Episode 264 - Bantuan Datang



Gempuran demi gempuran semakin merajalela. Para serdadu bayaran yang saat ini berada di bawah komando Ogan Lemanta, menyerang membabi buta. Tujuan mereka adalah tak lain menyandera seorang anak remaja dari kalangan bangsawan Wangsa Syailendra. Diketahui umum, bahwasanya para bangsawan Wangsa Syailendra jarang sekali meninggalkan Ibukota Minangga Tamwan. Sebuah kesempatan nan teramat langka. 

“Hei, Ogan Lemanta! Dari mana kau tahu remaja itu adalah anggota keluarga bangsawan dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang?”

“Benar... Kau adalah anggota baru... Mengapa kami harus mempercayai kata-katamu!?” 

Sebagian dari serdadu bayaran yang lebih tua, atau yang sudah lebih lama bergabung dengan Partai Iblis mempertanyakan. Bahkan, mereka mencurigai Ogan Lemanta yang memang diketahui belum lama ini bermukim di Pulau Satu Garang.

“Karena aku adalah mantan Senopati di Kemaharajaan Cahaya Gemilang!” tanggap Ogan Lemanta cepat. Berwibawa sungguh tokoh yang satu ini. 

Sejumlah serdadu bayaran muda menoleh takjub. Betapa mereka kagum akan sosok lelaki dewasa itu. Gelar Senopati bukanlah jabatan sembarang, karena paling tidak sudah menguasai sebuah benteng. Terlebih, menjadi Senopati di Kemaharajaan Cahaya Gemilang pastilah sosok Ogan Lemanta sangat berprestasi. Diketahui umum bahwa prajurit-prajurit di sana berjumlah puluhan ribu. Persaingan di antara para prajurit sangat ketat, sehingga hanya mereka yang pintar dan gagah berani sahaja yang berhak menjabat sebagai kepala benteng.

Tambahan lagi, yang membuat tatapan mata para serdadu bayaran muda semakin berbinar, adalah kenyataan bahwa Ogan Lemanda meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Atas alasan apa!? Pastilah sosok tersebut melakukan kejahatan yang sangat besar. Sungguh layak menjadi idola. 

Benarkah...?” Nada meragu terdengar mempertanyakan. 

“Tanyakan saja kepada mereka...” jawab Ogan Lemanta sambil menunjuk ke hadapan. 

Beberapa prajurit yang ikut melarikan diri bersama Ogan Lemanta mengangguk cepat. Di antara serdadu bayaran yang paling bersemangat hendak mendobrak dinding pelindung, mereka terlihat paling menonjol karena berada di garis depan. Kebencian dan dendam para mantan prajurit tersebut kepada bangsawan Wangsa Syailendra yang satu ini sama dalamnya dengan pimpinan mereka. 

“Cih! Dia akan memperoleh imbalan besar dari Kerajaan Satu Garang bilamana berhasil menciduk seorang bangsawan dari Wangsa Syailendra...,” bisik seorang serdadu bayaran tua. Betapa ia iri dengan sepak terjang Ogan Lemanta sebagai ‘anak baru’ di antara para serdadu bayaran dari Pulau Satu Garang. 

“Benar... sebelum menanggapi permintaan bantuan ini pun, ia bersama regunya telah berhasil menerobos masuk ke rumah seorang saudagar yang dijaga ketat. Di sana mereka menggondol harta benda yang jumlahnya tak sedikit...”

“Sialan!”

Bintang Tenggara mengamati dalam diam. Dengan gempuran yang berdatangan tanpa jeda, dapat diperkirakan usia dari dinding pelindung yang saat ini membentengi adalah sangat pendek. Jangankan dua jam, masih bertahan selama satu jam saja sudah dapat disebut sebagai keajaiban. Meski masih terlihat tenang, anak remaja itu diam-diam meminta Komodo Nagaradja untuk membantu mengeluarkan salah satu lencana yang terdapat di dalam ruang dimensi penyimpanan. 

“Kakak Kurus Kerempeng dan Kakak Kusir, bilamana dinding pelindung nantinya runtuh, segeralah melompat ke atas kuda dan tinggalkan tempat ini.” Bintang Tenggara berujar tanpa ragu. Betapa tinggi rasa percaya diri anak remaja yang satu ini. 

Kedua tokoh hanya menoleh dalam diam. 

“Jangan khawatirkan diriku...,” tambah Bintang Tenggara saat mendapati keraguan dari sorot mata kedua rekan. 

“Yang Mulia...,” pemuda kurus kerempeng akhirnya menanggapi. “Tuan Malin Kumbang menitipkan keselamatan Yang Mulia kepada kami berdua sampai beliau kembali....”

“Bagaimana mungkin kami meninggalkan Yang Mulia...,” sambung si kusir, seorang lelaki dewasa muda. 

Bintang Tenggara menyadari bahwa keteguhan hati kedua tokoh tersebut tiada dapat digoyahkan. Sungguh pengabdian yang sangat besar kepada tuan mereka, sampai sanggup mengorbankan jiwa dan raga. Bagi kebanyakan ahli, keadaan di mana mereka berada saat ini, sudah sama saja dengan menanti ajal yang hampir pasti datang menjemput. Mana mungkin melepaskan diri dari kepungan pasukan serdadu bayaran berjumlah limapuluh ahli yang sangat berpengalaman dalam peperangan. 

“Hei, kalian dua pesuruh Saudagar Senjata Malin Kumbang!” suara menghardik datang dari pasukan serdadu bayaran. “Menyerahlah... Serahkan anak itu, dan kalian berdua akan berkesempatan menghirup udara lebih lama lagi!” 

“Tak ada gunanya kalian mengorbankan nyawa...”

“Jangan bodoh! Nanti mati konyol!”

Tatap mata si kurus kerempeng dan si kusir semakin mantap. Gertakan dan ujaran yang bertujuan untuk melemahkan moral tiada dapat menembus keteguhan hati... Sebaliknya, semangat kedua tokoh tersebut semakin terbakar dan menyala-nyala bak kobaran api unggun di tengah dinginnya malam. 

“Dum! Dum! Dum!” 

Gempuran demi gempuran terus menghujani. Sesuai perkiraan, kini dinding pelindung telihat bergegar menahan setiap gempuran!

“Kakak Kurus Kerempeng dan Kakak Kusir ikuti aba-abaku!” ujar Bintang Tenggara yang sudah terlihat bersiaga. 

“DUAR!”

Cangkang siput meretak, disusul dengan dinding pelindung yang hancur berkeping ibarat kaca yang pecah berserakan. Di saat yang sama, para serdadu bayaran merangsek maju. Beringas. Siapa di antara mereka yang berhasil menangkap anak remaja bangsawan Wangsa Syailendra, maka dapat dipastikan bahwa dia akan memperoleh pembagian yang paling besar nantinya. 

“Merunduk!” teriak Bintang Tenggara sambil merentangkan lengan kanan, dengan posisi jemari seolah hendak memegang sesuatu. Sementara itu, di dalam genggaman tangan kiri, sesuatu mirip cangkir bertutup telah dikeluarkan. 

Yang tak satu pun serdadu bayaran dan kedua tokoh di dekat anak remaja itu ketahui, adalah lorong dimensi ruang yang sedang membuka di permukaan tanah. Seorang perempuan dewasa nan mengerikan, dengan berbagai macam gagang senjata tertancap di sekujur tubuh, telah mengemuka. Meskipun berparas cantik, cara kedatangannya dengan gaya merangkak menambah keangkeran. Andai saja pemandangan ini dapat disaksikan oleh para serdadu bayaran, di tengah suasana malam purnama seperti ini, maka kemungkinan besar mereka akan lari tunggang langgang. 

Sebagai catatan, sebagaimana biasa, Dewi Anjani datang memanfaatkan lorong dimensi ruang. Bukanlah Bintang Tenggara yang merapal formasi segel untuk membuka lorong tersebut, melainkan Cembul Manik Astagina yang mendapat ‘perintah’ melalui puisi pemanggilan nan cukup panjang. 

“Golok Mustika Pencuri Gesit!” 

Tepat di saat si kurus kerempeng dan si kusir merunduk, salah satu dari delapan senjata pusaka yang biasa dikerahkan oleh Sang Maha Patih, tiba di dalam genggaman. Tubuh Bintang Tenggara mulai berputar. Dalam satu putaran penuh, ia pun melibaskan bilah angin! 

Para serdadu bayaran nan terbuai dan tak sabar, yang berada di garis terdepan pengepungan, terlambat menyadari serangan yang datang. Untung saja reflek mereka cukup baik untuk segera melindungi diri. Kendatipun demikian, sontak tubuh mereka terpental karena tak kuasa menahan kekuatan tebasan. Tak kurang dari dua puluh serdadu bayaran terjengkang dan memundahkan darah!

Di saat yang sama, si kusir, yang sangat piawai dalam menunggang kuda, menerobos barisan serdadu bayaran yang paling tipis. Berbekal langkah petir dari jurus kesaktian, Bintang Tenggara mengekor. Paling belakang, si kurus kerempeng menyerang para serdadu bayaran baik di depan, samping, maupun belakang. Sungguh senjata pusaka berbentuk kuas itu, yang saat ini belum diketahui namanya, sangat sulit dihindari. Di dalam kemelut, sulit menebak kepada siapa si kurus kerempeng menatap demi mengeluarkan kemampuan senjata pusaka tersebut. 

Si kusir, yang sepantasnya cukup mengenal wilayah karena bekerja sebagai kusir, memacu kuda demikian pantas. Ia hendak segera menuju ibukota Kemarajaan Pasundan. Di sana, tentunya mereka akan dapat berlindung dari pengejaran. Bahkan, para serdadu bayaran kemungkinan menghentikan pengejaran bila telah memasuki wilayah ibukota. 

Bintang Tenggara terlihat kesulitan menjaga jarak. Sungguh kuda yang ditunggangi penunggang nan piawai demikian luwes langkah kakinya. Di belakang, karena kurang pandai menunggang kuda, dan masih melancarkan serangan-serangan kepada para pengejar, si kurus kerempeng terlihat jauh lebih lambat. 

“Duar!” 

Sebuah serangan membuat si kurus kerempeng terkejut dan kehilangan keseimbangan. Pemuda itu pun terjatuh dari atas kuda yang ia tunggangi! 

“Tinggalkan saja!” ujar si kusir menyaksikan seorang anak remaja di belakang sengaja memperlambat langkah berlari. 

Di saat yang sama, si kusir telah memerintahkan binatang siluman Kuda Altai Tavan Bogd berwarna hitam, untuk meninggalkan si kurus kerempeng yang telah jatuh. Kuda tersebut kini melaju ke arah Bintang Tenggara dengan tujuan menjemput, lalu memacu kecepatan memasuki wilayah ibukota yang sudah tak jauh di hadapan!

Akan tetapi, bukan Bintang Tenggara namanya bilamana tak melakukan tindakan ceroboh! Serta merta anak remaja tersebut memutar langkah. Ia berniat menjemput si kurus kerempeng yang terlihat baru hendak bangkit berdiri. Di saat yang sama, tak kurang dari empat puluh serdadu bayaran, yang terlihat tak beda dengan bandit gunung, semakin memperpendek jarak. 

“Kakak Kurus Kerempeng, apakah dikau…” 

“Apa yang Yang Mulia lakukan!? Mengapa kembali menjemput diriku!?” 

“Duar!” 

Sebuah ledakan mengemuka. Akan tetapi, dengan merapal teleportasi jarak dekat dari Bentuk Ketiga jurus Silek Linsang Halimun, Bintang Tenggara telah membawa pemuda kurus kerempeng menjauh dari wilayah ledakan. 

Sebagai catatan, entah mengapa, sebagian besar dari serdadu bayaran memiliki kesaktian unsur api. Mungkin unsur kesaktian ini memang sengaja dikembangkan demi kepentingan perang. Mungkin kepribadian para pemilik unsur kesaktian api adalahpaling sesuai dalam peperangan. Apa pun itu, tujuan para serdadu di Pulau Satu Garang dan Kerajaan Garang memanglah menabuh genderang perang dengan Negeri Dua Samudera. Hanya kesempatan saja yang belum terbuka bagi mereka untuk bergerak. Oleh karena itu, demi menyambung hidup, mereka pun menyambi sebagai serdadu bayaran atau, dalam kesempatan ini, sebagai bandit gunung. 


Di saat yang sama, tanpa disadari oleh para serdadu bayaran serta Bintang Tenggara dan kedua rekannya, sebuah gerbang dimensi berpendar dan membuka tak jauh dari tempat mereka berada. Seorang lelaki tua yang mengenakan baju zirah perang, terlihat melangkah pelan. Aura yang ia pancarkan terasa demikian kejam. Setiap kerut di wajahnya seolah mencerminkan kelipatan seratus atas jumlah nyawa yang pernah ia bantai. Sorot matanya jenuh. 

Lelaki tua itu menatap ke arah di mana pengejaran sedang berlangsung. Ia menebar mata hati, kemudian melayang ringan. Kedua tangan dilipat ke belakang, ia lalu terbang perlahan. Tiada tergesa, karena ia mengetahui bahwa sehebat apa pun sasaran berkelit, kemungkinan besar akan tertangkap bahkan tanpa campur tangan dirinya di malam ini. Kedatangannya, hanya hendak memastikan bahwa kesempatan yang telah terbuka lebar, jangan sampai terlepas dari sela-sela jemari. 


Seekor binatang siluman kuda datang menjemput Bintang Tenggara dan si kurus kerempeng. Si kusir, terlihat menanti sebal di kejauhan. Andai saja sang Yuvaraja dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang itu tak berbuat seenak dengkulnya, maka kemungkinan besar si kusir telah berhasil membawa mereka masuk ke dalam wilayah aman, yaitu ibukota Kemaharajaan Pasundan di depan sana. 

“Awas!” sergah Komodo Nagaradja. 

“Duar!”

Terlambat! Ledakan telak mendarat tepat di punggung Bintang Tenggara! Anak remaja ini tadinya sedang membantu si kurus kerempeng yang tertatih-tatih menaiki binatang siluman kuda. Karena terkejut akan ledakan yang hadir terlalu dekat, maka binatang siluman kuda bersama si kurus kerempeng di pundaknya, melecut cepat meninggalkan Bintang Tenggara yang terjungkal jatuh.

Para serdadu bayaran melesat semakin cepat! Menyaksikan sasaran mereka terjatuh dan tertinggal, maka gemerincing keping-keping emas dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang seolah telah terdengar di dalam benak setiap satu dari mereka. 

“Duak!” 

Bintang Tenggara mengeluarkan Perisai Tunggul Waja yang tersimpan di dalam cincin Batu Biduri Dimensi. Sebagai catatan, menyimpan dan mengeluarkan sesuatu dari ruang penyimpanan Batu Biduri Dimensi tiada perlu merapal formasi segel karena batu tersebut memiliki sifat yang unik. Yang perlu seorang ahli lakukan adalah menebar mata hati, dan memberi perintah akan apa yang hendak disimpan atau dikeluarkan. Oleh sebab itu, bahkan ahli Kasta Perunggu Tingkat 1, yang baru hendak memulai menapaki keahlian pun sudah dapat menggunakan batu tersebut. Yang diperlukan adalah jalinan mata hati saja.

Perisai Tunggul Waja, adalah sungguh menyedihkan nasibnya. Akibat digunakan berkali-kali menahan gempuran curi-curi oleh Balaputera Tarukma beberapa waktu lalu, bentuknya sudah tak karuan lagi sehingga tak layak disebut sebagai perisai. Dari bentuknya itu, saat ini perisai tersebut lebih layak dinamai sebagai Wajan Tinggal Dibuang. Bahkan sebagai wajan pun, tak akan ada yang hendak menggunakannya. 

Kendatipun demikian, Wajan Tinggal Dibuang masih cukup alot dalam menahan pukulan. Dengan bantuan alat tersebut, Bintang Tenggara menerima serangan dengan sengaja, dan memanfaatkan tenaga hantaman untuk melontarkan diri ke belakang. Tindakan ini sudah terlalu sering anak remaja itu lakukan dalam upaya melarikan diri. Menahan nyeri di punggung ia kemudian melesat cepat. 

Akan tetapi, tanpa diduga-duga, seorang serdadu bayaran memiliki kecepatan jauh di atas rata-rata. Bahkan, berbeda dengan kebanyakan serdadu bayaran dengan kesaktian unsur api, ia memiliki kesaktian unsur angin. Ditambah dengan Kasta Perak Tingkat 5, tokoh tersebut mengambil langkah memutar sejak awal pengejaran. Tak lain dan tak bukan, ia adalah Ogan Lemanta! 

Bintang Tenggara berlari tepat ke arah mulut harimau. Mengandalkan kecepatan, Ogan Lemanta segera melancarkan serangan dari arah depan! 

Tak punya banyak pilihan, Bintang Tenggara berkelit ke samping. Ogan Lemanta pun sigap mengubah arah, cengkeraman tangannya sedikit lagi menjangkau tengkuk Bintang Tenggara. 

“Duar!” 

Setiba sebuah ledakan kembali diterima oleh Perisai Tunggul Waja, yang daya dorongnya tentu saja dimanfaatkan oleh Bintang Tenggara untuk melontarkan tubuh menjauh dari cengkeraman Ogan Lemanta! 

“Apa yang engkau lakukan!?” sergah Ogan Lemanta ke arah yang berlawanan. 

Seorang serdadu bayaran tua, sama-sama berada pada Kasta Perak Tingkat 5, terlihat baru saja melempar bola api. Raut wajahnya teramat polos, sampai terkesan betul sengaja dibuat-buat. 

“Hendak menjatuhkan sasaran, tentunya!” tanggap serdadu tua itu sambil menyusul. 

“Omong kosong!?” hardik Ogan Lemanta. “Kau sengaja mencegah aku menangkap anak itu terlebih dahulu!” 

“Jaga mulutmu, wahai anak baru!” Si serdadu tua menghardik. “Beraninya kau melontar tuduhan tak beralasan seperti itu!” 

Ogan Lemanta terus memacu langkah. Tiada gunanya berdebat dengan serdadu bayaran tua yang sudah bau tanah. Meski, akan sulit baginya menangkap hidup-hidup anak remaja bangsawan Wangsa Syailendra bila sengaja dihalang-halangi. Apalagi, sedari awal, anak remaja tersebut belum sekali pun merapal formasi segel yang menjadi andalan dari Wangsa Syailendra trah Balaputera. Sungguh pelik…

“Hei, Pak Tua!” ujar Ogan Lemanta. “Silakan kau ambil seluruh jatah emasku nanti. Bagiku, menangkap remaja itu jauh lebih bernilai daripada sekadar keping-keping emas!

Si serdadu tua hampir melompat girang. Sambil mengangguk, segera ia melontar bola-bola api jauh ke sisi dan hadapan Bintang Tenggara. Walau tiada satu pun bola-bola api yang mengenai, namun ruang gerak si anak remaja menjadi sangat terbatas. Kesempatan ini segera dimanfaatkan oleh Ogan Lemanta yang kini dapat dengan mudah membaca arah berlari sasaran. 

Bintang Tenggara tersudut. Kecepatan langkah Ogan Lemanta semakin meningkat. Cengkeraman jemarinya sudah akan mencengkeram tengkuk… 

“Grab!” 

Tepat di saat Bintang Tenggara hendak melakukan teleportasi jarak dekat, pergelangan tangan Ogan Lemanta tertangkap! Pelakunya adalah seorang lelaki dewasa muda, yang sekujur tubuhnya dibalut perban mirip seorang pesakitan. 

Sungguh perkasa dengan Kasta Emas Tingkat 2, kedatangannya ini bukan tanpa alasan. Pada alinea ke-14 di atas, Bintang Tenggara sempat meminta bantuan melalui sebuah lencana. Berada di wilayah Tanah Pasundan, bantuan yang datang untuk dirinya, sebagai sesama anggota Pasukan Telik Sandi, adalah… Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti, Sangara Santang! 


Cuap-cuap:

Kok belakangan sulit balas komentar, ya...?