Episode 43 - Momen yang Dirindukan



Tidak terhitung banyaknya orang yang menghina dan merendahkan Lin Fan karena kalah dari adiknya, Lin Er, lalu pergi meninggalkan sekte. Sampah, lemah, pecundang, pengecut, dan masih banyak lagi julukan yang Lin Fan dapatkan dari orang-orang di sekitarnya.

Dari yang mengenalnya, hingga orang yang tidak mengenalnya, mereka semua menghina Lin Fan. Bahkan tanpa mereka tahu apa yang terjadi, bagi mereka, selama itu menyenangkan, maka itu layak untuk dilakukan.

Tapi, untungnya masih ada orang-orang seperti Agam dan teman-temannya yang tidak terpengaruh oleh hal tersebut dan tetap berteman dengan Lin Fan tanpa memedulikan kekuhal tersebut.

Mereka adalah orang-orang yang layak dianggap sebagai teman.

Lin Fan kini berdiri di depan bangunan tua yang sudah sangat lama tidak dia kunjungi, sebuah bangunan yang tepat berdiri di samping rumahnya. Di depan bangunan tersebut terdapat sebuah gerbang dengan ukiran naga dan macam berwarna hitam dan putih, di atas gerbang tersebut terdapat tulisan besar ‘Sekte Gerbang Surga’.

Bangunan ini bukanlah tempat rekreasi atau perkumpulan agama sesat, akan tetapi tempat orang-orang yang tertarik dan ingin mempelajari bela diri.

Suara teriakan penuh semangat para pemuda dan pemudi di dalam bangunan terdengar keras. 

Lin Fan berjalan masuk dengan tenang. Meskipun banyak kenangan buruk yang terjadi di tempat ini, tapi di dalam hatinya, dia masih mencintai tempat ini. Tidak, mungkin lebih tepatnya adalah dia masih sangat mencintai bela diri.

Meskipun telah satu tahun Lin Fan pergi, akan tetapi tidak banyak perubahan yang terjadi pada bangunannya, hanya wajah-wajah baru dari pemuda yang sedang berlatih yang asing bagi Lin Fan.

Dari kejauhan, Lin Fan memandang lapangan luas di depan bangunan utama sekte, di sana terlihat para pemuda dengan balutan seragam berwarna hitam dan putih sedang berlatih gerakan dasar dari bela diri yang diajarkan, seperti memukul dan menendang. Jumlah mereka sekitar seratus orang.

Lin Fan terus berjalan mendekati para pemuda tersebut, hingga akhirnya ada salah seorang pemuda yang menyadari keberadaannya.

“Hei, lihat, si sampah datang!” pemuda itu berteriak keras.

Sontak semuanya melihat ke arah Lin Fan, di mata mereka jelas tertulis penghinaan kepada Lin Fan.

Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun berjalan mendekati Lin Fan, pria ini adalah pelatih bela diri bagi para pemuda itu, dia menatap sinis pada Lin Fan dan berkata, “Apa yang kau inginkan? Bukannya kau sudah memutuskan untuk keluar dari sekte? Lagipula, sekte tidak membutuhkan orang lemah sepertimu!” 


Lin Fan sudah mati rasa dengan semua hinaan orang lain, dia juga tidak mau mengatakan omong kosong apapun kepada orang yang menghinanya, karena itu percuma saja, tidak akan ada pengaruhnya. Lin Fan mengambil sikap bertarung sembari tersenyum mengejek pada pria tersebut.

“Kau menantang aku bertarung? Haha, kau pikir aku mau membuang tenagaku untuk sampah sepertimu?” kata pria itu, lalu dia memandang para pemuda dan melanjutkan, “Siapa di antara kalian yang bersedia untuk mengajari sampah ini pelajaran yang tidak akan dia lupakan?”

Seorang pemuda bertubuh besar maju dan berkata dengan percaya diri, “Guru, biar aku saja.”

“Haha, sampah sepertinya tidak layak untuk bertarung dengan kamu,” pelatih itu berkata dengan bangga lalu melihat ke salah seorang pemuda dengan tubuh yang kurus, “Hei, kamu, maju dan hadapi sampah itu.” 

Pemuda bertubuh kurus itu maju dengan percaya diri, meskipun dia memiliki tubuh yang kurus, tapi dia, tidak, bahkan semua pemuda di sekte ini percaya bahwa Lin Fan lebih lemah dari mereka, meskipun mereka semua belum pernah melihat bagaimana kemampuan Lin Fan yang sebenarnya.

“Kau sudah siap?” pemuda bertubuh kurus itu berkata sambil memasang posisi bertarung juga.

Lin Fan tidak berkata apapun dan hanya mengangguk pelan.

“Baiklah, terimalah seranganku!” kata pemuda bertubuh kurus tersebut.

Sangat bodoh jika Lin Fan berkata, ‘aku akan menerima seranganmu’. Tidak mungkin dia akan mematuhi ucapan pemuda kurus itu. Lin Fan dengan cepat maju dan menghindari tinju dari pemuda bertubuh kurus tersebut lalu dengan sangat cepat Lin Fan mengepalkan tinjunya dan menghantamkannya ke wajah pemuda kurus itu.

Tinju itu terlalu cepat, sehingga pemuda kurus itu tidak mampu untuk menghindarinya. Tubuh kurus itu terlempar jauh ke belakang dan ... dan tidak ada kelanjutannya lagi. Dia telah jatuh pingsan.

“Sial! Apa-apaan itu?”

“Apa yang sedang terjadi? Sejak kapan dia menjadi sekuat itu?”

“Tidak mungkin, ini pasti tidak mungkin.”

Semuanya tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Sedangkan itu, Lin Fan menarik napas lembut lalu kembali memasang posisi bertarung sembari memandang mereka semua dengan jijik.

“Sialan! aku akan menghajarmu, dasar sampah!”

“Tidak, biarkan aku yang menghajarnya.”

“Jangan, serahkan saja sampah seperti dia padaku.”

Banyak pemuda lain maju dan menawarkan diri untuk bertarung dengan Lin Fan.

Lin Fan menatap mereka semua lalu berkata, “Jangan sungkan, silakan kalian semua maju sekaligus.”

“Sialan! jangan sombong kau sampah!” teriak seorang pemuda dengan marah. Tanpa peduli dengan yang lainnya, dia bergegas menuju Lin Fan sembari melancarkan serangan. Akan tetapi dengan mudahnya semua serangan pemuda tersebut dipatahkan oleh Lin Fan.

Pemuda tersebut terus menyerang Lin Fan, akan tetapi karena cepatnya reflek Lin Fan saat ini sehingga tidak ada satupun serangan yang berhasil mendarat pada tubuh Lin Fan. 

“Sialan! jangan menghindar terus sampah!” kata pemuda itu dengan jengkel.

Lin Fan ingin menguji seberapa cepat responnya kali ini, dan ternyata hasil yang dia dapatkan lebih baik dari apa yang dia harapkan. Setelah menghindar beberapa puluh serangan dari pemuda itu, akhirnya Lin Fan memutuskan untuk mengakhirinya.

Pemuda tersebut melancarkan pukulan menuju wajah Lin Fan, akan tetapi dengan sangat mudah Lin Fan mampu menangkap kepalan tangan itu sebelum mengenai wajahnya. Pemuda tersebut mencoba melepas kepalan tangannya. Namun, semua usahanya tidak berguna. 

Akhirnya, pemuda tersebut mencoba menyerang Lin Fan dengan tangan yang lainnya, akan tetapi kejadian yang sama terulang kembali.

“Sial! Lepaskan tanganku.” Pemuda itu berteriak sembari mencoba melepas kedua tangannya yang dicengkeram oleh Lin Fan.

Lin Fan tersenyum kecil, dia mulai mengerti mengapa setiap orang kuat senang merendahkan orang lemah.

Perasaan yang dia dapat sangat menggairahkan. Sangat menyenangkan.

Lin Fan dengan perlahan meremas tangan pemuda tersebut dengan keras.

“Hentikan! Lepaskan, dasar sampah sialan, cepat lepaskaan!” pemuda itu berteriak seperti orang gila.

Lin Fan menambahkan tenaga yang dia gunakan untuk meremas tangan pemuda itu.

“Hentikan, tolong hentikan! Aku mohon, lepaskan tanganku, aku mohon, lepaskan!” tidak ada lagi kesombongan, yang ada hanyalah jeritan keputusasaan dan tangisan.

Lin Fan tidak mengindahkan jeritan pemuda tersebut dan masih terus meremas tangannya. Sudut bibirnya naik lebih tinggi dan tatapannya seperti sedang melihat seonggok sampah.

“Sialan, lepaskan dia!” seorang pemuda lainnya berlari cepat menuju Lin Fan, berniat untuk membantu temanya. Namun, tiba-tiba saja Lin Fan melepas tangan pemuda itu dan meraih bajunya lalu dia lemparkan menuju pemuda yang sedang berlari menuju arahnya.

“Sialan, hanya karena kau sedikit lebih kuat bukan berarti kau bisa sombong di sini!”

“Benar, bagi kami, kau tetaplah sampah”

“Sampah.”

“Sampah.”

“Sampah.”

“Sampah.”

“Sampah.”

Makian dan ejekan terus menggema di lapangan yang luas. Semua pemuda berkumpul mengelilingi Lin Fan di tengah. Sedangkan itu, Lin Fan dengan tenang menikmati semua momen yanng terjadi. Karena Lin Fan yakin, setelah hari ini, dia mungkin akan merindukan momen tersebut.

Lin Fan melempar kepalanya ke atas dan tertawa terbahak-bahak. Tawanya membuat suara makian dan ejekan teredam. Setelah puas tertawa, Lin Fan berputar sembari menatap tajam semua orang yang mengelilinginya.

“Jangan hanya bicara omong kosong, buktikan dengan tinjumu bahwa kau lebih baik dari orang yang kau panggil sebagai sampah.” Ucap Llin Fan dengan suara yang berat.

Kemudian Lin Fan menunjuk mereka dengan telunjuknya satu persatu.

“Kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau, kau,kau, kau, kau... kalian semua, maju dan hadapi aku, dan akan aku buktikan, siapa sampah yang sebenarnya.”

Perasaan takut dan merinding yang mencekam menyelimuti bagi siapa saja yang telah Lin Fan tunjuk. Perasaan yang tidak akan pernah dimengerti oleh mereka yang tidak Lin Fan tunjuk.

Otak mereka berkata untuk maju dan menyerang Lin Fan, akan tetapi tubuh mereka menolak gagasan tersebut. Tubuh mereka seperti di peluk erat oleh ular sehingga tidak mampu untuk bergerak. Lidah mereka kelu, seakan tidak mampu lagi untuk mengeluarkan sedikit pun suara.

“Ayo cepat maju!” teriak Lin Fan.

Namun, tidak ada yang berani bergerak. Tiba-tiba pelatih para pemuda yang sedari tadi masih terperangah dengan perubahan yang terjadi pada Lin Fan maju. Sembari mengatur napasnya, pelatih itu berjalan dengan tenang menghampiri Lin Fan.

“Aku yang akan menghadapimu.” Ucap pelatih itu dengan suara yang berat.

“Hahahaha, ternyata kalian semua hanyalah bayi yang hanya bisa berteriak omong kosong saja.” Lin Fan berkata sembari memandang para pemuda dengan sinis.

“Diam! Atau aku tidak akan menahan diri lagi.” pelatih itu berteriak keras sambil melotot pada Lin Fan.

“Haha, tenang saja, akulah yang akan menahan diri.” Kata Lin Fan lalu berlari menuju pelatih itu, dengan sangat cepat Lin Fan sudah berada di hadapannya, kemudian dia mencambukan kakinnya. 

Pelatih itu segera mundur untuk menghindar, akan tetapi ternyata serangan itu tidak berhenti sampai di sini saja. Setelah serangan pertamanya tidak mengenai sasaran, Lin Fan segera meluncurkan sebuah tinju, akan tetapi berhasil di tepis oleh pelatih tersebut.

Pelatih itu mundur kembali untuk mengatur sebuah rencana, tapi Lin Fan tidak memberikannya kesempatan itu. Sebuah pukulan kembali teratuju pada wajah pelatih tersebut yang tidak mampu dia hindari. Dia terlempar ke belakang dan bernasib sama seperti pemuda pertama.

“Guru.”

Semua pemuda berteriak keras dan menghampiri gurunya yang sudah tak sadarkan diri.

“Ada apa ini?”

Tiba-tiba suara berat dan menggelegar terdengar keras di seluruh lapangan. Sumber suara tersebut adalah seorang pria di sekitar umur empat puluhan. Meskipun begitu, tubuhnya masih tegap dan tampak sehat.

Dia adalah pemimpin sekte sebelumnya, sekaligus ayah dari Lin Fan dan Lin Er.

“Akhirnya dia datang juga.” Lin Fan bergumam lembut.