Episode 45 - Kepekatan dalam Dendam



Dua orang pemimpin kawanan bertopeng hitam itu masuk dan memberi isyarat agar Jaya dan Galuh mengikutinya, Jaya dan Galuh pun mengikutinya. Setelah didalam goa mereka pun kembali melesat jauh kedalam, Jaya dan Galuh harus benar-benar memusatkan fikiranya serta mengerahkan seluruh panca indranya untuk mengikuti tiga orang bertopeng hitam itu dalam gelap pekatnya goa tersebut. Ternyata goa tersebut cukup panjang, makin kedalam makin luaslah goa itu, hingga pada suatu titik, bagian dalam goa itu mulai diterangi oleh obor-obor yang terpasang didinding goa.

Mereka semua berhenti di dalam satu bagian goa yang paling luas, ditengah-tengah goa tersebut sudah menyala api unggun yang besar yang cukup untuk menerangi seluruh bagian perut goa tersebut dan menghangatkan dingin lembabnya udara di goa tersebut. 

“Silakan duduk.” si pemimpin itu mempersilahkan Jaya dan Galuh untuk duduk diatas sebuah balok kayu besar patahan dari pohon jati raksasa.

“Tunggu! Bukankah ini tempat yang kalian maksud, tentunya sudah cukup aman untuk memperkenalkan diri kalian bukan?” tukas Jaya.

Keenam orang bertopeng itu tertawa sebentar, “Ya, ya, anda benar tuan pendekar!” si pemimpin itu pun membuka topengnya, ternyata ia adalah Ki Balangnipa Mahapatih Mega Mendung. Kelima kawannya pun membuka topengnya, ternyata mereka adalah, Manggala Laskar Jaka Yaksa, Rakrean Rangga Panji Andara, Tumenggung Sentanu, Mantri Citrawirya, serta si Pekatik Kudanya Pangeran Dharmadipa, Mang Juju!

Jaya yang mengenali mereka tadi siang di ruang balai penghadapan keraton Rajamandala cukup terkejut dengan identitas mereka, pantas ia merasa seperti mengenal suara orang bertopeng tadi, sementara Galuh yang tidak mengenali mereka hanya melongo tidak mengerti, “Jaya siapa mereka?” tanyanya.

“Ah maafkan ketidak sopanan kami, maaf kami terpaksa harus menyusahkan kalian untuk menuju ke Goa Tunggul Manik tempat rahasia kami ini demi keamanan kita bersama. Perkenalkan, saya adalah Ki Balangnipa, ini adalah Ki Sentanu, Ki Citrawirya, Panji Andara, Jaka Yaksa, kami berlima adalah petinggi Mega Mendung. Lalu dan terakhir ini Mang Juju, ia adalah telik sandi kami yang memata-matai semua pergerakan Pangeran Dharmadipa dan Putri Mega Sari.”

“APA?!” bukan main terkejutnya Galuh, ia langsung bangun dan memasang kuda-kudanya, “Jadi kalian para pejabat Mega Mendung bawahan si Kertapati keparat itu?!”

Ki Balangnipa berdeham mendapati keterkejutan Galuh itu, dengan tenang ia membuka suaranya, “Nona Dewi Pengemis, tenanglah, justru tujuan kami mengajak Nona dan Tuan pendekar adalah untuk menjatuhkan Prabu Kertapati!”

Lagi-lagi Jaya dan Galuh dibuat terkejut mendengar ucapan orang tua tersebut, “Apa maksudmu?” Tanya Galuh.

“Tenanglah, biar saya ceritakan semuanya dari awal termasuk ikhwal identitas Raden Jaya Laksana, karena sayalah yang membunuh seorang lurah Tantama yang bernama Jayadi, yang ditugaskan untuk mengaku sebagai ayah Raden dan mengantarkan Tuan yang masih bayi ke padepokan Sirna Raga… Saya ditugaskan untuk membunuhnya demi menutupi jejak perbuatan Prabu Kertapati…”

Jaya hanya terdiam dengan ekspresi muka yang campur aduk, dia hanya menatap tajam pada Ki Balangnipa, Galuh yang tadinya berapi-api pun jadi tertarik dengan ucapan Ki Balangnipa tersebut, ia pun memutuskan untuk duduk dan menyimak penuturan dari Ki Patih.

Ki Patih berdeham lalu memulai ceritanya, matanya menerawang kejadian dua puluh tahun yang lalu, “Dua puluh satu tahun yang lalu... Prabu Wangsareja menerima pinangan dari Sri Baduga Maharaja yang melamarkan putra Bungsunya yang bernama Kerta Laksana, Sang Prabu yang begitu terkesan melihat pancaran Pangeran Kerta Laksana langsung mengangkatnya menjadi putra mahkota Mega Mendung menggeser Pangeran Bogaseta yang kemudian hanya dijadikan seorang Adipati.

Satu tahun kemudian, Prabu Wangsareja mangkat dalam usia yang masih terbilang muda, naik tahtalah Pangeran Kerta Laksana menjadi Prabu Mega Mendung dengan gelar Sri Maharaja Kertapati atau lebih dikenal sebagai Prabu Kertapati. Saat itu ia naik tahta dalam keadaan Negara yang serba sulit, dalam urusan dalam negeri Negara ini masih memeluk kepercayaan leluhur sementara rakyatnya telah beralih memeluk Islam, urusan luar negeri adalah status Mega Mendung yang saat itu merupakan Negara bawahan Padjadjaran, 

Negara ini menjadi satu-satunya Negara bawahan Pajajaran yang masih setia, sebab itu Negara yang masih setia pada Pajajaran seperti Galuh Pakuan dan Parakan Muncang sudah jatuh. Sedangkan Negara yang lain, memutuskan untuk menjadi Negara Islam dan masuk kedalam aliansi Demak, Cierbon, dan Banten.

Pada saat gabungan pasukan Demak, Cirebon, dan Banten menggempur Pajajaran, Prabu Kertapati melihat ini adalah satu peluang emas bagi dirinya untuk memerdekakan Mega Mendung dari kekuasaan Pajajaran, maka ia memutuskan untuk membokong pasukan Pajajaran dan gabungan pasukan Islam saat perang. 

Namun hal itu tidak dapat dilaksanakan sebab Prajurit Portugis yang kala itu memihak Pajajaran dapat melihat setiap gerak-gerik pasukan Mega Mendung, mereka melaporkan kepada Prabu Arya Suriawisesa bahwa Mega Mendung hendak mbalela, maka dengan tuduhan hendak melakukan pemberontakan, seluruh pasukan Pajajaran dengan dibantu pasukan Portugis menggempur perkemahan Mega Mendung setelah senja harinya berhasil menghalau pasukan gabungan Islam. (Mbalela = Memberontak).

Dalam keadaan yang sangat terjepit, Prabu Kertapati berhasil meloloskan diri dan memutuskan untuk ke Gunung Patuha demi meminta bantuan seorang pertapa sesat dari golongan hitam yang bernama Topeng Setan untuk menyelamatkan negaranya dan membuat Mega Mendung menjadi satu Negara besar yang mampu menaklukan Negara-negara lain di tanah Pasundan ini.

Topeng Setan setuju dengan perjanjian tersebut dengan satu syarat, Prabu Kertapati harus mengorbankan putra laki-laki sulungnya dan mempersembahkan jantung bayi itu pada Topeng Setan saat bayi itu berusia tujuh hari, hal ini berlaku pula pada semua keturunannnya yang akan mewarisi Mega Mendung. Itulah yang membuat Prabu Kertapati hampir membunuhmu dan membuangmu karena permohonan dari Dewi Nawangkasih yang tidak tega untuk membunuhmu, maka Radenpun dibuang dengan cara dititpkan ke padepokan sirna raga asuhan Kyai Pamenang!”

Bukan main terkejutnya Galuh! Gadis ini menatap dengan mata tidak percaya pada Jaya, sekonyong-konyong dadanya langsung sesak oleh perasaan dendamnya kepada Prabu Kertapati! Kini telunjuknya menunjuk lurus-lurus pada batang hidung Jaya, “Jadi.... Jadi kau adalah anak dari Kertapati? Darah daging Raja durjana yang membantai seluruh keluargaku?!”

Jaya langsung berusaha untuk menyabarkan Galuh dan menjelaskan semuanya “Galuh tunggu... biarkan aku jelaskan semuanya...”

“Tidak! Jadi kau anak pembunuh seluruh keluargaku!” jerit Galuh, tangan kanannya terangkat tinggi-tinggi keatas siap menembakan pukulan “Kawah Tnggul” pada Jaya! Tetapi tidak jadi ia lakukan karena ada satu perasaan aneh yang membuatnya tidak sanggup untuk melakukannya, akhirnya gadis ini menitikan air matanya, ia hanya bisa menangis mendapati kenyataan yang menyesakan itu, ia langsung melesat keluar dari goa meninggalkan Jaya, Jaya hanya bisa berdiri diam mematung menatap kepergian Galuh.

Ki Balangnipa berdeham yang membuat Jaya tersadar dan melirik kembali pada orang tua itu, “Maafkan saya Raden, saya tidak mengira kalau nona Dewi Pengemis akan bertindak demikian sebab kami mengira bahwa anda berdua adalah sepasang pendekar sebagaimana yang dikisahkan angin persilatan yang berhembus di Mega Mendung ini... Bagaimana? Apa saya bisa melanjutkan?”

Jaya hanya bisa diam karena bingung mau berkata atau melakukan apa, Ki Balangnipa pun menganggap bahwa itu isyarat baginya untuk melanjutkan. “Itu baru ceritanya, belum maksud kami untuk mengundang Raden kemari, Prabu Kertapati berhasil memerdekakan negeri ini, tapi kemerdekaan kami harus dibayar dengan sangat mahal! Prabu Kertapati berubah dari seorang raja yang arif menjadi raja yang bertangan besi!

Hidup rakyat kami begitu menderita akibat harus membayar pajak yang terlampau mencekik, para pemuda dari seluruh desa diharuskan untuk menjadi angkatan perang Mega Mendung, para pandai besi bekerja siang malam untuk membuat senjata, dan terutama bagi rakyat yang beragama Islam, kami dilarang beribadah di daerah Kutaraja ini, para pejabat yang muslim disingkirkan dari pemerintahan secara perlahan.

Hal ini diperparah setelah Prabu Kertapati mengangkat Dharmadipa menjadi putra mahkota, tindakannya pada rakyat dan para pejabat yang muslim sungguh sangat kejam, tuan bisa melihat sendiri apa yang ia lakukan pada Almarhum Tumenggung Wiralaya beserta seluruh anggota keluarganya! Prabu Kertapati memang telahmemerdekakan dan membesarkan Negara ini, jauh lebih besar dari masa pemerintahan Prabu Wangsareja, tapi yang ia pikirkan hanya memperkuat angkatan perang, bukan kemakmuran rakyatnya!”

Jaya mengangguk perlahan, “Jadi apa tujuanmu sebenarnya Ki Patih?” satu pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu Jaya lontarkan karena maksud dan tujuan Ki Balangnipa sudah sangat jelas.

Ki Balangnipa melirik terlebih dahulu kepada Ki Sentanu dan Ki Citrawirya baru kemudian menjawab, “Niat kami tidak lain dan tidak bukan adalah menjadikan Raden sebagai pemimpin kami, untuk memimpin pergerakan menjatuhkan Prabu Kertapati, dan kemudian menjadi Raja kami semua!”

“Begitu? Bukankah Kanjeng Ibu memiliki seorang adik yang kalian sebut Pangeran Adipati Bogaseta itu? Menapa tidak menjadikan dia pemimpin kalian? Bukankah ia juga berhak atas tahta Mega Mendung?” Tanya Jaya.

Ki Balangnipa menghela nafasnya, wajahnya nampak sangat keruh, “Betul... Akan tetapi ia telah terlanjur menjual dirinya pada pihak Banten, sehingga kalau ia yang menjadi pemimpin, kami khawatir ia akan menjual negeri ini pada Banten, kemerdekaan yang sudah kami raih dengan susah payah ini bisa sirna dengan menjadi Negara bawahan Banten, atau bahkan hanya menjadi kadipaten wilayah Banten!”

Jaya mengangguk-ngangguk, Ki Balangnipa, Ki Sentanu, Ki Citrawirya, Jaka Yaksa, Panji Andara, Mang Juju, beserta seluruh tokoh gerakan topeng hitam yang hendak menggulingkan kekuasaan Prabu Kertapati menunggu jawaban Jaya dengan jantung berdebar, tapi kemudian satu jawaban yang keluar dari mulut Jaya sangat tidak mereka duga, dendam Jaya pada Prabu Kertapati yang hendak dimanfaatkan oleh mereka tidak digubris oleh Jaya, “Maaf... Saya tidak berniat menjadi raja Mega Mendung, saya lebih memilih untuk meninggalkan Mega Mendung!”

“Apa? Tunggu tuan pendekar!” sergah Ki Balangnipa, tetapi Jaya langsung berkelebat keluar dari goa Tunggul Manik itu dan langung menghilang dalam sekejap mata! 

Tinggalah Ki Balangnipa beserta yang lainnya terdiam saling beradu pandang, “Bagaimana ini? Harapan kita satu-satunya telah gagal!” keluh Ki Sentanu.

Ki Balangnipa terdiam sejenak memandang api unggun, kemudian ia berkata. “Tidak juga... menurutku pemuda itu akan membalaskan dendamnya pada Prabu Kertapati, itu kesempatan terakhir kita untuk menyingkirkan Prabu Kertapati sekaligus menghindari penjajahan Banten! Saat itu kita paksa dia untuk menjadi Raja di Mega Mendung demi menghindari kekosongan kekuasaan!”

Semua yang ada di sana pun mengangguk “Semoga saja Kakang Patih” sahut KI Citrawirya.

***

Ditepi sungai Citarum, Galuh menangis sesegukan sambil menatap air sungai yang mengalir. Malam yang cerah terang bulan tersebut begitu sunyi, hingga suara isak tangis gadis hitam manis ini jelas terdengar, “Mengapa? Mengapa oh Gusti? Takdir begitu kejam! Kenapa Jaya harus menjadi anak dari Raja durjana yang membunuh seluruh anggota keluargaku? Menapa?!” serunya histeris.

Saat itu tiba-tiba berdirilah seorang pemuda dibelakang Galuh, Galuh yang menyadari kehadiran pemuda itu langsung membalikan badannya, “Jaya! Katakan yang sebenarnya! Apa yang dikatakan Ki Balangnipa tadi bohong kan?! Kau bukan anak Kertapati si Jahanam itu kan?!” pekiknya dengan suara parau serta mata sembab pada si pemuda yang memang tak lain adalah Jaya tersebut.

Jaya hanya terdiam tertunduk lesu, wajahnya nampak sangat muram, Galuh pun menarik kerah baju Jaya dan berteriak didepan wajah si pemuda. “Ayo katakan yang sebenarnya! Jangan diam saja!”

Jaya menghela nafas berat, kemudian dengan mata sayu ia menatap kedua bola mata Galuh yang cantik itu, “Galuh... Maaf... Aku tidak bisa bersamamu lagi…”

Galuh menarik kerah baju Jaya dengan cengkraman yang sangat kuat sehingga wajah mereka hampir beradu, matanya melotot membesar sambil mengalirkan air matanya, “Galuh... Prabu Kertapati yang membunuh seluruh anggota keluargamu adalah... Ayahku!” 

Galuh melepaskan cengkramannya, matanya melotot menatap Jaya, “Apa maksudmu?”

“Ibuku adalah Dewi Nawangkasih, adikku adalah Dewi Mega Sari, dan Kakang Dharmadipa kini menjadi adik iparku! Aku mengetahuinya di keraton tadi…” ucap Jaya dengan kepala tertunduk. 

“Jangan bercanda!” Bentak Galuh.

“Maaf aku tidak bercanda... Galuh peganglah tanganku, dan kau akan mengetahui semuanya!” Jaya mengulurkan tangan kanannya, cincin Kalimasada memancarkan cahaya berwarna biru terang sekali, dengan perlahan Galuh pun memegang tangan Jaya, dan ajaib! Kejadian 20 tahun yang lalu sampai kejadian di keraton Rajamandala tadi tentang kisah hidup Jaya tiba-tiba tergambar di jelas di benak Galuh! Air mata Galuh pun semakin deras seiring dengan dadanya yang semakin menyesak mendapati bahwa orang yang ia cintai adalah anak pembantai keluarganya!

Jaya lalu menatap Galuh dengan sayu, “Galuh apakah kau ingin membunuhku?”

Galuh hanya menatap Jaya dengan tatapan penuh dendam membara, sementara Jaya nampak pasrah, “Galuh, aku bersedia mati ditanganmu! Nah bunuhlah aku!”

Tiba-tiba Galuh mengangkat tangan kanannya, pandangan matanya beringas seperti hendak membunuh Jaya! Telapak tangan kanannya kemudian mengepal mengirimkan satu pukulan ke dada Jaya dengan tenaga dalam penuh! Desh! Uhhkkkk! Jaya mengeluh ketika pukulan Galuh mendarat didadanya, karena dalam posisi pasrah, Jaya tidak mengerahkan sedikitpun tenaga dalamnya untuk menahan pukulan Galuh, pemuda itupun jatuh tersungkur dengan darah mengalir dari sela-sela bibirnya, nafasnya terasa sesak!


Melihat Jaya yang jatuh tersungkur, Galuh seolah kesetanan, ia membuka jurus “Garuda Emas Menerjang Badai” yang merupakan jurus silatnya yang terhebat, ia lalu menerjang Jaya dengan tenaga dalam penuh! Entah berapa pukulan dan tendangan yang bersarang di tubuh putra Prabu Kertapati itu, Jaya benar-benar dibuat babak belur oleh amukan si Dewi Pengemis tanpa melakukan sedikitpun perlawanan ataupun berusaha menghidar, ia biarkan semua serangan Galuh bersarang telak di tubuhnya, darah mengucur deras dari mulut dan hidungnya.

Akhirnya Jaya jatuh tersungkur tanpa sanggup bangkit lagi, saat itu Galuh melepaskan salah satu pukulan saktinya yakni pukulan “Badai Laut Kidul”! Blarrr!!! Satu angin pukulan jarak jauh yang dahsyatnya seolah topan prahara mendera tubuh Jaya, Blarrr! Tubuh Jaya menclat beberapa meter lalu jatuh terguling-guling, pemuda ini menggeliat-geliat kesakitan sambil muntah darah, ia mengp-mengap karena sudah kesulitan untuk bernafas, beberapa tulang rusuknya patah akibat serangan-serangan dari Galuh terutama dari pukulan Badai Laut Kidul barusan.

“Kenapa?! Kenapa kau tidak melawan pemuda tolol?!” bentak Galuh histeris sambil menangis. 

“Karena... Uhuk! Uhuk! Karena... Aku mencintaimu Galuh! Aku ikhlas mati ditanganmu sebagai tumbal perbuatan ayahku padamu! Aku mencintaimu Galuh! Uhukk!! Hoekkk!!!” jawab Jaya dengan lemas sambil terbatuk-batuk dan muntah darah.

Menderngar ucapan dari Jaya tersebut, tiba-tiba Galuh merasa lemas, seolah seluruh tenaganya yang tadi meluap-lupa karena nafsu dendam sirna seketika, ia jatuh berlutut sambil menangis, “Oh Gusti! Kenapa ini semua terjadi?! Kenapa harus begini?! Kenapa?!” jeritnya histeris sambil menatap Jaya yang benar-benar dalam keadaan terluka parah dengan kedua matanya yang berlinang oleh air matanya.

“Galuh... Kau sudah menghancurkan hatiku…. Kau sudah meluluh lantakan hatiku… Maka aku relakan hidupku padamu.... Aku tidak sanggup dan tidak ingin menjadi tumpuan dendammu! Aku mencintaimu Galuh! Lakukanlah, aku sudah siap!” ucap Jaya dengan lemas. 

Galuh mengangkat tangan kanannya, mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke telapak tangan kanannya, udara disekitar sana sontak menjadi panas dan berbau belerang tanda Galuh siap melepaskan pukulan pamungkasnya yakni pukulan “Kawah Tunggul”, namun hati gadis ini diserang keragu-raguan yang teramat sangat, ia merasa sangat bimbang, ia tidak tahu harus berbuat apa, disatu sisi ia amat mendendam pada Prabu Kertapati dan seluruh negeri Mega Mendung, tapi disisi lain ia amat mencintai Jaya yang ternyata adalah anak Prabu Kertapati, dilemalah hati gadis ini.

Tiba-tiba semilir angin yang teramat dingin mencucuk tulang sumsum, bertiup lembut seiring dengan suara petikan kecapi yang terdengar amat halus dan menyayat hati, namun suaranya menggema ke mana-mana, sekonyong-konyong berdirilah seorang Kakek tua berpakaian ala pengemis yang bermata buta sambil memainkan kecapinya di tengah-tengah Galuh dan Jaya.