Episode 258 - Perapal Segel nan Tersegel (1)



Seorang anak lelaki melangkah bergegas. Di pagi nan cerah, ia terlihat mendaki bukit seorang diri. Raut wajahnya mencerminkan kekhawatiran. Di dalam benak ia berpikir keras. Karena sudah cukup lama waktu berlalu, semoga tak ada hal buruk yang menimpa mereka. 

Beberapa saat sebelumnya. 

“Nenek Sukma, Ibunda Tengah dan Ayahanda Sulung…”

“Gara…?” tanggap Balaputera Rudra. “Mengapakah dikau terlihat demikian khawatir…?”

“Diriku hendak berpamitan.”

“Berpamitan…?” Bahkan Balaputera Samara terlihat sedikit terkejut. “Meninggalkan Kadatuan Kesembilan…?”

“Benar. Ada sesuatu hal mendesak yang mewajibkan diriku segera meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang.” 

Setelah membaca surat sinis yang dilayangkan Canting Emas, Bintang Tenggara memperoleh firasat buruk. Di dalam lubuk hatinya, ia merasa bahwa para sahabatnya berada dalam ancaman bahaya.  

“Hah!? Hal mendesak apakah gerangan?” Sang Datu Besar Kadatuan Kesembilan terlihat cemas. “Dikau adalah Yuvaraja, Putera Mahkota Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Saat ini, keberadaan dan keselamatan dikau merupakan sesuatu yang teramat penting bagi keberlangsungan negeri ini.” 

“Lagipula, pekan depan akan berlangsung upacara resmi pelatikan Yuvaraja. Dikau tak akan diperkenankan meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang,” tambah Balaputera Samara. 

“Sahabat-sahabatku berada dalam suatu permasalahan….” Wajah Bintang Tenggara terlihat kusut. Tentu ia tak hendak meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang secepat ini. Tentu ia hendak melanjutkan pelajaran tentang formasi segel di Perguruan Svarnadwipa. Tentu ia menyadari akan kewajiban untuk menjalani upacara pelantikan Putra Mahkota. Akan tetapi, dirinya tak bisa menutup mata bilamana sahabat-sahabatnya dari Perguruan Gunung Agung tertimpa masalah. 

“Permasalahan…? Permasalahan seperti apa? Kita dapat menugaskan ahli-ahli dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang untuk menuntaskan apa pun itu permasalahan yang dihadapi,” tanggap Balaputera Rudra cepat.

 “Akan tetapi…” 

“Apakah tiada bisa menunda…?” Balaputera Samara menyela. 

Bintang Tenggara kehabisan kata-kata. Ia tak hendak menugaskan sesiapa pun itu demi mewakili dirinya. Ia hendak memastikan langsung bahwa para sahabat dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan tanpa izin dari keluarga Kadatuan Kesembilan, ia telah memantapkan hati untuk bertolak ke Pulau Belantara Pusat.

“Rudra… Samara…” Nenek Sukma yang sedari tadi hanya diam mengamati, akhirnya angkat bicara. “Biarlah Gara pergi menyelesaikan urusannya…” 

“Akan tetapi…” Raut wajah Balaputera Rudra terlihat cemas. 

“Apakah kalian khawatir bahwa ia akan mengikuti jejak ayahandanya…? Wira…?” Pertanyaan dari Balaputera Sukma ibarat serangan yang mendarat telak sekali. Ia dapat membaca bahwa kedua anaknya tak hendak kehilangan jejak Balaputera Gara, sebagaimana mereka kehilangan jejak Balaputera Ragrawira. 

“Kuyakin bahwa ada sesuatu hal yang perlu dituntaskan oleh Wira, sama halnya dengan Gara hari ini. Bilamana urusan telah rampung, maka mereka akan kembali di Kemaharajaan Cahaya Gemilang.” 

“Ibunda… walaupun kami memperbolehkan, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa pasti tiada akan mengizinkan…” Balaputera Rudra berujar gelisah. 

“Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa merupakan sosok penguasa yang bijak…” Kata-kata Balaputera Sukma kali ini lebih banyak ditujukan untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya ia masih mempertanyakan mengapa sang penguasa melepas Balaputera Tarukma begitu saja. Dengan kasta dan tingkat keahlian yang ibarat berada di atas langit tinggi, Balaputera Dewa seharusnya dapat dengan mudah menghentikan upaya melarikan diri Balaputera Tarukma. 

“Diriku tiada meragukan kearifan Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa…,” tanggap Balaputera Rudra. “Akan tetapi, bagaimana nanti dengan pandangan para Datu Besar dari Kadatuan lain…? Pastilah mereka akan mempertanyakan alasan kita mengizinkan sang Yuvaraja bepergian seorang diri meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang…”

“Bagaimana bila kita menugaskan pengawalan…?” Balaputera Samara memberi jalan tengah.

Bintang Tenggara menggelengkan kepala. Ia tak hendak menarik perhatian. Di dalam benaknya, terbayang keadaan di mana ia duduk bersila di atas sebuah tandu nan mewah, dengan berbagai macam ornamen hias nan bercahaya dan bergemilang ibarat para bangsawan-bangsawan kebanyakan. Balaputera Prameswara lebih pantas dengan gambaran ini. 

Selain itu, semakin besar rombongan, maka semakin lambat pula gerak langkah. Dirinya harus bertolak segera. Oleh karena itu, sekali lagi, Bintang Tenggara menggelengkan kepala. Tiada keraguan yang terpancar dari sorot matanya. 

“Diriku yang akan mengawal langsung!” Balaputera Rudra menyergah. “Kita dapat segera bertolak bersama-sama.”

“Rudra… Samara…” Nenek Sukma sekali lagi menyela. “Gara bukanlah anak balita. Ia merupakan ahli yang sangat piawai.” Pernyataan sang nenek ini bukanlah karangan belaka. Ia menyadari bahwa meski hanya berada pada Kasta Perunggu, cucunya itu dapat bertahan hidup dari serangan-serangan yang dilancarkan oleh ahli sekelas Balaputera Tarukma. 

Balaputera Rudra dan Balaputera Samara hanya diam. Akan tetapi, belum terlihat bahwa keduanya akan rela membiarkan kemenakan mereka pergi meninggalkan Kemaharajaan Cahahaya Gemilang seorang diri. 

“Selain itu, menjadi Yuvaraja yang diakui oleh Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa, berarti Gara telah berhadapan langsung dengan bangsa iblis,” lanjut Nenek Sukma. 

“Diriku akan segera bertolak.” Bintang Tenggara menutup perbincangan. 

“Hendak kemanakah dikau…?”

Bintang Tenggara yang sedang bergegas, baru saja hendak melangkah masuk ke dalam candi kesembilan di Kedukan Bukit. Ketika itulah suara bergegar menghentikan langkah kakinya. Terlihat melayang gagah perkasa di atas langit tinggi, adalah seorang tokoh maha agung yang mengamati dengan seksama. 

“Yang Mulia Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa… hamba hendak menuntaskan suatu persoalan.” Karena mendapati tekanan dahsyat yang mendera tubuh, Bintang Tenggara berujar cepat. 

“Yuvaraja Balaputera Gara… diriku tiada mengizinkan!” Kata-kata sang penguasa datang menggema layaknya sebuah titah yang tiada dapat ditentang. 

“Mohon ampun, beribu-ribu ampun. Akan tetapi, keadaan sangat mendesak memaksa diri ini bertolak.” Dengan keteguhan hati di bawah tekanan, Bintang Tenggara berujar lantang. 

“Tua bangka! Jangan kau atur-atur muridku!” Komodo Nagaradja mengemuka. Sebagaimana biasa, kepalan tinjunya mengacung mengancam. 

“Komodo Nagaradja… kesabaranku tiada tak terbatas!”

“Sudahlah… cepat kembali ke sini…” Ginseng Perkasa berbisik pelan.  

“Mohon ampun, beribu-ribu ampun…” Bintang Tenggara membungkukkan tubuh. “Diriku akan segera kembali setelah menyelesaikan persoalan ini.” 

Menyaksikan keteguhan hati lawan bicaranya serta mendapati bahwa kehendaknya tiada diindahkan, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa mengangkat lengan kanan. Ia kemudian membuka telapak tangan ke arah Bintang Tenggara. 

Si anak remaja bersiaga seketika mendapati sebuah formasi segel berpendar di ulu hatinya. Sontak Bintang Tenggara melompat mundur. Akan tetapi, formasi segel tersebut mengikuti dan terus merangkai.

“Segel Syailendra: Ayam!” 

Bintang Tenggara berupaya mengurai formasi segel yang masih berpendar. Akan tetapi, susunan dan kombinasinya terlampau rumit, bahkan sang ayam terlihat kebingungan. Tentu Bintang Tenggara sudah memahami, bahwasanya kemampuan Segel Syailendra yang berwujud seekor binatang siluman Ayam Jengger Merah nan mini ukurannya itu, adalah berbanding lurus dengan pemahaman dirinya sendiri tentang formasi segel. Dengan kata lain, sang ayam hanya mampu mengurai sesuatu yang dipahami oleh empunya. Kelebihan si ayam, adalah gerakan mengurainya yang jauh lebih cepat. 

Andai saja dirinya dapat mempelajari perihal formasi segel lebih lama lagi di Perguruan Svarnadwipa, maka Bintang Tenggara pastilah memiliki pemahaman yang jauh lebih baik. Formasi segel di ulu hati rampung. Bintang Tenggara mendongak menatap Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa. 

“Yuvaraja Balaputera Gara… bilamana dikau bersikeras, maka bilamana berada di luar wilayah Kemaharajaan Cahaya Gemilang tanpa izin, dikau tiada akan dapat merapal formasi segel!”

Anak remaja tersebut tertegun. Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa… merapal formasi segel yang menyegel kemampuan merapal formasi segel! Apakah hal tersebut memungkinkan!? 

Bintang Tenggara sesungguhnya terlupa akan satu hal penting. Bahwasanya, ayahandanya sendiri, terbukti melakukan sesuatu yang lebih tak masuk akal lagi. Balaputera Ragrawira merapal formasi segel yang membatasi kemampuan mustika tenaga dalam hanya pada Kasta Perak Tingkat 1. Tanyakan kepada Lintang Tenggara, betapa tokoh tersebut merasa kejinya sang ayahanda. Oleh karena itu, bagi Balaputera Dewa menyegel kemampuan merapal formasi segel, bukanlah sesuatu yang tak mungkin.

Bintang Tenggara membungkukkan tubuh sekali. Tak hendak menggerutu, ia pun memutar tubuh dan melangkah pergi. 

“Hanya diriku, Balaputera Dharanindra, serta Balaputera Ragrawira yang dapat melepaskan formasi segel tersebut.” 

Mendengar kata-kata sang penguasa, sontak Bintang Tenggara menghentikan langkah. Sungguh tak dapat dicerna nalar. Sang penguasan mengungkapkan bahwa yang dapat mencabut formasi segel tersebut adalah beliau sendiri, lalu Balaputera Dharanindra serta Balaputera Ragrawira. Mengapa beliau memberi tahu…?

Oleh karena itu, yang paling sulit dipahami adalah atas alasan apa beliau mengungkit nama tokoh yang telah lama tiada? Mengapa menyebut nama Balaputera Dharanindra sang pahlawan besar Kemaharajaan Cahaya Gemilang? 

Mungkinkah…? Belum sempat Bintang Tenggara melontar pertanyaan, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa telah menghilang dari pandangan. 

“Mungkinkah Balaputera Dharanindra belum meninggal dunia?” gumam Bintang Tenggara. “Mungkinkah alasan Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa melepaskan Balaputera Tarukma begitu saja, dikarenakan tokoh tersebut sesunguhnya tiada membunuh Balaputera Dharanindra? Atau lebih tepatnya, Balaputera Tarukma tiada menyadari bahwa ia gagal membunuh? Mungkinkah Balaputera Dharanindra masih hidup di suatu tempat?” 

Ingin rasanya Bintang Tenggara melesat kembali ke kediaman Kadatuan Kesembilan, untuk menyampaikan kemungkinan yang baru dirinya sadari kepada Nenek Sukma. Akan tetapi, menyadari bahwa setiap saat yang terbuang dapat berarti ancaman bahaya bagi para sahabat, anak remaja tersebut pun melangkah ke dalam candi kesembilan. 

Di dalam candi, Bintang Tenggara mendapati si kakek tua duduk bersila seperti biasa. Uzur sekali usia dan pembawaanya. Sebuah kendi tuak terlihat menemani. Akan tetapi, aura pelik yang terpancar, kini tak lagi terasa asing. Bintang Tenggara merasa bahwa dirinya pernah berhadapan dengan aura sejenis di suatu tempat belum lama ini.

Si kakek tua bangkit berdiri dan membungkukkan tubuh. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Akan tetapi, dari tindakannya menunjukkan betapa ia rela menjadi hamba bagi para bangsawan dari Kadatuan Kesembilan. Aneh bukan? Padahal, bahkan sang Datu Besar dari Kadatuan Kesembilan menaruh rasa hormat yang demikian tinggi terhadap tokoh kakek tua ini. 

“Diriku memohon untuk dibukakan lorong dimensi ruang menuju Rimba Candi,” ujar Bintang Tenggara sambil turut membungkukkan tubuh. 

Si kakek tua mengibaskan tangan. Serta-merta sebuah lorong dimensi membuka. Bintang Tenggara membungkukkan tubuh sekali lagi, sebelum melompat masuk. Atau lebih tepatnya, melompat keluar dari wilayah Ibukota Minangga Tamwan.


Suasana di Rimba Candi terbilang sepi. Kemungkinan besar, terdapat semacam pembatasan hilir-mudik pengunjung dikarenakan Hajatan Akbar Pewaris Takhta yang digelar sehari sebelumnya. Kedelapan candi lain hari ini terlihat sepi sebagaimana candi kesembilan. Sebuah pemandangan nan langka. 

“Srak!” 

Jemari tangan tetiba menjenggut kerah leher pakaian yang Bintang Tenggara kenakan. Datangnya terlalu tiba-tiba, menyebabkan anak remaja tersebut terkejut bukan kepalang. 

“Pencuri! Penyontek!” hardik seorang tokoh yang terlihat demikian berang. 

“Apa ini!? Lepaskan aku!” Bintang Tenggara meronta, berupaya melepaskan diri. 

“Cih!” Air liur terlontar tatkala tokoh yang biasanya menyibak aura nan terpelajar itu menghardik membabi-buta. Wajahnya kini hampir menempel ke wajah Bintang Tenggara, “Kau merapal Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara!” 

Bintang Tenggara akhirnya dapat melepaskan diri. Segera ia melompat mundur sambil mengusap wajah. “Lintang Tenggara! Aku tak tahu apa maksudmu!” 

“Bangsat!” Lintang Tenggara semakin berang. “Jangan kau berpura-pura bodoh! Beraninya engkau merapal Kamulan Bhumisambhara saat menjalani Tantangan Ketiga pada Hajatan Akbar!” 

“Apakah jurus itu milikmu! Hah!?” Bintang Tenggara ikut naik pitam. “Apakah engkau menciptakan Kamulan Bhumisambhara sampai-sampai tiada ahli lain yang dapat mengerahkan jurus yang sama!?” 

“Bukan persoalan kepemilikan jurus!” hardik Lintang Tenggara tiada hendak terkecoh. “Engkau dapat merapal Segel Darah Syailendra itu karena mencuri dan menyontek isi buku catatanku! Buku catatan yang kususun selama bertahun-tahun lamanya! Bangsat!”

“Balaputera Lintara!” hardik Bintang Tenggara sambil menudingkan jari telunjuk. “Jaga kata-katamu! Tidakkah kau sadar dengan siapa engkau berhadapan!? Aku adalah Yuvaraja! Pewaris sah takhta Kemaharajaan Cahaya Gemilang! Putra Mahkota!” 

“Yuvaraja tahi kucing gunung! Putra Mahkota kencing kuda uzur!” Lintang Tenggara semakin murka. Betapa berang ia mendapati bahwa anak bau kencur di hadapannya itu mencoba mengancam. “Engkau yang tak tahu diri dengan siapa engkau berhadapan!” 

“Hah! Siapakah gerangan engkau…?” cibir Bintang Tenggara. 

“Aku adalah kakak kandung dari Yuvaraja! Sang Putra Mahkota Kemaharajaan Cahaya Gemilang!” 

“Eh…” Bintang Tenggara kehabisan kata-kata. Lidahnya seolah kelu. Kemampuan Lintang Tenggara bersilat lidah belum dapat ia imbangi. Bukan hanya tak dapat mengimbangi, logikanya terlalu berbelit untuk dapat ditanggapi. Bukti bahwa pengalaman, tak dapat ditaklukkan dengan mudah. 

“Lintara… sudahlah…” Sebuah suara menegur terdengar dari arah atas. Segera setelah itu, secara bersamaan dua tokoh menyambangi kakak beradik yang sedang terlibat perang kata-kata. 

“Salam hormat kepada Maha Patih Kemaharajaan Cahaya Gemilang.” Bintang Tenggara menundukkan kepala kepada sang Datu Besar Kadatuan Kedua, Balaputera Wrendaha. 

“Diriku belum sempat mengucapkan ribuan terima kasih kepada Pratiyuvaraja Balaputera Ugraha,” sambung Bintang Tenggara kepada seorang remaja sepantaran. 

“Yuvaraja Balaputera Gara, diriku hanyalah memanfaatkan situasi,” ujar Balaputera Ugraha tersenyum.

Bintang Tenggara membalas senyuman Balaputera Ugraha. Tentu dirinya cukup mengenal tokoh yang satu ini, sungguh sulit sekali menebak gerik-geriknya. 

“Jangan beramah-tamah kepada guru dan adik seperguruanku!” bentak Lintang Tenggara. 

“Sudahlah…” Balaputera Wrendaha mendahului Bintang Tenggara yang baru hendak membuka mulut. “Adalah diriku yang ‘memberikan’ buku catatan itu kepada Balaputera Gara.” 

“Hmph…” Lintang Tenggara mendengus sebal. 

“Yuvaraja Balaputera Gara…,” sambung Balaputera Wrendaha, “diriku mendapat khabar dari Ibunda Bungsu Sukma di Kadatuan Kesembilan, bahwa dikau hendak meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang.”

Bintang Tenggara mengangguk cepat. Satu lagi tokoh yang kemungkinan besar akan menghalangi langkahnya meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

“Dikau tentunya menyadari bahwa sebagai Maha Patih di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, peran yang diriku emban adalah juga sebagai wali pelindung kepada para pewaris takhta sebelum kalian mencapai usia dan tingkat keahlian untuk duduk di atas singasana.” 

Bintang Tenggara mengangguk lagi. 

“Dikau tentunya menyadari pula bahwa bilamana terjadi hal-hal yang tak diinginkan terhadap dikau, maka Balaputera Ugraha akan menggantikan posisi sebagai Yuvaraja…” Balaputera Wrendaha menoleh ke arah Balaputera Ugraha. 

Bintang Tenggara kembali mengangguk. “Pratiyuvaraja Balaputera Ugraha lebih pantas duduk di atas singasana dibandingkan diriku.” 

“Bilamana dikau telah memahami, maka diriku tiada akan menghalangi.” Balaputera Wrendara terlihat mengibaskan jemari tangan. Sebuah formasi segel berpendar, untuk kemudian membuka sebuah ruang dimensi penyimpanan. “Ingat baik-baik formasi segel ini. Ia adalah kunci dalam membuka dimensi penyimpanan yang memuat Senjata Pusaka Angkara Murka, Wayang Kulit Siluman Punakawan.” 

Bintang Tenggara mencermati dengan seksama. Menghapal bukanlah sesuatu yang sulit bagi dirinya. Akan tetapi, kemungkinan besar Super Guru Komodo Nagaradja akan menentang habis-habisan penggunaan senjata pusaka tersebut, serta…

“Bilamana dalam keadaan terdesak, silakan dikau menggunakan senjata pusaka ini,” lanjut Balaputera Wrendaha membekali. 

Bintang Tenggara hanya diam. Tak hendak ia mengungkapkan bahwa kemungkinan besar kemampuan dirinya dalam merapal formasi segel telah disegel oleh Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa. Tidak di hadapan Lintang Tenggara, karena hal tersebut akan membuka sebuah celah kelemahan. Oleh karena itu, anak remaja tersebut hanya membungkuk, lalu memutar tubuh meninggalkan wilayah Rimba Candi. 

Karena hendak segera berangkat, serta dikarenakan kehadiran sosok memuakkan bernama Lintang Tengara, anak remaja itu bahkan lupa berbagi sebuah petunjuk kepada Balaputera Wrendaha. Petunjuk tentang kemungkinan Balaputera Dharanindra masih hidup adanya…