Episode 257 - Pencarian



“Apakah Tuan Ahli baik-baik saja…?” 

Seorang pemuda menegur santun. Dari wajah dan postur tubuh, maka dapat diperkirakan bahwa kemungkinan besar ia berusia sekira 20-an tahun. Kulit tubuhnya gelap, dengan rambut pendek keriting halus. Pakaian yang ia kenakan sangatlah sederhana. Tiada kekhawatiran yang terpancar dari raut wajahnya.

Di hadapan pemuda tersebut, seorang lelaki dewasa dengan pakaian compang-camping, bersandar pada sebuah batu karang nan besar. Napas terengah dan bulir-bulir keringat bercucuran. Keringat yang membasahi raut wajah, lalu mengalir jatuh melalui sela-sela janggut dan kumis yang tumbuh sama sekali tiada terawat. 

Di langit tinggi, secara tiba-tibamenembus gumpalan awan, sebuah batu nan menyala api dengan ukuran hampir sebesar sebuah gubuk, terlihat jatuh. Kecepatannya sungguh berada di luar nalar. Berdasarkan lintasannya, maka meteor tersebut kemungkinan besar mengincar lelaki dewasa itu. 

Balaputera Ragrawira mendongak. Ia membuka telapak tangan. Formasi segel berpendar lalu membuka sebuah lorong dimensi ruang persis pada lintasan meteor. Setelah meteor tersebut memasuki lorong dimensi, formasi segel pun menghilang dengan sendirinya. Entah ke mana meteor tersebut telah dikirimkan. 

“Tuan Ahli terlalu memaksakan diri,” ujar pemuda itu pelan. Ia sedikit berjongok, mengamati Balaputera Ragrawira yang keletihan. Sepertinya, sudah bermalam-malam lelaki dewasa itu tiada dapat melelapkan mata. 

“Swush!” 

Sebuah batu menyala api kembali terlihat melesat jatuh dari atas langit nan tinggi. Arah lintasannya masihlah sama. Menyaksikan ancaman yang sekali lagi mengincar, pemuda itu merentangkan lengan. Seketika tindakan tersebut diambil, dedaunan berhenti bergerak, aliran air terdiam, meteor mengapung di tempat, dan suasana berubah hening. Sungguh kemampuan yang sulit dicerna nalar. 

“Dimensi waktu…?” gumam Balaputera Ragrawira. 

“Aaiiii… mengapa Tuan tra terpengaruh…?” Karena terkejut, nada suara pemuda itu spontan meninggi. Bukan karena marah, namun karena demikianlah logat bicara aslinya ia. 

Kendatipun demikian, ia segera mengangkat dan membopong tubuh Balaputera Ragrawira yang kelelahan. Di saat yang sama, ia sendiri pun mulai terlihat letih. Dua ahli yang kini sama-sama terlilat kelelahan, meninggalkan wilayah yang menjadi sasaran serangan entah dari mana serta dari siapa. Mereka kemudian memasuki wilayah hutan nan rimbun guna menyamarkan keberadaan. 

Dua ahli lain, dari arah belakang, kemudian mendarat ringan. Sepasang remaja lelaki dan remaja perempuan. Yang lelaki menyoren keris raksasa yang berkilau keemasan di belakang pundak, sementara yang perempuan menghunus galah hitam nan panjang. Kecepatan mereka mengejar, adalah di atas rata-rata kebanyakan ahli yang berada pada Kasta Perak. 

“Yo… Aronawa Kombe bedebah!” seru Hang Jebat girang. “Akhirnya tersusul juga!” 

Aronawa Kombe menoleh pelan. Dua ahli yang baru saja muncul ini teramat gigih dalam mengejar. Menyesal rasanya ia pernah mencampuri urusan mereka. Saat itu, dirinya spontan menyelamatkan Lamalera karena merasa bahwa jiwa gadis belia tersebut terancam oleh serangan binatang siluman Babun Rambut Hutan. Siapa mengira bahwa mereka sesungguhnya sedang berlatih. Kini, Hang Jebat dan Lamalera terus membuntuti. Apa pun yang Aronawa Kombe upayakan, selalu mereka dapat mengendus jejaknya. 

“Mengapakah kalian terus mengejar…? Tiada permusuhan di antara kita…” Aronawa Kombe menanggapi. 

Balaputera Ragrawira, yang sedang duduk di sebatang pohon tumbang, sangat mengenal dua senjata pusaka di hadapannya. Yang pertama adalah Keris Tameng Sari milik Laksamana Hang Tuah, sedangkan yang kedua adalah Tempuling Malam, yang ditempa oleh pandai logam termahsyur, yaitu siluman sempurna bernama Rahampu’u di Pulau Logam Utara. 

Sebagai tambahan, tentu ia tak akan pernah lupa akan Tempuling Malam. Pada suatu waktu di masa lalu, bahkan dirinya pernah hampir ditikam mati oleh senjata pusaka milik seorang perempuan galak itu, yang kemudian menjadi istrinya. Sungguh kisah cinta yang dipenuhi lika-liku, sampai menyangkut keselamatan jiwa, kenang Balaputera Ragrawira. Sepintas, sebentuk senyuman menghias sudut bibirnya. 

“Cih! Tua sekali kau punya muka, wahai Wira!” dengus Hang Jebat, kini mengabaikan kata-kata seorang ahli yang ia kejar sejak beberapa waktu belakangan. 

Balaputera Ragrawira sedang mengamati Lamalera. Tentu gadis belia tersebut tiada mengenali lelaki dewasa yang mirip dengan gelandangan. Bahkan putra kandungnya, yang kedua, pun kemungkinan tiada mengenali pembawaannya yang seperti ini. Meskipun demikian, Balaputera Ragrawira masih mengenal gadis berwajah bulat tersebut. Dulunya adalah bocah perempuan kecil dari Pulau Paus, kampung halaman keluarga Tenggara.

“Pakcik Jebat…” Balaputera Ragrawira kemudian menanggapi pelan. 

“Guru Jebat, siapakah ia…?” Lamalera mencondongkan tubuh sambil berbisik. 

“Kau hendak menjadi murid durhaka!” Hang Jebat menghardik, lalu tersenyum kepada diri sendiri, karena Raja Angkara Durhaka adalah gelar yang dirinya sandang. “Ia adalah Balaputera Ragrawira, bangsawan tengik dari negeri yang sama tengiknya, Kemaharajaan Cahaya Gemilang di Pulau Barisan Barat… Ia adalah kekasih hati Mayang Tenggara!” 

“Hah! Paman Balaputera…? Kemaharajaan Cahaya Gemilang…?”

“Dan…,” lanjut Hang Jebat, “jangan panggil aku guru! Cih! Tak sudi aku punya murid seperti engkau!”

Lamalera melangkah mendekati Balaputera Ragrawira. 

“Sungguh takdir suka berbuat semaunya,” lanjut Hang Jebat. “Entah apa yang mempertemukan kita. Khikhikhi…”

“Pakcik Jebat merasuki tubuh siapa…?” Balaputera Ragrawira terlihat prihatin. 

“Akh! Tak penting… Tak penting… Apa yang terjadi? Masihkah engkau melakukan perbuatan nan sia-sia itu…?”

“Tuan ahli, izinkan diriku undur diri…” Aronawa Kombe menyela, berujar kepada Balaputera Ragrawira.

“Hei! Tak secepat itu!” hardik Hang Jebat. 

“Apakah yang Tuan Ahli kehendaki dari diriku…?”

“Aku membutuhkan kemampuan yang kau punya.”

“Diriku sedang menjalani sebuah tugas. Kumohon untuk tak terus mengikuti…” Aronawa Kombe memutar tubuh, lalu melangkah pergi.

“Terima kasih…” Balaputera Ragrawira berujar. “Aronawa Kombe adalah nama dikau?” 

Aronawa Kombe mengangguk, namun tiada menghentikan langkah. Di saat yang bersamaan, Hang Jebat bergerak hendak menghentikan langkah pemuda itu. 

“Pakcik Jebat…,” Balaputera Ragrawira menahan. “Diriku mengetahui tempat di mana ‘beliau’ kemungkinan besar berdiam…”

“Heh!” Hang Jebat sontak menghentikan langkah. Pencarian yang selama ini berakhir buntu memperoleh angin segar. Kata-kata Balaputera Ragrawira menohok titik lemahnya. “Kau tahu di mana dirinya berada!? Kakak Tuah!?”

Balaputera Ragrawira mengangguk ringan. Perkiraannya sangatlah akurat, dan seolah-olah,pengetahuan yang ia miliki bukan merupakan sesuatu yang sangat dirahasiakan. Bahkan, terkesan biasa-biasa saja, ibarat mentari terbit dari ufuk timur. Semua juga tahu. 

“Akan tetapi, untuk sampai di tempat itu, kita memerlukan kemampuan… Aronawa Kombe.” 


===


Daya Tarik Bulan, Bentuk Pertama: Tangan Menggenggam Tangan!

Seketika jurus dirapal, wujud unsur kesaktian yang menampilkan jemari tangan dengan kuku-kuku panjang mengemuka. Sasarannya, seekor binatang siluman bertubuh gergasi terdiam kaku di tempat. Padahal ukuran binatang siluman ini tak kurang dari lima meter tingginya. Terlebih, ia memiliki kekuatan yang setara dengan ahli Kasta Emas tingkat awal. 

Sekira seratus meter dari binatang siluman tersebut, seorang perempuan dewasa terlihat melompat. Sekilas, gerakan melompatnya itu adalah seperti biasa-biasa saja, namun tetiba tubuhnya menghilang, untuk kemudian muncul tepat di hadapan wajah binatang siluman nan perkasa itu. Teleportasi jarak menengah! 

“Srash!” 

Darah segar dan merah, membasahi hamparan rerumputan. Binatang siluman nan bernasib malang, jatuh tergeletak tiada daya. Usai melakukan tindakan yang cukup sadis, tiada terlihat perubahan pada air muka perempuan dewasa itu. Ia pun kembali menghilang, untuk kemudian muncul sekira seratus meter di hadapan.

Usai melakukan beberapa kali teleportasi jarak menengah, perempuan dewasa itu melesat tinggi ke angkasa. Hembusan angin mengibarkan rambut nan ikal, serta mengibaskan pakaian yang ia kenakan. Di ketinggian, ia kemudian menebar mata hati, menelusuri seantero wilayah dalam upaya mencari keberadaan ahli nan dicari. 

“Di manakah gerangan beliau berada…?” gumam perempuan dewasa itu. Sepertinya, sudah berhari-hari waktu yang ia habiskan. Ini adalah upaya terakhirnya dalam pencarian yang belum kunjung membuahkan hasil.

Beberapa jam waktu berlalu, perempuan dewasa itu mulai merasa buntu. “Mungkin bukan di dalam dunia yang ini…,” keluhnya pelan. 

Beberapa jam kembali berlalu, namun pencarian menggunakan jalinan mata hati tiada juga menunjukkan tanda-tanda keberadaan. Bosan, perempuan dewasa itu mengangkat lengan, dan membuka jemari. Sebuah formasi segel berpendar, yang diikuti dengan kehadiran lorong dimensi ruang. 

Seorang gadis belia melangkah bergegas mendaki lereng perbukitan. Wilayah di mana ia berada ini, merupakan awal dari wilayah yang dikenal sebagai Pegunungan Barisan Barat. Pegunungan Barisan Barat adalah jajaran gunung yang sambung-menyambung dan memanjang sejajar di salah satu pulau utama di Negeri Dua Samudera. Membentang dari ujung utara sampai denngan ujung selatan, pegunungan ini memiliki panjang lebih kurang 1.650 km.

Nama pegunungan inilah yang menjadi alasan penamaan Pulau Barisan Barat.

Gadis belia tersebut terus memacu langkah. Sungguh pergerakannya kali ini sangat berbeda dengan biasanya. Selama ini, dalam menempuh perjalanan, gadis belia ini selalu melangkah gontai ibarat tanpa tujuan pasti. Terlebih, sorot matanya yang sayu, hanya menatap kosong ke depan. Akan tetapi, kali ini berbeda. Sepertinya, ia telah memantapkan hati untuk menyambangi seseorang. 

Langkah kakinya terhenti di kala mendapati sebuah lorong dimensi ruang yang membuka. Dari dalam, seorang perempuan dewasa melangkah keluar. Kepada gadis belia yang menanti di hadapan, ia hanya menatap sekenanya. 

“Puan Mayang Tenggara…” 

“Enyahlah…” Singkat dan padat. Suasana hati Mayang Tenggara sedang tak baik. Ia baru saja kembali dari pencarian berlangsung cukup lama, namun tak menghasilkan apa-apa. 

“Puan… diriku… diriku membawakan Lencana Kujang sesuai permintaan Puan…” Embun Kahyangan menyodorkan sebuah lempengan logam, yang mana pada permukaannya terukir sebuah senjata tajam nan unik bentuknya. 

Mayang Tenggara mengibaskan lengan, dan lencana tersebut segera melesat ke dalam genggamannya. Sungguh kemampuan daya tarik bulan demikian mudah dikerahkan. Setelah mengamati lencana sekilar pandang, ia pun memutar tubuh dan melangkah pergi. Bahkan, kata ‘terima kasih’ tiada terucap keluar dari mulutnya, bahwa kejadian yang baru saja berlangsung seolah tiada berarti sama sekali. 

“Puan…,” Embun Kahyangan bergegas mengejar. “Puan menjanjikan kabar keberadaan Paman Balaputera bilamana diriku membawakan lencana itu.” 

Mayang Tenggara berhenti, lalu menoleh acuh tak acuh. “Atas alasan apa dikau mencari suamiku…?”

“Diriku hendak mencari tahu tempat di mana Kitab Kahyangan disimpan…”

“Nawa Kabut Kahyangan…,” gumam Mayang Tenggara. Benaknya mengingat seorang perempuan nan genit yang senantiasa tak mengenakan pakaian. Ia hanyalah mengenakan selembar selendang batik tipis yang melingkar di leher. Betapa di masa kecil, Mayang Tenggara mengingat Tirta Kahyangan sebagai ahli nan mengerikan.

Embun Kahyangan menanti jawaban… 

“Mengapa suamiku perlu memberitahu…?”

“Karena diriku membutuhkan kitab itu…” tanggap Embun Kahyangan cepat. “Diriku perlu menguasai jurus peninggalan mama...” 

“Sebaiknya kitab tersebut dibiarkan tersimpan… selamanya…,” tanggap Mayang Tenggara. “Sudah cukup bagi dikau dengan menguasai Panca Kabut Mahameru.”

“Tapi…”

“Diriku sedang ada urusan…” Mayang Tenggara kembali mengusir Embun Kahyangan. Suasana hatinya belum sembuh sama sekali. 

“Puan Mayang…” Embun Kahyangan terlihat ragu. “Adalah tindakan tak terpuji bagi seorang ahli yang tak menepati janjinya…” Akhirnya, gadis belia itu mampu mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan ketidaksenangan. Ia telah menyelesaikan tugas, sebagaimana pembunuh bayangan, ia berhak menerima imbalan. 

Mayang Tenggara menghentikan langkah. Kali ini ia tak hanya menoleh, namun memutar tubuh. “Ulangi sekali lagi kata-katamu tadi…”

Suasana tetiba memanas. Setidaknya, terasa teramat gerah bagi Embun Kahyangan. Menyinggung perasaan seorang ahli sekelas Mayang Tenggara, dijatuhkan hukuman mati sebanyak tujuh kali pun tiada akan impas. Tetiba, dalam keadaan gugup, secara spontan kabut ungu menyibak dari Selendang Batik Kahyangan! 

“Dikau menantang…?” 

“Ti… tidak…” Embun Kahyangan semakin tersudut. Kabut ungu semakin pekat. 

Mengamati Embun Kahyangan yang semakin salah tingkah, suasana hati Mayang Tenggara tetiba membaik. Mungkin, obat paling mujarab dalam meredakan kegundahan di hati, adalah menyaksikan penderitaan orang lain. 

“Untuk menjawab pertanyaanmu, Lencana Kujang ini belum cukup…”

“Adakah hal lain yang patut diri ini laksanakan…?” Embun Kahyangan sangat ingin memenuhi permintaan ibundanya. 

Meskipun demikian, si gadis beliau tersebut menyadari sesuatu yang meresahkan. Bilamana melaksanakan tugas lain dari perempuan dewasa nan galak itu, tiada jaminan bahwa dirinya akan memperoleh jawaban. Menyampaikan protes pun tiada akan digubris, bahkan berisiko kehilangan nyawa. 

“Bantu diriku mencari seorang tokoh…” ujar Mayang Tenggara ringan.