Episode 56 - Keris Kyai Segara Geni



Sekitar dua ratus tahun yang lalu, terjadilah satu peristiwa besar yang mengguncang bathin semua orang di tanah Pasunda, yakni peristiwa terbunuhnya Prabu Linggabuana dan putri Dyah Pitaloka Citraresmi beserta seluruh abdi dan kesatrianya di padang Bubat Majapahit. Hyang Bunisora sang Mangkubumi yang menjadi wakil sementara Prabu Linggabuana untuk memimpin kerajaan Sundapura pun menjadi sangat khawatir jikalau Majapahit akan menyerbu negerinya. 

Maka ia pun memerintahkan kepada Resi Antaboga, seorang pertapa sekaligus pandai besi dari Gunung Gede yang dikenal paling sakti di tanah Pasundan ini untuk memohon petunjuk kepada Hyang Widhi agar bisa dibuatkan satu pusaka untuk melindungi seluruh Tanah Pasundan dari tangan Majapahit. Sang Resi pun mendapat ilapat bahwa ia harus bersemedi 30 hari 30 malam di puncak Gunung Krakatau untuk memperoleh petunjuk dari Dewata Tersebut.

Pada suatu malam di Gunung Krakatau, seorang Resi berjubah putih, yang telah amat tua usianya nampak sedang bersemedi dengan khusyuknya di bibir kawah Gunung Kraatau. Sudah 30 hari 30 malam ia bersemedi di tempat itu dengan khusyuknya, mengheningkan cipta dengan mencurahkan segala alam pikiran dan perasaannya kepada Sang Jagatnata. 

Tepat tengah malam, Sang Resi membuka matanya, kemudian Ia menatap rembulan purnama yang bersinar terang di atas langit malam yang bertaburan bintang malam itu, dengan perlahan Sang Resi berucap “Oh Sang Jagat Dewa Batara, hamba Antaboga memohon petunjuk padaMU, hamba sedang mengemban tugas dari Hyang Bunisora, sang Mangkubumi Sundapura untuk memohon petunjuk PadaMU agar kami dapat mempertahankan diri dari serbuan Majapahit…”* 

Tiba-tiba angin badai bertiup di puncak gunung tersebut, bumi bergetar hebat, kawah didalam perut Gunung Krakatau bergejolak dahsyat, udara malam itu yang tadinya amat dingin sontak berubah menjadi amat panas, hujan deras disertai petir pun langsung turun! Namun semua fenomena lam yang mengerikan tersebut tidak membuat Resi antaboga beranjak dari tempatnya, ia masih tetap duduk bertafakur sambil menatap bulan purnama yang kini tertutup oleh sekawanan awan hitam gelap tersebut.

Beberapa menit kemudian, nampaklah satu keanehan lagi yang jauh lebih luar biasa daripada semua yang terjadi tadi, tiba-tiba langit malam diatas puncak Gunung Krakatau tersebut bergetar hebat, tampaklah satu pusaran aneh di langit tersebut, dan terbukalah satu lubang raksasa di pusat pusaran tersebut! Petir raksasa nampak keluar menyambar-nyambar dari dalam lubang di langit tersebut, kemudian munculah sebuah bola api raksasa yang terang-benderang!

Wusshhh! Bola api raksasa tersebut melayang jatuh kedalam lubang kawah di Gunung Krakatau tersebut! Bleeddaarrr!!! Satu ledakan dahsyat menggelegar menimbulkan gempa bumi yang teramat dahsyat di seantero selat Sunda! Lahar panas memancar keluar dari perut gunung kawah tersebut!

Resi Antaboga berdiri dari duduknya, kemudian ia menatap kedalam perut gunung kawah yang sedang Meletus tersebut, ia tersenyum lebar sambil mengangguk-ngangguk. “Terima kasih atas karuniaMU Hyang Widhi…” ucapnya sambil menjura keatas langit. Resi antaboga kembali melirik kedalam perut kawah tersebut, ia menarik nafas dalam lalu… Wushhh! Ia melompat masuk kedalam perut gunuh kawah yang sedang Meletus tersebut! 

Dengan segala kesaktiannya, Resi antaboga berhasil masuk kedalam dasar kawah yang terdalam dari Gunung Krakatau. Orang tua ini kemudian celingukan kesana-kemari, sampai ia melihat satu kilauan berwarna biru dari suatu sudut. Ia kemudian menghampiri kilauan tersebut, ia berjongkok kemudian memungut benda yang berkilauan tersebut, ternyata benda yang berkilauan tersebut adalah sebongkah besi baja yang nampak sudah sangat tua.

Sang Resi termenung sejenak sambil menggenggam besi tersebut, “Ternyata besi ini adalah pecahan dari batu meteorit seribu tahun yang lalu, danmeteor yang baru saja turun adalah wahyu kesaktian yang diberikan oleh langit pada batu meteor ini…” bathinnya. Kemudian setelah menjura hormat, ia melompat keatas keluar dari gunung kawah tersebut, ia langsung menuju ke Gunung Gede untuk menempa batu meteorit yang selalu memancarkan cahaya berwarna biru tersebut untuk dibuat sebilah Keris Pusaka. 

Kelak Keri situ diberi nama Kyai Segara Geni karena terbuat dari batu meteorit yang bermeayam didalam perut kawah Gunung Karakatau serta memiliki kesaktian berupa inti api.

(*Pada saat itu seluruh wilayah tanah Pasundan berada di bawah kekuasaan kerajaan Sundapura yang beribu kota di Kawali, wilayah Galuh Pakuan. Rajanya Prabu Linggabuana beserta istri, dan putrinya yakni Putri Dyah Pitaloka Citraresmi tewas dalam perang Bubat di Majapahit. Adik Sang Prabu, Hyang Bunisora yang saat itu menjabat sebagai Mangkubumi, menjadi raja sementara Sundapura karena putra Mahkota Sang Wastu Kencana masih kecil. 

Keadaan Sundapura saat itu sangat mencekap karena khawatir akan diserbu oleh Majapahit, sampai akhirnya datang 3 orang pemuka agama dari Bali yang merupakan utusan dari Prabu Hayam Wuruk yang memohon maaf kepada kerajaan Sundapura atas kejadian Perang Bubat. Prabu Hayam Wuruk pun mempersilahkan pada pihak Sundapura untuk membawa abu jenasah Prabu Linggabuana beserta seluruh orang Sunda yang gugur di medan Bubat, serta meminta kepada 3 orang utusannya dari Bali tersebut untuk menuliskan kisah Tragedi Perang Bubat tersebut. Kelak kisah ini akan dikenal dengan sebutan “Serat Sundayana”).

***

Di kamar Prabu Bogaseta, Jaya dan Ki Balangnipa datang menghadap. Sang Prabu pun mempersilahkan mereka masuk dan duduk untuk membicarakan satu hal yang amat penting, saking pentingnya hal ini dibicarakan didalam kamar Sang Prabu yang berarti hal yang akan diperbincangkan amat rahasia.

“Jadi kau akan berangkat besok pagi ke tagok apu Jaya?” Tanya Sang Prabu yang melontarkan satu pertanyaan basa-basi karena ia sudah tahu dan Jaya paham benar kalau itu hanya pertanyaan basa-basi untuk membuka perbincangan.

Jaya menjura hormat sebelum menjawab, “Benar Paman Prabu, saya akan segera berangkat begitu selesai Sholat Subuh.”

Prabu Bogaseta mengangguk-ngangguk, “Ya ya... Namun satu hal yang aku sayangkan adalah calon istrimu Galuh Parwati dan gurunya si Dewa Pengemis menolak keramah tamahanku untuk tinggal di keraton selama mereka menunggumu di Rajamandala.”

Jaya jadi merasa tidak enak dengan teguran Sang Prabu tersebut. “Maafkan saya Paman Prabu, tapi mereka berdua merasa kurang cocok untuk hidup di lingkungan keraton, karena selama ini mereka terbiasa hidup di alam bebas dan berasal dari golongan pendekar bukan menak keraton, mohon ampuni kelancangan mereka.”

Prabu Bogaseta mengangguk. “Ya aku maklum dengan kondisi mereka…”

Sebenarnya saat itu Prabu Bogaseta ingin langsung membicarakan perihal maksudnya memanggil Jaya dan Ki Balangnipa, namun ia merasa masih merasa segan, maka ia pun mengajak mereka mengobrol tentang politik terlebih dahulu, dan nasihat-nasihat untuk Jaya yang nanti akan “Bersekolah” dan “Ngenger” di Banten, setelah berbicara panjang lebar akhirnya ia pun mengutarakan maksudnya “Jaya, kau tentu tahu bahwa dalam tradisi Mega Mendung, ada satu syarat sahnya seseorang menjadi pemimpin Mega Mendung.” (Ngenger = Mengabdi)

Jaya dan Ki Balangnipa sudah dapat menduga maksud Prabu Bogaseta sedari tadi, Jaya mengangguk. “Benar Paman Prabu, saya paham sekali bahwa Keris Kyai Segara Geni adalah senjata perlambang sahnya seseorang menjadi pemimpin di Mega Mendung.”

“Benar... Keris Kyai Segara Geni lah yang menjadi alasan ayahmu yang menjadi naik menjadi Prabu, bukan ibumu yang naik menjadi seorang ratu di Mega Mendung...” sahut Prabu Bogaseta dengan suara dalam dan wajah sangat serius.

Jaya mafhum dengan maksud pamannya, ia pun mengambil Keris Pusaka warisan Ayahnya yang ia selipkan di pinggulnya, ia lalu menyerahkannya dengan hormat pada Pamannya. “Ampun Paman Prabu, ini saya serahkan keris pusaka Kyai Segara Geni pada Paman Prabu...”

Mata Prabu Bogaseta berkilat-kilat melihat keris yang terbuat dari besi dasar kawah gunung Krakatau yang berusia seribu tahun tersebut, dengan jantung berdebar kencang ia mengambil keris itu, tapi baru saja tangannya menyentuh keris pusaka itu, ia merasakan satu daya tolak dari keris itu yang amat luar biasa, bahkan tenaga luar dan dalamnya seolah disedot oleh keris itu! Dengan penuh penasaran, ia lipat gandakan tenaga dalamnya untuk meraih keris itu, tapi percuma, hingga ia bermandikan keringat dingin dan akhirnya jatuh terjengkang, ia tidak mampu mengambil keris pusaka itu.

Ki Balangnipa yang tanggap akan peristiwa itu langsung memegang tubuh sang Prabu dan membantunya bangun. “Ampun Gusti Prabu, setahu saya tidak semua orang bisa memegang apalagi memiliki keris Kyai Segara Geni, hanya pewaris yang sah dari pemiliknya yang terdahulu yang akan dipilih oleh keris tersebut untuk menjadi tuannya.”

Prabu Bogaseta duduk terdiam sambil menatap sayu keris yang masih dalam posisi disodorkan oleh kedua tangan Jaya, “Ya akupun mendengar kisahnya demikian Kakang Patih, tapi bagaimanapun keris itu adalah salah satu syarat sahnya seseorang menjadi raja di Mega Mendung ini! Dan saat ini posisiku juga lemah karena gojang-ganjing politik soal Banten, Bagaimana aku bisa meyakinkan para abdi Negara dan seluruh rakyat kalau aku akan berusaha membawa kesejahteraan bagi mereka semua dengan menjadi Prabu di Negeri ini?” keluhnya dengan lemas.

Ki Balangnipa menjura hormat, “Ampun Gusti Prabu, tapi menurut hemat saya, tanpa keris pusaka Kyai Segara Geni pun Gusti masih bisa memerintah dan mendapatkan kepercayaan dari seluruh rakyat Mega Mendung, kalau Gusti dapat mensejahterakan rakyat dan semua Abdi Negara, mewujudkan Negara yang tata titi tentrem kertaraharja, serta gemah ripah repeh loh jinawi, dengan sendirinya gonjang-ganjing politik akan hilang dengan bukti semua yang Gusti lakukan untuk rakyat... Selain itu masih banyak pusaka keraton yang sakti seperti tombak Kyai Jagatru dan Kereta Kencana Kyai Jatayu Bodas, serta Gong Kyai Bentar.” Prabu Bogaseta hanya mengangguk-ngangguk lemah dengan raut wajah penuh kekecewaan.

***

Dua hari kemudian di bukit Tagok Apu, rombongan Jaya telah sampai di depan gerbang Padepokan Sirna Raga, Jaya, Galuh, Dewa Pengemis, Tumenggung Braja Paksi, dan 12 orang prajurit pilihan Banten duduk di bawah pohon Beringin depan gerbang padepokan tersebut. Beberapa anak murid Padepokan melihat kedatangan mereka, dan menghampiri Jaya, Jaya pun mengutarakan maksudnya, si anak murid lalu berlari kedalam padpeokan.

Saat itu Soma adik seperguruan Jaya sedang mengawasi latihan para anak murid Padepokan yang masih muda, datanglah seorang murid melaporkan pada Soma “Maaf Kang, ada tamu dari Mega Mendung dan Banten, ingin bertemu Guru.”

“Siapa?” Tanya Soma.

“Raden Jaya Laksana atau Jaka Lelana, dan Tumenggung Braja Paksi, utusan Sultan Banten.” 

Soma terkejut mendengarnya “Kakang Jaka Lelana? Cepat beritahu guru! Biar aku sendiri yang mempersilahkan mereka masuk!” perintah Soma, si anak murid berlalu menuju ke kamar Kyai Pamenang, sementara Soma keluar menghampiri Jaya.

Diluar, Jaya melihat-melihat keadaan di sekitar padepokan. “Sudah tiga tahun aku pergi dari padepokan ini…” 

Galuh ikut memandangi bangunan padepokan. “Apakah kau pernah kangen pada padepokan ini?”

Jaya mengangguk, “Tentu saja aku kangen pada suasana padepokan ini yang damai, sejak lama aku ingin sekali kembali ke padepokan ini dan hidup disini, tapi sayangnya aku merasa belum tuntas melaksanakan amanat Kyai Guru.”

Tumenggung Braja Paksi yang sedari tadi terdiam ikut berbicara, “Sebenarnya sayapun pernah sekali mengantar Gusti Sultan kesini sekali, waktu Gusti Sultan masih kecil belum menjadi Sultan, waktu itu Mega Mendung masih diperintah oleh mendiang Prabu Wangsarja.”

“Oya? kalau boleh tahu ada urusan apa Gusti Sultan menemui Kyai Guru?” Tanya Jaya pada orang yang menjadi “bayangannya” dan dapat dikatakan sebagai permpas “kemerdekaannya” dengan dalih utusan Sultan Banten.

“Waktu itu kami menghadiri pertemuan para ulama sepasundan dan sejawa saat Almarhum Sunan Gunung Jati mangkat, kami berdiskusi membicarakan kedudukan ulama di tanah Pasundan ini…” jawab Braja Paksi, “Oya kenapa kita tidak langsung masuk Raden?” tanyanya.

“Kalau saya yang sendirian kemari, mungkin saya akan langsung masuk menemui Kyai Guru, tapi karena saya bersama rombongan, paling tidak saya harus mentaati peraturan dan tata karma sebagai seorang tamu.” jelas Jaya.

Saat itu keluarlah Soma, ia tersenyum lebar saat melihat Jaya, Jaya pun tersenyum melihat Soma, mereka lalu saling menghampiri dan saling berpelukan. “Selamat datang Kakang Jaka, kenapa tidak langsung masuk?” Tanya Soma.

“Kali ini saya datang bersama rombongan Soma, dan saya punya satu maksud... eh bagaimana keadaan Kyai Guru dan Nyai Guru?”

Soma terdiam sebentar sambil melirik pada rombongan Jaya, baru menjawab. “Baik, hanya saja akhir-akhir ini Kyai Guru sudah tidak banyak mengajar ilmu Kanuragan, beliau lebih banyak mengajar mengaji dan ilmu Fiqih... Mari semuanya silakan masuk, Guru menunggu di Balai Riung.”

“Oya bagaimana kabar Kang Kadir Soma? Apakah ia masih Nyantri disini?” tanya Jaya yang menanyakan Kakak Seperguruannya yang merupakan Murid Paling Senior pada saat ia masih Nyantri di Padepokan ini, sambil melangkah masuk ke padepokan.

“Ia sudah tidak disini Kang, ia pulang ke Gunung Pangranggo setelah mendapat kabar ayahnya meninggal, di sana ia meneruskan usaha almarhum ayahnya, menjadi Mpu Pandai Besi yang membuat berbagai barang pusaka…” jawab Soma, Jaya mengangguk-ngangguk, ia teringat pada sosok kakak seperguruannya yang paling dituakan di padepokan tersebut.

Bukan main gembiranya hati Kyai Pamenang dan Nyai Mantili melihat kedatangan Jaya, senyum mereka mengembang lebar, apalagi saat melihat sahabat lamanya si Dewa Pengemis yang datang besama Jaya, ia segera menyuruh Soma untuk membawakan minuman untuk para tamu tersebut.

“Jaka... Eh Raden Jaya Laksana kamu kelihatan makin matang, oh iya... Aku sungguh bangga mendengar sepak terjangmu di dunia persilatan setelah berganti nama menjadi Pendekar Dari Lembah Akhirat dan menjadi murid sahabatku Kakang Kyai Supit Pramana, tapi aku juga sungguh terkejut mendengar kabar kemelut di Mega Mendung dan cerita bahwa kau sebenarnya adalah putra dari Prabu Kertapati dan Dewi Nawangkasih…”

Jaya tersenyum merendah sambil menunduk, “Guru orang-orang terlalu melebih-lebihkan tentang kisah saya dan tolong tidak usah memanggil saya Raden...”

Kyai Pamenang dan Nyai Mantili mengangguk-ngangguk dengan tatapan penuh kebanggaan pada Jaya, ia lalu melirik pada Braja Paksi. “Dan Tuan Tumenggung Braja Paksi, lama kita tidak jumpa, bagaimana kabar Kanjeng Sultan?”

“Kanjeng Sultan baik, dan beliau rindu sekali ingin bertemu Kyai dan Nyai” jawab Tumenggung Braja Paksi.

Kyai Pamenang tersenyum lebar. “Hehehe... satu kehormatan bagi kami, Kanjeng Sultan tentu sudah menjadi pemimpin yang sangat matang, hehehe...”

Sang Kyai lalu melirik pada Dewa Pengemis dan Galuh, “Adi Suradikarta” panggilnya yang menyebut nama asli si Dewa Pengemis, “Apa kabarmu? Dan apakah gadis ini adalah muridmu yang kamu ceritakan dulu?”

Si Dewa Pengemis alias Suradikarta menjawab sambil tersenyum lebar, “Benar Kakang, ia adalah muridku yang ceritakan padamu dulu, putrinya almarhum Adipati Tegal Raden Margoloyo dan Dewi Sekar Ningrum dari Cadas Nngampar.” 

Kyai Pamenang menatap Galuh “Oalah hahaha ternyata putrinya almarhum Raden Margoloyo, dulu aku yang memimpin prosesi aqiqahmu di Tegal.” 

Galuh tersenyum sambil menundukan kepalanya. “Saya senang pada orang seperti almarhum ayahmu, beliau adalah seorang pejabat yang welas asih pada rakyatnya, seorang muslim yang shalih dan pendekar yang pilih tanding, meskipun beliau adalah adik sepupu Sultan Trenggono, tapi beliau orang yang sangat pandai merendah, orangnya handap asor” lanjut Kyai Pamenang. (Catatan : Kisah tentang Raden Margoloyo Adipati Tegal dan Putri Sekar Ningrum dari Cadas Ngampar adalah fiktif).

Kyai Pamenang melirik lagi pada Jaya, “Oya, beberapa hari yang lalu aku mendapat firasat buruk tentangmu, maka aku sholat kemudian berdoa untukmu Jaya, waktu itu aku bermimpi kamu berlari dikejar-kejar oleh Denawa, disaat yang sama aku melihat Dharmadipa dicekik oleh Denawa yang sama dengan yang mengejarmu, dan keesokan harinya aku mendapat kabar tentang pertarunganmu dengan Prabu Kertapati... Ceritakanlah bagaimana kejadiannya Jaya!”

Jaya menghela nafas berat, kemudian dengan raut wajah penuh kesedihan ia menceritakan semua kisah perjalanannya termasuk pertarungannya dengan Dharmadipa dan tewasnya Dharmadipa dibunuh oleh ayah mertuanya sendiri Prabu Kertapati, “Dhramdipa... Oh Dharmadipa...” desah Kyai Pamenang sambil menitikan air matanya, Nyai Mantili yang menangis pun mendekap suaminya.

Kyai Pamenang lalu bangun dari duduknya dan menatap keluar jendela, desahan nafasnya yang berat terdengar jelas sekali, “Aku memang mendengar kabar bahwa ia berhasil menikahi putri Mega Sari yang telah janda karena ditinggal mati suaminya Pangeran Mundingsura, dan ia juga berhasil menjadi Pangeran Putra Mahkota Mega Mendung, tapi aku tidak menyangka tindak-tanduknya begitu keji menyengsarakan rakyat... 

Hehhh... Mungkin ia masih terpengaruh oleh dendamnya pada tentara muslim yang menghancurkan negaranya... Tapi aku tidak mengira ia akan berbuat sejauh itu, bahkan aku dengar ia telah murtad dan menjadi penyembah Berhala Iblis...” 

“Benar Guru, bahkan menurut kabar yang saya dengar dari Patih Mega Mendung, Dharmadipa lah yang sengaja membunuh Pangeran Munding Sura agar dapat menikahi Mega Sari, bahkan ia sangat bernafsu untuk membunuh saya karena ia ingin menjadi Raja di mega Mendung…” lanjut Jaya.

Kyai Pamenang mendengus marah sekali mendengarnya. “Ya Gusti Allah! Aku tahu semenjak kecil ia memang congkak dan harga dirinya tinggi, tapi aku tidak mengira ia sangat ingin menjadi Raja dan sampai berani membunuh suami orang lain! Astagfirullah! Mengapa ia sampai punya pikiran kualat seperti itu?! Pasti kena pengaruh perempuan itu... Putri Prabu Kertapati yang membuatnya lupa daratan!”

Beberapa saat Sang Kyai terdiam, lalu ia kembali menatap Jaya. “Kamu sendiri bagaimana Jaya? Kulihat sekarang kau telah mewarisi satu senjata pusaka Mega Mendung yaitu Keris Kyai Segara Geni, apakah kau akan mewarisi apa yang ditinggalkan ayahmu? Lalu mengapa kau sampai bisa Ngenger di Banten?”

Saat itu ingin benar Jaya mencurahkan isi hatinya pada gurunya yang telah ia anggap ayahnya itu, seandainya kalau tidak ada Tumenggung Brajapaksi di sana ia akan menangis dan mengadukan nasibnya pada gurunya itu, tapi ia tidak bisa! Maka terpaksa ia berkata dengan tekanan maha hebat didalam hatinya. “Berkat kemurahan hati Kanjeng Sultan banten, saya diajak untuk menimba ilmu politik, militer, dan kenegaraan di Banten sebelum saya mewarisi apa yang ayah saya tinggalkan kelak…”

Kyai Pamenang dan Nyai Mantili saling pandang, satu alasan yang sungguh aneh yang Jaya sampaikan tersebut, tapi sebagai orang tua yang telah banyak makan asam garam lika-liku kehidupan, mereka pun paham akan maksud Jaya. “Lalu ada maksud apakah kedatanganmu kemari dengan membawa Adi Suradikarta dan muridnya sampai didampingi oleh utusan Sultan Banten?”

“Sebelum Jaya menjawab, izinkan saya berbicara sedikit Kakang Kyai, saya membawa murid saya kesini untuk menagih janjimu Kakang Kyai, dulu kita pernah berjanji untuk menjodohkan murid kita ini bukan?” potong Dewa Pengemis.

Jaya dan Galuh terkejut mendengarnya karena rupanya mereka telah dijodohkan sejak lama oleh Guru mereka berdua. Kyai Pamenang pun tertawa lebar dan istrinya nampak tertawa kecil. “Hahaha tentu saja aku ingat Adi! Namun bagaimana kalau kita biarkan Jaya sendiri yang mengutarakan maksudnya?”

“Cocok! Memang harus seperti itu! Hahaha… Nah silahkan utarakan maksudmu Jaya!” Sahut si Dewa Pengemis sambil tertawa lebar dan menepuk-nepuk punggung Jaya.

Jaya tampak agak kagok, setelah mengumpulkan keberaniannya ia berdeham lalu, “Maksud kedatangan saya adalah untuk meminta tolong pada Kyai Guru dan Nyai Guru untuk melamarkan saya pada Dewa Pengemis untuk melamar muridnya Galuh Parwati...” ucap Jaya dengan wajah memerah dan kata-kata yang tersendat-sendat, Galuh pun menundukan wajahnya yang memerah.

Kyai Pamenang dan Nyai Mantili tersenyum lebar mendengarnya, “Oalah itu tuh maksudmu? Hahaha... bagus... bagus... kamu telah memilih jodohmu dengan tepat, gadis ini baik dan cocok untukmu hehehe…” 

Kyai Pamenang lalu melirik pada Dewa Pengemis. ”Adikku, aku akan melamarkan muridku Jaya Laksana atau Jaka Lelana secara pantas nanti nanti malam sesudah shalat isya, bagaimana?”

Suradikarta alias Dewa Pengemis mengangguk sambil tersenym lebar, “Sekarang pun lamaranmu aku terima Kakang Kyai, karena aku sudah sangat mengenal calon menantuku ini hehehe... Dan perkara waktu pernikahannya, aku serahkan pada Kakang Kyai…”

“Kau bisa saja Adi hahaha...”

Kyai Pamenang lalu merenung menghitung waktu yang baik untuk waktu pernikahan Jaya dan Galuh, “Jaya dan Galuh sangat cocok, Jaya lahir pada hari Rebo berlambang daun atau pohon, Galuh lahir pada hari Sabtu berlambang Bumi, ya laki-laki dilambangkan pohon dan wanita bumi, pohon yang menancap dengan kokoh ke Bumi... Maka hari baik pernikahannya adalah tiga minggu lagi pada saat malam Purnama ketiga, bagaimana Adi?”

Dewa Pengemis menngangguk, “Kakang Kyai yang lebih banyak tahu, saya setuju saja.”

Kyai lalu mentap Jaya dan Galuh dengan seksama secara bergantian, kemudian sambil tersenyum lembut Sang Kyai meneuk pundak Jaya. “Jaya ini adalah satu pesanku padamu tentang apa itu cinta. Cinta itu tidak dapat dilihat dari satu sisi saja, karena cinta menumbuhkan rasa kesenangan maka cinta juga menorehkan luka kepedihan. Hidup bermanfaat bagi orang yang tekun belajar memahami makna kesenangan dan mau menerima segalanya tentang arti kepedihan.

Cinta itu adalah kesenangan yang juga kepedihan. Keduanya ada dalam satu kesatuan yang tidak terpisah. Ketika kita hanya terpaku pada cinta yang bersifat kesenangan maka akan menuai pula kadar kepedihan yang sama besarnya. Cinta adalah sebuah keseimbangan. Cinta itu kebahagiaan dan kesedihan, memberi dan menerima dimana semua itu berjalan sesuai hukum alam. Ketidakseimbangan hanya akan membuat cinta itu menyedihkan dan keseimbanganlah yang membuat cinta terasa surga di dunia! Itulah makna cinta yang sebenarnya!”

Jaya Laksana pun mengangguk setelah mendapati petuah tersebut, Galuh yang dapat memahami petuah dari Kyai Pamenang pun ikut mengangguk. Kedua insan muda-mudi yang akan segera melasanakan pernikahan tersebut menanamkan petuah dari Sang Kyai yang arif bijaksana itu untuk bekal hidup mereka sampai maut menjemput mereka.