Episode 24 - Duapuluh Empat



Siang itu jam istirahat Darra ada di kelas Rin bersama Rahmi dan Maya. Ini pertama kalinya dia main ke kelas itu selain untuk meminjam buku. Mereka sedang mengobrol di meja Rin ketika Rin masuk ke dalam kelas. Ia menghampiri teman-temannya dengan membawa ponsel di tangannya.

“HP siapa?” tanya Maya setelah Rin duduk di depannya.

“Punya Dika,” jawab Rin sambil berbisik.

Maya yang penasaran langsung ikut melongok ke arah ponsel itu sementara Darra yang duduk di sebelah Rin hanya melirik ke arahnya.

“Emang mau liat apa?” tanya Maya. Rin tidak menyahut dan sibuk dengan ponsel Dika sambil sesekali menoleh ke arah pintu.

“Ini, ini!” pekik Rin tertahan sambil menyikut lengan Darra.

Darra menoleh ke arah ponsel yang disodorkan oleh Rin. Ia tercengang melihat fotonya sedang duduk di perpustakaan sendirian. Bahkan beberapa di antaranya diambil langsung di depannya. Wajah Darra memerah. Pasti Dika memotretnya saat mereka sedang di perpustakaan bersama.

“Kenapa Dika punya foto kamu?” tanya Rahmi yang ikut melihat foto itu.

“Jangan-jangan Dika suka sama Darra?” sahut Maya sambil cekikikan.

“Rin, HP gue mana?”

Rin buru-buru menutup foto itu saat Dika masuk ke dalam kelas, sementara Darra mengalihkan perhatiannya pada Rahmi. Dika menghampiri mereka lalu meminta ponselnya.

“Buat apa tadi?” tanya Dika sambil memeriksa ponselnya.

“Nggak buat apa-apa. Cuma coba telepon ke HP gue, soalnya HP gue nggak ada,” jawab Rin berbohong.

“Udah ketemu?” tanya Dika.

“Ada di laci meja,” jawab Rin sambil nyengir.

Setelah Dika keluar lagi, teman-temannya langsung mencecar Darra dengan berbagai pertanyaan.

“Kamu nggak tahu dia punya foto kamu?” tanya Maya. Darra menggeleng.

Setelah bel masuk berbunyi, Darra dan teman-temannya kembali ke kelas masing-masing. Sementara itu kelas XI Sos 5 memulai pelajaran Sejarah dengan membagi jadi beberapa kelompok. Rin sengaja bergabung dengan Dika dan Abrar dan duduk di sebelah Dika saat mereka mengerjakan tugas kelompok itu di perpustakaan.

“Gue udah lihat fotonya,” bisik Rin pada Dika. 

“Foto apa?” Dika balik tanya.

“Fotonya Darra,” jawab Rin. Abrar ikut melirik ke arahnya, tapi ia kembali sibuk dengan buku di depannya.

“Yang mana?”

“Yang di HP elo.”

“Oh.” Dika kembali membalik halaman bukunya.

Rin berdecak tidak sabar. “Elo ada hubungan apa sama Darra?”

“Kenapa emangnya?”

“Kenapa elo nyimpan fotonya di HP elo? Lebih tepatnya, elo diam-diam ngambil fotonya.”

Dika tidak menjawab. Rin berpikir cepat sambil mengerucutkan bibirnya. Ia tahu ada yang disembunyikan oleh dua temannya ini. Kemudian ia teringat sesuatu.

“Gue juga lihat foto elo di HP-nya Darra,” bisik Rin lagi. “Terus elo tahu, nggak? Malah Darra nggak tahu kalau foto elo ada di HP-nya.”

“Terus kenapa?” tanya Dika santai.

Rin melirik Abrar, memastikan cowok itu tidak ikut mendengarkan. “Elo suka sama Darra kan?” tanyanya. Abrar kembali meliriknya. Kali ini Rin tidak peduli. “Gue tahu elo berapa kali nganter Darra pulang, terus dia juga main ke rumah elo. Nggak mungkin elo ngelakuin semua itu kalau nggak punya perasaan apa-apa, kan?”

“Emangnya kalau Dika suka sama dia, kenapa?” sahut Abrar akhirnya sambil mencatat sesuatu di bukunya. “Dia kan nggak ngerugiin siapa-siapa.”

“Ya rugi, lah kalau gara-gara Dika, Darra jadi diincar sama Vina.” Rin kembali menoleh ke arah Dika. “Perasaan elo ke Darra serius atau cuma iseng-iseng aja? Dia tuh belum pernah dekat sama cowok, jadi gue nggak mau dia berharap banyak sama elo kalau elo nggak serius sama dia.”

“Emangnya dia nggak bilang apa-apa sama elo?” tanya Dika.

Rin mengangkat alisnya. “Bilang apa?”

Dika tersenyum. “Kalau penasaran, tanya aja langsung sama orangnya.”

~***~

Darra meletakkan pensilnya lalu bersandar di kursinya. Kelasnya sedang mengerjakan beberapa soal matematika yang ada di papan tulis dan Darra sudah menyelesaikannya. Ia memandang berkeliling lalu berhenti pada Agung. Cowok itu juga sama sepertinya, sudah selesai dan sedang melamun sambil memangku kepalanya dengan tangan di meja.

Sudah beberapa hari mereka tidak bertegur sapa. Darra juga tidak pernah lagi bertemu dengan Agung setiap pagi. Padahal ia sudah sengaja berangkat lebih awal atau lebih lambat karena tidak tahu kapan tepatnya Agung berada di bus. Darra juga sering berusaha menyapanya atau bicara dengannya, tapi Agung tidak pernah memberinya kesempatan.

Akhirnya Darra merobek bagian belakang buku tulisnya menjadi agak kecil. Ia menuliskan pesan bahwa ia ingin pulang bersama Agung sambil bicara dengannya. Darra meminta Rahmi mengoperkan ke teman-teman sebelahnya hingga sampai ke Agung. Darra mengawasi saat cowok itu menerima kertas itu dan membacanya. Namun, Agung hanya melipat kertas itu lalu kembali melamun.

Begitu bel tanda pulang berbunyi, Darra merapikan buku-bukunya sambil sesekali melirik ke arah Agung. Ia sedikit lega bahwa cowok itu tidak buru-buru seperti beberapa hari terakhir, walaupun kemudian Agung keluar lebih dulu. Darra dan Rahmi baru saja hendak keluar dari kelas ketika Rin menyusul mereka.

“Jalan kaki?” tanya Rin.

“Hari ini nggak bisa,” jawab Darra. “Aku mau pulang bareng Agung.”

Rin langsung mengerti maksud Darra. Mereka turun lalu keluar lewat pintu depan seperti biasa. Darra tidak melihat Agung di depan gerbang sekolah, jadi mungkin ia sudah menunggu di gang sebelah. Setelah melambaikan tangan pada teman-temannya, Darra berjalan ke arah gang sendirian. Namun, ia tidak menemui Agung. Darra berjalan sambil sesekali menoleh ke belakang, kalau-kalau Agung menyusulnya.

Akhirnya Darra berhenti di sebuah lapangan kecil dengan ayunan. Ia berdiri di sana sambil menoleh ke arah ujung gang. Namun, Agung masih belum kelihatan. Darra mengeluarkan ponselnya lalu mengirim pesan pada Agung. Karena setelah menunggu beberapa lama tidak ada balasan, jadi Darra mencoba menghubunginya. Namun, Agung tidak menjawabnya.

Darra berpikir sebentar. Ia ingin mencoba menanyakannya pada Dika, tapi Darra mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin keduanya salah paham. Darra baru saja menyimpan ponselnya kembali ke tas ketika ada yang mendorongnya.

“Masih nungguin Dika di sini?”

Darra menoleh. Vina dan teman-temannya sudah ada di hadapannya, entah bagaimana mereka bisa tahu Darra ada di sini.

“Wah, nyalinya besar juga ya. Udah pernah ditegur, masih berani nunggu di sini,” kata Sheila.

“Aku nunggu Agung, kok,” balas Darra.

“Ya ampun, elo kira elo lagi ngebohongin siapa?” ujar Carla. “Agung sama teman-temannya tuh udah pergi dari tadi, termasuk Dika. Jadi nggak usah berharap Dika bakal tahu-tahu nongol di sini, terus elo bisa pura-pura nebeng pulang.”

“Aku beneran nunggu Agung, kok. Kalau dia udah pergi, berarti—berarti—” Darra tidak meneruskan kata-katanya. Entah sekarang ini dia lebih kesal pada Vina atau pada Agung.

~***~

Rin turun dari motor Emil lalu menunggu sementara cowoknya itu memarkir motornya. Ia menyingkir saat motor Fajri berhenti di depannya. Namun, yang membuatnya kaget adalah Agung yang ikut bersamanya. Rin langsung menghampirinya lalu menarik lengannya.

“Kok elo ada di sini?” tanya Rin dengan suara tertahan.

“Diajak sama Fajri,” jawab Agung.

“Bukannya elo mau pulang sama Darra?” tanya Rin lagi. Agung menggeleng. “Tapi dia bilang tadi mau pulang bareng elo.”

“Dia emang ngajak pulang bareng, tapi gue kan nggak pernah bilang mau pulang sama dia,” jawab Agung cuek.

Rin tercengang dengan jawaban Agung. Ia kembali menarik lengan cowok itu yang baru saja hendak menyusul teman-temannya ke dalam arena futsal.

“Elo lagi ada masalah sama dia atau apa, sih?” tanya Rin tidak sabar.

“Biasa aja,” jawab Agung.

“Elo masih marah cuma gara-gara dia nggak nemuin elo? Elo kan nggak tahu apa alasan dia.”

“Udah gue bilang, gue biasa aja. Apapun alasan dia, gue nggak peduli,” balas Agung. “Lagian waktu itu dia yang ngajak ketemu, kok. Jadi gue nggak rugi. Elo juga, ngapain ikut campur urusan orang?”

“Gue bukannya ikut campur. Tapi karena gue tahu dia orangnya diam aja, makanya gue yang nanyain.”

“Ya itu elo udah tahu kalau dia diam aja. Kenapa jadi elo yang repot, sih?”

Rin mengepalkan tangannya dengan geram. Ia tidak yakin kalau Agung mengetahui tentang Darra yang berasal dari panti asuhan. Jadi Rin memilih menutup mulutnya.

Keesokan harinya Rin sengaja menunggu Darra di depan gerbang sekolah bersama Emil dan teman-temannya. Namun, Rin kaget melihat plester di pipi Darra. Ia langsung berlari menghampirinya dan bahkan melihat ada sedikit memar di wajahnya.

“Mukamu kenapa?” tanya Rin cemas.

Darra melirik ke arah cowok-cowok di depan gerbang yang ikut menoleh ke arahnya. Ia langsung bisa mengenali Dika dan Agung terselip di antara mereka. Darra langsung memalingkan wajahnya dan bergegas masuk ke dalam sekolah sementara Rin mengikutinya.

“Kamu kenapa? Siapa yang mukul kamu?” tanya Rin sambil berusaha melihat wajah Darra.

“Nggak ada, kok. Aku nggak apa-apa,” jawab Darra. Ia memang akhirnya bisa membuat Rin berhenti bertanya-tanya padanya. Namun, saat pelajaran tengah berlangsung, tiba-tiba Bu Mini memanggilnya ke ruang BP.

“Saya mendapat laporan kalau kalian berantem kemarin pas pulang sekolah,” kata Bu Mini sambil menyuruh Darra duduk di bangku di ruangannya.

“Saya nggak berantem, Bu. Dia duluan yang mukul saya,” kata Vina yang ditemani oleh Sheila dan Carla.

“Kalau Andarra yang mukul kamu duluan, kenapa muka dia yang luka?” tanya Bu Mini tidak percaya.

“Jadi, ceritanya tuh, Si Cemberut—maksud saya, Darra ngedorong Vina terus mukul lengannya. Terus Vina mau ngelawan, tapi Darra narik rambutnya. Jadi saya sama Carla misahin mereka. Tapi kita nggak ada yang mukul dia kok, Bu. Mungkin dia kena pukulannya sendiri,” tutur Sheila.

Darra melirik Sheila. Bagian menarik rambut Vina memang benar, tapi itu karena Vina yang memukul wajahnya lebih dulu lalu menarik rambutnya, makanya Darra membalasnya. Namun, selebihnya tidak benar, karena Sheila dan Carla membantu Vina, bukan coba memisahkan mereka.

“Betul kamu yang mulai duluan?” tanya Bu Mini pada Darra. Darra menoleh ke arahnya lalu menunduk.

“Nggak, Bu,” jawab Darra pelan.

“Nggak usah bohong deh, lo!” omel Vina pada Darra.

“Eh, kalian jangan bertengkar di sini!” lerai Bu Mini. “Sekarang begini. Saya nggak akan manggil orangtua kalian, asalkan kalian berbaikan dan janji nggak akan bikin keributan lagi.”

Darra lebih memilih berbaikan dengan Vina, walaupun kartu poin yang selama ini bersih akhirnya terkena 20 poin karena berkelahi. Vina langsung menarik lengan Darra ketika mereka sudah agak jauh dari ruang BP.

“Jangan macam-macam sama gue. Kalau elo masih nantangin gue, bukan cuma muka elo aja yang biru-biru. Gue bisa bikin elo kena masalah dan dikeluarin dari sekolah. Paham?” Vina mendorong Darra lalu pergi bersama teman-temannya.