Episode 263 - Kasta Emas



Malam semakin larut. Sang purnama menggantung tinggi di angkasa raya. Bebintang terlihat bertebaran layaknya ribuan kunang-kunang yang beterbangan riang. Kehadiran cahaya ini membuat malam tak sendu. Sementara itu, jalanan yang tadinya lengang, berubah menjadi ramai. Tak kurang dari lima puluh ahli mengepung empat ahli dan dua binatang siluman kuda! 

Saudagar Senjata Malin Kumbang mengeluarkan sebentuk cangkang siput dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi. Setelah diletakkan di tanah, cangkang siput tersebut lalu membentuk semacam formasi segel berwujud dinding pelindung mirip kubah tak kasatmata yang melingkupi mereka. Bilamana para ahli baca nan budiman masih mengingat, Saudagar Senjata Malin Kumbang pernah memanfaatkan benda yang sama untuk melindungi diri dari Aksamala Ganesha miliki Lintang Tenggara di dalam Episode 163. Walau, saat itu, dinding pelindung tersebut hancur berkeping. 

Bintang Tenggara mengamati formasi segel yang dihasilkan oleh cangkang siput tersebut. Tentu kemampuannya melihat formasi segel tiada disegel, hanya kemampuan merapal saja yang tersegel. Dirinya pun masih menyimpan sebuah cangkang siput, yang bila tak salah berfungsi untuk memutus jalinan mata hati antara pawang dengan binatang silumannya. Terlepas dari itu, ia cukup takjub dengan cangkang-cangkang siput… Siapakah yang memiliki kemampuan menciptakan alat yang sedemikian bermanfaat? 

Meski tak dapat merapal formasi segel lagi, bilamana memiliki cangkang siput sejenis, maka celah kekurangan saat ini dapat sedikit ditutupi. Sungguh dunia keahlian memiliki sedemikian banyak misteri yang belum terkuak.

“Menyerahlah! Dinding pelindung itu tak akan bertahan lama!” sergah suara yang datang dari para pengepung. 

“Serahkan harta benda kalian!” 

“Serahkan nyawa kalian!” 

Saudagar Senjata Malin Kumbang kembali mengeluarkan sebuah cangkang siput. Setelah digeletakkan di tanah, serta merta sebuah lorong dimensi berpendar dan membuka. Ini adalah cangkang siput yang akan membawa mereka keluar dari mara bahaya. 

Akan tetapi, tetiba lorong dimensi yang baru hendak membuka, tetiba sirna. Di luar dinding pelindung, terlihat bahwa salah seorang serdadu bayaran memegang sebuah cangkang siput lain. Mungkinkah itu cangkang siput yang berfungsi membatalkan lorong dimensi…? Bintang Tenggara menduga-duga. 

“Dum! Dum! Dum!” 

Serangan demi serangan dari sisi luar datang silih berganti. Dinding pelindung masih cukup kuat menghadang gempuran. 

“Dinding pelindung ini tak akan bertahan lama…” ujar Saudagar Senjata Malin Kumbang sambil mengeluarkan tiga botol ramuan seukuran ibu jari, kemudian menawarkan kepada ketiga ahli yang ada bersamanya. 

Pemuda kurus kerempeng dan si kusir segera menerima botol kecil berisi ramuan tersebut. Akan tetapi, Bintang Tenggara menggelengkan kepala. Ia menolak bukan hanya dikarenakan telah usai mengisi tenaga dalam memanfaatkan jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Anak remaja itu menolak karena sebagaimana tergambar di dalam Kitab Pandai Persilatan dan Keahlian, botol kecil yang memuat ramuan berwarna keunguan itu merupakan hasil dari jurus aliran hitam yang memangsa jiwa korban-korbannya. 

Seperti diketahui oleh para ahli baca nan budiman, tenaga dalam dapat diperoleh dengan melatih tubuh, menyuling tenaga alam, mengkonsumsi ramuan sakti, atau menyerap mustika binatang siluman. Nah, jurus sakti yang satu ini menambah satu kemungkinan lagi untuk memperoleh tenaga dalam, yaitu dengan menyerap jiwa manusia.

Syaratnya, perapal jurus harus terlebih dahulu memindahkan jiwa mangsanya ke tempat penampungan. Tempat penampungan tersebut bisa apa saja, yang paling lazim adalah botol atau kendi. Hanya setelah diolah sedemikian rupa, jiwa yang tersimpan dapat diserap menjadi tenaga dalam. Kebanyakan yang menjadi korban jurus sakti ini adalah masyarakat awam atau ahli kasta rendah. 

Pemilik jurus ini menjual botol kecil 10 ml yang berisi ramuan jiwa di pasar gelap. Satu botol ukuran kecil untuk Kasta Perunggu terdiri dari ratusan jiwa masyarakat awam. Sedangkan untuk Kasta Perak, satu botol bisa mencapai seribu jiwa! Pembelinya adalah para ahli yang memerlukan sumber tenaga dalam cadangan dalam keadaan terdesak. Sumber tenaga dalam yang dihasilkan dari jurus ini diperjualbelikan dengan harga sangat tinggi. 

“Ramuan Saudagar Sesat Jiwa…,” gerutu Ginseng Perkasa. “Komodo Nagaradja, bukankah bersama Si Kutu Buku engkau telah menumpas pemilik jurus!?”

“Cih! Ternyata saat ini masih ada yang dapat merapal jurus laknat itu!” tanggap Komodo Nagaradja berang. 

Saudagar Senjata Malin Kumbang tertegun karena menyadari bahwa Bintang Tenggara sepertinya mengetahui isi di dalam botol ramuan tersebut. Bagaimana mungkin anak semuda itu dapat mengetahui tentang ramuan yang hanya dijual terbatas di pasar gelap…? Menghela napas panjang, lelaki bertubuh tambun dan berkepala gundul itu berujar, “Hanya untuk keadaan terdesak…”

Seketika itu juga, tenaga dalam pemuda kurus kerempeng dan si kusir yang hampir habis, terisi penuh seperti sedia kala. Pemuda kurus kerempeng kini dapat kembali memanfaatkan senjata pusaka berwujud alat tulis kuas dengan lebih leluasa, dan si kusir dapat terus menopang jalinan mata hati dengan kedua binatang siluman kuda miliknya. Meskipun demikian, raut wajah keduanya terlihat tegang, karena menyadari bahaya yang saat ini sedang mengepung. 

Sampai saat ini, sudah sedemikian banyak sumber daya yang dikeluarkan oleh si saudagar besar. Tak pelak lagi, bahkan kemungkinan sudah lebih dari seratus keping emas nilainya. Andai saja Bintang Tenggara yang ceroboh tak mengumbar tantangan sesuai adab keahlian, maka situasi yang berlangsung saat ini dapat terselesaikan hanya dengan menyerahkan seratus keping emas sesuai permintaan pencegat. Nilai ini sesungguhnya kecil bagi seorang Saudagar Senjata sekelas Malin Kumbang.

Untunglah, Lintang Tenggara tak berada di dekat kejadian ini. Karena bilamana menyaksikan langsung, maka tokoh tersebut akan memiliki bahan celaan terhadap Bintang Tenggara, yang dapat bertahan selama sepuluh tahun lamanya.  

Saudagar Senjata Malin Kumbang menggeretakkan gigi. Ia sepenuhnya menyadari bahwa bala bantuan serdadu bayaran menambah ahli Kasta Perak menjadi belasan jumlahnya. Akan tetapi, kekhawatiran dirinya tak hanya sampai di situ. Para serdadu bayaran dari Pulau Satu Garang sangat berpengalaman di dalam taktik peperangan. Tanpa perlindungan ahli yang berada pada Kasta Emas, jumlah serdadu bayaran saat ini bahkan dapat menjatuhkan sebuah kota kecil hanya dalam beberapa jam sahaja. 

“Dum! Dum! Dum!” 

Serangan demi serangan terus berdatangan. Kini dinding pelindung telihat bergegar menahan setiap gempuran! Bilamana dinding pelindung tak kasat mata tersebut roboh, maka keempat ahli akan berhadapan langsung dengan mara bahaya besar. Sesungguhnya, bagi Bintang Tenggara, bilamana hanya seorang diri maka ia yakin dan percaya dapat melarikan diri dari sergapan para serdadu bayaran. Akan tetapi, dirinya kini bersama tiga ahli lain. Khusus untuk Saudagar Senjata Malin Kumbang, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berlari lelaki bertubuh tambun itu tentu tiada dapat dibanggakan. 

Saudagar Senjata Malin Kumbang mengeluarkan sebentuk cangkang siput lagi dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi miliknya. Ia menyerahkan kepada si kurus kerempeng. Walau belum diaktifkan, fungsi cangkang siput kali ini masih sama dengan yang pertama, yaitu merupakan formasi segel dinding pelindung tak kasat mata. “Ini adalah cangkang siput terakhir…”

Dalam lamunan Bintang Tenggara berpikir, bahwa bilamana dirinya dapat merapal formasi Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambara, maka persoalan bertahan dapat terselesaikan dengan mudahnya. Terbayang di dalam benaknya akan sosok berwibawa Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa. Ingin rasanya sesegera mungkin mengobati tubuh dan mengembalikan jiwa Super Guru Komodo Nagararadja, agar dapat beliau menghajar sang penguasa tersebut. 

“Sepertinya tak ada jalan lain…” keluh Saudagar Senjata Malin Kumbang. Akan tetapi, dari raut wajah ahli Kasta Perak Tingkat 9 itu terpancar keteguhan hati yang tak dapat dipatahkan. “Setelah lapisan dinding pertama roboh, maka dengan cangkang siput kedua setidaknya kalian dapat mengulur waktu selama dua sampai tiga jam lagi…”

“Hm…?” Bintang Tenggara menoleh bingung. Apakah Saudagar Senjata Malin Kumbang memiliki cara untuk menyelamatkan diri sendiri…? Mengapa ia berujar menggunakan kata ‘kalian’? 

Saudagar Senjata Malin Kumbang membuka jubah mewah yang dikenakan dan menyimpan ke dalam cincin Batu Biduri Dimensi. Ia kini hanya memakai kemeja dan celana panjang yang terlihat tak kalah mahal harganya. Menarik napas panjang, lelaki dewasa berkepala gundul dan bertubuh tambun itu lalu menghentakkan tenaga dalam! 

Aura ahli yang berada pada Kasta Perak Tingkat 9 menyibak perkasa. Tenaga dalamnya terasa bertambah dan terus naik sampai titik tertinggi. Di saat itu terjadi, langit bergemuruh dan bumi bergegar! Tetiba, sebuah lorong dimensi membuka. Akan tetapi, lorong dimensi kali ini sangat berbeda dengan yang biasa digunakan untuk menempuh perjalanan. Aura yang terpancar teramat sangat kelam, bahkan terasa seakan terdapat semacam amarah yang sedang memuncak! Anehnya lagi, cangkang siput yang digunakan oleh seorang serdadu bayaran untuk menghambat terbukanya lorong dimensi, kali ini tiada dapat bermanfaat! 

“Oh…?” Komodo Nagaradja bereaksi. “Si gundul tambun ini hendak menerobos ke Kasta Emas rupanya…”

“Kasta Emas…?” Bintang Tenggara heran. 

Bintang Tenggara memang belum pernah menyaksikan seorang ahli Kasta Perak Tingkat 9 menerobos ke Kasta Emas. Keahlian, yang mencakup persilatan, kesaktian dan keterampilan khusus sebagaimana diketahui merupakan kemampuan untuk menentang kodrat alam. Pada Kasta Perunggu dan Kasta Perak, alam sepertinya masih memaklumi dan seakan memberi izin. Akan tetapi, bilamana para ahli hendak menerobos ke Kasta Emas, maka alam sendiri akan murka, bahkan melakukan penolakan! 

Lorong dimensi rampung, dan serta merta sebuah kekuatan tak kasatmata menarik tubuh Saudagar Senjata Malin Kumbang ke dalam. Hanya terhadap ahli tersebut, karena Bintang Tenggara bersama pemuda kurus kerempeng dan kusir tiada merasakan tarikan yang berasal dari dalam lorong dimensi nan penuh amarah itu. 

“Ia akan menghadapi Murka Alam…,” celoteh Komodo Nagaradja. “Semoga berhasil… hehehe…”

Dengan keteguhan hati, Saudagar Senjata Malin Kumbang membiarkan dirinya ditarik ke dalam lorong dimensi tersebut. Matanya menatap Bintang Tenggara penuh harap, seolah berujar bahwa ‘jangan mati sebelum aku kembali’. Setelah itu, segera setelah lelaki bertubuh tambun dan berkepala gundul tersebut menghilang, lorong dimensi nan mengerikan itu pun memudar tak berbekas.  

“Murka Alam…? Apakah itu Super Guru…?” 

“Di dalam sebuah ruang dimensi khusus, seorang diri si gundul tambun itu akan berhadapan dengan alam. Langit dan bumi akan membungkam niatnya menerobos kasta. Bilamana berhasil menaklukkan hambatan di dalam sana, maka ia akan keluar sebagai ahli Kasta Emas Tingkat 1.”

Komodo Nagaradja tiada melanjutkan uraiannya. Namun, Bintang Tenggara dapat mencerna sendiri. Inilah alasan mengapa tak banyak ahli di Negeri Dua Samudera yang telah mencapai Kasta Emas. Sebagian besar ahli merasa belum cukup mampu menghadapi Murka Alam, sehingga memutuskan untuk berada pada Kasta Perak Tingkat 9 saja, atau memutuskan untuk menempa diri lebih lama lagi. Sebagian kecil, ciut nyali mereka. Sisanya, tak terhitung jumlah ahli yang meregang nyawa karena kegagalan menghadapi Murka Alam! 

“Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghadapi Murka Alam…?”

“Tiada pasti… Aku hanya memerlukan beberapa jam saja…” Komodo Nagaradja terdengar demikian perkasa. “Banyak ahli yang sampai menghabiskan berhari-hari lamanya… Banyak pula yang tiada pernah kembali…”

“Diriku hanya beberapa menit sahaja di dalam sana…,” sela Ginseng Perkasa tak hendak kalah. 

“Omong kosong!” 

Bintang Tenggara menenggak ludah. Tantangan seperti apakah yang datang dan disajikan oleh alam itu sendiri… Sungguh mengerikan. Membayangkannya saja teramat sulit dilakukan. Selain itu, yang lebih mengganggu pikirannya adalah apakah sahabatnya itu akan baik-baik saja. Saudagar Senjata Malin Kumbang dikenal sebagai ahli yang tiada menguasai jurus persilatan serta keahlian. Bagaimana caranya berkelit dari situasi buruk di dalam sana… “Mengapa alam menolak keahlian…?” gumam anak remaja itu pelan.. 

Di saat Bintang Tenggara lagi-lagi hanyut dalam lamunan, dinding formasi segel pelindung menerima hantaman dan serta merta hancur berkeping. Si kurus kerempeng, kemudian sigap mengaktifkan cangkang siput di tangannya, sehingga lapisan dinding pelindung kedua hadir membentengi ketiga ahli dalam pengepungan. 

“Cepat! Kita harus membungkam mereka sebelum Saudagar Senjata itu kembali! Ahli Kasta Emas akan sulit dihadapi!” 

“Kembali…? Hanya bila saudagar itu berhasil melewati Murka Alam… bilamana tidak?”

“Para pesuruh itu tentunya tiada memiliki harta benda!” 

Para serdadu bayaran seolah kehilangan arah dan tujuan. Mereka menyadari betul bahwa yang kaya dan patut diperas adalah Saudagar Senjata Malin Kumbang. Karena tokoh tersebut telah ‘melarikan diri’ dengan memanfaatkan Murka Alam, maka yang tertinggal hanya ketiga pesuruhnya. Berapalah keping-keping emas yang dimiliki para pesuruh. Bahkan, mungkin tiada mereka memiliki barang sekeping emas pun. 

“Aku mengenal anak muda itu!” Seorang serdadu bayaran dari bala bantuan yang baru tiba menudingkan jari telunjuk ke arah Bintang Tenggara. “Ia adalah salah seorang bangsawan dari Wangsa Syailendra!” 

Bintang Tenggara terpana. Sebelumnya ia tiada terlalu memperhatikan rombongan bala bantuan serdadu bayaran satu per satu. Melihat lelaki dewasa yang menunjuk ke arahnya, anak remaja anggota keluarga Kadatuan Kesembilan itu langsung mengenali. Tak lain dan tak bukan, tokoh tersebut merupakan Senopati Ogan Lemanta yang dulu memimpin salah satu benteng di wilayah utara Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Tokoh itu melarikan diri karena tertangkap basah menculik gadis belia dari suku Anak Dalam. Siapa nyana, rupanya ia bersembunyi dan bergabung ke Partai Iblis! 

Mantan Senopati Ogan Lemanta menatap penuh benci. Adalah regu yang dikirimkan oleh Perguruan Svarnadwipa yang membongkar niat buruknya. Ia tak akan pernah melupakan wajah dari setiap satu anggota regu saat itu, apalagi anak remaja yang satu ini. Tentunya, Ogan Lemanta tiada mengetahui bahwa Balaputera Gara telah menjadi Yuvaraja di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

“Bilamana demikian, maka kita bisa menjadikannya sandera lalu menuntut tebusan!” Seorang serdadu bayaran kembali menemukan alasan sekaligus kesempatan. 

“Akan tetapi… kita akan berurusan dengan Kemaharajaan Cahaya Gemilang! Ahli-ahli di sana terkenal kejam bilamana menyangkut keselamatan bangsawan Wangsa Syailendra…”

“Cih! Sejak kapan serdadu bayaran takut pada satu kemaharajaan!?” Ogan Lemanta menghardik. Tatapan matanya dipenuhi dendam. “Kita adalah serdadu tertangguh di seantero Negeri Dua Samudera!”

“Benar!” Sejumlah serdadu bayaran lain mengamini pekik pembangkit semangat yang datang dari Ogan Lemanta. Yang penting bagi mereka adalah keping-keping emas, dan keping-keping emas dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang jumlahnya dapat jauh lebih besar dari seratus keping!

“Dum! Dum! Dum!” 

Serangan demi serangan kembali menghantam formasi segel perlindungan. Tanpa henti. Kali ini jauh lebih gencar dari sebelumnya, karena meski kemungkinannya adalah teramat sangat kecil, bisa saja Saudagar Senjata Malin Kumbang kembali cepat sebagai Ahli Kasta Emas Tingkat 1. Walaupun terdiri dari lima puluh serdadu dengan belasan ahli Kasta Perak, setakberbakatnya Saudagar Malin Kumbang dalam persilatan dan kesaktian, tetap saja ia akan menjadi ahli Kasta Emas yang dapat membungkam! Membayangkan saja membuat bergidik. 

Para serdadu bayaran sepenuhnya menyadari bahwasanya tak pernah ada kata ‘tak mungkin’ di dalam dunia keahlian. 

“Dum! Dum! Dum!”