Episode 273 - Unsur Kesaktian Racun


 

Mentari pagi yang memancarkan sinar lembut menemani iring-iringan Kompi 362. Hampir 250 serdadu bayaran jumlah mereka, yang terbagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama melangkah di depan berjumlah 75 ahli dan kelompok ketiga di belakang pun berjumlah sama. Tugas serdadu bayaran yang menempati kedua kelompok ini adalah melindungi kelompok di tengah, yang berjumlah 100 ahli. 

Di dalam barisan kelompok kedua yang mendapatkan pengamanan, terlihat sepasang kerbau yang bergerak perlahan ibarat dalam gerak lambat. Mereka menarik sebuah pedati, yang di atasnya pedati tersebut adalah sebentuk kerangkeng besi berukuran sedang. Kerangkeng terlihat kokoh adanya, serta ditopang dengan rapalan formasi segel. Di dalamnya, meringkuk seekor binatang siluman yang hanya diam nan tiada berdaya. 

Bintang Tenggara berada di kelompok tengah ini, bersama dengan kedua rekannya. Anak remaja tersebut telah menyusun rencana, serta meyakinkan pemuda kurus kerempeng dan si kusir kereta kuda untuk merampas binatang siluman kancil tersebut. Walaupun tindakan itu nantinya akan mengkhianati kepercayaan Kompi 362, biarkan sajalah. Toh mereka bertiga ini sejak awal bukanlah bagian dari gerombolan serdadu bayaran. Oleh karena itu, setibanya di ibukota Kerajaan Garang nanti, Bintang Tenggara telah memiliki sebuah rencana. Secara sederhana, rencana tersebut mencakup peran si kusir membuat kegaduhan menggunakan sepasang binatang siluman kuda dan pemuda kurus kerempeng merobohkan pengawalan kerangkeng. Di tengah kekacauan nanti si anak remaja nan berhati dingin akan membuka kerangkeng dan membawa pergi Si Kancil. 

Tak jauh dari rombongan, di antara rimbun pepohonan, sesosok tubuh bergerak di balik bayangan. Berkelebat cepat, sepertinya terburu sangat. Tetiba ia menghentikan langkah, karena menyadari akan adanya iring-iringan serdadu bayaran dalam jumlah cukup banyak. Bersembunyi, ia pun mengintai rombongan dari kejauhan. 

Sosok ini mengenakan pakaian serba tertutup, di mana caping berwarna gelap di kepalanya melindungi wajah. Balutan perban di wajahnya menampilkan sepasang mata yang sangat waspada. Tatapan mata lalu mendapati keberadaan Bintang Tenggara di dalam kelompok di tengah. Gerakan kepalanya sedikit tersentak ke belakang, layaknya tak percaya akan sebuah kebetulan. 

Dengan berlalunya iring-iringan serdadu bayaran, sosok itu terkesan meragu. Menghela napas panjang, ia pun segera melanjutkan perjalananya. 

“Kapten!” Seorang pembawa pesan tergopoh mendatangi. Ia berasal dari kelompok pertama di hadapan. “Perjalanan kita akan tertunda. Kompi 54, Kompi 86 dan Kompi 128 menutup jalan. Mereka sedang melakukan razia…”

Belum sempat si pembawa pesan merampungkan laporannya, tiga titik terlihat melayang tinggi di udara dan bergerak semakin mendekat. Tak lama, tiga ahli yang berada pada Kasta Perak tingkat atas mendarat tepat di hadapan. Kini, berhadapan langsung dengan Kapten Sisinga dari Kompi 362, adalah seorang lelaki bertubuh pendek, seorang lelaki besar kekar, serta seorang lagi lelaki setengah baya 

“Kapten Kompi 54, Kapten Kompi 86 dan Kapten Kompi 128, angin apakah yang membawa kalian tiba di hadapanku…?”

“Kapten Kompi 362, apakah engkau melihat sosok mencurigakan selama perjalanan…? Kemungkinan besar berjumlah tiga ahli...” lelaki yang besar kekar langsung melontar pertanyaan tanpa basa-basi.

Bintang Tenggara bersama dua rekannya, yang berdiri tak terlalu jauh dari posisi Kapten Sisinga berpura-pura tiada mendengar. Bahkan, ketiganya seolah acuh tak acuh akan apa yang sedang berlangsung. Akan tetapi, bila benar bahwa terdapat tiga kompi yang mencegat, bukankah terdapat sekira 750 serdadu bayaran yang berkumpul di hadapan…? Jumlah dan kekuatan tempur serdadu bayaran sebanyak itu tak dapat dipandang sebelah mata. Menjatuhkan sebuah kota kecil dapat saja mereka lakukan.

“Siapakah mereka…?” Kapten Sisinga mempertanyakan.

“Sebelum itu, apa yang engkau lakukan di wilayah ini…? Ke mana tujuan kalian...?” Lelaki bertubuh pendek menyela. Wajahnya mirip keledai. 

“Menangkap binatang siluman,” jawab Kapten Sisinga singkat, sambil menunjuk ke arah kerangkeng beserta isinya. “Hendak kembali ke ibukota.”

“Cih! Hanya itukah kemampuanmu!? Berburu binatang siluman, dengan membawa serdadu lengkap? Setumpul itukah nalarmu…? Atau memang isi Kompi 362 hanya terdiri dari sekelompok peternak?” Lelaki bertubuh pendek berwajah mirip keledai mencibir tanpa belas ampun.

“Hei! Jaga kau punya mulut! Tidakkah kau tahu kepada siapa engkau berbicara!?” Seorang serdadu bayaran di dalam Kompi 362 naik darahnya. “Ini adalah Kapten Sisinga yang kalian pertanyakan!”

“Cuih!” Lelaki bertubuh pendek berwajah keledai meludah ke tanah. “Beraninya kau memakai nama Sisinga! Engkau hanyalah anak seorang gundik di istana kerajaan! Sudah beruntung Yang Terhormat Gubernur Pulau Satu Garang, Yang Mulia Putra Mahkota Kerajaan Garang, tidak mencabut nyawamu! Sebaliknya, beliau memberi kehormatan agar engkau memiliki bala pasukan dan menjabat sebagai seorang kapten!” 

Sejumlah serdadu bayaran yang berada di sekitaran Kapten Sisinga sontak bersiaga. Walau berhadapan dengan tiga kapten dari Kompi lain, serta ancaman jumlah mereka yang tiga kali lipat lebih banyak, tiada akan rela para bawahan ini menyaksikan pemimpin mereka dihina-dina. 

Kapten Sisinga hanya menoleh ringan. Hanya dengan tatapan mata, ia menghentikan langkah maju para serdadu nan setia.

“Sudahlah…,” lelaki bertubuh besar kekar segera menengahi. Ia lalu memaparkan, “Ketiga ahli tersebut merupakan buronan. Mereka terdiri dari seorang remaja dan dua pemuda. Surat edaran penangkapan mereka ditandatangani langsung oleh Jenderal Keempat.”

Raut wajah Bintang Tenggara berubah sedikit kecut. Ia mengingat betul bahwa adalah Jenderal Keempat yang mengincar dirinya. Niat jenderal tersebut dihadang oleh Maha Guru Kesatu Sangara Santang, yang datang karena mendapat permintaan bantuan dari lencana Pasukan Telik Sandi. Bilamana sang jenderal itu telah kembali di Kerajaan Garang, apakah mungkin Maha Guru Kesatu Sangara Santang kalah dalam pertarungan...? Apakah ia meregang nyawa...? Berkurang seekor rubah di dunia persilatan dan kesaktian. 

Sebaliknya, raut wajah Kapten Sisinga tiada seberkas pun menunjukkan perubahan. Ia menyapu pandang ke sekeliling. Ada tiga ahli yang berlagak biasa-biasa saja, namun justru terlihat sangat kentara. Meskipun demikian sang kapten sengaja tak menghentikan pengamatannya, sehingga ia terus memerhatikan para anggota kompi di dekatnya. 

Dalam benak si kapten berpikir, siapakah gerangan yang membuat Jenderal Keempat sampai turun tangan memberi perintah secara langsung…? Atas dasar apakah...?

“Tak ada ahli yang mencurigakan yang kami temui di jalan. Sedangkan di Kompi 362, aku mengenal setiap satu serdadu secara pribadi.” Akhirnya Kapten Sisinga menanggapi. 

“Cih! Aku akan tetap memeriksa isi pasukanmu!” 

“Apakah engkau meragukan Kompi 362...?” Kapten Sisinga berujar santai. Akan tetapi, bahasa tubuhnya berkata lain. Ia melipat tangan di depan dada dan rahang perseginya mengencang. Ia seolah menyampaikan pesan bahwa ‘aku tak menjual, akan tetapi akan membeli apa pun yang kalian tawarkan!’.

Suasana tetiba memanas. 

“Ehem...” Suara berdehem memecah pergolakan. Datangnya suara dari salah satu kapten di hadapan. Ia adalah lelaki setengah baya, yang sedari awal hanya diam mengamati. 

Seluruh perhatian beralih ke tokoh tersebut. Bahkan Bintang Tenggara, yang berpura-pura tiada tertarik pada kejadian yang sedang berlangsung, mulai terlihat penasaran.

“Ompu Itubungna...,” sapa penuh hormat si lelaki setengah baya terhadap Kapten Sisinga. “Bilamana tiada yang patut disembunyikan, maka dengan segala hormat, izinkan kami sekedar memeriksa Kompi 362 sebelum melanjutkan perjalanan menuju ibukota. Kami berkewajiban menjalankan perintah dari Jenderal Keempat. (1)

“Apakah engkau mempertanyakan kesetiaanku pada Kerajaan Garang, wahai Amang Matua...?” Kapten Sisinga tiada bergeming. (2)

Keadaan berujung buntu dan semakin tegang. Sebagaimana telah disampaikan, bahwa perintah pemeriksaan wajib dilakukan terhadap sesiapa saja yang hendak memasuki wilayah ibukota. Tanpa terkecuali. Permintaan pemeriksaan secara kasar dibalas dengan tantangan, sementara permintaan halus sekalipun tiada ditanggapi. Demikian adalah Kapten Sisinga. Pendiriannya keras, tindak-tanduknya tegas. Bila ia tak sepaham, maka tak akan ada yang dapat menggoyah rahang persegi nan sekeras batu karang itu. Tidak kematian sekalipun. 

Lelaki setengah baya yang disapa dengan hormat sebagai Amang Matua hanya mampu menggelengkan kepala, dan tertunduk lesu. Sementara lelaki besar kekar masih mematung, lelaki bertubuh pendek dan berwajah keledai melangkah ganas. Keledai nan ganas, sila ahli baca bayangkan sendiri-sendiri. 

“Darurat!” Tetiba terdengar suara yang menetas ketegangan, datang dari arah di hadapan. Dari penampilannya, maka tokoh ini kemungkinan juga merupakan seorang pejabat setingkat kapten. Ia berhenti tinggi di udara... 

“Jenderal Keempat meregang nyawa!” 

Para kapten di bawah terkesima, termasuk Kapten Sisinga. Tak satu pun dari keempat kapten ini percaya akan kabar berita yang baru saja diterima.

“Apa kau bilang!?” Kapten bertubuh pendek dan berwajah keledai sontak menghardik. 

“Segera kembali ke ibukota!” Usai menyampaikan berita dan perintah, tokoh tersebut melesat ke arah lain. Karena gentingnya situasi, kemungkinan ia harus mengabari pihak-pihak lain di seluruh penjuru Kerajaan Garang. Kematian tiba-tiba seorang jenderal bukanlah hal sepele. 

Tiga kapten yang tadinya mencegat rombongan Kompi 362 melesat cepat. Kapten Sisinga menoleh ke arah Bintang Tenggara. Sorot matanya nan tajam selayaknya merasuk jauh ke dalam diri. Kapten Sisinya tentu telah menyadari sesuatu yang tak lazin dari anak remaja beserta dua rekannya. Meski, ia tak hendak menyerahkan ketiga ahli tersebut begitu saja kepada kapten-kapten lain. 

“Kalian lanjutkan perjalanan, kita bertemu di ibukota! Jangan mau dirazia!” perintah Kapten Sisinga kepada para serdadu di dekatnya. Ia pun langsung menyusul ketiga kapten yang telah melesat jauh. 

Bintang Tenggara terkesima. Ia tentu telah menyadari bahwa Kapten Sisinga sudah menaruh kecurigaan terhadap dirinya. Akan tetapi, entah mengapa tokoh tersebut memendam kecurigaan tersebut dan tak menyerahkan mereka kepada para penghadang. 

“Ayo! Seorang serdadu bayaran memberi aba-aba. Sepertinya ia adalah tangan kanan Kapten Sisinga. Kita kembali ke ibukota!” 

“Kakak... siapakah sesungguhnya Kapten Sisinga...?” aju Bintang Tenggara polos. 

“Kau berasal dari Kompi 456 tapi tak mengetahui jati diri Kapten Sisinga?” Si tangan kanan menoleh kemudian melotot. 

“Dia anak baru...,” sela pemuda kurus kerempeng, yang mana dirinya dapat menjawab pertanyaan sederhana itu. Raut wajahnya pun terlihat sebal. Sudahlah meminta bantuan menculik binatang siluman, kini anak remaja itu dengan sengaja hendak menambah kecurigaan di saat yang tak tepat pula. Mereka harus segera masuk ke ibukota untuk memanfaatkan gerbang dimensi meninggalkan Pulau Satu Garang. Tindakan ini saja sudah tak terbayang rumitnya, jangan ditambah-tambah lagi permasalahan yang sudah menumpuk.

“Nama asli Kapten Sisinga adalah Ompu Itubungna. Beliau merupakan putra pertama dari Yang Mulia Patuan Ompu Raja Tinaruan Sinambela, yang bergelar Sisinga Mangaraja II, penguasa tunggal Kerajaan Garang saat ini. Inilah alasan mengapa kami menyapa beliau sebagai Kapten Sisinga...” 

“Lahir dari seorang gundik...” tambah pemuda kurus kerempeng. 

“Cih!” si tangan kanan terlihat berang. “Beliau adalah putra dari Ibunda Permaisuri yang sah! Putra Mahkota saat inilah yang lahir dari seorang gundik! Mereka bersebahat dengan pejabat istana untuk menyingkirkan Ibunda Permaisuri bersama putranya, pewaris sah takhta!” 

“Kabar angin itu memang santer beredar...” tambah pemuda kurus kerempeng.

“Kabar angin kau bilang...?” Wajah si tangan kanan berubah merah. “Sebagian dari kami di dalam Kompi 362 ini adalah pengawal resmi istana. Para abdi yang senantiasa setia kepada Ibunda Permaisuri! Jangan kau samakan kami dengan serdadu biasa!”

Bintang Tenggara mendengarkan dengan seksama pertukaran kata-kata antara si tangan kanan dan si pemuda kurus kerempeng. Mengapa mereka menjadi panas...? Anggota kompi ini memang cepat naik darah... 

Akan tetapi, dapat ia menakar bahwasanya situasi politik di Kerajaan Garang cukup rumit. Bila diingat-ingat lagi, situasi politik di Kerajaan Siluman Gunung Perahu dan Kemaharajaan Cahaya Gemilang pun pelik adanya. Dengan permasalahan mereka masing-masing, sungguh tiada mudah mengelola sebuah kerajaan. Sebagai sang Yuvaraja, Putra Mahkota, maka dirinya di kemudian hari juga akan menghadapi permasalahan politik yang serupa. Sungguh Balaputera Ugraha lebih pantas menjabat, menggantikan dirinya yang lebih senang berkelana. 

“Jikalau benar demikian adanya, maka bukankah lebih baik bagi Putra Mahkota saat ini menyingkirkan Kapten Sisinga...?” Tetiba Bintang Tenggara berujar. 

“Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II bertitah bahwa barang siapa yang mencelakai Ompu Itubungna, sang Putra Mahkota tanpa terkecuali, akan menebus tindakan tersebut dengan nyawa!”

Pemuda kurus kerempeng dan Bintang Tenggara terdiam. Mereka melanjutkan langkah dan bergegas. Di hadapan, kemudian terlihat rombongan pertama dicegat. Tiga kompi yang berkumpul berbaris menghalangi jalur menuju ibukota sudah terlihat. Ramai jumlah mereka, berangsangan mereka punya gelagat. (3)

“Menyingkirlah kalian!” tegas si tangan kanan setelah merangsek ke depan. Meski kalah jumlag, ia menghardik terlebih dahulu kepada tiga kompi yang sedang melakukan razia. 

“Siapa pun yang hendak melewati garis batas ke dalam wilayah ibukota harus melalui pemeriksaan! Tak ada pengecualian!” Terdengar tanggapan sama galaknya. 

“Buta kau punya mata!? Hah!? Kami dari Kompi 362 telah mendapat izin melintas!” 

“Izin dari siapa!?”

“Izin dari kapten-kapten kalianlah! Sudah mereka berbicara dengan Kapten Sisinga tadi!”

Para serdadu pencegat saling pandang. Mereka ragu. Sebelumnya, memang mereka menyaksikan tiga kapten melesat di atas sana, lalu disusul oleh Kapten Sisinga. Meski ketiga kapten tak mengabari, namun keberadaan Kapten Sisinga yang menyusul dan tak dihalangi oleh para kapten merupakan petunjuk yang jelas adanya. 

“Sudah ada isinya kepala kalian!?” Si tangan kanan menghardik. “Bila belum, sini aku isi dengan bogem mentah! Hah!”

Walhasil, ketiga kompi membuka jalan. Kompi 362 melenggang melewati mereka dan beberapa jam lagi mereka akan tiba di ibukota. Sungguh gertakan dapat berdampak demikian besar, batin anak remaja yang melangkah sesantai mungkin.

“Lalu, mengapa Kapten Sisinga membawa Kompi 362 berburu binatang siluman...?”

“Banyak kali kau tanya-tanya!”

“Betul. Diam sajalah,” tambah pemuda kurus kerempeng yang ikut sebal. 

“Akh... Semua juga tahu bahwa Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II sedang terserang penyakit aneh...,” jawab si tangan kanan. “Bagaimana mungkin hal ini pun kau tak tahu!?”

“Dia anak baru...,” gerutu pemuda kurus kerempeng lagi. 

“Aku tahu dia anak baru, ‘kan kau sudah bilang tadi! Tapi sebaru-barunya anak, tidaklah sama dengan pekak!” 

“Apa ruginya kau ceritakan sedikit saja!? Hah!? Bukan pula aku meminta keping-keping emas darimu!” Bintang Tenggara menghardik dengan meniru logat lawan bicaranya. 

Si tangan kanan dan pemuda kurus kerempeng bersama-sama melongo. Lumayan juga kata-kata anak remaja satu ini. Cepat dia beradaptasi. 

“Jadi, di saat tabib istana sedang mencari bahan dasar ramuan, ia melihat binatang siluman kancil itu sedang bermain-main. Dia bilang, binatang siluman itu bisa mengobati segala macam penyakit...” Si tangan kanan melunak. “Jadilah Kapten Sisinga segera bergerak untuk berburu binatang siluman yang dapat mengobati penyakit ayahandanya.”


===


Suara-suara gaduh terdengar riuh rendah di penjuru benteng nan besar dan megah. Ratusan pejabat berpangkat kapten, bangsawan, bahkan punggawa istana telah berkumpul di pekarangan benteng. Kehadiran mereka hendak memastikan apakah benar Jenderal Keempat, satu dari Lima Jenderal Besar Kerajaan Garang, yang dikabarkan telah meninggal dunia. 

“Aku baru bertegur sapa dengan beliau semalam...”

“Apakah yang membuat ahli nan digdaya meninggal dunia secara tiba-tiba...?”

“Apa tanggapan Yang Mulia Patuan Sisinga Mangaraja II...?”

Kapten Sisinga mendarat, dan disambut dengan tatapan mata sejumlah khalayak. Ada berbagai reaksi, mulai dari benci, senang, sampai iba melihat keberadaan sosok berdarah bangsawan itu. Meskipun demikian, ia melangkah santai saja. Ketiga kapten yang telah mendahului, pun hanya memandangi. Tak ada seorang pun yang menghalangi langkah kakinya memasuki aula utama benteng, bahkan sebagian besar sontak membuka jalan.

Ia lalu berlutut, dan berdiam diri di hadapan jasad seorang lelaki paruh baya. Suasana berubah hening. Tak seorang pun yang mengeluarkan suara. 

“Apa penyebab kematian Guru?” ujar sang kapten sejenak kemudian. 

“Pembunuh bayangan...,” seorang tabib menjawab. “Yang mengandalkan unsur kesaktian racun...” 



Catatan:

(1) Raja Itubungna Sinambela bergelar Singamangaraja III. Di dalam dimensi lain, Patuan Bosar Ompu Pulo Batu yang bergelar Singamangaraja XII, merupakan pahlawan nasional. 

(2) Bahasa Batak. Amang Matua: Pak Tua. 

(3) berangsangan/be·rang·sang·an/ a mudah marah (gusar)