yang ditumbuhi kuku panjang runcing berwarna hitam mengepal kemuka! Selarik sinar hitam yang teramat panas menderu dan tubuh si prajurit mencelat ke dinding gunung dalam keadaan hangus, roboh ketanah tanpa bisa berkutik lagi! Bau daging terpanggang memenuhi puncak gunung itu itu!

“Pukulan Bara Hitam! Awas hati-hati!” teriak Tapak Ireng memberi peringatan, Kejut Tapak Ireng dan sisa anak buahnya bukan alang kepalang, prajurit itu adalah prajuirt pilihan Mega Mendung yang mempunyai kesaktian yang tinggi, Bagaimana dia bisa dibikin konyol dalam satu gebrakan begitu saja?!

Tapak Ireng tak menunggu lebih lama. Begitu juga empat kawannya. Serentak mereka menerjang kedepan! Pertempuran hebat segera berkecamuk kembali! Tiga jurus berlalu dengan cepat, Tapak Ireng mulai mengeluh karena ia dan ketiga anak buahnya kena didesak hebat oleh Nyai Lakbok, hingga satu jeritan lagi terdengar, satu orang lagi roboh tersambar bola api yang keluar dari tongkat si nenek!

Tiba tiba Tapak Ireng bersuit memberi tanda. Ketiga sisa kawannya melompat mundur. Dan disaat itu terdengar suara menggelegar! Cambuk ditangan Tapak Ireng melesat menghantam ke arah muka Nyai Lakbok. Dikejap yang sama lima buah pisau menderu dilemparkan seorang prajurit Mega Mendung yang ahli melempar pisau! 

Nyai Lakbok membentak keras hingga puncak Gunung Patuha itu tergetar hebat! Kelihatan sekilas tangannya yang sebelah kiri bergerak kemudian tubuhnya lenyap. Sekejap kemudian terdengar suara bergedebuk yang disusul suara pekik setinggi langit dan yang terakhir suara seruan tertahan! Apa yang terjadi demikian cepatnya hingga tak sempat seorangpun dari para penyusup itu dapat melihat dengan jelas. 

Ketika semua itu telah terjadi barulah mereka sadar dan terkesiap! Sewaktu diserang oleh cambuk dan lima buah pisau. Nyai Lakbok jatuhkan dirinya kelantai sambil mempergunakan tangan kiri menyambut bagian belakang dari ujung cambuk! Bukan saja Nyai Lakbok berhasil menyambut dan menangkap ujung cambuk Tapak Ireng tapi sekaligus begitu jatuhkan diri dia melewatkan lima pisau yang terbang kearahnya dan bergulingan ketempat si prajurit pisau yang telah melepaskan kelima pisau itu. Saking cepatnya gerakan itu si prajuirt Pisau sendiri tak tahu kalau dirinya diserang.

Dan tiba tiba saja satu babukan dari ujung tongkat si Nenek yang bagaikan ratusan kati beratnya telah melanda dadanya! Tulang dadanya hancur! Darah membusah dimulutnya. Tubuhnya rebah kebawah! Dilain kejap Nyai Lakbok melompat kekiri dan membuat tiga kali putaran. Maka tahu-tahu Tapak Ireng merasakan sekujur tubuhnya telah terikat erat oleh cambuknya sendiri hingga untuk beberapa saat lamanya dia tak bisa bergerak barang sedikitpun! Nyai Lakbok tertawa cekikikan!

Suara tawanya lenyap ditelan deru dua serangan dari samping yaitu serangan yang dilancarkan dua orang Prajurit Tombak! Serangan ini hebat dan ganas sekali karena dilancarkan dengan penuh amarah serta segala kelihayan yang ada! Dan hasil dari serangan itu adalah lebih hebat lagi! Sekejap senjata kedua prajurit itu akan menemui sasarannya maka menghebuslah deruan angin laksana topan prahara. 

Kedua tombak ditangan kedua anak buah Tapak Ireng itu patah berkeping-keping. Keduanya terhuyung-huyung dengan memegangi dada yang berlumuran darah, dada mereka berdua melesak kena jotosan tongkat. Si Nenek sabetkan lagi tongkatnya, angin badai laksana topan prahara yang beratnya ratusan kati menghantam mereka, Blarrr!!! Suara dentuman keras terdengar, kedua prajurit itu terpelanting dengan tubuh yang sudah tidak bernyawa, seluruh tulang di tubuh mereka hancur! Kembali si Nenek tertawa cekikian mengerikan.

Nyai Lakbok berpaling pada Tapak Ireng yang saat itu telah melupakan untuk membebaskan dirinya dari libatan cambuk karena terkesiap melihat bagaimana semua anak buahnya satu demi satu menemui ajal ditangan Nyai Lakbok! "Bagaimana?! Apakah kau masih punya nyali untuk menghadapi ku?!" tanya Nyai Lakbok. Paras Tapak Ireng yang tadi sepucat kertas kini menjadi kelam merah. Sekali dia berontak maka lepaslah ikatan cambuk disekujur tubuhnya! 


“Masih mau melawan?!” bentak Nyai Lakbok sambil siapkan pukulan “Bara Hitam” di tangan kanannya sementara tongkatnya pindah ke tangan kirinya. 

“Aku mengadu jiwa denganmu nenek sihir!” teriak Tapak Ireng yang menerjang dengan seluruh tenaganya ke Nyai Lakbok, si nenek pukulkan tangan kanannya ke muka, selarik sinar hitam yang teramat panas menderu dan terdengarlah pekik pemimpin pasukan pembunuh itu! Riwayatnya tamat! Tubuhnya hangus kehitaman, menghamparlah bau daging yang terpanggang!

“Cuih! Kemampuan hanya segitu berani menantangku!” ejek si Nenek sambil meludahi mayat Ki Tumenggung Tapak Ireng. Ia lalu menyabetkan tongkatnya, bertiup lah angin deras yang membawa terbang semua mayat di sana, semua mayat itu berjatuhan kedalam kawah putih diatas puncak gunung Patuha tersebut, ia lalu mengajak muridnya masuk kedalam gua seolah tidak terjadi apa-apa.

***

Pagi harinya, Mega Sari memandikan mayat Dharmadipa, ia membersihkan semua kotoran dan luka-luka Dharmadipa, sementara Nyai Lakbok memperhatikan mayat tersebut dengan mata tak berkesip. “Mayat suamimu belum rusak, padahal sudah tujuh hari sejak kematiannya... Pasti mendiang Prabu Wangsadipa dulu memberikan satu azimat pada tubuh putranya ini…” 

Mega Sari menggelengkan kepalanya, “Saya tidak tahu guru, Kakang Dharmadipa tidak pernah bercerita apapun pada saya soal itu”.

Si nenek memejamkan matanya sejenak, ketika ia membuka matanya, ia melihat ada sesuatu yang berkilauan di paha sebelah kanan mayat Dharmadipa. “Ya... Ya... Mendiang Prabu Wangsadipa menanamkan susuk yang sangat ampuh di Paha sebelah kanannya semenjak bayi agar putranya ini menjadi orang yang sakti mandraguna, susuk ini seharusnya dicabut sebelum ia meninggal dengan daun kelor, tapi ia keburu meninggal oleh Ayahmu.”

Mega Sari tak menyahut, seketika itu ia langsung teringat kepada peristiwa menyedihkan beberapa hari yang lalu saat Prabu Kertapati menghabisi nyawa anak menantunya sendiri. Ia hanya menundukan kepalanya, bahunya berguncang menahan isak tangisnya.

Si Nenek mahfum dengan apa yang sedang dirasakan oleh Mega Sari, ia pun menepuk bahu Mega Sari. “Muridku, apakah engkau bersungguh-sungguh ingin melakukan perjanjian Wasiat Iblis seperti mendiang ayahmu dulu?”

Mega Sari mengangguk, Nyai Lakbok menghela nafas berat, ia sebenarnya merasa keberatan pada keinginan muridnya untuk melakukan Perjanjian Wasiat Iblis seperti mendiang ayahnya. “Perjanjian Wasiat Iblis itu tidak mudah, harganya sangat mahal! Kamu sendiri pasti lebih dari sekedar tahu bahwa ayahmu sendiri gagal memenuhi perjanjian Wasiat Iblis nya dengan Kakang Mahesa Kala Sura, ia tidak sanggup membunuh putra sulungnya sendiri, meskipun kemudian ia banyak mempersembahkan nyawa bagi Eyang di Alam Akhirat, semuanya percuma sebab perjanjian utamanya adalah nyawa putra sulungnya, kakakmu Jaya Laksana!”

Si Nenek lalu menatap lagi wajah muridnya yang masih menangis sesegukan. “Mega Sari, sebenarnya aku tidak mengerti untuk apa dendammu itu? Kepada siapa kau menaruh dendam? Bukankah yang membunuh suamimu dan ibumu adalah ayahmu sendiri? Dan yang membunuh Ayahmu adalah kakakmu sendiri? Padahal kau bilang kau tidak menaruh dendam pada kakakmu…

Mega Sari, perlu aku peringatkan kalau itu semua terjadi akibat Ayahmu yang tidak sanggup untuk melaksanakan perjanjian Wasiat Iblis, bahkan kakakku sendiri si Topeng Setan ikut tewas akibat ia gagal menjadi perantara perjanjian Wasiat Iblis, semua yang mati adalah tumbal dari gagalnya perjanjian Wasiat Iblis!”

“Saya tahu itu! Tetapi saya tidak rela mereka merebut segalanya dari saya! Mereka telah menghancurkan hidup saya dan menghina mendiang ayahanda Prabu juga Ibu Dewi! Bahkan sekarang mereka hendak membunuh Kakak saya yang tadinya mereka anggap sebagai Sang Penyelamat Mega Mendung hanya karena ia keturunan ayahanda Prabu! Mereka hanya binatang-binatang lapar yang ingin merebut kekuasaan Ayahanda Prabu dan melenyapkan seluruh keturunan Prabu Kertapati!” jerit Mega Sari histeris dengan air mata bercucuran.

“Saya juga tidak sanggup kehilangan suami saya, orang yang paling saya cintai! Maka... Maka dari itu saya mohon pada Nyai Guru untuk menghidupkan kembali suami saya, hanya ia yang bisa menemani saya, hanya ia yang tulus mendampingi saya dalam suka maupun duka, hanya ia yang pantas menjadi teman hidup saya... Dan yang terpenting hanya melalui dia aku akan sanggup untuk menghancur leburkan Mega Mendung!”