Episode 43 - Tersibaknya Tabir (1)


Jaya kembali ke biliknya setelah tadi diundang untuk makan malam bersama dengan Pangeran Dharmadipa dan Putri Mega Sari yang merupakan saudara seperguruannya untuk sekedar melepas kangen karena sudah lama sekali mereka tidak bercengkrama, berkumpul untuk mengobrol bersama.

 Pemuda yang kini menjadi lurah tantama Pura Kesatriaan tersebut membaringkan tubuhnya diatas kasurnya yang empuk, ia menghela nafas panjang dengan berat hingga desahan nafasnya terdengar amat jelas, dadanya terasa sangat sesak dan berat bagaikan ditindih oleh suatu beban yang sangat berat, di matanya terus terbayang sosok Mega Sari yang sedang tersenyum malu-malu padanya, hatinya terasa sakit tatkala ia merasakan suatu perasaan hangat namun menusuk saat melihat kembali Mega Sari setelah sekian lama tak berjumpa.

“Mega Sari...” gumamnya, ia kemudian menampar keingnya sendiri, “Tidak! Sadarlah Jaya! Sekarang ia sudah menjadi milik orang lain! Milik Kakakmu sendiri!” tukasnya dalam hati, kemudian lama ia terdiam menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan dan pikiran kosong.

”Cinta…” Kau datang begitu aneh… Tidak memilih siapa yang dicintai, tidak mengenal batas derajat dan keturunan, tidak memandang harta dan tahta. Cinta begitu indah, tetapi terkadang bisa kejam. Itulah sebabnya aku merana seperti ini karena tidak sanggup menggapai apa yang aku kehendaki!” desahnya dalam hati dengan pilu.

“Keturunan? Trah?... Apakah itu suatu syarat mutlak untuk mencintai dan dicintai? Apakah seseorang harus menjadi seorang keturunan raja dan memiliki trah raja untuk dapat bersanding dengan orang yang ia cintai?“ desis pemuda ini dengan geram,

 Hatinya yang terasa pedih kini memanas membara, tapi sesaat kemudian amarahnya langsung lenyap sesaat, rasa panas membara itu kini kembali menjadi rasa pedih yang menusuk-nusuk, “Keturunan raja... Trah Raja... Bagaimana kalau aku seandainya memang memiliki trah raja dan keturunan seorang raja agung di tanah pasundan atau di seantero nusantara ini?” pikirnya.

Pikiran pemuda ini terus berkecamuk antara rasa sakitnya pada cintanya yang gagal dan lamunan andai-andainya apabila ia menjadi seorang pangeran keturunan raja dan trah raja hingga akhirnya rasa kantuknya menyerang dirinya, dan ia pun tertidur tanpa sempat membaca doa dan berdzikir seperti kebiasaannya selama ini, imannya seolah runtuh diterjang oleh rasa kecewanya karena gagal untuk menyatukan cintanya pada Mega Sari, lupalah ia pada tekadnya tiga tahun yang lalu untuk melupakan Mega Sari dengan cara mendekatkan diri pada Sang Khalik, hingga tiba-tiba Jaya Laksana merasa berada di suatu tempat yang sangat asing!

Jaya Laksana tiba-tiba berdiri diatas sebuah puncak gunung pada malam hari yang sangat cerah hingga secuil awan pun tak nampak di beningnya langit malam tersebut, ia melihat hamparan padang rumput yang lapang yang mengelilingi gunung tersebut, tiba-tiba ia melihat bulan purnama berwarna emas yang sangat besar bersinar terang tepat diatas kepalanya di antara taburan kerlap-kerlip lautan bintang yang juga memancarkan cahaya peraknya dengan sangat terang, Jaya pun terkesima menatap bulan purnama tersebut. 

Tiba-tiba satu petir yang sangat besar menggelegar dengan sangat dahsyat hingga membuat seluruh tempat itu terguncang yang disusul dengan suatu gempa bumi yang termat dahsyat! Tsunami tiba-tiba datang menyapu tempat itu yang entah darimana datangnya. Jaya jatuh terduduk setelah seluruh tempat itu diterpa gempa bumi yang sangat dahsyat tersebut, tiba-tiba suatu keanehan terjadi…

Jaya kaget sekali ketika melihat padang rumput di bawah gunung tersebut berubah menjadi lapangan merah bekas tempat peperangan bagaikan kurusetra tempat para pandawa berperang dengan kurawa, di padang rumput tersebut dipenuhi oleh tumpukan mayat-mayat manusia serta hewan-hewan tunggangan perang dan bekas senjata-senjata yang rusak dan belumuran darah, darah pun menganak sungai di padang rumput yang tadinya hijau tersebut, dan yang lebih membuatnya kaget lagi adalah tiba-tiba bulan purnama raksasa yang tadinya berwarna emas itu berubah menjadi semerah darah dan jatuh menindih Jaya! Jaya megap-megap karena ia tak mampu menyingkirkan bulan purnama raksasa berwarna merah darah yang menindih tubuhnya itu, tubuhnya terus melesak kedalam tanah!

Saat itulah Jaya membuka matanya, dengan nafas tersenggal-senggal dan tubuh bermandikan keringat ia bangun dari tidurnya, setelah beberapa saat Jaya berhasil mengatur nafasnya, ia lalu menatap kesekelilingnya, ternyata ia masih berada di kamarnya, ia kemudian membaca Istigfar sambil membasuh wajahnya, “Astagfirullah... Mimpi buruk yang sangat aneh…” desahnya, ia kemudian teringat kalau tadi ia tertidur tanpa membaca doa dan berdzikir seperti biasanya karena terlalu dalam meratapi kesedihan hatinya akibat cintanya yang gagal pada Mega Sari, kembali ia berkali-kali membaca Istighfar, ia menyesal sekali karena lupa pada tekadnya untuk melupakan Mega Sari dan mendekatkan dirinya pada Allah SWT.

Jaya lalu bangkit berdiri, ia membuka jendela kamarnya, ternyata hari masih gelap, masih dini hari menjelang subuh, ia pun menutup kembali jendelanya dan duduk di pinggir kasurnya sembari menggaruk-garuk kepalanya tidak gatal. “Tapi mimpi apa itu tadi? Sangat aneh dan sangat mengerikan... Apa artinya?” Tanya Jaya pada diri sendiri, bulu kuduknya berdiri tatkala ia mengingat mimpinya yang aneh dan menyeramkan itu.

***

Di sebuah hutan di pinggiran sungai, Galuh Parwati terbangun dari tidurnya, wajahnya sangat pucat pasi, sekujur tubuhnya dibasahi oleh keringat dingin, nafasnya tersenggal-senggal, “Ada apa Galuh?” Tanya si Dewa Pengemis yang nampaknya masih terjaga dan tidak tidur.


Galuh menyeka keringat di keningnya, ia lalu menoleh dan menjawab, “Murid bermimpi sangat buruk guru... Sangat menakutkan, sangat menyeramkan!”

“Mimpi apakah itu Galuh?” Tanya si Dewa Pengemis yang jari-jari tangannya mulai bergerak memainkan kecapi diatas pangkuannya.

“Murid bermimpi melihat seorang tua berpakaian serba putih memberikan dan memakaikan mahkota raja pada Jaya Laksana yang berpakaian seolah seorang raja dengan segala kebesarannya lengkap dengan keris pusakanya yang nampak sangat aneh, tapi sesaat kemudian setelah mahkota itu terpasang diatas kepala Jaya, satu petir meledak dengan amat dahsyat, hujan darah pun turun, tiba-tiba satu mahluk raksasa berwarna merah, bertanduk, yang rupanya sangat menyeramkan berdiri dibelakang Jaya. Dia menyeringai buruk kemudian memegang pundak Jaya.

Saat itu, seluruh tempat itu dikepung oleh ribuan pasukan dari berbagai negeri, para pasukan itu berperang disekeliling Jaya hingga tempat itu pun menjadi banjir darah, Jaya pun jatuh berlutut, ia nampak sangat kesakitan ketika mahkota itu seolah menindih dan menghimpit kepalanya, ia berusaha untuk melepaskan mahkota tersebut, murid pun yang saat itu entah mengapa berpakaian seperti seorang putri keraton berusaha membantu Jaya untuk melepaskan mahkota emas bertahtakan berlian tersebut, namun murid tak sanggup hingga akhirnya tiba-tiba bumi terbelah dan menelan kami!”

Si Dewa pengemis menghentikan permainan kecapinya, ia merenung, wajahnya berubah menjadi kusut sekali, “Ada apa guru? Apakah mimpi murid bertanda jelek?”

Si Dewa Pengemis menghela nafas berat lalu mengangguk-ngangguk, “Itu pertanda yang sangat berbahaya... Sangat buruk…”

“Apa?! Jadi apa yang murid harus lakukan?”

Si Dewa Pengemis terdiam sejenak, lalu seolah menatap dengan tajam oleh matanya yang buta pada muridnya yang terkasih itu, ia membuka mulutnya, “Galuh muridku... Aku tidak dapat berkata banyak tentang mimpimu itu, tapi aku hanya bisa bertanya satu hal padamu, apakah kau sudah menentukan pilihanmu? Apakah kau memilih untuk pulang ke Bukit Tunggul untuk menjadi pertapa perawan seumur hidup atau kembali pada Jaya dan membantunya melaksanakan tugasnya?”

Gadis cantik berkulit hitam manis itu termenung sejenak, kemudian dengan mantap ia menjawab, “Maafkan murid guru, kalau murid tidak bisa ikut pulang ke bukit tunggul”

Si Dewa Pengemis mengangguk sambil tersenyum “Baiklah kalau begitu, aku suka kau mengambil keputusan demikian…”

Galuh pun mengangguk sambil tersenyum, ia pun segera pamit dan Dewa Pengemis pun mengizinkan gadis cantik itu pergi, seperginya muridnya yang sangat ia kasihi itu, si Dewa Pengemis merenung, wajahnya nampak sangat muram, “Duh Gusti... Kalau mimpi Galuh benar adalah suatu pertanda, maka itu berarti Jaya Laksana tidak memiliki wahyu keprabuan untuk menjadi seorang Raja, padahal kami dari golongan putih yang berdiam di bumi Mega Mendung ini sangat berharap pada Jaya yang akan membawa kedamaian di bumi Mega Mendung ini... Ya Allah, jika semua itu memang kehendakMU, kami hanya mengikuti saja tanpa berhak mempertanyakannya…”

Si Dewa Pengemis pun menengadahkan kepalanya, ia terdiam beberapa saat seolah sedang menatap bulan purnama dengan matanya yang buta itu, hanya desahan nafasnya yang berat saja yang terdengar... Agak lama kemudian dia pun bangkit berdiri lalu melangkah ke arah perginya Galuh tadi.

***

Keesokan pagi harinya di Kesatriaan Keraton Mega Mendung, Jaya mengahadap Pangeran Dharmadipa, Sang Pangeran bersama Putri Mega Sari nampak sedang bersiap-siap untuk menghadap Sang Prabu yang baru saja pulang dari pertapaannya di Gunung Padang untuk penghadapan agung di Balai Penghadapan Keraton, Pangeran Dharmadipa meminta Jaya untuk ikut untuk melaporkan kejadian penyusupan beberapa pasukan pembunuh khusus dari Banten beberapa hari yang lalu.

“Jaya apa pendapatmu tentang Gusti Prabu Kertapati?” Tanya Pangeran Dharmadipa setelah ia selesai bersiap pada Jaya di pendapa kesatriaan. “Apakah ia iblis yang tercipta dari peperangan yang telah berlangsung lebih dari 30 tahun ini, atau setan yang membuat semua rakyatnya menderita dalam kemiskinan?” lanjutnya,.

“Kenapa bertanya padaku?” Tanya balik Jaya.

Pangeran Dharmadipa menyunggingkan senyumnya, “Aku penasaran, bagaimapaun juga kalau tidak ada orang yang kuat yang mampu mempersatukan seluruh tanah Pasundan seperti yang dilakukan oleh mendiang Prabu Sri Baduga Maharaja dulu, perang tidak akan berakhir! Menurutku Prabu Kertapati lah yang sanggup melakukan itu, dan setelahnya akulah yang akan mewarisi seluruh negeri dan tanah pasundan ini! Nah itulah pendapatku tentang Gusti Prabu, aku penasaran karena selama kita berbincang disini, kamu belum pernah sekalipun mengungkapkan pendapatmu tentang Gusti Prabu.”

Jaya Laksana mengangguk dia mahfum kalau Pangeran Dharmadipa sedang menanyakan kesetiannya sebelum meminta Sang Prabu untuk memberikan jabatan penting pada Jaya, “Kakang, apakah tekadku untuk mengabdi pada negeri ini tidak cukup meyakinkanmu? Kukira siapapun rajanya, seorang prajurit wajib untuk menuruti kehendak dan perintah rajanya, seorang prajurit wajib membela negaranya sampai titik darah penghabisan!”

Pangeran Dharmadipa tertawa kecil, “Cukup adil bagiku, jawabanmu adalah jawaban seorang prajurit sejati yang melambangkan kesetiannya pada negerinya! Obrolan mereka pun terputus ketika Mega Sari yang sudah siap keluar dari kamarnya, Pangeran Dharmadipa dan Mega Sari pun pergi ke balairiung keraton untuk penghadapan agung dengan dikawal oleh lurah tantama kepercayaan mereka Jaya Laksana.

Di Balai Penghadapan Keraton Mega Mendung, Prabu Kertapati mendengarkan seluruh laporan selama ia pergi dari seluruh pejabat istana, termasuk ikhwal Tumenggung Wiralaya yang dianggap memberontak oleh Pangeran Dharmadipa serta penyusupan para pasukan pembunuh khusus dari Banten yang berhasil ditumpas oleh seorang pendekar bernama Jaya Laksana yang berjuluk Pendekar Dari Lembah Akhirat.

Terkejutlah Prabu Kertapati mendengar nama Jaya Laksana tersebut, begitupun Dewi Nawang Kasih sang permaisuri, Sang Prabu pun meminta Pangeran Dharmadipa untuk memanggil Jaya Laksana, Jaya Laksana pun masuk dengan berjinjit lalu membungkuk menjura hormat pada Sang Prabu, terkejutlah Sang Prabu dan Sang Permaisuri melihat sosok yang bernama Jaya Laksana ini.

Akan tetapi sebagai seorang Raja dan ratu dari sebuah Negara besar yang sedang dihadap oleh seluruh pejabat negeri ini, mulai dari Demang sampai para senopati dan Mahapatih, Dewi Nawangkasih dan Prabu Kertapti segera menindih rasa terkejutnya itu, Dewi Nawangkasih segera menundukan kepalanya meskipun dengan ekor matanya ia berusaha menatap kain batik yang menjadi ikat kepala Jaya, sementara Prabu Kertapati kembali memasang wajah tenangnya sehingga kewibawaan tetap terpancar dari wajah Sang Prabu yang sangat sakti ini.

“Jadi kau yang bernama Jaya Laksana yang berhasil menumpas para pasukan pembunuh khusus dari Banten yang membuat onar di Kutaraja Rajamandala ini?” Tanya Prabu Kertapati dengan sangat berwibawa, sorot matanya yang sangat tajam seolah menusuk dan menguliti Jaya Laksana.

“Hamba Gusti Prabu.” jawab Jaya Laksana seraya menghaturkan sembahnya, sikapnya tetap tenang dan sopan mendapati tatapan tajam Sang Prabu, seolah sudah terbiasa menghadap Raja.

“Baiklah ceritakan semua kejadian tersebut!” perintah Sang Prabu.

Jaya pun menceritakan semua kejadiannya sambil menundukan kepalanya dan sikap yang sangat hormat, Sang Prabu pun mendengarkan laporan Jaya dengan seksama, sambil memperhatikan seluruh tubuh Jaya, hatinya merasa tergetar ketika melihat seolah ada suatu pancaran sinar emas yang terang benderang yang terpancar dari kening Jaya yang tertutupi oleh ikat kepala bermotif batik miliknya, pancaran sinar yang tidak dimiliki oleh Pangeran Dharmadipa atau Putri Mega Sari sekalipun!

Sikap Jaya yang penuh hormat serta sopan santun pada Sang Prabu tersebut membuat semua pejabat di sana kagum, karena mereka semua tahu bahwa Jaya adalah dari golongan pendekar yang hidup bebas dan jauh dari anggah-ungguh etika keraton, dan ini merupakan pertama kalinya Jaya menghadap Sang Prabu, tapi anehnya Jaya seolah sudah lama menjadi abdi keraton, bahkan beberapa orang yang waskita yang hadir di penghadapan agung tersebut dapat melihat suatu pancaran yang aneh yang bersinar dari kening Jaya yang tak nampak oleh mata biasa, bahkan pancaran tersebut nampak lebih terang daripada pancaran yang dimiliki oleh Pangeran Dharmadipa, yang mampu membuat tunduk dan gentar bagi siapapun yang melihatnya.

Setelah Jaya selesai menceritakan seluruh laporannya, Prabu Kertapati pun menanyakan identitas Jaya, “Ampun Gusti Prabu, hamba berasal dari padepokan Sirna Raga di bukit tagok apu, murid dari Kyai Pamenang dan Nyai Mantili, ayah hamba bernama Jayadi yang tewas saat mengantarkan hamba ke padepokan, dan hamba tidak tahu siapa ibu hamba…” jelas Jaya.

Semakin tergetarlah hati Prabu Kertapati dan Dewi Nawangkasih, Sang Dewi pun kian menundukan kepalanya berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya, sementara Sang Prabu tetap bersikap normal seperti biasa meskipun hatinya tergetar hebat.

“Baiklah, memandang jasamu yang cukup besar dengan menumpas para pasukan pembunuh dari Banten yang mengacau di bumi Mega Mendung, serta kau adalah murid kedua tokoh besar di Mega Mendung yang juga artinya kau saudara seperguruan Putra Mahkota dan putriku, kau kuangkat menjadi Manggala Bhayangkara dengan gelar Tumenggung menggantikan Ki Wiralaya yang menjadi penghianat negeri ini!” sabda Sang Prabu.

Jaya pun membungkuk menjura hormat, sontak semua yang berada di sana pun kaget dengan keputusan Sang Prabu karena jabatan Manggala Bhayangkara bukan jabatan yang sembarangan! Meskipun Jaya dinilai berjasa dan merupakan saudara seperguran Sang Pangeran dan Putri Raja, tapi itu tidak menjadikan Jaya berhak duduk di jabatan itu! Kira-kira begitulah pendapat mayoritas yang hadir dalam penghadapan agung tersebut, namun lain halnya dengan Mahapatih Ki Balangnipa, orang tua yang telah banyak pengalaman ini langsung tahu siapa Jaya sebenarnya setelah Jaya menceritakan identitasnya pada Sang Prabu, sebab ia sendirilah yang membunuh pemuda yang bernama Jayadi yang juga merupakan ponggawa dari Mega Mendung tersebut.

Setelah itu pertemuan itu pun dilanjutkan dengan pemberian laporan dari semua pejabat pada Sang Prabu, Sang Prabu pun memberikan sabda-sabda perintahnya terkait dengan laporan-laporan tersebut, hingga hari menjelang sore, barulah pertemuan agung itu selesai, semua pejabat dan para pemuka adat, serta pemuka agama yang hadir mohon dirinya satu persatu, hingga tinggal keluarga raja saja yang masih berdiam di balai penghadapan tersebut.

Jaya yang tadinya hendak memohon diri pun diminta untuk menunggu oleh Pangeran Dharmadipa karena ia mempunyai ide untuk mengangkat Jaya sebagai calon mahapatih pengganti Patih Ki Balangnipa yang telah sepuh apabila Ki Balangnipa mangkat atau mengundurkan diri kelak.

Tapi yang terjadi adalah sesuatu yang tidak diduga oleh Pangeran Dharmadipa maupun putri Mega Sari, Dewi Nawangkasih bangun dari duduknya lalu melangkah mendekati Jaya dengan berurai air mata, matanya melotot menatap Jaya, Jaya pun hanya bisa terdiam dengan rasa heran yang teramat sangat. “Kau...” desis Dewi Nawangkasih sambil melangkah mendekati Jaya, suara wanita paruh baya yang kecantikannya masih jelas terlihat dan sangat mashyur di seantero tanah Pasundan bahkan sampai ke daerah wetan atau tanah Jawa hingga ke Swarnabhumi itu bergetar.

“Kau....” desisnya lagi sambil membuka ikat kepala Jaya, membelalaklah matanya ketika melihat luka bekas sabetan senjata tajam di kening pemuda tampan berkulit putih ini, tangan kanannya mengusap luka Jaya sementara tangan kirinya menggenggam ikat kepala bermotof batik berwarna cokelat milik Jaya, “Darimana kau mendapatkan luka ini?! Darimana kau mendapat luka di keningmu ini?!” tanyanya setengah membentak.

Pangeran Dharmadipa dan putri Mega Sari duduk terdiam terheran-heran melihat apa yang dilakukan oleh Dewi Nawangkasih, Prabu Kertapati tetap duduk di kursi Singgasananya dengan wajah yang kusut dan nampak salah tingkah, Jaya pun terdiam keheranan dan tak tahu harus melakukan apa. Saat itu tiba-tiba cincin kalimasada di jari Jaya memancarkan cahaya berwarna biru tua yang sangat terang.

Ajaib! Tiba-tiba Dewi Nawangkasih melihat kejadian dua puluh tahun yang lalu, saat suaminya hampir membunuh anak kandungnya yang masih bayi, kemudian saat bayi tersebut dibawa pergi oleh seorang ponggawa kepercayaan Sang Prabu yang bernama Jayadi, perasaan pilu dan sakitnya yang ia rasakan dua puluh tahun yang lalu, kini terasa kembali di hatinya, perasaan sakit yang sama persis dengan perasaan hatinya dua puluh tahun yang lalu!