Episode 54 - Langit Merah di Mega Mendung (3)



Telinga Pendekar Dari Lembah Akhirat mulai sakit oleh kedahsyatan luar biasa jeritan-jeritan ratusan makhluk siluman yang datang menyerangnya. Meski dia sudah tutup indera pendengarannya dengan tenaga dalamnya, tetap saja suara jerit lengking yang mengerikan itu masuk menerobos liang-liang telinganya, dan pada jurus pertempuran kedua belas kedua telinga Jaya Laksana mulai keluarkan darah. “Mampuslah aku!” keluh Jaya dalam hati. Baru saja dia mengeluh demikian, satu sambaran tangan lawan tak bisa dielakkannya.

Breet! Robeklah pakaian Jaya Laksana. Dadanya tergurat luka disambar kuku dari makhluk siluman dan tubuhnya dengan serta merta menjadi sangat panas. Jaya cepat telan sebutir pil lalu melompat enam tombak dan alirkan tenaga dalam ke Keris Kyai Segara Geni. Keris pusaka itu memancarkan cahaya biru menggidikan. 

Sebuah lidah api berwarna biru disertai pusaran gelombang angin panas menderu ke arah makhluk-makhluk siluman. Tapi laksana seseorang menepuk air hujan, makhluk-makhluk itu kebal terhadap api biru dari Keris Kyai Segara Geni yang dilepaskan Jaya.

Pendekar Dari Lembah Akhirat sambil melayang turun kirimkan pukulan “Badai Mendorong Bukit”, sedang keris diputar dengan gerakan jurus “Naga Kepala Seribu Mengamuk”! Dua gelombang angin yang dahsyat luar biasa melanda tubuh makhluk-makhluk siluman. Tapi tak ada gunanya serangan itu karena makhluk-makhluk ini seperti tiada merasakan apa-apa malah dengan cepat menyerbu tambah dekat. Sewaktu Jaya dalam keadaan yang sudah kepepet itu, ia lepaskan pukulan “Sang Surya Tenggelam”, dengan tangan kiri, makhluk-makhluk siluman itu meniup ke muka dan menjerit-jerit lebih dahsyat. 

Pukulan Sang Surya Tenggelam membalik menyerang Pendekar Dari Lembah Akhirat sendiri. Jaya menjerit keras. Untuk melompat kembali ke atas tidak mungkin. Terpaksa dia buang diri ke samping dan bertabrakan dengan salah satu makhluk siluman. Untung saja Jaya masih sanggup jatuhkan diri dan berguling di tanah, kalau tidak pasti tubuhnya akan dihantam empat pasang tangan makhluk siluman. 

Ketika dia berdiri kembali, empat makhluk siluman menerjang ke arahnya. Tak ada jalan lain daripada hantamkan Keris Kyai Segara Geni ke muka. Empat makhluk meraung keras dan mandi darah. Muncratkan darah hanya menambah banyaknya jumlah makhluk siluman itu saja. Sedang empat makhluk yang tadi disambar Keris kembali menyerbu dengan lebih buas.

Galuh yang menyaksikan pertarungan dahsyat itu sudah sangat khawatir akan keselamatan Jaya, “Guru, apa kelemahan dari Ajian Candra Birawa itu?” tanyanya dengan gelisah.

“Sayang sekali aku tidak tahu Galuh, sepanjang sejarah dunia persilatan, hanya mendiang Sri Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja sajalah yang berhasil memecahkan rahasia ajian dahsyat itu!” jawab si Dewa Pengemis.

“Kalau begini terus Jaya bisa celaka!” keluh Galuh, lalu tanpa berpikir panjang Galuh pun melompat menerjang ratusan mahluk siluman ghaib itu untuk membantu Jaya.

“Galuh tunggu!” seru si Dewa Pengemis, tapi muridnya sudah kandung melabrak mahluk-mahluk ghaib itu dengan jurus “Garuda Emas Kepakan Sayap” untuk membantu Jaya, maka mau tidak mau si Dewa Pengemis pun melompat ikut menerjang ratusan mahluk Ajian Candra Birawa itu untuk membantu muridnya dan calon suaminya tersebut.

Sementara itu Jaya yang terkurung oleh ratusan mahluk-mahluk Ghaib itu mulai frustarsi karena tidak tahu harus berbuat apa untuk mengalahkan mahluk-mahluk itu, pada satu kesempatan ia berhasil melompat mundur cukup jauh ke tempat yang lega, Jaya segera alirkan tenaga dalamnya ke jari manisnya, cincin Kalimasada bersinar biru terang, kemudian ia angkat tangan kirinya keatas, memancarkan sinar emas kemerahan, hawa disekitarnya menjadi sangat panas sekali dan udara menjadi sangat redup bagaikan sedang terjadi Gerhana Matahari, tanda ia sedang merapal ajian “Pukulan Gerhana Matahari”.

Jaya berteriak menggeledek, satu sinar emas kemerahan memancarkan cahaya redup disertari pusaran gelombang angin panas menderu ke arah belasan mahluk Candra Birawa yang menerjang Jaya! Hawa panas luar biasa menghampar! Duaaarrr!!! Ledakan dahsyat terjadi, belasan mahluk siluman itu hancur menjadi asap, akan tetapi asap-asap itu menggumpal dan kembali membentuk mahluk Candra Birawa!

“Astagfirullah! Bagaimana ini?” keluh Jaya dalam hatinya. Darah dari kedua liang telinganya telah membasahi pipi. Pakaiannya robek-robek sedang kulit tubuhnya berselomotan darah bekas cakaran makhluk makhluk siluman. 

“Sampai disinikah ajalku?” bathin Jaya, tiba-tiba terdengar suara Kyai Pamenang terngiang di telinganya, “Jaka segala sesuatu di marcapada ini adalah milik Gusti Allah, tiada mahluk lain yang sanggup menandingiNYA, maka berserah dirilah padaNYA!”

Menyusul suara Kyai Supit Pramana terngiang di telinganya, “Kyai Pamenang benar Jaya, dan ingatlah bahwa mata hati kita jauh lebih sempurna dibandingkan dengan semua panca indra kita, mata hati yang bersih tidak akan dapat ditipu oleh tipuan setan dan iblis!”

Otak Jaya segera bekerja untuk memahami bisikan-bisikan dari kedua gurunya itu, beberapa saat kemudian ia pun faham arti dari kedua bisikan itu, “Ya ya aku harus melihatnya dengan mata hatiku, Ajian Membuka Mata Sukma!” 

Ia melompat mundur ke tempat yang lebih lega, ia memejamkan matanya sejenak mengerahkan ajian “Membuka Mata Sukma” kemudian membukanya kembali, nampaklah satu pemandangan yang luar biasa, ada satu benang sinar ghaib yang mengendalikan seluruh mahluk Candra Birawa yang tersambung dari jantung Prabu Kertapati yang kini tubuhnya dikuasai oleh si Topeng Setan. “Jadi kelemahan ajian ini adalah ada di tubuh si pemilik ajian ini! Tapi bagaimana aku menyerangnya?” pikir Jaya.

Saat itu terjadilah satu keanehan, mahluk-mahluk ghaib itu nampak agak sedikit kabur menjadi bayang-bayang bagaikan asap yang tertiup angin, Jaya buru-buru melihat ke arah tubuh Prabu Kertapati, ia meringis kesakitan dan sempoyongan ketika darah terus mengucur dari lukanya di dadanya yang tadi ia tusuk sendiri menggunakan Keris Kyai Segara Geni, “Begitu rupanya, jadi si Topeng Setan tidak mampu mengobati luka dari keris pusaka ini!”

Jaya melompat keatas udara, ia salurkan tenaga dalamnya ke tangan kiri-kanannya, tangan kirinya menembakan pukulan “Gerhana Matahari” sedang tangan kanannya menyabetkan keris pusakanya yang mengeluarkan lidah api berwarna biru, satu sinar berwarna emas kemerahan memancarkan cahaya redup disertai pusaran gelombang angin panas dan lidah api berwarna biru menderu bergulung-gulung ke arah puluhan mahluk Candra Birawa! 

Blarrr!!! Puluhan mahluk itu hancur menjadi asap, Jaya yang berhasil menghalau puluhan mahluk itu langsung menerjang ke arah tubuh Prabu Kertapati sebelum puluhan mahluk itu kembali mewujud menjadi Candra Birawa! Jaya kerahkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanannya untuk menerjang tubuh Prabu Kertapati! Breesssttt!!! Jaya berhasil memenggal tubuh Prabu Kertapati, ratusan mahluk Candra Birawa pun lenyap berbarengan dengan ambruknya tubuh Prabu Kertapati tanpa kepala!

Tapi belum sempat Jaya menarik nafas lega, kepala Prabu Kertapati yang wajahnya tertutup topeng iblis itu melayang ke udara, tubuh tanpa kepalanya pun bangun dan sungguh ajaib! Kepala itu langsung menyatu lagi dengan tubuhnya! Jaya dan Galuh kaget bukan alang kepalang, si Dewa Pengemis pun hanya bisa mendesah nafas berat dengan raut wajah yang amat muram, “Ajian Rawerontek! “ desisnya.

Topeng Setan yang bersemayam dalam tubuh Prabu Kertapati pun tertawa terbahak, “Bagimana? Meskipun kau berhasil memecahkan rahasia Ajian Candra Birawa tapi kau tak akan bisa membunuhku! Hahaha…”

Jaya menggeram, dengan penuh penasaran ditikamnya jantung tubuh Prabu Kertapati, si Topeng Setan melenguh dan jatuh tersungkur, tetapi saat Jaya mencabut kerisnya ia bangun lagi. “Ajian Pancasona!” desis si Dewa Pengemis.

Kembali si Topeng Setan terbahak, “Kau memang berhasil melukaiku anak muda, tapi percuma bukan kalau aku tidak bisa mati? Hahaha...”

Jaya memperhatikan luka-luka di tubuh Prabu Kertapati, memang Keris Kyai Segara Geni tidak berhasil membuh Topeng Setan, tapi berhasil melukainya tanpa bisa dipulihkan atau ditahan oleh ajian Pancasona.

“Waktu bermain-main sudah cukup, sekarang rasakan ini!” geram Topeng Setan, ia menggosok-gosokan kedua tangannya mengepulah asap hitam berbau bangkai yang beracun dan amat menusuk.

“Rasakan ini!” teriaknya, ia pukulkan kedua tangannya ke muka, menderulah dua sinar hitam disertai lidah api yang juga berwarna hitam besar yang amat panas dan berbau bangkai!

“Pukulan Api Neraka! Awas jangan ladeni pukulannya dan jangan sampai terkena sedikitpun!” teriak si Dewa Pengemis memberi peringatan sambil melompat keatas menghindar, Jaya dan Galuh pun melompat menghindar.

“Blarrr!!!” tanah yang tadi dipijak mereka bertiga terbakar api berwarna hitam yang berbau bangkai! “Tahan nafas kalian, bau bangkai dari api pukulannya sangat beracun!” kembali peringat si Dewa Pengemis.

Saat itu Topeng Setan kembali merapal satu mantera, sekonyong-konyong dari tangan kanannya keluarlah cambuk api berwarna hitam! Dengan senjata cambuk itu, ia menyerang Jaya, Galuh dan si Dewa Pengemis, angin badai bertiup kencang disertai bau bangkai dari cambuk itu, api berwarna hitam menderu mengancam tiga pendekar dari golongan putih tersebut. 

“Cambuk Kirana Geni! Hati-hati! Senjata itu amat berbahaya!” kembali peringat si Dewa Pengemis sebagai tokoh yang paling senior diantara ketiga pendekar itu.

Cambuk Kirana Geni datang bergulung-gulung. Suaranya seperti petir susul menyusul! Pendekar Dari Lembah Akhirat beserta 2 kawannya menjadi sibuk! Melompat kian kemari dengan cepat, jungkir balik di udara dan berguling di tanah. Kembali Jaya Laksana menggunakan ajian “Tujuh Langkah Malaikat”! 

Galuh dan Gurunya pun melakukan hal yang sama, semua itu untuk hindarkan diri dari serangan Cambuk Kirana Geni yang ganas! Angin panas laksan topan berbau bangkai dan semburan lidah api hitam yang luar biasa panasnya berhamburan menghanguskan apa saja yang ada didekat tali cambuk api hitam si Topeng Setan!

Dentuman macam suara petir terdengar tiada henti. Angin panas laksana topan menggebu dan lidah api hitam hampir setiap saat menyembur ganas! Wussshhh!!! Satu sambaran cambuk api hitam menderu ke arah batok kepala Jaya! Yang diserang buang diri ke samping beberapa tombak! 

Cambuk Kirana Geni menderu dahsyat menghantam pohon Jati di belakang Jaya. Pohon jati ini terbabat putus dan baik putusan yang mental di udara maupun yang masih tinggal tertanam di tanah, semuanya hangus ditelan api hitam!

Melihat dari jalannya pertempuran, Topeng Setan dapat memperkirakan bahwa Galuh lah yang paling lemah diantara lawannya, maka ia pun mengincar Galuh, satu pecutan menderu dahsyat ke arah dada Galuh, Jaya segera melompat mendorong tubuh Galuh. “Galuh cepat menyingkir!” bentaknya! Namun akibatnya ia jadi tidak sempat menghindar, maka tidak ada cara lain, ia pentangkan Keris Kyai Segara Geni untuk menangkis cambuk Kirana Geni yang amat dahsyat itu! 

Blarrr!!! Dentuman dahsyat menggetarkan tempat itu, lidah api hitam dan lidah api biru beradu bergulung beberapa saat, Jaya terpapah enam langkah kebelakang, telapak tangannya yang menggenggam keris pusaka amat sakit, sementara seluruh lengan kanannya terasa kesemutan, jantungnya berdegup kencang, kembali darah mengalir dari sela-sela bibirnya, beruntung ia terselamatkan oleh kesaktian keris Kyai Segara Geni yang berpadu dengan cincin Kalimasada hingga ia terhindar dari bahaya maut! 

Sungguh luar biasa tenaga dalam si Topeng Setan, bentrokan dengan keris pusaka Mega Mendung barusan tidak berpengaruh apa-apa baginya! Cambuk Kirana Geni masih leluasa mengincar maut, ledakan-ledakan api berwarna hitam semakin menjadi, dan badai prahara berbau bangkai masih bertiup kencang, bunga-bunga percikan api hitam berterbangan kemana-mana membakar pohon-pohon dan rumput-rumput di padang rumput perbatasan selatan Kutaraja Rajamandala tersebut!

Jaya, Galuh, dan si Dewa Pengemis benar-benar terdesak dibuatnya, berkali-kali mereka melepaskan pukulan saktinya, namun sirna dihempas tali cambuk aneh yang terbuat dari api yang amat dahsyat milik si Topeng Setan tersebut. 

Ajian Kecapi Sukma yang amat dahsyat dari si Dewa Pengemis pun tak berpengaruh pada Topeng Setan, malah suara petikan kecapinya kalah oleh suara leutsan dan angin yang ditimbulkan cambuk sakti itu, pukulan-pukulan nomor wahid di dunia persilatan seperti Pukulan Gerhana Matahari, Pukulan Sirna Raga, Pukulan Kawah Tunggul, sampai pukulan Pelangi Kematian dapat dihalau dengan mudah oleh cambuk si Topeng Setan!

“Apa kelemahan iblis ini?! Bagaimana eyang Sri Jayadewata mengalahkannya dulu?!” bathin Jaya yang mulai putus asa.

Saat itu terngianglah suara mendiang ibunya Dewi Nawang Kasih, “Jaya anakku, di dunia ini segala sesuatunya pasti memiliki kelemahan sebagaimana kau berhasil memecahkan kelemahan Ajian Candra Birawa itu tadi!” Jaya berpikir sejenak “Kelemahan? Lalu apa kelemahan si Topeng Setan ini ibu?”

Kali ini terngianglah suara Prabu Kertapati, “Anakku, kelemahan si Topeng Setan terletak pada bayangan kepalanya, injaklah bayangannya tepat di bayangan kepalanya, setelah itu tusukan Keris Kyai Segara Geni di wajahnya tepat diantara kedua matanya! Itulah satu-satunya cara untuk melenyapkan Topeng Setan selama-lamanya!”

Jaya mengangguk, kemudian ia dengan ilmu menyisipkan suara ia meminta Galuh dan si Dewa Pengemis untuk mengalihkan perhatian si Topeng Setan, Galuh dan Dewa Pengemis mengangguk mengerti, mereka berdua segera hamburkan pukulan “Kawah Tunggul” serta “Pelangi Kematian”!

Jaya segera mengalirkan tenaga dalamnya ke Keris Kyai Segara Geni dan cincin Kalimasada, kemudian ia menerjang ke tubuh si Topeng Setan, pertama ia memotong tangan kanannya yang memegang cambuk api hitamnya, setelah tangannya buntung dan belum sempat menyatu oleh ajian Rawe Ronteknya, Jaya langsung menginjak bayangan kepala tubuh Prabu Kertapati, si Topeng Setan pun menjerit kesakitan! Kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya untuk menusukan Keris Kyai Segara Geni ke wajah diantara kedua mata si Topeng Setan!

Topeng Setan menjerit setinggi langit! Kemudian topeng itu mengepulkan asap hitam pekat, dan lalu terbakar oleh api berwarna biru, topeng berwajah iblis itu pun perlahan hancur menjadi pasir berwarna hitam! Jaya pun mencabut kerisnya ketika seluruh topeng berwajah iblis itu hancur dan kini kembali menjadi wajah Prabu Kertapati, tubuh Sang Prabu pun roboh! 

Bersamaan dengan hal tersebut, langit yang gelap seolah langit malam pun kembali terang menjadi langit siang hari, angin dingin dan panas yang bertiup bergantian lenyap berganti angin siang di musim kemarau, kawanan burung gagak hitam lenyap entah kemana.

Melihat Sang Prabu yang roboh, Mega Sari segera berlari menghampirinya. “Ayah!” serunya, “Ayah!” ratap Mega Sari sambil memangku kepala Prabu Kertapati di pangkuannya.

Jaya, Galuh, si Dewa Pengemis, Ki Silah, dan Emak Inah semuanya mengelilingi Sang Prabu yang sekarang sedang sekarat. “Mega Sari... Maafkan ayah yang membunuh ibu dan suamimu...” ucapnya perlahan lemas sekali.

“Tidak apa-apa Ayah! Tidak apa-apa!” jerit Mega Sari sambil menangis.

Dengan amat lemas, Prabu Kertapati menoleh menatap Jaya, “Dan kamu Jaya... Maafkan aku atas semua perbuatanku, dan yang terakhir tadi, aku sengaja melakukannya untuk menjebak si Topeng Setan agar pembantaiannya pada keturunan ayahanda Sri Jayadewata berkahir... Kamu berhasil melenyapkannya untuk selamanya...”

Jaya menggelengkan kepalanya, “Seperti yang sudah aku katakan, aku sudah mengikhlaskannya ayah... Dan aku tahu itu ketika kau menatapku sesaat sebelum Topeng Setan merasuki tubuhmu.”

Prabu Kertapati tersenyum kecil memaksakan dirinya, “Jaya... Kau sudah tumbuh kuat, aku titipkan Mega Sari dan Negeri Mega Mendung padamu... Ahhhh...”

Prabu Kertapati lalu menatap Galuh, “Siapa... Namamu...?”

Galuh menatap Prabu Kertapati dengan kecamuk berbagai perasaan didadanya, “Namaku... Galuh Parwati!” jawabnya ketus, 

“Galuh... Parwati... Aku minta maaf atas semua perbuatanku padamu... Dan... Tolong jaga dan dampingi... Jaya....” ucapnya dengan sangat lemas sehingga lebih mirip orang yang sedang berbisik, Galuh hanya mengangguk perlahan dengan deraian air mata yang membasahi pipinya.

“Dengan nafasku yang terakhir… Aku memanggilmu… Jaya Laksana… Sebagai putera kandungku…Putera Mahkota Mega Mendung… Untuk menggantikan tahtaku di Mega Mendung… Aku… Amanatkan keselamatan seluruh rakyat dan seluruh tumpah darah Mega Mendung kepadamu….” Ucap Prabu Kertapati dengan nafas terakhirnya.

Kemudian Prabu Kertapati menatap semua orang yang mengelilinginya, dan ia pun menutup matanya untuk selamanya yang disambut dengan jerit histeris Mega Sari, berakhirlah kisah kehidupan Prabu Kertapati, Raja Mega Mendung yang lalim namun sadar pada menjelang akhir hayatnya, dan berhasil menjebak si Topeng Setan untuk dilenyapkan selama-lamanya dari muka bumi ini.

Saat itu telinga Jaya yang masih berdarah mendengar suara derap kuda dan langkah kaki manusia dari arah Kutaraja Mega Mendung banyak sekali, mungkin ribuan! Jaya pun mendapat firasat yang tidak enak, ia lalu melirik pada Mega Sari, “Mega Sari adikku, aku mendapat firasat yang sangat tidak enak, pergilah adikku, tinggalkan negeri Mega Mendung ini karena pasti akan banyak orang mengincarmu! Orang-orang yang tidak suka pada mendiang ayahanda Prabu yang telah merencanakan pemberontakan pasti akan mengincarmu!”

“Tidak!” jawab Mega Sari, “Aku tidak ingin meninggalkan negeri ini, aku sudah kehilangan segalanya! Apalagi saat ini yang aku miliki hanya kau Kakang!” tolak Mega Sari.

“Mega Sari adikku, ingat pesan ayah kita tadi, kau harus tetap hidup! Bersabarlah, kalau aku sudah berhasil mengatasi semua masalah disini aku akan segera menemuimu dan kita akan hidup bahagia! Itu janjiku adikku!” bujuk Jaya. 

Emak Inah pun mendekap tubuh Mega Sari, “Raden Jaya benar Gusti, Gusti harus tetap hidup!”

Saat itu suara derap kuda dan langkah manusia terdengar semakin mendekat, akhirnya Mega Sari pun menganggukan kepalanya, “Baiklah kalau begitu Kakang, tapi izinkan aku untuk membawa jenazah Kakang Dharmadipa, saya ingin menguburkannya di tempat yang paling dekat dengan saya karena dial ah pelindung saya selama ini.”

Jaya mengangguk, “Baiklah adikku.”

Ki Silah segera membawa jenazah Pangeran Dharmadipa kedalam kereta, Emak Inah menyusul naik kedalam kereta, Mega Sari pun melangkah naik ke kereta, sejenak ia membalikan tubuhnya dan menatap Jaya sejenak. Jaya melemparkan senyum terakhirnya pada adiknya itu, setelah puas menatap kakaknya untuk yang terakhir kalinya, Mega Sari masuk kedalam kereta, kemudian kereta itupun langsung dipacu dengan kecepatan tinggi ke arah selatan.

Didalam kereta Mega Sari terus memandangi jenazah Pangeran Dharmadipa “Akan kubalas! Akan kubalas orang-orang Mega Mendung itu! Akan aku obrak-abrik dan aku hancurkan negeri Mega Mendung!” tekadnya dengan dada dipenuhi bara api dendam.

“Gusti kemana kita?” Tanya Ki Silah.

“Ke Gunung Patuha! Aku akan minta bantuan Nyai Guru Lakbok untuk menghidupkan kembali Kakang Dharmadipa, dan akan aku hancur leburkan Mega Mendung!” tekadnya dengan mata menyala penuh dendam, lautan api dendam telah membakar seluruh sanubari dari Mega Sari!

Semetara itu, tinggalah Jaya, Galuh, dan si Dewa Pengemis bertiga di tempat maut itu. Jaya merenung menatap jenasah ayah dan ibunya, sekonyong-konyong tubuhnya limbung dan jatuh berlutut, Galuh segera memeganginya tubuhnya. “Jaya kau tidak apa-apa?!”

Dewa Pengemis pun segera melihat keadaannya, “Luka-lukanya parah sekali, padahal ia baru pulih kemarin!”

Jaya terdiam, sesungguhnya bukan-lukanya yang sakit ia rasakan, ia tidak tahu sakit apa, yang jelas ia hanya merasakan amat sakit, matanya pun tak henti mengucurkan air mata. “Galuh... Aku tidak tahu sakit apa ini... Hanya sakit di hatiku tidak bisa hilang... Rasanya sakit sekali menusuk-nusuk!” desah Jaya, Galuh terdiam, ia hanya mendekap Jaya seeratnya.