Episode 46 - Pertemuan Dua Pria Kuat



“Hei, lihat itu, sepertinya mereka akan berkelahi.” Ucap Angel sambil menunjuk ke arah beberapa orang yang membawa kayu dan menggiring seorang siswa.

“Jangan alihkan pembicaraan, jawab dulu pertanyaanku.” Dan berkata dengan kesal sambil mengerutkan kening.

“Abaikan dulu masalah itu, ini lebih penting lagi,” Angel berkata dengan khawatir, “ayo kita lerai mereka, jika tidak, dia pasti akan dalam bahaya.” 

“Aku tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain.” Ucap Dan dengan cepat.

“Kamu ini ... sudahlah, kalau begitu aku yang akan melerai mereka.” Angel bergegas berlari menuju mereka.

“Sial!” Dan berkata dengan kesal lalu berlari mengejar Angel. 

Namun, langkah Angel tiba-tiba berhenti dan membuat Dan yang mengejar di belakangnya menabrak tubuh bagian belakang Angel. Untuk sesaat sebuah sensasi menyenangkan bisa Dan rasakan.

“Hei, kau bilang kau tidak ingin menyentuhku.” Angel berkata dengan marah.

“Jangan salahkan aku, salah sendiri kau berhenti tiba-tiba.” Jawab Dan dengan ketus sambil mundur beberapa langkah.

“Lihat itu.” Angel menunjuk ke arah sekumpulan orang yang membawa kayu sambil menggiring seorang siswa di depannya.

Dan memutar bola matanya dan melihat kejadian yang tidak dia sangka. Bukan siswa yang digiring yang sedang dihajar habis-habisan oleh sekumpulan siswa tadi, melainkan seorang siswa itu dengan cepat dan ganas menghajar sekumpulan siswa lainnya.

Serangan brutal yang dilakukan oleh sekumpulan siswa dengan menggunakan kayu sama sekali tidak mampu untuk menyentuh tubuh siswa tersebut. Sedangkan itu, di sisi lain, siswa tersebut dengan mudahnya menjatuhkan musuhnya hanya dengan satu pukulan untuk masing-masing siswa. Setelah terkena satu pukulan itu, mereka masing-masing langsung terkapar dan tidak mampu untuk berdiri kembali.

Kini, yang masih berdiri dengan tegap adalah siswa yang sebelumnya digiring, sedangkan itu sekumpulan siswa yang sebelumnya sudah terjatuh sambil mengerang kesakitan di tanah.

Namun, semua belum berakhir. Meskipun sekumpulan siswa itu sudah kalah, tapi siswa yang digiring tadi berjalan dan kembali menghajar mereka.

“Hahahaha, mati, mati, mati!” teriak siswa itu sambil menendang perut salah seorang siswa yang sudah terjatuh di tanah. 

“Hentikan Lin Fan, tolong hentikan, aku mohon.” Ucap salah seorang. Dia membuang kebanggaannya untuk memohon ampun pada Lin Fan bagi temannya.

“Hahaha, berani-beraninya kau memerintah aku, kau pikir kau siapa?” Lin Fan berkata dengan angkuh sambil berjalan ke siswa yang memohon ampun tersebut, lalu dengan keras dia menendang dada siswa tersebut hingga dia memuntahkan darah segar dari mulutnya.

“Lin Fan, hentikan, ini semua sudah keterlaluan.” Teriak salah seorang siswa lainnya.

“Hahaha, bukannya kalian yang sebelumnya mengajakku ke sini untuk menghajarku, lalu sekarang ketika aku ingin menghajar kalian, lalu kenapa terlalu berlebihan? Jika sekarang kau yang berada di posisiku apakah ini sangat berlebihan? Lalu, kemarin ketika kau menghajarku, apakah itu belum cukup? Kenapa kau ingin mencari masalah denganku lagi? Dan satu hal lagi, ketika kalian mengancamku akan menghajar teman-temanku juga, aku sangat marah, aku benar-benar marah!” Lin Fan meledakkan semua emosinya.

“Lin Fan, kami mengaku salah, jadi tolong ampuni kami.” Ucap salah seorang lagi dengan memelas.

“Hahahah...” Lin Fan tertawa dengan keras sambil membungkuk dan memegang perutnya, lalu setelah tawanya usai, Lin Fan mengangkat kepalanya dan menaikkan dagunya tinggi sembari memandang mereka semua dengan angkuh. Sinar matahari yang berada di atas membuat tampilan Lin Fan menjadi terlihat lebih sombong di mata siswa-siswa yang terkapar di tanah.

Mereka semua ketakutan setelah melihat tatapan Lin Fan yang sangat tajam.

“Dengar, aku sebenarnya tidak suka menghajar orang yang lemah, tapi sayangnya kini aku butuh lawan untuk melatih kemampuan bela diriku yang sudah menumpul, dan kau tahu, aku hanya punya kalian, jadi tolong, temani aku berlatih.” Lin Fan berkata dengan senyum kecil terlukis di wajahnya. Sebuah senyum yang membuat Lin Fan tampak sangat menakutkan.

Mendengar apa yang Lin Fan inginkan membuat mereka semua tampak putus asa. Namun, tiba-tiba datang seseorang, yang tidak lain adalah Angel.

“Kalau begitu biar aku yang menggantikan mereka menjadi lawan tandingmu.” Angel berkata dengan percaya diri.

“Hei, apa yang kau katakan? jangan ikut campur urusan mereka.” Dan berkata dengan cepat sambil menarik bahu Angel.

“Tenang saja, aku tidak apa-apa, aku bisa bertarung, jangan pernah remehkan wanita.” Ucap Angel sambil tersenyum.

“Wah, wah, wah, tak kusangka kau mau membantu sampah-sampah ini.” Lin Fan berkata sambil menatap Angel.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi kau sudah terlalu berlebihan, jadi mau tidak mau aku harus ikut campur, agar tidak mengotori nama bela diri.” Ucap Angel dengan tegas.

“Haha, tenang saja, aku hanya sampah di dunia bela diri, jadi tidak akan aneh kalau aku melakukan hal kotor seperti ini, bukan?” Lin Fan berkata dengan senyum sinis.

“Tunggu, kalian berdua sudah saling kenal?” Dan bertanya dengan penasaran.

“Tentu saja, kami berdua sama-sama orang dari dunia bela diri, jadi wajar saja aku mengenal dia, apalagi dia itu sangat terkenal, loh.” Jawab Angel.

“Haha, sebuah kehormatan untuk dikenal oleh Angel sang iblis.” Ucap Lin Fan dengan sinis.

“Hentikan semua omong kosong ini, Lin Fan, kau sangat mengerti aku, jadi hentikan semua ini.” Teriak Angel.

“Hahaha,” Lin Fan berjalan maju lalu menginjak kepala seorang siswa yang sebelumnya telah dia hajar habis-habisan, “aku tidak mau mengikuti perintahmu, lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Lin Fan!” Angel berteriak sambil berlari menuju Lin Fan.

Tidak butuh waktu lama akhirnya Angel berada di depan Lin Fan, akan tetapi tiba-tiba saja Lin Fan melompat sambil mencambukkan kakinya menuju pinggang Angel. 

Angel terkejut dengan serangan yang Lin Fan lakukan. Dia tidak menyangka serangan yang Lin Fan lakukan akan sangat cepat, hingga Angel tidak memiliki waktu untuk bereaksi, akan tetapi kemudian muncul Dan tepat di jalur serangan Lin Fan dan menghentikan serangan tersebut dengan tangannya.

“Hei, hei, hei, kawan. Seorang pria seharusnya melawan pria juga.” Ucap Dan dengan senyum kecut.

“Kau...” Lin Fan terkejut dengan kedatangan Dan yang tiba-tiba, dia juga tidak menyangka Dan mampu menahan serangan yang biasanya akan langsung membuat seseorang terkapar.

“Oh, iya, satu hal lagi, aku tidak akan membiarkanmu melukai tubuh seksi itu.” Dan berkata dengan sungguh-sungguh.

Kemudian Lin Fan melucurkan tinju keras menuju wajah Dan, akan tetapi Dan dengan mudahnya dapat menghindar lalu mendorong Lin Fan dengan kedua tangannya, hingga membuat Dan mundur beberapa langkah.

“Haha, seperti yang aku kira, kau memang sangat kuat,” ucap Lin Fan sambil memandang Dan dengan saksama, “kau juga sangat hebat dalam menyembunyikan kekuatanmu itu, aku sangat kagum padamu.”

“Menyembunyikan kekuatan? Apa maksudmu?” Dan bertanya dengan heran.

“Tidak perlu berpura-pura, dari awal aku sudah tahu bahwa kau memang bukan pria biasa. Jujur saja padaku, kau berasal dari perguruan bela diri mana?” tanya Lin Fan.

“Aku tidak ikut perguruan bela diri manapun.” Jawab Dan.

“Terserah saja jika kau memang tidak mau menjawabnya, karena cepat atau lambat kita pasti akan bertemu di arena pertarungan, dan saat itu juga kita akan menyelesaikan pertarungan ini, dan saat itu akan aku huktikan padamu, bahwa aku lebih kuat darimu.” Ucap Lin Fan lalu berjalan pergi.

Setelah Lin Fan pergi, teman-teman sekelas Dan bangkit dengan tertatih-tatih, mereka mengucapkan terima kasih lalu segera berjalan ke UKS, untuk mengobati luka-luka mereka.

“Danny, apakah kau benar-benar tidak masuk ke dalam perguruan bela diri manapun?” tanya Angel dengan tiba-tiba.

“Jawab dulu pertanyaanku yang tadi.” Dan berkata dengan ketus.

“Aku tidak akan menjawabnya sebelum kau mau menjawab pertanyaanku.” Jawab Angel dengan cepat.

Dan mengela napas dengan berat lalu berkata, “Seperti yang aku katakan tadi, aku tidak masuk perguruan bela diri manapun.”

“Lalu, bagaimana caranya kau bisa sangat hebat dalam bertarung tadi?” tanya Angel lagi.

“Bertarung? Yang seperti tadi bukan bertarung, itu hanya permainan anak-anak bagiku.” Jawab Dan dengan percaya diri.

“Hei, kenapa kau sombong sekali, yang aku maksud adalah reflekmu, orang biasa tidak mungkin mampu membaca serangan yang sangat cepat seperti tadi. Jujur saja, aku bahkan tidak bisa membaca serangan itu, tapi anehnya kau bisa dengan tepat menahannya. Ini aneh sekali bagiku.” Angel berkata sambil kembali mengingat pertarungan singkat barusan.

“Haha, tentu saja, aku ini memang hebat,” Dan berkata dengan penuh kebanggaan, “ngomong-ngomong kau tahu maksud si aneh tadi tentang menyelesaikan pertarungan atau apapun itu?”

“Hei, apakah kau bercanda denganku?” tanya Anggel sambil mendekatkan wajahnya dan memasang wajah menyelidik.

“Tidak, aku tidak bercanda, aku benar-benar tidak tahu apa maksud si aneh itu.” Jawab Dan sambil mundur satu langkah.

“Baiklah, akan aku jelaskan, tapi kau harus dengarkan dengan baik-baik, ya.” Angel berkata sembari melipat kedua tangannya di depan dada besarnya.

“O-oke.” 

“Setiap tahunnya ada sebuah turnamen bela diri terbesar dan paling bergengsi yang di selenggarakan oleh pemerintah, turnamen itu diikuti oleh semua perguruan bela diri dari seluruh negeri, tapi pertama-tama akan diseleksi dari setiap kota terlebih dahulu. Jadi, mungkin yang Lin Fan maksudkan adalah kau dan dia pasti akan bertemu lagi, dan saat itulah dia ingin menyelesaikan pertarungan antara kalian berdua.” Angel berkata dengan perlahan.

“Bodoh sekali, aku tidak tertarik dengan hal-hal semacam itu.” Dan berkata dengan acuh.

“Apakah kau bersungguh-sungguh? Kau tidak tertarik dengan bela diri?” tanya Angel dengan penasaran. Karena sangat jarang ada orang yang tidak menyukai bela diri, karena bela diri saat ini bahkan lebih populer dibandingkan sepak bola atau olahraga semacamnya. Terutama untuk laki-laki, sangat jarang ada laki-laki yang tidak menyukai bela diri.

“Tidak, aku benar-benar tidak tertarik, lagipula, pada akhirnya bela diri adalah sarana untuk saling menyakiti, kekuatan ada untuk menindas, dan aku benci itu.” Ucap Dan dengaan serius. Matanya memandang dada Angel, tapi dia seperti melihat sebuah kekejaman dan kebencian yang tiada habisnya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi dimasa lalumu, jadi aku tidak tahu harus berkata apa,” Angel memandang Dan dengan pandangan penuh makna, “hei, bagaimana kalau kau masuk ke perguruan bela diriku?”