Episode 46 - Dalam Kebeningan Cinta Kasih


Si orang tua buta itu lalu duduk sambil terus memainkan kecapinya, ia kemudian membuka mulunya mengatakan kata-kata bukan tembang namun terdengar harmoni dengan permainan kecapinya, “Cinta kasihlah yang membuat manusia bisa tabah dan selamat menghadapi kehidupan dunia. Hanya dengan cinta kasihlah manusia bisa hidup bahagia. Dicintai dan saling mencinta. Banyak manusia, mengira bahwa kekuatan yang dahsyat adalah kekuasaan atau kesaktian. Padahal kekuatan paling dahsyat di antara langit dan bumi adalah cinta kasih!”

“Cinta kasih laksana air yang mampu memadamkan api, laksana mentari pagi menyibak gelap pekatnya malam, Laksana pelita yang menghalau kelam, laksana kesadaran yang menggugah mimpi! Cinta kasih dapat memandamkan bara dendam kesumat, sebesar apapun dendam itu, akan dapat dipadamkan oleh cinta kasih yang sejati!” lanjutnya.

Kata-kata yang terucap oleh si Dewa Pengemis seolah menjadi embun pagi yang menyejukan hati Galuh, perlahan api dendam didadanya yang membuat sekujur tubuhnya panas mereda, perlahan ia turunkan tangan kanannya dan menarik seluruh tenaga dalamnya kembali, kembali ia jatuh berlutut dengan lemas dan menangislah ia sesegukan sambil menatap gurunya, “Guru....” ratapnya dengan pilu.

Jaya perlahan menolehkan kepalanya dan menatap si Dewa Pengemis, “Dewa Pengemis....” ucapnya dengan lemas kemudian pemuda ini jatuh pingsan karena terluka terlalu parah.

“Guru apa yang harus saya lakukan? Ternyata orang yang guru jodohkan kepadaku adalah anak dari si jahanam Kertapati!” tanya Galuh dengan sendu.

“Ya, dia memang anak Prabu Kertapati tapi dia bukan Prabu Kertapati bukan? Lagipula dia sama denganmu, dia juga memendam dendam pada ayahnya sendiri...” Galuh hanya terdiam sambil terisak mendengar ucapan gurunya tersebut.

“Galuh menurutmu siapa yang menyebabkan penderitaan pada hidup pemuda ini? Penyebabnya tak lain tak bukan adalah ayahnya sendiri yang nyaris membunuhnya sewaktu ia bayi dan membuangnya bukan?!” 

Si Dewa Pengemis kembali memainkan kecapinya, “Apakah cinta harus dihalangi oleh dendam? Hanya karena kau mencintai anak dari pembunuh keluargamu sedangkan ia tidak tahu apa-apa tentang perbuatan ayahnya? Malah ia sendiri sangat membenci perbuatan ayahnya yang menyengsarakan banyak orang…”

Galuh terdiam seribu bahasa mencoba meresapi kata-kata dari gurunya, hanya sesegukannya yang terdengar dan air matanya yang masih terus mengalir, si Dewa Pengemis terus memainkan kecapinya yang secara ajiab mendatangkan angin yang amat menyejukan sekujur tubuh Galuh dan hatinya, kemudian orang tua buta ini membuka mulutnya lagi, "Cinta melenyapkan segala perbedaan. Cinta menyingkirkan segala pembatasan, cinta dapat memadamkan gelora bara api dendam! Namun hanya dengan keikhlasanlah seseorang dapat merasakan cinta yang sejati dari dasar sanubarinya…”

Galuh mengangguk-ngangguk, kemudian ia bangkit dan menghampiri Jaya, tangisnya kembali pecah ketika melihat kondisi Jaya yang terluka sangat parah itu, wajah dan tubuhnya belumuran darah, beberapa tulang rusuknya patah, hidungnya patah, teringatlah ia pada saat Jaya terluka parah akibat pertarungannya dengan Juana Suta, Galuhlah yang merawatnya hingga Jaya sembuh seperti sedia kala. 

Sekarang malah ia sendiri yang mencelakai Jaya, bahkan luka-luka Jaya jauh lebih parah daripada saat akibat menghadapi Juana Suta dulu. Galuh lalu mengerahkan tenaga dalamnya, ia pun mengangkat tubuh Jaya dan membopongnya, kemudian bersama dengan gurunya, ia membawa tubuh Jaya ke tempat yang aman.

***

Malam itu di Surasowan Keraton Banten, keadaan di sana tidak seperti malam-malam biasanya yang sunyi sepi, malam ini keadaan di sana nampak sangat ramai dan banyak kegiatan, dimana-mana nampak para prajurit hilir mudik, ada yang mempersiapkan persenjataan, ada yang memeriksa kuda-kuda perang dan kerbau-kerbau pengangkut kereta perbekalan, ada pula yang sibuk menyiapkan perbekalan.

Rupanya Banten sedang bersiap untuk menyerbu Mega Mendung dengan kekuatan penuh! Kini kekuatan angkatan perang mereka sangat luar biasa. Jumlah total pasukan mereka mencapai 1 laksa atau sepuluh ribu orang, delapan ribu diantaranya akan berangkat untuk menyerbu Mega Mendung. 

Selain angkatan perang yang besar dan tangguh, pasukan mereka juga dilengkapi oleh pasukan bersenjatakan bedil dan meriam, maka tidak mengherankan jika saat itu Banten merupakan negara dengan angkatan perang terbesar dan tertangguh di tanah Pasundan bahkan di tanah Jawa ini! Jauh melewati angkatan perang Demak di bawah pimpinan Sunan Prawoto yang sedang digerogoti oleh perpecahan akibat perebutan kekuasaan.

Panembahan Yusuf dengan ditemani oleh Tubagus Kasatama sang Mahapatih Banten dan Tubagus Gempong selaku Senopati Perang Banten juga Pangeran Adipati Bogaseta dari Mega Mendung yang membelot ke Banten nampak berkeliling seluruh wilayah Keraton menyaksikan persiapan para pasukannya.

“Paman Patih apakah semua persiapan sudah siap?” Tanya Sang Sultan.

“Sudah Kanjeng Sultan, kita tinggal melakukan persiapan akhir sebelum memberangkatkan seluruh kekuatan kita.” angguk Sang Patih.

“Bagus! Aku tidak mau kita mengalami kegagalan dalam penyerbuan ini!” tegas Panembahan Yusuf, mereka lalu berjalan ke gudang senjata, di sana mereka melihat para prajurit yang sedang memeriksa dan mempersiapkan meriam-meriam yang berukuran sangat besar.

“Ampun Gusti, kalau hamba boleh tahu mengapa kita memutuskan untuk menyerbu Mega Mendung terlebih dahulu daripada Pajajaran? Bukankah dengan meriam-meriam besar yang kita beli dari pihak Inggris dapat menjebol benteng tembok Kotaraja mereka? Lagipula angkatan perang Mega Mendung saat ini lebih besar daripada Pajajaran, jumlah angkatan perang mereka ada enam ribu orang, sama dengan angkatan perang kita.” Tanya Tubagus Gempong.

“Kamu benar Gempong, angkatan perang Mega Mendung lebih besar dari Pajajaran dan berhasil menyamai angkatan perang kita, angkatan perang mereka pun sangat tangguh, terutama pasukan berkuda mereka! Namun satu hal yang menguntungkan kita, menurut laporan dari Kakang Bogaseta kesetian para pejabat dan pasukan Mega Mendung telah berada di titik nadir sebab tangan besi Prabu Kertapati dan Pangeran Dharmadipa.

Ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk menghantam mereka, Dan yang kedua, medan yang akan kita lalui jauh lebih mudah daripada ke Pajajaran walaupun jarak tempuhnya lebih jauh. Benteng Kotaraja mereka juga berada di tempat yang datar sehingga lebih mudah untuk kita gempur, ditambah dengan keunggulan pesenjataan terutama kita memiliki meriam-meriam besar yang kita beli dari orang Inggris ini kita akan lebih melumat Mega Mendung!” jelas Panembahan Yusuf, mereka semua pun mengamininya.

Panembahan Yusuf kemudian membentangkan peta di atas sebuah meja, “Aku jelaskan sekali lagi strategi kita, kita serbu Mega Mendung dari tiga jurusan, Barat, selatan dan utara. Mereka pasti mengira kita akan memusatkan serangan di sebelah barat lewat Kademangan Bojong Hawu, maka mereka akan memusatkan kekuatannya di sana.

Kita akan memancing dan meyakinkan mereka bahwa kita akan benar-benar memusatkan serangan di sana, buat keramaian dan kekacauan di sana untuk memancing para prajurit Mega Mendung, setelah mereka terpacing berperanglah sebentar kemudian mundur, pasukan pancingan ini akan dipimpin oleh Tubagus Gempong. Sementara itu kita pusatkan serangan dari perbatasan Selatan, aku sendiri yang akan memimpin penyerangan ke Selatan dan Paman Patih Tubagus Kasatama yang memimpin penyerbuan lewat utara!”

Semua yang ada di sana mengangguk, Panembahan Yusuf melanjutkan penjelesannya, “Karena serangan lewat Barat hanya pancingan, Kemungkinan yang akan berhasil menjebol pertahanan mereka di perbatasan adalah serangan kita lewat Selatan dan Utara, setelah menjebol pertahanan mereka dengan meriam-meriam serta pasukan bedil kita, kita terus terobos sampai ke keraton Rajamandala, mereka pasti akan menggunakan pertahanan serangan Cakra, dengan mengumpulkan kekuatan di alun-alun lalu balik menyerbu kita dari segala arah, maka kita gunakan taktik Supit Urang untuk menghadapi mereka, kita jepit dan putus pasukan mereka yang terlampau maju dengan induk pasukannya!” (Supit Urang = Capit Udang).

Setelah yakin semua yang ada di sana paham akan strategi yang diterapkannya Panembahan Yusuf menutup pembicaraannya, “Nah sekarang beristrahatlah, istirahatkan seluruh pasukan yang akan berangkat besok, kita pergi begitu selesai Sholat subuh! Dan pasukan pengintai yang akan dipimpin oleh Kakang Bogaseta, berangkat sekarang juga untuk melihat keadaan!” mereka semua pun mengangguk dan melaksanakan perintah Sang Sultan.

***

Empat malam kemudian di sebuah Gubuk tak terurus didalam hutan, dekat gua Tunggul Manik, perlahan Jaya membuka matanya, dengan pandangan yang masih samar-samar ia melihat Galuh yang sedang merawat luka-luka di sekujur tubuhnya, dengan lemas ia pun membuka mulutnya, “Galuh...”

Gadis hitam manis ini sangat terkejut ketika mendengar Jaya membuka suaranya, ia lalu melihat mata Jaya yang sudah terbuka, buru-buru gadis ini berdiri dan membuang mukanya. “Galuh...” ucap Jaya lagi sambil mencoba untuk bangun tapi ia tidak sanggup untuk bangun, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit sekali ditambah nafasnya terasa sangat berat dan sesak, apalagi ia merasakan kesakitan yang amat sangat di bagian iganya karena beberapa rusuknya telah patah dihajar oleh Galuh.

Saat itu tiba-tiba telinganya mendengar suara petikan kecapi membawakan lagu yang amat halus menyejukan, pemuda ini mencoba untuk menolehkan kepalanya dengan susah payah ke arah suara petikan kecapi itu, nampaklah seorang kakek buta yang seluruh rambut dan jenggotnya sudah putih sedang bermain kecapi, “Jangan dulu bergerak orang muda, lukamu masih sangat parah, dua tulang rusuk sebelah kanan dan dua di kiri telah patah kena hajar oleh muridku yang ingin membunuhmu, kau sendiri sudah pingsan selama 4 hari!” ucap si Kakek sambil terus memainkan kecapinya.

“Empat hari? Aku sudah pingsan selama itu?” gumam Jaya, ia lalu menoleh pada Galuh yang masih membelakanginya. “Galuh... Kenapa kau mengampuniku? Kenapa kau tidak membunuhku? Aku... Aku merasa sangat berdosa padamu…”

Galuh terdiam tidak menjawab, malah si Kakek yang menyahut. “Merasa berdosa? Bagaimana mungkin seseorang bisa merasa berdosa oleh perbuatan yang tidak dilakukannya? Bagaimana mungkin seseorang berdosa oleh karena perbuatan orang lain meskipun orang itu adalah orang tuanya sendiri? Hahaha... Memangnya ada yang namanya dosa turunan? Gendeng! Gelo! Gila kalau sampai didunia ini ada yang namanya dosa turunan! Kalau ada, jangan-jangan sekarangpun kita masih menanggung dosa-dosa nenek moyang kita, masih menanggung dosa Nabi Adam karena memetikan buah Kholdi untuk Hawa hingga ia dibuang ke Bumi ini!”

Jaya terdiam seribu bahasa mendengar ucapan si Dewa Pengemis, orang tua itu lalu membuka mulutnya lagi sambil diiringi tawa mengkehkeh, “Lagipula mana mungkin seorang gadis sanggup membunuh seseorang yang ia cintai? Seorang pria yang sangat ia cintai meskipun ia adalah anak dari pembunuh seluruh keluarganya!” Jaya termenung mendengar ucapan si Dewa Pengemis, sementara Galuh menunduk malu menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Galuh, jadi kau pun....” Jaya menatap Galuh dengan tajam, dengan beribu perasaan tak menentu karena akhirnya ia tahu kalau gadis yang pernah menjadi musuhnya itu pun mencintainya.

Tetapi sebelum ia melanjutkan ucapannya, Galuh memotongnya, “Diam!” Bentaknya, Galuh lalu menoleh pada gurunya “Guru kenapa katakan itu? Aku malu!”

Si Dewa Pengemis tertawa terkekeh, “Hehehe kau malu kenapa? Bukankah biasanya kau bersikap keras dan berterus terang, juga tidak punya malu?”

“Guru!” rengek Galuh, “Bukan begitu, aku malu karena sudah hampir membunuhnya! Apakah... Apakah aku masih pantas menerima perasaannya?”

“Untung saja hanya hampir! Coba kalau sampai kau membunuhnya, kau pasti bakalan menyesal seumur hidup dan akan selalu dikejar oleh perasaan bersalah sebab kau membunuh orang yang tidak mempunyai dosa apa-apa padamu sekaligus orang yang sangat kau cintai, yang kau idamkan menjadi pendamping hidupmu!” jawab Dewa Pengemis.

“Soal pantas atau tidak pantas coba saja kau tanyakan pada pemuda itu, dialah yang berhak memaafkanmu!”

“Tunggu orang tua, Galuh tidak bersalah apa-apa padaku, ia tidak perlu meminta maaf, malah akulah yang merasa tidak enak karena ternyata ayahkulah yang membunuh seluruh anggota keluarga Galuh.” sela Jaya.

“Dasar orang muda bodoh! Sudah aku katakan tadi bahwa tidak ada dosa turunan! Maka tidak ada alasan bagi Galuh untuk menghajarmu apalagi sampai membunuhmu! Dan yang paling berat bagiku adalah karena gadis ini adalah muridku, dia terlalu pemarah dan keras kepala hingga tidak bisa berpikir jernih dan hampir membunuhmu, apa nanti yang harus aku katakan pada Kyai Pamenang dan Kyai Supit Pramana kalau kau sampai mati di tangan muridku? Bagaimana aku mempertanggung jawabkannya pada Sang Khalik katas perbuatan muridku padamu yang tidak ada sangkut pautnya dengan pembantaian keluarga muridku itu?!” jelas Dewa Pengemis.

Kembali Jaya merenung mendengar ucapan si Dewa Pengemis, ia kembali menatap Galuh yang masih menundukan wajahnya yang memerah, “Galuh... Terus terang selama perjalanan kita bersama, aku merasa sangat senang bisa ditemani olehmu, meskipun sikapmu agak-agak aneh dan pernah hendak merebut cincin pusakaku, lambat laun ada satu perasaan hangat yang tumbuh didalam dadaku, dan aku benar-benar merasa kehilangan dirimu saat kau meninggalkan aku di Rajamandala... Kini aku tahu kalau itulah yang dinamakan cinta.... Aku mencintaimu Galuh! Jadi mana mungkin aku akan membencimu karena perbuatanmu padaku, dan soal kau memendam dendam pada ayah kandungku, aku maklumi semua itu!”

Galuh mengangkat kepalanya, dengan kikuk ia pun memberanikan diri menatap Jaya, Galuh yang biasanya bersikap aneh, periang, dan rada-rada sableng itu tetap tidak sanggup menahan debaran jantungnya saat menatap pria yang ia cintai menyatakan cintanya pada dirinya, ia terus menjadi kikuk, tidak tahu apa yang ia rasakan, tidak tahu apa yang harus mengatakan apa, tidak tahu harus berbuat apa.

“Ah kita sudahi dulu drama orang muda ini!” tukas si Dewa Pengemis tiba-tiba yang membua Jaya dan Galuh tertunduk malu.

Si Dewa Pengemis lalu menghampiri Jaya, “Jaya, akibat perbuatan muridku empat tulang rusukmu telah patah, izinkanlah aku mengobatinya... Aku pernah mempelajari ilmu penyambung tulang dari seorang tabib asal Negeri Ming, ini akan sedikit sakit maka kerahkan semua tenagamu untuk menahannya!” Jaya mengangguk kemudian ia telungkup.

Si Dewa Pengemis meraba-raba iga Jaya yang telah patah, kemudian orang itu mengalirkan tenaga dalamnya, awalnya terasa sangat nyaman bagi Jaya, membuat rasa nyeri dan ngilunya menghilang perlahan, tapi tiba-tiba aliran tenaga dalam itu semakin deras masuk kedalam tubuh Jaya hingga pemuda ini merasa kepanasan dan kesakitan pada sekujur tubuhnya terutama di bagian tulang rusuknya yang patah. Pemuda ini pun mulai mengerang kesakitan.

Si Dewa Pengemis pun menekan tulang rusuk Jaya yang patah dengan kekuatan yang luar biasa dan... “AAAAAA!!!!” Krakkkkkkk!!! Jaya menjerit kesakitan berbarengan dengan suara tulang rusuknya berderak yang membuat siapapun yang mendengarnya merasa ngilu! Ajaib, tulang rusuknya yang patah telah menyambung kembali!

Si Dewa Pengemis melepaskan tangannya, ia lalu menyendekan punggungnya ke dinding dengan tubuh yang bermandikan peluh, Jaya pun masih terus mengeluh kesakitan, Galuh segera memegangi bahu Jaya dan mengalirkan tenaga dalamnya agar rasa sakit Jaya berkurang, “Kini empat tulang rusukmu yang patah sudah tersambung kembali, bersyukurlah pada Gusti Allah, kalau saja tulangmu yang patah itu melesak dan menusuk jantungmu, sudah pasti kau tidak akan ada lagi di dunia ini, dan tidak bisa menyatakan cintamu pada muridku yang Bengal itu!” ucap si Dewa Pengemis,

“Guru...!” rengek Galuh, si Dewa Pengemis mendelikan matanya pada muridnya seolah ia tidak buta, Galuh pun menghela nafasnya dan menatap Jaya. “Jaya maafkan aku...” ucapnya perlahan seperti berbisik.

“Tidak apa-apa Galuh” ucap Jaya, dia lalu menoleh pada si Dewa Pengemis, “Dewa Pengemis, terima kasih banyak atas pertolonganmu, aku sangat berhutang budi padamu!”

“Kau tidak perlu sungkan apalagi menyebut hutang budi segala padaku, aku ini hanya seorang pengemis hehehe....” tawanya, kemudian ia berhenti tertawa dan seolah matanya tidak buta ia menatap tajam pada Jaya, “Nah Jaya, ada hal yang harus aku sampaikan padamu, tapi sebaiknya kita tunggu dulu sampai kau sembuh.”

Jaya dan Galuh terdiam, mereka sangat penasaran dengan apa yang hendak disampaikan oleh si Dewa Pengemis, tapi sekonyong-konyong udara di sana berubah menjadi panas dan pengap, angin panas berseoran hingga menggetarkan gubuk butut itu, dan terdengarlah suara lolongan srigala saling bersahutan yang menegangkan bulu roma.

Jaya yang keadaannya masih sangat lemah dan belum bisa menghimpun tenaga dalamnya hanya bisa menatap tajam ke arah pintu gubuk itu, sementara Galuh dan si Dewa Pengemis langsung bersiap-siap karena perasaan mereka sangat tidak enak, dan benar saja, tiba-tiba berdirilah seorang pria bertubuh tinggi besar mengenakan pakaian dan jubah serba putih yang terbuat dari kulit dan bulu srigala putih yang didampingi dua ekor srigala putih di samping kiri kanannya. 

Tampang pria ini sangat aneh, rambutnya berwarna putih panjang awut-awutan, matanya hijau bagikan mata srigala. Pria ini lalu menyeringai, nampaklah giginya yang runcing-runcing bertaring seperti gigi seekor srigala.

“Sialan! Dia datang di saat yang tepat sekali setelah aku menguras tenaga dalamku untuk menyambungkan tulang Jaya!” rutuk si Dewa Pengemis sambil menatap pria aneh diambang pintu gubuk itu dengan matanya yang buta.