Episode 42 - Kekuatan yang Melimpah


Lin Fan berjalan santai di tepi sungai dan berhenti di bawah salah satu pohon besar yang sangat rimbun. Dia mencari posisi terbaik lalu bersandar dan menutup matanya.

Tiba-tiba, sebuah tendangan menghujam dada Lin Fan dan menghancurkan hari tenangnya.

“Ini pembalasan untuk kemarin!” Ucap seorang pemuda dengan wajah yang babak belur, di sampingnya berdiri beberapa temannya sambil membawa sebongkah kayu.

Mereka adalah anak-anak dari kelas Danny.

Yang menendang dada Lin Fan adalah Neo, dia adalah seorang anak paling nakal di kelas. Berkelahi bukanlah hal yang baru lagi baginya. Meskipun kemampuan bertarungnya tidak sangat hebat, tapi dia memiliki banyak pengalaman bertarung.

Lin Fan memicingkan matanya dan memegang dadanya yang saat ini terasa sakit akibat tendangan dari Neo.

‘Sial! Mereka ada tujuh orang, aku tidak mungkin bisa mengalahkan mereka semua.’

“Apa-apaan tatapanmu itu? cepat bangkit, kita belum selesai. Kau pasti akan merasakan sakit yang lebih dari apa yang kami rasakan kemarin!” Neo berteriak sambil menatap Lin Fan dengan penuh kebencian.

“Haha, dia pasti ketakutan, lagipula dia hanya sampah yang dibuang oleh ayahnya.” 

“Benar, dia itu pecundang yang lebih hina dari sampah.”

“Melawan adik perempuannya saja dia kalah, dasar sampah.”

Teman-teman Neo dengan semangat menabur garam di atas luka. Sedangkan itu, Lin Fan hanya bisa terdiam mendengar semua hinaan mereka.

“Sampah.”

“Sampah.”

“Sampah.”

Kata-kata itu terus bergema dalam pikiran Lin Fan, kata yang sering orang-orang katakan, kata yang sering dia terima, dan kata itu akhirnya membangkitkan emosinya yang telah dia pendam selama ini. 

Dengan cepat dia bangkit dan berlari menerjang Neo.

Neo tidak siap dengan serangan mendadak dari Lin Fan dan jatuh terjungkal. Lin Fan yang kini berada di atas tubuh Neo, mengepalkan tangannya dan menghujamkannya ke wajah Neo yang sebelumnya memang sudah babak belur.

Pukulan pertama menghantam pelipis kirinya. Pukulan kedua menghantam mata kanannya. Pukulan ketiga menghantam rahang bawahnya. Pukulan keempat menghantam hidungnya. Pukulan kelima menuju ke arah pipi kiri Neo, akan tetapi tiba-tiba datang tendangan dari arah samping dan membuat Lin Fan terlempar dari atas tubuh Neo.

Lin Fan terbatuk beberapa kali, lalu berdiri dan dengan ganas menerjang orang yang sebelumnya menendangnya. Namun, bahkan sebelum dia bisa menyentuh orang tersebut, sebongkah kayu datang dan menghantam dada Lin Fan hingga membuatnya terjerembab ke belakang.

Tidak menunggu waktu yang lama, sebuah serangan datang lagi. Lin Fan yang terbaring di tanah tidak bisa melakukan apapun untuk membalasnya dan hanya bisa menggulung tubuhnya seperti ulat.

Tendangan dan hantaman dari kayu terus datang bergantian seirama dengan suara teriakan Lin Fan menghancurkan kedamaian di sore yang tenang. 

“Hei, berhenti, jika dia sampai mati, masalahnya akan menjadi rumit!” teriak Neo.

Mereka semua berhenti menyerang Lin Fan yang memang sudah tidak berdaya di tanah. Puluhan luka lebam tercetak di tubuhnya. Baju sekolahnya sudah tidak lagi berwarna putih, akan tetapi telah tercampur oleh hitam dari tanah dan merah dari darah.

Namun, ada satu yang masih sama dari diri Lin Fan, yaitu tatapan bencinya pada Neo dan teman-temannya masih sama, bahkan lebih kuat lagi dari sebelumnya.

“Tenang saja, bukan hanya kau yang akan bernasib seperti ini, teman-temanmu yang lainnya akan sama sepertimu.” Ucap Neo lalu pergi bersama teman-temannya.

Setelah tali kebencian terikat, kebencian tidak akan pernah bisa lepas. Pada saat itu terjadi, manusia bukan lagi manusia, tapi telah berubah menjadi setengah iblis.

Lin Fan terbatuk beberapa kali, batuk yang diikuti oleh darah segar. Dia ingin merangkak dengan susah payah ke bawah pohon yang tadi, tapi gagal. Seluruh tubuhnya terasa sakit, kini dia juga tidak memiliki kekuatan sedikitpun untuk melakukan apapun.

Tiba-tiba saja langit berubah warna menjadi hitam, awan tebal berkumpul dan sesekali suara petir memekakan telinga terdengar. Di tengah awan hitam, untuk beberapa saat sebuah lubang berwarna merah terbuka dan dari dalamnya keluar beberapa kepingan yang bekemilauan.

Lin Fan menatap dengan bisu kejadian aneh yang terjadi, lalu tiba-tiba saja dia melihat bahwa ada sesuatu yang jatuh tepat menuju dirinya. Itu bukan air hujan, melainkan sebuah kepingan yang keluar dari lubang beberapa saat yang lalu.

Kepingan itu jatuh tepat di atas kepala Lin Fan dan langsung hilang, tidak, lebih tepatnya kepingan itu masuk ke dalam tubuh Lin Fan. Di saat itu pula, Lin Fan tidak bisa lagi mempertahankan kesadarannya dan terjatuh pingsan.

Di malam hari, Lin Fan terbangun dan menatap langit-langit yang tidak lagi asing baginya, karena di sinilah tempat dia sering tertidur dengan lelap.

“Akhirnya kau bangun juga.” 

Lin Fan memutar kepalanya dan melihat sosok Agam sedang bersandar di pintu dan tersenyum polos seperti biasanya.

“Ya, dan kenapa aku bisa berada di sini?” tanya Lin Fan dengan bingung, seingatnya dia telah kehilangan kesadaran di tempat dimana dia dihajar oleh Neo dan teman-temannya. Akan tetapi setelah terbangun dia malah berada di kamar Agam.

“Aku melupakan tempat bekalku di kelas, jadi mau tidak mau aku harus mengambilnya, atau jika tempat bekal itu hilang, maka aku pasti tidak dibolehkan untuk makan lagi oleh ibuku.” Agam berkata dengan sedih yang bercampur takut.

“Haha, sepertinya ibumu lebih menyayangi tempat bekalmu daripada anaknya sendiri.” Lin Fan berkata sambil tersenyum kecil.

“Sialan! aku tidak tahu harus membalas apa. Yang lebih penting, cepat ceritakan kenapa kau bisa kotor sekali dan pingsan disana?” Agam berjalan mendekat lalu duduk di kursi yang berada di samping kasur.

“Aku tersandung sampai berguling-guling, tapi rupanya itu sangat menyenangkan, jadi aku terus berguling-guling sampai akhirnya aku pingsan.” Ucap Lin Fan dengan wajah serius.

“Hei, kau pikir aku bodoh? Mana mungkin kau akan melakukan hal seperti iitu. Cepat, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, aku ini sahabatmu, bukan?” balas Agam dengan cepat.

Akhirnya Lin Fan menceritakan semuanya, tentang pertarungan antara dia melawan Neo dan teman-temannya. Kadang kala dia menambahkan sedikit bualan agar suasana tidak menjadi berat. Tapi, dari awal hingga akhir, dia sama sekali tidak menceritakan tentang lubang merah yang dia lihat di langit.

“Ngomong-ngomong, berapa hari aku tidak sadarkan diri?” Tanya Lin Fan.

“Eh? Berapa hari? Apakah kau gila? Satu hari saja belum genap setelah kau pingsan.” Jawab Agam.

“Lalu ... kenapa?” Lin Fan berkata dengan heran sembari melihat luka di seluruh tubuhnya yang kini telah hilang. Tidak ada lagi, bahkan tidak ada sedikitpun bekas yang tertinggal.

“Kenapa apanya?” 

“Bukan apa-apa, lupakan saja.”

Di malam itu, Agam terus bercerita tentang hal-hal tidak penting, sementara Lin Fan hanya mendengar sambil sesekali merespon seadanya, pikirannya masih melayang memikirkan kejadian hari ini.

Tentang lubang merah di langit, tentang lukanya yang tiba-tiba menghilang, tentang kepingan yang jatuh, juga tentang cara untuk membalas dendam kepada Neo dan teman-temannya.

Keesokan harinya, Lin Fan memutuskan untuk tidak berangkat sekolah, karena pakaiannya yang telah kotor. Tapi, karena bosan berada di kamar terus, Lin Fan akhirnya meminjam pakaian Agam dan pergi berjalan-jalan.

Kota pada pagi hari sangai damai, tapi semua orang saling sibuk dengan urusannya masing-masing hingga tidak ada dari mereka yang saling sapa. Udara segar menyejukkan tubuh Lin Fan dan membuat pikirannya menjadi tenang kembali.

Lin Fan memandang jauh seberang sungai, di sana adalah kota yang sama, akan tetapi terlihat lebih hidup. Banyak bangunan pencakar langit berdiri dengan gagah menantang langit. Banyak pabrik beroperasi, bahkan tanpa memedulikan bahwa hari ini adalah hari yang sangai damai.

Tidak banyak orang yang dapat menghargai kedamaian dan membuang semua pikiran tentang diri sendiri.

Bagi Lin Fan, hari ini adalah hari yang sangat layak untuk dihargai.

Lin Fan terus berjalan dan tanpa sadar dia akhirnya sampai di tempat kemarin, tempat di mana Neo dan teman-temannya menghajar Lin Fan. Secara tiba-tiba emosi yang kemarin dia rasakan mulai bangkit kembali. Sorot mata Lin Fan memancarkan kebencian yang tidak dapat dia sembunyikan.

Namun, setelah beberapa kali menarik napas panjang, Lin Fan akhirnya berhasil meredakan emosinya dan kembali berpikir dengan tenang. Setelah dia pikirkan kembali, tidak ada yang salah dengan apa yang mereka lakukan, jika dia berapa di posisi mereka, kemungkinan besar Lin Fan akan melakukan hal yang sama juga.

Ini adalah salahnya sendiri karena terlalu lemah dan tidak mampu untuk melawan. Pada akhirnya, yang berhak untuk bertindak semena-mena adalah yang terkuat, sedangkan orang lemah hanya bisa dengan patuh menjalani semua ketidak adilan yang terjadi.

Bahkan, jika si lemah ingin melawan, tidak akan bisa menggoyahkan dominasi si kuat.

Lin Fan berdiri termenung untuk beberapa saat, kemudian dia mengambil posisi kuda-kuda.

Dia akan melatih kembali apa yang pernah dia pelajari di sekte. 

Lin Fan menarik napas lalu meninjukan tangannya ke depan. Tapi, ada yang sedikit berbeda. Tinju itu lebih cepat dari yang pernah Lin Fan lakukan sebelumnya. Bahkan Lin Fan sendiri sangat takjub dengan serangannya itu. Dia tidak pernah berpikir bahwa ternyata dia secepat ini.

Lin Fan menarik tinjunya lalu melompat dan menendang tinggi ke atas kemudian membantingkan kakinya ke tanah. Suara dentuman terdengar sangat nyaring, tanah yang terkena serangan hancur berantakan.

Lin Fan kembali takjub dengan apa yang terjadi, dia tidak pernah berpikir bahwa ternyata dia sekuat ini.

Dengan wajah yang bingung, Lin Fan memperhatikan tubunya sendiri. Tapi tidak ada yang berbeda dari kemarin. Sama seperti sebelum dia di hajar oleh Neo dan teman-temannya.

Kemudian Lin Fan berjalan mendekat ke pohon rimbun tempat dia bersantai kemarin. Lin Fan mengatur napasnya dan memfokuskan konsentrasinya lalu menghantamkan kepalan tangan kanannya menuju batang pohon itu.

Suara hantaman terdengar keras, Lin Fan menarik tangannya dan dia melihat ternyata sebuah lubang tercipta di batang pohon tersebut.

Lin Fan akhirnya mengerti, apa yang terjadi bukanlah ilusi, kini dia memiliki kekuatan yang melimpaah, meskipun dia sendiri tidak tahu dari mana asalnya kekuatan tersebut, yang terpenting adalah akhirnnya dia bukan si lemah lagi.

Lin Fan yang kini, akan membayar lunas perlakuan setiap orang kepadanya di masa lalu.