Episode 265 - Alasan Perang



Mantan Senopati Ogan Lemanta terpental mundur. Padahal, Maha Guru Kesatu Sangara Santang hanya mengayunkan lengan yang mencengkeram pergelangan tangan tokoh tersebut. Dari sudut pandang Bintang Tenggara, Sangara Santang selayaknya sekedar melambai ringan. 

“Hai, Adik Bintang...,” sapa Sangara Santang ramah, seolah tiada kejadian berarti yang sedang berlangsung. “Apakah maksud dan tujuan pengembaraan dikau kali ini...? Apakah menjabat sebagai Putera Mahkota demikian membosankan...? Mengapa hanya mengabari di saat terjepit...?” 

Kelopak mata Sangara Santang menyipit. Kemungkinan besar, melalui jaringan Pasukan Telik Sandi, tokoh tersebut telah mengetahui bahwa Bintang Tenggara sedang dalam perjalanan. Rentetan pertanyaan yang ia ajukan hanya untuk membuat sebal sahaja. 

Si rubah ini... batin Bintang Tenggara sedikit menyesal. Bahkan, ingin rasanya ia mengutuk diri sendiri. Andai saja tiada terjatuh ke dalam kepungan para serdadu bayaran, tidaklah mungkin dirinya meminta bantuan kepada tokoh yang demikian sulit dipercaya. Oleh karena itu, malas rasanya menjawab pertanyaan-pertanyaan penuh cibiran itu. 

Di balik balutan perban, sungguh Sangara Santang senantiasa memperoleh kesan nan mendalam dari keluarga Tenggara. Di saat ditanyakan oleh Lintang Tenggara mengapa dirinya mengenakan perban di sekujur tubuh meski tiada menderita luka, Sangara Santang menjawab bahwasanya penampilan yang sedemikian sedang menjadi tren mode di wilayah Tanah Pasundan. Mungkin sebagian ada benarnya, akan tetapi alasan sesungguhnya adalah demi menyembunyikan luka yang menggores di dasar hati. 

Sebagaimana diketahui, sepanjang hidupnya, Sangara Santang merupakan tokoh yang dikenal sebagai Si Anak Ajaib. Sejak usia muda, pertumbuhan keahliannya tiada dapat disaingi oleh manusia mana pun. Julukan ‘tak mengetahui warna darah sendiri’ mencuat karena tak sekalipun ia pernah takluk dalam pertarungan. Akan tetapi, terlepas dari itu, saat berhadapan dengan Mayang Tenggara dirinya menjadi seperti anak singa yang dipermainkan oleh seekor serigala lapar. Tubuhnya dihenyakkan berkali-kali ke permukaan tanah, dan bersimbah darah. Oleh karena itu, sampai waktunya ia dapat menyaingi Mayang Tenggara, maka jalinan perban itu menjadi semacam pengingat akan kelemahan diri.

Para serdadu bayaran kaku diam di tempat. Kehadiran ahli Kasta Emas, yang nama besarnya harum di seantero Tanah Pasundan, membuat mereka cemas. Pupus sudah harapan menciduk remaja bangsawan Wangsa Syailendra dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Menguap pergi angan-angan menjadi kaya raya akan keping-keping emas sebagai bayaran dari tebusan. Lebih buruk lagi, mungkin saja mereka kehilangan nyawa di tempat ini.

Sangara Santang menoleh ke arah kawanan serdadu bayaran. Tanggapan mereka adalah mundur beberapa langkah. Bilamana Sangara Santang menyerang, maka mereka akan berlari kocar-kacir menyelamatkan diri masing-masing. 

“Angin apakah yang membawa Jenderal Keempat dari Kerajaan Garang ke Tanah Pasundan...?” tetiba Sangara Santang berujar, ke arah belakang gerombolan serdadu bayaran. 

Seorang lelaki tua sedang melayang ringan. Kedua tangannya dilipat ke belakang. Angin malam memainkan jubah yang berkibar seolah panji-panji perang. Dengan wajah penuh keriput, tatapan matanya seolah tiada berkedip. Aura suram dari tokoh tersebut, menyibak Kasta Emas Tingkat 3! 

Jika para ahli baca sekalian mengingat, maka dalam Episode 125, pernah digambarkan akan sebuah Kamar Kendali Perang milik Kerajaan Satu Garang, yang berfungsi sebagai pusat kendali siasat. Para jenderal perang, wajib berkumpul dan berdiskusi di dalam ruangan tersebut. Mereka akan menggodok siasat sebelum turun ke medan perang. Terdapat empat jenderal yang sedang terlibat dalam pembicaraan serius saat itu. 

Menyaksikan kehadiran seorang jenderal dari kubu mereka, segenap serdadu bayaran bernapas lega. Tiada mereka menyangka bahwa seorang jenderal akan datang membela nyawa yang sudah berada di ujung tanduk. 

“Wahai Yang Terhormat Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti, maafkan kelancangan diri ini,” lelaki tua itu berujar dari ketinggian. “Sungguh pengetahuan dan kebijaksanaan adik kandung dari Yang Mulia Sri Baduga Maharaja Prabu Silih Wawangi sulit disaingi.” 

Tubuh Sangara Santang melayang perlahan. Tatapan matanya tiada lepas dari sosok yang baru datang. 

“Terlalu berlebihan pujian yang Yang Terhormat Jenderal Keempat utarakan. Diri ini hanyalah seorang ahli yang belum cukup mumpuni.” Terlepas dari kata-kata yang keluar dari mulutnya, aura Kasta Emas Tingkat 2 menyibak pekat dari diri Sangara Santang. 

Kedua ahli melayang tinggi di udara. 

“Apakah serdadu-serdadu bayaran ini merupakan utusan Yang Terhormat Jenderal Keempat…?”

“Diriku tiada mengenali mereka…” Sosok lelaki tua itu menatap ringan ke arah segerombolan serdadu bayaran. Ia lalu mengibaskan lengan dan serta merta rentetan ledakan terjadi. Puluhan serdadu bayaran meregang nyawa! Tiada perubahan terhadap raut wajahnya. Dingin. 

Sementara itu, mantan Senopati Ogan Lemanta bersama regunya, sudah tiada terlihat. Seperti halnya di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, ia telah mengambil langkah seribu di saat menyadari kehadiran lelaki tua tersebut.

Sangara Santang memicingkan mata. Tindakan Jenderal Keempat dari Kerajaan Garang tersebut membantai anak buahnya sendiri, sesungguhnya merupakan sebuah peringatan. Sosok tersebut tak hendak berbasa-basi lebih lama lagi. 

“Diriku memperoleh informasi bahwa seorang remaja dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang sedang melintas di Tanah Pasundan.”

Sangara Santang si rubah tiada dapat dikelabui dengan mudah. Kehadiran sosok Jenderal Keempat itu sudah terbaca jelas. Bahwasanya ia hendak menangkap sang Yuvaraja dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Tindakan tersebut akan memicu perang, dan perang adalah yang dikehendaki oleh sebagian besar penghuni Kerajaan Garang. Di lain sisi, Partai Iblis membutuhkan alasan kuat demi memulai perang, karena secara internal diperlukan satu suara yang bulat dari kelima pulau agar mereka dapat tampil dengan kekuatan penuh. 

Sebagai seorang anggota Pasukan Telik Sandi yang sudah biasa menjelajahi wilayah Kepulauan Jembalang, Sangara Santang paham situasi politik di dalam Partai Iblis. Hubungan antara Pulau Satu Garang, Pulau Dua Pongah, Pulau Tiga Bengis, Pulau Empat Jalang, serta Pulau Lima Dendam tiada sepenuhnya akur, bahkan terdapat pergesekan. Dengan demikian, dengan menculik sang Yuvaraja, maka dipastikan Kemaharajaan Cahaya Gemilang akan bergerak terlebih dahulu. Dalam situasi tersebut, segenap kekuatan di dalam Kepulauan Jembalang akan bersatu padu.  

“Sepanjang hematku, di antara Kemaharajaan Pasundan dan Kemaharajaan Cahaya Gemilang, tiada bersekutu,” lanjut jenderal tua itu. “Oleh sebab itu, sudi kiranya Yang Terhormat Maha Guru Sangara Santang menutup mata atas tindakanku ‘menjemput' anak remaja itu…”

Di lain sisi, adalah benar pula bahwa di antara Kemaharajaan Pasundan dan Kemaharajaan Cahaya Gemilang, tiada terjalin hubungan khusus. Kedua kemaharajaan besar tiada pernah mencampuri urusan satu sama lain. Sangara Santang, menyadari bahwa bilamana dirinya mencegah upaya sang Jenderal Keempat menciduk Bintang Tenggara, maka akan terpicu perseteruan di antara Kemaharajaan Pasundan dengan Kerajaan Satu Garang. Kekuatan militer dari pulau terkuat di Kepulauan Jembalang tiada dapat dipandang sebelah mata. Sri Baduga Maharaja Prabu Silih Wawangi pastinya hendak menghindari perang, karena perang hanya akan menyengsarakan segenap rakyat. 

Keadaan berubah rumit. Sangara Santang memutar otak untuk berkelit. 

“Anak remaja itu bukanlah Yuvaraja dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Ia bernama Bintang Tenggara, Murid Utama dari Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa.” 

“Sumber informasiku tiada mungkin salah, apalagi berdusta…” 

“Lintang Tenggara penuh dengan tipu daya…” Sangara Santang berujar santai. Dirinya memperoleh informasi keberangkatan Balaputera Gara meninggalkan Ibukota Minangga Tamwan dari Lahat Komering, salah seorang anggota Pasukan Telik Sandi di wilayah tersebut. Siapa lagi yang tega membocorkan perihal kepergian sang Yuvaraja seorang diri meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang bilamana bukan sesama anggota Partai Iblis. Pasti ada sesuatu yang dikehendaki oleh Lintang Tenggara dari Kerajaan Garang, yang kemudian ditukarkan dengan informasi terkait sang Yuvaraja. Kemungkinan besar, tak lain adalah demi... 

Jenderal Keempat dari Kerajaan Garang hanya diam. Tiada perubahan dari raut wajahnya. Bagi Sangara Santang, kemampuan menjaga emosi sebagaimana yang ditunjukkan, semakin menegaskan bahwa kesimpulan yang ia bangun adalah 99% akurat. Lintang Tenggara akan menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya! 

“Cih!” Bintang Tenggara yang sedari awal menyimak pembicaraan di antara kedua ahli, merasa mual sekaligus muak. Tak diragukan lagi, pastilah Lintang Tenggara sedang berbuat ulah. Entah apa alasannya. Mencurigakan… 

Hmph!” Sang jenderal menyadari betul bahwa Lintang Tenggara tiada mungkin berdusta. Terlalu besar hal yang dipertaruhkan dalam perjanjian yang telah disepakati antara kedua belah pihak beberapa hari lalu. 

“Sanggar Sarana Sakti bersahabat dengan Perguruan Gunung Agung. Diriku tiada dapat menutup mata, dan membiarkan Yang Terhormat Jenderal Keempat melakukan kesalahan yang di kemudian hari akan disesali,” tegas Sangara Santang. Dari setiap kata-katanya, terdengar jelas bahwa ia tak gentar menghadapi gertakan. 

Sangara Santang tak akan menarik diri dengan mudah.  

Di sela-sela pepohonan, tak terlalu jauh dari kedua ahli yang melayang di angkasa, seorang lelaki dewasa berdiri termenung. Cahaya rembulan purnama membantu pandangan meski telah lewat tengah malam. Dalam diam, tokoh tersebut mencermati. 

Sebagai seseorang yang berpengalaman menjabat sebagai Senopati, yang mana mengepalai sebuah benteng pertahanan berukuran sedang dan menampung kurang lebih 1.000 prajurit, Ogan Lemanta memiliki pemikiran senada dengan Sangara Santang. Walau belum terlalu lama bergabung dengan Partai Iblis, tokoh tersebut pun menyadari keunikan hubungan di antara pulau-pulau di dalam wilayah Kepulauan Jembalann. Bahwasanya, batin Ogan Lemanta, Pulau Satu Garang memerlukan alasan agar perang dengan Kemaharajaan Cahaya Gemilang memperoleh dukungan penuh dari keempat pulau lain. 

Sebagai tambahan, baru kini Ogan Lemanta mengetahui bahwa Balaputera Gara di dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta berhasil menempatkan diri sebagai Putera Mahkota Pertama, atau Yuvaraja. Dalam hati ia berpikir keras... Bilamana perang pecah, maka keluarga, anak dan istrinya yang masih menetap di Ibukota Minangga Tamwan terancam bahaya. Batinnya kini berperang, antara apakah membantu Jenderal Keempat menangkap Balaputera Gara, ataukah justru membantu anak remaja tersebut meloloskan diri... 

Urusan dendam kesumat terhadap lima murid dari Perguruan Svarnadwipa dapat dituntaskan di kemudian hari. Sejak awal, bagi Ogan Lemanta, kejadian yang sedang berkutat bukanlah perihal keping-keping emas...

“Hei, kau!” sergah Jenderal Keempat ke arah bawah. “Bukankah engkau berasal dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang!?” 

Ogan Lemanta terkejut bukan kepalang. Sang Jenderal nan perkasa berujar kepadanya. 

“Segera katakan perihal jati diri anak remaja itu!”

Ogan Lemanta terdiam kaku. Sangara Santang menanti tenang. Bintang Tenggara waspada! 

“Ia... Ia adalah...” Ogan Lemanta terbata-bata.

“Segera katakan!”

“Ia merupakan anggota keluarga Kadatuan Kesembilan, sekaligus murid Perguruan Gunung Agung.” Ogan Lemanta tiada berani berdusta, namun telah ia putuskan untuk tak mengumbar informasi terlalu banyak. 

“Apakah ia sang Yuvaraja!?”

“Mohon maaf Yang Mulia Jenderal Keempat... Diriku telah meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang sebelum Hajatan Akbar Pewaris Takta...”

Terdapat sedikit reaksi dari raut wajah Jenderal Keempat. “Sangara Santang, sudahi basa-basi ini! Aku akan membawa anak remaja itu. Silakan engkau menghalangi bilamana mampu...”

Aura Kasta Emas Kasta Emas Tingkat 3 menyibak kental. Di saat yang sama, api menyala membungkus tubuh lelaki nan tua. Jenderal Keempat tentunya menyadari bahwa Sangara Santang berada satu tingkat lebih lemah. Demikian, bilamana harus bertarung serius, maka si jenderal yakin masih cukup kuat untuk membungkam Sangara Santang!