Episode 48 - Galuh Parwati


Di Gua Tunggul Manik, Ki Sentanu dan Ki Citrawirya mendatangi Ki Patih Balangnipa dengan tergopoh-gopoh, “Kakang Patih, dugaan Kakang tak meleset sedikitpun, Pangeran Adipati Bogaseta yang memimpin pasukan mata-mata Banten, dan menurut pantauan mata-mata kita, kemungkinan besar mereka akan memusatkan serangannya di perbatasan Barat kita! Mereka akan tiba kurang lebih empat hari lagi!” lapor Ki Sentanu.

“Bagaimana kalian bisa yakin Banten akan memusatkan serangannya dari perbatasan sebelah barat kita?” Tanya Ki Balangnipa.

“Mereka memang belum memecah pasukan mereka, menurut hemat saya mereka akan menyerbu kita dari tiga jurusan yakni barat, utara, dan selatan menggunakan gelaran Garuda Ngelayang. Saya yakin mereka akan memusatkan kekuatannya di paruh garuda yang tak lain adalah pasukan yang menyerbu dari sebelah barat, selain itu karena perbatasan sebelah barat adalah perbatasan kita yang paling dekat dengan wilayah Banten sehingga paling mudah untuk mereka menyerbu kita dari sana!” jawab Ki Citrawirya.

Ki Balangnipa terdiam sejenak sambil memejamkan matanya, kemudian mengangguk-ngangguk, “Hmm... Menurutku mereka menginginkan kita percaya bahwa mereka akan memusatkan kekuatannya di sebelah barat, aku yakin mereka akan memusatkan kekuatannya di sebelah utara atau selatan kita, mereka akan bergerak dengan gelaran perang Supit Urang tapi pasukan yang berada di paruh atau sebelah barat perbatasan kita kemungkinan hanya merupakan pancingan, mereka sebenarnya akan menggelar Supit Urang, untuk menjepit kita dari utara dan selatan!” (Supit Urang = Gelaran Perang menyerupai Capit Udang).

Ki Sentanu dan Ki Citrawirya saling pandang mendengar dugaan Ki Patih yang sudah sangat banyak makan asam garam dalam hal kemiliteran tersebut, “Lantas apa yang harus kita lakukan Ki?” Tanya Ki Sentanu.

“Ini mungkin bisa menjadi peluang kita yang paling baik untuk menjungkalkan Prabu Kertapati!” sahut Ki Balangnipa.

“Apa?! Jadi artinya Kakang merelakan tanah kita untuk diduduki dan dikuasai oleh orang-orang Banten?” Tanya Ki Citrawirya yang kaget dengan ucapan Ki Balangnipa.

“Tentu saja tidak, tapi kita bisa gunakan mereka untuk menekan Prabu Kertapati, kita perintahkan orang-orang kita di perbatasan untuk mengibarkan bendera putih agar para prajurit Banten itu bisa lewat dan masuk ke Rajamandala, setelah mereka hampir sampai di perbatasan kutaraja, kita lakukan pemberontakan dengan mengangkat Jaya Laksana sebagai Prabu Mega Mendung yang baru. 

Dengan begitu pada saat pasukan Banten tiba di Rajamandala, kita bisa berunding dengan mereka untuk perjanjian damai karena saat itu Raja kita adalah seorang Muslim yang artinya Mega Mendung sudah menjadi Negara Islam, kita bersedia bersahabat dan mengikat persaudaraan dengan Banten tanpa menganggu satu sama lain, maka tidak ada alasan bagi Banten untuk melanjutkan peperangan ini!” jelas Ki Balangnipa.


“Tapi apakah nanti mereka akan mau menerima usulan perdamaian tersebut? Lagipula sampai saat ini kita belum mendapatkan persetujuan dari Jaya Laksana untuk diangkat menjadi seorang Raja, belum lagi kita tidak mengetahui keberadaannya dimana sekarang?” Tanya Ki Citrawirya.

“Aku yakin Jaya Laksana masih berada di Bumi Mega Mendung ini, ia pasti akan bersedia menjadi Raja kalau terpaksa demi menghindari peperangan, dan aku yakin pihak Banten tidak akan meneruskan peperangan kalau kita berhasil mendudukan Jaya Laksana di singgasana Mega Mendung karena tidak ada alasan bagi mereka untuk berperang dengan Raja yang baru, setidaknya kalau mereka memang berniat untuk menguasai Mega Mendung mereka akan menangguhkan niatnya, dan mencari-cari alasan untuk menyerbu Mega Mendung kemudian… Yang penting mereka tidak akan menyerbu kita saat ini juga, agar kita mendapatkan kesempatan untuk bernafas dan menghimpun kekuatan!” terang Ki Balangnipa.

“Tapi persoalan sebenarnya belum bisa kita pecahkan Kakang, yaitu bagaimana kita bisa mengalahkan Prabu Kertapati yang sakti mandraguna itu? Apakah Jaya Laksana yang masih hijau itu mampu mengalahkan ayahnya sendiri?” Tanya Ki Sentanu.

“Tentu saja bisa karena menurut sepengetahuanku, empat hari lagi adalah hari naas Prabu Kertapati! Hanya aku, Dewi Nawangkasih, mendiang Prabu Wangsareja, dan mendiang Sri Baduga Maharaja yang mengetahui hari naas Sang Prabu. Aku yakin Prabu Kertapati akan kehilangan wahyu keprabonnya saat hari naasnya tersebut! Dan soal lainnya yaitu soal Pangeran Dharmadipa, itu bukan soal yang terlalu berat, aku yakin Jaya Laksana akan dapat mengatasinya!” pungkas Ki Balangnipa. Pertemuan yang cukup hangat itupun berakhir setelah Ki Balangnipa menunjuk orang-orang kepercayaannya untuk menyusup berbaur dengan pasukan Mega Mendung di perbatasan-perbatasan.

***

Tiga malam kemudian, di tepi sungai Citarum dekat perbatasan Kutaraja Rajamandala, tempat Jaya bertemu dengan Mega Sari beberapa hari yang lalu. Jaya dan Galuh duduk berdua menatap daun-daun yang berguguran, mereka saling terdiam dan salah tingkah, “Galuh...” sapa Jaya yang memberanikan diri untuk memulai menyapa.

“Huh!” Galuh tidak menyahut, dia hanya mendengus sambil membuang mukanya ke arah lain, Jaya pun menghela nafas, memang selama 3 hari ini Galuh selalu mendiamkannya, mereka saling terdiam tanpa tegur sapa, Jaya merasa sangat tidak enak dengan keadaan seperti ini.

Jaya termenung mengingat sifat Galuh sebelum gadis itu mengetahui ia adalah putra sulung Prabu Kertapati, saat itu Galuh adalah gadis yang periang dan selalu bertingkah konyol dan agak-agak sableng, ia adalah gadis yang berpikir sederhana dan selalu bertindak serampangan juga meremehkan lawan-lawannya hingga ia sering kena batunya, ia juga tipe gadis yang jujur untuk mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.

Jaya sangat merindukan sifat-sifat Galuh yang dulu hingga membuatnya jatuh hati pada gadis hitam manis itu. Kini Jaya tidak berani lagi menyapa Galuh karena ia tahu gadis yang baru saja pulih dari lukanya yang parah tersebut masih bingung hatinya. Hatinya masih kacau dengan berbagai kecamuk perasaan, namun yang pasti dendamnya pada Prabu Kertapati terus makin membara selama beberapa hari belakangan ini, dan ia masih bingung harus bersikap bagaimana pada Jaya.

Saat itu terdengarlah suara petikan kecapi yang merdu disertai dengan angin malam yang begitu sejuk hingga mampu menyejukan hati dan tubuh bagi siapa saja yang merasakannya, apalagi ditambah dengan suara kecapi yang mendayu-dayu syahdu itu. “Memang sulit kalau sudah disulut api dendam, orang yang tidak ada sangkut pautnya dan tidak tahu apa-apa bisa kena ikut kena getahnya, bisa ikut tersiram minyak hingga jadi sasaran kobaran api!” ucap suara pria yang lanjut usianya menggema disekitar tempat itu.

Tiba-tiba sesosok Kakek buta hadir di sana sambil memainkan kecapinya, ia enak-enakan duduk dengan santainya diatas batu kali yang besar dan datar sambil terus memetik kecapinya, “Takdir memang kejam, Kebencian dan Dendam hanya akan bertumpuk seperti daun-daun yang berguguran itu, daun itu sudah tidak terpakai dan tak berguna lagi bagi si pohon, mereka hanya akan terus menumpuk ditanah hingga akhirnya hilang lenyap dengan sendirinya! Sungguh kebencian dan dendam itu hanyalah satu perasaan yang sia-sia...”

Galuh menoleh pada Gurunya dengan mata melotot, “Apa maksud guru agar aku untuk tidak membalaskan dendamku?!” lantangnya, dada si gadis langsung bergemuruh dahsyat dihimpit oleh perasaan benci dan dendam yang bercampur dengan kesedihannya, nafasnya mulai memburu seiring dengan dua butir titik bening jatuh dari kedua kelopak matanya.

Dengan suara lantang, Galuh melotot pada gurunya, sementara telunjuk tangan kanannya menunjuk batang hidung Jaya, “Aku tahu dia tidak bersalah! Aku tahu itu! Tapi... Tapi Guru jika aku tidak boleh membalas dendam, bagaimana dengan sakit hati kedua orang tuaku? Bagaimana dengan derita mereka? Bagaimana dengan kebencian mereka? Siapa yang akan membalaskan dendam mereka setelah mereka menyelamatkan aku?!” dengan emosi, tangan kiri Gadis itu melepaskan satu pukulan jarak jauh, Braakkk!!! Satu pohon besar tumbang terkena pukulan “Badai Laut Kidul” yang dilepaskan Galuh, “Katakan padaku guru!” pekik Galuh.

Jaya hanya terdiam menundukan kepalanya, hatinya merasa sangat sedih dengan dendam yang Galuh rasakan, ia juga merasakan penyesalan, mengapa Gusti Allah memberi tahu bahwa dirinya adalah putra sulung Prabu Kertapati? Pemuda itu merasa akan lebih baik jika ia tidak mengetahui asal-usulnya seperti dulu. Jaya pun terdiam dengan berbagai perasaan yang berkecamuk dalam hatinya, berjuta perasaan yang membuatnya sangat tidak nyaman!

Si Dewa pengemis menghela nafas berat, kemudian dia terus memetik kecapinya membawakan lagu yang terkesan amat sendu, terdengar amat halus membuai dan menyejukan jiwa. Semilir angin sejuk pun bertiup menyejukan kedua insan dihadapannya, Galuh pun mulai menangis sesegukan, “Galuh Parwati muridku... Dulu aku memang tidak pernah mengatakan hal ini, mengatakan agar kau melepaskan seluruh kebencian dan dendammu pada Prabu Kertapati, tapi ketahuilah aku selalu berusaha mendidikmu agar kau melupakan kebencian dan dendammu itu... 

Apakah kau menyadari bahwa kebencian dan dendamu itu menghalangi cinta kasihmu pada pria yang kau cintai itu? Galuh apakah kau pernah berpikir dan merasa kalau almarhum kedua orang tuamu tidak mau kau terus hidup menanggung kebencian dan dendam?”

Galuh terdiam beberapa saat, teringat kembali ia pada kasih sayang kedua orang tuanya, kasih sayang kakek neneknya, teringat pula ia pada didikan dan kasih sayang si Dewa Pengemis, bagaimana orang tua itu mempersaudarakan dirinya dengan orang-orang yang senasib dengannya, bagaimana gurunya selalu mengatakan bahwa dendam dan kebencian adalah biang keladi dari segala malapateka yang akan melanda hidup siapapun bagi yang memeliharanya. Sekonyong-konyong gadis itu memegang bahu Jaya erat sekali, “Galuh...” desah Jaya.

Galuh mengangkat kepalanya, sepasang matanya yang bening menatap Jaya dengan dalam sekali, “Aku akan... aku akan melupakan dendamku! Jadi kau juga... Kau juga harus melupakan dendammu! Aku larang kau untuk menumpas Prabu Kertapati! Aku larang! Larang!” jerit Galuh sambil mengeratkan pegangan kedua tangannya pada bahu Jaya.

Jaya terkesiap dengan ucapan Galuh yang diluar dugaannya itu, ia hanya bisa menatap Galuh dengan tatapan penuh keterkejutan, Galuh meringis menahan isak tangisnya, “Tapi Galuh Kertapati adalah orang yang menyebabkan penderitaan dalam hidupku ini...” sela Jaya.

“Tidak! Aku tidak peduli! Pokoknya kau harus melupakan dendammu pada Prabu Kertapati! Kau tidak boleh melakukannya!” jerit Galuh. 

“Kenapa tidak?” Tanya Jaya. 

“Apanya yang kenapa? Sudah jelas bukan karena ia adalah ayahmu! Ayah kandungmu! Sejahat apapun perbuatannya padamu dan pada semua orang, ia adalah tetap ayahmu!” jerit Galuh.

Kemudian Jaya merasakan pegangan tangan Galuh di tangannya mengendur, isak tangis Galuh semakin kencang, “Bahkan akupun merelakan dendamku, melupakan dendam kesumat ini! Ini semua demi kamu Jaya! Aku tidak ingin mempunyai seorang suami yang tangannya belumuran darah ayahnya sendiri, aku ingin kita bisa membangun keluarga kecil yang bahagia serta shaleh!”

Jaya amat tertonjok hatinya oleh ucapan Galuh tersebut, dendam kesumat kepada ayah kandungnya sendiri masih bersemayam serta semakin panas membakar di hatinya, namun mendengar apa yang Galuh katakan, bahwa ia saja yang sangat mendendam kepada Prabu Kertapati dapat merelakan dendamnya, Jaya merasa apa yang dikatakan oleh Galuh adalah benar, apa yang dikatakan oleh gadis itu terasa amat menyejukan hatinya.

Setelah beberapa saat terdiam untuk berpikir ia pun mengangguk-nganggukan kepalanya, “Ya… ya kau benar Galuh... Akan tetapi bagaimana dengan titah guruku untuk menghentikan sepak terjang Prabu Kertapati?”

Terdengar suara desahan nafas berat Si Dewa Pengemis, ia membuka mulutnya lagi, “Kau benar Jaya... Tapi sekarang keadaannya sudah berubah, Kyai Supit Pramana tentu tidak tahu kalau Prabu Kertapati adalah ayah kandungmu sendiri, dan motif serta tujuanmu sudah berubah, sudah bukan untuk menghentikan kelaliman Prabu Kertapati lagi, melainkan untuk membalas dendam... Aku yakin Gurumu tidak akan meridhaimu untuk membalas dendam…”

Jaya terdiam mendengar ucapan si Dewa Pengemis, tangannya mulai membelai-belai kepala Galuh yang bersandar di bahunya, gadis itu masih menangis terisak dengan hebat. “Jaya, kalau Galuh saja yang seluruh anggota keluarganya tewas oleh sepak terjang Prabu Kertapati dapat merelakan dendamnya kenapa kamu tidak? Jaya ia adalah gadis yang baik dan hendak menuntunmu ke arah yang benar…” lanjut si Dewa Pengemis.

Si Dewa Pengemis terdiam sejenak, kepalanya mendongkak menatap bulan dengan matanya yang buta, kembali ia memainkan kecapinya membawakan lagu yang yang lain lagi namun tetap bernada sendu menyejukan. 

“Dahulu kala tersebutlah satu negeri kecil yang makmur bernama Cadas Ngampar, negeri itu adalah negeri bawahan Pajajaran yang setia. Pendiri negeri tersebut adalah Sang Hyang Baladewa yang merupakan salah satu putra Prabu Niskala Wastukencana dari salah seorang selirnya. Alkisah 21 tahun yang lalu, pada saat kerajaan Cadas Ngampar menerima Islam masuk di bawah pemerintahan Prabu Anggajaya... Sunan Gunung Jati melamarkan Adipati Tegal dari wilayah Demak yang masih merupakan keturunan Raden Patah kepada putri Prabu Anggajaya sebagai lambang pengikat persaudaraan, Prabu Anggajaya menerima lamaran itu, hingga akhirnya putrinya, Putri Sekar Ningrum menikah dengan Raden Margoloyo sang Adipati Tegal.

Setelah menikah, Putri Sekar Ningrum pun diboyong ke Tegal, dari pernikahannya mereka dikaruniai seorang putri yang diberi nama Galuh Parwati, putri semata wayang mereka itu menjadi tumpuan kasih sayang dari kedua orang tuanya dan seluruh keluarga Kadipaten Tegal, hari-hari Raden Margoloyo dan Putri Sekar Ningrum pun selalu diisi dengan kebahagian berkat kehadiran buah hati mereka. 

Lima tahun kemudian, Prabu Anggajaya mengirimi mereka surat bahwa ia sangat rindu pada putrinya dan ingin sekali melihat cucunya, maka Raden Margoloyo dan Putri Sekar Ningrum pun memutuskan untuk mengunjunginya di Cadas Ngampar. Namun naas, pada saat mereka berkunjung ke Cadas Ngampar, negeri ini diserang oleh Mega Mendung secara mendadak.

Raden Margoloyo dan seluruh pasukan Tegal yang dibawanya pun ikut mempertahankan Cadas Ngampar, akan tetapi kekuatan Mega Mendung terlalu perkasa untuk dihadapai pasukan Cadas Ngampar yang dibantu oleh pasukan Tegal, Prabu Anggajaya tewas terbunuh oleh Prabu Kertapati, Raden Margoloyo pun tewas terbunuh Prabu Kertapati dan pasukannya.

Disaat mereka membantai seluruh keluarga kerajaan, dengan putus asa Putri Sekar Ningrum membawa lari putrinya dari kejaran prajurit-prajurit Mega Mendung, sayang prajurit-prajurit Mega Mendung berhasil mengejarnya dan melukai Sang Putri yang melindungi putrinya, aku yang kebetulan lewat langsung menyelematkan mereka, namun kasip, Putri Sekar Ningrum meninggal karena terluka sangat parah, sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia menitipkan putrinya yang bernama Galuh Parwati padaku…” (kasip = terlanjur)

Jaya yang mendengar cerita dari si Kakek amat terkejut, ditatapnya lekat-lekat gadis yang sedang menangis di bahunya tersebut, ia sangat tidak menyangkanya karena selama ini Galuh selalu menutupi identitas dirinya, si Kakek tertawa kecil, “Hehehe... Betul, Galuh masih mempunyai garis keturunan Raja, trah dari Raden Fatah Sultan pertama Demak Bintoro mengalir didalam darahnya, ia juga masih mempunyai trah Prabu Niskala Wastukencana meskipun ayahnya adalah orang Wetan yang masih keturunan Majapahit, Almarhum Prabu Anggajaya sangat bijak, ketika ia berhijrah masuk Islam, maka ia tidak mempedulikan larangan Estri Ti Luaran yang ditetapkan oleh ayahnya sendiri, ia benar-benar meresapi ajaran Islam yang disampaikan oleh Sunan Gunung Jati…”

Jaya masih terdiam seribu bahasa, kini ia semakin bingung harus berbuat apa, si Kakek pun bersuara lagi, “Nah Jaya, kau sudah mengetahui bagaimana kisah hidup Galuh dan asal muasal persoalan dendamnya pada Prabu Kertapati, ia menyaksikan bagaimana ayahnya tewas dibunuh Prabu Kertapati dan ibunya tewas direncah prajurit Mega Mendung, namun sekarang ia rela mengikhlaskan dendamnya demi kamu, demi bisa hidup bersamamu, kalau Galuh saja bisa mengikhlaskan dendamnya bagaimana denganmu?”

Jaya masih terdiam membisu, si Kakek tersenyum, “Aku yakin kalau Kyai Supit Pramana akan mahfum kalau kau tidak bisa melaksanakan titahnya, mana mungkin kau akan berhadapan dengan ayahmu sendiri bukan? Betapa besarnya dosamu kalau sampai kau mencelakai ayah kandungmu sendiri!”

Kepala Jaya terkulai lemas, ditatapnya sebentar wajah Galuh yang masih sesegukan menangis, ia lalu menatap wajap wajah si Kakek, ia pun menangguk setelah menetapkan pilihan hatinya, “Baiklah... Galuh dan kamu benar orang tua... Bagaimanapun Prabu Kertapati adalah ayahku sendiri, dan tentu Ibuku akan sangat bersedih kalau aku sampai bentrok dengan ayahku…”

Si Dewa Pengemis mengangguk sambil tersenyum, ia menghentikan permainan kecapinya, sekarang matanya yang buta seolah bermata menatap Jaya dengan tajam, “Bagus! Nah kalau begitu kita masih punya persolan lain, sebenarnya hal inilah yang ingin aku sampaikan pada kalian berdua!”

Jaya dan Galuh saling pandang kemudian menunggu dengan Jantung berdebar, “Kalian sudah cukup lama bersama berduaan, meskipun aku tahu kalian tidak melakukan apa-apa, tapi... Kalian pasti tahu kalau menurut agama maupun adat istiadat hal itu tidaklah baik, maka kau tahu apa yang harus kau lakukan pada muridku Jaya?”

Galuh terperanjat dan melepaskan kepalanya dari bahu Jaya, Jaya pun cukup terkejut dengan sentilan si Dewa Pengemis meskipun ia sudah tahu kalau hal ini akan terjadi, Jaya menoleh sebentar pada Galuh yang menundukan kepalanya, ia lalu menatap si Dewa Pengemis, pemuda ini menghela nafas sambil menahan debaran jantungnya yang menghebat, kemudian menjawab, “Aku mengerti Dewa Pengemis, aku akan bertanggung jawab... Baiklah secepatnya aku akan melamar Galuh Parwati!”

“Kapan?” Tanya si Dewa Pengemis dengan wajah serius.

“Kalau Galuh bersedia, aku akan membawanya dan mengajakmu serta ke Bukit Tagok Apu, aku akan meminta Guruku Kyai Pamenang untuk melamarkan Galuh padamu Dewa Pengemis…” jawab Jaya.

“Bagaimana Galuh?” Tanya si Dewa Pengemis pada Galuh.

“Aku tidak mau!” tolak Galuh.

“Apa?! Kenapa kau tidak mau?” tanya Gurunya.

“Karena dia terpaksa! Dia hanya ingin bertanggung jawab karena tekanan dari Guru! Sudah! Aku memilih menjadi pertapa perawan seumur hidupku!” tukas Galuh.

“Galuh…” desah Jaya dengan lembut, “Aku hendak melamarmu bukan karena terpaksa… Seperti yang aku katakan padamu kemarin-kemarin bahwa aku mencintaimu… Aku tulus mencintaimu Galuh…” aku Jaya.

Galuh terkesiap mendengar pengakuan dari Jaya untuk yang kedua kalinya tersebut, ya meskipun dia telah mendengar pengakuan cinta dari Jaya beberapa hari yang lalu, kali ini rasanya sungguh lain, kali ini pengakuan dari pria tersebut sangat menghentak bathinnya. “Benarkah itu?”

“Untuk apa aku berbohong Galuh? Kau… Kau telah meluluh lantakan hatiku… Jadi aku mohon, maukah ku membantuku untuk menyusun kembali kepingan-kepingan hatiku dan menemaniku mengarungi samudera kehidupan ini?” pinta Jaya.

“Bagaimana Galuh? Kau sudah mendapatkan pengakuan dari diri pria yang kau cintai, apakah kau masih ingin menjadi pertapa perawan seumur hidupmu atau bersedia untuk dilamar oleh Jaya Laksana?” tanya Gurunya dengan tegas.

Galuh mengangguk perlahan dan menjawab malu-malu dengan suara yang amat pelan, “Hamba bersedia guru…”

Jaya mengangguk, “Baiklah, besok subuh kita langsung pergi ke Tagok Apu, setelah itu kita tinggalkan negeri Mega Mendung ini, kita akan hidup tentram dan damai jauh dari Mega Mendung!” Galuh mengangkat kepalanya, sambil tersenyum manis ia menganggukan kepalanya pada Jaya.

***


Fact About Galuh Parwati :

Para sahabat pembaca semua, bagaimana dengan kisah tentang asal-usul jagoan cewek kita yang cantik namun tengil si Galuh Parwati ini? Semoga bisa menjawab rasa penasaran sahabat semua tentang identitas Neng Galuh dan bisa menghibur sahabat semua ya. 

Penulis juga mohon maaf kalau dirasa episode kali ini lebih pendek dari biasanya, maka sebagai gantinya penulis buat rubrik Fact About Galuh Parwati disini karena rupanya diantara para tokoh utama dalam kisah “Wasiat Iblis” ini Galuh Parwati lah yang paling difavoritkan oleh para pembaca melebihi Jaya dan Mega, penulis sengaja memisahkan Fact About Galuh ini dari cerita untuk menyapa para sahabat pembaca semua, semoga sahabat semua berkenan ya, salam…. Hehehehe…

Nah, selain kisahnya diatas, bagaimana dengan fakta lainnya si pendekar yang tengil dan galak namun berhati lurus ini sebagai muridnya si Dewa Pengemis sampai akhirnya mendapat julukan yang begitu menggetarkan dunia persilatan di Tanah Pasundan sebagai si Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul? Mari kita kupas tuntas disini ya…

Galuh Parwati ditemukan oleh Si Dewa Pengemis di hutan sekitar Cadas Ngampar dalam keadaan yang sangat menyedihkan, gadis kecil berusia 5 tahun itu sedang menangis dengan histeris sambil memeluk jasad Ibunya yang baru saja terbunuh oleh pasukan Mega Mendung, ketika ia hampir saja tewas dibunuh oleh para prajurit Mega Mendung, si Dewa Pengemis langsung menolongnya dan membawanya pergi meninggalkan wilayah Cadas Ngampar.

Waktu itu si Dewa Pengemis belum mempunyai seorang murid pun karena ia tidak ingin seluruh ilmunya dijadikan ilmu untuk membunuh atau melukai sesama manusia, tetapi ia sangat merasa iba kepada nasib Galuh yang masih sangat kecil itu sudah kehilangan segala-galanya, maka ia pun akhirnya mengangkat Galuh sebagai muridnya yang pertama. Begitu besarnya rasa sayangnya kepada Galuh sehingga ia mengangkat gadis itu menjadi anak angkatnya.

Sepanjang perjalanannya bersama Galuh, si Dewa Pengemis banyak mendapati anak-anak kecil yang sudah yatim piatu akibat perang yang berkepanjangan di Tanah Pasundan saat itu, karena merasa sangat iba pada nasib mereka, akhirnya ia pun mengangkat mereka semua sebagai murid-muridnya dan dipersaudarakanlah mereka antara satu dengan yang lainnya, jadilah saat itu juga Galuh mempunyai banyak sekali saudara seperguruan. Ia membawa mereka semua ke Bukit Tunggul yang merupakan tempat tersembunyi di Mega Mendung sebagai tempat tinggal mereka, disana si Dewa Pengemis mendirikan satu perguruan yang isinya adalah anak-anak dari korban perang.

Diantara puluhan muridnya, hanya kepada Galuhlah si Dewa Pengemis mewariskan hampir seluruh ilmunya, jurusnya yang paling hebat yakni jurus “Garuda Emas Terbang Menerjang Badai” dan 3 ajiannya yang terhebat yakni “Ajian Hitut Semar”, “Pukulan Badai Laut Kidul”, dan “Telapak Kawah Tunggul” hanya diturunkan kepada Galuh.

Tetapi sesuai dengan ujar-ujar “Seorang Guru Tidak Akan Menurunkan Seluruh Ilmunya Kepada Muridnya”, si Dewa Pengemis tidak menurunkan 2 ajian pamungkasnya kepada Galuh yakni “Ajian Genta Sukma” yang merupakan ilmu suara yang ia modifikasi menjadi ajian “Kecapi Sukma”, dan pukulan inti es berwujud sinar pelangi bernama “Pukulan Pelangi Kematian” yang merupakan salah 1 dari 7 pukulan paling mematikan di Jagat Persilatan ini (Selain Pukulan Gerhana Matahari dan Sirna Raga). Ia tidak mengajarkannya kepada Galuh karena Galuh mempunyai sifat keras kepala, pemarah, serampangan, dan ugal-ugalan, sehingga ia belum mempercayainya untuk memiliki kedua ajian pamungkasnya tersebut. Coba bayangkan kalau Galuh sudah memiliki ajian “Pukulan Pelangi Kematian” dan dia kelepasan menggunakannya pada Jaya karena sedang kalap, mungkin Wasiat Iblis ini akan tamat pas episode 45 kemaren hehehe…

Namun diluar itu semua, bukan tanpa alasan kalau Si Dewa Pengemis amat menyayangi dan membanggakan murid tertuanya itu, dia memiliki jiwa keadilan yang sangat tinggi, tipe orang yang suka menolong tanpa berpikir panjang, dan hatinya sangat baik dan lembut meskipun seringkali tidak nampak dari luar karena sifat ugal-ugalan, keras kepala dan keras hatinya tersebut. Galuh tidak akan segan-segan menolong orang yang membutuhkan pertolongannya tanpa memikirkan keselamatannya sendiri.

Galuh juga adalah cewek yang cuek pada penampilan dan agak-agak jorok (suka malas mandi) karena terbiasa menjalani hidupnya yang slengean dan menjadi pengemis sehingga ia mempunyai bau badan yang kecut menyengat. Selain itu, salah 1 efek samping dari memiliki ajian “Hitut Semar” dan “Telapak Kawah Tunggul” memang membuat aroma tubuhnya menjadi menyengat, sehingga banyak orang bisa mengenali Galuh dari bau tubuhnya yang menyengat itu termasuk Jaya Laksana.

Sebenarnya si Dewa Pengemis memiliki cara untuk menangkal efek samping dari kedua ajian ciptaannya tersebut, namun ia sengaja tidak memberikan penangkalnya kepada Galuh karena ia ingin Galuh mendapatkan seorang pria yang akan mendampinginya dengan menerima Galuh apa adanya, juga agar muridnya ini bisa memperbaiki kebiasaannya yang selalu hidup dengan cuek dan seenaknya tersebut. 

Selain penangkal yang dimiliki oleh si Dewa Pengemis tersebut, satu-satunya cara untuk menghilangkan bau menyengat di tubuh Galuh adalah gadis itu harus merobah gaya hidupnya yang seenaknya itu dan mandi dengan air hangat yang diberi satu ramuan khusus. 

Nah begitulah, ternyata kisah hidup Neng Galuh itu pahit ya, padahal dia selalu nampak ceria dengan gayanya yang slengean dan agak2 sableng gitu ya… Apakah pada akhirnya dia akan menemukan kebahagiaan dalam hidupnya? Ikuti terus kisah “Wasiat Iblis” ini ya hehehe…