Episode 275 - Peta


Melayang tinggi di udara, rambut dan janggut nan tumbuh lebat berkibar. Dalam keadaan ini, rambut dan janggut tersebut terkesan terawat dengan baik karena menjadi lurus akibat dimainkan angin. Malangnya, pakaian nan compang-camping tentu masih menampilkan sosoknya mirip dengan gelandangan. Hanya menunggu waktu saja bagi angin utkuk mengoyakkan pakaian yang telah lama lapuk. 

Dari ketinggian, lelaki dewasa itu dapat memantau situasi sekeliling secara lebih seksama. Matanya menyipit di kala mencermati. Sejauh mata memandang dan mata hati menebar, terdapat banyak sekali perbukitan. Puluhan, ratusan, tak terhitung lagi jumlahnya. Bukit-bukit terpisah jarak sekira beberapa belas kilometer saja, dan setelah diperhatikan lagi membentuk pola berbaris yang hampir rapi. 

Beberapa bukit terdekat dengan dirinya, mulai bergegar selayaknya sedang terjadi gempa bumi setempat.  

“Ini adalah dunia dimana para naga beristirahat...,” gumamnya pelan. “Perkiraanku benar-benar meleset jauh... Yang Terhormat Laksamana Laut tak berada di tempat ini...”

Suami Mayang Tenggara itu lalu mempercepat merapal lorong dimensi ruang antar dunia. Lorong dimensi ruang biasa, terbilang sangat mudah dibuka karena hanya diperuntukkan sebagai penghubung antara satu tempat dengan tempat lain di dalam satu dunia yang sama. Sebaliknya, merapal lorong dimensi ruang antar dunia bukanlah perkara mudah. Bahkan bagi seorang jenius sekelas Balaputera Ragrawira, membutuhkan waktu yang cukup panjang dan tenaga dalam yang tak sedikit jumlahnya. 

Berada tepat di bawah, Lamalera dan Aronawa Kombe telah tiba. Keduanya terlihat gelisah menanti. 

Di kejauhan, Hang Jebat bersama keris besar Tameng (tanpa) Sari yang ujungnya bercabang bak lidah ular. Menggengam senjata berkepribadian itu di kedua belah lengan, ia sedang bersuka cita bertarung menghadapi seekor naga. Dibandingkan naga nan ukuran tubuhnya yang seukuran bukit, dan baru bangun dari tidur, maka Hang Jebat terlihat bergerak lincah menghindar dan mendaratkan tebasan demi tebasan senjata pusaka milik kakaknya itu. 

Setiap satu tebasan keris besar Tameng Sari, menciptakan percikan berapi. Ibarat logam berbentur logam, sisik-sisik besar dan keras yang melindungi tubuh naga tiada dapat ditebas! 

“’Kan sudah kami katakan, Wahai Jebat...,” kesadaran Tameng menggerutu. “Tanpa keberadaan Sari, jangan kau harap dapat membantai seekor naga sekalipun.”

“Bukankah kau bersama Kakak Tuah pernah membantai seekor naga...?” Hang Jebat menghindar dari cakar besar nan melibas ke arahnya. 

“Jangan kau bandingkan kemampuanmu kini dengan keperkasaan beliau di kala itu. Dengan kau berada pada kondisi puncak pun, belum ada apa-apanya dibandingkan dengan Hang Tuah...”

“Kau menghinaku, Tameng!?”

“Kau tak sadar diri, Jebat!” 

Andai saja Hang Jebat tahu, bahwa masih terdapat banyak bukit-bukit lain, yang mana di dalamnya diyakini sedang tertidur para naga. Beberapa bukit bergempa semakin deras. 

Balaputera Ragrawira adalah satu-satunya ahli yang paling menyadari akan bahaya besar yang kini mengancam di depan mata. Sempat terlintas di dalam benaknya untuk melepas formasi segel yang sengaja dipasang di ulu hati. Akan tetapi, bahkan dengan melepas segel yang membatasi kemampuan sejati dirinya sekalipun, sang jenius dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang itu tak yakin dapat menghadapi puluhan naga sekalipun. 

“DUAR!” 

Tiga atau empat bukit meledak hampir secara bersamaan! Cakar-cakar nan besar mencuat dari dalam tanah dan menyibak aura demikian mengerikan. Setinggi bukit, tiga ekor naga bangkit berdiri. Leher mereka panjang, taring besar-besar, sayap mereka merentang dan menutupi cahaya mentari. Di bawah bayangan naga, maka tak seorang manusia pun berkesempatan melarikan diri. Bahkan bangsa iblis, akan berpikir dua tiga kali bila dihadapkan pada sekelompok naga! 

“Srash!” 

Para naga saling dorong. Mereka melibas satu sama lain, membabi buta, ibarat dalam pertarungan hidup dan mati. Sepertinya, terbangun lebih cepat dari tidur panjang, membuat hanya naluri buas yang mengendalikan tubuh mereka. Kesadaran para naga belum sepenuhnya kembali. Balaputera Ragrawira segera menyadari kenyataan ini. Lebih dari itu, ia juga menyadari bahwa jika sekelompok naga bertarung secara bersamaan, mereka akan membinasakan wilayah tersebut. 

“Awas!” Balaputera Ragrawira menggerakkan sebelah tangannya. 

Sebuah lorong dimensi ruang tetiba membuka di bawah kaki Lamalera dan Aronawa Kombe. Oleh karen itu, serta merta keduanya terperosok jatuh ke bawah! Di kala lorong dimensi ruang itu menutup, kobaran api melibas dan membakar bahkan permukaan tanah! 

Kedua ahli muncul di tempat lain, yang cukup jauh dari tempat tadinya mereka berada. Terselamatkan. Balaputera Ragrawira mendarat di dekat mereka, dan masih bekerja merapal formasi segel. Keringat deras membasahi tubuh dan napas terengah-engah, lorong dimensi antar dunia belum kunjung rampung. 

“Hei!” hardik Hang Jebat di kejauhan. “Jangan tinggalkan aku!” 

Di mata para naga yang sedang bertarung tanpa arah dan tujuan, pergerakan gumpalan asap berbau kemenyan kecil yang adalah Hang Jebat, ibarat seekor curut yang berupaya melarikan diri. Kelima naga teralihkan perhatian mereka. Sontak mereka mengejar Hang Jebat yang berlari menuju ke tempat Balaputera Ragrawira bersama yang lainnya!

“Pancing mereka ke arah lain...” Kembali Balaputera Ragrawira mengingatkan. 

“DUAR!” 

Dua bukit runtuh menghalangi gerak langkah Hang Jebat. Ia berkelit lincah ketika menghindar dari cakar-cakar besar yang datang dari dua ekor naga yang baru saja terbangun. Untungnya, ketika dua ekor naga nan baru bangkit, mereka menghadang langkah lima naga sebelumnya. Pertarungan antar naga pun bergelora. Hang Jebat berkelit ke arah berlawanan... 

“Hei!” teriak Hang Jebat menarik perhatian. “Hadapi aku, kalian naga busuk keparat!” 

Segera setelah itu, Hang Jebat lantas membuat kepulan asap besar berwujud ikan sembilang. Sebagaimana diketahui, memang ikan sembilang raksasa seukuran perahu tersebut merupakan wujud dari unsur kesaktian asap kemenyan milik si Raja Angkara Durhaka. 

Tujuh ekor naga raksasa yang belum sadar, segera memusatkan perhatian pada Hang Jebat. Sontak mereka mengejar, memporak-porandakan hutan lebat yang berada di dalam lintasan pengejaran. 

“Khikhikhi... Dasar naga-naga tolol!” Hang Jebat mengirimkan wujud unsur kesaktiannya semakin menjauh. Sedangkan dirinya, kini sedang melesat cepat ke arah di mana Balaputera Ragrawira berada. 

“Lama sekali kau bekerja,” hardik Hang Jebat kesal. “Sudahlah kau salah, sekarang aku menggantungkan hidup pada kemampuan Kemaharajaan Cahaya Gemilang! Cih! Apa khabar Balaputera Dewa, apakah sudah dimakan ulat tanah si tua bangka itu!?”

Balaputera Ragrawira tak mengindahkan kata-kata Hang Jebat. Ia memusatkan perhatian dalam merapal formasi segel. 

“Sepertinya kita terpaksa terus bergerak...” Aronawa Kompe memberi saran. 

“Kau! Kau! Bukankah kau menekuni Jalan Keahlian Waktu!” Hang Jebat mengacungkan telunjuk sembari menghardik, dan terlihat lebih mirip meludah. Air liurnya berhamburan ke mana-mana. 

“Sungguh aneh... diriku tiada dapat mengerahkan kemampuan di dunia ini...” Aronawa Kombe terlihat kebingungan. 

“Omong kosong! Itu petanda kau tak becus!” 

“Kakak Jebat... sudahlah... Kita perlu terus bergerak, sebagaimana disampaikan Aronawa.” Lamalera mencoba menengahi.

“Kau juga! Tak berguna! Sudah susah payah aku melatih!” Hang Jebat semakin kesal. “Tak ada gunaaaaaaa!”

Tetiba, keempat ahli merasakan gempa yang jauh lebih keras dari sebelumnya. Gempa bumi kali ini bahkan membuat Balaputera Ragrawira hampir kehilangan keseimbangan. Sedangkan Lamalera dan Aronawa Kombe, keduanya tak kuasa lagi berdiri sehingga tertelungkup mencium tanah. Hang Jebat bertopang pada keris Tameng Sari yang ia tancapkan ke tanah, sungguh perlakuan yang membuat sebal kesadaran si keris. 

Bersamaan dengan gempa tersebut, tak kurang dari dua puluh bukit ambruk secara berurutan. Bahkan di antara bukit-bukit tersebut, satu atau dua di antaranya sudah layak disebut sebagai gunung nan berukuran kecil. Tak sampai di situ, yang membuat keempat ahli semakin cemas, adalah kenyataan bahwa mereka tepat berada di tengah-tengah bukit-bukit yang runtuh tersebut. Dengan kata lain, mereka terjepit di antara naga-naga yang baru terbangun dari tidur. Jangankan diserang naga, pertempuran yang akan mengemuka karena naluri naga yang belum sadar dan dalam jumlah yang sebanyak ini, sudah barang tentu dapat membunuh mereka!

“Wira!” Hang Jebat menghardik membabi buta. “Kau hendak mati konyol! Lakukan sesuatu! Pindahkan kita! Segera!” 

Pikiran Balaputera Ragrawira masih terpusat dalam membangun lorong dimensi antar dunia. Formasi segel sedang berpendar, dan lorong dimensi antar dunia sedang merangkai diri. Oleh karena itu, sebaiknya tiada meninggalkan tempat ini karena formasi segel tersebut perlu dilindungi dari serangan secara tak sengaja para naga. Bilamana pergi, maka proses merapal kemungkinan besar terpaksa diulang dan bukan tak mungkin bahaya yang mengancam akan semakin besar. 

“Wira!” Hang Jebat mulai terlihat panik. 

“Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambara...” 


===


“Apakah dikau membunuh Jenderal Keempat di Kerajaan Garang...?” Sang Bupati Selatan Pulau Lima Dendam berujar santai, sambil memegang beberapa lembar kertas laporan yang sebelumnya diserahkan oleh bawahannya. 

“Apakah Kakak Lintang bersebahat dengan Jenderal Keempat tersebut? Apakah Kakak Lintang menukarkan informasi keberadaan sang Yuvaraja dengan imbalan agar Kerajaan Garang tak menelusuri keberadaan si Perawan Putih untuk sementara waktu...?” Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti bertutur sama santainya. 

“Hahaha...” 

“Hahahaha...”

Keduanya tetiba tergelak. Akan tetapi, tatapan mereka terkunci pada satu sama lain. Keduanya saling mencurigai. 

“Mana mungkin diriku berbuat sampai sejauh itu,” tanggap Lintang Tenggara. “Kemaharajaan Cahaya Gemilang merupakan kampung halamanku, sedangkan Binturong itu adalah adik kandungku...” 

“Tak sejauh itu pula nyaliku... menyusup ke Kerajaan Garang, lalu membunuh seseorang yang keahliannya berada beberapa tingkat di atas diriku. Sungguh perbuatan yang mustahil...”

Kedua ahli saling pandang. Apa pun itu kata-kata yang meluncur keluar dari mulut lawan bicara, tak dapat ditelan mentah-mentah. Lidah tak bertulang....  

“Lalu, angin apa yang membawa dikau ke Pulau Lima Dendam, wahai Anggota Pasukan Telik Sandi...?” Ada cibiran di balik kata-kata Lintang Tenggara kali ini. 

“Oh... diriku mendapat warta bahwasanya seekor binatang siluman dengan unsur kesaktian yang unik telah muncul di Pulau Satu Garang. Akan tetapi, diriku terpaksa singgah sejenak ke Pulau Lima Dendam karena di dalam perjalanan ke sana, diriku mendengar berita kematian Jenderal Keempat tersebut. Pengamanan di Kerajaan Garang beberapa hari ke depan pastinya sangatlah ketat.”

“Apakah perihal binatang siluman kancil dengan unsur kesaktian putih...?” Lintang Tenggara meletakkan lembaran laporan yang disusun oleh Anjana ke atas meja. 

“Benar.”

“Apakah dikau hendak menumpang bermalam.” 

“Jikalau diperkenankan...”

“Menetaplah selama engkau mau...” Lintang Tenggara mengibaskan telapak tangan, petanda ia tak keberatan. 

“Selain itu, diriku hendak membahas tentang ancaman Kekuatan Ketiga...,” lanjut Sangara Santang. Kini pembawaannya terlihat lebih serius.

“Kekuatan Ketiga bukanlah ancaman bagi Partai Iblis...” Lintang Tenggara berkelit. 

“Bilamana Partai Iblis masih hendak mengambil alih tampuk kepemimpinan Negeri Dua Samudera, maka lambat laun perihal Kekuatan Ketiga patut ditangani. Jikalau tidak, maka mereka akan menjadi duri dalam daging.” 

“Apa yang dikau ketahui tentang Kekuatan Ketiga?” Lintang Tenggara hendak menguji pengetahuan lawan bicaranya. 

“Mereka hendak membangkitkan Lima Raja Angkara.” 

“Itu saja...?”

“Anggotanya tak banyak, namun kesemuanya memiliki kecerdikan dalam menyusun siasat.” Sangara Santang masih memajang wajah serius. 

“Apa gagasanmu...?”

“Mari kita tebar umpan. Sebar isu yang mengatakan bahwasanya telah ditemukan salah satu senjata pusaka Angkara Murka dan saat ini berada di tangan Pulau Lima Dendam. Pastilah nantinya anggota Kekuatan Ketiga muncul ke permukaan...” 

“Apakah dikau berniat mengadu domba anggota Partai Iblis, wahai Sangara Santang...? Memporak-porandakan Pulau Lima Dendam...?” Lintang Tenggara menohok. 

“Bukan, bukan demikian maksudku...”

“Bagaimana bila isu yang disebar mengatakan bahwa Sanggar Sarana Sakti telah menemukan salah satu senjata pusaka Angkara Murka.”

“Boleh saja.” Sangara Santang tak berpikir panjang. Senyumannya mengelabui. “Untuk itu, mohon Kakak Lintang sudi meminjamkan salah satu senjata pusaka Angkara Murka dimaksud.”

“Dikau dapat meminjam langsung kepada Datu Besar Kadatuan Kedua di Minangga Tamwan.” 

Sangara Santang terlihat berpikir keras. Mana mungkin bagi dirinya meminjam langsung kepada Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Harapannya adalah bagi Balaputera Lintara yang membantu meminjamkan. Akan tetapi, tokoh tersebut telah terlebih dahulu menolak memberikan bantuan. 

“Atau...” Lintang Tenggara menghentikan kata-katanya...

“Atau apa...?” Sangara Santang merasa mendapat angin segar.

“Atau... dikau dapat meminjamkan kepadaku peta di mana salah satu senjata pusaka Angkara Murka berada. Aku akan mengirimkan pasukan untuk menelusuri.