Episode 49 - Idiot?



Aku hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalaku mendengar kata-kata penyemangat dari Unggul. Bersamaan dengan tibanya diriku di depan batu tiga kekuatan, kerumunan para pendekar kembali dipenuhi oleh bisikan-bisikan.

“Siapa dia?”

“Entahlah, baru kali ini aku melihatnya.”

“Paling-paling cuma bocah ingusan yang ingin unjuk gigi.”

“Menurutmu berapa simbol yang akan dia dapat?” 

“Tiga. Eh, Dua. Mungkin...”

“Bocah tolol, hanya mempermalukan diri sendiri saja.”

Meskipun bisikan mereka tidak terlalu keras, namun sebagai pendekar dengan indera pendengaran yang jauh lebih tajam dari manusia biasa, tentu saja aku dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Apalagi tidak sedikit juga pendekar yang sama sekali tidak berusaha mengecilkan volume suaranya. 

Jujur saja aku merasa terganggu dengan ucapan-ucapan mereka, seakan bakat dan kemampuan yang mereka miliki jauh lebih baik saja dariku. Tapi aku juga tidak sebodoh itu melayani cemoohan tak penting mereka. 

Sambil berpura-pura tidak memperdulikan cemoohan para pendekar yang berkumpul di sekitar megalith, aku mulai menarik nafas panjang dan segera memasang kuda-kuda. Lalu dengan gerakan kilat, aku mengeksekusi salah satu jurus dasar dalam rangkaian jurus iblis sesat. Jurus ini adalah salah satu jurus yang paling sering kukeluarkan saat berkali-kali bertarung dengan para pendekar dunia persilatan, Cakar Iblis Merenggut Sukma. 

Jurus inilah yang kugunakan saat menghabisi anggota Perserikatan Tiga Racun demi menolong Shinta tempo hari, begitu juga saat aku menghabisi anggota perserikatan yang lain sewaktu melarikan diri dari kejaran Lodan di luar markas rahasia beberapa hari lalu. Keunggulan jurus ini adalah kemampuannya merenggut tubuh lawan yang jaraknya lebih jauh dari jangkauan tangan, sehingga banyak lawanku yang menjadi korban jurus ini karena telah berlaku lengah mengira dirinya telah lolos dari seranganku. 

Aliran tenaga dalam pada tubuhku langsung bergejolak dan menimbulkan fluktuasi yang dapat dirasakan oleh para pendekar yang ada ditempat itu begitu aku mengeksekusi jurus. Segera saja para pendekar yang tadi mencemoohku terpekik pelan karena terkejut dengan tingkat kesaktianku yang telah mencapai tahap penyerapan energi tingkat ke delapan. 

“Penyerapan energi tingkat ke delapan?”

“Apa dia juga salah satu jenius dunia persilatan?”

“Tapi dari kelompok mana dia?”

Beberapa pendekar langsung bertanya tentang jati diriku pada kawan di dekat mereka begitu mengetahui tingkat kesaktianku yang cukup tinggi di usia belasan tahun. Namun tentu saja tidak ada bisa memberitahu siapa diriku, karena orang-orang yang mengenalku sudah tidak berada di antara kerumunan ini lagi, kecuali Unggul dan Rangga. Dan keduanya hanya diam seribu bahasa, tak bergeming dari posisi mereka saat kulirik sepintas tadi. 

Begitu aku selesai mengeksekusi jurus cakar iblis merenggut sukma, simbol-simbol yang ada di batu tiga kekuatan langsung berpendar satu demi satu. Satu simbol, dua simbol, tiga simbol, empat simbol...

Namun selagi memperhatikan simbol-simbol tersebut berpendar, tiba-tiba saja aku merasakan adanya energi murni yang menstimulasi darahku berasal dari megalith tersebut, mirip seperti energi yang ada pada darah mayat hidup yang kuserap sebelumnya. Karena rasa penasaran yang muncul secara tiba-tiba dalam diriku, aku iseng mensirkulasikan energi yang ada pada darahku dan mulai mengaktifkan jurus iblis darah. 

Tiba-tiba saja energi tersebut bergerak seperti serbuk besi yang bertemu magnet! Menderu masuk ke dalam tubuhku melalui lubang hidung, mulut, dan pori-poriku, persis seperti kabut darah yang tercipta ketika aku melukai lawan saat menggunakan jurus iblis darah. Bersamaan dengan itu, tenaga dalam di tubuhku mulai bergejolak seperti air mendidih. Energi dari batu tiga kekuatan yang diserap oleh jurus iblis darah terus menderu melewati urat nadiku menuju pembuluh energi kesembilan.  

“Ini!” Aku terkejut bukan main, tapi pada saat yang sama aku juga merasa bahagia. 

Tanpa pikir panjang, aku segera menyerap energi dari batu tiga kekuatan ke dalam tubuhku sebanyak mungkin. Bersamaan dengan itu, cahaya pada simbol keempat batu tiga kekuatan tampak sebentar meredup sebentar kemudia terang. Lama-kelamaan, simbol keempat menjadi semakin terang dan simbol yang berpendar pada batu tiga kekuatan terus meningkat dengan sangat cepat menjadi lima simbol, enam simbol, tujuh simbol, dan seterusnya hingga mencapai dua belas simbol!

Dua belas simbol! Ini artinya semua simbol yang ada pada batu tiga kekuatan menyala dengan terang, penilaian bakat tertinggi dalam dunia persilatan. Apakah ini artinya bakatku dalam dunia persilatan sama tingginya dengan Kinasih?! Atau bahkan mungkin diatas Kinasih?

“Mustahil!”

“Apa? Dua belas simbol?!”

Kerumunan pendekar yang tengah menyaksikan pengujian batu tiga kekuatan langsung gempar oleh hasil yang kutorehkan. Aku sendiri tidak bisa percaya dengan hasil yang dikeluarkan oleh batu tiga kekuatan ini. Tapi meskipun diriku dilanda rasa terkejut yang luar biasa, tindakanku menyerap energi dari batu tiga kekuatan sama sekali tidak berhenti, malah justru semakin cepat. 

Namun yang tidak diketahui oleh Riki dan para pendekar yang ada di tempat itu adalah, mekanisme batu tiga kekuatan menggunakan energi murni dari kristal energi murni untuk menampilkan ukuran bakat seseorang, maka saat energi tersebut diserap oleh Riki, simbol bakat yang seharusnya menyala menjadi redup kembali. Untuk mengembalikan fungsinya semula, maka batu tiga kekuatan mengalirkan lebih banyak energi lagi ke simbol-simbol tersebut agar tetap menyala. Seiring dengan semakin derasnya Riki menyerap energi dari batu tiga kekuatan, semakin deras pula batu tiga kekuatan mengalirkan energi murni untuk menyinari simbol-simbol tersebut. Akibatnya, tanpa bisa dikontrol, simbol yang menyala menjadi semakin banyak sampai dua belas simbol. 

Dan kegemparan itu pun juga hanya berlangsung sesaat, karena pada saat itu juga simbol-simbol dalam batu tiga kekuatan mulai meredup sama cepatnya dengan sewaktu simbol menyala tadi, satu persatu seiring dengan semakin banyaknya energi yang diserap dari dalam batu. Dari dua belas menjadi sebelas simbol, kemudian turun menjadi sepuluh simbol dan terus seperti itu hingga tersisa tiga simbol. Lalu ketiga simbol yang tersisa itu pun juga meredup satu persatu hingga tidak satu simbol pun yang bersinar sama sekali. Bahkan pendaran hijau yang sejak awal ada pada batu tiga kekuatan juga menghilang, menyebabkan batu tersebut menjadi berwarna hitam pekat seperti batu biasa.

Aku baru menghentikan kegiatanku setelah merasakan tidak ada lagi aliran energi murni dari dalam batu tiga kekuatan yang bisa kuserap. 

“Eh.…”

Seketika itu juga kerumunan pendekar yang sesaat lalu gempar langsung berubah menjadi sunyi sepi. Bahkan seandainya ada sebatang jarum yang jatuh ke tempat itu, suara dentingannya akan dapat terdengar dengan sangat jelas. Semua pendekar yang ada di tempat itu hanya melongo melihat hasil penilaian bakatku yang absurd.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Seseorang mulai bertanya entah pada siapa. 

“Mungkinkah batu tiga kekuatanya rusak?”

Pendekar yang lain ikut bertanya. 

“Jangan-jangan dia memang idiot, tidak punya bakat sama sekali.”

Jawaban itu sontak membuat sebagian besar pendekar yang ada disana menertawaiku terbahak-bahak. 

Aku segera mengalihkan pandanganku pada orang yang tadi mengataiku idiot. Meskipun aku tidak benar-benar marah karena cemoohannya, tapi aku tidak suka seseorang membully-ku seenak hatinya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, aku segera mensirkulasikan tenaga dalamku, kembali memperlihatkan tingkat kesaktianku yang sudah mencapai tahap penyerapan energi tingkat kedelapan. 

Begitu menyadari tatapan tajamku sekaligus merasakan fluktuasi energi yang keluar dari tubuhku mengarah padanya, orang yang tadi mengataiku idiot langsung terdiam. Begitu juga para pendekar lain yang tadi menertawaiku terbahak-bahak. 

“Kalian bodoh! tidak mungkin orang yang dapat mencapai tahap penyerapan energi tingkat ke delapan di usia semuda itu memiliki bakat yang rendah, mungkin batunya memang rusak,” seru orang itu pada para pendekar yang tadi tertawa. 

“Benar, pasti batu itu rusak,” sahut yang lain. 

Dalam hati, aku merasa geli melihat perubahan sikap mereka. Luar biasa para pendekar ini, begitu lincahnya lidah mereka berkelit begitu merasakan ketidaksukaanku. Mereka pasti para penjilat ulung di kelompoknya. 

“Ehem... Sepertinya ada kesalahan kecil saat pengujian tadi, aku akan mencobanya sekali lagi,” ujarku sedikit malu-malu setelah melihat batu tiga kekuatan kembali berpendar kehijauan setelah sebelumnya menjadi hitam kelam. 

“Pfft... Mencoba sekali lagi? Apa kau tidak malu? Kau sudah gagal. Sekarang giliranku, minggir!?” ujar seorang lelaki berusia sekitar tiga puluhan dengan sengit, kemudian dia berjalan mendekati batu tiga kekuatan. 

“Gagal? Aku belum gagal. Apa kau pernah melihat batu tiga kekuatan berfungsi seperti tadi? Menyala dua belas simbol kemudian redup semua sebelum penilaian selesai? Bahkan batunya juga ikutan menjadi gelap, pasti ada yang rusak.” Aku menjawab tak kalah sengitnya.

“Biarkan dia mencobanya sekali lagi.” 

Sebuah suara terdengar dari jarak yang cukup jauh, saat kulirik siapa yang bicara, aku hanya melihat seorang perempuan yang mulut dan hidungnya ditutupi oleh kain berwarna hitam, selain itu, yang paling unik adalah dia memiliki sepasang mata yang bentuknya seperti mata kucing.

“Ya, biarkan dia mencobanya, aku juga penasaran,” sahut seorang laki-laki yang berdiri sambil bersandar pada salah satu pilar.

Tampaknya kedua orang yang membelaku barusan bukan orang-orang sembarangan, buktinya setelah mereka berdua bicara, tidak ada seorang pun yang keberatan aku menguji bakatku sekali lagi di depan batu tiga kekuatan. Tanpa banyak bicara, aku segera kembali memasang kuda-kuda dan mengeluarkan jurus lain dari rangkaian jurus iblis darah. Seperti tadi, simbol-simbol pada batu tiga kekuatan mulai berpendar satu persatu. Dan seperti tadi juga, aku langsung mengaktifkan jurus iblis darah untuk menyerap energi yang keluar dari batu tiga kekuatan. 

Kemudian hal yang sama terulang kembali, simbol pada batu tiga kekuatan berpendar seluruhnya hingga dua belas simbol. Lalu simbol-simbol itu mulai meredup satu persatu seiring dengan penyerapan energi yang kulakukan dan batu tiga kekuatan yang awalnya berpendar kehijauan menjadi hitam pekat. Kali ini pun para pendekar yang menontonku menguji bakat di depan batu tiga kekuatan kembali bising. 

Sementara itu, pada sebuah singgasana yang ada di puncak bangunan menara dunia arwah, lelaki paruh baya yang tadi mengundang para pendekar tampak duduk sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Tapi beberapa saat kemudian sudut matanya tampak berkedut-kedut, begitu juga sudut bibirnya tampak berkedut-kedut. 

“Bocah itu menyerap energi murni melalui batu tiga kekuatan... Sialan, bagaimana dia bisa melakukannya? Dan kenapa pendekar lain justru malah mendukungnya? Dia pikir kristal energi murni yang dibutuhkan untuk mengaktifkan batu tiga kekuatan murah apa?! Setiap kali dia menyerap habis energi dari batu tiga kekuatan, kualitas kristal energi murni di dalam batu tiga kekuatan ikut menurun drastis dan harus diganti dengan kristal yang baru.”

Bulir-bulir keringat dingin mulai membasahi kening lelaki paruh baya itu. Dia ingat ada lima butir kristal energi murni yang ditaruh di dalam batu tiga kekuatan. Dan satu butir kristal saja harganya tidak bisa dinilai dengan uang. Biasanya satu butir kristal energi murni dapat digunakan untuk mengetes bakat enam puluh sampai delapan puluh pendekar tergantung tingkat bakat yang mereka miliki. Namun Riki menghabiskan satu kristal energi murni sekali melakukan pengujian, dan setelah melakukan dua kali tes, berarti dia sudah menghabiskan dua kristal energi murni sendirian. 

“Kalau terus seperti ini, bisa-bisa dia membuatku bangkrut! Sebaiknya aku membiarkan dia segera naik ke lantai dua sebelum aku benar-benar bangkrut.”

Tanpa membuka matanya sama sekali, lelaki paruh baya itu segera mengibaskan tangan kanannya dengan cepat, kemudian berbisik penuh harap. 

“Naik! Cepatlah naik...”

Tanpa menyadari apa yang sebenarnya terjadi di puncak menara dunia arwah, aku memperhatikan batu tiga kekuatan berubah kembali menjadi hitam kelam. Sambil menelan ludah, aku berdoa batu itu segera kembali berpendar kehijauan sehingga aku bisa kembali menyerap energi dari dalamnya. Setelah dua kali menyerap energi dari dalam batu tiga kekuatan, aku dapat merasakan pembuluh energi ke sembilan mulai sedikit terbuka. Kuperkirakan jika aku bisa menyerap energi murni dari batu tiga kekuatan lima atau enam kali lagi, maka aku bisa mencapai tahap penyerapan energi tingkat kesembilan. 

Dan harapanku ternyata benar-benar terkabul, batu tiga kekuatan kembali berpendar kehijauan sesaat kemudian. Aku langsung kembali bersiap mengeksekusi jurus, namun meskipun waktu yang diperlukan untuk mengeksekusi satu jurus tidaklah terlalu lama, tapi para pendekar yang ada di sekeliling batu tiga kekuatan tampak sudah mulai kehilangan kesabaran. Apalagi setelah melihat aku kembali memasang kuda-kuda, ekspresi wajah para pendekar di sekeliling megalith menjadi benar-benar tidak enak dipandang.

“Aku... akan mencobanya sekali lagi,” ujarku lagi sambil berusaha tersenyum manis. 

Mendengar permintaanku, sebagian besar pendekar yang ada di sekeliling megalith langsung tampak memerah mukanya. Bahkan dua orang yang tadi membelaku juga tampak terperangah mendengar permintaanku. 

“Hump, tidak tahu malu! Kau sudah jelas gagal. Mau berapa kali kau mencobanya? Minggir, sekarang giliranku!” Pendekar yang tadi sudah maju hendak menguji bakatnya pada batu tiga kekuatan tampak merah mukanya menahan amarah. Sambil membentak, dia mensirkulasikan tenaga dalamnya dengan maksud menggertakku. Memperlihatkan tingkat kesaktiannya yang berada pada tahap penyerapan energi tingkat ke delapan sama sepertiku. 

“Tapi..” Sebenarnya aku tidak takut dengan lelaki ini, pendekar penyerapan energi tingkat kedelapan biasa sudah bukan lawanku lagi, tapi aku juga harus mempertimbangkan perasaan pendekar yang lain. Jika aku salah langkah, bisa-bisa mereka malah mengeroyokku beramai-ramai. 

Belum selesai aku bicara, tiba-tiba saja langit-langit di atas megalith mulai bergerak turun satu persatu, membentuk anak tangga melingkar menuju lantai selanjutnya. 

“Eh?”

Sama sepertiku, para pendekar yang ada di tempat itu hanya bisa tertegun melihat kejadian turunnya tangga dari langit-langit aula. Mengingat hasil dari pengujian bakat barusan tidak memperlihatkan dengan jelas berapa simbol yang kudapat. 

“Ke... Kenapa tangganya turun?” ujar lelaki yang baru saja menggertakku dengan muka melongo. 

“Jangan-jangan kau berbuat curang!” Teriak salah seorang pendekar lain. Seketika itu juga para pendekar yang lain langsung ikut-ikutan menuduhku curang dan mulai berteriak-teriak marah, beberapa orang 

“Hah? Siapa yang curang?” jawabku cepat. “Lagipula... kalau aku curang memangnya kenapa? Tidak ada aturan yang mengatakan kita tidak boleh curang.”

“Apa kau bilang?” Tiga orang pendekar tampak terprovokasi dan bersiap hendak menyerangku. 

“Dia benar, tidak masalah dia curang atau tidak, kalau kau juga bisa mencurangi ujian batu tiga kekuatan, silahkan saja, tidak ada yang melarang.” Unggul yang semenjak tadi diam saja tiba-tiba meloncat ke sampingku dan berbicara membelaku sambil mengeluarkan aura tahap penyerapan energi tingkat kesebelas. 

Begitu melihat Unggul berdiri disampingku dan membelaku, para pendekar yang berteriak-teriak marah berangsur diam. Termasuk tiga pendekar yang tadinya hendak menyerangku, ketiganya tidak melanjutkan langkah mereka dan hanya saling pandang satu sama lain. 

“Sebaiknya kau segera naik ke atas Rik, selagi mereka masih bisa menahan amarahnya,” ujar Unggul setelah melihat kemarahan para pendekar mulai sedikit mereda. 

“Baiklah...” jawabku lesu. Jujur saja, sebenarnya aku masih ingin menyerap energi yang keluar dari batu tiga kekuatan. Tapi apa daya, tangga menuju tingkat selanjutnya sudah turun, mau tak mau aku harus naik ke tingkat selanjutnya. Akupun melangkah malas-malasan menuju lantai selanjutnya di iringi tatapan aneh para pendekar di sekeliling batu tiga kekuatan. 

Begitu berada di tingkat selanjutnya, aku hanya melihat lorong gelap yang mengarah lurus menuju sebuah cahaya redup di kejauhan Aku segera membalikkan kepalaku dan melihat tangga di belakangku kembali tertutup. Setelah memastikan tangga di belakangku tertutup sepenuhnya, aku mulai melangkah menyusuri lorong menuju sumber cahaya redup. 

Sesampainya di ujung lorong, ternyata disitu terdapat sebuah ruangan berbentuk lingkaran besar dengan belasan pintu di sekeliling ruangan tersebut. Kulihat ada beberapa orang yang sedang duduk dan berdiri di dekat pintu-pintu itu, mereka tampak berbincang dengan serius mengenai sesuatu. 

Begitu aku masuk ke ruangan, semua orang yang ada disana langsung memutar kepala mereka melihat ke arahku. 

“Humph, akhirnya datang juga orang yang ditunggu-tunggu, kenapa lama sekali dibawah sana?”