Episode 50 - Kala Mega kian Mendung di Mega Mendung (2)


Panembahan Yusuf termenung setelah membaca surat dari Mahapatih Ki Balangnipa yang dibawakan oleh utusannya, dari atas kudanya ia menatap seluruh pasukan Mega Mendung yang mengibarkan bendera putih, ia terus menatap tajam ke pihak Mega Mendung sambil berpikir keras, sementara semua perwiranya tidak ada yang berani menanyakan apa yang harus mereka lakukan.

Panembahan Yusuf adalah seorang Sultan yang sangat cerdas, meski dalam keadaan dan waktu yang mendesak seperti ini ia masih dapat berpikir jernih yang menguntungkan pihaknya, maka akhirnya berkatalah ia, “Surat dari Mahapatih Mega Mendung ini berisi permintaan agar kita mengurungkan serangan kepada Mega Mendung, saat ini mereka sedang berniat menjungkalkan Prabu Kertapati untuk diganti dengan putranya yang bernama Jaya Laksana, putra sulungnya ini adalah seorang Muslim, maka dapat dipastikan Mega Mendung pun akan berubah menjadi satu Negara Islam, maka mereka meminta agar kita dapat bersahabat dan saling mengikat tali persaudaraan, karena selain sesama Negara Islam, kita juga sesama keturunan Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja!”

“Itu artinya kita harus menangguhkan penyerbuan kita, Lalu apa yang harus kita lakukan paduka? Kita sudah terlanjur masuk ke wilayah mereka”? Tanya Ki Patih Tubagus Kasatama.

“Saya belum pernah mendengar bahwa Prabu Kertapati memiliki seorang putra, setahu saya ia hanya memiliki seorang putri yang bernama Mega Sari, ia tidak mempunyai keturunan lain karena tidak mempunyai selir. Saya hanya pernah mendengar bahwa ada seorang pendekar yang bergelar Pendekar Dari Lembah Akhirat yang bernama Jaya Laksana, menurut kabar yang kami dengar ia dalam tugas melaksanakan titah gurunya Kyai Supit Pramana untuk menghetikan sepak terjang Prabu Kertapati, kami pernah mengajaknya bergabung, tapi ia malah membunuh beberapa orang pasukan kita dan bergabung dengan Mega Mendung.” jelas Senopati Tubagus Gempong.

“Kakang Bogaseta, apakah benar Prabu Kertapati memiliki seorang putra?” Tanya Panembahan Yusuf.

Pangeran Bogaseta menjura hormat, “Benar Gusti, namun menurut kabar yang hamba dengar dahulu Prabu Kertapati membuangnya karena tidak tega membunuhnya untuk dikorbankan kepada seorang Pertapa Sesat yang bernama Topeng Setan, tapi sejak saat itu tidak ada kabar lagi tentang putranya itu, dan tidak ada yang tahu namanya selain Prabu Kertapati dan istrinya serta paman Patih Ki Balangnipa.”

Panembahan Yusuf mengangguk-ngangguk, ia pun memaparkan apa yang akan ia lakukan, “Kalian dengarlah, kerahkan mata-mata kita, cari tahu dimana keberadaan Jaya Laksana dan Prabu Kertapati, setelah itu kita bergerak dengan kekuatan penuh menuju ke tempat keberadaan mereka, seandainya para pasukan pemberontak Mega Mendung mengalami kesulitan untuk mengalahkan pihak yang setia pada Prabu Kertapati, kita bantu mereka! Ini adalah hal terbaik yang bisa lakukan agar pihak Mega Mendung merasa berhutang budi pada kita!”

Semua yang ada di sana pun mengamini perintah sang sultan, berangkatlah para mata-mata yang disebar masuk ke Mega Mendung untuk mencari keberadaan Jaya Laksana dan Prabu Kertapati, setelah beberapa saat berangkatlah seluruh pasukan Banten tersebut memasuki wilayah Mega Mendung yang tak mendapatkan halangan apapun dari pasukan Mega Mendung yang berjaga di sana.

***

Di perbatasan Kutaraja Mega Mendung sebelah selatan, suara petikan kecapi terdengar mendayu-dayu yang dimainkan oleh seorang kakek tua bermata buta dengan pakaian penuh tambalan layaknya seorang pengemis, didepannya nampak sepasang muda-mudi yang sedang menatap ke arah Kutaraja Rajamandala, mereka sempat terkejut mendapati fenoma alam yang sangat aneh dan mengerikan yang ketika melihat langit merah pada pagi hari tersebut, namun mereka kembali tenang setelah langit merah tersebut sirna, berubah menjadi langit yang sangat mendung serta Galuh mengingatkan Jaya agar dia benar-benar melupakan segala persoalan di Mega Mendung ini karena sebentar lagi mereka akan meninggalkan negeri itu untuk selama-lamanya.

Setelah itu, si Pemuda yang tak lain adalah Jaya Laksana menolehkan kepalanya pada si Dewa Pengemis, dia hendak menanyakan perihal si Topeng Setan yang sangat membuatnya penasaran. “Dewa Pengemis, apakah kau tahu siapa sebenarnya Topeng Setan?”

Si Dewa Pengemis menghentikan permainan kecapinya, wajahnya berubah muram, desahan nafasnya pun terdengar berat. “Tidak banyak tahu siapa dia sebenarnya, meskipun kisah kekejamannya sangat mashyur di tanah Pasundan ini bahkan sampai ke tanah Jawa dan tanah Andalas di sebrang sana. Akupun hanya mendengar sedikit kisahnya dari guruku. Dahulu kala Ia adalah seorang Resi sesat yang bernama Mahesa Kala Sura, ia hidup sejak zaman Prabu Linggabuana Maharaja sampai pada zaman Prabu Susuk Tunggal.

Tidak seperti resi atau brahmana yang lainnya, Mahesa Kala Sura adalah seorang Resi yang gila ilmu kanuragan, hampir semua ilmu ia kuasai termasuk ilmu hitam yang terlarang seperti ajian Pancasona dan Ajian Rawa Rontek. 

Ia juga mempunyai kebiasaan yang aneh yaitu suka menantang orang-orang yang ia dengar mempunyai ilmu kesakitian, sehingga malang melintanglah Resi sesat itu untuk menantang lalu membunuh lawan-lawannya hingga namanya begitu dikenal sebagai Resi Sesat Pencabut Nyawa yang menggetarkan dunia persilatan.

Dimana-mana ia membuat bencana, dimana-mana ia membuat keresahan hingga akhirnya Prabu Susuk Tunggal mengutus keponakannya sekaligus menantunya Sang Manah Rasa untuk membasmi kedzaliman yang disebarkan Mahesa Kala Sura, pada satu pertarungan yang sangat menentukan di Puncak Gunung Patuha, Sang Manah Rasa berhasil mengalahkan Mahesa Kala Sura dengan cara menghancurkan tubuhnya di dasar Kawah Patuha.

Namun karena iblis itu memiliki ajian Pancasona dan Rawe Rontek, meskipun tubuhnya hancur lebur, sukmanya masih bergentayangan ke mana-mana, hingga sukmanya hinggap pada sebuah topeng wajah iblis yang diciptakan oleh seorang pertapa sesat. Sejak saat itulah Mahesa Kala Sura berubah nama menjadi Topeng Setan dan kembali menabur kejahatan di jagat ini! Itulah mengapa si Topeng Setan memendam dendam pada seluruh keturunan Sang Manah Rasa atau Sri Baduga Maharaja!”

“Hmm... Begitu... Kalau begitu seselesainya urusan pernikahan ini, aku harus segera menghentikan sepak terjang si Topeng Setan ke Gunug Patuha!” tekad Jaya.

“Memang itu sudah menjadi kewajibanmu, tapi kamu harus berhati-hati, ilmu Iblis itu sangat tinggi!” peringat si Dewa Pengemis.

Hening sejenak, Jaya kembali menatap ke arah Kutaraja Rajamandala, Galuh memperhatikan cara Jaya menatap ke Kutaraja, gadis itu dapat merasakan bahwa masih ada satu energi tak kasat mata yang menarik Jaya untuk kembali ke Keraton Rajamandala, tiba-tiba ia menarik tangan Jaya untuk mengalihkan pikiran calon suaminya tersebut, “Hei lihatlah ini!” Jaya pun mengikutinya, “Kau suka ini kan?” tunjuk Galuh pada serumpun bunga liar yang tumbuh di antara padang rumput yang membentang di gerbang perbatasan Kutaraja Rajamanda itu.

Mereka pun berjongkok melihat bunga liar itu, “Sejak kecil aku suka ini, meskipun mereka hanya bunga liar, mereka terlihat sangat cantik... Mereka hebat bukan bisa tumbuh di antara rumput-rumput liar di padang rumput ini?” ujar Galuh kepada Jaya sambil tersenyum manis. Si Dewa Pengemis pun tersenyum melihat tingkah laku sepasang muda-mudi yang akan segera menikah itu, ia pun berpura-pura tidak menyaksikan mereka. 

Jaya tersenyum menatap serumpun bunga liar itu, “Bahkan bagi orang yang hatinya tandus hampir hangus oleh bara api dendampun, mereka terlihat sangat cantik!” ucapnya, kemudian pemuda ini melihat wajah Galuh yang belepotan debu dan lumpur, tangannya mengusap mengelap debu dan kotoran yang menempel di wajah gadis yang selalu tak acuh pada penampilannya itu, “Wajahmu penuh kotoran…”

Galuh terkejut dengan belaian tangan Jaya yang mengelap kotoran di wajahnya, gadis ini jatuh terjengkang saking kagetnya, “Sialan! Jangan sentuh aku! Kalau kau tidak suka melihatku penuh kotoran, jangan lihat aku!” bentak Galuh.

“Maaf, bukan begitu maksudku, maksudku kau akan kelihatan semakin hitam kalau wajah dan tubuhmu penuh kotoran, aroma tubuhmu juga akan lebih menusuk, makanya dulu aku pernah menyuruhmu mandi, kau ingat kan? Itu agar kau terlihat lebih bersih.” sahut Jaya.

Galuh pun merajuk dengan wajah memerah, “Huh! Terimakasih banyak kau sudah menyebut kulitku hitam kotor dan bau, maaf ya kalau kulitku tidak seputih dan semulus Mega Sari adikmu itu! Maaf juga kalau aku jauh dari kata cantik! Cari saja gadis lain yang kulitnya putih mulus, bersih, dan wangi yang lebih cantik daripada aku untuk kau jadikan istri atau selir sekalian!”

Jaya jadi tertawa terbahak-bahak karena ia merasa senang bahwa Galuh kembali ke sifat aslinya yang blak-blakan, menjadi gadis yang senang berbiacara apa adanya dan serampangan. “Hahaha… Siapa sangka kalau gadis yang selalu bicara bla-blakan dan bertindak ugal-ugalan ini adalah keturunan Syeh Alam Akbar, Sultan Demak yang pertama?! Hahaha…”

“Brengsek kau malah menertawakan aku! Heh dengar! Aku tidak peduli siapapun leluhurku! Aku adalah aku! Aku bertindak sesuai kemauanku sendiri! Aku berpikir denganpikiranku, dengan otakku! Bukan dengan otak Mbahku!” semprot Galuh dengan bersungut-sungut.

“Astaga… Hahaha…” Jaya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berusaha menahn tawanya karena hatinya semakin geli dengan sikap “semau gue” gadis dihadapannya itu, ia lalu menunjuk ke bunga liar yang tadi ditatap oleh mereka. “Apa nama bunga ini?”

“Aku tidak tahu itu bunga apa! Yang jelas itu bunga! Dan yang ini rumput! Yang ini tanah! Dan kau pria ceriwis yang selalu menggoda dan protes pada penampilanku!” sahut Galuh dengan mencak-mencak marah yang malah membuat Jaya semakin geli, ia semakin menyukai calon istrinya itu.

“Lho? Kok kamu malah semakin ngambek padaku sih? Kalau kau marah-marah terus kau bakalan cepat tua lho!” goda Jaya sambil mencolek hidung Galuh.

“Nah! Apa kubilang?! Kau sudah mengatai aku lagi kan?! Heh aku peringatkan, kalau mau menikahi aku, jangn pernah sekali-sekali kau mengkritik soal penampilanku! Kalau tidak, aku tarik putus lidahmu yang usil itu!” ancam Galuh seraya menepis tangan Jaya yang mencolek hidungnya.

“Iya… Iya… Mohon ampun Tuan Puteri…” melas Jaya yang menyungkun Galuh, tapi kemudian tawanya meledak lagi.

“Sialan kamu malah terus tertawa! Heh daripada terus menggodaku, lebih baik kau berpikir! Apakah kau sudah rencana apa yang akan kita lakukan setelah menikah nanti?! Pikirkan rencana untuk membangun keluarga kita!” semprot Galuh.

Jaya berhenti tertawa, sambil tersenyum ia memegang lengan Galuh, “Tentu saja aku sudah mempunyai satu rencana untuk membangun keluarga kita Galuh, setelah menikah aku akan menyelesaikan urusanku dengan si Topeng Setan terlebih dahulu, setelah itu aku akan membawamu pergi jauh dari Mega Mendung ini.”

“Oya? Kemana kau akan membawaku nanti?” tanya Galuh.

“Hmm… bagaimana kalau kita ke Sumedanglarang? Aku dengar negeri mereka juga sangat makmur, atau kalau kau mau, kita bisa pergi ke Wetan menyebrangi Sungai Cipamali, kita bisa ke tempat asalmu di Kadipaten Tegal, atau terus ke Wetan… menurut kabar di pedalaman sana ada sebuah Negeri baru yang bernama Pajang, mungkin kita bisa bertani juga disana.” jelas Jaya.

“Huh ternyata kau sudah memikirkan semuanya! Berarti kamu ngebet ingin menikah denganku bukan?” cibir Galuh dengan tersenyum lebar dan bergaya amat centil yang membuatnya nampak jemawa karena rasa percaya dirinya yag sangat tinggi.

“Hahaha… Tentu saja! Aku memang ngebet ingin menikahimu, makanya aku sudah memikirkan banyak rencana untuk masa depan keluarga kita.” jawab Jaya sambil tertawa geli mendapati kelakuan Galuh. Dirinya benar-benar merasa terhibur oleh kelakuan gadis pilihan hatinya tersebut yang sangat berbeda dari gadis kebanyakan pada masa itu, sikap Galuh yang polos ceplas-ceplos dan agak sableng itu dapat membuatnya melupakan beban berat di hatinya akan persoalan keluarganya di Keraton Mega Mendung, dia amat bersyukur karena Gusti Allah telah mempertemukannya dengan gadis yang kelakuannya agak aneh dan ganjil tersebut.

Galuh memonyongkan bibirnya mendengar ucapan dari Jaya tersebut, lalu ia mengalihkan dan menyapukan pandangannya ke sekelilingny., “Tanah, rumput, bunga, pohon, air, semua yang ada diatas jagat ini, sejauh mata kita memandang sampai yang tidak nampak oleh mata kita... Ini bukan wilayah kekuasaan siapa-siapa! Ini semua milik Gusti Allah! Hanya manusia saja yang bodoh dan berperang demi menguasai sejengkal-sejengkal tanah yang sebenarnya bukan miliknya! Semua ini hanyalah perang bodoh yang dikobarkan oleh manusia-manusia bodoh yang membuat seluruh mahluk ciptaan Allah menderita!” ucap Galuh.

Si Dewa Pengemis tersenyum mendengar ucapan muridnya yang sangat langka berkata bijak seperti demikian, kemudian kakek tua ini melangkah menghampiri mereka, “Kamu benar sekali muridku, namun perang adalah suatu keniscayaan karena adanya perbedaan, sekalipun Allah mengatakan bahwa perbedaan bukan menjadi alasan untuk saling bersengketa melainkan untuk saling mengenal satu sama lain dan sebagai bukti kebesaranNYA! 

Perbedaan seringkali menjadi suatu alasan tatkala disusupi oleh bisikan setan melaui harga diri dan keserakahan, darisanalah kemudian muncul Kebencian dan Dendam yang amat sulit disudahi sebelum semuanya hancur lebur tanpa arti! Begitulah muridku... Sekarang sebaiknya kita sebaiknya segera berangkat ke Tagok Apu, mungkin sebentar lagi tempat ini akan menjadi medan perang!”

Galuh dan Jaya pun mengangguk, Galuh lalu menatap lagi sebentar serumpun bunga liar itu sambil tersenyum, kemudian ia berlari menyusul Jaya dan gurunya yang telah terlebih dahulu melangkah.

Beberapa puluh langkah kemudian, mereka mendengar derap lari kuda-kuda, mereka bertiga pun melirik ke arah belakangnya, ternyata tiga orang berpakaian perwira Mega Mendung memacu kudanya dengan cepat menyusul mereka, “Hmm... Kakang Dharmadipa dan kedua Senopatinya, mau apa mereka?” bathin Jaya.

Sekonyong-konyong mereka bertiga melompat dari atas kudanya, Dharmadipa melompat keatas dan mengirimkan satu pukulan jarak jauh bernama pukulan “Wesi Waja”, satu angin deras bagaikan sebuah gundukan baja yang tebal dan berat menderu! 

Jaya, Galuh, dan si Dewa Pengemis langsung melompat ke atas menghindari pukulan tersebut, Blaarrrr!!! Bumi serasa bergoncang ketika angin pukulan itu menerpa tanah yang tadi dipijak Jaya yang sekarang berlubang besar dibuatnya!

Jaya berjumpalitan di udara dan mendarat, tapi ia langsung dikepung oleh Senopati Lokajaya dan Senopati Kuntala dengan keris di tangan mereka berdua, Dharmadipa melangkah dengan angker menghampiri Jaya, tanda rajah cakra bisma di keningnya memerah dan bercahaya, pancaran matanya bagaikan kobaran api! “Aku tak peduli kau adik seperguruanku atau bukan, aku tak peduli kau anak kandung Rama Prabu atau bukan... Yang jelas aku harus membunuhmu!” tukasnya dengan mengirimkan satu tendangan dahsyat!

Jaya melompat kebelakang menghindarinya “Kenapa kau membunuhku Kakang? Apa salahku?” tanya Jaya. 

“Kesalahanmu adalah kamu menjadi ank kandung Rama Prabu! Hanya ada satu putera mahkota di Mega Mendung ini, dan itu adalah aku!” bentak Dharmadipa yang terus mengirimkan serangan beruntun, kedua senopati abdinya pun langsung menyerang Jaya, namun tiba-tiba satu sambaran angin deras memapasi mereka bertiga yang mengeroyok Jaya, mereka pun melompat mundur.

Seorang gadis langsung berdiri didepan Jaya sambil memasang kuda-kuda, “Kalau kalian para prajurit Mega Mendung yang pengecut hendak bermain keroyok, harap mapir dulu untuk melewati si Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul!” tantang Galuh.

Dharmadipa melotot menatap Galuh, “Oh jadi kau si Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul yang sering membuat onar di bumi Mega Mendung dan merampok harta dari para tuan tanah? Jadi kau bersekutu dengan wanita pengemis pembuat onar ini Jaya? Bagus, sekalian aku hukum mati kau! Kalian berdua bereskan dia!” perintah Dharmadipa pada Lokajaya dan Kuntala, mereka pun langsung menerjang Galuh! 

“Galuh hati-hati! Ilmu mereka berdua tidak bisa dipandang enteng!” peringat Jaya pada Galuh yang selalu bertindak serampangan dan meremehkan lawannya ini.

“Tenang saja, kau hadapi sadara seperguruanmu itu!” sahut Galuh yang langsung menyambut serangan kedua senopati itu dengan “Mesra”.

Gerakan Senopati Lokajaya dan Senopati Kuntala sangat gesit, setiap gerakannya mengandung tenaga dalam yang amat tinggi, hingga serangan mereka laksana air bah mengarah titik-titik vital dari tubuh gadis hitam manis ini! Melihat serbuan yang laksana air bah ini Galuh Parwati bersuit nyaring dan keluarkan jurus “Garuda Emas Kepakan Sayap”. 

Galuh bersuit nyaring! Tubuhnya melesat keatas menghindari serangan dua keris itu. Serangan dua lawan datang bertubi-tubi. Setiap dia coba untuk membalas menyerang pada salah satu dari mereka, maka satu keris lainnya akan datang pula mengancam jiwanya! Galuh mengeluh dalam hati, ternyata seperti yang dikatakan Jaya, mereka berdua memiliki kesaktian ilmu kanuragan yang sungguh hebat! Mereka berdua sangatlah kompak, mereka bagaikan satu jiwa, gerakan keris mereka berdua seirama, seolah datang dari segala penjuru secara berbarengan mengancam ke arah semua bagaian vital tubuh Galuh!

Dengan bergerak gesit, dengan lancarkan serangan-serangan balasan, dengan hanya bertangan koson, Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul cuma sanggup bertahan sampai dua belas jurus saja. Jurus-jurus selanjutnya dia didesak hebat, kedua keris senopati Mega Mendung itu laksana curah hujan mengirimkan tusukan-tusukan mematikan, dan yang paling berbahaya, selain kedua keris tersebut, kedua senopati itu juga melepaskan pukulan-pukulan saktinya, masih untung sanggup dielakannya!

Jurus kelima belas murid si Dewa Pengemis itu terdesak hebat! Di saat itu pula satu tendangan menyeruak ke arah selangkangan. Dari atas menderu sebilah keris, keris lainnya menikam ke dada! Galuh berhasil menghindari tendangan Kuntala yang merahah selangkangannya, namun… “Bret”! 

Ujung keris Lokajaya menyambar lewat dada, merobek pakaian si Dewi Pengemis, dan ujung keris Kuntala berhasil merobek pakaian Galuh di bagian punggung, dua serangan berbarengan yang sungguh mematikan, untung Galuh masih berhasil mengelak dan hanya pakaiannya saja yang robek! 

Masih Galuh terkesima dengan dua serangan maut itu, satu tendangan bersarang di perutnya hingga ia jatuh terjungkal, dari mulutnya mengalir darah segar tanda tendangan yang bertenaga dalam dahsyat itu membuat si gadis terluka dalam, “Sialan!” Maki Galuh.

“Memakilah sekenyangmu setan alas! Tidak ada yang akan selamat bagi siapapun yang menganggu tugas dari Pangeran Mega Mendung!” teriak Lokajaya yang tendnagannya berhasil bersarang di perut Galuh sambil kertakkan geraham.

Saat itu tiba-tiba menerulah gas dan asap beracun berwarna putih yang keluar dari pantat Galuh yang tak lain adalah ajian “Hitut Semar”. Lokajaya dan Kuntala buru-buru menutup mata dan jalan nafasnya, tubuh Galuh Laksana lenyap hanya menyisakan baying-bayang saja! 

Tubuh Galuh melesat berkelebat kian kemari dengan kecepatan yang tak dapat diikuti oleh mata maupun telinga bagaikan sebuah meteor dalam jurus “Garuda Emas Terbang Menerobos Badai”, selain itu ia juga mengeluarkan jurus “Cakar Garuda Emas” dengan kecepatan yang fantastis! Maka bukan seolah-olah dahsyatnya serangan-serangan Galuh tersebut!