Episode 268 - Si Penawar Racun



Bintang Tenggara tak memiliki waktu yang panjang untuk beramah-tamah terlalu lama bersama Resi Gentayu. Dirinya tertarik akan kisah trah di antara bangsawan Wangsa Syailendra. Akan tetapi, ketertarikan tersebut kalah pamor ketika memperoleh warta bahwa Lamalera dalam keadaan baik-baik saja di dalam petualangannya. Walau dikatakan berada di dalam sebuah dunia paralel, kini diketahui bahwa teman masa kecilnya itu sedang bersama sang ayahanda. 

Ayahanda pastilah bukan sembarang tokoh. Balaputera Ragrawira Si Anak Jenius memiliki nama harum dan besar di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Akan tetapi, mengapakah beliau menghilang...? Ke mana...? Atas tujuan apa...? Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa, kemungkinan besar mengetahui misteri di balik peristiwa ini. Tida, sang penguasa tentu mengetahui secara pasti. Akan tetapi, tokoh tersebut tiada dapat ditanyakan, karena pembawaannya demikian mengerikan. 

Sesuai kata-kata pemuda kurus kerempeng dan si kusir, balai gerbang dimensi ruang menuju Kota Seribu Sungai sesak dipenuhi oleh berbagai ahli. Mereka menanti sabar. Tepat di kala matahari berada di atas kepala, waktu makan siang, pintu balai ditutup karena petugasnya beristirahat. Sejumlah ahli yang menanti sesuai nomor urut, pun melangkah pergi mencari pengganjal perut. 

Bintang Tenggara, mengikuti dua ahli yang merupakan anak buah Saudagar Senjata Malin Kumbang, memasuki balai gerbang dimensi dari sisi belakang. Di pekarangan dimana sebuah prasasti yang berfungsi sebagai media untuk membuka lorong dimensi ruang, ia menyaksikan seorang lelaki paruh baya menanti. Kelihatan sudah tua sekali, apalagi karena lelaki itu memelihara kumis dan janggut tebal serta panjang yang berwarna putih. Bilamana bibirnya tebal menonjol, maka beliau akan terlihat layaknya Maha Maha Tabib Surgawi.

“Selamat datang. Silakan... silakan...,” sambut lelaki tua itu. Ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangan yang menyatu. Bunyi gesekan kulit telapak tangan sungguh mengganggu. Gelagatnya memperlihatkan akan adanya sesuatu yang ditunggu. 

“Tuan Kepala Balai...” Pemuda kurus kerempeng memberikan sebuah kantong yang bergemerincing pelan. 

“Hehehe... Sumbangan kalian akan sangat membantu penghidupan orang tua nan renta itu...” Si Kepala Balai itu terkekeh di kala menerima sogokan. Betapa senang hatinya. 

Tak dapat diragukan lagi bahwa Saudagar Senjata Malin Kumbang merupakan ahli yang teramat digdaya. Kemungkinan besar, di seluruh penjuru Negeri Dua Samudera ia memiliki kenalan. Jaringan Kamar Dagang mungkin jauh lebih luas daripada jaringan Pasukan Telik Sandi atau Partai Iblis yang bergerak secara tersembunyi. Bahkan, bilamana kedua organisasi yang selalu berseteru itu digabungkan, ungkin saja jumlah saudagar adalah lebih banyak adanya. 

“Apakah pantas bagi kita menyelak antrian...?” Bintang Tenggara nan polos terdengar meragu. 

“Tiada kita menyelak antrian...,” jawab pemuda kurus kerempeng. “Saat ini adalah waktu istirahat dan kebetulan kita memperoleh kesempatan khusus...” 

Bintang Tenggara hendak menanggapi, bahwa ‘kesempatan khusus’ tersebut bukan kebetulan. Kesempatan khusus diciptakan melalui sogokan. Sungguh tiada layak. Akan tetapi, anak remaja itu menahan diri... Tanpa sadar ia memaklumi bahwa adalah demikian di dunia nyata. Kesempatan lebih luas terbuka kepada barang siapa yang memiliki sumber daya lebih... Idealisme adalah semu. 

Terlebih, Bintang Tenggara hendak secepatnya sampai di Kota Seribu Sungai. 

“Sudah lama diriku tiada membuka langsung sebuah gerbang dimensi...” Lelaki paruh baya itu mulai merapal formasi segel. Dari sudut pandang Bintang Tenggara, susunan formasi segel ini berbeda sekali dengan yang biasa ia perhatikan saat seorang petugas gerbang dimensi menjalankan tugasnya. Sungguh pelik. 

“Mari... mari...” Ia membungkukkan tubuh. Sungguh mencerminkan keramahan yang berlebihan, apalagi datangnya dari seorang pejabat sekelas Kepala Balai. “Waktu kita tiada banyak...” 

Tanpa pikir panjang lagi, ketiga ahli melangkah ke arah gerbang dimensi. Sebelum melompat ke dalam, sudut mata Bintang Tenggara sempat menangkap senyuman tak lazim dari lelaki paruh baya itu. Ada yang aneh..., benaknya mencurigai.

Beberapa waktu berlalu, di mana ketiga ahli terombang-ambing di dalam kegelapan lorong dimensi ruang. Hanya percikan-percikan petir kecil yang membiaskan cahaya. Bintang Tenggara sudah sejak lama terbiasa menempuh perjalanan dengan lorong dimensi ruang, sehingga tiada lagi merasa kepala pening dan perut mual. Meskipun demikian, kali ini ia merasa sangat tak nyaman. Entah karena apa, sulit sekali diungkapkan.

“Swush!” 

Ketiga ahli melompat keluar dari dalam lorong dimensi ruang. Mentari menggantung tinggi di angkasa, namun bias sinarnya hanya mampu menyela di antara pepohonan besar-besar nan rimbun. 

Hutan belantara... demikianlah Pulau Belantara Pusat, batin Bintang Tenggara. Ia memantau sekeliling, tak terlihat tanda-tanda kehidupan manusia. Padahal, karena menggunakan gerbang dimensi resmi, seharusnya mereka tiba di sebuah balai gerbang dimensi pula. 

“Gaswat!” seru si kurus kerempeng hampir melompat di tempat. Sebuah lencana di dalam genggamannya hampir saja terjatuh. 

“Bangsat! Kepala Balai Gerbang Dimensi itu bermuka dua!” gerutu si kusir. 

“Ada apakah gerangan, Kakak...? Bukankah kita telah tiba di Pulau Belantara Pusat...?” Bintang Tenggara sekali lagi menyapu pandang suasana sekeliling. 

“Kita berada di Pulau Satu Garang!” si kurus kerempeng segera melangkah ke antara rimbunnya pepohonan. “Selayaknya, Partai Iblis telah mengetahui tujuan kita, sehingga mereka mengatur agar gerbang dimensi tadi dirapal menuju tempat ini...”

“Kita lengah... Partai Iblis telah mendahului. Cih! Mereka menyogok Kepala Balai tua itu...” 

“Sepertinya mereka tidak terlalu pasti akan waktu kedatangan kita...”

“Si Kepala Balai saat ini pastilah sudah memberikan amaran tentang kedatangan kita kepada Kerajaan Garang...” 

“Bagaimana selanjutnya...?” Bintang Tenggara menengahi kedua teman seperjalanannya. Anak remaja itu tak hendak tenggelam terlalu lama dalam kepanikan. Mungkinkah ini penyebab perasaan tak nyaman sejak berada di kota Baya-Sura...?

“Kita akan bersembunyi...,” sahut si kusir. 

“Apakah tak lebih baik bila kita membaur ke pemukiman...? Para serdadu dari Kerajaan Garang pastinya akan menelusuri dan mencari di wilayah hutan.”

“Benar!” tanggap pemuda kurus kerempeng cepat. “Aku mengenal wilayah ini. Ada pemukiman tak jauh di hadapan. Kita berlindung di sana sambil memantau situasi.”

“Akkhhh... aaaakkhhh...” 

Belum melangkah terlalu jauh, ketiga ahli dibuat waspada. Mereka berupaya mencari asal suara. 

“Aaaaaakkhhh... sedikit lagi... sedikit lagiiii....” Selain rintihan dan erangan, terdengar pula suara seperti tepukan tangan yang ritmenya teratur lagi cepat. 

Pemuda kurus kerempeng dan si kusir saling pandang. Raut wajah keduanya terlihat kecut... Bukankah ini suara... Suara bilamana...

Bintang Tenggara menyela semak belukar yang tumbuh lebat. Tak jauh dari tempat di mana mereka mengintai, terlihat sepasang binatang... mirip kambing. Dari arah belakang, kambing yang satu seolah memanjati kambing yang berada di depan. Di saat yang sama, terlihat pinggangnya kambing pemanjat itu bergerak maju mundur cepat sekali... Kedua pasang kambing tersebut terlihat merintih nikmat. 

“Alamak!” Si kusir menepuk jidatnya sendiri. Sungguh pemandangan yang tak layak yang disajikan oleh sepasang kambing!

“Apa yang kambing-kambing itu lakukan...?” Bintang Tenggara penasaran dan hendak mendekat.

“Eeee...” Pemuda kurus kerempeng menarik lengan Bintang Tenggara. “Kita lewat jalur lain sahaja...”

“Di sana!” Tetiba terdengar teriakan, yang disusul derap langkah kaki. Segerombolan serdadu bayaran menyeruak di antara lebatnya ilalang! Berpakaian dan bersenjatakan lengkap seperti hendak turun berperang, mereka terlihat beringas! 

Bintang Tenggara bersama kedua rekannya sontak waspada. Secepat itukah para serdadu dari Kerajaan Garang mengendus jejak langkah mereka!? 

“Aaaakkkhhhh...” Si kambing yang berada di posisi belakang seolah melolong ibarat seekor serigala di malam purnama. Tubuhnya terlihat mengejang. Betapa lelah sekaligus puasnya ia terlihat...

“Segera tangkap kambing itu!” Seorang serdadu bayaran menunjuk ke arah sepasang kambing. 

“Yang jantan! Segera tangkap!” 

“Tangkap hidup-hidup! Harganya mahal di pasar gelap!”

Ketiga ahlinya yang hanya dapat memantau kejadian di hadapan, masih terpana. Di saat yang sama, kambing tersebut melompat berjingkat cepat ke arah mereka. Kambing itu dengan mudahnya meninggalkan pasangan yang baru saja ia panjat, kini tergeletak lemas. 

“Bangsat! Keparat! Bedebah! Sialan! Terkutuk! Manusia!” si kambing itu mengumpat tiada henti. Napasnya masih terlihat menderu. “Siapa yang kambing!? Tak bisakah kalian biarkan aku memadu kasih barang sejenak!?”

Si kambing yang berwarna kecokelatan itu bergerak lincah. Tak perlu waktu lama, ia pun melintas tangkas, tepat di hadapan ketiga ahli yang masih mencerna apakah gerangan kejadian yang kini berlangsung...? Sepasang kambing baru saja selesai melakukan apa yang mereka lakukan... Kambing yang jantan bisa berbicara! Segerombolan serdadu bayaran memburu! 

Gerombolan serdadu bayaran hanya menoleh sekilas kepada Bintang Tenggara, si kurus kerempeng, serta si kusir. Tiada mereka peduli akan keberadaan ketiga ahli tersebut. Perhatian mereka sepenuhnya terpusat kepada kambing yang melarikan diri. 

“Duar! Duar! Duar!” 

Ledakan demi ledakan mulai terdengar di kala para serdadu bayaran berupaya menutup ruang gerak buruan mereka. Binatang siluman mirip kambing itu menghindar lincah. Kendatipun demikian, karena banyaknya jumlah bola api yang dilontarkan, cepat atau lambat si kambing itu pastilah akan kewalahan...

“Tirai Putih!” seru si kambing yang bisa berbicara itu. 

Kemudian, diawali dari pupil di kedua bola mata, warna putih menjalar cepat ke sekujur tubuh binatang siluman Kasta Perak itu. Bukanlah cahaya, tapi warna putih. Seputih kapas. 

Seketika itu terjadi, bola-bola api yang berwarna kekuningan, yang mendarat telak di tubuhnya berubah warna! Benar… seolah terjangkiti oleh warna putih, bola-bola api tak ayal ikut berubah menjadi berwarna putih, seputih-putihnya putih!

“Plop!” Bola-bola api meletus pelan. Tak ada ledakan dan kobaran api yang mengikuti. Ibaratnya, api kehilangan kemampuan dasarnya. 

“Plop!” Si kambing terlihat melompat dan mengejar bola-bola api yang berwarna putih. Menggunakan moncong hidungnya, ia memecah bola-bola api tersebut. 

“Plop! Plop! Plop!” 

Betapa girangnya si kambing itu... Ia pun mulai bermain-main, melompat ringan ke kiri dan ke kanan, mengincar bola-bola api. Sangatlah lincah gerakannya.

“Eh... Ia menenetralkan unsur kesaktian...?” Ginseng Perkasa mencermati. “Itu... Itu unsur kesaktian putih!” 

“Ha...!?” Sontak Bintang Tenggara melotot ke arah kambing nan dapat berbicara. Tak akan ia melupakan pengetahuan penting yang diperoleh dari sang Maha Maha Tabib Surgawi. Bahwasanya, tubuh Super Guru Komodo Nagaradja menderita racun yang berasal dari unsur kesaktian. Untuk mengangkat racun tersebut, diperlukan unsur kesaktian nan teramat langka sebagai penawar. Lampir Marapi diketahui memiliki unsur kesaktian tersebut, namun untuk memanfaatkan unsur kesaktian tersebut, terlebih dahulu harus menanti gadis belia itu melepas keperawanannya. 

“Apa lagi yang kau tunggu!?” hardik Komodo Nagaradja. 

“Kejar binatang siluman itu!” Ginseng Perkasa berseru. 


===


“Paman... Paman Balaputera...?” 

Seorang lelaki dewasa tersadar dari lamunannya. 

“Maafkan diriku...,” Lamalera berujar pelan. “Apakah yang paman Balaputera renungkan...?”

“Hm...” Raut wajah Balaputera Ragrawira terlihat khawatir sekali. Meskipun demikian, ia menggelengkan kepala. 

“Apakah ada yang bisa kubantu...?”

Meski cemas, Balaputera Ragrawira menyibak senyum. “Di kala menghadapi serangan beruntun... dengan sangat terpaksa diriku mengirimkan teman seperjalanan ke suatu tempat.”

“Oh...? Apakah dengan memanfaatkan lorong dimensi ruang...?” Lamalera hendak memastikan. 

“Benar...”

“Siapakah ia...?”

“Seekor binatang siluman yang paling berisik yang pernah kutemui...” Balaputera Ragrawira menghentikan kata-katanya. Sungguh kini ia dapat menikmati suasana damai lagi tenteram tanpa Si Kancil. Kegemaran binatang siluman itu memaki dan mendongeng sungguh mengganggu. 

“Apakah Paman hendak segera mencarinya...?” 

“Bila saatnya tiba nanti...,” ujarnya. “Untuk sementara ini, kuharap ia baik-baik saja...” Meski kecemasan belum sepenuhnya sirna dari raut wajah lelaki dewasa itu, ia percaya bahwa Si Kancil dapat menjaga keselamatan diri sendiri.

“Hei!” Tak jauh di hadapan, sedang mendaki lereng perbukitan, seorang remaja berkulit tubuh gelap yang menyoren keris raksasa di pundak, menghardik. “Tak bisakah kalian melangkah lebih cepat lagi!?”

“Benar... Diriku tak punya banyak waktu menemani kalian...” Remaja lelaki lain ikut berujar. Ia juga berkulit tubuh gelap, rambutnya keriting demikian halus.