Episode 52 - Langit Merah di Mega Mendung (1)



“Apakah kau sudah gila?! Kau membunuh istri dan anak menantumu sendiri?! Kini kau tidak punya siapapun untuk meneruskan roda pemerintahan Mega Mendung! Kau sendiri yang menjadi biang petaka bagi negeri ini!” bentak Jaya marah sekali, pemuda ini mulai tenggelam dikuasai dendam kesumatnya pada ayahnya sendiri, Mega Sari pun menangis menjerit-jerit ketika mendapati suaminya terbunuh oleh ayahnya sendiri, Emak Inah segera memeluknya dan Ki Silah terkesima tak tahu harus berbuat apa.

Prabu Kertapati tertawa dingin, “Kalau begitu aku hanya perlu hidup abadi untuk terus menjalankan roda pemerintahan Mega Mendung dan menguasai seluruh tanah Pasundan!” usai berkata demikian, Prabu Kertapati lalu menunjuk Jaya dengan wajah kelam membesi, “Dan bukan hanya istri dan anak menantuku saja yang kubunuh, kau anak kandungku pun akan segera menyusul!” tegas Prabu Kertapati.

Jaya menggerung murka, dia melangkah menuju ke tempat Prabu Kertapati berdiri. “Baik! Akupun tidak keberatan untuk membunuh ayah kandungku sendiri!” geramnya.

Galuh yang sejak tadi terkesima oleh kekejaman Prabu Kertapati yang membunuh istri dan anak menantunya sendiri langsung tersadar, dia langsung berlari untuk menahan Jaya, “Jaya tunggu! Jaya!” tapi Jaya tidak memperdulikannya dan mendorong tubuh Galuh, Galuh pun berusaha untuk menahan tubuh Jaya lagi, ia memegang erat-erat tangan pemuda itu. “Jaya jangan jadi orang durhaka yang membunuh orang tuanya sendiri demi orang gila seperti dia!”

Jaya tidak bergeming, dia mendorong tubuh Galuh agak keras hingga gadis itu terpapah kebelakang, Galuh berlari lagi dan menarik tangan Jaya, “Jaya jangan jadi orang seperti dia! Kalau kau membunuh ayahmu sendiri apa bedanya kau dengan iblis itu?!” rintih Galuh sambil menangis.

Jaya pun menghentikan langkahnya, kemudian ia menatap mata Galuh yang sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. “Jaya aku tidak mau kau celaka, aku tidak mau kau mati! Aku juga tidak mau kau menjadi pendosa yang terkutuk karena membunuh ayahmu sendiri! Aku mohon Jaya... Ayo kita pergi saja tinggalkan negeri terkutuk ini...” rintih Galuh dengan pilu, dengan tulus ia memohon agar Jaya tidak membalaskan dendamnya kepada Prabu Kertapati, padahal ia sendiri pun sangat mendendam kepada Sang Prabu. Air mata gadis ini pun turun deras membasahi pakaian Jaya.

Jaya memegang bahu Galuh dan menatap wajah gadis yang sedang menangis itu, ia tersenyum kecil, tapi tiba-tiba... Desh! “Uhkk!” Galuh mengeluh kecil ketika tangan Jaya memukul tengkuk Galuh, Galuh Parwati pun jatuh pingsan.

Jaya segera menangkap tubuh Galuh yang ambruk bagaikan karung bolong itu, ia lalu menoleh pada si Dewa Pengemis, “Dewa Pengemis, tolong jagalah muridmu ini, maaf aku terpaksa melakukan ini padanya.” Si Dewa Pengemis pun menerima tubuh Galuh.

“Dan satu lagi, apabila terjadi apa-apa padaku, aku titipkan keselamatan Galuh dan adikku Mega Sari padamu.” pesan Jaya.

Si Dewa Pengemis pun menghela nafas berat, “Baiklah... Nampaknya ini memang sudah menjadi ketetapan Gusti Allah, tidak ada seorang pun yang bisa menghalanginya!” jawab si Dewa Pengemis.

Jaya menoleh pada Prabu Kertapati dengan tatapan penuh dendam, sang prabu pun menyeringai sinis, “Kau sudah siap? Maumu dengan tangan kosong atau pakai senjata?!" tanyanya.

Saat itu Jaya melihat satu kilauan cahaya putih yang keluar dari Keris Pusaka Naga Putih milik Dharmadipa yang tergeletak diatas tanah beberapa meter disampingnya, aneh sekali, keris itu seolah memanggil-manggil dirinya untuk memungutnya. Saat ia sedang menatap keris tersebut, tiba-tiba terdengar suara si Dewa Pengemis yang terngiang di telinganya lewat ilmu menyusupkan suara.

“Senjata Sang Prabu yang bernama Keris Segara Geni sangat berbahaya, tapi apabila kau bertarung dengan tangan kosongpun kau tidak akan sanggup untuk melukai tubuh Sang Prabu yang sangat kebal terhadap segala jenis aji kesaktian itu! Maka cepat pungut Keris Pusaka itu, Keris di tangan kanan, pukulan sakti di tangan kiri!

Sebisa mungkin hindari bentrokan senjata dan tenaga dalam dengannnya, Keris Pusaka itu tidak akan sanggup menandingi kesaktian Keris Segara Geni, dan tenaga dalamnya jauh berada diatasmu! Satu Lagi sekali-kali jangan pukul bagian tubuhnya, carilah kesempatan untuk membeset atau menusuk tubuhnya dengan Keris Pusaka milik saudaramu itu!”

Setelah mendengar nasehat si Dewa Pengemis, Jaya pun memungut Keris Pusaka Naga Putih, “Kalau kau punya senjata silakan keluarkan!” ucapnya.

Prabu Kertapati tertawa sinis, “Kau yakin akan menggunakan pusaka itu? Satu pelajaran untukmu, pusaka yang terjatuh ke tanah dari tangan pemiliknya akan kehilangan tuahnya!” 

Prabu Kertapati menutup ucapannya dengan mencabut Keris Kyai Segara Geni, keris bereluk Sembilan yang terbuat dari besi berusia seribu tahun dari dasar kawah Krakatau itu memancarkan sinar biru gelap menggidikan, tiba-tiba dari seluruh tubuh keris tersebut keluarlah api berwarna biru, api biru itu berkobar diseluruh batang tubuh keris tersebut, angin ribut pun menderu berseoran menimbulkan suara yang sangat mengerikan seolah suara jeritan-jeritan setan yang keluar dari keris pusaka tersebut, hawa disekitar tempat itu sontak menjadi sangat panas!

Jaya cukup terkejut melihat kesaktian keris pusaka Mega Mendung itu, ia pun mengerahkan seluruh tenaga dalamnya pada Keris Pusaka Naga Puih di tangan kanannya sehingga senjata mustika negeri Parakan Muncang itu memancarkan sinar putih yang terang sekali. 

Prabu Kertapati menggeram, tiba-tiba tubuh Prabu Kertapati berkelebat lenyap! Tahu-tahu keris Kyai Segara Geni sudah berkelebat hanya tinggal satu jengkal dari muka Jaya Laksana! Jaya terkejut lekas-lekas melompat ke samping. Meski tangan kirinya mempunyai kesempatan leluasa menjotos tubuh lawan, tapi karena ingat akan ucapan Dewa Pengemis tadi maka hal itu tidak dilakukannya! 

Hampir keris bereluk sembilan itu lewat di sampingnya tiba-tiba dengan sebat Prabu Kertapati menusuk ke perut sedang tangan kiri lepaskan satu pukulan yang hebat ke arah kepala! Jaya geser kaki kanan, meski senjatanya adalah senjata mustika sakti namun melihat Keris lawan yang jelas bukan sembarang senjata pula maka Jaya tak berani ambil keputusan untuk adu senjata. Maka sambil miringkan badan Keris Kyai Naga Putih dibabatkan ke atas mengarah tangan kiri lawannya!  

Tarik pulang tangan kiri dan kanannya, Prabu Kertapati kembali pukulkan tangan kirinya, ia lipat gandakan pukulan tangan kirinya dalam pukulan “Badai Kematian” hingga angin pukulan yang ke luar laksana topan prahara! Di lain pihak Jayapun sudah menangkis dengan pukulan “Badai Mendorong Bukit” yang mengandalkan seluruh bagian tenaga dalamnya!

Terdengar suara seperti letusan sewaktu kedua angin pukulan itu saling beradu dengan segala kehebatannya. Tempat disekitar mereka bergetar hebat laksana dilanda lindu. Prabu Kertapati terhuyung-huyung sampai enam langkah, sedangkan Jaya Laksana jika tidak lekas-lekas pergunakan ilmu mengentengi tubuhnya, pasti dia tak sempat terhuyung ke belakang namun mungkin akan terhenyak jatuh duduk di tanah!

Terkejutlah Jaya, meskipun ia sudah memperkirakan kehebatan ayahnya, tapi ketika ia merasakan sendiri adu tenaga dalam barusan, ia dapat menaksir bahwa tenaga dalam Prabu Kertapati lebih unggul satu atau dua tingkat diatasnya, maka ia pun mengalirkan tenaga dalamnya ke jari manisnya, cincin Kalimasada memancarkan sinar biru terang yang menggidikan, tenaga dalam Jaya pun bertambah berlipat-lipat!

Jurus kedua dibuka kembali oleh Prabu Kertapati dengan serangan yang lebih ganas dari pertama tadi. Dia meraung macam harimau ketika serangannya yang sekali ini pun berhasil dielakkan lawan. Jurus ketiga, Prabu Kertapati keluarkan ilmu silat yang pating diandaikannya yaitu ilmu “Silat Harimau” yang ia dapatkan dari ayahnya, mendiang Sri Baduga Maharaja! 

Jaya telah pernah menghadapi jurus yang mirip yaitu ilmu Silat Harimau yang dimainkan Dharmadipa ciptaan Kyai yang telah ia cangkok dari Ilmu Silat Harimau ciptaan Sri Baduga Maharaja yang kemudian diwariskan pada Dharmadipa. Waktu itu kalau dia tidak mengeluarkan ilmu Silat yang diajarkan Kyai Supit Pramana pastilah dia kena dicelakai. Dan kini Prabu Kertapati memainkan Ilmu Silat Harimau yang jurus-jurusnya aneh berbahaya dan lima kali lebih hebat dari yang dimainkan Dharmadipa!

Jaya terus bertahan dan menghindari serangan-serangan maut Prabu Kertapati dengan menggunakan “Ajian Tujuh Langkah Malaikat”, namun rupanya serangan-serangan Prabu Kertapati sangat sebat dan cepat luar biasa, ia juga tidak tertipu oleh bayangan-bayangan yang keluar dari tubuh Jaya. 

Jaya mengeluh dalam hati, maka ia pun coba memberanikan diri menyerang Prabu Kertapati dengan menggunakan jurus “Naga Menguras Samudera”, Duesh! Desh! Desh! Satu pulan dan dua tendangan bersarang telak di tubuh Prabu Kertapati, tapi yang diserang seolah tidak merasakan apa-apa, Jaya malah merasa seperti menyerang batu karang yang amat atos, malah tangan dan kakinya yang terasa ngilu!

“Benar apa yang dikatakan oleh Si Dewa Pengemis! Tubuhnya sangat atos dan teguh bagaikan batu karang! Cincin Kalimasada pun tak berhasil menembus ilmu kebalnya!” keluh Jaya sambil mengalirkan tenaga dalamnya ke tangan kiri dan kedua kakinya yang ngilu. Prabu Kertapati kembali menerjang, Jaya pun terpaksa melompat kebelakang menghindar dan kembali mempergunakan “Ajian Tujuh Langkah Malaikat”.

Jaya juga sadar, meski dia bisa bertahan tapi kalau tak membalas serangan lawan, lama-lama dirinya bisa dicelakai juga. Dia pegang hulu Keris Naga Putih di tangan kanan lebih erat, lalu memasuki jurus ke enam belas untuk pertama kalinya dia menyerang dengan mempergunakan Jurus “Naga Terbang Membubarkan Awan”

Keris Naga Putih menderu dahsyat, sinar pulih berkiblat bergulung-gulung menghamparkan hawa dingin. Ujung Keris menderu ke bawah, lalu laksana seekor naga yang memunculkan kepalanya dari dalam lautan senjata itu melesat ke arah batang leher Prabu Kertapati! Sang Prabu sengaja tidak berkelit. Keris Kyai Segara Geni ditusukkannya ke depan, ke arah bawah ketiak tawan karena dia berkeyakinan bahwa tusukan senjatanya akan lebih cepat menemui sasarannya daripada senjata lawan!

Pendekar Dari Lembah Akhirat tidak bodoh! Dia sudah memperhitungkan kerugian posisinya bila dia meneruskan serangannya. Karenanya dengan cepat Jaya geser kedua kaki dan berkelit. Begitu berkelit begitu dia susul dengan jurus serangan baru yang dinamakan “Naga Kepala Seribu Mengamuk” Keris Naga Putih mengaung dahsyat dan berkiblat dalam bentuk putaran yang sangat kecil!

Prabu Kertapati berseru keras dan tundukkan kepala untuk menghindarkan diri dari sambaran senjata lawan. Sang Prabu balas menyerang dengan jurus “Harimau Menerkam Kijang” yang membuat serangan-serangan dengan gerakan aneh, serangan itu berasal dari atas kebawah dengan kecepatan fantastis bagaikan harimau menerkam mangsanya! Jaya balas menyerang dengan membabatkan Kerisnya ke arah leher sang Prabu. Tapi sedetik kemudian mata keris lawan telah menyambar ke bahu kirinya! 

Sang Pendekar melompat ke kanan dan dia memaki keras sewaktu sesaat kemudian senjata lawan telah memapas ke pinggul terus ke arah kedua kakinya! Satu-satunya jalan untuk mengelakkan serangan yang berputar itu ialah melompat ke luar dari kalangan pertempuran. Jaya Laksana terpaksa melompat ke luar berjumpalitan dari kalangan pertempuran. Bila dia sudah lepas dari serangan yang berputar itu dia akan segera balas menyerang. 

Tapi kejutnya bukan alang kepalang karena ketika baru saja dia keluar dari kalangan pertempuran, tahu-tahu senjata lawan memburu dalam jarak yang sangat dekat dan sangat cepat dengan jurus yang dinamakan “Harimau Lompati Ngarai”. Mengelak pasti kasip! Tiada jalan lain daripada menangkis. Jaya palangkan Keris mustikanya ‘Traang!" Bunga api memercik.

Jaya tersurut tiga langkah, ia terkejut melihat Keris pusaka Naga Putih yang ia gunakan untuk menangkis serangan keris Kyai Segara Geni telah gompal, tangannya bergetar hebat, jantungnya berdegup kencang, sungguh Keris Kyai Segara Geni bukan tandingan Keris Pusaka peninggalan kakak seperguruannya itu, sekali atau dua kali ia gunakan lagi untuk menangkis serangan keris mustika lawannya, mungkin akan patahlah Keris pusaka itu!

Tapi Jaya tidak kehilangan akal, ia kerahkan tenaga dalamnya ke tangan kirinya, saat Prabu Kertapati kembali menerjang, menderulah sinar lembayung besar yang menyialaukan, mengeluarkan hawa yang teramat panas dalam pukulan “Sang Surya Tenggelam”! 

Meski dalam keadaan kepepet karena posisinya tidak menguntungkan, Prabu Kertapati Serta merta dia jatuhkan diri sama rata dengan lantai dan berbarengan dengan itu tangan kirinya cabut sepuluh Keris-Keris emas kecil sepanjang jari telunjuk yang bergantungan di jubahnya lalu dilemparkan ke muka! Pukulan Sang Surya Tenggelam menyambar ke atas tubuh Prabu Kertapati. Keris emas melesat di bawah sinar pukulan yang dilepaskan Jaya lalu menyambar dengan ganas ke arah sepuluh bagian tubuh Pendekar Dari Lembah Akhirat. 

Jaya Laksana kiblatkan Keris Naga Putih dalam Jurus “Naga Melilit Gunung”. Keris Pusaka itu berputar mengelilingi tubuh Jaya bagaikan Naga Membelit Gunung. Trang… trang… trang! Suara itu terdengar berturut-turut sampai sepuluh kali, dan ke sepuluh senjata mustika yang dilemparkan Prabu Kertapati mental patah tersambar Keris Naga Putih! Dikejap yang hampir bersamaan Pukulan Sang Surya Tenggelam yang tak berhasil menerpa tubuh Prabu Kertapati terus melanda satu batu gunung yang besar lagi kokoh. Duaarrr!!! Batu gunung yang kokoh atos itu hancur berantakan, bumi disekitar tempat itu bergetar hebat!

"Kurang ajar!" rutuk Prabu Kertapati seraya melompat bangun. Seluruh ilmu simpanannya telah dikeluarkannya. Mereka telah bertempur hampir enam puluh jurus dan ternyala dia belum sanggup menumbangkan lawannya! Sang Prabu harus mengakui bahwa sekarang ia sedang menghadapi lawan yang paling tangguh sepanjang hidupnya.

Sang Prabu kertakan rahang, kembali ia menerjang kemuka dengan jurus “Harimau Menerjang Badai”! Wussshhh!!! Keris Kyai Segara Geni menderu ke arah dada Jaya, Jaya yang terkejut dengan serangan mendadak itu terpaksa melintangkan Keris Pusakanya, Tranggg!!! Jaya tersurut lima langkah dan langsung berjumpalitan melompat kebelakang, betapa kagetnya ia ketika melihat Kerisnya telah patah ketika menangkis serangan lawannya, sementara Keris Prabu Kertapati tidak kurang satu apapun juga!

Dalam keadaan lawan yang masih terkesima, Prabu Kertapati tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, kembali ia menerjang Jaya, Jaya kaget bukan alang kepalang, setelah Keris Naga Putih patah, ia tidak mempunyai senjata lagi untuk menangkis serangan lawan, Jaya hanya bisa berkelit dengan Ajian Tujuh Langkah Malaikat! 

Jaya berhasil mengelakan serangan keris Prabu Kertapati, keris itu menderu lewat didepan hidungnya, tapi Prabu Kertapati tetap memanfaatkan kesempatan ini, tangan kanannya yang menggenggam keris dipukulkan ke dada Jaya, menyusul satu pukulan tangan kirinya!

Jaya mencelat akibat pukulan Prabu Kertapati yang dahsyat, ia terbatuk-batuk keluarkan darah, dadanya terasa sangat sesak dan nyeri sekali, buru-buru ia alirkan tenaga dalamnya untuk meringnkan nyeri didadanya, tapi Prabu Kertapati tak memberi kesempatan barang sedikitpun! Kembali ia menerjang dengan jurus “Cakar Harimau Memecah Tengkorak”!

Jaya yang sudah tidak memiliki senjata terus menghindari serangan Prabu Kertapati yang kian ganas, penuh penasaran dalam keadaan kepepet ia melepaskan pukulan “Sirna Raga”, satu lidah api disertai pusaran gelombang angin panas menderu, menerjang Prabu Kertapati.

Sang Prabu menonjokan tangan kirinya, menderulah angin merah yang sangat panas dalam aji pukulan “Angin Neraka”! Blaarrr! Ledakan dahsyat terjadi ketika dua pukulan sakti itu beradu di udara, Jaya jatuh terjengkang dan muntah darah, sementara Prabu Kertapati hanya terjajar lima langkah, ia merasakan nafasnya sesak dan jantungnya berdegup kencang, tangan kirinya terasa kesemutan.


Jaya yang tingkat tenaga dalamnya masih kalah oleh ayahnya itu kembali bersiap ketika Prabu Kertapati kembali menerjang, ia menghindari kian kemari sambil terus berpikir harus berbuat apa karena tidak dapat balas menyerang, tubuh sang Prabu begitu atos dan kokoh bagaikan batu karang, tenaga dalamnya pun dahsyat sekali! Hingga pada satu saat, otaknya yang cerdas mengingat semua pola serangan Prabu Kertapati, “Hmm... Kenapa Iblis ini tidak pernah menggunakan kakinya untuk menyerang?” pikirnya.

Pada satu serangan, Jaya sengaja menghindari serangan Prabu Kertapati dengan menjatuhkan dirinya ke tanah, ketika serangan keris Prabu Kertapati lewat diatasnya, Jaya menendang kaki kiri Prabu Kertapati, “Aaaaa!” jerit Prabu Kertapati kesakitan. “Betul dugaanku, kiranya kelemahan iblis ini ada pada kakinya!” bathin Jaya.

Bukan main murkanya Prabu Kertapati mendapati lawannya telah mengetahui kelemahannya, ia terus menyerang sambil berusaha menutupi celah untuk serangan ke kakinya, tapi Jaya yang merasa seolah mendapatkan angin segar terus dengan tekun dan sabar menanti kesempatan baik untuk menyerang kaki Sang Prabu.

Beberapa jurus kemudian, akhirnya kesempatan itu datang lagi yang tak disia-siakan oleh Jaya, Jaya berhasil mengirimkan beberapa serangan beruntun ke kedua kaki Prabu Kertapati dengan jurus “Menggoncang Langit Menjungkir Awan”! Sang Prabu pun menjerit kesakitan sampai akhirnya ia terjatuh meskipun berhasil bangun lagi dengan terhuyung-huyung, kaki kirinya patah sebab terus dihantam oleh Jaya.

Jaya terus menyerang Sang Prabu dengan tangan kosongnya, gerakan Prabu Kertapati pun sudah tidak tangkas seperti sebelumnya karena kaki kirinya telah patah, dari wajahnya nampak jelas ia begitu kesakitan. Melihat lawannya yang nampak tidak tangguh lagi, dengan iseng Jaya pun menyerang tubuh Sang Prabu dengan jurus “Tendangan Kuda Sembrani”.

Empat tendangan bersarang telak di dada sang prabu, ajaib! Kini tubuh Sang Prabu sudah tidak atos seperti batu karang lagi, tubuh Prabu Kertapati mencelat kebelakang kemudian muntah darah akibat tendangan beruntun Jaya!

“Setan Alas! Jangan kira kau sudah menang anak setan!” maki Prabu Kertapati, ia menyarungkan keris pusakanya, kemudian ia menyatukan kedua telapak tangannya, mulutnya berkomat-kamit membaca mantera, terdengar suara gemuruh petir yang begitu dahsyat ketika Prabu Kertapati menggosok-gosokan kedua tangannya, udara disekitarnya bergetar dan sangat panas sekali, asap hitam mengepul dari sekujur tubuhnya, pertanda ia akan mengeluarkan pukulan pamungkasnya yang tadi telah membunuh Dharmadipa bernama pukulan “Petir Menyambar Samudera”.

Jaya pun segera bersiap-siap untuk meladeni pukulan pamungkas ayahnya itu dengan pukulan pamungkasnya yakni pukulan “Gerhana Matahari”, cincin Kalimasada bersinar terang sekali, Jaya menyalurkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanannya, tangan kanannya memancarkan sinar emas kemerahan, hawa disekitarnya menjadi sangat panas sekali dan udara menjadi sangat redup bagaikan sedang terjadi Gerhana Matahari. 

Prabu Kertapati mendorongkan kedua tangannya, sinar merah dan hitam menyambar berbentuk petir yang sangat besar, Jaya pun mendorongkan tangan kanannya, satu sinar emas kemerahan memancarkan cahaya redup dan pusaran gelombang angin panas menderu memapasi petir berwarna merah dan hitam!