Episode 49 - Kala Mega kian Mendung di Mega Mendung (1)



Malam itu suasana sangat sunyi senyap, tiada suara nyanyian binatang malam, yang terdengar hanya suara hembusan angin dingin yang bertiup teramat kencang sehingga terasa mencucuk sumsum dan seolah membekukan seluruh sayarf-syaraf di tubuh manusia. Langit malam pun teramat gelap, tidak nampak adanya rembulan atau seekor bintangpun! Yang Nampak hanyalah hamparan luas yang berwarna hitam kelam!

Di dasar jurang dari hutan yang sangat ringkih dan lebat, Dharmadipa yang mengenakan pakian butut yang sudah sobek compang-camping, nampak dengan susah payah memanjat tebing jurang tersebut, dengan seluruh daya yang ia punya, ia terus merangsek naik keatas tebing dari dasar jurang tersebut.

“Aku harus sampai di puncak! Aku harus sampai puncak agar aku bisa meraih dan memanggul rembulan emas!” tekadnya sambil terus memanjat keatas tebing.

Akhirnya dengan perjuangannya yang setengah mati, Dharmadipa yang seluruh tubuhnya dipenuhi oleh peluh, darah, dan debu serta segala kotoran berhasil sampai di puncak gunung tersebut, namun rembulan emas yang ia cari tidak nampak di langit malam yang seolah Nampak sangat sangat dekat dengan puncak gunung tersebut.

“Mana?! Mana rembulan emas yang berada di puncak gunung ini?! Oh Pukulun! Aku sudah berusaha! Aku sudah mengerahkan dan mengorbankan seluruh yang aku punya untuk sampai di puncak gunung ini dan meraih rembulan emas yang Kau janjikan pada setiap insan yang mau berkorban dan berusaha! Oh Sang Pencipta! Aku tagih janjimu! Aku tagih semua hasil jerih payahku selama ini!” lantangnya yang menggema ke mana-mana.

Saat itu tiba-tiba satu kilatan cahaya berwarna merah berkiblat dilangit diatas kepala Dharmadipa yang kemudian diikuti oleh satu dentuman halilintar yang maha dahsyat! Hujan disertai badai yang dahsyat pun langsung turun! Dharmadipa amat terkejut ketika ternyata hujan tersebut adalah hujan darah yang menebar bau amis, busuk, dan bangkai yang sangat menusuk!

Belum habis keterkejutannya, tiba-tiba angin yang sangat panas bagaikan bara api bertiup dahsyat berseoran memerihkan seluruh kulitnya, hingga ia menjerit-jerit kesakitan karena kulitnya melepuh! Sekoyong-konyong, satu bulan purnama raksasa yang berwarna merah seperti darah bersinar terang diatas kepalanya, sesaat Dharmadipa berusaha menahan seluruh perih yang ia rasakan dan menatap keatas rembulan purnama merah darah tersebut, bertambahlah keterkejutannya ketika melihat Jaya Laksana yang memakai pakaian seorang Prabu lengkap dengan mahkotanya berdiri dengan gagahnya diatas rembulan berwarna merah darah tersebut!

“Jaya?! Kau?!” desis Dharmadipa.

Tetapi keterkejutan Dharmadipa tidak berlangsung lama karena sejap kemudian rembulan raksasa berwarna merah darah itu meluncur jatuh, menindih sekujur tubuh Dharmadipa! Dharmadipa pun menjertit-jerit kesakitan sambil berusaha melepaskan diri dari tindihan rembulan raksasa tersebut, sementara Jaya Laksana yang berdiri diatas rembulan itu tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk tepat ke wajah Dharmadipa yang kesakitan!

“Jaya?! Kurang ajar kau! Kau merebut seluruh jerih payahku selama ini! JAYA!!!!!” jerit Dharmadipa!

“Haaaahhhhhh!” Dharmadipa menjerit tertahan ketika matanya terbuka dari tidurnya, nafasnya memburu hebat, sekujur tubuhnya bermandikan keringat dingin, ia lalu berusaha mengatur nafasnya dan melihat kesekeliling kamarnya, ia lalu mengusap-usap wajahnya, teringatlah lagi ia pada mimpi buruknya barusan.

“Pertanda apa mimpi tadi?! Dan Jaya Laksana… Hmmm… Sudah kuduga ia akan menjadi batu sandunganku untuk dapat duduk diatas tahta Mega Mendung! Dari dulu ia memang selalu menjadi sainganku dan selalu menghalangi jalanku! Sekarang saatnya untuk melenyapkan dia selama-lamanya!” geramnya dalam hati sambil terus mengingat tawa Jaya dalam mimpinya barusan.

***

Di ruang penyimpanan pusaka Keraton Rajamandala, Asap dupa membumbung tinggi menghamparkan aroma dupa bercampur kemenyan, dihadapan pendupaan besar itu, duduk seorang pria berkumis melintang, berpakaian ringkas hitam, rambutnya yang panjang digelung keatas kepalanya, mata pria ini terpejam, dia duduk dengan sikap semedi. 

Pria itu tak lain adalah Kertapati, sang Prabu dari kerajaan Mega Mendung yang saat ini sudah mulai berani secara terang-terangan memberontak pada kerajaan Padjadjaran setelah sebelumnya dia hanya berani menunjukan sikap pembangkangannya pada Prabu Suriawisesa dengan hanya telat menyerahkan upeti bulu bekti dan mengurangi jumlah upetinya pada Kotaraja dengan berbagai alasan.

Sudah sejak semalam dia bersemedi di ruangan pusaka kerajaan, dia bersemedi ditengah-tengah ruangan pusaka kerajaan dengan dikelilingi berbagai benda dan senjata pusaka milik kerajaan Mega Mendung, tidak ada seorangpun yang berani mengganggu semedi sang Prabu. Dalam khusuknya semedi Sang Prabu, tiba-tiba angin deras bersiuran di ruangan pusaka kerajaan itu dengan suara yang menggidikan, lalu terdengar suara ringkikan-ringkikan yang menyeramkan tak tahu darimana asalnya, semua benda-benda pusaka di ruangan itu bergoyang-goyang!

Di antara keanehan-keanehan tersebut, tiba-tiba sebilah keris yang berada dihadapan Sang Prabu melayang keudara, lalu berputar-putar sebanyak tujuh kali diatas kepala Sang Prabu. Perlahan Sang Prabu membuka kedua matanya, diambilnya serangkum bunga tujuh rupa dari sebelahnya lalu dimasukan kedalam bara pendupaan, sehingga kini aroma pendupaan itu bercampur juga dengan aroma bunga tujuh rupa. Saat itu juga keris yang tadi melayang-layang dan berputar-putar diatas kepalanya turun keatas pangkuannya.

Sang Prabu mengambil keris itu dan disentuhkan ke keningnya, lalu dia membuka keris itu dari sarung atau warangkanya, keris itu berhulu gading, terbuat dari baja berumur seribu tahun dari dasar kawah gunung Krakatau, bereluk sembilan, ditengahnya tergambar ukiran naga dan ujung runcing keris itu tepat merupakan ujung lidah naga yang menjulurkan lidahnya di ukiran keris tersebut, keris itu mengeluarkan sinar terang berwarna biru menggidikan! Seluruh ruangan yang tadinya redup yang hanya diterangi oleh empat buah lampu kecil disetiap sudut ruangan kini menjadi terang berwarna biru akibat cahaya yang keluar dari keris yang menandakan bahwa keris itu bukan suatu senjata mustika biasa!

Sang prabu lalu mencium bagian tengah keris itu, lalu dia berkata, “Wahai keris Kyai Segara Geni, mustika yang telah turun temurun melindungi trah penguasa Kerajaan Mega Mendung, tolonglah berikan kekuatanmu padaku untuk mengalahkan semua musuh-musuhku! Lindungilah kami para penduduk Mega Mendung!” sekejap keluar api berwarna biru dari dalam tubuh keris itu bagaikan membakar tubuh keris itu, sesaat kemudian api berwarna biru itupun padam. 

Setelah mengucapkan itu, dia menyimpan kembali keris pusaka tersebut pada sarungnya dan disentuhkan lagi pada keningnya sambil membungkuk, seolah dia bersujud pada keris pusaka tersebut. Ia lalu mendesah dan menatap peta seluruh wilayah Tanah Pasundan yang dulu pernah pernah bersatu di bawah Kerajaan Sundapura pada masa Prabu Niskala Wastukencana yang kemudian dilanjutkan pada masa awal berdirinya kerajaan Pajajaran di bawah pimpinan Sang Manah Rasa yang bergelar Sri Baduga Maharaja dengan julukan Prabu Siliwangi. 

Ia amat kecewa karena impiannya adalah menyatukan kembali seluruh wilayah Pasundan di bawah kekuasaan Mega Mendung, segala usaha telah ia lakukan termasuk mengadakan perjanjian Wasiat Iblis dengan si Topeng Setan dari puncak Gunung Patuha, namun impiannya tersebut hingga saat ini belum tercapai.

“Dua puluh tahun! Selama 20 tahun ini aku telah berjuang keras! Tapi mengapa seluruh tanah Pasundan ini belum bisa aku kuasai?! Apa jalan untuk menguasai Tanah Pasundan terlalu sulit untuk ditempuh dalam satu kehidupan?!” geramnya sambil menatap peta Tanah Pasundan.

Tiba-tiba terdengar suara serak dan parau yang besar dari sebuah sudut ruangan yang gelap, “Jangan bodoh Prabu Kertapati, menyatukan Tanah Pasundan apalagi Tanah Jawa sungguh berada diluar jangkauanmu! Itu semua karena ada satu orang yang menghalangimu, orang yang tidak tega kau bunuh untuk dipersembahkan pada eyang di alam akhirat!”

Sang Prabu membalikan tubuhnya dan memandang kearah suara itu, sesosok tubuh tinggi besar berjubah hitam-hitam melangkah mendekatinya, kuku ditangannya panjang-panjang dan berwarna hitam, rambutnya gondrong acak-acakan sebahu, kemudian baru nampaklah wajahnya dari balik kegelapan, ternyata wajahnya ditutupi oleh sebuah topeng yang sangat mengerikan! 

Topeng itu berwarna hitam kecuali dibagian matanya yang bolong berwarna merah darah, dibagian atas alis kiri-kanan ada tanduk yang mencuat keluar, tepat dibagian bibirnya terdapat dua buah taring yang sejajar dengan masing-masing tanduk diatasnya, dibagian keningnya mengkerut tiga buah garis bagaikan orang yang sedang mengernyitkan keningnya, topeng itu tampak menyeringai, sementara dibagian matanya yang bolong, nampak dua buah bola mata yang berwarna merah darah melotot dari dalam wajah si pemiliknya.

Sang Prabu menatap tajam pada si Topeng Setan, “Anakku?” tebaknya.

Terdengar suara gelak tawa si Topeng Setan yang serak dan menengangkan bulu roma, mengguncang Gudang pusaka tersebut. “Hahaha... apa yang terjadi hari ini adalah akibat dari perbuatanmu dua puluh tahun lalu yang menghianati perjanjian kita! Kelemahanmu adalah tidak bisa menegaskan hatimu untuk mengorbankan anakmu, pengorbanan cucu pertamamu menjadi sia-sia karena kau tidak bisa mempersembahkan korbanmu yang pertama yang menjadi jalan pembuka dari Wasiat Iblis yaitu putra sulungmu! Sekarang munculah ia kembali dalam hidupmu yang membawa semua malapetaka ini, termasuk naasmu!”

Prabu Kertapati terdiam merenung mendengar ucapan si Topeng Setan. “Jika kau biarkan masalah ini, ia akan mengambil semuanya darimu! Jangan remehkan ia hanya karena ia seorang pemuda biasa, cepat singkirkan ia dari dunia ini untuk selamanya agar kekuasaanmu langgeng dan Mega Mendung menjadi penguasa dari seluruh Tanah Pasundan!” tandas si Topeng Setan yang kemudian menghilang bagaikan asap tertiup angin. Prabu Kertapati terdiam sejenak, kemudian keluar dari ruangan penyimpanan pusaka menuju ke kamarnya.

Di Kamarnya Dewi Nawangkasih sedang menangis tersedu-sedu, Prabu Kertapati tidak mempedulikannya, ia langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian perang, keris pusaka Segara Geni diselipkan di pinggangnya, “Dinda, jangan kau tangisi peperangan ini, lebih baik doakanlah aku dan seluruh rakyat Mega Mendung agar dapat menghancur-leburkan pasukan Banten!” tandasnya.

“Kakang, berapa banyak korban yang akan berjatuhan sebab peperangan ini? Berapa banyak istri dan anak yang akan menangis akibat kehilangan suami dan ayahnya? Berapa banyak lagi pertumpahan darah yang harus terjadi demi kejayaan Mega Mendung ini Kakang?” tangis istrinya.

“Dinda setiap tangis, setiap tetes keringat, dan setiap tetes darah akan menambah daya bagi Negeri Mega Mendung untuk mencapai kejayaannya! Sekali lagi aku tegaskan padamu Dinda, semua yang aku lakukan ini adalah persoalan hak! Kita berhak menjadi Negara yang merdeka dari kekuasaan Pajajaran! Dan aku berhak menjadi penguasa tunggal di Tanah Pasundan karena aku adalah putra dari Sri Baduga Maharaja dari Rahim Dewi Ambet Kasih! Apa yang terjadi saat ini adalah persoalan kewajiban, aku dan semua rakyat Mega Mendung wajib untuk mempertahankan Negara ini, sampai titik darah penghabisan!” Tegas Prabu Kertapati.

“Dinda tidak usah khawatir, kemenangan pasti akan menjadi milik kita, aku baru saja mendapat wangsit petunjuk dari Eyang Topeng Setan, bahwasannya sebelum pergi berperang aku harus membunuh Jaya Laksana terlebih dahulu untuk melaksanakan perjanjian Wasiat Iblis, itulah Kunci Kemenangan yang dijanjikan Eyang Topeng Setan!” ucap Prabu Kertapati.

Bertambah hebatlah isak tangis Dewi Nawang Kasih karena ia sudah tahu kalau suaminya akan melakukan hal tersebut melalui firasat dan prasangkanya. Prabu Kertapati pun mengehela nafas berat, “Dinda jangan kau tangisi anak macam Jaya Laksana yang akan membawa malapetaka bagi kita semua! Bukankah ada tidaknya anak itu tidak ada bedanya karena selama ini pun kita tidak pernah merasakan kehadirannya sejak ia dibuang dua puluh tahun yang lalu, bahkan ia sudah kita coret dari trah Keraton Rajamandala!”

Dewi Nawangkasih menggelengkan kepalanya, “Yang kutangisi dirimu Kanda Prabu, saya mencemaskan keselamatanmu! Jaya memang akan sumber petaka bagi kita semua karena kitalah yang berdosa pada dirinya! Kanda pasti akan kalah! Karena kesalahan kita pada anak kita sendiri... Kakang saya takut, setiap kali melihat keraton ini terutama Balai Keprabon, semuanya terasa hampa, terasa sepi, tidak seperti dulu lagi, itu karena Wahyu Keprabon sudah pergi meninggalkan kita!”

“Dinda! Mengapa Dinda malah mengatakan hal seperti itu yang meruntuhkan semangat juangku?! Seharusnya Dinda memberiku semangat dan mendoakan keselamatanku!” tegur Prabu Kertapati.

Ia lalu menghela nafas berat, “Sudahlah, bukan waktunya kita meributkan hal ini, aku harus memberi pengarahan dan memberi semangat pada seluruh rakyat Mega Mendung untuk menghadapai Banten!” pungkas Prabu Kertapati sambil hendak pergi.

Tiba-tiba Dewi Nawangkasih merangkul kaki suaminya yang hendak pergi “Kanda benar, maafkan saya, saya hanya takut dan kalut...” ucap Dewi Nawang Kasih sambil tersedu-sedu.

Prabu Kertapati menghentikan langkahnya, lalu merangkul bahu Dewi Nawang Kasih, “Dinda, doakanlah aku dan seluruh rakyat agar dapat mempertahan negeri ini dan menghancurkan pasukan Banten!” ia lalu pergi keluar dari kamarnya meninggalkan Dewi Nawangkasih yang masih menangis. “Aku akan menyelesaikan pertempuran ini berdasarkan takdir!” tekadnya dalam hati.

***

Di Pura Kesatriaan kediaman Pangeran Dharmadipa dan Putri Mega Sari, Pangeran Dharmadipa yang telah mengenakan pakaian perang nampak tergopoh-gopoh keluar dari rumahnya dengan wajah penuh amarah mengahampiri dua abdinya yang setia yaitu Senopati Lokajaya dan Senopati Kuntala, dibelakangnya mengikuti Mega Sari sambil menangis, “Kakang! Apa Kakang sudah gila hendak mementingkan nafsu dan prasangka jelek Kakang pada Kakang Jaya Laksana dibanding keamanan Negara kita?! Ingat Kakang, pasukan Banten sudah hampir tiba di tapal perbatasan kita, Negara ini sedang dalam bahaya!”

“Tidak Nyai! Sebelum membereskan orang-orang Banten itu aku harus menyingkirkan Jaya Laksana terlebih dahulu! Karena walaupun kita berhasil mengalahkan Banten, semua akan percuma kalau kelak Jaya Laksana yang menjadi Raja di Mega Mendung ini, bukan aku!” Tegas Pangeran Dharmadipa.

“Kakang, mengapa Kakang punya pikiran dan prasangka jelek begitu pada Kang Jaya? Darimana Kakang tahu ia berambisi untuk menduduki tahta Mega Mendung? Lagipula Kakang sudah melihat sendiri bukan kalau Rama Prabu mengusirnya? Apakah Kakang tega membunuh sahabat sekaligus saudara seperguruan Kakang yang juga adalah Kakak ipar Kakang?” cecar Mega Sari sambil menangis.

“Semua ini gara-gara kamu yang menerima cinta Jaya Laksana! Kalau kau tidak pernah menyuruhnya untuk ke Rajamandala tentu hal ini tidak akan terjadi! Rahasia bahwa Jaya Laksana adalah putera mahkota Mega Mendung tidak akan tersibak!” balas Dharmadipa dengan bersungut-sungut.

“Kakang! Aku ini istrimu! Kenapa Kakang ungkity lagi masa lalu?! Lagipula itu tetap bukan alasan bagi Kakang untuk membunuh Kang Jaya!” 

Pangeran Dharmadipa berkacak pinggang sambil menatap tajam pada Mega Sari, Rajah Cakra Bisma di keningnya memerah, seolah memancarkan cahaya merah pertanda bahwa ia sedang diliputi hawa nafsu yang teramat sangat! “Kalau kau istriku kenapa kau masih menyimpan perasaan cintamu pada orang yang sebenarnya kakak kandungmu itu hah?! Kau sudah mempunyai suami tapi masih saja berharap cinta dari pria itu! Sekarang jujurlah! Kau menahanku karena dia itu kakak kandungmu atau karena kau masih mencintai dia?!”

Mega Sari terdiam karena tak dapat langsung menjawab pertanyaan dari suaminya tersebut, bathinnya bergejolak dahsyat memikirkan perasaannya kepada Jaya Laksana! Saat itu datanglah Dewi Nawangkasih dalam keadaan masih menangis dengan diiringi beberapa dayang dan pengawal khususnya, “Ada apa ini ribut-ribut Mega Sari? Ingat Negara sedang berada dalam keadaan genting!” Tanya Dewi Nawang Kasih.

“Kanjeng Ibu, Kakang Pangeran Dharmadipa hendak mengabaikan panggilan Ramanda Prabu untuk berkumpul membahas pertahanan kita dari serangan Banten, ia malah hendak mencari dan membunuh Kakang Jaya Laksana!” jelas Putri Mega Sari.

“Apa?!” kejut Dewi Nawang Kasih, ia melotot menatap tajam Pangeran Dharmadipa. “Dharmadipa, ingatlah bahwa Jaya Laksana adalah Kakak Iparmu, selain itu bukankah kalian saudara seperguruan? Kenapa kau hendak membunuh Jaya?!”

Tanpa tedeng aling-aling, tanpa tata karma sopan-santun, Dharmadipa yang sudah dikuasai oleh nafsu amarahnya menjawab dengan suara membentak, “Karena dia akan menghalangi jalanku! Selama dia masih hidup aku tidak akan bisa menjadi Prabu Mega Mendung!”

Semua yang ada di sana amat terkejut dengan sikap tidak sopan Dharmadipa pada Dewi Nawang Kasih, sang Pangeran lalu menoleh dan jari telunjuknya menunjuk pada Mega Sari, “Dan kau... Kau kira aku tidak tahu kalau selama ini kau menyimpan rasa pada Kakak kandungmu sendiri?! Itu juga jadi alasan untukku melenyapkan Jaya Laksana dari dunia ini!”

Pangeran Dharmadipa segera memberi isyarat pada Senopati Lokajaya dan Senopati Kuntala untuk berangkat, ketika hendak melangkahkan kakinya, ia segera ditahan oleh Dewi Nawang Kasih dan Putri Mega Sari, “Dharmadipa jangan! Ingat ia adalah darah daging Sang Prabu!” peringat Dewi Nawang Kasih.

“Benar Kakang, bagaimanapun ia adalah putra Kandung dari Ramanda Prabu!” peringat Mega Sari.

“Diam! Jangan halangi aku!” bentak Dharmadipa sambil meronta, kedua wanita itu jatuh tersungkur dibuatnya, kedua pengawal khusus Dewi Nawang Kasih pun terkejut dibuatnya, “Gusti! Apa yang Gusti lakukan?!” tanyanya sambil menghampiri Dharmadipa.

Tapi dengan satu gerakan secepat kilat tiba-tiba, Crasshhh!!! AAAaaaaa! Salah satu pengawal itu menjerit setinggi langit ketika Keris Pusaka Naga Putih Dharmadipa menggorok lehernya hingga pengawal itu tewas seketika itu juga, pengawal yang satu lagi kaget bukan alang kepalang, tapi belum sempat ia berbuat apa-apa, Keris Dharmadipa sudah menusuk perutnya, pergilah pengawal itu menyusul kawannya ke akhirat!

Dharmadipa lalu mengelap darah di kerisnya dengan pakaian si pengawal yang tewas. kemudian menyarungkan kembali Kerisnya, sementara Dewi Nawang Kasih dan Putri Mega Sari terkesima melihat kejadian itu. Dharmadipa membuka mulutnya “Kanjeng Ibu dan kau Nyai, kumohon kembalilah kedalam keraton, keadaan diluar sedang sangat tidak aman!”, kemudian ia kembali melangkah bersama kedua abdinya.

“Dan kalian semua, jaga keraton terutama Dalem Keprabon, Keputren dan Kesatriaan sebaik-baiknya, kalau tidak aku penggal kepala kalian semuanya!” perintah Dharmadipa pada semua pasukan yang ada di sana, kemudian dengan diikuti oleh Senopati Lokajaya dan Senopati Kuntala, ia melangkah pergi.

“Oh ibu bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Mega Sari.

“Sebaiknya kita susul Jaya mendahului Dharmadipa, menurut mata-mata kita, ia masih berada di perbatasan Kutaraja sebelah selatan dan hendak pergi meninggalkan Mega Mendung!” usul Dewi Nawang Kasih.

Mega Sari pun mengangguk, “Baik, kebetulan Abah Silah tahu jalan memotong kesana!” kemudian dengan diantar Ki Silah dan Emak Inah, mereka pun berangkat ke perbatasan Kutaraja sebelah selatan.

     ***

Di Balai Penghadapan Keraton, semua pejabat Mega Mendung duduk menanti arahan dari Prabu Kertapati yang baru saja datang dan duduk di kursi Singgasananya, Ki Patih Balangnipa pun langsung memberikan laporannya, “Mereka mengepung Kutaraja dari tiga jurusan Gusti, ternyata jumlah mereka banyak sekali karena nampaknya mereka menggunakan seluruh kekuatannya, disamping itu, menurut pasukan mata-mata kita, mereka membawa meriam-meriam yang berukuran sangat besar yang belum pernah kami lihat sebelumnya!”

Prabu Kertapati mendengar laporan tersebut dengan wajah geram dipenuhi amarah, “Apakah semua pasukan cadangan sudah kamu kerahkan Kakang Patih?”

“Sudah Gusti, bahkan prajurit dari seluruh negeri bawahan kitapun sudah saya tarik ke Kotaraja.” jawab Sang Patih.

Prabu Kertapati merenung sejenak, kemudian ia menatap seluruh pejabat yang hadir di sana, “Rupanya Panembahan Yusuf ingin secepatnya merebut kekuasaan dari trah Sri Baduga Maharaja! Pertahankan negerimu habis-habisan sampai tetes darah kalian yang terakhir! Dan satu lagi, aku akan hadiahkan satu peti emas permata bagi siapapun yang dapat memenggal kepala si Keparat Penghianat Bogaseta!” perintahnya.

“Daulat Gusti!” jawab semua yang ada di sana berbarengan, mereka semua pun keluar dari Balai Penghadapan kecuali Ki Patih Balangnipa, Ki Senopati Sentanu, dan Ki Mantri Citrawirya yang akan diberikan instruksi khusus oleh Prabu Kertapati.

“Kakang Patih, aku perintahkan agar kau yang terlebih dahulu memimpin seluruh pasukan kita, nanti aku akan segera menyusul segera setelah menyelesaikan urusan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu!” perintah Prabu Kertapati. 

“Daulat Gusti!” jawab Ki Balangnipa sambil menjura hormat.

Prabu Kertapati pun pergi menggunakan kudanya, tinggalah Ki Patih Balangnipa, Ki Senopati Sentanu, dan Ki Mantri Citrawirya. “Kalian siap? Sekarang kita laksanakan rencana kita!” ucap Ki Balangnipa, kedua kawannya pun mengangguk dan pergi meninggalkan Keraton Rajamandala.

Di Perbatasan Mega Mendung, seluruh Pasukan Banten terheran-heran karena seluruh pasukan Mega Mendung penjaga perbatasan mengibarkan bendera putih, “Apa maksudnya ini?” pikir Pangeran Adipati Bogaseta yang mendampingi Mahapatih Tubagus Kasatama, saat itu datanglah seorang utusan Mega Mendung yang memberinya surat, Bogaseta dan Tubagus Kasatama terkejut membaca isi surat tersebut “Kita harus segera melaporkan ini pada Gusti Sultan!” ucap Sang Mahapatih.

Saat itu munculah satu pemandangan yang sangat aneh dan teramat menegrikan, langit diatas negeri Mega Mendung yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi merah, Matahari pun berubah menjadi merah nyaris semerah darah, padahal hari masih pagi! Kemudian awan kelabu nampak bergulung-gulung menutupi Sang Bagaskara serta langit merah tersebut, namun karena cahaya merah dari Sang Mentari tersebut begitu terang maka kumpulan awan tersebut pun menjadi merah kelabu yang nampak sangat mengerikan apabila dilihat. Keanehan serta kengerian tersebut ditambah dengan angin yang bertiup sangat kencang menebar bau tanah kuburan yang menusuk hidung! 

Terjadilah keributan besar di kubu prajurit Mega Mendung, banyak dari para prajurit Mega Mendung yang ketakutan menyaksikan fenomena alam yang sangat aneh lagi mengerikan tersebut. Maka para Panglima pasukan seperti Ki Patih Balangnipa, Ki Sentanu, Ki Citrawirya dan yang lainnya menjadi sibuk untuk menenangkan para prajuritnya. 

Namun hal tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh Ki Patih Balangnipa untuk mempengaruhi seluruh armada perang Mega Mendung, agar mereka semua membelot dan memihak Raden Jaya laksana untuk mereka angkat menjadi Raja Mega Mendung yang baru. Usaha mereka pun berhasil karena entah mengapa setelah beberapa saat, setelah para prajurit diyakinkan untuk membelot dan memihak Raden Jaya Laksana, langit mendung berwarna merah darah itu pun sirna, langit berubah kembali menjadi seperti sedia kala meskipun masih sangat mendung gelap.