Episode 74 - Descendant of the Flame



“Seperti yang kita berdua sudah tahu,” Lasius menjelaskan dengan posisi sikutnya menempel pada lutut di atas sofa ruang tamunya. “Kita para Descendant of the Flame, tidak berasal dari benua ini, kita berasal dari benua yang berbeda. Benua Elleon. Benua yang sangat jauh dari sini.”

“Ya aku sudah tahu itu,” Ranni membalas. “Semua orang di suku kami dari kecil sudah ditekankan pada budaya leluhur. Cerita asal muasal kami selalu ditekankan sejak kecil”

“Benar sekali, dan orang Azuria hanya tahu sedikit sekali tentang dunia di luar benua ini.” balas Lasius. “Salah satu negeri di benua itu, adalah negara kita. Para Descendant of Flame yang dikuasai oleh 3 klan api, yaitu klanku, Filberth.” tunjuk Lasius pada dirinya sendiri. “Klanmu, Swordia,” Lasius menunjuk Ranni. “Dan klan penguasa, yang puluhan tahun lalu telah musnah oleh orang dari klan itu sendiri. Lodier namanya.”

“Aku masih kecil pada saat itu,” Ranni menunduk. “Dan orang-orang selalu menghindari pembicaraan mengenai klan itu.”

“Menurut silsilahnya, 3 pendiri masing-masing klan adalah saudara kandung dari sejarah ribuan tahun yang lalu.” Lasius melanjutkan. “Lodier adalah kakak tertua dan dikenal sebagai manusia dengan api yang tak terbatas. Dengan kekuatan seperti itu, tak sulit bagi klan Lodier menaklukan saudara-saudaranya yang lain.”

“Benar, Lodier dijuluki seperti itu. Dan karena kekuatan itulah bangsa kami dikenal sebagai bangsa yang barbar, dengan pikiran kekuatan diatas segalanya.”

“Memang begitu,” Lasius menunduk tak berdaya. “Tapi apa daya kami semua, mereka terlalu kuat sekalipun awalnya kita berasal dari keturunan yang sama. Klanku, Filberth dikenal dengan Pyromancy-nya, Kita mengedepankan kemampuan api melalui sihir, tapi kami punya batas dan cenderung lebih mendalami budaya sihir, leluhur dan agama yang kami anut.” 

“Tapi karena sikap kalian yang seperti itu,” balas Ranni. “Filberth sering di diskriminasi di negeri seberang yang mengharamkan sihir dan agama kalian.”

“Benar, kekaisaran itu, dengan raja-raja bodohnya yang tak pernah berubah.” Lasius geram. “Klan kami jadi banyak mengalami hal mengerikan, ditambah streotype bangsa barbar karena sikap Lodier sebagai pemimpin negara pada saat itu.”

“Lain halnya dengan klanku, karena kemampuan kami dalam pembuatan senjata, klan Swordia memiliki hubungan yang dekat dengan kekaisaran itu.” balas Ranni. “Meski kami paham betul bahwa mereka sangat diuntungkan karena kami.”

“Klanku terkenal dengan pyromancynya,” balas Lasius. “Klanmu Swordia dikenal dengan kemampuannya dalam membuat senjata yang tak bisa rusak seumur hidup penggunannya.”

“Tapi karena budaya seperti itulah beberapa dari kami kerepotan.” Ranni terlihat tak begitu senang. “Saat berusia 17 tahun, pria atau wanita dari klan Swordia akan dibuatkan senjata terbaik oleh pandai besi terbaik. Tanpa memandang status ekonomi atau derajat sosial mereka. Aku mendapatkan tongkat, yang pernah patah sewaktu di turnamen kemarin. Tapi bisa dibetulkan kembali dengan suntikan elemen api penggunanya saja.”

“Swordia adalah klan yang mengagumkan.” Lasius tersenyum. “Ketiga klan ini berasal dari nenek moyang yang sama, tapi memiliki spesialisasi yang berbeda-beda. Meski beratus-ratus tahun lamanya, kami harus menuruti penguasa klan Lodier yang lalim itu.”

“Aku tak terlalu tahu tentang klan itu. Setelah malam dimana mimpi burukku itu terjadi. Orang-orang dewasa setelahnya berusaha menghindari topik pembicaraan klan Lodier. Seperti tabu untuk diceritakan.”

“Tak heran, kamu ada di generasi baru yang mengalami kemusnahan klan itu di usia yang masih sangat dini.” Lasius lalu bertanya. “Kau umur berapa sekarang?”

“19... 19 tahun.” jawab Ranni.

“Sangat disayangkan sekali, di usia sekecil itu kamu terlanjur menyaksikan itu semua.” balas Lasius. “Namun kami punya tragedi sejarah yang panjang dengan klan itu. Lodier mengedepankan kekuatan diatas segalanya, dan untuk menjadi raja berikutnya. Salah seorang dari Descendant of the Flame harus menantang berduel satu lawan satu dan siapapun yang menang akan jadi rajanya. Namun kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang terlalu kuat. Sampai tuapun mereka tetap sulit dikalahkan, mereka juga tega membunuh putra mereka sendiri yang mau merebut kekuasaan raja yang berkuasa saat ini, yang tentu saja adalah ayahnya sendiri.”

“Jadi, mereka sekejam itu...” Ranni dibuat merinding. 

“Kekuatan diatas segalanya. Namun orang-orang yang tak memiliki kekuatan terkuat, bisa melakukan cara-cara licik seperti meracuni, membunuh secara diam-diam. Apapun demi meneruskan kekuasaan itu ke tangan yang baru. Mereka adalah klan seperti itu.”

“Melihat semua itu, kita Klan Swordia dan Filberth tak mampu berbuat apa-apa?”

“Sayangnya benar,” Lasius terpejam. “Klan kita memang dipandang kuat oleh dunia luar, tapi Lodier dengan kemampuan api yang tak terbatas itu ada di level puluhan kali diatas kita, cara licik, cara curang tak pernah berhasil dilakukan. Mengingat populasi klan mereka yang luar biasa banyak dan setiap orang yang merasa kuat juga ingin merebut kekuasaan. Kami pada akhirnya tunduk pada mereka dan dipandang sama seperti mereka.”

“Lalu di hari kehancuran klan itu, dua orang berduel.”

“Kepala suku klan kami pada saat itu, Theophrastus Filberth alias Elder Theo. Dengan tongkat merah naganya yang mirip dengan milikmu. Berduel dengan Heimdall Lodier untuk menghentikannya.”

“Menghentikan? Kenapa dihentikan? Bagus dong klan itu musnah.”

“Aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi dia tetap ada disana, berduel dengannya dan pada akhirnya mati terbunuh pada kejadian itu.” Lasius mengusap-usap mukanya dan menaikkan rambutnya. 

“Wahh bodoh sekali ya...”

“Memang, dia bodoh sekali,” Lasius menyetujuinya. “Elder Theo yang bijak akhirnya melakukan kebodohan hingga menghilangkan nyawanya. Tapi kenapa dia melakukannya? Aku masih tidak tahu.“

“Aku hanya mengingat atau melihat kejadian itu sekilas saja. Duel orang berduel, satu berbadan besar dengan api yang besar. Dia pasti Heimdall.” kata Ranni sambil mengingat-ingat. “Dan lawannya adalah kepala suku klan Filberth pada masa itu. Elder Theo, seorang Descendant of the Flame yang bisa menggunakan elemen lain selain api.”

“Benar, dia adalah keajaiban, tak seorangpun bisa. Hanya dirinya, namun meski sudah seajaib itu, lagi-lagi dihapadan Lodier. Kami bukanlah apa-apa. Dia mati dicekik olehnya dan dibakar hidup-hidup dalam kondisi begitu. Kepala suka kami, Elder Theo yang bijak, yang ajaib. Masih bukan apa-apa ketika melawan Lodier.”

“Sial! Sial! Sial!” Ranni kesal hingga menggebrak-gebrak meja. “Jadi seperti itu kebenarannya! Lalu setelah klan Lodier musnah karena Heimdall Lodier. Jadi apa mereka sekarang.”

“Aku tak tahu, populasi mereka menurun drastis setelah kejadian itu. Hingga aku yakin tak lebih dari 100 orang yang menyandang nama Lodier lagi. Namun meski cuma satu orang, mereka adalah monster.”

“Lalu wilayah negri mereka?”

“Bangunan-bangunan yang sudah terbakar itu kami bersihkan dan wilayahnya kami bagi rata ke dua klan yang tersisa. Wilayah Utara dikuasai Swordia, wilayah selatan dikuasai Filberth. Setelah itu kau pasti tahu yang terjadi, namun aku memilih pergi keluar benua Elleon dan menetap disini, di Azuria, hingga aku berusia 40 tahunan, tak terasa aku sudah 10 tahun lebih ada disini.”

“Jadi begitu ya, dan Heimdall aku harap dia sudah mati.”

“Ya aku dan semuanya pun berharap begitu. Tapi nyatanya tidak, dia buron dunia sekarang. Seluruh dunia memburunya. Tapi di benua Azuria, sepertinya informasinya tak sampai, dan tak heran. Beberapa saat lalu, berita kehadirannya di benua ini mulai tercium.”

“Dia ada di Azuria!?” Ranni kaget.

“Iya, dia dikabarkan terlihat di Quistra, saat Guild White Bear dienyahkan.”

“Quistra? Negara Azuria yang selalu musim dingin itu?”

“Iya, kau belum pernah kesana pastinya. Negara di utara Azuria yang saljunya tak pernah berhenti turun. Tapi kenapa dia disini? Kenapa dia ada di Quistra? Aku juga sedang mencari tahu.”

“Baik,” Ranni berdiri. “Aku mengerti. Terima kasih telah menceritakan semua ini padaku. Memori itu menjadi sangat jelas sekarang.”

“Memori? Apa itu alasanmu mencari tahu hal ini?”

“Sewaktu di turnamen, Nicholas meng-cast sihir Dream Catcher padaku.”

“Ahh.. si Obsidus yang sombong itu ya.“

“Benar, karena sihir itu, segala memori terburuk yang pernah kualami dibangkitkan kembali, dan memori dua orang berduel itu yang muncul. Yang aku sudah lupa, dan mati-matian mencari informasi apapun tentang hal itu dan kini, oleh guruku sendiri. Semuanya menjadi jelas. Aku lega sekarang.”

“Hmmph!” Lasius tersenyum. “Jadi begitu, senang bisa membantu.”

“Kalau begitu aku mohon izin, sekali lagi terima kasih pak.” Ranni mengulurkan tangan, mengajak bersalaman. 

Lasius menyambut dan menyampaikan pesan. “Tolong diingat, jangan sekali-kali mencari orang itu. Kau, bahkan aku sekalipun, ada di tingkat yang jauh sekali berbeda.”

Ranni tersenyum. “Terima kasih pak, aku sudah cukup lega mendengar ini semua darimu. Aku janji tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu.”

“Bagus.” Lasius tersenyum banga. “Aku percaya seusai lulus dari sini, kau akan menjadi orang besar untuk klan Swordia.”

Ranni kembali ke dormnya, ia berjalan di malam hari dengan memeluk buku besar itu erat-erat di dadanya. Ia tersenyum sepanjang jalan dengan sukacita mengetahui itu semua. Ranni memandang bulan biru di langit malam dan memikirkan langkah dia selanjutnya.

***

Di malam yang sama, Koblenz di ranjang rawatnya terkapar luka dengan wajah dibalut perban. Sepanjang hari ia terus mengkertakan gigi untuk meluapkan rasa kebenciannya pada Nicholas dan meneteskan air mata karena tak seorangpun datang menjenguknya. 

“Grrr... Sinus, Nicholas! Suatu hari kalian akan mendapatkan hukumannya!”

***

Hari berikutnya, pagi hari di kelas Stellar.

Koblenz dengan kepala dibalut perban sudah kembali belajar di kelas seperti semula.

“Maaf pak Glaskov, aku pindah tempat ke sana.” tunjuk Koblenz ke bangku di ujung belakang kelas, saling bersebrangan dengan tempat duduk Velizar saat ini. “Aku kesal dekat-dekat dengan si sombong ini.”

Ia berjalan menuju tempat duduk barunya, namun langkahnya lebih terlihat takut kalau hal yang sama akan terjadi lagi jika Nicholas ada di dekatnya. 

Meski begitu, Nicholas terlihat tak terlalu peduli. Kini ia duduk sebangku dengan Sinus, menjaga dirinya untuk tidak di bully oleh siapapun di kelasnya. Sekalipun kelas sudah berlangsung seperti biasa, kini suasananya terasa agak berbeda. 

Sinus dibuat minder dan merasa bersalah hingga ia menjadi nunduk terus, karena meski tak ada lagi yang berani menembakkan sihirnya ke Sinus, tapi ekpresi penolakan atas kehadirannya di kelas terasa jelas sekali, muka-muka orang yang mengabaikan dirinya dan buang muka pada saat Sinus melihat mereka. 

Sinus serasa tidak diinginkan ada di kelas ini. Tapi tentu saja mereka melakukannya secara tidak langsung karena Nicholas menjaga Sinus di sebelahnya.

“Oke hanya beberapa minggu lagi kita akan melakukan ujian di sebuah dungeon, dan materi hari ini adalah tentang...” Glaskov memberikan materi untuk persiapan menjelajah dungeon nanti.

Suasana penolakan ini yang menjadi beban pikiran Nicholas yang terus-menerus ia pikirkan, hingga ia tak bisa fokus dengan pelajaran.


***

Matahari terbenam dan jam sekolah selesai.

“Haduh capek banget ya, belajar sampai jam segini.” keluh Fhonia dengan wajah pucat membiru. 

Iris teman di sampingnya sedang merapikan buku untuk segera kembali ke dormnya “Capek-capek, seolah-olah gak perhatiin, tapi nilaimu bagus terus.” gerutu Iris dengan menggembungkan pipinya.

“Nilai? Memang nilai buat apa sih? Toh nanti kita lulus gak lulus tergantung kita dapat guild yang mau menerima kita atau tidak.” Kata Fhonia sembari terbaring lemas. “Jangan samakan Vheins dengan sekolah-sekolah biasa di Letshera.”

“Ya tetap saja! Kamu tuh pintar dari sananya, enak banget tahu.” balas Iris.

“Alzen! Alzen!” sahut seseorang dari luar kelas memanggil Alzen.

“Oke-oke! Sebentar lagi.” Alzen merapikan bukunya dengan tergesa-gesa.

“Huh? Dia kan kakak kelas kita,” Iris mengingat-ingat. “Neil Winter!? Dia kak Neil!?”

“Hee? Siapa? Si nerd rambut putih itu?” kata Fhonia yang masih terbaring lemas dan mulut monyong ke depan.

“Dia penerima beasiswa no.1 di angkatan 2 tahun lalu. Dia terkenal loh... kamu tidak tahu.”

Fhonia geleng-geleng kepala. “Tidak,” lalu ia kembali berbaring di atas mejanya.

“Oke! Aku sudah selesai,” Alzen menghampiri Neil.

“Hee? Alzen? Woah... dua jenius berkumpul!?” Iris berlebihan memandang mereka berdua.

“Aih... seketika kamu kok norak banget sih.” keluh Fhonia yang wajahnya menempel pada permukaan meja.

Setelahnya Alzen dan Neil Winter pergi keluar kelas.

***

“Baru selesai ya?” sapa Neil Winter sambil berjalan berdampingan dengan Alzen. “Haha tingkat 1 memang keras ya.”

“Loh” balas Alzen disampingnya. “Tingkat 2 memang lebih ringan ya?”

“Tidak lebih ringan sih, hanya saja lebih cepat pulang.” balas Neil. “Ayo ke rumahku.”

“Rumah? Kamu tinggal disini.”

“Lebih ke ngontrak sih hahaha. Habis tingkat 2 sudah tidak dikasih dorm, tapi kalau adapun kita juga gak mau sih.”

“Kok gak mau? Kan dorm enak?”

“Ahh... kamu belum tahu apa-apa. Kos-kosan di Area 3 lebih enak. Tapi jangan di Crystal District. District lain yang sedang-sedang saja juga sudah bagus.”

***

Alzen dan Neill, tiba di Sapphire District, tempat Neil saat ini tinggal. Sebuah rumah dengan fasilitas lengkap yang ditinggali hanya satu orang, tapi disana terdapat dapur, tempat tidur, kamar mandi yang terlalu cukup untuk kapasitas satu atau dua orang.

“Woah... jadi disini rumahmu,” Alzen kemudian mengkoreksi. “Ahh maksudku kos-kosanmu.”

“Yup! Tidak terlalu buruk kan?” balas Neil. “Sebentar biar aku bikinkan kopi. Kamu ngopi tidak?”

“Ini sih masih bagus banget.”

“Makanya.” Neil pergi ke dapur dan membuatkan kopi. “Jauh lebih lega dari dorm kan.”

Alzen mengangguk.

***

Alzen dan Neill di sofa saling berhadapan.

“Sluuurrpp...” Neil meneguk secangkir kopi. “Nah, kita diskusikan disini. Apapun caranya pak Vlau harus dibuat sampai setuju.”

“Masih soal itu kah?”

“Iya, soal CC. Karena kau dan aku sibuk sekolah, jadi kita baru bisa kesana lagi di akhir pekan.” balas Neil. “Tapi, tapi, tapi... nama lengkapmu apa ya?

“Huh? Kenapa?”

“Alzen Franquille ya?”

Alzen mengangguk. “Iya... kenapa memangnya.” 

“Nama itu, Franquille. Membuatku teringat dengan ilmuwan potion di buku yang pernah kubaca? Kildamash Franquille namanya, kau tahu dia?”

“Huh? Tahu dong, dia ayahku.”

Brusssshhhhtt!

Neil yang sedang minum kopi langsung menyemburkannya ke depan muka Alzen.

“Ka-kau!!? Kau anaknya!!?”

“Aihh, aku disembur.” Alzen segera membersihkan mukanya yang terciprat semburan kopi. “Iya, iya! Aku putranya.”

“Benarkah!!? Aku masih merinding setengah tidak percaya, tapi tunggu-tunggu. Aku bawakan bukunya.” balas Neil yang dengan tergesa-gesa beranjak pergi mencari buku di rak. 

“Buku?” 

Di rak buku Neil, ia mencari-cari dengan tergesa-gesa. Disana terdapat dua rak buku besar 5 tingkat, dijajarkan seperti huruf L dan saking banyaknya buku yang ia punya, sampai kedua rak itu tak lagi mampu menampung buku-bukunya hingga dibiarkan terserak di lantai rumahnya.

“Ahh ini dia!” kata Neil setelah menarik sebuah buku berjudul, Potion Creation – Secret of Alchemy yang ditulis oleh Kildamash Franquille.

“Nih lihat-lihat!” kata Neil yang mengubek-ubek halaman buku itu untuk ditunjukkan pada Alzen. “Ini ayahmu?” tunjuknya pada sebuah foto di buku itu.

Alzen melihat gambar yang ingin ditunjukkan Neil dan melihat gambaran ayahnya ketika masih muda berfoto bersama seorang wanita disampingnya. Seketika hatinya terguncang dan air matanya mulai menetes.

“Hee!? Alzen?” Neil tak habis pikir, melihat reaksi Alzen langsung jatuh tersungkur sesaat setelah melihat foto itu.

“Jadi seperti itu sosok ibu, aku baru mengingatnya sekarang.” Alzen tersungkur jatuh hanya di topang kedua lengannya dan menangis hingga meneteskan air matanya ke lantai. “Jadi seperti itu wajahnya, jadi seperti itu rupanya... aku ingat sekarang, aku ingat sekarang.”

***