Episode 272 - Kebencian



Ia melayang ringan, ibarat selembar bulu yang tak sengaja terlepas di saat kepak sayap seekor burung mengibas secara tiba-tiba. Selembar bulu nan ringan tak dapat menentukan arah tujuan. Hanya mengikuti hembus angin dan daya tarik bumi yang bertindak sesuai aturan mereka. Aturan angin adalah berhembus dan aturan daya tarik bumi adalah menarik turun. Entah ke mana ia akan berlabuh, bahkan alam sendiri tiada dapat memastikan.  

Suasananya hati demikian damai. Tenang mengalun bak air sungai yang hendak berbaur dengan lautan luas. Tak ada amarah, tiada pula dendam yang membekas. Segala ambisi pun ikut membaur dan larut ke alunan gelombang pasang. Yang tersisa, hanyalah perasaan nan hangat, ibarat kembali ke pangkuan ibunda.

Ibunda… Ibunda meregang nyawa sejurus setelah menyelamatkan dirinya. Selintas, bayangan perempuan nan ayu sekaligus tegar, mencuat di dalam benaknya. Perempuan itu tersenyum ramah, walau menahan rasa sakit yang mendera. Ibunda berpesan… tentang tak menuntut dendam dan menjalani hidup dengan damai. 

Dimanakah ayahanda…? Ayahanda sibuk menabuh genderang perang. Mengerahkan segenap ahli berbekal kesetiaan tanpa batas, memperjuangkan nilai-nilai. Sesosok lelaki kekar gempal kini menggantikan bayangan perempuan itu. Nilai-nilai…? Cih! Ia berperang tak lain karena ambisi pribadi. Ia ingin tampil sebagai penguasa nan sejati… mengabaikan pandangan dan pendapat dari lawan, yang sepantasnya menjadi kawan! Kesewenang-wenangan! Egois! 

Kebencian mulai tumbuh, akan tetapi enggan bersemi terlalu lama, dan dengan sendirinya menjadi layu. Ia pun terus melayang tanpa dapat menentukan arah. Mengikuti alunan tembang alam yang demikian merdu… 

Keadaan apakah ini…? batinnya menduga-duga. 

Pandangan matanya mengamati sekeliling. Dalam buaian alam, kemudian ia menoleh ke arah bawah. Seorang ahli, berdiri tegar dengan sepasang sayap besar nan merentang lebar bak kelelawar. Ahli tersebut mengenakan jubah berwarna hitam. Samar, aura yang menyibak dari sosok tersebut demikian kelam…

Apakah yang terjadi…? Bukankah itu diriku…?

“Turun sekarang!” hardik sosok bersayap kelelawar tersebut, namun bukan ke arah dirinya. Ada ahli lain…

Di saat yang sama, seorang ahli yang berpakaian serba gelap jatuh terhempas mencium tanah. Sungguh tak kuasa ia melepaskan diri dari hentakan tenaga dalam yang menyibak perkasa! 

Kum Kecho mengamati kedua tangannya. Semi transparan. Begitu pula dengan tubuhnya yang masih melayang-layang. Segera dapat ia menyimpulkan bahwa adalah benar sosok di bawah sana merupakan tubuh aslinya. Dan yang kini melayang, hanyalah jiwa dan kesadaran… 

“Iblis Belial…” Ia bergumam di tengah hening. 

Belial si iblis melompat, lalu menghentakkan kaki tepat ke atas ada si pembunuh bayangan. Tulang belulang berderak patah, dan teriakan pilu diiringi semburan darah terdengar menyayat kesunyian malam. Rangkaian serangan yang dilancarkan begitu singkat, begitu mendominasi. Pembunuh bayangan yang berada pada Kasta Emas Tingkat 2, yang biasanya tampil perkasa menggagahi buruan, tak dapat berbuat apa-apa! 

Belial kemudian mengangkat tubuh pembunuh bayangan itu. Tanpa perubahan apa pun terhadap raut wajahnya, si iblis lalu menusukkan tangan ke arah ulu hati mangsa. Darah kembali mencuat merah, lalu mengalir deras tatkala inti sari kehidupan pergi meninggalkan dirinya. Tubuh si pembunuh bayangan masih utuh, namun mustika tenaga dalamnya dilahap habis!

Dari sudut pandang jiwa dan kesadaran Kum Kecho yang masih melayang, peristiwa di bawah sana berlangsung lambat. Sangat. Ia dapat menyaksikan setiap gerakan si iblis, serta dapat pula mencermati kejadian di kala tenaga dalam disedot tanpa belas kasih. 

“Haaaaappphhh…” Tetiba Kum Kecho menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak ibarat dihimpit sepasang batu karang. Setiap sendi berasa nyeri dan segenap otot mengencang hampir terkoyak. Akan tetapi, terdapat perbedaan pada kandungan mustika di ulu hati. Cairan tenaga dalam nan berwarna perak dipastikan demikian kental… 

Cincin yang tersemat di jemari redup memancarkan susunan formasi segel, yang kini memudar sudah…

“Hmph… Sepuluh menit terlalu singkat…” gerutu kesadaran sang iblis yang telah kembali ke dalam Cincin Penakluk Iblis. “Kesepakatan kita perlu diralat…”

Kum Kecho rubuh, namun masih cukup kuat untuk bertopang pada satu lutut. Sepasang sayap kelelawar besar dan hitam menghilang entah ke mana. Yang pasti, anak remaja tersebut mengetahui bahwa jiwa dan kesadarannya telah kembali ke tubuh sendiri. 

“Sebagai keturunan Sanjaya, apakah engkau berpikir tiada perlu melatih raga…?” 

Anak remaja itu masih tertunduk, ia berupaya mengatur napas yang menggebu… Akan tetapi, di dalam benak, ia sepenuhnya menyadari bahwa keadaan raganya saat ini memanglah tak setangguh sedia kala. Akibat terperangkap di dalam Segel Kepompong Sutera Lestari selama ratusan tahun, raganya melemah. Selain itu, sejak keluar, ia bertarung dengan memanfaatkan keterampilan khusus sebagai pawang binatang siluman. Hanya sesekali ia melepas jurus persilatan Tapak Suci atau pun jurus bauran Tapak Cahaya Suci. Demikian, kata-kata Iblis Belial memang tepat sasaran. 

“Bagaimana…? Apakah engkau merasakan perbedaan pada tenaga dalam…? Dengan bantuanku menyerap mustika dari ahli lain, maka dalam waktu singkat engkau akan menjadi tak terkalahkan!” 

Kum Kecho membatin. Tentu terbaca demikian jelas akan niat dan tujuan si iblis ini. Dia hendak mempersiapkan raga yang tangguh, untuk kemudian merasuk dan mengambil alih tubuh secara permanen!


===


“Bangsat! Keparat! Bedebah! Sialan! Terkutuk! Manusia!” Si Kancil mengumpat tiada henti. Amarahnya demikian memuncak karena saat ini ia telah tertangkap. Di dalam kerangkeng yang telah diperkuat formasi segel oleh serdadu bayaran, ia melompat-lompat dan berupaya mendobrak keluar! 

“Bocah tengik! Seumur hidup tak akan sudi aku memaafkan! Berani-beraninya engkau bersandiwara dan mengelabuiku!” hardik Si Kancil kepada Bintang Tenggara. 

Si anak remaja membalas tatapan mata penuh kebencian dari binatang siluman itu dengan sebentuk senyuman. Terserah apa yang hendak binatang siluman kancil itu keluhkan, yang jelas sudah tertangkap dan tak lama lagi dirinya akan dapat menyembuhkan tubuh Super Guru Komodo Nagaradja.

“Ada sedikit permasalahan...,” keluh Ginseng Perkasa.

“Apakah gerangan, Kakek Gin...?”

“Unsur kesaktian putih dalam upaya menetralisir unsur kesaktian racun, hanya dapat dimanfaatkan bilamana binatang siluman itu bersedia membantu. Berkat tindakan Nak Bintang yang mengelabuinya, maka kecil kemungkinan ia akan secara sukarela mengerahkan kemampuannya itu...”

“Hm...? Bukankah kita hanya perlu menyembelihnya dan kemudian meramu bagian tubuh tertentu menjadi penawar racun...?”

“Tidak,” tanggap Ginseng Perkasa cepat. “Itulah sebabnya di dalam ramalan kuno termaktub... ‘Tindak kedua, memikat putih…’ Memikat, bukan menangkap…” 

“Akh… Ramalan kuno omong kosong!” sela Komodo Nagaradja. “Aku memiliki seribu satu cara untuk membuat kambing itu membersihkan racun dari tubuhku! Lima ratus diantaranya adalah teknik penyiksaan. 

“Jangan berbuat sesuka hati…,” nasehat Ginseng Perkasa. 

“Jangan hiraukan hal remeh!” sergah Jenderal Keempat dari Pasukan Bhayangkara. “Yang terpenting, sekarang pikirkan bagaimana cara membawanya kembali ke Pulau Bunga!”

Sejak mendengar kata-kata Ginseng Perkasa, Bintang Tenggara pun bimbang. Setelah kancil itu tertangkap, bagaimanakah cara membawanya ke Pulau Bunga, tempat di mana raga sang Super Guru berada...? Karena untuk saat ini, binatang siluman nan berisik itu merupakan hak milik Kompi 362, lantas selanjutnya akan dibawa ke ibukota Kerajaan Garang untuk dilelang. Awalnya ia berpikir untuk membeli bagian tubuh tertentu yang dapat dijadikan bahan dasar ramuan.

“Bocah tengik keparat!” Amarah Si Kancil belum mereda, bahkan mungkin belum sampai di titik puncak. “Kau tunggu saja... Kau tunggu sampai teman seperjalananku datang menjemput! Dan di saat itu terjadi, maka ia akan membungkam senyum tololmu itu dengan jurus Kamulan Kamulan apalah!”

“Kamulan Kamulan...?” ulang Bintang Tenggara dengan nada mengejek. Kebimbangan di hati seolah terlupakan. 

Kedua mata Si Kancil melotot, sedikit lagi hendak copot. Kebenciannya terhadap anak remaja itu sebentar lagi mencapai ubun-ubun.

“Hahaha... jurus konyol seperti apa yang dinamakan Kamulan Kamulan...?” Bintang Tenggara malah mencibir. Yang ia ketahui adalah jurus Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambara. Jangan-jangan jurus palsu lagi, sebagaimana pernah terjadi pada jurus Tinju Super Sakti. 

“Bangsat! Akan kusiang kulitmu nanti!” 

“Hahaha…,” gelak Bintang Tenggara menimpali. Bilamana binatang siluman itu hendak terus-menerus mengumpat, maka sang Yuvaraja akan meladeni. “Menyiang menggunakan apa…? Gigi? Bagaimana caranya engkau menggunakan pisau, wahai kancil dalam kerangkeng…? Agar kau tahu, diperlukan jari jemari untuk menggunakan pisau…”

“Sebutkan namamu! Agar mudah aku membalaskan dendam kesumat di antara kita!” Dada Si Kancil terlihat naik-turun. 

“Hahaha… engkau tiada layak mengetahui namaku…”

“Bangsat! Sebutkan namamu sekarang ini juga!”

“Baiklah, agar tenang kematianmu nanti, maka kenalilah aku sebagai…” Baru saja Bintang Tenggara hendak menyebutkan nama, sebentuk telapak tangan besar bersandar di bahu…

“Sudahlah… Jangan kau ladeni terus bintang siluman itu…” Kapten Kompi 362 menyadarkan Bintang Tenggara. “Malam ini kita berpesta, dan esok pagi kita kembali ke ibukota!” 

Kata-kata Kapten Sisinga disambut dengan sorak-sorai oleh segenap serdadu bayaran di dalam Kompi 362. Beberapa di antara mereka segera menyebarkan kabar gembira. Beberapa yang lain melompat cepat mendatangi tenda perbekalan.

“Hidangkan semua makanan! Jangan kasih sisa!” 

“Arak, tuak, lapen… keluarkan! Aku tak peduli bila esok tak ada mentari pagi!” 

“Anak muda… bergabunglah bersama kami!” 

Pesta-pora berlangsung meriah. Mengelilingi api unggun, para serdadu bayaran melahap makanan, menenggak minuman keras, bernyanyi. Sesekali terdengar senda gurau di antara mereka, yang disusul gelak tawa semakin ramai. Menjalani kehidupan sebagai serdadu bayaran tidaklah mudah. Hanya pada malam-malam seperti ini mereka dapat melupakan semua kepahitan yang dijalani, kegetiran gugurnya sahabat dalam perang, serta kebimbangan sanak keluarga yang menanti di suatu tempat. Sejenak mereka dapat melupakan derita demi bertahan hidup di medan perang.

Bintang Tenggara pun ikut terbuai. Ia bernostalgia akan suasana ramai di Dusun Peledang Paus seusai perburuan paus. Sungguh terasa hangat. 

“Kapten Sisinga!” seru seorang serdadu bayaran. “Ceriterakanlah kepada kami petuah-petuah bijakmu!” 

“Hahaha…” gelak si Kapten, dibarengi dengan satu tegukan arak di depan api unggun. “Masih ada kuingat petuah bapakku dulu waktu aku hendak berangkat meninggalkan kampung halaman…”

“Kapankah itu Kapten…?” celetuk seorang serdadu bayaran 

“Lima abad lalu… mungkin di saat Sang Maha Patih masih memerintah dengan kesewenang-wenangannya…,” seloroh serdadu bayaran lain.

Suasana kembali ramai, ketika gelak tawa segenap hadirin berbaur menjadi satu. 

“Hahaha…” Kapten Sisinga kembali menenggak tuak. Hanya pada malam seperti ini, anak buahnya dapat berujar sesuka hati, dan ia menginzinkan perilaku tersebut berlangsung. Lelaki dewasa itu lalu melanjutkan, “Di saat melepas kepergianku, bapakku berkata, ‘Jujur do mula ni bada, bolus do mula ni dame.” (1)

Suasana berubah hening, karena tak seorang pun yang memahami kata-kata sang Kapten. Seluruh mata terpaku pada sosok lelaki besar tinggi dan berperawakan garang itu.

“Apakah Kapten Sisinga sudah mabuk…?” bisik Bintang Tenggara kepada seorang serdadu yang duduk di sebelahnya. 

“Hahaha…,” gelak tawa menyambut pertanyaan polos anak remaja itu. “Tak gampang bagi arak memabukkan orang tua itu. Tunggu saja lanjutannya…”

Kapten Sisinga menyapu pandang. Setiap satu serdadu bayaran tak lepas dari pantauannya. Sorot matanya penuh kehidupan, yang berhenti tepat di kala menatap Bintang Tenggara. “Tak baik bila hanya mengumbar kebenaran diri sendiri…,” ujar si Kapten menerjemahkan petuah yang datang dari bapaknya. Ia pun kembali menenggak tuak.

Pesta-pora berlanjut dan berlangsung semalam suntuk. Jelang subuh, hampir seluruh serdadu bayaran sudah tak lagi kuasa menahan kantuk. Mereka tertidur di tempat di mana mereka duduk. 

Mentari baru hendak bersinar, membuka lembaran hari yang baru. Namun demikian, hanya kesenduan yang hadir di salah satu sudut perkemahan. 

“Hiks!” Si Kancil meneteskan air mata. Andai saja tak terpisah dengan Balaputera Ragrawira, maka kemungkinan besar saat ini ia sedang mendogeng di suatu tempat, dan didengarkan khusyuk oleh segenap pendengar. Betapa sedih dirinya yang terbiasa bebas lepas, kini terkurung di dalam kerangkeng. Tiada diketahui pula apa yang akan diperbuat para serdadu bayaran terhadap dirinya nanti. 

Punca dari penderitaan ini hanya satu… adalah si bocah tengik keparat itu!

“Mengapakah engkau menangis, wahai binatang siluman…?” Bintang Tenggara melangkah setengah sempoyongan. Ini adalah kali pertama anak remaja itu menenggak arak. Sungguh pengalaman yang terlalu sulit untuk ditolak.

Si Kancil membuang wajah. Kebencian terhadap anak remaja itu, sudah tiada lagi dapat diungkapkan menggunakan kata-kata. 



Catatan:

(1) Bahasa Batak