Episode 266 - Penelitian Baru



Seorang lelaki dewasa muda melangkah santai. Raut wajahnya terlihat riang. Pakaian yang ia kenakan demikian tertata rapi lagi bersih. Sungguh aura yang mencuat dari dirinya, memberikan kesan nan sangat terpelajar. Sudah tiada perlu disebutkan namanya, karena para ahli baca sekalian pastinya dapat menebak dengan akurat siapa tokoh idola ini. 

“Kakak Lintang Tenggara, selamat datang!” Seorang pemuda menyambut senang. Selama beberapa purnama terakhir, ia dibebani tugas sebagai Bupati Selatan Pulau Lima Dendam. 

“Oh.. Anjana... bagaimanakah keadaan di Pulau Lima Dendam selama kepergianku?” Lintang Tenggara menyibak senyum ramah. 

“Semua baik-baik saja. Penelitian yang berlangsung pun mulai menunjukkan perkembangan ke arah yang baik.”

“Bagus... bagus...” 

“Bagaimanakah dengan Segel Mustika...? Apakah Kakak Lintang menemukan petunjuk saat berkunjung di Kemaharajaan Cahaya Gemilang?” lanjut Anjana.

“Untuk sementara waktu segel tersebut berhasil diangkat...” Nada suara Lintang Tenggara berubah datar. 

“Benarkah!?” Anjana hampir melompat girang. Ia berkesimpulan bahwa hal inilah yang membuat hati Lintang Tenggara demikian berbunga-bunga.

“Hanya untuk beberapa saat, karena formasi segel tersebut memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri...”

“Mengapakah demikian...?” Kesimpulan dan rasa senang Anjana sebelumnya, menguap sudah. 

“Setidaknya ada beberapa petunjuk atas Segel Mustika yang kuperoleh. Akan kujabarkan di lain waktu... Aku membawa buah tangan untukmu...” Lintang Tenggara mengalihkan pembicaraan sambil mengeluarkan sebuah gentong berukuran besar dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi. “Hati-hati... di dalamnya adalah binatang siluman Banaspati yang kudapat dari Sangara Santang di Sanggar Sarana Sakti.”

“Terima kasih Kakak Lintang... Apakah kiranya yang membuat hati kakak tadinya demikian berbunga-bunga...? Apakah yang berlangsung di Pulau Satu Garang...?” 

“Oh...? Engkau mengetahui bahwa aku mengunjungi Kerajaan Garang...” Kedua tokoh melangkah ringan memasuki Graha Bupati.

Anjana mengangguk. Kantor Perwakilan Pulau Lima Dendam di Pulau Satu Garang telah memberikan laporan keberadaan Lintang Tenggara di sana, Anjana kini menantikan jawaban yang membuat kakak seperguruannya itu sempat terlihat gembira.

“Aku baru saja menyelesaikan sebuah permasalahan dengan memanfaatkan permasalahan lain...” 

“Menyelesaikan permasalahan dengan permasalahan...?” Anjana terdengar bingung. 

“Sudahlah...,” Lintang Tenggara tak hendak menjabarkan penyebab betapa hatinya senang. 

“Apakah ada kaitannya dengan Pulau Dua Pongah dan Lampir Marapi...,” cecar Anjana. 

“Anjana...,” Lintang Tenggara menghentikan langkah. “Siapa yang mengajarimu cara berpikir yang demikian tak lazim?”

Anjana hanya tersenyum. Jikalau ia memiliki kebolehan membangun analisis, maka kemampuan itu tak lain dipelajari langsung dari tokoh dihadapannya. 

“Ada tugas untukmu...” Tetiba Lintang Tenggara berujar. Lagi-lagi ia mengalihkan pembicaraan. 

“Apakah itu...?” 

“Segera siapkan sebuah ruangan penelitian khusus, lalu kumpulkan dua puluh gadis belia dengan wajah tercantik dan lekuk tubuh termolek...”

“Hm...?” Lagi-lagi Anjana dibuat bingung. 

“Pastikan setiap satu dari mereka adalah... perawan.”

“Apakah Kakak Lintang hendak memulai penelitian baru...?”

“Tepat sekali!” 


====


Bintang Tenggara terpana. Langit bergemuruh dan bumi bergegar. Suasana malam yang sepantasnya tenang, berubah menjadi mencekam. Langkah maju Jenderal Keempat dari Kerajaan Garang dihadang oleh Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana sakti. Kedua ahli Kasta Emas sudah terlibat dalam pertukaran serangan jauh tinggi di udara! 

“Ayo!” teriak pemuda kurus kerempeng dari atas binatang siluman kuda yang ia tunggangi. 

Ini adalah kali kedua Sangara Santang menyelamatkan dirinya. Suka atau tak suka, Bintang Tenggara berutang nyawa kepada si rubah. Suatu hari nanti ia wajib membalas utang budi uluran kepada tokoh tersebut. Akan tetapi, tidak malam ini. Tanpa pikir panjang, Bintang Tenggara melompat naik ke atas pundak binatang siluman kuda. Semoga baik-baik saja wahai rubah, batin anak remaja tersebut melontar pandang ke arah pertarungan sekali lagi. 

Belum terlalu jauh langkah kaki kuda yang memacu tangkas, ketiga ahli bersama dua binatang siluman dicegat oleh lima ahli lain. Pemuda kurus kerempeng dan kusir kereta kuda waspada. 

“Mantan Senopati Ogan Lemanta!” sergah Bintang Tenggara kesal. “Tidak cukupkah kesalahan yang engkau perbuat di Kemaharajaan Cahaya Gemilang!?”

Ogan Lemanta hanya diam menatap. Kini diketahui bahwa di hadapannya adalah sang Yuvaraja. Balaputera Gara adalah tokoh terpenting kedua di Kemaharajaan Cahaya Gemilang setelah Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa. Sumpah setia sebagai prajurit di masa lalu, untuk melindungi Kemaharajaan Cahaya Gemilang dari ancaman dalam bentuk apa pun, mencuat di dalam hati sanubarinya.

Mantan Senopati Ogan Lemanta kemudian menundukkan kepala. Para mantan prajurit di belakangnya melakukan tindakan yang sama. Bintang Tenggara tiada menduga bahwa adalah tanggapan sedemikian yang akan dirinya terima dari tokoh tersebut. 

“Yang Mulia Yuvaraja… Bilamana kembali di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, mohon sudi menyampaikan salam kami kepada sanak keluarga.” 

Bila sebelumnya suasana hati Ogan Lemanta dipenuhi dendam, maka kini Bintang Tenggara menangkap kepedihan yang teramat mendalam dari sorot wajah lelaki dewasa tersebut. Secara tak langsung, Ogan Lemanta telah menentang salah seorang jenderal besar di Kerajaan Garang. Sebagai anggota Partai Iblis, maka nyawa lelaki itu berada di ujung tanduk. Bila sang jenderal tua yang sedang berhadapan dengan Sangara Santang kembali ke Pulau Satu Garang, maka tamatlah sudah riwayat para pelarian dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang itu. 

Dalam diam, Bintang Tenggara meminta Komodo Nagaradja kembali membukakan ruang dimensi penyimpanan. 

“Aku bukan pesuruhmu, bukan pula juru kunci!” sergah sang Super Guru berang. “Ambil apa-apa yang engkau perlukan, aku tak akan lagi membuka-tutup ruang dimensi ini sekehendak jidatmu!”

“Terimalah lencana ini dan segera berlindung ke Pulau Dua Pongah…” Bintang Tenggara melemparkan sebentuk lencana yang beberapa waktu lalu diberikan oleh ayahanda Lampir Marapi, sang Gubernur. 

Ogan Lemanta bersama pengikutnya terperangah. Siapakah sesungguhnya jati diri anak remaja itu sampai memiliki lencana yang demikian berharga…? Tak tanggung-tangung dan aseli adanya, pemegang lencana tersebut akan sangat dihormati di Pulau Dua Pongah. Tiada keraguan di dalamnya.

“Ampun beribu ampun atas kesalahan hamba selama ini…?” Ogan Lemanta kini bahkan bersujud. 

“Kejahatan engkau sebagai Senopati di Kemaharajaan Cahaya Gemilang merupakan kekeliruan yang disebabkan oleh hawa nafsu.” Bintang Tenggara berujar penuh wibawa, selayaknya Putra Mahkota nan terhormat memberi titah. “Bertobatlah dan berlaku baiklah di Pulau Dua Pongah. Bila takdir mengizinkan, maka aku akan memberi hukuman yang pantas dan menerima kalian kembali ke Kemaharajaan Cahaya Gemilang.”

Dahi Ogan Lemanta terhenyak ke tanah. Isak tangis pilu terdengar dari keempat prajurit pengikutnya. Betapa kesetiaan mereka kepada Kemaharajaan Cahaya Gemilang tiada pernah luntur. Sebagaimana kata-kata Bintang Tenggara, kejahatan mereka menculik dan hendak memperkosa seorang gadis dikarenakan terbawa hawa nafsu akibat penugasan yang cukup lama serta jauh dari keluarga. Hukuman memang pantas diterima. Selama pelarian, kelima ahli tersebut bukan tak pernah membayangkan kembali ke kampung halaman mereka. 

“Cepat!” sergah sang kusir semakin tak sabar. Sedari tadi ia memantau pertarungan dua ahli Kasta Emas nan tinggi di udara. Dari sudut pandangnya, Sangara Santang mulai terdorong mundur! 

“Swush!” 

Puluhan bola-bola api sebesar roda pedati merangsek ke arah Sangara Santang. Tokoh tersebut berkelit lincah. Di saat yang bersamaan, ia tentu menyadari bahwa serangan sesungguhnya tiada ditujukan kepada dirinya. Dengan ia menghentakkan tenaga dalam, sejumlah bola api kemudian meledak di tempat. Kendatipun demikian, belasan bola api terlepas dan mengincar deras ke arah Bintang Tenggara yang sedang melarikan diri. 

Sangara Santang hanya menoleh sekilas Bintang Tenggara terlihat melesat di atas pundak binatang siluman kuda. Tiada Sangara Santang berniat menyusul dan menghadang serangan yang mengincar. Tokoh tersebut menyadari bahwa bilamana dirinya mengejar bola-bola api tersebut, maka si jenderal tua pun akan ikut mengejar. Dengan kata lain, nantinya ia akan melepaskan diri dari hadangan, sekaligus memperpendek jarak terhadap sasaran. 

Bahkan siasat serangan pancingan berlapis, tiada mampu menembus kepiawaian Ssngara Santang. Ia tiada bergeming, tetap menghadang ibarat tembok megah yang tak tergoyahkan.

“Maha Guru Kesatu Sangara Santang…,” sergah si jenderal tua. “Pikirkan matang-matang tindakan yang engkau lakukan saat ini!”

“Wahai Jenderal Keempat… Sebagai seorang Maha Guru di Sanggar Sarana Sakti, diriku hanya menjalankan kewajiban untuk melindungi seorang murid dari perguruan sahabat. Dikau memperoleh informasi nan keliru. Jangan salah tangkap, Mohon dipertimbangkan sekali lagi…”

Di saat yang sama, belasan bola-bola api masih mengincar dengan kecepatan cepat. Karena gesekan terhadap udara, ukuran setiap bola api mengecil, sekira buah semangka sahaja. Meski, kekuatan setiap bola-bola api dapat membungkam ahli Kasta Perak dengan mudah. 

Di atas boncengan kuda, Bintang Tenggara hanya menoleh ringan. Receh, pikir anak remaja yang bahkan pernah bertahan hidup dari serangan sembunyi-sembunyi ahli Kasta Bumi. Ia pun melompat turun dari kuda yang masih memacu cepat. Berbekal kecepatan unsur kesaktian petir yang lintasan geraknya tiada beraturan, setiap bola api hanya menciptakan rentetan ledakan di permukaan tanah. Kawah-kawah seukuran sumur tercipta, namun tiada satu pun yang mengenai tubuh si anak remaja.

Jenderal Keempat memicingkan mata menyaksikan gerak langkah sasaran di bawah sana. 

“Itu adalah Asana Vajra, salah satu Sapta Nirwana dari Perguruan Gunung Agung…” sela Sangara Santang memperoleh celah. 

Sang jenderal tua yang sudah kenyang memakan asam dan garam dunia persilatan dan kesaktian, tentu mengenal jurus khas dari Pulau Dewa itu. Keraguan mulai merasuk di benaknya. Mungkinkah Sangara Santang benar…? Mungkinkah Lintang Tenggara berdusta, meski kesepakatan di antara mereka memiliki taruhan yang teramat besar? Tidak. Tidak mungkin Lintang Tenggara berdusta. 

“Sedari awal anak remaja itu tiada mengerahkan jurus-jurus formasi segel yang merupakan andalan para bangsawan Wangsa Syailendra dari Trah Balaputera….” Kembali Sangara Santang mencoba menanamkan keraguan di dalam benak si jenderal tua. Meski, dirinya sendiri tiada mengetahui alasan mengapa Bintang Tenggara tiada merapal formasi segel barang sekali pun. Sungguh aneh. 

“Hmph!” Mengabaikan kata-kata Sangara Santang, si jenderal tua melesat ke arah sasarannya. 

Di lain sisi, Bintang Tenggara sedang melesat cepat mengejar sepasang binatang siluman kuda. Sungguh perkasa kecepatan binatang siluman tersebut. Bahkan setelah dua sampai tiga kali teleportasi jarak dekat dan langkah petir, anak remaja tersebut belum berhasil menyusul, hanya sebatas memperpendek jarak. 

“Duar!” 

Sebuah ledakan menggema, lalu berkobar menyala. Malam ibarat berubah menjadi siang untuk seketika. Bintang Tenggara memanfaatkan teleportasi jarak dekat dalam menghindar serangan jurus kesaktian unsur api. Si jenderal tua dengan kecepatan Ahli Kasta Emas, sebentar lagi menyusul. Padahal, sudah terlihat di depan pintu gerbang menuju ibukota Kemaharajaan Pasundan.

“Duak!”

Tendangan memutar dari Sangara Santang ditangkis menggunakan lengan kiri. Berkat serangan tersebut, arah terbang si jenderal tua menyimpang dari sasarannya. Sangara Santang lalu berdiri di antara pengejar dan yang dikejar. 

“Lancang!” sergah si jenderal tua berang. Sudut matanya menangkap bahwa sasaran berlari semakin menjauh.

“Kumohon tiada berlaku sembarang di wilayah Kemaharajaan Pasundan.” Sangara Santang mengeluarkan sebuah lencana. “Jati diri sebagai seorang anggota Partai Iblis akan menyulitkan Jenderal nantinya…” 

Si jenderal tua hanya melirik dan segera mengenali lencana di dalam genggaman Sangara Santang. Adalah lencana Sanggar Sarana Sakti, yang bilamana Sangara Santang memanfaatkan lencana tersebut, maka segenap sesepuh beserta maha guru lain dari salah satu perguruan terbesar di Pulau Jumawa Selatan akan berhamburan datang. Ia menyadari bahwa kata-kata Sangara Santang bukanlah bualan kosong. 

Menghela napas panjang, si jenderal tua menyadari bahwa sasarannya telah memasuki gerbang ibukota. Ia kini menatap tajam ke arah Sangara Santang. “Selama ini tiada perselisihan di antara kita… Akan tetapi, Sangara Santang, malam ini engkau telah menanam bibit permusuhan dengan Kerajaan Garang!”

Sangara Santang hanya menatap ringan. Ia membiarkan si jenderal tua memutar tubuh dan melesat pergi. Demikian, tokoh itu pun memalingkan wajah. Sejumlah ahli telah terlihat melayang tinggi dan bersiaga di atas ibukota Kemaharajaan Pasundan. Tentu mereka sudah menyadari akan pertarungan antara ahli Kasta Emas yang baru saja berlangsung.

“Maha Guru Kesatu,” seorang ahli yang juga berada pada Kasta Emas menyapa. “Siapakah gerangan yang datang menyerang…?”

“Bukanlah siapa-siapa, wahai Sesepuh Kedua… Hanya seorang ahli yang tersalah arah kemudian salah paham…” 

Demikian, sejumlah ahli tiada mempertanyakan lebih lanjut. Segera mereka meninggalkan Sangara Santang, yang sedang berpikir dalam diam. Ia lalu bergerak menuju Sanggar Sarana Sakti. Tetiba, Sangara Santang berhenti dan memutar tubuh. Kedua matanya menatap jauh…

“Jenderal Keempat dari Kerajaan Garang…,” gumam tokoh nan berbalut perban. “Sangat disayangkan… usiamu tak akan lama lagi.” 



Cuap-cuap:

Masih tak bisa balas komentar… Sudah lapor ke admin ceritera.net.