Episode 276 - Berkelakuan Bejat



Panji-panji besar menjulang tinggi ke angkasa dan berbaris panjang di sisi kiri dan kanan jalan. Bukan semata jalan setapak, namun jalan nan lebar yang terbuat dari bebatuan dengan susunan sedemikian rupa. Jalan ini membentang jauh, melewati sebuah perbukitan. Belum diketahui tempat seperti apa yang terletak di balik perbukitan.

Sungguh panji-panji berkibar perkasa dimainkan angin, yang mana pada petang hari ini berhembus cukup kencang. Sambil melangkah, semakin terlihat jelas gambar yang tercetak pada setiap satu panji. Bukan dicetak, melainkan disulam, adalah gambar seekor singa berwajah garang yang demikian rinci. Mulut singa yang menganga sedang mengaum menyiratkan bahwasanya sesiapa saja yang melangkah di antara mereka panji-panji, hendaknya selalu waspada dan menjaga sikap. Karena bilamana tidak, maka singa nan garang itu akan menerkam leher, membungkam, mencabik, kemudian melahap habis. 

Setidaknya, demikian adalah pemikiran yang berkutat di dalam benak seekor binatang siluman. Berwarna cokelat muda dengan beberapa titik berpola keperakan di sisi kaki belakang, ia terlihat mirip dengan seekor kambing. Semakin mirip, karena di lehernya saat ini mengalung seutas tali kekang yang berwarna abu-abu. Sepertinya tali kekang tersebut terbuat dari kulit binatang siluman jenis tertentu, yang mana berfungsi untuk membatasi aliran tenaga dalam. Demikian, binatang siluman ini membisu dan wajahnya merautkan perasaan sedih dan sebal yang bercampur-baur menjadi satu. 

Di sisi lain tali kekang, adalah lengan nan besar dan kekar. Seorang lelaki dewasa melangkah tegap. Dagunya persegi, namun dicukur rapi sehingga tak meninggalkan sehelai janggut pun. Dari pembawaannya, maka sesiapa pun dapat menyimpulkan bahwa ia adalah sosok yang tegas. Pakaian yang ia kenakan resmi, layaknya seorang pejabat militer yang bermartabat. Semakin menegaskan karakter. 

Di sebelah lelaki dewasa itu, adalah seorang anak remaja bertubuh ramping. Ia memanggul tas ransel kecil. Pakaiannya sederhana layaknya remaja-remaja kebayakan. Angin memainkan rambutnya yang ikal, sehingga terlihat sedikit berantakan. Pada kedua pergelangan tangan dan pergelangan kaki, masing-masing mengenakan semacam pelindung lentur nan bersisik berwarna merah bata. 

Ketiganya menapaki jalan lebar secara berdampingan. Tak lama, mereka mencapai sebuah gerbang yang dikawal oleh puluhan serdadu. 

“Kapten Sisinga hendak bersua dengan Yang Mulia Patuan Ompu Raja Tinaruan Sinambela, Sisinga Mangaraja II.”

“Salam Hormat Kapten Sisinga,” sahut komandan serdadu jaga, sambil menundukkan kepada. “Apakah Yang Mulia telah memiliki temu janji?”

“Tidak. Kedatanganku petang ini secara mendadak. Adapun aku punya tujuan untuk menyerahkan binatang siluman yang kiranya dapat bermanfaatkan bagi penyembuhan Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II.”

Komandan serdadu jaga melirik kepada binatang siluman mirip kambing yang terkekang. “Kami tiada dapat memberi izin masuk, bahkan kepada Yang Terhormat Kapten Sisinga sekalipun, bilamana belum memiliki temu janji.”

“Apakah kalian meragukan aku…?” 

Komandan serdadu jaga sontak membungkukkan kepala. Ia adalah pengawal istana, dan sepertinya berada pada kubu permaisuri. Oleh karena itu, ia sangat menaruh hormat kepada Kapten Sisinga. Akan tetapi, tugas adalah tugas. Prosedur resmi wajib dipatuhi dan tiada dapat ditawar. “Ampun beribu ampun, wahai Kapten Sisinga…”

“Aku mengerti.” Kapten Sisinga berujar. Ia kemudian mengeluarkan sebuah lencana. Pada permukaan lencana, terukir wajah singa garang layaknya pada panji-panji kebesaran di sepanjang jalan tadi. Di balik lencana, terukir angka ‘4’. 

Para serdadu jaga sontak menyadari keberadaan lencana tersebut. Ia adalah lencana mendiang Jenderal Keempat. Lima Jenderal Besar Kerajaan Garang, dapat datang dan pergi ke Istana Utama Kerajaan Garang kapan saja. Dengan demikian, merek dapat bertemu muka dengan sang penguasa tanpa perlu mengatur temu janji terlebih dahulu. 

“Sungguh kami turut berduka cita atas kepulangan Yang Terhormat Jenderal Keempat…,” ujar komandan serdadu jaga. Wajahnya berubah sendu. Bersamaan dengan kata-katanya, ia membuka jalan. Tindakan serupa dilakukan oleh serdadu-serdadu lain di belakangnya.

Kapten Sisinga menganggukkan kepala, petanda ia menerima ucapan bela sungkawa dan mengisyaratkan ungkapan terima kasih karena sudi membuka jalan. Padahal, dengan kematian Jenderal Keempat, lencana tersebut sepantasnya tak lagi memiliki arti. Akan tetapi, rasa hormat di kalangan militer, memiliki arti yang lebih mendalam dari sekedar kematian. Para serdadu jaga ini memahami kenyataan tersebut. 

Tepat di depan pintu gerbang Istana Utama Kerajaan Garang, serdadu jaga lain menghentikan langkah mereka. 

“Siapakah gerangan yang saat ini berkunjung bersama dengan Yang Terhormat Kapten Sisinga…?” 

“Seorang tabib.”

Setengah tak percaya, para serdadu jaga terlihat salah tingkah. Bilamana hanya Kapten Sisinga seseorang, maka mereka akan membuka jalan meski tindakan tersebut melanggar aturan. Akan tetapi, membawa orang asing adalah perkara lain. Terlebih lagi, mana mungkin seorang anak remaja bergelar tabib. Tabib biasanya tua dan sepuh, berpenampilan rapih serta bersih. 

“Janganlah menilai buku dari sampulnya,” ujar Kapten Sisinga pelan. 

Para serdadu jaga menundukkan kepada, kemudian membuka jalan. “Kami turut berduka cita atas kepulangan Yang Terhormat Jenderal Keempat…” Mereka berujar hampir bersamaan.

Kapten Sisinga, Bintang Tenggara dan Si Kancil tiba di ruang singasana. Akan tetapi, bukanlah singasana yang menyambut mereka, melainkan sebuah dipan tempat tidur di atas pelataran nan megah. Kelambunya berwarna kekuningan dan ditambatkan saling silang tinggi ke langit-lagit. Selimutnya bertahtakan emas. 

“Hentikan langkah kakimu!” tetiba seorang lelaki tua datang menghadang. 

“Yang Terhormat Perdana Menteri…” Kapten Sisinga memberi hormat. 

“Segera tinggalkan tempat ini! Pelajari adab yang baik dan benar! Jangan berlaku sesuka hatimu di dalam Istana Utama!” 

Kapten Sisinga tiada dapat menanggapi. Ia tidak menolak, di saat yang sama tiada pula ia menuruti. Demikian, ia hanya berdiri dalam diam. 

“Yo... Itubungna… Angin apa yang membawa engkau ke Istana Utama di petang hari ini…?” Tetiba seorang lelaki dewasa menyapa. Ia melangkah petantang-petenteng dan berlaku seolah sedang berada layaknya di rumah. Gerak-geriknya demikian santai, bahkan terkesan tanpa adab. Wajahnya halus, tampan dan berhidung mancung, sangatlah bertolak belakang dengan Kapten Sisinga yang berwajah keras dan berhidung bulat. Kemudian, ia duduk di balik sebuah meja yang terletak di pelataran terpisah. 

“Selamat Petang, Wahai Yang Mulia Putra Mahkota, Gubernur Pulau Satu Garang…” Kapten Sisinga membungkukkan tubuh.

“Wahai Perdana Menteri, ia adalah kakakku… Biarkan ia menghadap!” 

“Tapi… Tapi… Putera Mahkota…”

“Enyahlah!” Lelaki dewasa muda itu melotot berang. 

Kapten Sisinga diikuti Bintang Tenggara dan Si Kancil melangkah cepat. 

“Engkau belum menjawab pertanyaanku, wahai Itubungna…” Si Putra Mahkota itu terlihat duduk bersandar malas. Di saat yang sama, seorang dayang-dayang nan cantik jelita tiba membawa baki, dan meletakkan penganan di atas meja. 

Kapten Sisinga baru hendak memberikan jawaban, namun menahan kata-katanya ketika menyaksikan tingkah polah si Putra Mahkota. Terhadap dayang-dayang nan cantik jelita itu, si Putra Mahkota mencermati lekuk tubuhnya. Ia kemudian meraba-raba bokong, lalu meremas-remas payudaranya. Si dayang-dayang merasa sangat tak nyaman dan jijik, namun tak kuasa menolak apalagi berontak. Tak hanya sampai di situ, si Putra Mahkota lalu mengangkat rok dan menyelipkan tangannya ke pakaian dalam di wilayah pangkal paha si dayang-dayang nan malang. 

Kapten Sisinga menggeretakkan gigi lalu memalingkan wajah, namun mendadak ia melotot. Di sebelahnya, anak remaja yang mengaku sebagai tabib, menatap tajam tindakan pelecehan yang sedang berlangsung. Bilamana raut wajah Bintang Tenggara terlihat muak lagi jengah, maka Kapten Sisinga akan memahami. Akan tetapi, anak remaja itu malah terlihat sangat penasaran dengan kegiatan si Putra Mahkota di depan sana. Seolah-olah, raut wajah dari anak remaja tersebut mengatakan bahwa ‘seperti inikah kuasa yang dimiliki seorang Putra Mahkota…? Boleh juga…”

“Buk!” Kapten Sisinga menyikut bahu Bintang Tenggara. Anak remaja itu terhuyung ke samping. 

Dayang-dayang itu berdiri terengah. Raut wajahnya menunjukkan perasaan geli yang sama sekali tak dapat dinikmati. Tak lama, Si Putra Mahkota mengeluarkan jemarinya. Ia lalu menyodorkan lengan ke arah dayang-dayang nan cantik jelita. “Bersihkan jemariku!” 

Si dayang-dayang bergegas hendak memutar tubuh guna mengambil air serta handuk. Namun, langkahnya terhenti ketika pinggangnya dirangkul dan disentak ke pangkuan si Putra Mahkota. Di dalam pangkuan, Putra Mahkota mesum itu menyodorkan jemarinya ke wajah si dayang-dayang. 

“Jilat!” perintahnya sambil menggerakkan jemari tengah. 

Pemandangan tak senonoh terus berlangsung di dalam ruang singasana. Dayang-dayang nan malang terpaksa menaati. Baru hendak menjilati jemari si Putra Mahkota, Kapten Sisinga menyela… 

“Wahai Putra Mahkota, kedatangan diriku membawa seorang tabib. Selain itu, ada pula seekor binatang siluman kancil yang diperkirakan memiliki unsur kesaktian putih…”

“Unsur kesaktian putih…?” Perhatian si Putra Mahkota teralihkan, dan sontak ia mendorong tubuh dayang-dayang ke bawah. Tersungkur, si dayang-dayang terselamatkan dari perbuatan yang sangat memalukan. 

Seketika itu, si Putra Mahkota terbayang akan keanggunan wajah Lampir Marapi. Ia mencondongkan tubuh, namun yang ia saksikan bertolak belakang dengan harapan, karena malah seekor binatang siluman mirip kambing yang terlihat. 

“Apakah itu kambing betina!? Masih perawankah ia!?” Si Putra Mahkota terlihat penasaran.

Raut wajah Si Kancil berubah ketakutan, kedua caping telinga merunduk, keempat kakinya bergemetar. Ia sontak mundur dan beringsut ke balik tubuh tegap Kapten Sisinga. Ancaman teramat mengerikan mencuat di depan mata! 

“Ini adalah binatang siluman kancil jantan. Dan sepanjang pengetahuanku, ia sudah sering berbuat...” 

“Cih!” Si Putra Mahkota terlihat sebal. Ia pun bangkit berdiri lalu menudingkan jemari, “Dari mana kau tahu ia jantan!?” 

“Itubungna...?” tetiba suara menegur yang terdengar serak lagi lemah. Datangnya dari arah dipan tempat tidur di atas pelataran nan megah.

“Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II...” Kapten Sisinga membungkukkan tubuh. “Mohon ampun beribu ampun, diriku datang menghadap tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, sehingga mengganggu waktu istirahat Yang Mulia.” 

“Tiada mengapa… mendekatlah segera. Sudah lama kita tiada bersua…,” panggil sang penguasa terbata-bata. 

Kapten Sisinga menyerahkan tali kekang Si Kancil kepada Bintang Tenggara. Ia kemudian menaiki pelataran dan mendatangi ayahandanya yang terbaring lemah. Di saat itu, tatapan mata Bintang Tenggara bertemu dengan tatapan mata si Putra Mahkota. Sungguh anak remaja tersebut merasakan aura yang sangat tak biasa. Menjijikkan sekaligus mengerikan. 

“Aku turut berduka atas kepulangan Jenderal Keempat…” Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II terdengar sedih. “Ia adalah teman yang sekaligus jenderal yang tangguh.” 

“Itubungna, kau tadi bilang membawa tabib….” Si Putera Mahkota menegur santai. 

“Benarkah demikian…?” Sang penguasa Kerajaan Garang terdengar sedikit bersemangat, meski masih sangat lelah. 

“Apakah anak remaja tampan ini yang engkau maksud…?” Dari ujung rambut sampai ujung kaki, si Putera Mahkota terus mencermati Bintang Tenggara. Ia seolah menemukan ketertarikan baru.

“Benar,” sahut Kapten Sisinga. 

“Sudah puluhan, bahkan ratusan tabib yang didatangkan untuk menyembuhkan Ayahanda Sisinga Mangaraja II, namun tiada satu yang berhasil menunjukkan perubahan dalam bentuk apa pun…,” cibir sang Putra Mahkota. “Tapi hari ini… petang ini… engkau datang membawakan seorang anak remaja…? Kabur ke mana sudah otakmu!?”

“Uhuk… Uhuk…,” terdengar suara batuk dari singasana. “Sudahlah… biarkan tabib yang dibawakan Itubungna menghadap…”

“Tapi…” Si Putra Mahkota tak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya menghela napas panjang. Meski tiada menyetujui, ia tak hendak menentang kehendak sang ayahanda secara terbuka. Sambil melotot kepada Bintang Tenggara, ia berujar, “Baiklah, Itubungna. Aku selalu berpikiran terbuka… Siapa tahu tabibmu ini bisa membawa mukjizat. Akan tetapi, bilamana ia gagal, maka malam ini hendaknya ia bermalam di istana pribadiku…” 

Anak remaja itu sontak terdiam. Perasaan dingin menjalar cepat ke sekujur tubuhnya. Tanpa sadar, ia beringsut ke sisi belakang Si Kancil. Si Kancil, menyadari tindakan Bintang Tenggara, segera berpindah posisi ke belakang anak remaja itu. Dua makhluk hidup ini bersaing demi masa depan yang jauh dari si Putra Mahkota nan aneh perangainya itu.

“Kemarilah…” Kapten Sisinga memanggil. Ia menaati kesepakatan di antara mereka, sehingga tak akan membuka rahasia sepputar jati diri Bintang Tenggara. Walau, sesungguhnya lelaki dewasa itu juga meragukan kemampuan ketabiban anak remaja tersebut. Namun demikian, ia masih memiliki Si Kancil, yang berpeluang lebih besar dalam menyembuhkan penyakit sang ayahanda.

Bintang Tenggara melangkah cepat. Ia bahkan melepas pegangan terhadap tali kekang Si Kancil. Si Kancil, meskipun demikian, tiada berniat melarikan diri. Ia ikut menyambangi Kapten Sisinga. Tiada siapa yang hendak ditinggal sendiri di hadapan si Putra Mahkota Kerajaan Garang. Kapten Sisinga ibarat cahaya terang yang dapat melepaskan mereka dari kengerian lembah hitam yang angker. 

Lambang ular dan cawan berpendar di punggung tangan serta lambang ular melilit tongkat menyala di lidah. Tentu Bintang Tenggara tak akan menyembuhkan Sisinga Mangaraja II dengan teknik yang biasa diterapkan oleh Maha Maha Tabib Surgawi. Membayangkannya saja sulit sekali. 

Seorang lelaki tua dan renta, bertubuh kurus kering tergeletak di atas peraduan. Napasnya sekali-sekali dan kedua matanya menyembul seolah hendak melompat keluar. Kondisi tubuhnya demikian memprihatinkan. 

“Siapakah gerangan nama dikau…?” Sisinga Mangaraja II berujar pelan, hampir berbisik. 

“Bintang... Tabib Bintang.”

“Bintang...” Lelaki tua renta itu setengah meracau... “di langit tenggara...” 

Bintang Tenggara mengabaikan. Ia mencermati tubuh nan kurus tiada daya.

“Bukan penyakit dan bukan pula racun…,” Ginseng Perkasa berujar pelan menggunakan jalinan mata hati. 

“Kakek Gin, apakah yang terjadi terhadap ahli ini…?” Bintang Tenggara menanggapi. Berkat dua keterampilan khusus yang saat ini dipinjamkan, ia merasakan sesuatu yang terhambat di beberapa bagian tubuh pesakitan itu.

“Sumbatan tenaga dalam di katup jantung dan batang otak…”

“Hm… Apakah penyebabnya…?”

“Kemungkinan besar ia tersalah merapal jurus.”

“Apakah yang dapat kita upayakan?”

“Ramuan Haluan Daya cukup untuk menyembuhkan…” Kata-kata Ginseng Perkasa terdengar ringan dan santai. Bagi ahli yang satu ini, tak ada penyakit yang tak terobati. 

“Apakah Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II pada awalnya merasakan sesak di dada dan pusing di kepala bagian belakang...?” Bintang Tenggara berujar pelan. 

“Betul... sejak... beberapa tahun silam...” Terbata, sang penguasa menjawab. 

“Apakah sebelum gejala tersebut, Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II merapal sesuatu jurus...?”

“Uhuk... Uhuk...” Ia terdiam selama beberapa saat, kemudian mengangguk pelan. 

“Apakah sejak saat itu Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II kesulitan mengalirkan tenaga dalam...?”

“Bagaimana...? Bagaimana...?” Tetiba terdengar bisikan lembut. 

Bintang Tenggara sontak melompat mundur. Betapa terkejutnya ia mendapati bibir si Putra Mahkota tadi sempat hampir menempel ke caping telinganya!

“Wahai Yang Terhormat Putra Mahkota, kumohon untuk tidak mengganggu pekerjaan Tabib Bintang.” Kapten Sisinga terlihat kesal. 

“Baiklah... baiklah... silakan melanjutkan, wahai Tabib Bintang.”

Bintang Tenggara terdiam di tempat. Ia mendorong tubuh Si Kancil ke antara dirinya dan si Putra Mahkota. Si Kancil sontak menggeliat. Kedua matanya melotot kepada Bintang Tenggara. Betapa dongkolnya binatang siluman tersebut menatap anak remaja itu. Baginya, permusuhan di antara mereka sudah merasuk ke lubuk hati terdalam.  

“Diriku akan menyiapkan ramuan... Mohon diantarkan ke balai ramuan dan siapkan sebuah kamar kosong.”

“Ikuti aku...” ajak Sang Putra Mahkota, sambil mempersilakan. 

Bintang Tenggara terpaku di tempat. 

“Kalian tinggallah sejenak...,” pinta Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II kepada kedua putranya. “Sudah lama kita tiada berbincang-bincang... Walau berbeda ibu, kalian tetap darah dagingku.” 

“Pengawal! Segera antarkan tabib cilik ini!” Perintah si Putra Mahkota. Sampai pada batasan ini, ia terlihat cukup menaati kata-kata sang ayahanda.

“Kakek Gin, apakah ini sudah semuanya...?” ujar Bintang Tenggara setelah mengambil bahan-bahan dasar ramuan sesuai arahan sang Maha Maha Tabib Surgawi. Mereka kini berada di dalam sebuah ruangan tertutup dan bersiap hendak meramu.

“Satu lagi... Kita memerlukan bantuan dayang-dayang yang tadi...”

“Yang mana...?” Bintang Tenggara terdengar heran. 

“Yang tadi di ruang singasana bersama Putra Mahkota terkutuk itu...”

“Oh?” 

Bintang Tenggara menghubungi pengawal yang bersiaga di luar ruangan. Tak lama, dayang-dayang dimaksud datang. 

“Apakah ada yang bisa hamba bantu, wahai Tuan Tabib nan mulia...?” Wajah yang cantik tersipu malu. Tentu ia mengingat bahwa anak remaja tersebut turut menyaksikan perlakuan tak senonoh si Putera Mahkota terhadap dirinya.

“Diriku memerlukan bantuan dalam meramu...,” ujar Bintang Tenggara tulus. 

“Segera minta ia mengangkat lengan, dan minta pula izin untuk...” Suara Ginseng Perkasa terdengar tak sabaran... “menjilat ketiaknya!” 

“Bangsat! Kau sama saja dengan Putra Mahkota yang tadi berkelakuan bejat!” Komodo Nagaradja menghujat. 

“Ia diperkenankan, mengapa kita tidak!?” Ginseng Perkasa sebal. 

“Siapa yang diperkenankan!? Siapa kita!? Kau meminta muridku melecehkan seorang perempuan!” 

“Siapa yang melecehkan! Dengarkan baik-baik kata-kataku tadi. Minta ia mengangkat lengan... minta izin...”

“Keparat!” 

“Kakek Gin...,” Bintang Tenggara menebar mata hati. “Sebaiknya tiada bermain-main. Mari segera selesaikan Ramuan Haluan Daya. Dengan demikian, utangku kepada Kapten Sisinga akan impas dan kita dapat segera meninggalkan tempat ini.”

“Tidak! Aku tak akan memberi tahu cara meramu Ramuan Haluan Daya sebelum engkau menjilat ketiak indahnya! Titik!”