Episode 39 - Yang Terkuat



Kembali ke beberapa waktu sebelumnya. 

Di salah satu sudut arena, Dalpos, sang iblis dengan jubah bulu berwarna hitam, sedang bertarung melawan Gop, sang iblis dengan rambut panjang berwarna pirang dan bertelanjang dada, dia juga memiliki sepasang sayap kelelawar di punggungnya.

Saat ini, Dalpos, sang iblis yang biasa di juluki sebagai perisai tertajam, karena memiliki pertahanan terkuat dari jubah bulunya dan teknik berpedang yang mematikan, sedang dalam kondisi yang sangat buruk.

Meskipun jubah bulunya banyak menahan serangan dari kuku-kuku tajam Gop, tapi ada beberapa serangan yang mampu Gop berikan dan semuanya tepat pada titik vital Dalpos.

Sedangkan itu, serangan pedang Dalpos semakin brutal dan tidak terkendali, akan tetapi hal ini malah membuat serangan itu semakin mudah terbaca oleh Gop.

“Haha, tidak hanya suaramu yang buruk, bahkan teknik berpedangmu juga sangat buruk.” Gop mencoba untuk membuat Dalpos semakin marah dengan cara memprovokasinya.

“Sialan!” teriak Dalpos sembari menendang tanah dan meluncur menuju Gop. Pedang kesayangannya terhunus lurus menuju dada Gop.

Secepat kilat, Gop merentangkan sayap di punggungnya dan terbang tinggi ke langit dan membuat hunusan pedang Dalpos menjadi sia-sia.

Namun, Dalpos cepat berhenti lalu melompat seperti seorang predator yang akan menerkam mangsanya. Jubah bulu yang menyelimuti tubuh Dalpos terbentang dan membentuk seperti sebuah sayap gagak yang terlihat sangat menyeramkan.

Mata Dalpos terfokus dan pedangnya terlihat seperti berteriak meminta korban. Gop tidak menyangka Dalpos akan melakukan hal ini, akan tetapi dia tidak gugup menghadapi serangan tersebut, karena salah satu alasan dia menjadi kandidat untuk menjadi pemimpin pasukan adalah ketenangannya dalam menghadapi situasi yang tidak terduga seperti saat ini, bukan kekuatannya.

Dalpos memposisikan jari-jari tangannya yang panjang dan tajam sebagai perisai untuk menghalau serangan tersebut, hasilnya adalah dia berhasil menangkis serangan tersebut.

“Haha, lemah, seranganmu sangat lemah, dasar tidak berguna.” Dalam situasi seperti ini pun Gop tetap menyempatkan dirinya untuk mengejek Dalpos.

Namun, tidak ada respon dari Dalpos, karena apa yang ada di dalam pikirannya hanya untuk menyerang Gop.

‘Mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati, mati.’

Pikiran dan pedang Dalpos beresonansi pada satu kata tersebut.

Dengan sangat brutal, Dalpos kembali melancarkan teknik berpedangnya dan memaksa Gop berada dalam posisi bertahan.

Serangan Dalpos sangat mudah terbaca, akan tetapi Gop tidak memiliki kemewahan waktu untuk bisa melancarkan serangan balasan, dia hanya mampu bertahan sembari menunggu kesempatan untuk menyerang Dalpos.

Akan tetapi, waktu yang Gop tunggu tidak juga datang, akhirnya dia tidak sanggup lagi untuk menahan serangan pedang Dalpos dan terjatuh dari langit dan membuat debu-debu di arena tempat dia terjatuh membumbung tinggi ke langit.

Kemudian, tiba-tiba saja ada sesosok datang dan menembus debu-debu yang beterbangan lalu menghunuskan pedang menuju Gop yang sedang terbaring lemah.

“Tidakkkk!!!!” teriak Gop hingga suaranya terdengar melengking, seperti suara Dalpos.

Pedang tertusuk dan menghasilkan suara yang keras. Para iblis yang menonton berteriak kegirangan.

Di langit, Focalor dan lainnya melihat dengan saksama dan setelah sekian lama akhirnya debu yang melayang terjatuh dan adegan yang terjadi di area tersebut dapat kembali terlihat.

Pedang hitam milik Dalpos tertancap dengan mantap, tepat di samping kepala Gop.

“Kau ... kalah.” Ucap Dalpos sembari menarik kedua ujung bibirnya.

Masih ada jejak kegilaan di mata Dalpos, akan tetapi tangannya dengan teguh memegang pedangnya.

Sementara itu, di sisi lain arena pertarungan.

Tempat di mana Raon, sang iblis yang menggunakan jubah hitam dan memiliki sayap gagak di punggungnya, sedang bertarung melawan Biloth, sang iblis yang juga memakai jubah berwarna hitam pada seluruh tubuhnya dan hanya menyisakan matanya saja. 

Biloth merasa putus asa, karena dia gagal untuk mendapatkan teman untuk bicara. Jadi, dia memutuskan untuk mengakhirinya secepat mungkin. Biloth melepas jubah yang menutupi wajahnya dan di balik jubah itu terlihat seorang iblis tampan dan terlihat sangat dingin.

Biloth memposisikan seruling emas di depan mulutnya lalu meniupnya. Alunan suara yang sangat merdu terdengar, lalu tiba-tiba saja seperti ada sebuah tinju menghujam ke wajah Raon dan membuat dia terlempar jauh.

Raon merasa bingung, karena dia hanya melihat Biloth meniup serulingnya dan tidak berpindah dari tempat di mana dia berdiri, akan tetapi dia terkena serangan entah dari mana.

Suara seruling itu terdengar lagi dan kemudian tubuh Raon terhempas kesana kemari, seperti ada yang menendang dan meninjunya.

‘Sialan! apa-apaan ini? Apakah ini kekuatan seruling itu? benar, tidak bisa diragukan lagi, itu pasti kekuatan seruling itu.’ Raon berpikir cepat dan memutuskan penyebabnya.

Raon melihat bahwa Biloth ingin meniup serulingnya lagi, tapi dia dengan cepat menutup telinganya. Raon berpikir bahwa jika dia tidak mendengarnya, dia tidak akan terkena serangan dari seruling Biloth.

Bunyi seruling terdengar sedikit agak keras, lalu tiba-tiba saja seperti ada sebuah pedang menebas tubuh Raon dan membuatnya terhempas jatuh.

‘Sialan! sialan! sialan! aku tidak akan kalah darimu.’ Pikir Raon dengan marah.

Raon berdiri lalu melesat menuju Biloth, akan tetapi sekali lagi terdengar suara seruling dan kemudian tubuh Raon terhempas tanpa daya. Reflek tubuh Raon yang hebat tidak berguna melawan serangan Biloth yang tidak terwujud.

Serangan demi serangan menghantam tubuh Raon, kadang serangan tersebut seperti sebuah tinju yang sangat keras, terkadang juga seperti tebasan pedang yang sangat tajam, sesuai suara yang dihasilkan oleh seruling Biloth, hingga membuat Raon sangat tidak sedap dipandang lagi. 

Raon sudah melakukan banyak hal untuk bisa menghindari serangan Biloth yang sangat aneh, tapi semuanya sia-sia saja. Dia juga sudah mencoba menyerang, tapi tepat sebelum dia bisa menyentuh Biloth, terdengar suara seruling lagi dan seperti ada perisai yang menghalangi serangannya.

Raon terbaring lemah di arena, tatapan matanya kosong, dia sudah tidak bisa lagi menggerakan tubuhnya. 

Setelah melihat Raon tidak lagi mencoba menyerangnya, Biloth akhirnya menghentikan serangannya. Kemudian terlintas ide di pikirannya untuk mengajak Raon mengobrol, mungkin saja kali ini akan berhasil.

Sedangkan itu, di sisi lain arena lainnya. Akhirnya Egor telah menyelesaikan persiapannya, tombak hitamnya telah di selimuti oleh api merah yang membara. Ular berwarna pelanginya turun dan kemudian sedikit demi sedikit tubuh ular itu tumbuh semakin besar.

Setelah tumbuh sepuluh kali dari ukuran aslinya, ular berwarna pelangi itu mendesis dan menatap ke sekeliling arena.

“Ayo kita mulai.” Ucap egor dengan tenang, kedua ujung bibirnya naik dan dia mencengkram tombaknnya lebih erat lagi.

Ular berwarna pelangi itu mendesis sebagai jawaban. Kemudian ular itu membuka mulutnya lebar-lebar, dan muncul kabut ungu dari dalamnya. Semakin lama kabut itu semakin memenuhi arena pertarungan.

Area yang terkena kabut itu berubah menjadi ungu lalu tidak lama kemudian menjadi hangus, seperti terbakar api. Setelah kabut itu memenuhi setengah dari arena, akhirnya empat kandidat lainnya mulai menyadarinya.

Gop dan Raon yang terbaring lemah di tanah hanya bisa pasrah melihat kabut ungu itu mendekati mereka, sedangkan itu Dalpos memicingkan matanya dan memperhatikan kabut itu dengan saksama.

Di sisi lain, Biloth yang awalnya berencana untuk mengajak Raon untuk mengobrol merasa kesal dengan kedatangan kabut ungu tersebut, dia segera meniup seruling emasnya dan kabut ungu tersebut seperti tercabik-cabik, tapi tidak lama kemudian pulih kembali.

Serangan aneh dari Biloth tidak mempan pada kabut tersebut.

Biloth sedikit terkejut mengetahui bahwa serangannya tidak banyak berguna melawan kabut ungu itu. Namun, dia tidak menyerah, dia memposisikan seruling emasnya di depan mulutnya dan kemudian meniupnya lagi.

Irama menyeramkan terdengar kemudian kabut ungu tersebut terhempas kesana kemari dan berhenti menyebar lebih jauh lagi. 

Melihat Biloth yang sedang menyerang kabut itu membuat Dalpos tidak bisa tinggal diam.

Dalpos memegang erat pedangnya dan meyalurkan energinya pada pedang tersebut. Pedang berwarna hitam itu bersinar seperti bara api yang meledak-ledak. Dia memasang posisi menyerang dan kemudian menendang tanah lalu melesat masuk ke dalam kabut tersebut, menuju tempat dimana ular berwarna pelangi itu berada.

Jubah bulu yang melilit sekujur tubuh Dalpos melindunginya dari efek kabut tersebut. Kini Dalpos berada tepat di depan ular tersebut dan siap untuk menebasnya, akan tetapi tiba-tiba datang Egor dengan membawa tombak menghalau serangan itu.

Di dalam kabut, pertarungan antara Egor dan Dalpos dimulai.

Bentrokan antara tombak dan pedang menghasilkan suara yang nyaring bersamaan dengan percikan api yang meledak karena kedua senjata mereka telih diberi energi oleh masing-masing pemiliknya.

Dalpos merasa kesulitan menyerang Egor, karena panjang senjata mereka berdua yang sangat signifikan. Sedangkan itu, Egor juga merasa kewalahan dengan teknik berpedang milik Dalpos yang dapat mematahkan semua serangan tombaknya.

Di bagian arena lainnya, Biloth terus memainkan serulingnnya. Suara yang mengandung ketakutan, kekecewaan, kesedihan, dan emosi negatif lainnya terus terdengar dan memporak-porandakan kabut ungu tersebut.

Pada awalnya kabut ungu itu telah mengisi setengah arena pertarungan, akan tetapi sekarang telah berkurang sepertiganya dan terus berkurang.

Di langit arena pertarungan. 

Focarol dan lainnya sedang melihat pertarungan yang terjadi dengan antusias. 

Tiba-tiba Idos berkata, “Kenapa pertarungannya masih berlanjut?”

“Eh?” Sorcas tersadar dengan situasi saat ini juga.

“Ah, benar juga, dua kandidat telah gugur, berarti pertarungan ini tidak perlu di lanjutkan lagi.” Ucap Vaberian.

“Pertarungan ini sangat menakjubkan, hingga aku tidak menyadari itu.” Ucap Focarol.

“Benar sekali, mereka semua sangat mengagumkan.” Balas Idos.  

Vaberian dan Sorcas mengangguk sebagai tanda persetujuan.

“Baiklah, aku akan menghentikan pertarungan ini.” Focarol berkata dengan santai.

Focarol membuka telapak tangan kanannya, lalu tiba-tiba muncul api kecil berwarna merah. Tidak lama kemudian api itu membesar hingga seukuran sebuah bola. Dia mengangkat tangannya lalu melemparkan api itu ke tengah arena pertarungan.

Ledakan besar terjadi dan menyapu bersih semua kabut ungu di arena, termasuk semua kandidat yang sedang bertarung juga.

Semuanya tidak mampu menahan serangan dahsyat yang datang dan kemudian kehilangan kesadaran.

“Ah, sepertinya aku terlalu berlebihan.” Focarol berkata sambil tersenyum canggung.

Vaberian dan yang lainnya tidak tahu harus tertawa atau menangis. Semenjak dia masuk ke dalam tubuh Fafnir dan memakan dagingnya, kekuatan Focarol meningkat sangat pesat.

Dia sekarang adalah yang terkuat di antara mereka berempat.