Episode 267 - Keunggulan



Subuh hari tiba. Bintang Tenggara hanya sempat melelapkan mata beberapa jam sahaja, sebelum pemuda kurus kerempeng mengetuk pintu kamarnya. Agar tak menarik perhatian, ketiga ahli menetap di salah satu penginapan kecil. 

“Yang Mulia, saatnya kita bertolak ke Kota Ahli...”

“Panggil diriku dengan nama Bintang Tenggara saja...,” gerutu Super Murid Komodo Nagaradja. “Kita tak hendak menarik perhatian yang tiada perlu...”

“Saatnya kita bertolak ke Kota Ahli...,” pemuda kurus kerempeng mengulang. 

“Hari masih subuh sekali...,” Bintang Tenggara mengucek mata. “Lagipula... apakah gerbang dimensi di ibukota ini sudah dibuka sepagi ini...?”

“Diriku telah mengatur agar balai gerbang dimensi melayani kita...”

“Benarkah...? Apakah tindakan sedemikian memungkinkan...?” Bintang Tenggara kini penasaran. 

“Kepala balai gerbang dimensi di ibukota ini adalah salah seorang sahabat Tuan Malin Kumbang.” 

Suasana jalan masih terbilang lengang. Belum banyak ahli yang terlihat. Akan tetapi, para pedagang sudah mulai terlihat hilir mudik. Tiga ahli bergerak dalam diam. Tak lama, mereka tiba di di depan sebuah gerbang dimensi. Seorang petugas telah bersiaga, dan tanpa basa-basi membukankan gerbang dimensi menuju Kota Ahli. 

Bintang Tenggara terdiam sejenak. Bukan karena masih mengantuk, akan tetapi karena ia mengingat bahwa pernah diundang oleh seseorang untuk mengunjungi Istana Utama Kemaharajaan Pasundan. Siapakah dia yang mengundang...? Kemungkinan Putri Mahkota Citra Pitaloka... Atau mungkinkah ayandanya sang Sri Baduga Maharaja? Akan tetapi, bila tak salah ingat, kala itu disebutkan bahwa adalah seorang ‘kenalan’ yang mengundang. Ah... kemungkinan besar si rubah, yang sengaja hendak mengerjai.... 

“Apakah kita tak hendak menunggu kedatangan Kakak Malin...?” tetiba Bintang Tenggara memecah lamunannya sendiri. 

Si kusir menggelengkan kepala. “Tidak. Tuan Malin Kumbang berpesan agar kita meneruskan perjalanan. Bilamana telah kembali dari dalam Murka Alam, maka ia akan menghubungi kami, lalu menyusul kita.” 

“Murka alam...” Bintang Tenggara masih sulit mempercayai keberadaan sebuah ruang dimensi dimana seorang ahli hendak dibinasakan oleh alam itu sendiri. Seperti apakah situasi di dalam sana. Sulit sekali membayangkannya. “Apakah Kakak Malin akan baik-baik saja...?”

“Tiada perlu dikhawatirkan. Tuan Malin Kumbang memiliki cara tersendiri untuk mengatasi Murka Alam. Ia telah melakukan persiapan khusus sedari lama...” Si kusir berujar dengan penuh keyakinan bahwa tuan mereka baik-baik saja dan akan kembali pada waktunya nanti. 

Tak terlalu lama, Bintang Tenggara bersama kedua teman seperjalanannya telah tiba di Kota Ahli. Berbeda dengan suasana suram sebelumnya, kini keadaan di kota tersebut sudah sangat ramai. Sebagaimana diketahui, terdapat ratusan perguruan besar, sedang dan kecil di kota ini. Oleh karena itu pula, murid-murid perguruan yang giat dan tekun, terlihat berlalu-lalang. Mereka memulai hari lebih cepat, belajar dengan segenap hati demi menggapai cita-cita dan masa depan yang cerah. 

Ingin rasanya Bintang Tenggara mengunjungi Perguruan Maha Patih. Ada beberapa tokoh di sana yang ia kenal cukup baik...

“Oh... Murid Bintang Tenggara...?” Tetiba seorang lelaki setengah baya menegur santai. 

Sontak Bintang Tenggara mundur selangkah. Ia mengenal betul siapa tokoh tersebut... Sesepuh Ke-15 di Peguruan Maha Patih, Kertawarma! Bintang Tenggara mengetahui tokoh ini sebagai penipu sekaligus penjahat besar. Dia adalah yang membangkitkan Raja Angkara Durhaka, serta pernah berupaya menjebak dirinya. Selain itu, masih banyak lagi kejahatan-kejahatan besar yang pernah tokoh itu perbuat, mengatur serangan murid-murid Kasta Perunggu dari Perguruan Maha Patih ke Perguruan Batara Wijaya, misalnya… 

Apakah yang ia lakukan di tempat ini!? Bintang Tenggara membatin. Secara spontan, ia memalingkan wajah pura-pura tiada mendengar. 

Salam Hormat, sesepuh Kertawarma.” Si kurus kerempeng dan si kusir menegur santun. Keduanya membungkukkan tubuh.

“Gerbang dimensi ini dapat segera kalian gunakan…,” Sesepuh Kertawarma mempersilakan. Gerak-geriknya semakin mencurigakan.

Bintang Tenggara serta-merta mengurungkan niat mengunjungi Perguruan Maha Patih. Sesegera mungkin ia hendak meninggalkan wilayah Kota Ahli, karena tak mau berlama-lama, apalagi berurusan dengan tokoh yang satu ini. Demikian, anak remaja itu segera melompat ke dalam lorong dimensi ruang. Sudut matanya masih menangkap bahwa kedua teman seperjalanan masih berbual-bual dengan Sesepuh Kertawarma. 

“Apakah hubungan kalian dengan dia!?” sergah Bintang Tenggara di kala si kurus kerempeng dan si kusir keluar dari lorong dimensi ruang. 

“Sesepuh Ke-15 di Peguruan Maha Patih, Kertawarma, merupakan salah seorang sahabat Tuan Malin Kumbang, jawab si kurus kerempeng. 

“Ia sampai berbesar hati menyambut kedatangan kita, dan mengaturkan penggunaan gerbang dimensi,” sambung si kusir. 

“Cih! Diriku harus mengingatkan Kakak Malin agar tak lagi berurusan dengan tokoh penjahat itu!” 

Si kurus kerempeng dan si kusir saling pandang. Dalam penilaian mereka, Sesepuh Kertawarma dan Saudagar Senjata Malin Kumbang memiliki kesamaan perilaku dan tujuan. Keduanya sama-sama bersubahat melakukan tindakan-tindakan tiada terpuji. Bahkan, si kurus kerempeng dan si kusir menyadari bahwa mereka adalah kaki tangan dalam menjalankan muslihat demi muslihat yang dicanangkan bersama-sama oleh Sesepuh Kertawarma dan Saudagar Senjata Malin Kumbang. Kendatipun demikian, keduanya pun hanya tersenyum kecut. 

 “Apakah kita akan segera menuju Kota Seribu Sungai...?”

“Kali ini sedikit berbeda...,” ungkap si kurus kerempeng. “Di Pulau Belantara Pusat, hanya terdapat satu gerbang dimensi ruang, yang terletak di Kota Seribu Sungai… dan hanya terdapat sebuah gerbang dimensi khusus di Kota Baya-Sura yang melayani perjalanan ke Kota Seribu Sungai. Oleh sebab itu, karena hari sudah jelang siang, maka antrian di gerbang dimensi diperkirakan ramai.” 

Si kusir mengangguk. “Kalian beristirahatlah terlebih dahulu. Aku akan mengupayakan agar kita dapat menggunakan gerbang dimensi di saat istirahat makan siang. Kepala Balai Dimensi, kebetulan adalah juga sahabat Tuan Malin Kumbang.

Bintang Tenggara hanya mendengarkan. Betapa banyak kenalan Saudagar Senjata Malin Kumbang sampai-sampai dapat demikian mudah memanfaatkan gerbang dimensi yang diketahui teramat mahal karena besarnya sumber daya yang diperlukan. 

“Diriku hendak berkunjung ke Perguruan Anantawikramottunggadewa sejenak,” ujar Bintang Tenggara. 

“Pergilah. Diriku akan menjemputmu di sana bilamana sudah mendapat kepastian bahwa hari ini kita bisa memanfaatkan gerbang dimensi untuk melanjutkan perjalanan…” Pemuda kurus kerempeng mempersilakan. 

“Adik Bintang, berhati-hatilah…,” ujar sang kusir. 

Ketiga ahli berpisah arah. Bintang Tenggara melangkah cepat menuju Perguruan Anantawikramottunggadewa. Ia berharap agar dapat bertegur sapa dengan Lamalera. Semoga sahabatnya itu telah kembali dari berkelana. Entah apa yang gadis belia itu pikirkan, batin Bintang Tenggara. Tidakkah ia tahu bahwa banyak ahli di luar sana yang tak dapat dipercaya…?

Berbekal lencana emas sebagai Murid Tauladan Perguruan Gunung Agung, Bintang Tenggara dipersilakan masuk. Walau para penjaga gerbang menjelaskan bahwa Putri Perguruan mereka belum kembali, Bintang Tenggara bersikeras hendak memastikan sendiri. Di dalam sebuah aula nan luas ia pun menanti. 

Tak lama berselang, seorang remaja lelaki berusia sepantaran, mendatangi. Bintang Tenggara tak mengenal tokoh ini, padahal ia pernah berhadapan dengan Putra Perguruan Anantawikramottunggadewa sebelumnya. Akan tetapi, raut wajah dan pembawaan remaja ini sangatlah tak asing. 

“Murid Bintang Tenggara, apa yang dikau lakukan di Kota Baya-Sura…?”

“Diriku hendak bersua dengan Pendiri Perguruan Anantawikramottunggadewa, Yang Terhormat Resi Gentayu…?”

Raut wajah remaja lelaki di hadapan Bintang Tenggara berubah. Seperti sedang mencermati. “Apakah niat serta tujuan dikau bertemu muka dengan tokoh yang demikian mulia, perkasa, serta mulia…?”

Bintang Tenggara terpana. Apakah maksud dari remaja ini. Ia pun menanggapi, “Dikau menyebutkan kata mulia sebanyak dua kali…”

“Eh… ehem… karena memanglah demikian tokoh yang hendak dikau temui itu…” Remaja itu gelagapan. 

“Perangainya tiada berubah…” Tetiba Ginseng Perkasa berujar. 

“Entah permainan apa lagi yang ada di kepala bocah busuk ini…?” sambung Komodo Nagaradja. 

“Apakah Kakek Gin dan Super Guru mengenal remaja ini…?” Bintang Tenggara berujar menggunakan jalinan mata hati. 

“Kau pun mengenalnya… perhatikan dengan seksama…”

“Dikau belum menjawab pertanyaanku…,” remaja di hadapan menyela percakapan Bintang Tenggara. “Apakah niat serta tujuan dikau bertemu muka dengan Resi Gentayu, Pendiri Perguruan Anantawikramottunggadewa, yang ketenarannya harum semerbak di Seantero Negeri Dua Samudera…?”

“Siapakah dikau yang sedari tadi bertanya…” Bintang Tenggara menyelidiki. “Kurang sopan bagi sesama ahli bila tiada memperkenalkan diri terlebih dahulu…”

Remaja itu terdiam. Ia seolah sedang berpikir. “Aku adalah…” 

“Yang Terhormat Resi Gentayu, sudah lama tiada bersua…,” Bintang Tenggara menyela, sambil membungkukkan tubuh. 

“Hmph!” Remaja lelaki itu mendengus sebal. Di saat yang sama, raut wajah dan bentuk tubuhnya mengalami perubahan. Dari remaja menjadi pemuda, lalu berhenti pada usia dewasa muda. Anehnya, pakaian yang ia kenakan pun ikut berganti sesuai dengan tren yang sedang naik daun.

Sesungguhnya Bintang Tenggara baru teringat bahwa ia pernah menyaksikan kemampuan yang sedemikian dari Resi Gentayu, sebelum tokoh tersebut memberikan uraian di depan Lintasan Saujana Jiwa. 

“Bagaimana keadaan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang…? Apakah kabar pak tua Balaputera Dewa baik-baik saja…? Kudengar dikau kini telah menjadi Yuvaraja di Kemaharajaan Cahaya Gemilang…”

Bila menyaksikan perubahan usia Resi Gentayu biasa-biasa saja, kini Bintang Tenggara tiada dapat menyembunyikan keterkejutan. Dari manakah Resi Gentayu mengetahui tentang perkembangan di kemaharajaan yang terkenal sangat tertutup…? Sampai sebatas mana pengetahuannya…?

“Kalian dari trah Balaputera terlalu angkuh…?” 

“Trah…? Angkuh…?” Bintang Tenggara kurang memahami. “Apakah maksud dari kata-kata yang Terhormat Resi Gentayu…?”

“Heee…?” Resi Gentayu dalam penampilan lelaki dewasa muda menyeringai. “Dikau tiada mengetahui tentang trah…?”

“Apakah gerangan itu, wahai Yang Terhormat dan Mulia Resi Gentayu…?” Pengalaman mengatakan bahwa tokoh seperti Resi Gentayu ini sangat senang disanjung-sanjung. 

“Hm…” Resi Gentayu menimbang-nimbang. “Baiklah… walau bukan tugasku menjawab, namun demi kebijaksanaan diriku akan menjabarkan…” 

Bintang Tenggara kini balik menyeringai. Demi kebijaksanaan…?

“Suatu kala di masa lampau. Dari dunia yang entah berada di dalam dimensi ruang dan dimensi waktu yang mana…” Kata-kata Resi Gentayu menggema di penjuru aula. 

“Aaahhh… dongeng…” Komodo Nagaradja menguap lebar.  

“Awalnya ada empat. Kakak beradik. Para Syailendra.”

“Diriku suka dongeng ini…?” sela Ginseng Perkasa. 

“Masing-masing dari mereka dikaruniai keunggulan yang berbeda-beda. Saudara pertama bernama Sanjaya. Ia memiliki anugerah keperkasaan raga. Saudara kedua, adalah Balaputera dengan kemampuan merapal formasi segel demikian mumpuni. Saudara ketiga, Isyana, mampu mengendalikan berbagai unsur kesaktian di saat yang bersamaan.”

Resi Gentayu menghela napas panjang. Betapa ia menikmati tatapan anak remaja di hadapannya itu. Sedangkan bagi Bintang Tenggara, dongeng seputar dunia keahlian jarang sekali ia temui, sehingga betapa dahaga ia akan kisah-kisah yang demikian menginspirasi. 

“Terakhir!” tetiba Resi Gentayu berteriak, sampai membuat Bintang Tenggara hampir terlonjak. “…adalah Airlangga! Saudara Keempat ini merupakan yang paling piawai. Ia adalah penempa. Alat apa pun yang ia bayangkan di dalam benak, maka dengan setuhan jemari terampil… maka terciptalah!”

“Mereka adalah cikal-bakal dunia keahlian!” Bintang Tenggara menerka. 

“Bukan!” sahut Resi Gentayu membuat kecewa. Sepertinya bukan kali ini saja ia mendongeng demikian digdaya. “Keempatnya adalah cikal-bakal Wangsa Syailendra. Keturunan masing-masing dari mereka dikenal sebagai trah, dan sampai batasan tertentu mewarisi kemampuan masing-masing dari keempat Syailendra.”

“Trah Sanjaya, trah Balaputera, trah Isyana, serta trah Airlangga...” Benak Bintang Tenggara melayang-layang. Bagaimanapun juga, ia adalah seorang anak remaja yang masih gemar mendengar dongeng. 

“Trah Airlangga dikenal sebagai paling perkasa! Hati para keturunannya demikian mulia. Senang membantu. Tak sombong. Bila ada pengemis di jalan, maka mereka tak akan memberi recehan perunggu. Keturunan trah Airlangga akan tersenyum, berlapang dada, dan mengajak pengemis tersebut untuk berusaha keluar dari jurang kemiskinan. Memberi kail, bukan semata ikan. 

“Yang lelaki tampil cakap, yang perempuan cantik jelita. Sunggguh tiada tara…”

“Yang Terhormat Resi Gentayu…,” sela Bintang Tenggara yang mulai bosan. “Adakah khabar berita terkait Lamalera…?” 

“Oh…? Putri angkatku? Ia saat ini sedang berada di dalam sebuah dunia paralel…” 

“Oh, ya?” 

“Bersama ayahandamu…”

“Hah!”