Episode 50 - Ujian Kedua


Seorang pemuda tampan dengan kumis tipis menghiasi bagian atas bibirnya langsung bertanya begitu aku memasuki ruangan tersebut. Aku hanya mengerutkan kening karena berusaha mengingat identitas orang tersebut, tapi yang aku ingat hanyalah jumlah simbol yang berhasil dia nyalakan ketika menguji bakat di batu tiga kekuatan. Kalau tidak salah dia membuat lima simbol menyala, tidak terlalu mengagumkan. 

“Tadi batu tiga kekuatan sedikit rusak,” jawabku singkat sambil terus berjalan tanpa memperdulikannya lagi.  

“Rusak?” Tak hanya pemuda yang bertanya padaku, tapi orang-orang di dalam ruangan itu sama-sama mengerenyitkan kening mereka. Dilihat dari reaksinya, sepertinya mereka kaget sekaligus gelisah dengan kabar rusaknya batu tiga kekuatan.  

“Lalu kenapa kau bisa naik ke sini?” tanya yang lain.

“Sekarang sudah tidak rusak lagi,” jelasku tanpa banyak basa-basi.

Begitu mendengar kalau batu tiga kekuatan tidak lagi rusak, wajah mereka langsung berubah lega, namun ada juga beberapa orang justru semakin berkerut keningnya, sedangkan yang lain memonyongkan mulutnya tanda tidak percaya pada perkataanku. Tapi aku tidak memperdulikan ekspresi mereka, terserah mereka mau percaya atau tidak dengan perkataanku, toh tidak ada ruginya buatku. 

Aku segera mengedarkan pandanganku ke sekililing dan menemukan orang-orang yang ada diruangan tersebut saling berkumpul dalam tiga kelompok kecil. Aku juga melihat Danu dan Bowo sedang berdiri dalam dua kelompok terpisah. Keduanya tampak menunjukkan ekspresi yang berbeda begitu aku memasuki ruangan ini, Danu menyeringai senang sedangkan Bowo tampak sedikit terkejut dan hanya menatapku tajam. Namun keduanya sama sekali tidak melakukan tindakan apapun selain hanya memandangiku saja. Aku sendiri hanya mendengus kecil dan tak lagi memperdulikan keduanya. 

Namun demikian, dalam hati aku merasa was-was melihat keduanya berkumpul dalam kelompok masing-masing di ruangan tersebut. Bukankah itu berarti orang-orang yang berkumpul dengan mereka adalah kawan kedua orang tersebut yang kemungkinan besar akan membantu mereka seandainya keduanya kembali berseteru denganku. Sedangkan aku sendiri tidak memiliki siapa-siapa yang dapat kuandalkan di ruangan ini. 

Ini artinya aku harus segera bersosialisasi dengan orang-orang yang ada diruangan ini dan berusaha berteman dengan mereka. Dengan dasar pertimbangan tersebut, aku segera melangkah mendekati salah satu kerumunan ketiga yang terdiri dari empat orang, tiga laki-laki dan satu perempuan. 

“Apa yang terjadi? Kenapa kalian hanya berdiam disini?” tanyaku sok akrab begitu berada cukup dekat dengan mereka. 

Awalnya mereka tidak menjawab pertanyaanku dan hanya memandangiku dari ujung kepala hingga ujung kaki, mungkin karena merasa tidak mengenal diriku. Namun keheningan itu tak berlangsung lama, satu-satunya perempuan yang berada dalam kerumunan itu mendekat kemudian menjawab pertanyaanku. 

“Pintu-pintu itu tidak mau terbuka meskipun kami sudah mencoba berbagai cara. Sepertinya kami harus menunggu semua peserta selesai menguji dirinya di hadapan batu tiga kekuatan agar dapat membuka pintu.”

“Oh...” Aku menganggukkan kepalaku begitu mendengar jawaban perempuan tersebut. Pantas saja pemuda tadi langsung bertanya kenapa aku lama sekali naik ke atas begitu aku datang ke ruangan ini. Rupanya mereka harus menunggu semua orang yang ada di lantai satu selesai melakukan ujian di depan batu tiga kekuatan terlebih dahulu untuk bisa melanjutkan ujian di lantai ini. Wajar saja jika mereka tidak sabaran menunggu disini. 

“Berapa simbol yang kau dapat?” Tiba-tiba saja salah satu dari mereka bertanya padaku. 

“Hmmm.…” Aku tidak langsung menjawab pertanyaan orang tersebut, karena pada kenyataannya aku sendiri juga tidak tahu pasti berapa simbol yang kudapat. Jika kukatakan pada mereka kalau aku mendapat dua belas simbol, apa mereka akan percaya padaku?

“Tidak perlu menanyakan berapa simbol yang dia dapat, yang pasti dia punya kualifikasi untuk melanjutkan ke tahap ujian selanjutnya,” ucap perempuan yang tadi menjawab pertanyaanku. 

Setelah perempuan itu bicara, orang yang tadi menanyakan jumlah simbol yang kudapat langsung mengangguk dan tak lagi bicara. Aku bisa memaklumi kenapa orang itu begitu penurut pada si perempuan, karena perempuan itu adalah Lintang, si Dewi Api Pelangi. 

“ Oh iya, kita belum berkenalan, aku Lintang, dari Peguruan Sungai Api. Dan kau adalah...?” Lintang segera memperkenalkan dirinya untuk memecah kesunyian. 

“Namaku Riki, dari Kelompok Daun Biru.” Aku segera membalas dengan memperkenalkan nama dan asal kelompokku padanya. “Senang berkenalan denganmu.”

“Kau dari Kelompok Daun Biru?” orang-orang yang bersama dengan Lintang kembali mengerenyitkan kening mereka. 

Aku sendiri hanya menanggukkan kepalaku sebagai jawaban. 

“Bagaimana anggota Kelompok Daun Biru bisa sampai disini?” 

“Kurasa aku beruntung,” jawabku sambil mengangkat bahu. 

“Kurasa sebaiknya kalian memperkenalkan diri kalian dulu sebelum bertanya yang lain-lain padanya.” Lintang segera mengingatkan teman-temannya agar memperkenalkan diri mereka terlebih dahulu sebelum kami melanjutkan perbincangan kami. 

Namun belum sempat kawan-kawannya itu memperkenalkan diri, kami mendengar suara suara tangga di lorong gelap menuju ruangan ini kembali bergemuruh. Tampaknya seseorang telah berhasil lulus dalam ujian Batu Tiga Kekuatan dan naik ke sini. Dan benar saja, tak berapa lama kemudian, sesosok tubuh berjalan memasuki ruangan ini. 

Begitu sosok itu memasuki ruangan, aku segera tersenyum lebar karena mengenali siapa yang baru saja masuk. Benar sekali, yang barusan memasuki ruangan tidak lain dan tidak bukan adalah Unggul dari Perkumpulan Angin Utara.

“Nggul.” Aku segera memanggilnya sambil melambaikan tangan agar dengan maksud agar dia segera mendekatiku. 

Unggul sendiri bersikap sama sepertiku ketika pertama kali masuk ke dalam ruangan ini. Dia berhenti tepat di ujung lorong dan langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Namun begitu mendengar panggilanku, dia langsung mengarahkan pandangannya padaku dan tersenyum kecil lalu tanpa ragu berjalan mendekatiku. 

Disisi lain, Lintang dan kawan-kawannya yang lain tampak terkejut aku mengenal Unggul. Namun sebelum mereka sempat berbicara, Unggul sudah berada di hadapanku dan mengalihkan pandangannya pada Lintang dan yang lain. Lintang sendiri segera memperkenalkan dirinya begitu Unggul menatap dirinya. Begitu juga tiga orang lelaki dalam kumpulan Lintang yang tadi juga belum sempat memperkenalkan diri mereka padaku, merekapun memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkenalkan diri mereka pada Unggul sekaligus padaku.

Setelah itu, sama sepertiku, Unggul juga bertanya kenapa kami semua masih berada di ruangan ini dan tidak melanjutkan ujian. Seperti tadi, Lintang juga menjelaskan kalau mereka tidak bisa melanjutkan ujian sebelum orang-orang di lantai satu selesai melakukan ujian di depan Batu Tiga Kekuatan. 

“Berarti tidak akan lama lagi, pendekar yang belum melakukan ujian bakat di depan batu tiga kekuatan hanya sekitar dua puluh orang lagi saat aku naik tadi,” ujar Unggul pada kami. 

“Baguslah kalau begitu,” jawab salah seorang pendekar yang berkumpul bersama kami. 

“Lalu bagaimana dengan Rangga? Apakah dia sudah menguji bakat juga?”

“Sudah,” jawab Unggul singkat, namun dia tidak memberitahukan hasilnya. Lagipula, hasilnya sudah jelas, jika Rangga tidak berada di atas sini, berarti dia gagal. 

Setelah itu, kami saling berbincang-bincang satu sama lain sambil menunggu peserta lain selesai melakukan ujian di depan Batu Tiga Kekuatan. Selama itu, para peserta yang berhasil lulus naik ke ruangan ini satu persatu. Bersamaan dengan itu pula aku menyadari keunikan ruangan ini, setiap kali ada satu orang baru yang naik kesini, pada saat itu pula sebuah pintu baru muncul di ruangan tersebut. Akhirnya, sekitar lima belas menit kemudian, ujian di lantai satu selesai dilaksanakan dan semua peserta yang berhasil lulus masuk ke ruangan ini. 

Jumlah peserta yang berhasil lulus ujian batu tiga kekuatan dan berhasil ke tingkat selanjutnya total ada dua puluh enam orang. Padahal yang sebelumnya ikut dalam ujian ada kurang lebih delapan puluh orang, berarti hanya sekitar seperempatnya saja yang berhasil lulus. Dan kebanyakan yang lulus adalah para pendekar yang masih berusia muda. Tapi kurasa wajar saja karena yang diukur oleh batu tiga kekuatan adalah bakat, bukan tingkat kesaktian. Jadi meskipun ada pendekar dengan tingkat kesaktian tahap penyerapan energi tingkat dua belas ikut dalam ujian tersebut, belum tentu dia bisa naik ke tingkat selanjutnya karena ternyata bakatnya tidak memenuhi batas ujian. 

Setelah semua pendekar yang lulus berhasil naik ke tingkat selanjutnya, kami segera menatap pintu-pintu yang masih tertutup rapat di ruangan tersebut. Wajah kami tampak tegang karena belum tahu ujian apa yang akan diberikan pada tingkat kedua ini. Sayangnya, tidak ada petunjuk apapun yang dapat kami gunakan untuk mengetahui jenis ujian yang akan kami hadapi selanjutnya selain jumlah pintu yang ada di ruangan ini kini berjumlah dua puluh enam, sama dengan jumlah peserta yang ada di lantai ini. 

Sesaat kemudian, pintu-pintu itu mulai terbuka, namun bukannya terbuka satu persatu, pintu-pintu itu terbuka secara bersamaan. Aku segera mempertajam indera penglihatanku untuk mengintip apa yang ada dibalik pintu tersebut. Ternyata dibalik pintu-pintu itu masing-masing terdapat sebuah tangga dengan bentuk dan ukurannya sama persis satu sama lain, sayangnya aku tidak dapat melihat apa yang ada di ujung tangga-tangga tersebut.

Aku segera berpikir keras memperkirakan jenis ujian apa yang kami hadapi sekarang. Jika pintu itu terbuka bersama-sama dan menunjukkan jalur masuk yang sama persis satu sama lain, jangan-jangan...

“Apa kau punya dugaan ujian apa yang akan kita hadapi?” Unggul bertanya pelan disampingku begitu melihat ekspresi wajahku berubah. 

“Aku tidak tahu pasti, tapi apapun ujian yang akan kita hadapi, sebaiknya kita tidak lagi membuang waktu terlalu lama di tempat ini,” jawabku sambil menatap para pendekar yang memasuki pintu satu persatu. “Mengingat pintu itu terbuka secara bersamaan, mungkin ujian kedua ini sifatnya lebih seperti perlombaan.”

“Kalau begitu, ayo kita segera masuk,” balas Unggul. 

“Ayo.” Aku mengangguk dan berlari menuju salah satu pintu. Sementara itu, Lintang dan teman-temannya yang tadi berkumpul bersama kami juga ikut berlari menuju pintu-pintu yang terbuka. 

Bersamaan dengan itu, para pendekar yang ada di tempat itu juga sepertinya menyadari jenis ujian kedua sama sepertiku, mereka segera berlari menuju pintu-pintu yang terbuka dan memasukinya tanpa ragu-ragu. Hanya saja, ketika seseorang sudah memasuki salah satu pintu, maka pintu itu akan kembali tertutup, bahkan menghilang dari ruangan.

Setelah menarik nafas panjang, aku segera memasuki pintu tersebut. Setelah aku masuk, pintu di belakangku langsung tertutup, dan lorong yang semula gelap tiba-tiba saja berubah terang menyilaukan. Secara refleks, aku langsung berusaha menutupi mataku dengan tangan karena selama berada di markas rahasia bawah tanah mataku telah terbiasa dengan kegelapan. 

Pada saat mataku masih membiasakan diri dengan cahaya terang, tiba-tiba aku merasakan angin berhembus menerpa tubuhku. Tentu saja aku terkejut bukan main, karena angin yang menerpaku bukanlah angin serangan, tapi angin yang biasa berhembus di ruang terbuka. Aku segera menurunkan tanganku dan menemukan kalau diriku saat ini tak lagi berada di dalam ruangan tertutup dalam markas rahasia Sekte Pulau Arwah, melainkan di tengah rimbun pepohonan.