Episode 44 - Tantangan



Suatu hari, di masa lalu.

Hujan deras turun membasahi bumi. Memaksa gadis kecil itu berteduh di sebuah gubuk di tepi jalan. Dia dengan santai duduk sembari bersenandung dengan riang. Tiba-tiba datang dua orang dengan tubuh besar mendekati gubuk itu. 

Melihat akan ada orang yang datang, gadis itu bergeser ke tepi untuk memberikan tempat pada kedua orang itu. 

“Hehe, hujannya lebat ya om.” Gadis itu berkata dengan ramah.

Kedua pria besar itu saling berpandangan penuh arti, lalu menyunggingkan senyum yang amat sangat menjijikan.

“Haha, benar sekali.” Ucap pria besar dengan rambut panjang sambil mendekati gadis kecil itu.

“Benar sekali, sepertinya hujan akan turun sangat lama. Tapi jangan takut, om-om ini akan menemani kamu di sini.” Pria besar tanpa rambut berkata dengan senyum yang lebar menghiasi wajahnya.

“Hehe, aku gak takut, kok, soalnya sebentar lagi kakak akan menjemput aku.” Gadis kecil itu berkata dengan senyum.

“Oh, bagus kalau begitu.” Kata pria berambut panjang.

“Ngomong-ngomong, kamu kedinginan gak?” tanya pria botak.

“Iya, dingin banget.” Gadis kecil itu berkata dengan polos.

“Haha, tenang saja, om-om ini akan menghangatkanmu.” Pria berambut panjang duduk di sebelah gadis itu lalu mulai merangkulnya.

“Hei, sialan, hentikan semua omong kosong ini, ayo segera kita lakukan.” Kata pria botak dengan ekpresi iri.

“Haha, oke.” Pria dengan rambut panjang dengan keras memeluk tubuh gadis itu dan mendorong tubuh kecil itu ke bawah.

“Om, apa yang ingin om lakukan? Hentikan om, kepalaku sakit.” Teriak gadis kecil itu sambil mencoba untuk melepaskan diri, tapi tentu saja dia tidak mampu untuk melakukan hal itu.

Pria botak itu sudah tidak tahan lagi, dia segera melepas ikat pinggangnya dan menurunkan celananya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Kakak! Tolong aku, kakak! Kamu di mana? Tolong selamatkan aku, kakak!” gadis kecil itu terus berteriak sambil menangis.

“Hahahaha, berteriaklah sekencang yang kau bisa, tidak akan ada yang bisa mendengar suaramu.” Ucap pria botak itu.

Tiba-tiba terdegar suara langkah kaki mendekat, ternyata itu adalah seorang anak laki-laki yang sedang berlari sambil membawa payung.

“Lepaskan adikku, dasar pedofil sialan!” teriak anak laki-laki itu sambil menutup payungnya dan dengan cepat dia tusukkan ujung payung itu ke pantat pria botak yang celananya sudah turun setengah.

“Ahhhhhhh!” pria botak itu berteriak kesakitan sambil terjatuh ke tanah.

Anak laki-laki itu tidak berhenti sampai di sini saja, dia segera melompat dan memukul mata pria berambut panjang yang memegang si gadis kecil. Tinju kecil dari anak laki-laki itu terhantam tepat pada kedua matanya karena kedua tangan pria berambut panjang dia gunakan untuk memegang tubuh gadis kecil tersebut.

Pria berambut panjang segera melepas pegangannya pada si gadis kecil dan memegangi kedua matanya. Melihat kesempatan itu, si anak laki-laki segera menarik tangan si gadis kecil. Mereka berdua berlari di tengah lebatnya hujan mengguyur bumi. Tidak ada lagi air mata di wajah gadis kecil, karena telah tersamarkan oleh air hujan.

Langkah kaki si gadis kecil dan anak laki-laki berdua terasa berat, karena pakaian mereka yang telah terguyur oleh hujan. Namun, mereka terus berlari sekuat tenaga, karena jauh di belakang mereka pria berambut panjang sedang mengejar. Sedangkan itu, pria botak masih berada di gubuk tadi sambil berusaha melepas payung yang menancap di pantatnya.

“Kalian berdua, berhenti!” teriak pria berambut panjang.

“Terus berlari!” ucap anak laki-laki itu sambil memegang lebih erat tangan si gadis kecil dan berlari lebih kencang lagi.

Namun, tiba-tiba si gadis kecil tersandung dan terjatuh. Gadis kecil itu meringis kesakitan sambil memegang kakinya.

“Ayo berdiri, dia sudah dekat.” Teriak si anak laki-laki sambil menarik tangan si gadis kecil.

“Ta-tapi kakiku sakit.” Ucap si gadis kecil. Anak laki-laki itu tidak bisa melihat air matanya karena tersamarkan oleh air hujan.

“Cepat berdiri, kau harus kuat, atau aku akan meninggalkanmu.” Teriak si anak laki-laki dan menarik tangan gadis kecil lebih kuat lagi.

“Tidak, jangan tinggalkan aku,” gadis kecil itu mencoba berdiri, meskipun kakinya masih terasa sangat sakit, “jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku.”

Pria berambut panjang kini hanya berjarak lima langkah dari mereka berdua, akan tetapi dia tiba-tiba menghenntikan langkahnnya dan bergegas pergi ke arah sebaliknya, itu karena tidak jauh dari sana terlihat gerombolan pria dengan pakaian hitam dan putih sambil membawa payung berwarna hitam sedang beralari menuju si anak laki-laki dan si gadis kecil.

Kini, si gadis kecil berhasil berdiri meskipun tampak goyah dan bisa tumbang kapanpun, namun dia dengan teguh memopang tubuh basahnya lalu berkata, “Aku kuat, jadi jangan tinggalkan aku, kak.”

***

Di dalam sebuah luangan luas, banyak murid dengan pakaian berwarna hitam dan putih berbaris dengan rapi di sekeliling arena pertarungan yang tepat berada di ruang arena. Mereka dengan penuh antisipasi menunggu pertarungan dua orang paling istimewa.

Mereka istimewa bukan karena kekuatan atau kemampuan bertarungnya, tapi karena mereka adalah dua orang yang mewarisi darah dari pemimpin sekte saat ini, Lin Dong.

Usia Lin Dong belum terbilang sangat tua, akan tetapi karena tradisi sekte, pemimpin sekte akan di gantikan jika anak mereka telah mencapai usia lima belas tahun. Semua orang tahu dengan fakta ini, akan tetapi tidak untuk dua orang yang sedang mengatur konsentrasi mereka di dalam arena pertarungan.

Biasanya, tidak akan ada hal seperti ini, akan tetapi karena Lin Dong memiliki anak kembar, yaitu Lin Fan dan Lin Er, maka di adakan pertarungan ini. Meskipun Lin Fan adalah sang kakak, dan dia juga mempelajari bela diri lebih dulu ketimbang Lin Er. Namun, Lin Dong lebih condong untuk menjadikan putrinya sebagai penerusnya.

Karena, sejak Lin Er bergabung, dia bisa dengan cepat mempelajari semua tehknik dengan baik, dan dia juga mampu untuk mengalahkan orang yang bahkan usianya jauh di atasnya. Menurut Lin Dong, Lin Er memiliki bakat yang lebih baik dari Lin Fan.

Dilihat dari segi kepribadian pun, Lin Dong lebih cenderung lebih rela Lin Er menjadi penerusnya. Meskipun Lin Fan tidak pernah main-main ketika sedang berlatih, tapi sikapnya sangat sembrono ketika berada di luar. Karena itulah Lin Dong lebih menyukai Lin Er. Baginya, citra sekte bela diri ini sangat penting.

Lin Dong berjalan menuju arena pertarungan. Itu adalah arena yang beralaskan matras dan berbentuk lingkaran. Khusus untuk pertandingan ini, dia sendiri yang akan memimpin jalannya pertandingan.

Semua orang termasuk Lin Dong sangat mengantisipasi hasil pertarungan ini, berbeda lagi dengan Lin Fan dan Lin Er. Mereka memiliki perasaan yang sangat berbeda. Bagi Lin Fan, pertandingan ini adalah pertandingan biasa seperti yang lainnya, akan tetapi dia juga tidak mau kalah dari adiknya, untuk menjaga citranya sebagai seorang kakak.

Sedangkan itu, Lin Er sangat bersemangat untuk membuktikan kepada Lin Fan bahwa dia sudah menjadi lebih kuat. Karena sebenarnya, Lin Er tidak terlalu tertarik pada bela diri, alasan utamanya hanya untuk menjadi kuat dan menunjukannya pada Lin Fan.

Lin Dong berjalan menuju arena pertarungan. Khusus untuk pertandingan ini, dia sendiri yang akan menjadi wasitnya. 

“Peraturannya tidak perlu aku sebutkan lagi, jadi, apakah kalian berdua sudah siap?” tanya Lin Dong.

“Siap.” Jawab Lin Er dengan antusias.

Sedangkan itu, Lin Fan hanya membalas dengan anggukan ringan.

“Baiklah, pertandingan dimulai.” Teriak Lin Dong. Suaranya mengisi seluruh arena dan membakar antusiasme seluruh penonton.

Lin Er dengan cepat menendang lantai dan bergegas menuju Lin Fan. Sedangkan itu, Lin Fan dengan tenang menunggu serangan dari Lin Er.

Dengan sangat anggun Lin Er menendangkan kakinya ke pinggang Lin Fan, akan tetapi dengan sangat mudah dapat Lin Fan hindari dengan melompat mundur ke belakang. 

Setelah mundur, Lin Fan segera maju kembali dan mengarahkan tinjunya menuju perut Lin Er. Namun, Lin Er dengan indahnya mampu menepis tinju tersebut, lalu mengarahkan sikunya ke bahu Lin Fan.

Lin Fan tidak memprediksi gerakan Lin Er tersebut dan tidak mampu menghindar, bahunya terkena serangan siku dari Lin Er.

Tapi, serangan itu belum usai. Setelah menyiku bahu Lin Fan, Lin Er segera menarik sikunya dan menghantamkan lututnya pada perut Lin Fan.

Lin Fan mundur sambil memegang perutnya dan menatap tajam pada Lin Er, akan tetapi Lin Er tetap tidak terpengaruh dan melanjutkan serangannya lagi. Kali ini Lin Fan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bisa menang melawan Lin Er.

Namun, dengan sangat anggun semua serangan brutal dari Lin Fan mampu di halau oleh Lin Er. Kini stamina Lin Fan terkuras habis, sedangkan Lin Er masih dalam kondisi sedikit lebih baik.

Lin Er maju dan menghujamkan tinjunya menuju wajah Lin Er, akan tetapi Lin Er dengan cerdik mampu menghindar lalu menarik tangan Lin Fan dan membanting Lin Fan ke lantai.

“Baiklah, pertarungan selesai, pemenangnya adalah Lin Er.” Lin Dong dengan senyuman yang lebar menghentikan pertarungan.

“Aku menang, yeay, aku menang!” Lin Er berteriak kegirangan sambil tersenyum dengan cerah.

Lin Fan berdiri dan menatap Lin Er dengan hangat .

“Bagaimana? Apakah aku sudah menjadi kuat sekarang?”

“Ya, kau sekarang sudah kuat, tapi jangan berpuas diri terlebih dahulu, karena aku pasti akan melampauimu.” Jawab Lin Fan sambil mengelus kepala Lin Er.

**

Kembali ke saat ini. Lin Dong dengan penuh benci menatap putra laki-lakinya.

“Apa yang kau inginkan disini?” tanya Lin Dong.

“Aku akan mengambil alih sekte ini.” Jawab Lin Fan dengan tenang.

“Mustahil. Orang le-“

“Orang lemah sepertiku tidak layak menjadi pemimpin sekte?” Lin Fan memotong ucapan Lin Dong.

“Benar.”

“Coba kau lihat mereka semua? Apakah tatapan mereka seperti melihat orang lemah lagi?” ucap Lin Fan sambil melihat ke murid-murid yang menyaksikan pertarungannya sebeleumnya.

“Mereka hanyalah pemula.” Ucap Lin Dong.

“Maka dari itu, aku akan menantangmu bertarung tiga hari lagi, dan jika aku menang, maka sekte ini akan menjadi milkku.” Lin Fan berteriak dengan percaya diri.

“Baiklah, sebagai pemimpin sekte, aku menerima tantanganmu, pertarungan akan dilaksanakan tiga hari lagi, di sini, dan melawan aku.” Itu bukanlah jawaban dari Lin Dong, akan tetapi jawaban dari gadis yang menjadi pilar utama sekte kali ini, Lin Er.

“Haha,” Lin Fan tertawa pahit, “Sepertinya kau menjadi semakin sombong.”

“Aku lebih kuat darimu, maka aku berhak sombong di hadapanmu, orang lemah yang telah melarikan diri dari sekte.” Ucap Lin Er dengan sinis.

“Baiklah, persiapkan dirimu baik-baik.” Lin Fan berjalan pergi.

Lin Fan memilih waktu tiga hari lagi karena sebelum ini, ada beberapa orang yang harus Lin Fan beri pelajaran.