Episode 259 - Persahabatan



Tak terlalu jauh dari Rimba Candi, terdapat sebuah kota kecil. Meski kecil, kota ini sangatlah ramai dan sibuk karena menjadi tempat persinggahan sebelum memasuki Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Secara letak, ia masih berada di dalam wilayah Kemaharajaan. Akibat pembatasan kunjungan ke Ibukota Minangga Tamwan, mereka yang seharusnya sudah memasuki wilayah kemaharajaan demi kepentingan perdagangan atau pun keahlian, terpaksa tertahan.

Bintang Tenggara segera mengunjungi tempat di mana sebuah gerbang dimensi berada. Berdasarkan informasi yang ia peroleh dari Balaputera Prameswara, maka jalur tercepat menuju Pulau Belantara Pusat adalah melalui persinggahan di Kemahajaan Pasundan, Kota Ahli, Kota Baya-Sura, kemudian barulah menyeberang lautan menuju Kota Seribu Sungai di selatan Pulau Belantara Pusat. 

Sambil melangkah, pikiran Bintang Tenggara melayang jauh. Di wilayah Kemaharajaan Pasundan, ia mengenal Mahaguru Kesatu Sangara Santang dari Sanggar Sarana Sakti dan Putri Mahkota Citra Pitaloka. Meski sesama anggota Pasukan Telik Sandi, Sangara Santang sulit dipercaya, bertolak belakang dengan Citra Pitaloka yang demikian lembut dan geulis. Oh… tentunya di Tanah Pasundan, di puncak Gunung Perahu, berdiam Raja Bangkong IV dan Asep. Sayang sekali dirinya tiada sempat menyambangi tokoh-tokoh tersebut. 

Di Kota Ahli, tentu ada Kakak Poniman dan Maha Guru Ke-10 Segoro Bayu dari Perguruan Maha Patih. Bagaimanakah gerangan khabar mereka. Rasanya belum terlalu lama dirinya bersua dengan kedua tokoh tersebut. 

Apakah Lamalera telah kembali di Kota Baya-Sura…? Kemanakah ia berkelana seorang diri…? Semoga keadaannya baik-baik saja. 

Seperti apakah Kota Seribu Sungai…? batin Bintang Tenggara. Seperti apakah ahli-ahli di Pulau Belantara pusat…? Ia menduga-duga. Apakah kesemuanya mirip dengan Kuau Kakimerah…? 

“PRANG!” 

Bahu Bintang Tenggara yang sedang melangkah dalam lamunan, menyenggol sesuatu dan sesuatu itu pun jatuh berkeping! Di saat yang sama, seorang ahli bertubuh besar tinggi melangkah dengan menghentak-hentakkan kaki keras-keras ke tanah. Betapa wajahnya yang ditumbuhi dengan jambang dan janggut lebat, sehingga mirip seekor beruang lapar, terlihat dipenuhi amarah. 

“Anak dusun sialan! Apakah kau tak punya mata!?” 

Bintang Tenggara mundur selangkah, sigap menghindar dari cengkeraman jemari besar-besar dan kasar. Gerakannya sungguh cekatan. Mana mungkin di hari yang sama, Super Murid Komodo Nagaradja akan membiarkan kerah leher pakaiannya dijenggut oleh ahli lain sampau dua kali. Cih! Membayangkan wajah Lintang Tenggara membuat perutnya mual.

“Kurang ajar!” Lelaki berwajah beruang lapar semakin berang. 

“Maafkanlah diriku, wahai Tuan Ahli. Sungguh aku tiada sengaja, dan bersedia mengganti kerugian Tuan Ahli.” Bintang Tenggara berujar tenang. Usai Tantangan Kedua di dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta, keping-keping emas yang ia miliki melonjak banyak. 

“Mengganti kerugian!?” bentak lelaki berwajah beruang lapar. “Dasar anak dusun tak tahu diri! Kau kira berapa harga tembikar antik yang engkau pecahkan ini!?”

“Berapa…?”

“Sepuluh keping emas!”

“Sepuluh keping emas…?”

Kini, sejumlah ahli terlihat mengerubungi Bintang Tenggara dan lelaki berwajah beruang lapar. Sebagian dari mereka mencibir, sebagian lagi menampilkan raut wajah prihatin. Meskipun demikian, tiada yang menengahi. Mereka hanya menonton saja. 

Dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi, Bintang Tenggara mengeluarkan sebuah buntelan. Ukurannya sebesar buah kelapa, di mana suara logam yang bergesekan terdengar merdu.

“Sepuluh keping emas,” Bintang Tenggara menyodorkan keping-keping emas yang ia keluarkan dengan mudah. 

Lelaki berwajah beruang lapar tersentak. Dalam benaknya, bagaimana mungkin seorang anak dusun ingusan memiliki demikian banyak keping-keping emas. Bahkan, dengan mudahnya menyodorkan keping-keping emas tersebut. Kendatipun demikian, sinar mata lelaki berwajah beruang lapar berubah mengkilau. 

“Sepuluh keping emas adalah harga dasar tembikar antik itu. Akan tetapi, salah satu petinggi Kadatuan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang telah memberikan penawaran yang pantas atas karya seni itu!” 

“Penawaran yang pantas…?” gumam Bintang Tenggara. 

“Benar! Tembikar antik tersebut telah ditawar seharga 50 keping emas!”

“Lima puluh keping emas…?” gumam Bintang Tenggara sambil memandangi lembengan-lempengan tembikar di atas tanah. Meski memiliki cukup banyak keping-keping emas, tak rela ia mengeluarkan lima puluh keping emas hanya untuk pecahan gerabah di atas tanah. 

“Tuan ahli, diriku bersedia mengganti tembikar antik Tuan seharga limabelas keping emas. Tidak lebih dari itu…” 

“Kurang ajar!” hardik lelaki berwajah beruang lapar. “Engkau hendak menyepelekan barang dagangan saudagar yang jujur seperti aku!?”

“Tiada diriku bermaksud demikian…,” tanggap Bintang Tenggara tulus. 

“Segenap ahli di tempat ini menyaksikan bahwa dikau memecahkan tembikar antik milikku, yang telah ditawar dengan harga tinggi oleh bangsawn Wangsa Syailendra!” Lelaki berwajah beruang lapar menyapu pandang, mencoba menarik simpati segenap khalayak. 

Bintang Tenggara hanya diam mengamati. 

“Tahukah engkau nasib apa yang menanti diriku!?” 

Bintang Tenggara menggelengkan kepala. Entah ke mana pembicaraan ini akan dibawa. 

“Aku akan memperoleh hukuman dari Wangsa Syailendra karena tak memenuhi kesepakatan jual beli! Nama baikku sebagai saudagar akan tercoreng, bahkan kemungkinan memasuki daftar hitam saudagar yang dilarang menginjakkan kaki ke Ibukota Minangga Tamwan!”

Bintang Tenggara mendengarkan dengan seksama. Masuk akal juga. 

“Kerugian yang aku derita adalah lebih dari sekadar materi…Lebih dari lima puluh keping emas! Anak dusun, bagaimana engkau hendak mempertanggungjawabkan kerugian tersebut!?” Lelaki berwajah beruang lapar merentangkan lengan, menampilkan wajah pilu, berharap agar khalayak mengerti akan nasib buruk yang menimpa dirinya. 

Bintang Tenggara terpana. Kasihan juga ahli ini. Mungkinkah dirinya harus mengantarkan saudagar malang ini ke dalam Ibukota Minangga Tamwan, menemui salah satu Datu Besar, lalu menjelaskan keadaan yang sebenar-benarnya…? Tindakan tersebut hanya akan membuang-buang waktu, sedangkan dirinya harus segera bertolak. Walau, kembali lagi, lima puluh keping emas bukanlah nilai yang sepele. 

Lelaki berwajah beruang lapar kini berubah menjadi lelaki berwajah beruang sakit. Sendu sekali raut wajahnya. 

Bintang Tenggara menarik napas panjang, lalu kembali merogoh ke dalam buntelan emas miliknya. Ia pun mulai menghitung. 

“Tunggu…,” tetiba seorang lelaki bertubuh tambun dan berkepala gundul menyeruak dari sela-sela kemurunan khalayak. Tepat di saat Bintang Tenggara rampung menghitung keping-keping emas. 

Bintang Tenggara cukup mengenal tokoh ini. Secara langsung, ia adalah mitra usaha karena pernah membeli hak cipta ramuan Pil Cakar Bima. Kemudian, keduanya bertemu lagi di ruang dimensi di mana nenek Sukma terkurung. Tokoh tersebut tiba-tiba muncul di dalam dimensi ruang bersama dengan Lintang Tenggara

“Cih! Saudagar Senjata! Jangan kau ikut campur urusanku!” 

 “Hei Saudagar Tembikar kere… engkau melakukan tiga kesalahan!” Saudagar Senjata Malin Kumbang berujar santai. Ia melirik kepada Bintang Tenggara, tersenyum, lalu menundukkan kepala memberi hormat. 

“Heh!?”

“Pertama, harga tembikar antik yang engkau banggakan tersebut, tak lebih dari sepuluh keping perunggu. Aku tahu pasti, karena pembuat tembikar yang sama adalah salah satu pemasok di pabrik senjataku. Kita bisa memanggilnya untuk membuktikan.” 

“Omong kosong!” Keraguan mulai terlihat dari raut lelaki berwajah beruang sakit.

“Kedua, aku melihat bahwasanya engkau dengan sengaja meletakkan ‘tembikar antik’ menjorok ke jalan dan meletakkan sebuah kelereng di bawahnya. Sehingga sesiapa saja bisa menyenggol dan menjatuhkan barang tersebut. Aku menyaksikan langsung, dan bersedia menjadi saksi atas tindakan yang demikian tercela. Sebagai sesama saudagar, sungguh perangaimu tercela!” lanjut Saudagar Senjata Malin Kumbang. 

“Fitnah!” 

“Ketiga,” Saudagar Senjata Malin Kumbang mengabaikan tanggapan lawan bicaranya, “dan yang paling utama, tak tanggung-tanggung, engkau hendak menyinggung seluruh Kemaharajaan Cahaya Gemilang.”

Lelaki berwajah beruang sakit kebingungan. Ia memandangi khalayak yang sedari tadi diam menonton. Bilamana membutuhkan dukungan, maka saat inilah waktu yang paling tepat. 

“Anak remaja ini…” Saudagar Senjata Malin Kumbang kembali menundukkan kepada ke arah Bintang Tenggara, “yang berkali-kali engkau kata-katai sebagai bocah dusun dan hendak perdayai, tak lain adalah sang Yuvaraja… Putra Mahkota Kemaharajaan Cahaya Gemilang!”

“Hah!” 

Suara para penonton serempak bergema. Tak satu pun dari mereka yang menyaksikan Hajatan Akbar Pewaris Takhta di Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Hanya perwakilan negeri sahabat, perguruan ternama, serta saudagar besar sahaja yang memperoleh undangan resmi. Wajah Balaputera Gara pun terbilang baru dan tiada dikenali oleh banyak ahli di luar Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Di lain sisi, semua juga tahu bahwa lelaki bertubuh tambun dengan kepala plontos, Saudagar Senjata Malin Kumbang, memiliki hubungan dekat dengan Kadatuan Kedua di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Sebagai tambahan, telah tersebar khabar bahwa Datu Besar Kadatuan Kedua kini menjabat sebagai Maha Patih Kemaharajaan Cahaya Gemilang.

Keringat sudah bercucuran di dahi dan pelipis lelaki berwajah beruang sakit. Dua kesaksian Saudagar Senjata Malin Kumbang adalah benar adanya. Harga tembikar antik yang terbuat dari tanah liat memang tak lebih dari sepuluh keping perunggu. Kemudian, sengaja ia hendak menjebak ahli malang yang melintas melalui muslihat tembikar pecah, lalu memeras dan meminta ganti rugi. Upayanya ini tentu akan membuahkan hasil, andai saja ia tak berlaku tamak dan menerima lima belas keping emas pengganti dari Bintang Tenggara. 

Akan tetapi, yang membuat keringat-keringat jagung bercucuran dan lutut bergetar bukanlah dua hal tersebut. Yang membuat dada turut terasa demikian sesak, adalah kenyataan bahwa kemungkinan besar remaja polos di hadapannya merupakan sang Yuvaraja, Putra Mahkota! Tunggu… dari mana lagi seorang anak remaja dapat dengan mudahnya mengeluarkan sepuluh keping emas semudah mengorek hidung, pastilah kata-kata Saudagar Senjata benar adanya. 

“Benarkah kata-kata Tuan Malin Kumbang…?” 

“Tuan, bagaimana mungkin seorang Yuvaraja Kemaharajaan Cahaya Gemilang melangkah seorang diri di luar Ibukota Minangga Tamwan…?

“Apakah Tuan Malin Kumbang menyaksikan langsung Hajatan Akbar Pewaris Takhta…?”

Sejumlah ahli masih terlihat ragu, sehingga mempertanyakan. 

“Aku bersaksi bahwasanya kata-kataku senantiasa mengabur… ehem… mengabarkan kebenaran!” Saudagar Senjata Malin Kumbang terlihat demikian perkasa. 

“Ada apa ini!?” Tetiba sejumlah prajurit dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang membelah kerumunan. Sekian banyak ahli dan suara keterkejutan sebelumnya, mengundang kedatangan para prajurit ronda. Lima ahli jumlah mereka. Setibanya, langsung mereka mendapati lelaki berwajah beruang sakit, Saudagar Senjata Malin Kumbang, serta Bintang Tenggara.

“Mohon ampun beribu ampun, sembah kami mohon diampun!” sontak para prajurit ronda bersujud di hadapan junjungan mereka. Tentu mereka telah menghapal betul raut wajah Yuvaraja Balaputera Gara. Adalah semakin mudah, karena di antara sekian banyak bangsawan Wangsa Syailendra, hanya beberapa saja yang berkulit tubuh bernuansa sedikit lebih gelap.

Dengkul si lelaki berwajah beruang sakit, bergementar sampai-sampai tiada lagi dapat menahan tubuhnya sendiri. Sementara itu, segenap khalayak yang sedari tadi hanya menonton, terlihat membungkukkan tubuh. Di antara mereka, bahkan ada yang bersujud karena merasa teramat bersalah karena mempertanyakan. Semua yang berada di tempat itu sepenuhnya mengetahui, bahwasanya bilamana sosok Yuvaraja hendak menjatuhkan hukuman kepada sesiapa pun karena hanya menonton, maka jatuhlah hukuman tersebut. Pun sepenuhnya mereka sadari bila berada di dalam wilayah Kemaharajaan Cahaya Gemilang, maka kata-kata Bangsawan Wangsa Syailendra adalah hukum itu sendiri! 

Di lain sisi, Bintang Tenggara masih terkesima. Kedua bola matanya tak lepas dari sosok lelaki bertubuh tambun dan berkepala gundul. Betapa gerak-gerik Saudagar Senjata Malin Kumbang demikian tenang lagi berwibawa. Hanya dengan kata-kata, ia seolah menjadi saksi sekaligus hakim di dalam persidangan. 

“Yang Mulia Yuvaraja…,” sapa para prajurit ronda lagi. 

Bintang Tenggara menoleh ke arah mereka, lalu kepada lelaki berwajah beruang sakit. Ia mengangkat dagu lalu mengibaskan lengan, layaknya kebanyakan bangsawan. 

“Tangkap lelaki ini. Sungguh ia telah menghina sang Yuvaraja dan mencoreng arang di wajah saudagar-saudagar jujur!” Hardik Saudagar Senjata Malin Kumbang. 

Bintang Tenggara hanya diam. Ia tak hendak menghukum si lelaki berwajah beruang sakit karena kini wajahnya seperti sudah sekarat. Akan tetapi, bilamana dibiarkan maka akan ada korban-korban lain. Walau tak tumbuh dan dididik layaknya kaum bangsawan, setidaknya anak remaja ini mengetahui bahwa tindak kejahatan perlu diberi ganjaran. Salah satu alasannya agar tak ada lagi yang berani berbuat serupa. Menciptakan semacam efek jera adalah penting adanya. 

“Yang Mulia Yuvaraja,” ucap Saudagar Senjata Malin Kumbang pelan. “Sila berkunjung ke penginapan di mana diri ini berdiam.” Lelaki dewasa itu membungkukkan tubuh sambil membuka jalan. Betapa ia bangga mempertontonkan bahwasanya mengenal baik Putra Mahkota di Kemahajaan Cahaya Gemilang. Derajatnya sebagai seorang saudagar besar, kini melambung semakin tinggi. 

Undangan tersebut menjadi kesempatan bagi Bintang Tenggara melepaskan diri dari pantauan sekian banyak ahli yang semakin berkerumun. Tak lama, dirinya tiba di sebuah penginapan mewah. Alangkah terkejutnya ia, bahwa Saudagar Senjata Malain Kumbang menyewa seluruh penginapan hanya untuk rombongan kecil, yang terdiri dari beliau sendiri, istrinya, beberapa dayang, kusir kereta kuda, serta seorang remaja kurus kerempeng yang merupakan ajudan. 

“Apakah kita pernah bertemu muka…?” aju Bintang Tenggara. 

“Yang Mulia Yuvaraja, sungguh diri ini bukan siapa-siapa. Mana mungkin kita pernah bersua…” Remaja kurus kerempeng itu membungkukkan tubuh, sehingga wajahnya semakin sulit dicermati. 

Bintang Tenggara bersama Saudagar Senjata Malin Kumbang lalu masuk ke dalam sebuah aula luas. 

“Yang Mulia Yuvaraja, apakah gerangan yang membuat Yang Mulia bepergian seorang diri…?” 

“Tuan Saudagar Senjata, diriku ada keperluan mendadak di Pulau Belantara Pusat.”

“Sungguh sebuah kebetulan!” ucap Saudagar Senjata Malin Kumbang. “Diriku pun hendak berkunjung ke Pulau Belantara Pusat. Ada urusan usaha yang perlu diriku tangani langsung. 

“Hm…?”

“Bagaimana bila kita bepergian bersama-sama?” Saudagar Senjata Malin Kumbang menawarkan diri. 

Kesan yang Bintang Tenggara terima dari sosok lelaki dewasa di hadapannya ini, adalah seorang saudagar yang sangat jeli akan setiap peluang yang ada. Meskipun demikian, ia sepertinya menjunjung tinggi etika usaha. Kejujurannya tiada perlu dipertanyakan. Apalagi, beliau diketahui sebagai sahabat Datu Besar dari Kadatuan Kedua. Akan tetapi…

“Tuan Saudagar Senjata, tanpa mengurangi rasa hormat, diriku hendak mengetahui hubungan Tuan dengan seseorang bernama… Lintang Tenggara.”

Tetiba saja raut wajah Saudagar Senjata Malin Kumbang berubah berang. Telapak tangannya mengepal dan bergetar. Ia berupaya menahan amarah yang sepertinya hendak meletup-letup. Jelas bahwa reaksi ini tiada dibuat-buat. Mendengar nama Lintang Tenggara, membuat dirinya hampir kehilangan kendali. 

“Diriku mendapati Tuan Saudagar Senjata pernah memanfaatkan lorong dimensi yang sama dengan tokoh tersebut…” lanjut Bintang Tenggara. Menyaksikan raut wajah lelaki dewasa itu, betapa ia khawatir tersalah kata. Karena, setelah diingat lagi, saat itu Lintang Tenggara menghantamkan senjata pusakanya ke tengkuk Malin Kumbang sampai kehilangan kesadaran. 

“Mohon ampun beribu ampun, wahai Yang Mulia Yuvaraja…,” Saudagar Senjata Malin Kumbang berhasil menahan diri. “Sungguh diri ini hampir kehilangan kendali. Lintang Tenggara adalah sosok nan culas, licik, lagi keji. Tak hanya sekali, akan tetapi dua kali sudah ia menyerang diri ini dari belakang. Pada kesempatan pertama, ia bahkan menyekap…”

“Menyekap…?” sela Bintang Tenggara. 

“Iya, menyekap di dalam ruangan gelap. Tak terbayangkan apa yang hendak ia lakukan saat itu. Untung saja ada sosok penyelamat…”

“Cih!” Bintang Tenggara ikut terpancing emosinya. “Apa yang ada di dalam kepala Lintang Tenggara sampai tega membokong lalu menyekap sosok saudagar jujur dan berwibawa seperti Tuan!?”

“Yang Mulia Yuvaraja, sungguh diri ini tiada mengetahui alasan di balik tindak-tanduknya…” Lelaki bertubuh tambun itu mengeleng-gelengkan kepala gundulnya. Ia menghela napas panjang, “Diriku sarankan, agar sebaiknya Yang Mulia Yuvaraja jangan pernah berurusan dengan tokoh tersebut…”

Bintang Tenggara menjawab dengan anggukan cepat, yang tiada mencerminkan barang setitik keraguan. “Beberapa waktu lalu, ia pun pernah berniat menculik diri ini…”

“Benarkah!? Sungguh keterlaluan!” Pegangan kursi yang spontan digenggam, hancur menjadi debu ibarat habis dimakan usia!

“Tuan Saudagar Senjata, diriku menerima ajakan Tuan untuk bepergian bersama-sama menuju Pulau Belantara Pusat!” sambung Bintang Tenggara.

“Baik, Yang Mulia Yuvaraja. Kita akan segera bertolak!” 

Sebuah persahabatan, atas landasan musuh bersama, telah terjalin.