Episode 45 - Angel



Sehari setelah bangun dari tidurnya, Dan segera pergi dari rumah sakit yang tak memiliki satu pun pasien selain dirinya. Karena memang belum ada pasien baru setelah fenomena aneh yang terjadi di kota pada hari sebelumnya, luka di tubuh Dan pun memang tidak ada, dia hanya butuh istirahat.

Semuanya kembali seperti biasanya, Ibu Danny pergi bekerja pada pagi hari setelah sarapan pagi bersama. 

Setelah sarapan, Dan tidak segera berangkat ke sekolah, dia duduk di kursi sembari memegang sepucuk surat dari Rito, surat yang ditujukan untuk Danny. Karena itu, Dan enggan untuk membuka surat tersebut. Lagipula, Dan tidak peduli tentang isi dari surat itu.

Dan meletakkan surat itu ke dalam tasnya dan diam termenung, dia sedang berpikir tentang bagaimana cara untuk menaklukan api hitam di dimensi jiwa yang menyegel jiwa Danny. Kekuatan Dan saat ini masih belum cukup untuk bisa melakukannya, jadi dia butuh kekuatan untuk bisa menaklukan api hitam tersebut.

Setelah berpikir dengan keras, Dan tetap tidak menemukan cara untuk meningkatkkan kekuatannya di bumi ini. Dan masih belum mengenal dengan baik dunia yang telah dia huni enam tahun terakhir ini, karena Danny sangat jarang untuk pergi ke luar dan bahkan dia sama sekali belum pernah pergi meninggalkan kota.

Akhirnya Dan memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Mungkin dia bisa menemukan jawaban di sana.

Di perjalanan, Dan dengan santai berjalan sambil terus berpikir bagaimana carannya meningkatkan kekuatannya, tapi fokusnya sering kali buyar ketika ada gadis yang berjalan di depannya. Secara otomatis pikiran Dan akan kosong dan matanya terfokus pada keindahan dunia di depannya.

Meskipun Dan telah mendapatkan ingatannya kembali, Dan tetaplah Dan yang dulu. 

Tatapan semua orang di sekitar Dan terlihat seperti sedang melihat kotoran, mereka memandang Dan dengan jijik, karena apa yang Dan lakukan memang sangat menjijikan. Jika Danny tahu, dia pasti tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. 

Sampai di sekolah, Dan segera duduk di bangkunya dan kembali berpikir tentang bagaimana caranya meningkatkan kekutannya. Namun, dia sama sekali belum menemukan titik terang dari masalah ini.

“Hai.” 

Terdengar suara lembut memanggil dari arah samping Dan. Dia segera menoleh dan menemukan bahwa orang yang memangilnya adalah sang Dewi Sekolah, Alice.

“Hai.” Jawab Dan seadanya.

“Bagiamana keadaanmu sekarang?” tanya Alice Lagi.

“Baik.” Dan menjawab dengan seadanya lagi.

“Hmm ... ngomong-ngomong, hari ini kamu tidak membaca majalah tentang militer?”

“Tidak, aku lupa.”

“Hmmm .. ya sudah, aku pergi dulu ya.” Ucap Alice dengan kecewa lalu pergi meninggalkan Dan.

Alasan kenapa Dan tidak mau terlalu dekat dengan orang lain adalah untuk menjaga hubungan Danny dengan orang lain, dia tidak mau salah ucap dan membuat hubungan yang telah Danny bangun hancur olehnya, karena Dan telah memutuskan untuk segera pergi setelah menyelamatkan Danny. Tapi, Dan tidak tahu, dengan dia bersikap acuh tak acuh dengan orang lain dan terus memandangi pantat gadis dengan wajah mesum, justru membuat hubungan Dan dengan orang lain menjadi lebih buruk.

Kemudian datang Raku mendekati Dan. 

“Hei, apakah kalian berdua sedang ada masalah?” tanya Raku dengan pelan.

“Siapa?” Dan bertanya balik.

“Kau dan Alice.”

“Tidak, semuanya baik-baik saja.” Jawab Dan dengan tenang.

“Benarkah? Lalu kenapa Alice tampak sedih barusan?” Raku bertanya lagi dengan penasaran.

“Sedih? Benarkah?” Dan balik bertanya dengan bingung.

“Huft, kau ini, apakah kau tidak paham dengan perasaannya?”

“Maksudnya?”

“Aku menyerah, aku benar-benar bingung, kau ini pura-pura tidak tahu atau benar-benar tidak peka.” Raku berkata sambil menggelengkan kepalanya. 

“Ya sudahlah, aku pergi dulu.” Ucap Raku sambil bergegas pergi. Meskipun Raku tahu tentang bagaimana perasaan Alice pada Danny, tapi Raku akan tetap melakukannya. Entah Danny benar-benar tidak peka atau hanya pura-pura, tapi bagi Raku ini adalah kesempatan. Raku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan Alice. 

Perasaan yang telah Raku kubur dalam-dalam, kembali bangkit ke permukaan.

Pada jam istirahat kedua, Dan merasa bosan berada di dalam kelas, apalagi di pelajaran sebelumnya gurunya adalah seorang pria tua, yang sama sekali tidak menyenangkan. Andai itu adalah Buk Melinda, guru paling cantik di sekolah, akan berbeda lagi ceritanya.

Dan memutuskan untuk pergi berjalan-jalan. Dia melewati lorong sambil memperhatikan semua orang di sekitarnya. Mereka semua asik dengan apa yang sedang dilakukan, bahkan jika ada yang menyadari keberadaan Dan, mereka akan segera mengacuhkannya.

Rumor bahwa Dan adalah anak aneh sudah tersebar luas. Mereka semua tidak mau dicap aneh oleh yang lainnya, maka dari itu mereka semua mengacuhkannya.

Pada akhirnya, semua orang akan berpikir tentang dirinya terlebih dahulu.

Dan berakhir di ujung sekolah, dia memutuskan untuk tidak kembali ke kelas dan bersantai di bawah pohon yang tumbuh dengan subur di sana sambil kembali memikirkan kembali cara untuk meningkatkan kekuatannya dan menyelamatkan Danny.

?Angin lembut menerpa wajah Dan, membuatnya merasa sangat nyaman. Bersandar di pohon yang rimbun pada siang hari yang panas memang jawaban untuk melepaskan semua beban sejenak. Suara daun yang tertiup angin sangat nyaman untuk di dengar. Siang ini terlalu berharga untuk tidak dihargai. Tanpa sadar Dan segera terpejam dan terlelap.

Entah setelah berapa lama, Dan akhirnya terbangun dari tidurnya. Dia masih berada di bawah pohon, hari masih siang, tapi ada satu perbedaan dari sebelum dia tertidur, yaitu, kini ada seorang gadis di depannya. Gadis itu menggunakan paha Dan sebagai bantal dan tertidur dengan sangat pulas.

“Huwa...” Dan tersentak kaget setelah menyadari bahwa ada gadis yang sedang tertidur di pahanya.

Karena sentakan yang Dan lakukan, gadis itu terbangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan mata lentiknya lalu mengucek-nguceknya. Tapi masih tidak beranjak dari paha Dan.

“Selamat pagi.” Gadis itu berkata dengan santai.

“Se-selamat pagi.” Dan sedikit terkejut dengan tingkah gadis itu.

Dan memandang gadis itu dengan saksama. Wajah gadis itu tidak kalah cantik dari Alice, dan yang lebih penting adalah dua gundukan di dadanya lebih besar dari gadis pada umumnya, yang membuat pakaiannya tampak sedikit sempit. Mata Dan menjelajah ke tubuh bagian bawah dari gadis itu dan dalam sekejap Dan langsung terpesona, karena dia benar-benar tipe idaman Dan.

Setelah beberapa saat akhirnya gadis itu bangun dan meregangkan tubuhnya. Ketika dia sedang mengangkat kedua tangannya ke atas, dua gundukan lembut di dadanya seakan ingin merobek baju seragamnya. Pemandangan ini terlalu menyilaukan untuk Dan.

Siapa gadis ini? Kenapa aku tidak pernah melihatnya sebelumnya?

“Hei, kau Danny yang terkenal aneh itu kan?” gadis itu berkata dengan tenang sambil menatap wajah Dan.

Dan ingin protes, apakah dia memang seterkenal itu? dan apakah bagian anehnya perlu disebutkan? Itu sangat tidak sopan.

“Y-ya, dan kau adalah?” tanya Dan pada gadis itu.

“Oh!” gadis itu menutup mulutnya yang berbentuk seperti huruf ‘O’ dan tampak sangat terkejut, “kau tidak mengenal aku?”

“Apakah aku harus mengenalmu?” tanya Dan.

“Wow, mulutmu tajam sekali,” ucap gadis itu sambil tertawa kecil, “lihat ini.” Gadis itu menujuk ke dadanya.

Mata Dan menjelajah ke dada besar gadis itu. Dada itu benar-benar besar untuk ukuran gadis seusianya. Benar-benar besar untuk disembunyikan. Hingga Dan tidak mampu menyembunyikan wajah mesumnya lagi.

“Hei, apa yang kau lihat?” protes gadis itu, “yang aku maksud ini.” Jari lentik gadis itu menunjuk ke nama yang tertulis di seragamnya.

“Angelina?” ucap Dan pelan.

“Yaps, Angelina, namaku adalah Angelina, tapi panggil saja aku Angel, jangan sampai lupa, ya.” Angelina berkata sambil mengedipkan matanya.

“O-oke.” 

“Hei, sampai kapan kau mau melihat ke dadaku.” Angel berkata dengan wajah yang marah.

“Oh, ma-maaf.” Ucap Dan sambil mengalihkan pandangannya.

Angel tertawa kecil lalu duduk di samping Dan.

“Hei, apakah semua cowok memang menyukai dada yang besar?” Angel bertanya dengan heran.

“Yah, sepertinya begitu.” 

“Hmmm,” Angel memegang dadanya dengan kedua tangannya, “kau tahu, sebenarnya punya dada yang besar itu merepotkan tahu.”

“Benarkah?” tanya Dan.

“Iya, ketika berlari rasanya sangat berat dan merepotkan, saat aku bicara pun banyak orang yang lebih terfokus pada dadaku, bukan mataku. Kadang aku sempat berpikir untuk menusuk mata orang yang melakukan hal tersebut padaku.” Angel berkata sambil memandang mata Dan.

“O-oh, pasti sulit, ya.” Dan berkata sambil mundur untuk menjaga jarak, karena sedari tadi dia memang memandang dada Angel.

“Hei, Danny, coba kau jujur padaku, apakah dadaku sangat menggoda sampai kau ingin menyentuhnya?” 

“Tidak, pantatmu lebih seksi.” Dan berkata dengan percaya diri.

“Haha, kenapa kau jujur sekali, dasar aneh, kau benar-benar aneh.” Angel tertawa kecil lalu memandang Dan dengan mata yang menggoda, “lalu, apakah kau ingin menyentuh pantatku?” 

“Tidak, aku hanya suka mengagumi keindahan, bukan merusak atau menodainya.” Dan menjawab dengan sangat pecaya diri.

“Benarkah? Sayang sekali, padahal kalau kau mau, aku akan mempersilakan kau menyentuhnya.” Jawab Angel.

“Percuma saja, aku tidak akan termakan dengan rayuanmu.” Ucap Dan.

“Haha, sudah aku kira, kau beda dengan cowok yang lainnya.” Angel kini memandang Dan dengan cahaya yang baru, “dan sampai kapan kau ingin melihat pantatku?”

“Ah? Memangnya tidak boleh?” tanya Dan.

“Haha, tidak bisakah kau berbohong sedikit, kau ini terlalu jujur.” Angel berkata sambil tersenyum hangat.

“Tunggu, kau belum menjawab apa-apa, memangnya tidak boleh aku melihatnya?” Dan bertanya lagi.

Tiba-tiba ada sekumpulan siswa sambil membawa sebilah kayu dan menggiring seorang siswa di depannya. 

“Hei, lihat itu, sepertinya mereka akan berkelahi.” Ucap Angel sambil menunjuk ke arah mereka.

“Jangan alihkan pembicaraan, jawab dulu pertanyaanku.” Dan berkata dengan kesal.

“Abaikan dulu masalah itu, ini lebih penting lagi,” Angel berkata dengan khawatir, “ayo kita lerai mereka, jika tidak siswa itu pasti akan dalam bahaya.” 

“Aku tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain.” Ucap Dan dengan cepat.

“Kamu ini ... sudahlah, kalau begitu aku yang akan melerai mereka.” Angel bergegas lari menuju mereka.

“Sial!” Dan berkata dengan kesal lalu berlari mengejar Angel.