Episode 29 - Duapuluh Sembilan



Darra menyeruput tehnya sambil menikmati sepiring ubi rebus. Matanya tidak lepas dari drama kesukaannya di televisi. Kemudian ponsel di sebelahnya berbunyi. Nama Abrar tertera di layarnya. Darra buru-buru menelan ubi yang sedang dikunyahnya lalu menjawab teleponnya.

“Halo?”

“Aku kira kamu udah berangkat,” kata Abrar dari seberang.

“Belum. Aku masih sarapan,” jawab Darra sambil menyeruput tehnya kembali lalu meletakkan cangkirnya.

“Hari Jumat ini aku ke sana, ya.”

“Wah, tapi aku belum gajian. Nanti aku nggak bisa kasih kamu makan. Apa aku jual kalungnya aja, ya?” tanya Darra sambil bangkit lalu berjalan ke arah kamarnya.

“Emangnya aku ke sana buat minta makan? Awas ya kalau kamu jual!” omel Abrar. Darra tertawa.

“Iya, iya. Aku bercanda. Ya udah aku siap-siap berangkat dulu, ya. Nanti malam aku kabarin kalau udah pulang.”

Darra menutup teleponnya lalu meraih sebuah kotak di meja riasnya. Ia mengeluarkan sebuah kalung emas putih dengan liontin huruf A. Ia memakai kalung itu dan teringat bagaimana ia menerimanya empat tahun yang lalu. Darra mengambil blazer putihnya kemudian pergi untuk bekerja.

~***~

Darra berdiri di depan gerbang sekolah sambil terus memandang ke arah jalan. Tak lama kemudian Rin muncul sambil setengah berlari ke arahnya.

“Maaf, ya! Aku bangunnya kesiangan. Bisnya juga datangnya telat,” kata Rin dengan napas tersengal.

“Nggak apa-apa,” jawab Darra sambil masuk ke dalam sekolah bersama Rin.

“Kamu udah lihat pembagiannya?”

“Belum. Maya sama Rahmi masih ngantri bayar iuran.”

Mereka pergi ke loket di seberang ruang Tata Usaha. Di sana terdapat antrian panjang murid-murid yang akan mendaftar ulang untuk kenaikan kelas. Untungnya setiap angkatan diberi jam yang berbeda agar antriannya tidak menumpuk.

“May!” bisik Rin.

Maya menoleh. Rin menyodorkan formulir dan uang iuran ke arahnya yang langsung diterima oleh Maya. Rin kembali menghampiri Darra yang menunggu di depan ruang Tata Usaha.

“Nggak apa-apa ya kalau kita nitip begitu? Aku jadi nggak enak,” kata Darra.

“Nggak apa-apa, kok. Biar nggak banyak-banyakin antrian,” balas Rin. “Gimana kabar Abrar?”

“Udah mendingan. Besok udah bisa pulang, tapi masih dalam perawatan.”

“Umm... Nyokapnya?”

Darra melirik Rin. “Ya masih marah. Tapi nggak apa-apa, kok.”

Rin hanya memandang Darra tanpa berkata apa-apa lagi.

Setelah setengah jam menunggu, akhirnya Rahmi dan Maya selesai lalu memberikan kartu iuran dan bukti pembayaran pada Darra dan Rin. Mereka pergi ke salah satu ruang kelas untuk mengumpulkan rapor yang telah ditanda tangan beserta tanda terima pembayaran iuran sekolah.

Darra menelusuri namanya di daftar murid-murid kelasnya. Ia mendapat kelas XII Sos 3. Ia melirik anam Agung di atasnya. Kelas XII Sos 1, sama dengan Rahmi. Darra termenung. Akhirnya ia akan terpisah dengan sahabat-sahabatnya.

“Ra, kamu kelas berapa?” tanya Rin sambil menghampiri Darra. Ia melihat kertas yang dipegang Darra. “Sos 3? Sama kayak aku!”

Darra langsung menoleh kaget ke arah Rin. “Beneran?”

“Iya!” jawab Rin bersemangat. “Aku, Emil, sama Maya. Kita semua sekelas!”

Darra menghela napas lega. Ternyata tidak seburuk yang dibayangkannya. Ia baru hendak menanyakan Dika mendapat kelas berapa ketika Tiza menghampirinya.

“Kak, siang ini ada rapat OSIS, ya,” kata Tiza.

“Rapat untuk apa?” tanya Darra.

“Untuk persiapan penerimaan murid baru hari Sabtu nanti,” jawab Tiza.

Darra memandang Tiza sesaat kemudian mengangguk. Akhir-akhir ini Aline berada di rumah sakit sepanjang hari. Jadi tidak akan masalah jika Darra pulang terlambat.

“Kamu ikut rapat OSIS?” tanya Rin setelah Tiza pergi. “Tapi kita kan udah janjian mau jalan-jalan pulang nanti.”

“Habis urusan sekolah, aku kan nggak bisa nolak,” kata Darra.

“Berarti kita ke rumah Rahmi aja, ya. Nanti kalau udah selesai rapatnya, kamu nyusul aja,” kata Rin. Darra mengangguk.

Setelah itu Darra pergi ke salah satu ruang kelas untuk mengikuti rapat OSIS. Selama rapat berlangsung, ia memandang berkeliling dan baru menyadari bahwa Tommy tidak ada di sana.

“Tommy nggak datang?” bisik Darra pada Tiza.

“Nggak. Tommy kan pindah sekolah. Katanya sih gara-gara nggak masuk jurusan IPA,” jawab Tiza balas berbisik.

“Aah...” Darra mengangguk-ngangguk.

Sementara itu Dika, Agung, dan teman-temannya sedang berkumpul di luar gerbang sekolah. Mereka sedang merencanakan untuk pergi menjenguk Abrar.

“Jam besuknya jam berapa? Nanti kita udah ke sana, eh malah nggak boleh masuk,” tanya Fajri.

“Coba tanya sama Darra aja. Dia kan pasti sering datang ke sana,” kata Emil.

“Bukannya katanya nyokapnya Abrar marah banget sama Darra, ya?” bisik Ivan. “Kan Abrar dipukulin karena nyamperin preman yang nodong Darra waktu itu.”

“Nggak, lah,” sahut Agung. “Nyokapnya Abrar emang udah lama nggak suka sama Apen. Jadi nggak ada hubungannya sama Darra.”

“Terus kenapa Abrar sampai nggak ngelawan pas dipukulin begitu?” Fajri tercengang. “Jangan-jangan dia sama Darra ada sesuatu?”

“Elo nih, teman lagi kena musibah malah ngegosip terus,” tegur Emil sambil memukul bahu Fajri. “Kan udah jelas, yang nodong itu teman lamanya Abrar. Ya pasti karena dia nggak enak karena Darra jadi korban temannya.”

“Itu dia!” kata Fajri sambil menunjuk ke arah Darra yang baru keluar dari dalam gedung sekolah.

“Ra, kamu tahu jam besuk Abrar?” tanya Ivan saat Darra melewati mereka.

Darra mengangguk. “Jam dua belas siang sama jam empat sore.”

“Sebentar lagi bisa,” kata Ivan sambil melihat jam di tangannya. “Kamu mau ikut sama kita sekalian, nggak?”

Darra menggeleng. “Aku udah janjian sama Rin dan yang lain, mau ke rumah Rahmi.”

“Ya udah kalau gitu. Makasih, ya!” kata Ivan sambil melambaikan tangan ke arah Darra yang melanjutkan langkahnya. “Ayo siap-siap. Gung, elo mau dibonceng sama siapa?”

Dika bangkit sambil memandang Darra hingga gadis itu menghilang dari pandangan. Apa benar Abrar membelanya hanya karena merasa tidak enak?

~***~

Darra duduk di sebuah bangku sendirian. Matanya menelusuri tulisan di depannya tentang tata cara bertemu pasien yang sudah dibacanya berulang kali selama satu jam ini. Akhirnya ia bangkit lalu pergi ke aula depan untuk mencari udara segar. Banyak keluarga pasien yang sedang duduk sambil menonton televisi. Darra merasa lapar, tapi ia tidak bisa makan karena Aline menyuruhnya untuk menunggu di sini sampai ia pulang.

Darra menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka. Aline muncul sambil membawa tasnya. Sepertinya ia akan pulang.

“Saya pulang dulu, besok pagi saya kesini lagi,” kata Aline pada Darra. “Kamu tunggu di sini aja. Nggak usah masuk-masuk ke dalam.”

“Iya, Tante,” jawab Darra.

Setelah Aline pergi, Darra masih berdiam di aula. Haruskah ia pergi ke kantin rumah sakit untuk mencari makanan? Tapi malam-malam begini, kantinnya pasti sudah tutup, dan ia harus pergi ke depan untuk mencari penjual makanan di pinggir jalan. Ah, mestinya tadi Darra membeli roti dulu sebelum kemari.

Ponsel di saku Darra bergetar. Ada sebuah pesan baru dari Abrar.

Kesini.

Darra memandang ponselnya dengan ragu. Aline melarangnya untuk masuk ke ruangan Abrar. Namun, bagaimana jika Abrar membutuhkan sesuatu?

Akhirnya Darra pergi ke ruangan tempat Abrar dirawat. Ia mengetuk pintu lalu melongok ke dalam. Abrar sedang duduk sambil bersandar di kasurnya. Darra tidak tahan setiap kali melihat cowok itu di sana—terbaring dengan perban dan luka-luka di seluruh tubuhnya, serta lengan kanannya yang patah—karena dirinya.

“Kamu butuh sesuatu?” tanya Darra sambil menutup pintu lalu menghampiri tempat tidur Abrar.

“Ada mie ayam di meja. Kamu makan aja,” kata Abrar.

“Nggak usah,” tolak Darra. “Aku udah makan.”

“Aku emang minta beli itu buat kamu,” potong Abrar.

Darra melirik Abrar. “Makasih,” gumamnya. “Aku makan di luar aja.”

Darra menghampiri meja lalu mengambil bungkusan di atasnya. Kemudian ia berbalik dan berjalan menuju pintu.

“Andarra.”

Darra berbalik ke arah Abrar.

“Sini.”

Darra kembali menghampiri Abrar lalu berdiri di sebelahnya. “Kenapa?”

“Ada yang mau aku kasih,” jawab Abrar sambil mengedikkan kepala ke arah tangan kanannya yang dibalut perban.

Darra menoleh ke arah tangan kanan Abrar yang tergenggam kemudian ia kembali mendongak ke arah Abrar.

“Aku nggak boleh ngasih pakai tangan kiri,” kata Abrar.

Darra meraih tangan kanan Abrar lalu dengan hati-hati membuka genggamannya. Ia tertegun saat merasakan sebuah tali tipis di dalam tangan Abrar. Darra menariknya keluar.

“Lain kali, jangan dibawa-bawa. Simpan di rumah aja. Kalau perlu, simpan di kamarku biar aman,” kata Abrar.

Darra tidak bisa menahan air matanya saat melihat sebuah kalung emas putih dengan liontin huruf A di tangannya.

“Jangan nangis. Kamu harus kuat kalau mau jadi adik aku.”

Darra semakin terisak hingga terpaksa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Akhirnya setelah sekian lama, ia bisa mendengar kata “Adik” dari Abrar.

~***~

Pagi itu Darra duduk di halte sambil sesekali melongok ke arah jalan. Dilihatnya sudah beberapa bus sekolah melewatinya, tapi Rin masih belum muncul juga. Darra memeriksa jam di ponselnya. Sudah pukul setengah tujuh sekarang. Mereka bisa terlambat.

“Ra!”

Darra menoleh. Rin sedang berlari sambil menunjuk bus besar berwarna hijau yang melaju pelan di jalan kemudian naik ke bus itu. Darra langsung bangkit dan ikut naik saat bus itu berhenti di depannya. Bus itu lebih besar dan luas dibanding dengan bus sekolah. Mirip dengan bus Trans Jakarta yang pernah Darra tumpangi saat pergi ke Senayan untuk atletik waktu itu.

Setelah membayar ongkos, Darra menghampiri Rin yang duduk di deretan kursi paling belakang. Rin bersandar sambil mengelap keringat di dahinya.

“Kenapa kita naik bis ini?” tanya Darra.

“Biar lebih enak. Kan ada AC-nya,” jawab Rin dengan napas tersengal. “Lagian, kan preman-preman kemarin nggak mungkin naik ke bis ini.”

Walaupun bus itu jalannya lebih lambat, tapi Darra memang merasa lebih nyaman naik bus itu. Ia sering melihat bus seperti ini di film-film luar negeri, dengan pintu yang bisa terbuka secara otomatis, penumpang yang naik dari pintu depan dan turun di pintu belakang, serta tombol untuk memberitahu sopir bus bahwa ada penumpang yang akan turun. Melihat ke”norak”annya, Darra menyadari bahwa selama di Jakarta ia tidak pernah kemana-mana.

Mereka tiba di sekolah beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi. Kelas XII Sos 3 berada di paling pojok, dekat dengan laboratorium dan UKS. Beberapa anak cowok sedang berkumpul di depan kelas saat Darra dan Rin datang. Kali ini posisi meja diubah menghadap ke arah papan tulis. Darra dan Rin langsung mengambil kursi paling depan dekat pintu yang rupanya adalah meja yang paling tidak diminati oleh teman-teman sekelasnya.

“Kalian duduk di sini? Yah, jauh banget kita,” kata Maya yang menempati meja paling depan di ujung satunya.

Setelah bel berbunyi, murid-murid mulai masuk ke dalam kelas. Darra merasa gugup karena ia tidak banyak mengenal teman-teman barunya. Berbeda dengan Rin yang langsung menyapa beberapa teman yang dikenalnya.

Darra yang duduk di pojok menoleh ke arah luar saat melihat seorang cowok berjalan ke arah kelasnya. Ia belum menyadari bahwa tidak ada kelas lagi setelah kelasnya, dan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak ternganga saat cowok itu masuk ke dalam kelas dan melewatinya. Pandangannya mengikuti cowok itu sampai ke kursi kedua dari belakang di ujung satunya. Rupanya Rin juga melihatnya.

“Jangan kelihatan kaget begitu,” bisik Rin sambil cekikikan. “Aku emang sengaja nggak ngasih tahu kalau Dika sekelas sama kita!”