Episode 262 - Melanggar Etika Dunia Keahlian



“Duak!” 

Bintang Tenggara terdorong mundur. Pada detik-detik akhir, di kala hendak menyarangkan tinju berkecepatan tinggi ke dada lawan, si lelaki jangkung terlebih dahulu melepaskan tendangan menohok yang mengincar dada. Jangkauan tinju tentu kalah jauh dengan jangkauan kaki nan jenjang. Terlebih, tendangan yang berasal dari kaki lawan tersebut menyala api. 

Untung saja Bintang Tenggara cukup sigap menarik pukulan tinju dan mengubahnya menjadi pertahanan dengan menyilangkan kedua lengan di depan dada. Akan tetapi, ledakan yang tercipta mendorong tubuh anak remaja itu semakin jauh ke belakang. 

Aura berwarna kehijauan menghilang dengan sendirinya di kala Bintang Tenggara tak lagi merapal Gerakan Ketiga dari Pencak Laksamana Laut. Walaupun tadi kekuatan dan kecepatan tubuh bertambah sampai dengan tiga kali lipat, keterbatasan merapal formasi segel dan larangan menggunakan unsur kesaktian petir sungguh membuat Bintang Tenggara mati langkah. Sedangkan lawannya, terlihat leluasa mengkombinasikan jurus-persilatan dengan jurus kesaktian. 

Setelah terdorong mundur, Bintang Tenggara hanya bisa diam di tempat. Tenaga dalam yang tersisa di mustika penampungan di ulu hati semakin terbatas jumlahnya. Bahkan, hanya tersisa sekira sepuluh persen sahaja. Tanpa jurus Delapan Penjuru Mata Angin, maka anak remaja tersebut dipastikan akan kalah. Dengan terpaksa ia harus merelakan seratus keping emas yang didapat dari Tantangan Kedua di dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta. Sebagai catatan, adalah seratus keping emas tersebut yang merupakan isi buntelan hadiah peringkat pertama, tak lebih dan tak kurang. Perjalanan sejauh ini dibiayai oleh sang sahabat, Saudagar Senjata Malin Kumbang, sehingga Bintang Tenggara merasa sangat berutang.

Caping yang dikenakan lelaki bertubuh jangkung telah terlepas karena gerakan mendadak memanfaatkan jurus persilatan dan kesaktian secara bersamaan. Perawakan wajahnya biasa-biasa saja, namun terlihat sangat tak sabar. Sudah cukup banyak waktu terbuang demi meladeni anak remaja tersebut, serta sudah kepalang tanggung juga ia menerima tantangan sesuai adab keahlian. Bila terlalu lama, bisa saja rombongan prajurit, atau rombongan saudagar lain yang disertai pengawalan, melintas di jalur yang sama. Lelaki bertubuh jangkung sadar bahwa ia harus menumbangkan remaja di hadapan secepat mungkin, untuk kemudian memungut upeti. 

Serangan demi serangan dilancarkan melalui tendangan-tendangan cepat. Bintang Tenggara berkelit dan terus berkelit. Upaya ini ia lakukan hampir tanpa menyalurkan tenaga dalam dari mustika. Dengan kata lain, anak remaja tersebut hanya menanti saat di mana dirinya lelah dan lengah, ketika nanti serangan lawan mendarat telak. Kekalahan sudah di depan mata. 

Gerakan Bintang Tenggara, walaupun awalnya lincah, berangsur-angsur melambat. Ia jelas terlihat mulai kelelahan. Sementara itu, lawan tiada sedikit pun mengendorkan serangan yang dilancarkan. 

Lelaki bertubuh jangkung memutar arah ke samping, lalu melepaskan tendangan sapuan mendatar setara rusuk. Sontak Bintang Tenggara melompat ke samping. Akan tetapi, gerakan lawan yang awalnya terlihat seperti tendangan, tetiba berubah menjadi langkah cepat! Sebuah gerak tipu dan Bintang Tenggara terjebak. Lelaki bertubuh jangkung telah memperpendek jarak, dan kini melancarkan tendangan menyapu tinggi yang mengincar kepala. 

Bintang Tenggara mati langkah… 

“Duar!” 

Sebuah ledakan kembali terjadi, sedangkan Bintang Tenggara yang kepalanya seharusnya terkena hantaman telak, berdiri kaget. Di hadapannya, menangkap tendangan lawan, adalah… Saudagar Senjata Malin Kumbang! 

“Hei! Saudagar Senjata!” hardik seorang serdadu bayaran lain. “Apa yang engkau lakukan mencampuri tantangan sesuai adab keahlian!?” 

Lelaki bertubuh jangkung tetiba jatuh terkulai di tempat. Kedua terlihat melotot, wajahnya berkeriput, tubuhnya seolah kehilangan kekuatan. Menahan perihnya panas api, Saudagar Senjata Malin Kumbang menangkap tendangan yang diimbuh kesaktian unsur api dengan telapak tangan kosong! 

“Apakah yang terjadi!?” 

Beberapa bandit gunung, alias serdadu bayaran dari Pulau Satu Garang yang sedang tak memiliki pekerjaan, melompat maju untuk segera memeriksa keadaan rekan mereka. Tak ayal, mereka menyaksikan lelaki bertubuh jangkung terlihat lemah. Akan tetapi, kondisi tersebut bukan disebabkan oleh serangan yang umum dilancarkan, melainkan karena menua dalam seketika!

“Saudagar Senjata! Apa yang telah engkau perbuat!?”

“Anak remaja itu seharusnya sudah kalah telak di dalam pertarungan sesuai adab keahlian!” 

“Lancang sekali engkau membokong rekan kami! Engkau melanggar etika sebagai sesama ahli!?”

Saudagar Senjata Malin Kumbang menggeretakkan gigi. Baginya, yang berlangsung bukan lagi persoalan seratus keping emas,  bukan pula perihal adab keahlian. Bilamana Balaputera Gara, alias sang Yuvaraja dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang, kalah di dalam pertarungan maka hal tersebut akan merusak nama besar Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Di saat Bintang Tenggara sedang bertarung tadi, Saudagar Senjata Malin Kumbang menyempatkan diri melapor kepada Datu Besar Kadatuan Kedua Balaputera Wrendaha. Dari lencana Kekuatan Ketiga, pesan yang baru saja ia terima adalah lindungi Balaputera Gara sampai titik darah penghabisan! 

“Lancang!? Etika!?” hardik Saudagar Senjata Malin Kumbang. “Kalian yang mencegat kami, dan kalian pula yang hendak memeras! Aku telah berbaik hati menawarkan seratus keping emas secara suka rela! Tapi apa jawaban kalian!? Hendak mengisi waktu luang!?"

Gerombolan serdadu bayaran terdiam.

"Cih! Sekali lagi katakan, siapa yang melanggar etika!?” Saudagar Senjata Malin Kumbang terlihat demikian berang. 

Di saat yang sama, pemuda kurus kerempeng dan kusir kereta kuda melompat maju. Mereka kini berdiri di sisi Saudagar Senjata Malin Kumbang, dan terlihat bersiap untuk bertempur bersama-sama!

Dalam seketika, tak kurang dari tiga puluh ahli mengepung kelompok yang hanya terdiri dari empat ahli. Situasi mendadak berubah. Di saat yang sama, karena bukan lagi terlibat di dalam pertarungan satu lawan satu, prasyarat pertarungan dari Komodo Nagaradja gugur sudah. Bintang Tenggara segera merapal jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Di dalam diam, ia pun menyusun rencana. 

Pemuda kurus kerempeng, yang selama ini bekerja sebagai ajudan sekaligus juru tulis Saudagar Senjata Malin Kumbang mengeluarkan semacam alat tulis. Ukuran alat tulis tersebut sebesar jari manis, dengan panjang hampir satu jengkal setengah. Pada sisi bawah, terlihat helai-helai halus mirip benang hitam yang tersusun menggembul. Sesungguhnya kuas tersebut merupakan alat tulis yang berasal dari Negeri Tirai Bambu di Benua Atas. Sebuah senjata pusaka yang Saudagar Senjata Malin Kumbang tebus dengan harga sangat mahal! 

Di sisi lain, sang kusir yang biasanya hanya diam mengendarai kereta kuda supaya baik jalannya, tengah mengeluarkan dua lembar Kartu Satwa. Pada permukaan setiap Kartu Satwa, tergambar binatang siluman kuda berwarna putih dan hitam. 

Kedua ahli yang kini mendampingi Saudagar Senjata Malin Kumbang berada pada Kasta Perak Tingkat 4! Bila dipikir-pikir, memang sangat tak lazim bagi saudagar besar layaknya Malin Kumbang menempuh perjalanan tanpa mengupah pengawal dalam jumlah banyak atau ahli Kasta Emas yang terkenal akan nama besarnya. Tindakan seperti itu sangat lumrah di kalangan saudagar agar mereka tak dicegat oleh sembarang bandit gunung sebagaimana Saudagar Senjata Malin Kumbang saat ini. Namun, siapa nyana, Saudagar Senjata Malin Kumbang memiliki pengawal dengan senjata pusaka yang sangat perkasa. 

Meski terpaut jarak lumayan jauh, lelaki bertubuh kerempeng menatap lawan, lalu tangannya bergerak seolah melukis. Di saat gerakan melukis dilakukan, seorang lawan tetiba terjungkal ke belakang! Dari jarak jauh, kuas kecil tersebut dengan mudahnya menyapu dan menjatuhkan lawan! 

“Kalian cari mati!” bentak seorang bandit gunung sambil menyerang. 

Bintang Tenggara, yang sedang mengisi tenaga dalam, dibuat terpana. Bagaimanakah cara kerja kuas di tangan pemuda kurus kerempeng!? Tiada unsur kesaktian, angin misalnya, yang mencuat di saat kuas dikerahkan. Sungguh sulit dimengerti…

“Kuda Kembar dari Altai Tavan Bogd!” (1)

Lorong dimensi membuka ketika sang kusir mengibaskan dua lembar Kartu Satwa dan memanggil keluar binatang siluman. Berbeda dengan binatang siluman Kuda Cendana dari Pulau Kuda yang bertubuh pendek, sepasang binatang siluman kuda yang terlihat keluar berukuran hampir setinggi gajah! Lagi-lagi, Malin Kumbang memanfaatkan kelebihan dirinya sebagai saudagar dengan memesan khusus dua ekor binatang siluman kuda yang terkenal sebagai kuda terbaik di dunia dari sebuah suku tak menetap di perbatasan Negeri Tirai Bambu! 

Si kusir kemudian memerintahkan sepasang kuda yang berada di bawah kendalinya untuk menghadang lawan. Kendati bertubuh besar, kedua ekor binatang siluman kuda bergerak sangat gesit. Dalam satu kedipan mata, keduanya telah menghadang lawan. Tidak hanya sampai di situ, kaki-kaki besar kuda menerjang telak dua lawan, yang serta merta jatuh terjengkang dan memuntahkan darah berkali-kali, lalu hilang kesadaran!

Bintang Tenggara rampung menyerap tenaga alam dan mengisi tenaga dalam di ulu hati. 

Empat ahli kemudian berkumpul dan bertahan dari kepungan. Mereka saling memunggungi. Akan tetapi, tak banyak yang menghadapi Saudagar Senjata Malin Kumbang, kalau pun ada maka dilakukan dari jarak jauh. Lelaki bertubuh jangkung baru saja menghembuskan napas terakhir karena usia tua, dan tiada yang mengetahui atau pernah mendengar jurus seperti apa yang dapat menimbulkan dampak sedemikian mengerikan. Walhasil, para serdadu bayaran sangat waspada terhadap Saudagar Senjata Malin Kumbang.

“Kakak Kurus Kerempeng, berdirilah di tengah,” ujar Bintang Tenggara. “Kakak Kusir, tolong agar kedua kuda terus bergerak mengelilingi kita.” 

Kedua ahli melirik ke arah tuan mereka, Saudagar Senjata Malin Kumbang. Setelah mendapat anggukan setuju, segera keduanya menuruti perintah Bintang Tenggara.

Serangan mengepung kini datang bergelombang. Setiap gelombang terdiri dari sekira sepuluh serdadu bayaran. Gelombang pertama mengerahkan tombak, lalu gelombang kedua melesatkan panah-panah deras. Gelombang ketiga, mundur untuk menarik napas. Demikian mereka bergonta-ganti peran. 

Dalam hal bertarung dalam kelompok, tentu saja serdadu bayaran jauh lebih terlatih dan berpengalaman. Sebagaimana perang dengan taktik pengepungan, tujuan mereka adalah perlahan-lahan melemahkan lawan sebelum menyapu habis. Serangan perorangan hanya dilancarkan sesekali untuk mengejutkan musuh sahaja. 

Upaya serangan jarak jauh terbukti sangkul dan mangkus. Pemuda kurus kerempeng sudah diketahui pola serangannya. Ia harus terlebih dahulu menatap lawan, lalu menggerakkan kuas. Jadi, sesiapa pun serdadu bayaran yang merasa ditatap, akan bergerak menjauh. Sepuluh meter adalah jarak maksimal kuas yang berada ditangan si kurus kerempeng untuk menghantam lawan. 

Di lain sisi, kedua kuda dari luar negeri pun tiada dapat bergerak terlalu jauh dari si kusir yang merangkap sebagai pawang binatang siluman. Kemampuan mata hatinya dalam mengendalikan binatang siluman, adalah biasa-biasa saja. 

Bintang Tenggara yang mengerahkan kesaktian unsur petir sesekali menggebrak guna membuka celah kepungan. Akan tetapi, ke arah mana pun ia menyerang, selalu dihadang oleh enam atau tujuh ahli secara bersamaan. Anak-anak panah lalu menyusul dengan menghujani deras dari sisi atas. Oleh karena itu, jangankan membuka ruang, melancarkan serangan pun harus dipikirkan matang-matang!

Beberapa jam kemudian, situasi pengepungan masih berlangsung seperti sedia kala. Anehnya, tak ada sesiapa pun yang kebetulan melintas di jalur di mana mereka berada, sehingga tak ada pula bantuan bagi rombongan kecil itu. Yang pasti, lambat laun pemuda kurus kerempeng terlihat bersimbah keringat dan kusir kereta kuda mulai kehilangan konsentrasi mata hati dalam menjaga agar kedua binatang siluman kuda miliknya dapat terus bergerak. Sedangkan lawan, masih terlihat segar bugar karena memiliki giliran untuk beristirahat. 

Bintang Tenggara menyadari akan kenyataan pahit ini, dan oleh sebab itu ia menyadari bahwa mereka harus segera keluar dari kepungan. Salah satu saja di antara si kurus kerempeng atau si kusir tak dapat terus merapal kemampuan, maka rombongan yang hanya terdiri dari empat ahli itu berada dalam ancaman besar. Karena, saat ini dapat diperkirakan bahwa incaran serdadu bayaran bukan lagi sekadar seratus keping emas, melainkan nyawa. Para serdadu bayaran hendak membalas dendam atas kematian dan cedera berat yang diderita rekan mereka. 

Bintang Tenggara segera merangsek maju. 

Tinju Super Sakti, Gerakan Kedua: Harimau!

Lima tinju beruntun dilepaskan sebanyak dua kali. Runtutan pertama menciptakan gelombang kejut, akan tetapi sebelum gelombang kejut tersebut meledak, gelombang kejut kedua menyapu ke samping dalam gerakan tinju kait 

“Duar!” 

Suara menggelegar dan membahana menyertai ledakan gelombang kejut yang menyebar ibarat cakar harimau raksasa. Hanya dalam satu kelebat mata, sebaris serdadu bayaran yang berdiri menghunus tombak terpental tiada berdaya. Para serdadu bayaran dalam barusan kedua, yang bersiap melepas anak panah, terhalang oleh rekan-rekan mereka yang terjungkal. Ruang untuk melarikan diri telah tercipta! 

Bintang Tenggara melesat memanfaatkan langkah petir ke arah celah yang terbuka. Tepat di belakang, menyusul Saudagar Senjata Malin Kumbang yang telah melompat naik ke atas binatang siluman Kuda Altai Tavan Bogd berwarna putih. Si kurus kerempeng dan kusir, kini bersama-sama menunggangi binatang siluman kuda berwarna hitam, pun mengikuti. 

“Dum! Dum! Dum!” 

Ledakan terjadi sahut-menyahut. Langkah petir membuat Bintang Tenggara berkelit gesit. Di belakang, dua ekor binatang siluman kuda bersama penunggang masing-masing, tertahan. 

“Perangkap…,” gerutu Bintang Tenggara. Rupanya, para serdadu bayaran yang mendapat giliran beristirat selama mengepung, mendapat perintah untuk turut mengubur peledak sebagai antisipasi bilamana sasaran berhasil membuka celah. Sungguh para serdadu bayaran telah mempersiapkan rencana berlapis. Hari ini Bintang Tenggara mempelajari bahwa nama besar serdadu bayaran dari Pulau Satu Garang tiada dapat disepelekan!

Di saat yang sama, mata hati Bintang Tenggara yang menyebar, lalu merasakan kehadiran banyak ahli mulai berdatangan dari berbagai arah. Siapakah mereka? Apakah ada sejumlah ahli yang melintas dan hendak memeriksa karena mendengar rangkaian ledakan…?

“Keparat!” gerutu Saudagar Senjata Malin Kumbang dari atas kuda, dan kini tiba tepat di belakang Bintang Tenggara. Dari pundak kuda ia dapat memantau samar, namun sepertinya telah dapat menarik kesimpulan pasti. 

“Kakak Malin… siapakah mereka yang berdatangan?”

“Serdadu bayaran yang mengepung kita… telah memanggil bala bantuan!” 



Catatan:

Altai Tavan Bogd merupakan nama Taman Nasional di wilayah ujung barat Mongolia, di Provinsi Bayan-Ulgii.